Jurnal Kesehatan Andalas
Not a member yet
1143 research outputs found
Sort by
POTENSI ANTOSIANIN DALAM MANAJEMEN MENOPAUSE
Menopause yang ditandai oleh berhentinya siklus menstruasi dianggap sebagai awal proses penuaan pada wanita. Penurunan kadar estrogen pada menopause menyebabkan penurunan perlindungan berbagai sistem/organ tubuh wanita. Penurunan aktivitas antioksidan estrogen dapat menyebabkan munculnya stres oksidatif pada menopause, yang akan memunculkan beberapa gejala pada menopause seperti gangguan psikogenik, gejala vasomotor dan genitourinary. Beberapa penyakit yang terkait menopause juga bisa terjadi seperti hipertensi, penyakit kardiovaskular, osteoporosis, radang sendi, diabetes mellitus, kanker, obesitas dan penyakit hati. Hormone Replacement Theraphy (HRT) dengan estrogen dapat diberikan untuk mengatasi gejala dan penyakit pada menopause. Walaupun terbukti efektif, HRT dapat menimbulkan efek samping yang berbahaya. Alternatif pengganti estrogen yang efektif dan lebih aman adalah fitoestrogen dan antioksidan. Antosianin yang memiliki struktur mirip dengan estrogen, menunjukkan aktivitas fitoestrogen baik in vitro maupun in vivo dan telah terbukti sebagai antioksidan yang efektif. Beberapa hasil penelitian telah membuktikan bahwa antosianin efektif dalam mengatasi gejala–gejala menopause. Pada makalah ini dibahas potensi antosianin dalam mengatasi gejala menopause dan penyakit terkait menopause, melalui aktivitasnya sebagai fitoestrogen dan antioksidan
Studi Anak Stunting dan Normal Berdasarkan Pola Asuh Makan serta Asupan Zat Gizi di Daerah Program Penanggulangan Stunting Kabupaten Pasaman, Pasaman Barat
Anak di bawah lima tahun di seluruh dunia seperempatnya mengalami stunting. Stunting adalah dampak dari kondisi sistemik kekurangan gizi kronik. Indonesia merupakan negara dengan peringkat kelima yang mengalami stunting terbanyak di dunia yaitu sebanyak 7,6 juta (37%) anak mengalami stunting. Untuk itu, sejak tahun 2017 pemerintah berusaha menurunkan angka stunting di 100 kabupaten/ kota di Indonesia, khususnya Kabupaten Pasaman dan Pasaman Barat dengan angka stunting nasional di atas 46,1%. Penyebab stunting yaitu rendahnya angka sosial ekonomi, pola asuh makan, intake zat gizi, kebijakan negara, dan sebagainya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik anak stunting dan anak normal berdasarkan pola asuh makan dan intake zat gizi. Data diperoleh dengan mewawancarai ibu responden dan melakukan dietary assessment 1 x 24 jam, kemudian data dianalisis menggunakan uji chi-square dengan p<0,05 signigfikansi. Responden terdiri 94 anak stunting dan 91 anak normal di Kabupaten Pasaman dan Kabupaten Pasaman Barat. Diketahui bahwa dalam penelitian ini, kejadian stunting berhubungan dengan panjang lahir anak dan bentuk keluarga, namun tidak berhubungan terhadap pola asuh makan dan intake zat gizi
Perbedaan Kadar Glukosa Darah Puasa pada Akseptor Suntik Depo Medroksi Progesteron Asetat dengan Akseptor Pil Kombinasi di Puskesmas Lubuk Buaya Padang Tahun 2018
Penggunaan kontrasepsi suntik depo medroxyprogesterone asetat yang mengandung hormon progesteron memiliki efek terhadap peningkatan kadar glukosa darah. Tujuan penelitian ini adalah menentukan perbedaan kadar glukosa darah puasa antara akseptor suntik depo medroxyprogesteron asetat dan akseptor Pil Kombinasi. Penelitian ini adalah studi observasional dengan desain cross sectional. Penelitian ini dilakukan di Puskesmas Lubuk Buaya Padang dan di Laboratorium Bagian Biokimia Fakultas Kedokteran Universitas Andalas dari bulan September 2018 sampai Januari 2019. Subjek penelitian ini terdiri dari dua kelompok yaitu akseptor suntik depo medroxyprogesteron asetat dan pil kombinasi yang masing-masing terdiri dari 33 sampel. Pemeriksaan kadar glukosa darah puasa dilakukan dengan metode kalorimetrik enzimatik (heksokinase). Data dianalisis menggunakan uji-t dengan nilai p< 0,05 dianggap bermakna secara statistik. Hasilnya didapatkan rerata kadar glukosa darah puasa antara akseptor Suntik Depo Medroxyprogesteron Asetat adalah 109,06 ± 3,54 mg/dl dan akseptor Pil Kombinasi adalah 101,89 ± 3,54 dengan nilai p = 0,158 yang berarti p > 0,05. Simpulan penelitian ini adalah tidak terdapat perbedaan yang bermakna rerata kadar glukosa darah puasa antara akseptor KB suntik depo medroxyprogesteron asetat dengan akseptor pil kombinasi
