Jurnal Kesehatan Andalas
Not a member yet
1143 research outputs found
Sort by
Trombosis Berulang pada Pasien dengan Polisitemia Vera dan Penyakit Ginjal Kronis
AbstrakPolisitemia vera adalah kelainan mieloproliferatif dimana terjadi abnormalitas klonal yang melibatkan sel progenitor hematopoietik multipoten sehingga sel darah merah normal, granulosit dan trombosit berakumulasi tanpa adanya stimulus fisiologis.Dilaporkan seorang wanita berusia limapuluh delapan tahun dengan keluhan utama kelemahan anggota badan kanan sejak tiga hari sebelum masuk rumah sakit. Bicara pelo, mulut miring ke kanan. Riwayat wajah sering berwarna kemerahan dan telinga berdenging. Terdapat riwayat trombosis berupa bengkak merah, hangat dan nyeri di tungkai kanan satu bulan yang lalu. Pemeriksaan fisik mendapatkan plethora, deviasi lidah ke kanan dan penurunan kekuatan motorik ekstremitas kanan. Pemeriksaan laboratorium menunjukkan peningkatan kadar hemoglobin, hematokrit, eritrosit dan trombosit. Tidak ditemukan hipoksemia, ureum dan kreatinin meningkat dengan tingkat klirens kreatinin menurun dan didapatkan adanya proteinuria pada urinalisis. Pemeriksaan CT-scan otak mendapatkan kesan infark serebri multipel dan atrofi otak. Sonogram kedua ginjal sesuai gambaran penyakit ginjal kronis. Terapi yang seharusnya juga diberikan pada pasien ini adalah dengan hydroxyurea namun terdapat penyulit yaitu penyakit ginjal kronis yang dialami pasien sehingga terapi yang dilakukan pada pasien adalah flebotomi berkala dengan target hematokrit dibawah empat puluh lima persen.Â
Astrositoma Medula Spinalis Torakalis pada Usia Remaja: Suatu Kasus Jarang
Tumor ekstramedula intradural merupakan kasus yang jarang. Gambaran klinis sangat bervariasi, mulai dari gejala ringan dan tidak spesifik hingga komplikasi neurologis yang berat. Dilaporkan seorang pasien laki-laki umur 14 tahun dengan keluhan lemah kedua tungkai sejak 5 hari sebelum masuk RS. Awalnya pasien merasakan tungkai kanan terasa lemah sehingga pasien berjalan dengan menyeret. Kelemahan bertambah berat sehingga pasien hanya bisa berbaring di tempat tidur. Nyeri di punggung setinggi puting susu sejak 1 minggu sebelum masuk RS, nyeri dirasakan seperti terikat, nyeri kadang dirasakan hilang timbul. Keluhan juga diikuti rasa kebas yang dirasakan setinggi puting susu kebawah. Tidak ada keluhan buang air besar dan buang air kecil. Sensasi nyeri, suhu raba berkurang setinggi dermatom torakal IV kebawah. Hasil MRI didapatkan suatu gambaran kista. Tindakan operasi dilakukan pada pasien dengan ektirpasi kista dengan hasil biopsi pilositic astrocitoma (WHO grade 1) dan pasien dianjurkan untuk radioterapi
Gambaran Pemenuhan Hak Anak serta Faktor-Faktor yang Mendukung pada Klaster Kesehatan Dasar dan Kesejahteraan dalam Implementasi Kebijakan Kota Layak Anak Kota Bukittinggi tahun 2019
AbstrakSalah satu upaya pemerintah untuk mendukung pemenuhan dan perlindungan hak anak dengan mengembangkan Kabupaten/ Kota Layak Anak (KLA). Kota Bukittinggi sudah menginisiasi kebijakan KLA sejak tahun 2015, tetapi masih ada permasalahan anak yang harus di selesaikan dalam mewujudkan KLA. Tujuan: Melihat gambaran pemenuhan hak anak dan faktor-faktor yang mendukung pada klaster kesehatan dasar dan kesejahteraan dalam mewujudkan KLA. Metode: Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan jumlah sampel sebanyak 105 ibu yang mempunyai anak usia ≤18 tahun. Hasil: Ditemukan belum tercapainya target AKB dan AKABA penimbangan balita, ASI Ekslusif, dan imunisasi, serta masih ada anak yang merokok. Ketersedian sarana dimana ibu balita sudah memanfaatkan ruang menyusui namun fasilitas yang masih kurang. Pelayanan puskesmas sudah ramah anak, rumah tangga sudah mendapatkan akses air bersih, namun akses remaja untuk mendapatkan pelayanan reproduksi masih kurang. Tingkat pengetahuan dan partisipasi masyarakat cukup baik disertai dengan persepsi masyarakat yang sudah baik terhadap implementasi KLA. Simpulan: Kebijakan KLA di Kota Bukittinggi belum signifikan dalam mencapai target indikator KLA. Beberapa hal yang harus diperhatikan adalah perlu penguatan komitmen dari stakeholders, pelaksana dan masyarakat, perlu perencanaan yang terkoordinasi, pelaksanaan yang terintegrasi dan termonitoring dengan optimal.Â
