Jurnal Kesehatan Andalas
Not a member yet
1143 research outputs found
Sort by
Infektif Endokarditis Pada Penyakit Jantung Tiroid
Infective endocarditis is an endocardial surface infection of the heart including heart valves that can be fatal. Occurs because there is damage to the surface of the endocardium and the entry of bacteria into the circulation. The presence of cardiac lesions such as mitral regurgitation can be a predisposing factor for infective endocarditis. Patients were diagnosed with infective endocarditis based on a scoring system consisting of clinical symptoms, imaging, and blood culture findings, namely: modified Duke criteria. Treatment of infective endocarditis consists of giving antibiotics and evacuating vegetation by surgery. Surgical action is indicated if there is symptoms of heart failure, uncontrolled infections and vegetation size are too large, causing the risk of embolism
Multiple Autoimmune Syndrome pada Pasien Erupsi Obat Alergi akibat Obat Antituberkulosis dengan Hyper IgE
Multiple Autoimmune Syndrome (MAS) merupakan koeksistensi dari tiga atau lebih penyakit autoimun. Kejadian MAS ini cenderung tinggi pada pasien dengan riwayat penyakit autoimun sebelumnya. Perkembangan kondisi ini dicurigai berhubungan dengan faktor genetik familial, infeksi, imunologi serta faktor psikologis. Telah dilaporkan pasien laki-laki 49 tahun dengan keluhan utama lemah letih dan pucat yang disertai bercak kemerahan pada leher, dada, perut, kedua lengan dan paha. Keluhan juga disertai telinga berdenging dan rasa tidak nyaman di perut kanan atas. Manifestasi klinis muncul setelah pasien mengkonsumsi obat anti tuberkulosis selama dua minggu. Pasien juga memiliki riwayat transfusi darah berulang sejak satu tahun yang lalu. Pada pemeriksaan penunjang ditemukan adanya anemia berat dengan gambaran hemolitik dengan Cold Autoantibody Hemolytic Anemia (CAHA), eosinofilia dengan limfosistosis, hyper IgE, hepatosplenomegali akibat hepatitis autoimun, sensorineural hearing loss, serta erupsi kulit eksantema makulopapular. Setelah dilakukan penghentian obat anti tuberkulosis selama lebih dari dua minggu, disertai pemberian imunosupresan, tampak perbaikan yang signifikan pada manifestasi kulit dan hematologi. Pasien dilakukan tes provokasi untuk menentukan obat yang menjadi penyebab erupsi obat alergi
Penatalaksanaan Kolesteatom Eksterna dengan Timpanomastoidektomi Dinding Runtuh
Kolesteatom adalah massa kistik dengan epitel skuamosa, berisi keratin yang proliferatif dan bisa menyebabkan terjadinya destruksi tulang. Kolesteatom eksterna adalah kolesteatom yang terdapat di kanalis akustikus eksternus. Timpanomastoidektomi dinding runtuh adalah tindakan operasi pada kasus kolesteatom eksterna untuk eradikasi kolesteatom, mencegah terjadinya komplikasi dan mempertahankan pendengaran. Dilaporkan satu kasus kolesteatom eksterna pada wanita usia 21 tahun yang meluas ke kavum mastoid dan menimbulkan defek pada kanalis akustikus eksternus. Pada pasien dilakukan tindakan timpanomastoidektomi dinding runtuh telinga kiri. Operasi timpanomastoidektomi dinding runtuh yang dilakukan pada kasus kolesteatom eksterna dengan perluasan ke kavum mastoid memberikan hasil yang baik. Kontrol secara rutin diperlukan untuk mencegah terjadinya rekurensi
Analisis Waktu Tunggu Rawat Jalan di Rumah Sakit Umum Daerah Dr Achmad Darwis Suliki Tahun 2019
