Jurnal Kesehatan Andalas
Not a member yet
1143 research outputs found
Sort by
Evaluasi Pelaksanaan PONEK di RSUD dr.Rasidin Padang Pasca Pelatihan
Pelaksanaan kasus kegawatdaruratan maternal neonatal merupakan sasaran mengurangi angka kematian maternal neonatal. Salah satu intervensi yang dilakukan dengan mengirim petugas mengikuti pelatihan PONEK (Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Komprehensif). Pelayanan kegawatdaruratan maternal neonatal di RSUD dr.Rasidin selama ini belum berjalan dengan maksimal. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pelaksanaan PONEK di RSUD dr. Rasidin Padang pasca pelatihan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif melalui indepth interview,observasi dan telaah dokumen. Komponen yang diteliti mengenai input (kebijakan, SDM, dana serta sarana prasarana), proses (pelaksanaan,SOP,ketepatan bertindak dan evaluasi ) dan output. Hasil penelitian ditemukan sarana prasarana yang belum mendukung terlaksananya PONEK. Kesimpulan pelaksanaan kasus kegawatdaruratan maternal neonatal di RS belum sesuai standar RS PONEK 24 jam. Pelaksanaan PONEK didukung oleh, SDM yang terlatih,sarana prasarana memadai, kinerja manajemen yang handal sehingga angka kematian ibu dan bayi berkurang. Untuk itu disarankan agar Direktur RS beserta jajarannya untuk melakukan upaya perbaikan kualitas pelayanan dengan melakukan sosialisasi dan koordinasi secara komprehensif
Perkembangan Penggunaan Kosmeseutikal Herbal Pada Terapi Melasma
Kosmeseutikal herbal merupakan kosmetik topikal yang mengandung bahan alami, berasal dari tanaman. Banyak digunakan sebagai Skin Lightening Agent (SLA) dalam penatalaksanaan melasma. Berbagai penelitian telah dilakukan untuk perkembangan kosmeseutikal herbal pada melasma, termasuk penggunaan bahan-bahan alami yang banyak terdapat di Indonesia seperti ekstrak biji mengkudu, ekstrak daun sukun, ekstrak etanol daun pare, ekstrak kulit batang nangka dan gambir. Hasil penelitian tersebut menyatakan bahwa bahan alami dapat digunakan sebagai SLA dalam penatalaksanan melasma melalui berbagai mekanisme interferensi yang mengatur sintesis melanin, mempengaruhi satu atau lebih jalur sintesis melanin. Meskipun beberapa bahan alami tersebut belum diketahui efektivitasnya terhadap pasien melasma, namun dapat dijadikan sebahai bahan penelitian lanjutan sehingga perkembangan kosmeseutikal herbal pada melasma dapat sepenuhnya diketahui
Koreksi Keratokonus dengan Lensa Kontak Rigid Gas Permeable (RGP)
Keratokonus adalah suatu kelainan non inflamasi kornea yang ditandai oleh penipisan kornea yang progresif yang mengakibatkan steepening dan penonjolan kornea. Perubahan-perubahan pada kornea ini mengakibatkan timbulnya astigmat ireguler dan sikatriks kornea, yang akan mengurangi the best-corrected visual acuity (BCVA) dari pasien. Prevalensi keratokonus cukup tinggi yaitu sebanyak 50-230 kasus per 100.000 penduduk atau 1 kasus per 2.000 penduduk. Penyakit ini dapat menyerang berbagai ras, dan tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara insiden keratokonus antara pria dan wanita. Pada umumnya penyakit ini bersifat bilateral (96%) tapi asimetris antara kedua mata. Onset dari keratokonus biasanya terjadi pada usia pubertas hingga usia awal 20 tahun, dan cenderung progresif hingga dekade ketiga atau keempat kehidupan, dimana kondisi menjadi relatif stabil. Pasien dengan keratokonus mengeluhkan penurunan tajam penglihatan dan riwayat koreksi kacamata yang berulang-ulang. Lensa kontak rigid (RGP) merupakan modalitas terapi keratokonus yang paling optimal, karena memberikan visus yang baik dengan membentuk permukaan optik baru yang reguler
AN ELDERLY PATIENT WITH BILATERAL INTRACRANIAL CALCIFICATION AND SEIZURE
