Jurnal Kesehatan Andalas
Not a member yet
1143 research outputs found
Sort by
Neurofibroma Telinga Tengah dengan Otitis Media Supuratif Kronis
Pendahuluan: Neurofibroma adalah tumor saraf yang cukup sering dijumpai, tetapi hanya beberapa kasus yang melibatkan telinga tengah yang pernah dilaporkan. Kasus: Dilaporkan seorang perempuan berusia 51 tahun dengan keluhan telinga kiri berair, hilang timbul sejak 30 tahun yang lalu. Pasien dilakukan tindakan timpanomastoidektomi dinding utuh telinga kiri, intraoperatif ditemukan jaringan granulasi beserta jaringan berpapil-papil di liang telinga. Hasil patologi anatomi adalah neurofibroma dengan kalsifikasi. Kesimpulan: Neurofibroma merupakan suatu tumor yang dapat muncul dimana saja di tubuh. Adanya neurofibroma bersamaan dengan OMSK diduga akibat peranan inflamasi yang mencetuskan timbulnya tumor. Tatalaksana dan follow up yang baik dapat memberikan hasil yang memuaskan
RUPTURE OF INTRAMEDULARY SPINAL CORD CAVERNOUS HEMANGIOMA
Intramedulary spinal cord cavernous hemangioma merupakan malformasi vaskular yang jarang terjadi. Angka kejadian cavernous hemangioma pada spinal cord berkisar 5%-12% dari keseluruhan vaskular anomali pada spinalis. Gejala klinis timbul akibat adanya kompresi pada spinal cord yang bersifat slowly progresive. Malformasi ini memiliki resiko yang tinggi untuk pecah dikarenakan tipisnya dinding pembuluh darah yang membentuknya.Seorang pasien laki-laki usia 51 tahun dirawat dengan kelemahan keempat anggota gerak yang progresif asimetris sejak 4 bulan sebelum masuk rumah sakit. Keluhan diawali dengan kebas dan berkurangnya sensasi raba mulai dari leher kebawah sejak 5 bulan sebelum dirawat. Nyeri pada tengkuk disertai dengan gangguan miksi sejak 2 bulan sebelum dirawat. Dari pemeriksaan neurologis didapatkan tetraparesis dengan gangguan sensorik berbatas tegas setinggi dermatom C3- C4. Pada pemeriksaan MRI medula spinalis segmen cervikal didapatkan gambaran suatu cavernous hemangioma (Cavernoma) pada medulospinalis junction dengan gambaran komponen perdarahan pada kanalis spinalis. Pasien direncanakan untuk tindakan operatif dengan resiko berat dan prognosis yang buruk post operatif. Ruptur Cavernous Hemangioma perlu dipertimbangkan pada pasien tetraparese dengan gejala lesi upper motor neuron, meskipun kasus ini jarang terjadi
Diagnosis dan Tatalaksana Klaudikasio Intermiten
Klaudikasio intermiten adalah ketidaknyamanan otot ekstremitas bawah yang dirasakan saat latihan dan hilang dengan istirahat dalam 10 menit. Pasien akan merasakan kelelahan otot, sakit atau kram pada saat aktivitas. Klaudikasio intermiten merupakan gejala yang paling sering muncul pada penyakit arteri perifer. Proses atherosklerosis merupakan penyebab dasar munculnya klaudikasio intermiten. Diagnosis klaudikasio intermiten ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan ABI, dan pemeriksaan penunjang lainnya seperti DUS, CTA, MRA, dan DSA. Penatalaksanaan klaudikasio intermiten terdiri dari optimalisasi kontrol faktor resiko dan gejala. Pilihan terapi untuk meredakan gejala terdiri dari terapi non invasif (dengan latihan dan obat-obatan) dan terapi invasif (revaskularisasi). Sampai saat ini masih terdapat perdebatan efektifitas antara terapi invasif dan terapi non invasif
PATOGENESIS HIPERTROFI VENTRIKEL KIRI
Apabila jantung menghadapi suatu beban hemodinamik maka ia akan melakukan kompensasi terhadap beban hemodinamik tersebut dengan cara: (1) menggunakan mekanisme Frank-Starling untuk meningkatkan formasi kontraksi, (2) meningkatkan massa otot jantung untuk menghadapi extra load dan (3) mengaktifkan mekanisme neurohormonal untuk meningkatkan kontraktilitas. Hipertrofi karena beban hemodinamik dapat berupa hipertrofi adaptif (fisiologis) atau hipertrofi maladaptif (patologi). Pola hipertrofi yang terjadi bisa konsentrik maupun eksentrik. Patogenesis terjadinya hipertrofi ventrikel kiri patologis karena adanya stimulasi primer berupa regangan mekanik jantung dan atau faktor neurohumoral yang akan diterjemahkan di dalam sel sebagai perubahan biokimia yang mengaktifkan messenger kedua (cytosolic) dan ketiga (inti) yang bekerja pada inti sel, mengatur transkripsi dan seterusnya menentukan ekspresi gen yang menginduksi hipertrofi ventrikel kiri. Hipertrofi ventrikel kiri patologis dapat mengalami peralihan menjadi gagal jantung disebabkan oleh disfungsi diastolik, disfungsi sistolik ataupun keduanya