AbstrakWaktu tunggu rawat jalan di RSUD dr. Acmad Darwis Suliki masih menjadi permasalahan, hasil survey awal didapatkan bahwa waktu tunggu rawat jalan masih melebihi SPM rawat jalan yang ada yaitu < 60 menit. Hal ini akan berdampak pada kepuasan pasien terhadap pelayanan yang diterima. Tujuan: Menganalisis waktu tunggu rawat jalan di RSUD dr. Achmad Darwis Suliki tahun 2019. Metode: Penelitian ini adalah studi kualitatif dengan melakukan wawancara semi terstruktur, Focus Group Discussion, observasi dan telaah dokumen. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara pada sembilan orang informan. Komponen yang diteliti yaitu komponen input (SDM, Standar Prosedur Operasional (SPO)/kebijakan dan sarana prasarana), komponen proses (pendaftaran, menyiapkan dokumen rekam medis, pemeriksaan) dan komponen output. Hasil: Jumlah SDM masih kurang dan kedisiplinan petugas khususnya tenaga medis juga masih kurang, SPO rekam medis belum terlaksana secara optimal karena kurangnya kedisiplinan petugas dalam melaksanakan SPO, sedangkan SPO untuk rawat jalan belum ada. Ketersediaan sarana prasarana masih belum mencukupi. Proses pendaftaran terkendala karena jumlah komputer yang kurang. Menyiapkan dokumen rekam medis belum sesuai dengan standar waktu yang telah ditetapkan karena kurangnya petugas dan SPO yang belum terlaksana dengan baik. Waktu tunggu rawat jalan masih belum sesuai standar karena masih melebihi waktu 60 menit. Simpulan: Waktu tunggu rawat jalan di RSUD dr. Achmad Darwis Suliki tahun 2019 belum sesuai standar. Disarankan agar pihak rumah sakit dapat meminimalisasi waktu tunggu rawat jalan dengan penambahan petugas, menyusun SPO, melakukan monitoring dan evaluasi, melengkapi sarana prasarana.Â
Pengaruh Akupresur Terhadap Ankle Brachial Index (ABI) Pada Pasien Diabetes Tipe 2 Di Kelurahan Surau Gadang Wilayah Kerja Puskesmas Nanggalo Kota Padang
AbstrakDiabetes Melitus dapat menyebabkan komplikasi pada berbagai sistem tubuh. Komplikasi diabetes melitus adalah gangguan vaskuler perifer yang menyebabkan perubahan pada dinding pembuluh darah yang di tandai dengan penurunan Ankle Brachial Index (ABI). Salah satu terapi komplementer yang dapat mengurangi komplikasi pada pasien Diabetes Melitus adalah terapi akupresur. Tujuan: Mengetahui pengaruh akupresur terhadap Ankle Brachial Index (ABI) pada pasien Diabetes Melitus tipe II di Kelurahan Surau Gadang Wilayah Kerja Puskesmas Nanggalo Padang. Metode: Penelitian ini merupakan quasy ekxperimen dengan pre and post test group with control. Pengambilan sampel dengan cara purposive sampling. Sampel penelitian berjumlah 68 responden, terdiri dari 34 responden sebagai kelompok intervensi yang diberikan akupresur sebanyak 3 kali dalam seminggu selama 4 minggu dan 34 reponden sebagai kelompok control. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan Wilcoxon Rank Test. Hasil: Rerata ABI pada kelompok intervensi sebelum diberikan intervensi 0,846 dan meningkat setelah di berikan intervensi 0,923. Hasil pretest dan postest rerata ABI pada kelompok kontrol 0,846. Adanya pengaruh significant secara statistik dalam pengukuran ABI antara kedua kelompok (p < 0,05). Simpulan: Terdapat perubahan nilai ABI pada pasein Diabetes Melitus tipe II setelah di berikan akupresur.Â
Analisis Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Lesi Pra Kanker Serviks pada Wanita Pasangan Usia Subur di Wilayah Kerja Puskesmas Muara Bungo 1
