Jurnal Kesehatan Andalas
Not a member yet
1143 research outputs found
Sort by
Gambaran Missing Cases Tuberkulosis pada Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) di Kota Padang Panjang
AbstrakVisi end Tuberculosis 2035 sulit dicapai jika masih banyak kasus TB yang tidak ternotifikasi (missing cases). Missing cases TB merupakan istilah penderita TB yang tidak terdiagnosis (underdiagnosis) atau terdiagnosis namun tidak tercatat (underreporting). Missing cases TB di kota Padang Panjang 3 (tiga) tahun terakhir mencapai 69,35% dibandingkan dengan Sumatera Barat (64,12%), Indonesia (60,78%) dan global (40%). Dampaknya sangat besar, karena keberadaan dan kondisi kasus indeks tidak diketahui. Alur penemuan kasus, jumlah missing cases dan lokasi missing cases belum diketahui dengan jelas. Tujuan: Memperoleh gambaran mengenai alur proses penemuan kasus, mengidentifikasi jumlah missing cases dan lokasi missing cases TB. Metode: Penelitian ini merupakan studi kasus yang telah dilakukan dari Januari sampai Juli 2019 di Puskesmas, Klinik Pratama dan Dokter Praktek Mandiri Kota Padang Panjang. Missing cases TB ditelusuri dengan pendekatan Patient Care Cascade. Lokasi missing cases TB diidentifikasi menggunakan Patient Pathway Analysis. Hasil: Alur penemuan kasus TB paru di FKTP pemerintah sudah sesuai pedoman, namun penemuan kasus TB paru di FKTP non-pemerintah ada perbedaan. Simpulan: Teridentifikasi underdiagnosis sebanyak 71 kasus. Underreporting sebanyak 25 kasus TB. Lokasi terjadinya missing cases TB yaitu di klinik swasta sebanyak 19 kasus dan Dokter Praktek Mandiri sebanyak 6 kasus..Â
Faktor yang Berpengaruh Terhadap Disease Free Survival dan Overall Survival pada Pasien Kanker Payudara Usia Muda di Kota Padang Tahun 2008 - 2018
Kanker Payudara (KPD) pada usia muda memiliki keistimewaan karakteristik. Rekurensi KPD dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain faktor klinis, regimen terapi dan biomolekuler dari tumor itu sendiri. Berbagai macam modalitas terapi KPD, namun masih terdapat risiko terjadinya rekurensi terutama pada pasien dewasa muda. Tujuan: Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi Disease Free Survival (DFS) dan Overall Survival (OS) pada pasien KPD usia muda di Kota Padang. Metode: Penelitian ini menggunakan desain cohort study retrospectif pada pasien KPD usia muda yang telah mendapatkan pengobatan KPD yang memenuhi kriteria inklusi sebanyak 103 sample yang terdapat pada data register KPD PERABOI Padang. Analisis survival menggunakan Kaplan Meier dengan Log Rank Test. Apabila diperoleh nilai p < 0,05, maka terdapat hubungan bermakna. Hasil: Terdapat perbedaan antara setiap faktor klinis, faktor biomolekuler dan faktor terapi dalam hal rata-rata DFS maupun rata-rata OS, namun tidak terdapat pengaruh yang bermakna secara analisis statistik antara faktor terapi (terapi hormon, radioterapi dan terapi target) terhadap DFS dan OS pada pasien kanker payudara usia muda di Kota Padang (p>0,05). Terdapat pengaruh dari pemberian kemoterapi terhadap DFS pada pasien kanker payudara usia muda di Kota Padang (p<0,05). Simpulan: Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara faktor klinis dan faktor biomolekuler dengan DFS dan OS, namun terdapat hubungan bermakna antara pemberian kemoterapi dengan DFS dan OS pada penderita KPD usia muda di kota Padang tahun 2008 – 2018
Hubungan Depresi, Ansietas, dan Stres dengan Kejadian Sindrom Dispepsia pada Mahasiswa Tahun Pertama di Fakultas Kedokteran Universitas Andalas Sebelum dan Sesudah Ujian Blok