Gangguan neurologis terkait usia seperti gangguan serebrovaskular dan neurodegeneratif merupakan faktor etiologi yang paling umum untuk kejang pada orang tua. Sindrom Fahr merupakan gangguan neurodegeneratif yang jarang terjadi, ditandai dengan deposit kalsium simetris pada kedua hemisfer otak, kebanyakan kasus muncul dengan gejala ekstrapiramidal. Seorang pasien wanita usia 64 tahun dirawat dengan kejang umum tonik klonik 12 jam sebelum masuk rumah sakit. Pasien memiliki riwayat kejang 1 bulan sebelumnya, tetapi tidak mengkonsumsi obat-obatan. Karena kekakuan pada semua ekstremitas, gerakan yang menjadi lambat, dan perubahan perilaku, pasien lebih sering berbaring di tempat tidur dengan ketergantungan penuh pada aktivitas sehari-hari sejak 1 tahun yang lalu. Pasien memiliki riwayat operasi gondok 30 tahun yang lalu. Pada Brain CT Scan didapatkan kalsifikasi intrakranial bilateral di ganglia basal, periventrikel, subkortikal, serebelum tanpa perifokal edema, dengan kadar kalsium darah yang rendah (3,6 mg/dl) dan kadar PTH yang sangat rendah (1,55 pg/ml) yang menunjukkan sindrom Fahr. Pasien mendapatkan terapi antikonvulsan, suplemen kalsium dan calcitriol. Sindrom Fahr harus dipertimbangkan pada pasien dengan manifestasi kejang yang berhubungan dengan kalsifikasi intrakranial, meskipun kasus ini jarang terjadi
Hiper IgE dengan Nekrolisis Epidermal Toksik
Hiper IgE (HIES) disebut juga sindroma Ayub adalah gangguan komplek imun primer yang ditandai dengan dermatitis atopik seperti dikulit yang berhubungan dengan peningkatan IgE serum yang sangat tinggi, dan kerentanan terhadap infeksi bakteri dan jamur. Kelainan non imun yang terjadi termasuk tampilan wajah yang khas, fraktur setelah truma ringan, skoliosis, hiperextensive sendi, dan retensi gigi sulung. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa mutasi dominan terjadi pada sinyal tranduser dan aktivator transkripsi 3 (STAT 3), sedangkan defisiensi gen tirosin kinase 2 (TYK2) menyebabkan HIES autosomal resesif terkait dengan virus dan infeksi mikrobakteri. Dalam kedua kondisi tersebut, sinyal transduksi untuk beberapa toksin, termasuk IL-6 dan IL-23 adalah cacat, sehingga fungsi TH17 terganggu. Temuan ini menunjukkan bahwa cacat dalam sinyal sitokin merupakan dasar molekuler untuk kelainan imunologi dan nonimunologi yang diamati pada HIES. Nekrolisis epidermal toksik ditemukan pertama kali pada tahun 1956, sebanyak 4 kasus oleh Alana Lyell, penyakit ini biasanya juga disebut sindrom Lyell. Lyell menggunakan istilah ‘nekrolisis’ dengan menggabungkan gejala klinis epidermolisis dengan gambaran histopatologi ‘nekrosis’. Penyebab NET belum jelas, tetapi obat-obatan (sulfonamid dan butazones) dan spesies Staphylococcus merupakan penyebab utama. Akibatnya, istilah-istilah seperti ‘staphylococcal-induced toxic epidermal necrolysis’ dan ‘drug-induced scalded skin syndrome’ menang selama beberapa dekade, tetapi sekarang dipisahkan karena terapi dan prognosisnya berbeda. Oleh karena itu nekrolisis epidermal toksik atau NET merupakan penyakit erupsi kulit yang umumnya timbul akibat obat-obatan dengan lesi berupa bulla, dengan penampakan kulit seperti terbakar yang menyeluruh
Pemberian Lyophilized Bacterial Lysat Pada Penderita Penyakit Paru Obstruktif Kronis Stabil Yang Memiliki Kolonisasi Potentialy Pathogenic Microorganism