Gambaran Tingkat Pengetahuan Dokter Jaga IGD tentang Penatalaksanaan Awal Sindrom Koroner Akut di Rumah Sakit Tipe C Se-Sumatera Barat
Sindrom koroner akut merupakan gawat darurat dari penyakit jantung koroner sehingga dibutuhkan penanganan yang cepat dan tepat dalam memberikan penatalaksanaan kepada pasien. Pengetahuan yang baik, dimulai dari diagnosis hingga penatalaksanaan awal kasus sindrom koroner akut baik pemberian obat-obatan maupun perlakuan tindakan, sangat penting dimiliki oleh seorang dokter jaga IGD dikarenakan akan mempengaruhi prognosis pasien. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran tingkat pengetahuan dokter jaga IGD tentang penatalaksanaan awal sindrom koroner akut di rumah sakit tipe C se-Sumatera Barat. Jenis penelitian ini adalah studi deskriptif dengan pendekatan survei. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode cluster sampling pada beberapa kota dan kabupaten yang dianggap dapat mewakili wilayah Sumatera Barat. Sampel pada penelitian ini berjumlah 50 orang yang dipilih berdasarkan kriteria inklusi dan ekslusi. Penelitian ini menggunakan kuesioner yang sudah divalidasi untuk kemudian diisi oleh responden. Hasil penelitian didapatkan sebanyak 50% responden memiliki tingkat pengetahuan kurang, 44% berpengetahuan cukup, dan hanya 6% yang berpengetahuan baik. Simpulan penelitian ini adalah tingkat pengetahuan dokter jaga IGD di rumah sakit tipe C di Sumatera Barat dapat dikategorikan kurang
Hubungan Lama Menjalani Hemodialisis dengan Kualitas Hidup Pasien Penyakit Ginjal Kronik dengan Diabetes Melitus di RSUP Dr. M Djamil Padang
Terapi hemodialisis pada pasien penyakit ginjal kronik membutuhkan waktu yang lama, memiliki komplikasi dan membutuhkan kepatuhan pasien. Hal ini akan memberikan stressor fisiologis dan psikologis pasien yang kemudian akan mempengaruhi kualitas hidup pasien. Tujuan penelitian ini adalah menentukan hubungan lama menjalani hemodialisis dengan kualitas hidup pasien penyakit ginjal kronik dengan diabetes melitus di RSUP Dr. M. Djamil Padang. Jenis penelitian ini adalah analitik observassional dengan pendekatan cross sectional yang melibatkan tiga puluh satu responden pasien penyakit ginjal kronik dengan diabetes melitus yang menjalani hemodialisis. Data di analisis dengan uji Chi-square. Teknik pengumpulan data menggunakan kuesioner KDQOL SF 1.3. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan tujuh belas pasien (54,8%) yang menjalani hemodialisis kurang dari dua belas bulan dan empat diantaranya memiliki kualitas hidup yang baik dan tiga belas lainnya memiliki kualitas hidup yang buruk. Hasil uji statistik didapatkan nilai p=0,022 (p<0,05). Disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara lama menjalani hemodialisis dengan kualitas hidup pasien penyakit ginjal kronik dengan diabetes melitus
ARDS+TB Paru Kasus Baru dalam Pengobatan OAT Kat 1 Fase Intensif pada G6P5A0H5 Gravid 27-28 Minggu
Tuberkulosis (TB) masih menjadi masalah kesehatan di dunia demikian juga tuberkulosis pada kehamilan. Berdasarkan laporan WHO, Indonesia menempati urutan ketiga terbesar angka kejadian TB di dunia setelah Cina dan India. Tuberkulosis pada kehamilan mempunyai gejala klinis yang serupa dengan tuberkulosis pada wanita tidak hamil. Diagnosis mungkin ditegakkan terlambat karena gejala awal yang tidak khas.. Penanganan yang tidak benar pada penderita TB akan menimbulkan berbagai macam komplikasi, salah satunya adalah sindrom gagal nafas dewasa (Adult Respiratory Distress Sindrome/ARDS). ARDS dapat menyebabkan 70% angka kematian pada penderita TB. Berikut ini dilaporkan kasus seorang pasien wanita dengan usia 38 tahun dengan diagnosis : ARDS + TB Paru kasus baru dalam pengobatan OAT Kat 1 fase intensif pada G6P5A0H5 gravid 27-28 minggu. Tujuan penelitian ini adalah agar diagnosis TB dalam kehamilan dapat ditegakkan secara akurat, sehingga dapat diterapi secara tepat dan tidak menyebabkan resiko yang cukup besar bagi ibu dan janin
Pengukuran Dosis Radiasi Pada Organ Tiroid dan Mata Saat Pemeriksaan Fluroskopi
