Jurnal Kesehatan Andalas
Not a member yet
1143 research outputs found
Sort by
Diagnosis dan Penatalaksanaan Fraktur Le Fort I-II disertai Fraktur Palatoalveolar Sederhana
Pendahuluan: Fraktur pada sepertiga tengah wajah (midface) memerlukan pemeriksaan yang teliti dan penatalaksanaan yang tepat. Fraktur palatoalveolar jarang terjadi dan dapat terjadi bersamaan dengan fraktur lain pada trauma wajah. Pada beberapa dekade terakhir, berbagai modalitas penatalaksanaan fraktur sepertiga tengah wajah telah dicoba. Penatalaksanaan fraktur sepertiga tengah wajah dengan menggunakan fiksasi dengan miniplate dan screw mengungguli teknik-teknik terdahulu. Laporan Kasus: Dilaporkan satu kasus fraktur Le fort I-II dan fraktur palatoalveolar sederhana pada seorang laki-laki umur 19 tahun. Telah dilakukan Open Reduction Internal Fixation (ORIF) dengan miniplate dan screw serta pemasangan wire. Simpulan: ORIF dengan miniplate dan screw telah menjadi pilihan pada fraktur maksilofasial karena lebih stabil dalam hal fungsi dan fiksasi tulang yang lebih baik. Berdasarkan indikasi, fiksasi intermaksila, palatum splint, dan wire dapat digunakan secara tersendiri atau kombinasi untuk penatalaksanaan fraktur palatoalveolar
Injeksi Kortikosteroid Intratimpani Sebagai Salvage Therapy pada Pasien Tuli Mendadak
Pendahuluan : Tuli mendadak merupakan salah satu kegawatdaruratan di bagian telinga hidung tenggorok bedah kepala dan leher (THT-KL). Tuli mendadak atau sudden sensorineural hearing loss (SSNHL) adalah tuli sensorineural lebih dari 30 dB pada 3 frekuensi berturut turut secara mendadak dalam waktu 3 hari. Etiologi tuli mendadak hingga saat ini belum diketahui dengan pasti, namun penyebab tersering tuli mendadak, yaitu idiopatik (71%). Penatalaksanaan tuli mendadak meliputi terapi konservatif, salah satunya dengan pemberian kortikosteroid secara sistemik dan lokal. Pemberian lokal dapat dilakukan dengan cara injeksi langsung intratimpani. Terapi kortikosteroid secara lokal dapat diberikan sebagai terapi primer, terapi adjuvan (kombinasi) dan salvage therapy. Laporan kasus : seorang pasien perempuan berusia 36 tahun dengan diagnosis tuli mendadak pada telinga kanan yang dilakukan salvage therapy dengan penyuntikan deksametason intratimpani sebanyak empat kali secara selang   3 hari setelah gagal dengan terapi sistemik. Kesimpulan : Injeksi kortikosteroid intratimpani digunakan sebagai salvage therapy dapat menjadi pilihan untuk pasien yang gagal diterapi dengan kortikosteroid sistemik
HUBUNGAN INFEKSI Chlamydia trachomatis DENGAN KEJADIAN ABORTUS SPONTAN DI RSUD DR. RASIDIN DAN RSIA SITI HAWA PADANG
Abortus merupakan salah satu penyebab dari morbiditas dan mortalitas maternal. Abortus adalah berakhirnya kehamilan pada atau sebelum kehamilan tersebut berusia 22 minggu. Banyak faktor yang mempengaruhi abortus, salah satunya adalah infeksi yang disebabkan oleh Chlamydia trachomatis, selain itu faktor resiko lain yang mempengaruhi terjadinya abortus adalah usia maternal, paritas, riwayat kejadian abortus pada kehamilan sebelumnya, dan jarak kehamilan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hungan infeksi Chlamydia trachomatis dengan kejadian abortus spontan. Penelitian ini merupakan studi analitik dengan desain case control yaitu untuk mengetahui infeksi C. trachomatis dengan kejadian abortus spontan. Populasi penelitian