Jurnal Kesehatan Andalas
Not a member yet
    1143 research outputs found

    Hubungan Kadar Albumin dan Kalsium Serum Pasien Sindrom Nefrotik pada Anak

    Get PDF
    Pada keadaan hipoalbuminemia yang terjadi pada sindrom nefrotik, dapat menyebabkan hipokalsemia. Penurunan kalsium ekstrasel menimbulkan efek eksitasi sel saraf dan otot yang berakibat timbul tetani hipokalsemik. Tujuan: Menentukan hubungan kadar albumin dan kalsium serum pasien sindrom nefrotik pada anak. Metode: Penelitian ini adalah studi observasional analitik dengan pendekatan belah lintang terhadap 30 sampel yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Sampel penelitian adalah pasien sindrom nefrotik pada anak yang berobat/dirawat di RSUP Dr. Kariadi dari Januari sampai Juli 2019. Hasil pemeriksaan albumin dan kalsium diambil dari rekam medis pasien. Uji analisis dilakukan dengan korelasi Spearman’s. Hasil: Subjek terdiri dari 24 (80%) laki-laki dan 6 (20% ) perempuan, berusia rata-rata 4,27 (±2,45) tahun. Hasil rata-rata kadar albumin serum 2,16 (±0,79) g/dL dan kalsium serum 2,00 (±0,20) mmol/L. Hasil analisis uji korelasi Spearman’s untuk melihat hubungan kadar albumin dan kalsium serum pasien sindrom nefrotik pada anak menunjukkan (r=0,623) dan (p<0,001). Terdapat korelasi positif antara kadar albumin dan kalsium serum pasien sindrom nefrotik pada anak. Simpulan: Terdapat hubungan positif kuat kadar albumin dan kalsium serum pasien sindrom nefrotik pada anak.Kata kunci: hipoalbuminemia, hipokalsemia. sindrom nefroti

    Vaskulitis pada Lupus Eritematosus Sistemik

    Get PDF
    AbstrakLupus Eritematosus Sistemik (LES) merupakan penyakit autoimun kompleks yang menyerang berbagai sistem tubuh. Salah satu manifestasi LES adalah vaskulitis, yaitu inflamasi pada dinding pembuluh darah. Vaskulitis sekunder akibat LES terjadi pada beberapa pasien LES dengan gambaran yang bervariasi. Gambaran vaskulitis yang tersering pada LES adalah vaskulitis kutaneus. Dilaporkan seorang perempuan 26 tahun yang telah dikenal dengan LES, datang dengan keluhan bintik-bintik merah di kedua tungkai dan lengan yang tidak gatal dan tidak nyeri. Dilakukan biopsi pada lesi kulit dengan hasil tampak pada jaringan kulit dengan epidermis yang mengalami atrofi, hyperkeratosis, ketotik plague, terdapat daerah dengan penebalan membrana basalis. Dibawah dermis tampak sebukan sel radang perivasikuler, terdapat limfosit dan beberapa leukosit PMN. Gambaran tersebut sesuai dengan gambaran discoid lupus erythematosus dan vaskulitis. Discoid lupus erythematosus merupakan salah satu bentuk dari lupus eritematosus kutaneus dan merupakan bentuk yang tersering. Pada kasus ini vaskulitis muncul menunjukkan kambuh atau aktifnya penyakit LES yang telah diderita pasien selama 2 tahun. Hal tersebut ditunjukkan dengan jumlah skor MEX SLEDAI 6 dan skor SLEDAI 12. Pasien diberikan terapi dengan metil prednisolon intravena 2x125 mg selama 3 hari serta hidroksiklorokuin 1x200 mg per oral. Respon yang baik terlihat pada hari rawatan keenam dengan berkurangnya manifestasi vaskulitis secara signifikan.Kata kunci: lupus eritematosus sistemik, vaskulitisAbstractSystemic lupus erythematosus (SLE) is a complex autoimmune disease involving many systems in one’s body. One of SLE manifestations is vasculitis, an inflammation of the vessel wall. Secondary vasculitis caused by SLE happened in few SLE patients with various manifestations. The most common SLE vasculitis is cutaneous vasculitis. It has been reported a female patient (26 years old) who was known with SLE, with red spots on both her legs and arms without feeling itchy or painful. Skin biopsy was done to the patient and the result was an appearance in skin tissue with the atrophic epidermis, hyperkeratosis, ketotic plague, thickening area of membrana basalis. In dermis underneath, was distributed inflammation cells perivascular, with lymphocyte and numerous PMN leukocyte. This appearance corresponds with discoid lupus erythematosus and vasculitis. Discoid lupus erythematosus is one most common cutaneous lupus erythematosus. In this case, the occurrence of vasculitis demonstrated an active disease of SLE. Disease activity was assessed with MEX SLEDAI and SLEDAI scores, which are 6 and 12 consecutively. The patient was given intravenous methylprednisolone 125 mg twice a day for 3 days and oral hydroxychloroquine 200 mg once daily. A good response was found in the sixth day with significant improvement of her skin lesions.Keywords: systemic lupus erythematosus, vasculiti