Profil Histopatologik Adenokarsinoma Prostat di Laboratorium Patologi Anatomik Sumatera Barat Tahun 2015-2017
AbstrakAdenokarsinoma prostat merupakan keganasan kedua terbanyak pada laki-laki dan menjadi penyebab kematian kelima akibat keganasan pada laki-laki di dunia. Tujuan: Mengetahui profil histopatologik adenokarsinoma prostat berdasarkan kelompok usia, grade-group, derajat histopatologik dan invasi perineural. Metode: Penelitian ini merupakan studi deskriptif terhadap 106 kasus adenokarsinoma prostat di lima laboratorium Patologi Anatomi di Sumatera Barat periode Januari 2015 sampai Desember 2017. Sampel diperoleh dari blok parafin jaringan hasil operasi Transuretral Resection of Prostat (TURP) dan prostatektomi, kemudian dilakukan reevaluasi terhadap derajat histopatologik dan invasi perineura berdasarkan ISUP 2014/WHO 2016. Hasil: Kasus adenokarsinoma prostat paling banyak ditemukan pada kelompok usia 70-80 tahun. Grade-group tersering adalah grade group 5 (51,89%) dan semua grade-group paling banyak pada kelompok umur 71-80 tahun, derajat histopatologis terbanyak yaitu poorly differentiated (66,04%), invasi perineural ditemukan pada 31 kasus (29,24%) dan paling banyak ditemukan pada grade group 5. Simpulan: adenokarsinoma prostat paling banyak ditemukan pada usia tua dengan grade-group yang tinggi dan derajat histopatologik yang buruk. Invasi perineural hanya ditemukan pada sepertiga kasus namun invasi perineural positif paling banyak ditemukan grade group 5. Â
Perbandingan Nilai APGAR Bayi yang Lahir melalui Sectio Caesarea dengan Anestesia umum dan Anestesia Spinal dari Ibu Eklampsia di RSUP Dr. M. Djamil Padang
Pemilihan anestesia yang digunakan untuk pasien eklampsia masih menjadi kontroversi. Teknik anestesia spinal atau anestesia umum pada seksio sesarea dapat menpengaruhi luaran neonatus. Tujuan: Membandingkan nilai APGAR neonatus yang lahir melalui sectio caesarea antara anestesia umum dan anestesia spinal pada ibu eklampsia. Metode: Jenis penelitian ini adalah analitik dengan desain cross sectional. Sampel adalah 63 pasien yang dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok yang mendapat anestesia spinal sebanyak 30 dan anestesia umum sebanyak 33. Data diperoleh dari rekam medik RSUP Dr. M. Djamil Padang periode Januari 2015 sampai Desember 2018. Data dianalisis dengan uji Kolmogorov-Smirnov. Hasil: Pada menit pertama asfiksia (APGAR1<7) terjadi pada 12 (40%) neonatus kelompok spinal dan 32 (97%) neonatus kelompok umum. Sementara itu, pada menit kelima asfikasia (APGAR5<7) terjadi pada 5 (16,7%) neonatus kelompok spinal dan 18 (54,5%) neonatus kelompok umum. Terdapat perbedaan nilai APGAR yang bermakna dengan nilai p<0,01 pada menit pertama dan p=0,02 pada menit kelima (p<0,05). Simpulan: Penggunaan anestesia spinal untuk sectio caesarea pada ibu eklampsia memberikan luaran nilai APGAR yang lebih baik dibandingkan dengan penggunaan anestesia umum
Hubungan Riwayat Pemberian ASI dengan Kecenderungan Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) pada Siswa SD di Kota Padang
ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) merupakan masalah perilaku di masa kecil yang dapat berlanjut hingga dewasa. Pemberian ASI dapat menurunkan risiko terjadinya ADHD pada anak. Tujuan: Mengetahui hubungan antara riwayat pemberian ASI dengan kecenderungan attention deficit hyperactivity disorder (ADHD) pada siswa SD di Kota Padang. Metode: Jenis penelitian ini adalah analitik dengan desain cross sectional. Responden penelitian adalah guru dan ibu dari siswa SD di Kelurahan Ulak Karang Selatan yang berumur 7 sampai 12 tahun sebanyak 134 orang. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik consecutive sampling. Instrumen penelitian ini menggunakan kuesioner riwayat pemberian ASI dan Conner’s Abbreviated Parent–Teacher Rating Scale. Data dianalisis menggunakan Chi- square test. Hasil: Terdapat 25 orang (18,7%) yang cenderung ADHD dengan 18 orang (72,0%) laki – laki dan usia terbanyak adalah 7 tahun (32,0). Cakupan ASI eksklusif didapatkan sebesar 71 orang (53,0%). Terdapat 11 anak (15,5%) dengan kecenderungan ADHD pada riwayat pemberian ASI eksklusif dan 14 anak (22,2%) ASI tidak eksklusif. Tidak terdapat hubungan secara signifikan antara riwayat pemberian ASI dengan kecenderungan ADHD pada siswa SD di Kota Padang (p=0,318). Simpulan: Tidak ada hubungan antara riwayat pemberian ASI dengan kecenderungan ADHD
Pengembangan dan Validasi Skor Luaran Disabilitas Pasien Perdarahan Intraserebral di RS Bethesda Yogyakarta
Perdarahan Intraserebral (PIS) adalah tipe stroke penyumbang morbiditas tertinggi. Pertanyaan tentang prognosis sering muncul dari keluarga maupun tim perawat untuk menetapkan intervensi yang tepat dan memastikan tujuan perawatan. Berdasarkan hal tersebut, perlu dikembangkan model skala yang dapat secara akurat memprediksi PIS sesuai dengan demografik dan keparahan pasien. Tujuan: Mengukur faktor-faktor determinan yang dapat mempengaruhi disabilitas pasien PIS sehingga dapat menentukan luaran disabilitas pasien PIS menggunakan pengembangan skor prediktor. Metode: Penelitian ini menggunakan metode kohort retrospektif dari stroke registry dan rekam medis pasien perdarahan intraserebral di Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta. Analisis data terdiri dari analisis deskriptif meliputi karakteristik sampel penelitian dan analisis statistik meliputi analisis bivariat dengan menggunakan uji Chi-square, multivariat dengan menggunakan uji regresi logistik dan uji validitas menggunakan kurva ROC serta untuk cut-off point menggunakan AUC. Hasil: Terdapat variabel yang berhubungan dengan morbiditas pada pasien perdarahan intraserebral yaitu usia (OR:3.590, 95%CI:1.285-10.028, p:0.015) dan onset (OR:2.253, 95%CI:1.049-4.836, p:0.037). Setiap variabel memiliki skor masing-masing untuk menentukan luaran disabilitas pasien perdarahan intraserebral (AUC:0.655, 95%CI:0.557-0.754, p:0.004). Simpulan: Skor prediktor (usia dan onset) dapat digunakan secara valid untuk meramalkan disabilitas pasien perdarahan intraserebral.Kata kunci: perdarahan intraserebral, skor luaran disabilitas, usia dan onse
Krim Ekstrak Etanol Bawang Putih Tunggal (Allium sativum) Menghambat Penebalan Epidermis Tikus Wistar Jantan (Rattus norvegicus) yang Dipapar Sinar Ultraviolet-B
Paparan sinar ultra violet (UV) yang membentuk suatu radikal bebas pada kulit merupakan salah satu faktor terjadinya photoaging. Bawang putih tunggal (Allium sativum) mengandung senyawa antioksidan yang mampu menetralisir radikal bebas. Tujuan: Menentukan pengaruh krim ekstrak bawang putih tunggal terhadap ketebalan epidermis tikus wistar yang dipapar sinar UV-B. Metode: Penelitian ini menggunakan sampel 30 ekor tikus wistar jantan, 150-200 gram, usia 3-4 bulan. Pengelompokkan sampel dilakukan secara acak menjadi 6 kelompok, yaitu K1 sebagai kontrol (hanya dipapar sinar UV-B), K2 (parasol), K3 (plasebo), K4 (krim ekstrak 5%), K5 (krim ekstrak 10%), K6 (krim ekstrak 20%). Seluruh kelompok diberikan paparan sinar UV-B mulai dari dosis 50 mJ/cm2 pada minggu I