Sindrom dispepsia merupakan keluhan gastrointestinal yang sangat umum di semua kalangan termasuk mahasiswa. Banyak penyebab yang memicu sindrom dispepsia, salah satunya adalah pengaruh psikologis khususnya depresi, ansietas, dan stres. Banyaknya ujian kompetensi yang dilalui mahasiswa kedokteran, sering menimbulkan masalah psikologis. Tujuan: Mengetahui hubungan depresi, ansietas, dan stres dengan kejadian sindrom dispepsia pada mahasiswa tahun pertama di Fakultas Kedokteran Universitas Andalas sebelum dan sesudah ujian blok. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan one group pre dan post design. Subjek penelitian diperoleh dengan menggunakan metode simple random sampling dari populasi lima puluh mahasiswa tahun pertama. Penelitian menggunakan Kuesioner DASS 21 dan Kriteria Roma IV. Hasil: Insidensi yang paling tinggi adalah depresi ringan (12,0%), ansietas sedang (34,0%), dan stres ringan (28,0%), serta sindrom dispepsia pada dua puluh tiga mahasiswa (46,0%). Depresi dan ansietas mengalami peningkatan secara signifikan setelah ujian blok. Nilai signifikansi depresi 0,183, ansietas 0,046 dan stres 0,021. Simpulan: Ansietas dan stres berhubungan secara signifikan dengan kejadian sindrom dispepsia karena p<0,05. Diharapkan adanya perhatian khusus oleh Bagian Pendidikan Kedokteran untuk kondisi biologis dan psikologis mahasiswa yang lebih baik
Hubungan Lama Paparan Sinar Matahari dengan Kadar 8-Hydroxy-2’-Deoxyguanosine Urin pada Remaja Perempuan
Salah satu bentuk predominan dari lesi oksidatif yang diinduksi oleh radikal bebas adalah 8-hidroksi-deoksiguanosin (8-OHdG). Paparan sinar matahari pada sel, terutama sel kulit dapat menyebabkan reaksi fotooksidasi yang terjadi akibat pelepasan reactive oxygen species (ROS). Lama paparan sinar matahari merupakan salah satu faktor penentu berapa banyak sel kulit yang mengalami stres oksidatif. Tujuan: Menganalisis hubungan lama paparan sinar matahari dengan kadar 8-OHdG urin pada remaja perempuan. Metode: Ini merupakan penelitian observasional analitik dengan desain cross-sectional dilakukan pada populasi mahasiswi Pendidikan Dokter Universitas Andalas dengan teknik systematic random sampling (n = 110). Lama paparan sinar matahari diperoleh melalui kuesioner dan kadar 8-OHdG diukur dengan metode ELISA. Analisis data dilakukan dengan uji Kruskal-Wallis. Hasil: Rerata usia subjek pada penelitian ini adalah 20,6 ± 1,23 tahun, rerata lama paparan sinar matahari didapatkan sebesar 49,01 ± 36,96 menit. Rerata kadar 8-OHdG pada subjek adalah 40,75 ± 39,62 ng/ml. Analisis bivariat menunjukkan bahwa lama paparan sinar matahari tidak berhubungan dengan kadar 8-OHdG urin (p = 0,396). Simpulan: Tidak terdapat hubungan antara lama paparan sinar matahari dengan kadar 8-OHdG urin pada remaja perempuan
Mixed Connective Tissue Disease
AbstrakMixed Connective Tissue Disease (MCTD) adalah penyakit yang gejala klinisnya tumpang tindih antara Lupus Eritematosus Sistemik (LES), Skleroderma, dan Polimiositis. Tidak ada obat khusus untuk MCTD. Rekomendasi untuk pengelolaan didasarkan pada perawatan konvensional untuk LES, polimyositis, RA dan skleroderma. Dilaporkan pasien wanita berusia 33 tahun, dirawat di Penyakit Dalam RSUP Dr M Djamil Padang dengan keluhan utama tangan dan kaki semakin kaku sejak 1 bulan yang lalu. Rambut rontok dan pada kulit terdapat Indurasi, skuama coklat kehitaman, hiperpigmentasi kedua tungkai dan wajah serta teleangiektasis. Laboratorium didapatkan albumin 1,8 mg/dl, ureum 60 mg/dl, kreatinin 1,3 mg/dl. Urinalisis: protein +++. Analisis cairan asites kesan transudat, rontgen thoraks dengan kesan fibrosis paru dan rontgen manus tampak kontraktur dari phalang media dan proximal. USG Ginjal kesan sesuai dengan gambaran akut di kedua ginjal. Pemeriksaan ANA Profil (RNP/Sm +, Sm +, Ro-52 Recombinant ++, Scl-70 +++, dsDNA +, Nucleosomes +, Ribosomal-P-Protein +++ ), ANA IF Positif Titer 1>1000. Biopsi kulit kesan skleroderma. Pasien didiagnosis dengan MCTD & Nefritis Lupus. Pasien diterapi methotrexate (MTX), kortikosteroid, dihydropyridine-type calcium antagonist dan dorner, teknik rehabilitasi seperti stretching dan peningkatan gerak yang berpengaruh terhadap kesembuhan dari sklerosis sistemik.Â