    Drug Reaction With Eosinophilia and Systemic Symptom (DRESS) pada Tuberkulosis Payudara dalam Pengobatan

    Get PDF
    Drug Reaction With Eosinophilia and Systemic Symptom (DRESS) atau sindroma DRESS merupakan suatu reaksi idiosinkratik yang terjadi setelah pemberian obat dalam dosis terapi yang ditandai dengan manifestasi klinis berupa adanya erupsi eritematosa, demam, kelainan hematologi terutama adanya eosinofilia dan adanya keterlibatan organ dalam seperti hepatitis, nefritis, limfadenopati, pneumonitis dan miokarditis. Sindroma DRESS sering disebabkan oleh obat seperti trimetropim, allopurinol, metronidazol, dapson dan abacavir. Penyaki ini juga dapat terjadi akibat reaksi silang obat, seperti obat anti konvulsan (carbamazepin, fenitoin, fenobarbital) dan obat anti inflamasi non steroid (piroksikam). Dilaporkan pasien wanita 34 tahun dengan keluhan utama kuning pada mata yang disertai bercak kemerahan pada wajah, badan, lengan dan tungkai. Manifestasi klinis muncul setelah pasien mengkonsumsi obat anti tuberkulosis selama 1,5 bulan. Pada pemeriksaan penunjang yang khas tampak eosinophilia dengan limfositik atipik dan keterlibatan organ dalam berupa hepatitis setelah menyingkirkan penyebab lain dari hepatitis. Setelah dilakukan penghentian obat anti tuberkulosis selama 2 mingga tampak perbaikan yang signifikan pada manifestasi kulit dan hematologi. Pasien kemudian dilakukan tes provokasi untuk menentukan obat yang menjadi penyebab terjadinya sindroma DRESS

    Jumlah Koloni Bakteri Asam Laktat pada Rongga Mulut yang Sehat

    Get PDF
    AbstrakSalah satu flora normal yang terdapat di dalam rongga mulut adalah Bakteri Asam Laktat (BAL). Kemampuan BAL antara lain menghasilkan antimikroba, mengatur respons imun host dan menghalangi pertumbuhan bakteri patogen. Keberadaan BAL di rongga mulut sangat penting untuk menjaga kesehatan oral dan mencegah terjadinya penyakit periodontal. Hal ini mendorong perlunya penelitian mengenai jumlah koloni BAL di dalam rongga mulut yang sehat sehingga dapat dijadikan sebagai alternatif terapi penyakit periodontal. Tujuan: Mengidentifikasi jumlah koloni BAL pada rongga mulut yang sehat. Metode: Penelitian ini merupakan studi observasional dengan rancangan cross- sectional. Subyek penelitian terdiri dari 49 orang dengan gusi yang sehat. Subyek diminta untuk berkumur dengan akuades steril kemudian akuades hasil berkumur ditampung untuk selanjutnya dikultur di media MRS. Setelah diinkubasi selama 48 jam dilakukan penghitungan jumlah koloni bakteri asam laktat yang tumbuh pada media MRS. Hasil: Rerata jumlah koloni BAL kelompok sehat 7,8 x 104 ± 9,4 x 104 CFU/ml. Bakteri yang tumbuh pada media MRS pada penelitian ini semuanya berbentuk bundar, umumnya tepian rata, berwarna putih, mukoid, berukuran kecil dengan elevasi cembung. Beberapa bakteri berwarna krem atau putih keruh, berukuran sedang, tidak mukoid, tepian tidak rata dan elevasi seperti tombol. Simpulan: BAL merupakan flora normal yang keberadaannya penting untuk menjaga rongga mulut yang sehat.Â

    Hubungan Kunjungan Posyandu Terintegrasi PAUD dengan Status Gizi dan Kemampuan Berbahasa pada Anak Balita Usia 4-5 Tahun di Wilayah Kerja Puskesmas PAUH Kota Padang Tahun 2019