dengan durasi paparan 50 detik, 70 mJ/cm2 pada minggu II dengan durasi paparan 70 detik, 80 mJ/cm2 pada minggu III dan IV dengan durasi paparan 80 detik. Ketebalan epidermis diukur menggunakan software image raster. Hasil: Penelitian ini menunjukkan signifikansi perbedaan ketebalan epidermis yang berbeda-beda antara masing-masing kelompok (P < 0.05). Rerata ketebalan epidermis K1 sebesar 32,59 ± 4,21 µm, K2 sebesar 26,87 ± 6,38 µm, K3 sebesar 30,34 ± 4,30 µm, K4 sebesar 25,08 ± 5,77 µm, K5 sebesar 21,25 ± 4,00 µm, dan K6 sebesar 19,90 ± 4,19 µm. Simpulan: Pemberian krim ekstrak bawang putih tunggal (Allium sativum) pada dosis tertentu mampu menghambat penebalan epidermis tikus wistar jantan yang dipapar sinar UV-B.             Kata kunci: Bawang Putih Tunggal, Ketebalan Epidermis, Sinar Ultraviolet-
Tuberculosis Disseminata pada Pasien Imunokompeten
Abstrak Tuberkulosis Disseminata didefinisikan sebagai penyebaran dua atau lebih pada organ tubuh yang disebabkan oleh penyebaran lymphohematogenous Mycobacterium tuberculosis. Dilaporkan pasien wanita usia 24 tahun dengan keluhan utama sesak nafas, serta adanya ulkus pada aksila, leher dan lengan. Ulkus ini diawali dengan munculnya benjolan yang kemudian pecah dan bernanah. Biopsi kulit didapatkan gambaran tuberkulosis kulit. Pemeriksaan pencitraan dikombinasikan dengan gambaran histopatologi, kecurigaan klinis dan perbaikan dengan terapi OAT diperlukan untuk mengkonfirmasi diagnosis, terutama dalam kasus tuberkulosis ekstrapulmoner. Kejadian tuberkulosis diseminata jarang, biasanya menyerang pasien dengan gangguan kekebalan tubuh. Pada pasien ini telah dilakukan berbagai pemeriksaan untuk menelusuri kondisi imunodefisiensi tapi tidak ditemukan. Gambaran lesi paru miliar pada rontgen thorak sering ditemukan pada pasien tuberkulosis diseminata dan gambaran ekstrapulmoner yang bervariasi. Diagnosis pasti tuberkulosis ekstrapulmoner sangat sulit, bergantung pada temuan histologis dan/atau bakteriologis dari hasil biopsi jaringan
Evaluasi Pelaksanaan Program Pencegahan Stunting Ditinjau dari Intervensi Gizi Spesifik Gerakan 1000 HPK Di Puskesmas Pegang Baru Kabupaten Pasaman
AbstrakPeriode kritis bagi pertumbuhan dan perkembangan anak yang disebut dengan 1000 Hari Pertama Kehidupan dipengaruhi oleh status gizi ibu pada saat pra-hamil, kehamilan dan saat menyusui. Masalah gizi yang dapat terjadi pada masa ini adalah stunting (pendek). Salah satu program yang terdapat dalam Gerakan 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) dalam upaya mencegah stunting adalah intervensi gizi spesifik. Tujuan: Menganalisis evaluasi pelaksanaan program pencegahan stunting ditinjau dari intervensi gizi spesifik Gerakan 1000 HPK. Metode: Penelitian ini dilaksanakan di Puskesmas Pegang Baru menggunakan rancangan kualitatif dengan melakukan wawancara mendalam (Indepth Interview), observasi dan Focus Group Discussion (FGD). Komponen yang diteliti adalah input (pembiayaan, SDM, obat-obatan, pedoman dan SPO), process (perencanaan, pengorganisasian, penggerakkan, pengawasan, pencatatan dan pelaporan) dan output (pencapaian indikator gizi spesifik). Hasil: Komponen input; tidak ada dana khusus untuk intervensi gizi spesifik, masih kurangnya tenaga gizi dan belum ada pedoman dan SPO tentang penanganan growth faltering. Komponen proses; perencanaan belum dilakukan secara buttom up dan belum semua intervensi gizi spesifik mempunyai pencatatan pelaporan. Komponen output; balita yang mendapat kapsul vitamin A dan bumil Kurang Energi Kronis (KEK) yang mendapat PMT sudah memenuhi target capaian dan masih ada program intervensi gizi spesifik yang dillaksanakan tidak bisa dievaluasi. Simpulan: Pencegahan stunting melalui program intervensi gizi spesifik belum menurunkan stunting dibawah 20%.Â