Lesi pra kanker serviks adalah awal perubahan menuju kanker serviks. Program pengendalian kanker serviks melalui pemeriksaan Visual Inspection with Acetic Acid (VIA) di tingkat Puskesmas dapat menurunkan insiden kanker serviks hingga 83,6%. Kanker serviks ini berkaitan dengan banyak faktor risiko.Tujuan: Menganalisis hubungan antara faktor risiko dengan kejadian lesi pra kanker serviks. Metode: Cross sectional yang dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Muara Bungo 1 dari bulan Februari sampai Mei 2019 terhadap 362 responden. Pengambilan sampel menggunakan metode multistage random sampling. Pengambilan data menggunakan kuisioner dan observasi. Data dianalisis menggunakan uji Chi-square. Hasil: Terdapat hubungan signifikan (p<0,05) antara kejadian lesi prakanker serviks dengan usia >35 tahun, usia pertama kali berhubungan seksual <20tahun, jumlah paritas ≥4kali, menggunakan pembersih vagina dan lama penggunaan kontrasepsi hormonal ≥5 tahun. Jumlah pasangan seksual, paparan asap rokok dan riwayat keluarga kanker serviks, tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian lesi pra kanker serviks (p≥0,05). Faktor risiko yang paling dominan adalah usia pertama kali berhubungan seksual <20 tahun (p=0,008; OR: 6,092). Simpulan: Faktor risiko usia, usia pertama kali berhubungan seksual, jumlah paritas, menggunakan pembersih vagina dan lama menggunakan kontrasepsi hormonal berhubungan dengan kejadian lesi prakanker serviks
Gambaran Fundus Okuli pada Pasien Preeklampsia dan Eklampsia di RS Dr. M. Djamil Padang Periode 2015-2017
Temuan perubahan fundus okuli pada kasus preeklampsia dan eklampsia berkisar 30-100%. Tujuan: Mengetahui faktor dan gambaran fundus okuli pada pasien preeklampsia dan eklampsia. Metode: Penelitian ini merupakan studi deskriptif dengan desain cross sectional. Teknik sampling yang digunakan adalah simple random sampling dengan mengambil 77 data dari rekam medis pasien. Hasil: Uji univariat memperlihatkan hasil dari 77 pasien preeklampsia dan eklampsia, usia rerata pasien adalah 31,45 tahun. Usia kehamilan bervariasi dari 20 minggu hingga 42 minggu, 61,3% pasien multigravida. 39% dari pasien memiliki kadar proteinuria +2, tekanan darah sistolik rata-rata pada pasien adalah 168,8 mmHg, dan diastolik 105,99 mmHg. 71,4% pasien dengan munculan preeklampsia. Perubahan fundus tercatat pada 58,4% pasien dengan preeklampsia dan eklampsia, dan 41,6% ditemukan fundus okuli normal
Gambaran Pemberian Regimen Antiretroviral pada Pasien HIV/AIDS di RSUP Dr. M. Djamil Padang Tahun 2017
Terapi antiretroviral harus diberikan dengan kombinasi yang sesuai dan meminimalisir efek merugikan dari interaksi obat agar terapi optimal pasien HIV/AIDS tercapai. Ketidaksesuain pemberian antiretroviral dengan standar yang berlaku merupakan salah satu masalah terapi antiretroviral. Tujuan: Mengkaji gambaran pemberian regimen antiretroviral pada pasien HIV/AIDS. Metode: Penelitian ini bersifat deskriptif retrospektif dengan metode kuantitatif dan kualitatif melalui pengambilan data dari rekam medis 97 pasien HIV/AIDS yang berobat pada periode Januari - Desember 2017 di RSUP Dr. M. Djamil Padang. Hasil: Mayoritas pasien adalah laki-laki (80,4%), usia 26-45 tahun (73,2%), dan belum menikah (55,7%). Faktor risiko penularan HIV paling banyak melalui hubungan seksual (61,9%) dan didominasi oleh lelaki seks dengan lelaki (40,3%). Infeksi oportunistik terbanyak yang dialami pasien adalah tuberkulosis (20,6%). Terapi antiretroviral yang