    Get PDF
    AbstrakPosyandu terintegrasi Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) merupakan penyelenggaraan integrasi layanan sosial dasar di posyandu, salah satunya adalah pembinaan gizi dan kesehatan ibu anak serta pos PAUD. Posyandu yang melaksanakan program pengembangan tambahan, meliputi perkembangan kognitif, bahasa, fisik, sosial dan emosional anak yang dapat dipantau salah satunya pada integrasi Posyandu PAUD, namun pelaksanaannya belum maksimal. Tujuan: Menentukan hubungan kunjungan posyandu terintegrasi PAUD dengan status gizi dan kemampuan berbahasa pada anak balita usia 4-5 tahun. Metode: Desain penelitian yaitu crossectional terhadap 73 responden. Pengumpulan data dilakukan dengan melakukan observasi langsung pada anak menggunakan lembar pedoman perkembangan bahasa anak di Posyandu terintegrasi PAUD pada bulan Maret sampai September 2019 dengan metode simple random sampling menggunakan uji Chi-square. Hasil: Analisis kuantitatif menunjukkan bahwa lebih dari separoh kunjungan posyandu terintegrasi PAUD tidak aktif (60,2%), sebagian besar status gizi lebih (68,5%), lebih dari separoh kemampuan berbahasa anak kurang baik (60,2%). Hasil uji Chi-Square menunjukkan terdapat hubungan kunjungan posyandu terintegrasi PAUD dengan status gizi (Ï<0,05) dan kemampuan berbahasa (Ï<0,05) anak balita usia 4-5 tahun. Simpulan: Kunjungan posyandu terintegrasi PAUD penting dihadiri oleh ibu untuk memantau status gizi dan kemampuan berbahasa anak.Â

    Analisis Faktor yang Berhubungan dengan Keikutsertaan Bidan Praktek dalam Pelayanan Kebidanan pada Program Badan Penyelenggara Jaminan Sosial di Kabupaten Pasaman Barat Tahun 2018

    Get PDF
    AbstrakKeikutsertaan bidan praktek pada program Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) masih rendah, sehingga dapat mempengaruhi angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB), Berdasarkan studi awal pendahuluan yang dilakukan di Kabupaten Pasaman Barat, dari 87 bidan praktek hanya 30 bidan yang bekerjasama dengan BPJS (34,4%). Tujuan: Menganalisis faktor yang berhubungan dengan keikutsertaan bidan praktek dengan BPJS. Metode: Penelitian ini menggunakan metode analitik dengan pendekatan cross sectional comparative design study. Penelitian dilakukan di Bidan Praktek Kabupaten Pasaman Barat September sampai Juli 2019. Sampel penelitian adalah bidan praktek sebanyak 36 orang secara simple random sampling. Hasil: Penelitian kuantitatif menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan dengan keikutsertaan bidan (p=0,094), tidak terdapat hubungan antara sikap dengan keikutsertaan bidan (p=1,000), tidak terdapat hubungan antara motivasi dengan keikutsertaan bidan (p=0,077). Simpulan: Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara tingkat pengetahuan, sikap dan motivasi dengan keikutsertaan bidan pada program BPJS dan motivasi merupakan variabel yang paling dominan dalam penelitian ini.Â

    Pengaruh Pemberian Madu Murni Kaliandra Terhadap Perubahan Derajat Dismenorhea pada Remaja Putri di Poltekes Kemenkes Padang Tahun 2019

    Get PDF
    Abstrak Menstruasi sering menimbulkan masalah salah seperti dismenorhea yang dapat mengakibatkan penurunan produktivitas pada wanita usia subur. Madu merupakan minuman herbal yang memiliki banyak kandungan seperti glukosa, fruktosa, flavanoid dan lain sebagainya yang baik bagi kesehatan tubuh. Tujuan: Menentukan pengaruh pemberian madu murni kaliandra terhadap perubahan derajat dismenorhea pada remaja putri. Metode: Penelitian ini menggunakan desain one-group pretest-postest di Poltekses Kemenkes Padang dan Laboratorium Biomedik Fakultas Kedokteran Universitas Andalas pada bulan akhir Januari 2018 sampai April 2019. Sampel dipilih secara simple random sampling dengan memenuhi kriteria inklusi dan eksklus,i sehingga didapatkan sampel berjumlah 36 remaja putri yang mengalami dismenorhea. Uji statistik menggunakan Wilcoxon signed rank test dengan nilai p < 0,05 dianggap bermakna secara statistik. Hasil: Terdapat pengaruh pemberian madu murni kaliandra terhadap perubahan derajat dismenorhea dengan nilai p=0,000. Simpulan: Terdapat penurunan derajat dismenorhea setelah pemberian madu murni kaliandra pada remaja putri yang mengalami dismenorhea saat menstruasi.Â

    Analisis Rentang Waktu Pemeriksaan Penderita Kanker Payudara di Pelayanan Kesehatan Samarinda