adalah semua ibu hamil dengan abortus spontan di RS dr. Rasidin padang dan RSIA Siti Hawa Padang. Teknik pengambilan sampel dengan consecutive sampling yaitu setiap penderita yang memenuhi kriteria inklusi dimasukkan dalam subyek penelitian sampai jumlah sampel tercapai yaitu sebanyak 50 sampel. Hasil penelitian didapatkan Proporsi kejadian abortus pada sampel positif C. trachomatis yaitu 44,0%. Analisa statistik dengan uji Fisher’s Exact Test menunjukan, terdapat hubungan yang bermakna antara infeksi C.trachomatis dengan kejadian abortus (p<0.05) dengan nilai Odds Ratio (OR) 5,7. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan terdapat hubungan antara infeksi C.trachomatis dengan kejadian abortus. Diharapkan untuk penelitian berikutnya melakukan penelitian lebih lanjutan mengenai hubungan faktor resiko maternal dan infeksi Chlamydia trachomatis terhadap kejadian abortus spontan dengan metode penelitian yang berbeda dan jumlah sampel yang lebih banyak
Mortality Influenced Factors for Outcome of Epidural Hematoma Patient Which Performed Emergency Craniotomy in M Djamil Hospital Padang Periode January-December 2017
Epidural Hematoma (EDH) is the most common emergency case in neurosurgery, mortality rate was higher than other country. To determine the factors that influence outcome of EDH patients with performed emergency craniotomy. This descriptive analytic was conducted at Dr. M. Djamil General Hospital, Padang, Indonesia, we review the medical record all of EDH patient in 2017. Some parameters were analyzed in our study, ages (p = 0.012), gender (p = 0.418), inisial GCS (p = 0.146), pupil abnormality (p = 0.973), onset (p = 0.883) and time delayedfor surgery (p = 0.146), the mortality rate was 7/26 patients. Age has a significant difference on the outcome of EDH patients who underwent emergency craniotomy. Whereas gender, initial GCS, pupil abnormality, onset trauma, delayed time are determinat factors that influence outcome but not significant
Perbandingan Kadar Heat Shock Protein 90 dan Tumor Necrosis Factor-α Antara Kehamilan Preterm Dengan Ketuban Pecah Dini dan Tanpa Ketuban Pecah Dini
Ketuban pecah dini (KPD) berkaitan dengan peningkatan kadar Heat Shock Protein 90 (HSP 90) dan Tumor Necrosis Factor-α (TNF-α) yang muncul akibat stres oksidatif. Tujuan penelitian ini adalah membandingkan kadar HSP 90 dan TNF-α antara kehamilan preterm dengan KPD dan tanpa KPD. Penelitian ini menggunakan rancangan comparative study yang dilaksanakan di RSUD dr. Rasidin, RS Tk.III Reksodiwiryo, RS Bhayangkara, Puskesmas Lubuk Buaya dan Laboratorium Biomedik Fakultas Kedokteran Universitas Andalas dari bulan Oktober 2017 sampai Juli 2018. Jumlah sampel sebanyak 24 ibu hamil preterm dengan KPD dan 24 ibu hamil preterm tanpa KPD dengan menggunakan teknik consecutive sampling. Pemeriksaan HSP 90 dan TNF-α menggunakan metode ELISA. Uji normalitas data dengan uji Shapiro-Wilk. Analisis data komparatif menggunakan uji Mann-Whitney. Median kadar HSP 90 yaitu 11,21 ng/mL pada kehamilan preterm dengan KPD dan 9,15 ng/mL pada kehamilan preterm tanpa KPD dengan nilai p < 0,05. Median kadar TNF-α yaitu 0,21 ng/mL pada kehamilan preterm dengan KPD dan 0,17 ng/mL pada kehamilan preterm tanpa KPD dengan nilai p < 0,05. Kadar HSP 90 dan TNF-α pada kehamilan preterm dengan KPD lebih tinggi secara bermakna dibandingkan pada kehamilan preterm tanpa KPD