Fluoroskopi intervensional adalah alat untuk diagnosis dan pengobatan, Seorang radiografer maupun dokter radiologi dapat mengamati gambaran struktur organ secara dinamik (real time imaging) mengikuti kebutuhan pencitraan yang diinginkan, fluroakopi menggunakan waktu yang lama. Sehingga dosis radiasi yang diterima juga akan semakin besar yang mengakibatkan kemunculan efek juga akan semakin besar. Organ-organ sensitif seperti gonad, payudara, paru –paru, lambung, hati, kerongkongan, tiroid dan mata perlu mendapat perhatian serius agar pada saat penyinaran radiasi tidak menimbulkan kekhawatiran.Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dosis radiasi yang diterima organ tiroid dan mata pekerja saat melakukan pemeriksaan fluoroskopi.Jenis penelitian ini menggunakan cross-sectional study, dilakukan diRumah Sakit Islam Siti RahmahPadangdenganmenggunakan alat Thermoluminecense Dosimeter.Penelitian ini mendapatkan hasil Rerata dosis ekuivalen pada organ tiroid sebesar 0.6 ± 0.1 mSv dan pada organ mata sebesar 0.4 ± 0.09 mSv yang menyatakan dosis pada organ tiroid lebih tinggi dibandingkan organ mata hal ini dikarenakan jarak antara berkas radiasi dari organ tiroid lebih dekat dibandingkan organ mata yang sesuai dengan prinsip dasar proteksi radiasi, dimana jarak mempengaruhi dosis radiasi yang akan diperoleh dan menyatakan semakin jauh jarak paparan radiasi maka dosis yang diterimapun semakin rendah dan sebaliknya. Hasil dosis efektif organ tiroid rerata 0.02 ± 0.0 mSv, dari hasil dosis ekuivalen dan dosis efektif menyatakan bahwa dosis yang diterima tidak melebihi nilai batas dosis yaitu ≤20 mSv
Hubungan Konsumsi Zat Besi dengan Kejadian Anemia pada Murid SMP Negeri 27 Padang
Anemia merupakan salah satu masalah kesehatan utama masyarakat di negara berkembang. Di Indonesia, penyebab utama terjadinya anemia adalah kekurangan zat besi. Besi merupakan zat gizi mikro yang dibutuhkan tubuh untuk membentuk hemoglobin. Anemia defisiensi besi sering terjadi pada remaja dan dapat mengenai semua kelompok terutama yang memiliki sosial ekonomi rendah. Tujuan penelitian ini adalah menentukan hubungan konsumsi zat besi dengan kejadian anemia pada murid SMP Negeri 27 Padang. Penelitian ini menggunakan desain potong lintang dari bulan Februari – Juli 2015. Jumlah sampel adalah 102 murid yang dipilih secara systematic random sampling. Konsumsi zat besi diukur dengan kuisioner food recall 2 x 24 jam dan penetapan kadar hemoglobin dengan metode hemometer digital. Analisis statistik yang digunakan uji korelasi Pearson. Hasil studi menunjukkan kekuatan hubungan yang sangat lemah. Berpola positif, artinya semakin tinggi konsumsi zat besi semakin tinggi kadar hemoglobinnya. Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara konsumsi zat besi dengan kejadian anemia pada murid SMP Negeri 27 Padang
Hubungan Pengetahuan dan Sikap Ibu Hamil dengan Kepatuhan dalam Mengkonsumsi Tablet Besi di Wilayah Kerja Puskesmas Seberang Padang Tahun 2013
Salah satu program pemerintah untuk mencegah anemia kehamilan di Indonesia adalah suplementasi besi yang dibagikan gratis melalui Puskesmas dan Posyandu. Efektifitas program ini sulit dicapai karena sering kali dihambat oleh rendahnya kepatuhan ibu hamil dalam mengkonsumsi tablet besi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan pengetahuan dan sikap ibu hamil dengan kepatuhan dalam mengkonsumsi tablet besi di wilayah kerja Puskesmas Seberang Padang tahun 2013. Penelitian ini menggunakan desain penelitian cross sectional yang dilakukan pada bulan Januari hingga Oktober 2013. Populasi penelitian adalah seluruh ibu hamil trimester II dan trimester III yang berada di wilayah kerja Puskesmas Seberang Padang, dengan jumlah sampel 52 orang yang diambil dengan menggunakan teknik total sampling. Hasil penelitian diperoleh 79% ibu hamil termasuk dalam kategori tidak patuh, 58% ibu hamil dengan pengetahuan kurang, dan 52% ibu hamil dengan sikap negatif dalam mengkonsumsi tablet besi. Analisis bivariat dengan uji chi-square diketahui bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara pengetahuan dan kepatuhan dan juga terdapat hubungan yang bermakna antara sikap dan kepatuhan. Simpulan yang diperoleh dari penelitian ini adalah pengetahuan dan sikap merupakan faktor yang berhubungan dengan kepatuhan ibu hamil dalam mengkonsumsi tablet besi