Latar Belakang: Eksaserbasi pada pasien PPOK berpengaruh terhadap keparahan penyakit. Kolonisasi bakteri pada pasien PPOK dianggap berkontribusi terhadap kejadian eksaserbasi. Usaha menurunkan kolonisasi bakteri dilakukan untuk mengurangi kejadian eksaserbasi salah satuanya adalah dengan vaksinasi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat efek pemberian vaksinasi Lyophilized bacterial lysat pada pasien yang telah diketahui jenis potentialy pathogenic microorganism (PPM).Metode: Desain penelitian uji klinis terbuka (open ckinical trial) pada pemberian Lyophilized bacterial lysate dibandingkan dengan Plasebo terhadap pasien PPOK dengan koloni PPM di poliklinik Paru RSUP Dr.M.Djamil Padang periode Januari sampai Juni 2017.Sampel diambil dengan teknik konsekutif (accidental sampling). Hasil: Penelitian pada 33 pasien PPOK stabil dengan PPM yang diberikan Lyophilized bacterial lysat dan 22 pasien PPOK stabil dengan PPM yang diberika plasebo. Setelah perlakuan selama 3 bulan pada kelompok Lyophilized bacterial lysat tidak ditemukan lagi koloni bakteri ganda (10 menjadi 10) (p=0,002) sedangkan pada bakteri tunggal masih ditemukan koloni, sebelum 23 menjadi 26. Kelompok plasebo tidak didapatkan perubahan baik bakteri ganda (13 menjadi 13) ataupun tunggal (9 menjadi 9). Pada kelompok Lyophilized bacterial lysat terjadi perubahan pola koloni yaitu klebsiella pneumonia berkurang 6, Pseudomonas Aureginosa berkurang 2, Stapilococcus Areus berkurang 6, secara statistik mengalami penurunan (p=0,001) sedangkan pada plasebo tidak terjadi perubahan pola koloni Simpulan: Lyophilized bacterial lysat menurunkan proporsi koloni PPM oleh bakteri ganda dibandingkan dengan plasebo. Lyophilized bacterial lysat juga mengurani koloni terutama Pseudomonas Aureginosa dan stapylococcus Aureus dan klebsiella pneumonia
Kandungan Kadmium pada Lipstik Warna Coklat Gelap yang Terdaftar dan Tidak Terdaftar di BPOM yang Dijual di Pasar Raya Kota Padang
Kadmium merupakan salah satu zat berbahaya yang terdapat dalam lipstik yang berefek pada organ-organ tubuh manusia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui uji kualitatif dan kuantitatif kandungan kadmium pada lipstik yang dijual di Pasar Raya Kota Padang. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan sampel lipstik berwarna coklat gelap sebanyak 15 lipstik yang terdaftar dan 13 lipstik tidak terdaftar di Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM). Pemeriksaan kandungan kadmium dilakukan di Laboratorium Teknik Lingkungan Universitas Andalas dari April-Mei 2018. Instrument yang digunakan adalah Spektrofotometri Serapan Atom. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 15 lipstik yang terdaftar dan 13 lipstik yang tidak terdaftar di Badan Pengawasan Obat dan Makana (BPOM) didapatkan semua sampel mengandung cadmium namun masih memenuhi syarat yang telah ditetapkan Badan Pengawasan Obat dan Makana (BPOM) 2011. Didapatkan nilai rata-rata kandungan kadmium pada lipstik yang terdaftar 0,8396 ppm dan pada lipstik yang tidak terdaftar 1,2174. Kesimpulan penelitian ini bahwa seluruh sampel mengandung kadmium namun masih memenuhi syarat yang telah ditetapkan Badan Pengawasan Obat dan Makana (BPOM) 2011 yaitu < 3 ppm. Bagi masyarakat agar lebih hati-hati lagi dalam memilih kosmetik
Gambaran Karakteristik Tingkat Kontrol Penderita Asma Berdasarkan Indeks Massa Tubuh (IMT) di Poli Paru RSUP. Dr. M. Djamil Padang pada Tahun 2016
Asma adalah penyakit heterogen, yang ditandai dengan terjadinya inflamasi kronik saluran pernapasan. Salah satu faktor risiko asma yang berkaitan erat dengan kontrol asma adalah obesitas. Selain itu underweight juga terkait dengan fungsi paru yang menurun dan asma. Tujuan penelitian ini adalah menentukan gambaran karakteristik tingkat kontrol penderita asma berdasarkan indeks massa tubuh (IMT) di Poli Paru RSUP Dr. M. Djamil Padang pada tahun 2016. Jenis penelitian ini adalah deskriptif observasional restrospektif dengan menggunakan data rekam medis pasien asma rawat jalan di Poli Paru RSUP Dr. M. Djamil Padang antara 1 Januari sampai 31 Desember 2016 dan didapatkan sebanyak 63 data yang memenuhi kriteria sampel. Data diolah dengan menggunakan program komputer dan disajikan dalam bentuk tabel distribusi dan frekuensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasien asma laki-laki (49,2%) dan perempuan (50,8%) hampir merata, sebagian besar berusia 40 – 60 tahun (47,6%), bekerja sebagai PNS (31,7%), memiliki IMT ≥ 23,0 (49,2%), dengan tingkat kontrol asma berupa asma terkontrol sebagian (61,9%), asma terkontrol penuh terbanyak ditemukan pada IMT normal (3,2%), asma tidak terkontrol terbanyak pada IMT normal (17,5%), dan asma terkontrol sebagian terbanyak pada IMT berat badan lebih & obes (31,7%)