paling banyak digunakan adalah tenofovir + lamivudin/emtrisitabin + efavirenz (50,5%) dengan kesesuaian obat, dosis, pasien dan indikasi dengan pedoman nasional adalah 100% serta terdapat 12,4% potensi interaksi antiretroviral dengan obat lain yang memiliki efek samping merugikan. Simpulan: Pemberian terapi antiretroviral terbanyak menggunakan kombinasi IV dengan kesesuaian obat, dosis, pasien, dan indikasi yang sesuai pedoman nasional. Terdapat sejumlah kecil pemberian kombinasi obat yang memiliki efek samping merugikan
Profil Strabismus Horizontal di RSUP Dr. M Djamil Padang Januari – Desember 2017
Strabismus horizontal adalah ketidaksegarisan satu mata baik secara konstan maupun intermiten berupa esotropia atau eksotropia yang dapat disertai dengan kelainan gerak pada satu atau kedua mata, diplopia, penurunan visus, dan posisi kepala yang tidak normal. Strabismus bisa mempengaruhi stereopsis, menyebabkan ambliopia dan masalah psikososial. Tujuan: Menggambarkan profil strabismus horizontal di RSUP Dr. M. Djamil Padang. Metode: Studi ini adalah retrospektif deskriptif. Data pasien diperoleh dari rekam medis pasien yang didiagnosis dengan strabismus horizontal di RSUP dr. M. Djamil dari bulan Januari sampai Desember 2017. Hasil: Didapatkan 91 pasien strabismus. Sekitar 62,6% adalah eksotropia, 41,7% merupakan eksotropia intermiten dan 20,9% merupakan eksotropia konstan. Pasien esotropia didapatkan sebanyak 37,4%, dan sekitar  13,2% adalah esotropia akomodatif, esotropia non akomodatif 10,9%, diikuti dengan esotropia kongenital  9,9% dan inkomitan 2,2%. Sebagian besar pasien diterapi dengan kaca mata dan oklusi. Ada 12 pasien (13,2%) dilakukan operasi dengan tekhnik monokular reses dan resek. Simpulan: Eksotropia adalah tipe strabismus yang terbanyak dalam penelitian ini dengan eksotropia intermiten sebagai kasus yang dominan. Esotropia akomodatif adalah jenis esotropia yang terbanyak, dan terapi bedah pada penelitian ini semuanya adalah monocular reses resek.Kata kunci: eksotropia, esotropia, monokular reses resek, strabismu
Leukemia Limfositik Kronik pada Limfoma Non Hodgkin
Leukemia Limfositik Kronik (LLK) adalah suatu keganasan hematologik yang ditandai oleh proliferasi klonal dan penumpukan limfosit B neoplastik dalam darah. Limfoma Non Hodgkin (LNH) adalah kelompok keganasan primer limfosit B, limfosit T jarang berasal dari sel NK (natural killer). Keduanya merupakan keganasan hematologi yang berasal dari limfosit B. Transformasi LNH menjadi LLK sangat jarang terjadi. Telah dilaporkan perempuan 38 tahun dengan keluhan utama benjolan di leher muncul kembali sejak 1 bulan yang lalu setelah kemoterapi LNH dengan regimen Cyclophosfamide, Doxorubicine, Vincristine dan prednison selama 6 siklus. Pucat sejak 2 tahun yang lalu dan dialkukan BMP dengan kesan normal. Pemeriksaan fisik didapatkan konjungtiva anemis, pembesaran kelenjar getah bening di regio colli dan inguinal, hepatosplenomegali. Didapatkan Hb 8,8 gr/dl, leukosit 40.900/mm3 gambaran darah tepi leukosit jumlah meningkat, limfositosis, flower cells. Dari BMP didapatkan infiltrasi sel seri limfopoeitik didominasi limfosit (77%), limfoblast (6%), smudge cells sesuai gambaran LLK. Patologi Anatomi sesuai LNH. Imunofenotyping CD 20 positif. USG Abdomen didapatkan hepatosplenomegali dan limfadenopati multipel paraaorta. Regimen Kemoterapi diberikan Rituximab, Fludarabine, Cyclophosphamide dan menghasilkan remisi komplit