Gambaran Pengetahuan dan Keterampilan Dokter tentang Pengisian Penyebab Kematian Medis (Medical Cause of Death) Berdasarkan Standar ICD-10 di RS Tersier di Bandung
Penyebab kematian medis perlu dicantumkan pada setiap rekam medis pasien yang meninggal. Dokter di Rumah Sakit berperan penting dalam menentukan sebab kematian medis (medical cause of death). Tujuan penelitian adalah untuk menilai pengetahuan dan keterampilan dokter tentang cara penulisan penyebab kematian medis (medical cause of death) pada rekam medis di RS Tersier di Bandung yang sesuai dengan standar WHO International Classification of Disease (ICD) 10. Penelitian ini berupa studi deskriptif analitik dengan memberikan kuesioner pada dokter klinis di suatu RS Tersier di Bandung untuk menilai pengetahuan dan keterampilan dokter tentang cara penulisan penyebab kematian medis (medical cause of death) dan kesesuaiannya dengan standar WHO ICD-10. Dari total 928 orang dokter klinis, didapatkan 90 sampel. Sampel mewakili setiap departemen/bagian yang terlibat langsung pembuatan penyebab kematian medis di suatu RS Tersier di Bandung. Hasil penelitian ini menunjukkan 58,1% dokter yang memahami tentang cara penulisan penyebab kematian medis yang benar, sedangkan 41,9% belum memahami secara teori. Keterampilan dokter dalam mengisi penyebab kematian medis yang benar dan lengkap sebesar 20,7%, sedangkan 23,3% mengisi penyebab kematian medis dengan benar namun tidak lengkap. Sebanyak 75,4% mengisi penyebab kematian yang salah, terutama karena menuliskan kondisi akhir sebelum kematian (terminal events). Masih separuh dokter (58,1%) mengetahui cara penulisan penyebab kematian medis yang benar sesuai standar WHO ICD-10. Tingkat keterampilan dalam mengisi penyebab kematian medis yang lengkap, masih sangat rendah (20,7%)
Upaya Peningkatan Pemanfaatan Puskesmas Untuk Pelayanan Persalinan pada Dinas Kesehatan Kota Solok Tahun 2018
Pemanfaatan Puskesmas di Kota Solok untuk pelayanan persalinan masih rendah. Hal ini sangat timpang jika dibandingkan dengan sarana dan prasarana yang ada di Puskesmas yang sudah lengkap, dan lebih lengkap jika dibandingkan dengan Bidan Praktek swasta. Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan pemanfaatan Pusat Kesehatan Masayarakat dalam memberikan pelayanan persalinan di kota Solok. Penelitian ini merupakan bentuk kajian pada manajemen Pemanfaatan Puskesmas di Kota Solok untuk pelayanan persalinan. Kajian ini dimulai dari mengidentifikasi akar masalah, memberikan alternatif pemecahan masalah dan beberapa intervensi untuk menyelesaikan masalah tersebut. Dari hasil kajian didapatkan intervensi prioritas yang dapat dilakukan yaitu; 1). Bekerja sama dengan kegiatan PIS-PK untuk melakukan promosi tentang pelayanan persalinan yang dilakukan puskesmas, 2). Bekerja sama dengan program smash care 119 untuk melakukan promosi tentang pelayanan persalinan yang dilakukan puskesmas, 3). Bidan puskesmas/pustu/poskeskel harus melakukan promosi tentang pelayanan persalinan yang dilakukan di Puskesmas/pustu/poskeskel, 4). Melakukan pendekatan persuasif kepada ibu hamil pada saat ANC, agar ibu hamil bersalin di Puskesmas/pustu/poskeskel, 5). Peningkatan Kualitas ANC sehingga ibu hamil yang ANC di Puskesmas/Pustu/Poskeskel bisa bersalin di Puskesmas/Pustu/Poskeskel, serta 6). Memperluas wewenang Bidan Penanggung Jawab untuk melakukan promosi pelayanan persalinan melalui PWS