Korelasi Kadar Alkohol dengan Derajat Luka Dalam Hal Pembuatan Visum Et Repertum pada Pasien Kecelakaan Lalu Lintas Rumah Sakit M. Djamil Padang
Angka kejadian kecelakaan lalu lintas masih cukup tinggi. Salah satu penyebab terjadinya kecelakaan lalulintas adalah penggunaan alkohol. Tujuan penelitian ini adalah menentukan korelasi antara kadar alkohol dan derajatluka dalam hal pembuatan visum et repertum pasien kecelakaan lalu lintas selama bulan Agustus sampai November2017. Pasien kecelakaan lalu lintas yang masuk ke UGD RSUP Dr. M Djamil diperiksa kadar alkohol pada nafasnya.Jika positif kadar alkohol di nafas maka akan dilanjutkan pengambilan darah dan akan di periksa kadar alkoholnyamenggunakan GC-MS. Derajat luka dinilai dari tingkat keparahan cedera sesuai derajat luka menurut Kitab UndangundangHukum Pidana (KUHP). Hasil penelitian didapatkan 859 pasien kecelakaan yang bisa diperiksa kadar alkoholpada nafasnya, tetapi hanya 10 orang yang positif. Rerata kadar alkohol di nafas adalah 0,41 mg/dl. Rerata kadaralkohol pada darah adalah 32, 04 gr/dl. Kadar alkohol pada darah pada penelitian ini tergolong kadar yang rendah halini sesuai juga dengan temuan luka pada pasien berupa luka derajat ringan hingga sedang. Simpulan studi ini adalahtidak terdapat hubungan antara kadar alkohol dengan derajat luka. Keterbatasan penelitian ini adalah jumlah sampelyang sedikit sehingga diperlukan penelitian yang lebih lanjut
Hubungan Aktivitas Fisik dengan Kadar Glukosa Darah Puasa pada Pasien Diabetes Melitus yang Datang ke Poli Klinik Penyakit Dalam Rumah Sakit M. Djamil Padang
Aktivitas fisik merupakan satu dari empat pilar program penatalaksanaan diabetes mellitus. Aktivitas fisik yang kurang juga merupakan salah satu penyebab meningkatnya angka kejadian diabetes melitus. Tujuan penelitian ini adalah menentukan hubungan aktivitas fisik dengan kadar glukosa darah puasa pada pasien diabetes melitus. Jenis penelitian ini adalah analitik dengan pendekatan potong lintang terhadap 120 pasien diabetes melitus yang datang ke poliklinik penyakit dalam rumah sakit Dr. M. Jamil Padang yang memenuhi kritia inklusi dan ekslusi. Pada penelitian ini didapatkan dari 36 pasien dengan kadar glukosa darah puasa normal ada 24 pasien dengan aktivitas fisik ringan dan 12 pasien dengan aktivitas fisik sedang-berat. Dari 84 pasien yang memiliki kadar glukosa darah puasa meningkat, terdapat 60 pasien dengan aktivitas fisik ringan dan 24 pasien dengan aktivitas fisik sedang-berat. Hasil penelitian diolah dengan rumus Chi-square sehingga nilai p=0.602 (p>0.05). Simpulan studi ini ialah tidak terdapat hubungan yang bermakna antara aktivitas fisik dengan kadar glukosa darah puasa pada pasien diabetes melititus yang datang ke poliklinik rumah sakit M. Jamil Padang
Perbedaan Tingkat Konsentrasi Belajar Siswa antara Kebisingan Lingkungan Sekolah SDN 03 Alai dan SD Pertiwi 3 Padang