Gambaran Pola Asuh Psikososial Anak Stunting dan Anak Normal di Wilayah Lokus Stunting Kabupaten Pasaman dan Pasaman Barat Sumatera Barat
Stunting mempengaruhi sekitar seperempat anak di bawah lima tahun di seluruh dunia. Kondisi sistemik kekurangan gizi kronik merupakan dampak dari stunting. Terdapat 7,6 juta (37%) anak Indonesia menderita stunting dan 46,1% angka penderita stunting di Sumatera Barat, angka ini sudah mengalami penurunan pada tahun 2018 sebesar 40,8%. Jumlah itu menunjukkan banyak anak-anak yang membutuhkan perhatian lebih, karena mereka tidak tumbuh dengan baik. Program intervensi nutrisi yang telah berjalan selama ini belum mampu secara optimal memperbaiki kondisi anak stunting. Tujuan penelitian ini adalah menentukan profil pola asuh stimulasi psikososial anak stunting dan perbedaan dengan anak normal di wilayah lokus stunting Kabupaten Pasaman dan Pasaman Barat. Desain penelitian ini berupa penelitian kuantitatif menggunakan desain cross sectional. Penelitian ini dilakukan pada 185 anak usia 0-3 tahun, terdiri dari 94 responden kelompok stunting dan 91 responden kelompok tidak stunting. Penelitian ini dilakukan melalui beberapa tahap, yaitu pengumpulan data menggunakan kuesioner dan instrument HOME. Dari penelitian ini diketahui hampir semua sub indikator memperlihatkan keadaan yang masih kurang; pola asuh stimulasi psikososial masih kurang; tingkat sosial ekonomi kehidupan anak stunting lebih rendah daripada anak normal. Diharapkan di masa depan dapat dilakukan pencegahan terjadinya intrautrin dengan menjaga serta pola asuh terutama pola asuh psikososial yang optimal dari keluarga
Implementasi Kebijakan Penyediaan Ruang Menyusui di Kota Padang
Cakupan pemberian ASI eksklusif di Kota Padang masih lebih rendah dari target nasional. Jumlah pekerja wanita cukup tinggi, dan semakin meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Kebijakan Peraturan Walikota Padang nomor 7 tahun 2015 tentang penyediaan ruang menyusui di tempat kerja dan sarana umum sudah ada, tetapi masih banyak instansi yang belum maksimal melaksanakan kebijakan tersebut. Tujuan penelitian ini adalah menentukan implementasi kebijakan penyediaan ruang menyusui di Kota Padang, sehingga dapat menemukan faktor penghambat implementasi kebijakan dan menggali bahan masukan bagi pelaksana kebijakan dalam penyediaan ruang menyusui di Kota Padang. Jenis penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan analisa deskriptif, lokasi penelitian di Kota Padang dengan subyek penelitian adalah Kasie Gizi Dinas Kesehatan Kota Padang, Kasie DP3AP2KB , Ka.Kebidanan RSUD dr.Rasidin, Kasie Tenaga Kerja dan Perindustrian, Kepala Puskesmas, Pimpinan Hotel, Pimpinan Pusat Perbelanjaan, dan ibu menyusui. Instrumen penelitian adalah pedoman wawancara mendalam dan ceklist observasi. Variabel penelitian adalah komunikasi, sumber daya, sikap implementor dan kondisi lingkungan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi kebijakan penyediaan ruang menyusui di Kota Padang belum terlaksana dengan baik, karena hanya dua dari sembilan instansi yang telah menerima informasi. Belum ada alokasi dana, tenaga dan sarana khusus untuk implementasi kebijakan. Semua pelaksana bersikap mendukung. Tidak ada sanksi bagi pimpinan tempat kerja yang belum melaksanakan kebijakan