HIPERNATREMIA DAN INFEKSI PADA GERIATRI
Hipernatremia merupakan gangguan elektrolit yang sering dijumpai pada pasien geriatri. Hipernatremia berhubungan erat dengan morbiditas dan mortalitas. Bermacam faktor dapat menyebabkan hipernatremia pada geriatri seperti perubahan ransangan haus, berkurangnya kemampuan pemekatan urin, dan berkurangnya total body water. Penatalaksanaan hipernatremia membutuhkan rehidrasi cairan dan mencari penyebab hipernatremia agar tidak berulang kembali. Telah dilaporkan suatu kasus pada perempuan 83 tahun dengan keluhan penurunan kesadaran. Pada pemeriksaan fisik ditemukan kesadaran somnolen dan turgor kulit menurun. Pemeriksaan laboratorium didapatkan natrium serum 172 mmol/L, dan osmolalitas serum 393mOsm/L. Tatalaksana awal pasien diberikan terapi rehidrasi dengan cairan hipotonis disertai monitoring elektrolit serum. Tatalaksana farmakologis dari penyulit seperti infeksi dan tatalaksana non farmakologis juga dilakukan. Follow up setelah terapi menunjukkan kesadaran pasien meningkat menjadi apati dengan kadar natrium 140mmol/L
Hubungan Batu Saluran Kemih Bagian Atas dengan Karsinoma Sel Ginjal dan Karsinoma Sel Transisional Pelvis Renalis
Insiden karsinoma sel ginjal dan karsinoma sel transisional pelvis renalis sebagai jenis histopatologis terbanyak pada keganasan ginjal menunjukkan trend peningkatan insiden di seluruh dunia. Batu saluran kemih menunjukkan trend peningkatan insiden yang serupa. Hal ini memungkinkan adanya hubungan. Penelitian sebelumnya mendapatkan hasil yang kontroversial. Tujuan penelitian ini adalah melihat hubungan antara batu saluran kemih bagian atas dengan karsinoma sel ginjal dan karsinoma sel transisional pelvis renalis di RSUP Dr. M Djamil padang dan RSAM Bukittinggi. Penelitian ini menggunakan desain case control study pada rekam medis yang dilakukan pada bulan September hingga Desember 2018. Didapatkan 34 sampel dengan hasil histopatologi karsinoma sel ginjal dengan rasio jenis kelamin 1:1,3. Sampel terbanyak adalah kelompok umur 50-59 tahun (26,47%), mean: 52,8±13,79. Didapatkan 15 sampel karsinoma sel transisional pelvis renalis dengan rasio jenis kelamin 2,75:1. Sampel terbanyak adalah kelompok umur 50-59 tahun (33,33%), mean: 57,5±11,31. Persentase yang ada batu lebih tinggi pada karsinoma sel ginjal dibandingkan dengan yang tidak karsinoma sel ginjal yaitu 62,5% : 23,1%. Secara statistik perbedaan tersebut tidak bermakna (P>0,05). Peluang untuk timbulnya karsinoma sel ginjal sebesar 5,6 kali pada yang ada batu dibandingkan dengan yang tidak ada. Persentase yang ada batu lebih tinggi pada karsinoma sel transisional pelvis renalis dibandingkan dengan yang tidak karsinoma sel transisional pelvis renalis yaitu 71,4% : 25%. Secara statistik perbedaan tersebut tidak bermakna (P>0,05). Peluang unuk timbulnya karsinoma sel transisional pelvis renalis sebesar 7,5 kali pada yang ada batu dibandingkan dengan yang tidak ada
Penggunaan Workflows Dalam Aplikasi Bioinformatika Geneious Untuk Menganalisis Data Genomik
Perkembangan penelitian biomolekuler yang meningkat pesat dalam beberapa dekade terakhir memberikan dampak peningkatan kebutuhan teknologi komputasi untuk menganalisis data genomik. Hasil penelitian berupa data digital yang berukuran sangat besar membutuhkan bantuan teknologi komputer untuk menyediakan berbagai solusi penyelesaian. Cabang ilmu bioinformatika, yang merupakan kombinasi cabang ilmu biologi, ilmu komputer, sistem informasi, matematika, kedokteran, farmakologi, fisika, kimia, dan statistik; memberikan solusi dengan beragam aplikasi untuk berbagai kebutuhan analisis genomik. Tinjauan pustaka ini bertujuan menunjukkan penggunaan workflows dalam aplikasi bioinformatika Geneious untuk menganalisis data genomik. Geneious adalah sebuah aplikasi bioinformatika user-friendly yang mengintegrasikan berbagai aplikasi analisis data genomik. Geneious menyediakan workflows standar siap pakai dan memberikan fitur pembuatan workflows sesuai dengan kebutuhan metode penelitian bioinformatika. Penggunaan workflows memberikan efisiensi bagi peneliti terutama dalam menganalisis data genomik dalam ukuran besar dan memerlukan integrasi beberapa aplikasi bioinformatika untuk proses analisis dan interpretasi