Kebisingan adalah bentuk suara yang tidak dikehendaki atau bentuk suara yang tidak sesuai dengan tempat dan waktunya. Kebisingan yang sudah melewati ambang batas tingkat kebisingan terbukti dapat mempengaruhi konsentrasi belajar siswa. Tujuan penelitian ini adalah menentukan perbedaan tingkat konsentrasi belajar siswa antara kebisingan lingkungan sekolah SDN 03 Alai dan SD Pertiwi 3 Padang. Penelitian cross-sectional comparative ini dilakukan di SDN 03 Alai dan SD Pertiwi 3 pada bulan Agustus 2015 – selesai dari pukul 10.20-10.50 WIB. Jumlah sampel sebanyak 80 orang yang dibagi menjadi dua kelompok, masing-masing diwakili 40 orang. Pengukuran kebisingan dilakukan selama 30 menit pada setiap lokasi penelitian dengan pengambilan data setiap 5 menit. Penentuan tingkat konsentrasi siswa dilakukan dengan penggunakan digit span test. Analisis data menggunakan uji independent sample t-test dan chi square. Hasil penelitian menunjukkan kebisingan lingkungan SDN 03 Alai dan SD Pertiwi 3 terdapat perbedaan yang bermakna dengan signifikan (p = 0,033). Pada tingkat konsentrasi belajar terdapat perbedaan tingkat konsentrasi yang bermakna dari digit span test dengan signifikan (p = 0,025). Penelitian ini membuktikan terdapat perbedaan tingkat konsentrasi belajar siswa pada SDN 03 Alai dan SD Pertiwi 3 pada daerah bising yang berbeda (p < 0,05)
Gambaran Multipatologi Pasien Geriatri di Poliklinik Khusus Geriatri RSUP Dr. M. Djamil Padang Periode Januari – Desember 2014
Peningkatan angka harapan hidup menyebabkan umur penduduk usia lanjut lebih panjang sehingga mengalami permasalahan kesehatan yang kompleks, seperti multipatologi. Kondisi multipatologi merupakan keadaan yang sering ditemukan pada usia lanjut dan merupakan salah satu karakteristik pasien geriatri. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran multipatologi pasien geriatri di poliklinik khusus geriatri RSUP Dr. M. Djamil Padang periode Januari sampai Desember 2014. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan desain cross sectional. Sampel penelitian adalah seluruh pasien geriatri di poliklinik khusus geriatri RSUP Dr. M. Djamil Padang tahun 2014. Besar sampel yang memenuhi kriteria penilaian sebanyak 229 pasien. Hasil penelitian menunjukkan hipertensi merupakan penyakit kronis yang paling banyak pada usia lanjut. Pasien geriatri yang paling banyak ditemukan adalah kelompok usia 60 – 69 tahun dan jenis kelamin wanita. Rerata jumlah penyakit kronis pasien geriatri pada penelitian ini adalah 6 penyakit
Hubungan Personal Hygiene dengan Kejadian Enterobiasis pada Anak Panti Asuhan di Wilayah Kerja Puskesmas Rawang
Enterobiasis merupakan penyakit akibat infeksi cacing Enterobius vermicularis. Enterobiasis dapat terjadi pada orang-orang yang memiliki personal hygiene buruk dan kelompok orang yang hidup dalam lingkungan yang sama, seperti panti asuhan. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui hubungan personal hygiene dengan kejadian enterobiasis pada anak panti asuhan di wilayah kerja Puskesmas Rawang. Jenis penelitian ini adalah analitik dengan desain cross sectional yang dilaksanakan pada bulan April 2016 - Maret 2017. Penelitian dilakukan di Panti Asuhan Wira Lisna dan Panti Asuhan Ridho Rahmat. Teknik pengambilan sampel dengan metode total sampling. Personal hygiene dinilai dengan menggunakan kuesioner dan kejadian enterobiasis dinilai dengan pemeriksaan parasitologi di laboratorium. Data dianalisis dengan uji chi-square. Hasil penelitian ini menunjukkan kejadian enterobiasis sebesar 6% dan yang memiliki personal hygiene baik sebanyak 70,1%. Uji statistik mendapatkan hubungan yang tidak bermakna antara personal hygiene dengan kejadian enterobiasis (p=0,076). Simpulan penelitian ini adalah tidak terdapat hubungan yang bermakna antara personal hygiene dengan kejadian enterobiasis