    Get PDF
    AbstrakKanker payudara merupakan penyebab kematian nomor satu akibat kanker dan tingginya angka kematian akibat kanker payudara disebabkan karena banyak penderita kanker payudara yang terdiagnosis saat stadium lanjut. Hal ini disebabkan oleh keterlambatan penderita kanker payudara melakukan pemeriksaan di pelayanan kesehatan. Banyak faktor risiko yang berperan dalam mempengaruhi rentang waktu pemeriksaan penderita kanker payudara di pelayanan kesehatan. Tujuan: Mengidentifikasi hubungan faktor-faktor yang terkait dengan rentang waktu pemeriksaan kanker payudara di pelayanan kesehatan Samarinda. Metode: Desain penelitian ini adalah analitik cross-sectional terhadap 46 penderita kanker payudara di RSUD Abdul Wahab Sjahranie Samarinda. Analisis data menggunakan uji Chi-square dan uji Fisher. Hasil: Terdapat hubungan antara usia dengan rentang waktu pemeriksaan (p=0,022) dan Pemeriksaan Payudara Sendiri (SADARI) dengan rentang waktu pemeriksaan (p=0,000). Faktor risiko lain yang tidak berhubungan adalah keluhan awal, riwayat keluarga kanker payudara, faktor ekonomi, dan pengobatan alternatif. Simpulan: Terdapat hubungan antara usia dan SADARI dengan rentang waktu pemeriksaan penderita kanker payudara di pelayanan kesehatan Samarinda dan tidak terdapat hubungan antara faktor risiko yang lain dengan rentang waktu pemeriksaan penderita kanker payudara di pelayanan kesehatan Samarinda.Â

    Status Kerentanan Nyamuk Aedes Aegypti terhadap Malathion 5% dan Alfa-sipermetrin 0,025% di Wilayah Kerja Puskesmas Belimbing Kecamatan Kuranji Kota Padang

    Get PDF
    Peningkatan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) disebabkan salah satunya oleh kegagalan pengendalian vektor DBD secara kimiawi yaitu terjadinya resistensi nyamuk Aedes aegypti terhadap insektisida dalam fogging seperti malathion dan alfa-sipermetrin. Tujuan: Mengetahui status kerentanan nyamuk Aedes aegypti di wilayah kerja Puskesmas Belimbing. Metode: Penelitian dilakukan pada bulan Agustus 2018 sampai Februari 2019. Pengambilan telur nyamuk dilakukan pada 100 rumah di lokasi penelitian dengan meletakkan 100 ovitrap. Sampel nyamuk didapatkan dari hasil pemeliharaan telur nyamuk yang dilakukan di Laboratorium Parasitologi FK Unand. Uji resistensi dilakukan dengan metode WHO menggunakan impregnated paper malathion 5% dan alfa-sipermetrin 0,025%. Saat perlakuan dilakukan pencatatan jumlah kematian nyamuk pada menit ke 15, 30, 45, 60 dan 1440. Persentase kematian nyamuk setelah pemeliharaan 24 jam dikategorikan resisten jika kematian < 90%, toleran jika kematian antara 90-97 % dan masih rentang jika kematian 98-100%. Hasil: Didapatkan persentase kematian nyamuk Aedes aegypti oleh malathion 5% setelah 24 jam adalah 98% dengan LT50 dan LT90 adalah 76 menit dan 853 menit. Presentase kematian nyamuk Aedes aegypti oleh alfa-sipermetrin 0,025% setelah 24 jam adalah 87% dengan LT50 dan LT90 nya adalah 264 menit dan 1500 menit. Simpulan: Nyamuk Aedes aegypti di wilayah kerja Puskesmas Belimbing masih rentan terhadap malathion 5% dan telah resisten terhadap alfa-sipermetrin 0,025%

    Pengetahuan Kader Terhadap Infeksi Cacing Usus di Kelurahan Korong Gadang Kecamatan Kuranji Padang

    No full text
    Kader posyandu dalam pelaksanaan program memegang peranan penting untuk menggerakkan keaktifan ibu dalam peningkatan kesehatan ibu dan anak. Masalah penelitian adalah bagaimana pengetahuan kader tentang infeksi cacing usus. Tujuan: Mengetahui pengetahuan kader tentang infeksi cacing usus di kelurahan Korong Gadang, Kecamatan Kuranji, Padang. Metode: Deskriptif observational dengan pendekatan cross sectional. Populasi adalah kader posyandu aktif yang ada di wilayah kerja kelurahan Korong Gadang, Kecamtan Kuranji, Padang. Total sampling digunakan untuk mendapatkan sampel sebanyak 70 responden. Hasil: Nilai pre-test mengalami peningkatan dari 70% menjadi 90% setelah post-test. Pengetahuan terbukti berpengaruh terhadap peran kader dalam melaksanakan tugas masyarakat. Simpulan: Pengetahuan kader setelah post-test lebih baik dari pre-test.Kata kunci: infeksi cacing usus, kader, pengetahua

    1,096

    full texts

    1,143

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Kesehatan Andalas
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