PERBEDAAN KADAR MALONDIALDEHID PADA DEWASA MUDA OBES DAN NON–OBES DI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS
Obesitas dapat menyebabkan peningkatan produksi Reactive Oxygen Species (ROS) melalui hiperlipidemia, penurunan sensitivitas insulin, dan berbagai mekanisme lainnya. Peningkatan produksi ROS yang berlangsung terus – menerus dapat menyebabkan stres oksidatif yang dapat menyebabkan kerusakan sel. Stres oksidatif dapat dipantau dengan melihat perubahan kadar Malondialdehyde (MDA). Penelitian ini bertujuan untuk melihat perbedaan kadar MDA pada serum dewasa muda yang obesitas dan non–obesitas. Jenis penelitian ini adalah analitik dengan desain cross–sectional study. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Biokimia Fakultas Kedokteran Andalas pada April sampai dengan Mei 2017 dengan menggunakan tes Thiobarbituric Acids Reactive Substances (TBARs). Subjek penelitian adalah 42 Mahasiswa dan Mahasiswi di Fakultas Kedokteran Universitas Andalas yang dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok obesitas dan non–obesitas. Analisis data menggunakan uji normlitas Shapiro–Wilk dan uji Mann–Whitney. Penelitian ini mendapatkan rerata kadar MDA pada serum dewasa muda obesitas adalah 5,08±0,76 nmol/ml dan rerata pada non–obesitas adalah 3,51±0,24 nmol/ml. Hal ini menunjukkan subjek obesita memiliki kadar MDA yang lebih tinggi dibandingkan subjek non–obesitas, dan diperoleh nilai p=0,001 (p<0,05) yang berarti terdapat perbedaan bermakna antara kadar MDA pada obesitas dan non–obesitas. Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat perbedaan yang bermakna antara kadar MDA pada dewasa muda obesitas dan non–obesitas
Hubungan Kadar 25-Hidroksivitamin D Serum dengan Latensi Tidur pada Perempuan Remaja Akhir
Tinjauan sistematis dan metanalisis melaporkan bahwa defisiensi vitamin D berhubungan dengan gangguan tidur yang lebih tinggi. Reseptor vitamin D terdapat pada area batang otak yang dikenal sebagai pacemaker cells yang berperan dalam tahap pertama tidur (latensi tidur). Studi epidemiologi menyatakan bahwa perempuan lebih berisiko mengalami kualitas tidur buruk dibandingkan laki-laki. Kondisi kesehatan generasi mendatang bergantung pada keadaan kesehatan perempuan mulai dari masa pranikah. Berdasarkan data statistik menunjukkan perkawinan sering terjadi pada usia 19-24 tahun yang tergolong pada kelompok usia remaja akhir. Tujuan penelitian ini adalah menentukan hubungan kadar 25-Hidroksivitamin D (25(OH)D) serum dengan latensi tidur pada perempuan remaja akhir. Penelitian dilakukan dengan desain cross-sectional pada mahasiswa Program Studi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Andalas. Sepertiga (32,6%) subjek penelitian memasuki fase tidur lebih dari 15 menit. Lebih dari separuh (65%) pernah mengalami sulit tidur yaitu tidak memasuki fase tidur dalam waktu 30 menit sebanyak kurang dari 1 kali sampai dengan 3 kali dalam seminggu. Lebih dari separuh (60%) subjek penelitian mengalami defisiensi vitamin D (<11 ng/ml). Terdapat hubungan yang signifikan antara kadar 25(OH)D serum dengan latensi tidur (p<0,001; r=-0,437) pada perempuan remaja akhir. Simpulan studi ini ialah semakin rendah kadar vitamin D maka akan semakin buruk latensi tidur individu tersebut