Pengaruh Ekstrak Daun Sirsak (Annona muricata lin) Terhadap Viabilitas Cell Line Kanker Payudara T47D Secara In Vitro
Kanker payudara merupakan kanker terbanyak di Indonesia dengan angka mortalitas yang tinggi. Kandungan acetogenin, alkaloid, tannin, dan flavonoid pada daun sirsak dipercaya dapat menghambat pertumbuhan sel kanker. Tujuan: Mengetahui pengaruh ekstrak daun sirsak terhadap viabilitas cell line kanker payudara T47D secara in vitro. Metode: Ini merupakan penelitian eksperimental dengan metode MTT menggunakan cell line T47D yang dibagi menjadi 8 kelompok perlakuan konsentrasi ekstrak daun sirsak dan tiga variasi masa inkubasi serta pengulangan sebanyak empat kali. Pemeriksaan dibaca menggunakan xMark microplate reader dan selanjutnya ditentukan konsentrasi ekstrak yang dapat menghambat 50% viabilitas sel. Hasil: Ada penurunan viabilitas sel seiring dengan peningkatan konsentrasi yang diberikan pada ketiga masa inkubasi. Konsentrasi ekstrak yang dapat menghambat 50% viabilitas sel pada masa inkubasi 24 jam 569,8μg/ml, 48 jam 431,6 μg/ml, dan 72 jam 94,26 μg/ml. Simpulan: Ekstrak daun sirsak berpengaruh terhadap viabilitas cell line kanker payudara T47D dan dapat menghambat 50% viabilitas sel pada konsentrasi 94,26 μg/ml pada masa inkubasi 72 jam yang berpotensi sebagai antikanker
Respon Imun Terhadap Infeksi Toxoplasma Gondii
Toxoplasma gondii merupakan parasit golongan protozoa intraseluler yang menyebabkan penyakit zoonosis yaitu toksoplasmosis. Gejala toksoplasmosis dapat berlangsung tanpa gejala hingga menimbulkan gangguan neurologis berat bahkan kematian pada individu immunocompromised. Infeksi Toxoplasma gondii  (T.gondii) dapat terjadi secara kongenital maupun didapat. Respon imun host terhadap infeksi T. gondii dimulai saat parasit masuk ke dalam tubuh dan melakukan invasi intraseluler. Respon imun alamiah ini akan menghasilkan IFN-γ dan menginduksi mediator inflamasi yang dapat menghambat multiplikasi T.gondii serta menstimulus terbentuknya respon imun adaptif.Kata kunci: infeksi, respon imun,Toxoplasma gondi
Orbital Cellulitis
Selulitis orbital merupakan penyakit serius yang mengancam jiwa, ditandai dengan infeksi jaringan lunak di bagian posterior septum orbital. melibatkan jaringan lunak orbita. Trombosis sinus kavernosa merupakan tahapan akhir infeksi orbita yang meluas ke intra cranium, ditandai dengan penurunan kesadaran dan gejala rangsangan meningeal. Dipresentasikan tiga kasus selulitis orbital dengan klinis khas yang sangat berbeda. Pilihan terapi diberikan diberikan berdasarkan gejala klinis. Tidak ada kesepakatan tentang antibiotik terbaik untuk digunakan, golongan antibiotik β-laktam selama 4-6 minggu masih direkomendasikan sebagai agen lini pertama, dan untuk kasus thrombosis sinus kavernosus, antibiotik meropenem dan vankomisin selama 6-8 minggu merupakan terapi utama. Observasi lanjutan dan pemeriksaan radiografi dapat dilakukan sesuai indikasi. Manajemen yang tepat dari pasien selulitis orbita memerlukan multidisiplin tim. Diagnosis cepat dan terapi yang tepat diharapkan bermanfaat untuk perbaikan visual dan klinis yang baik, meskipun kadang masih terdapat gejala residual seperti sikatrik kornea dan trichiasis. Selulitis orbital merupakan kasus yang mengancam jiwa, karena penyebaran infeksi yang dapat mencapai intrakranial. Diharapkan dengan diagnosis cepat dan pemberian antibiotik agresif berdasarkan gejala klinis dapat menyelamatkan nyawa pasien
Analisis Faktor yang Berhubungan dengan Status Gizi Balita di Kelurahan Limau Manis Selatan Wilayah Kerja Puskesmas Pauh Kota Padang
AbstrakStatus gizi anak balita dapat digunakan sebagai indikator keadaan gizi masyarakat. Status gizi dapat diketahui melalui prevalensi gizi anak umur 1-5 tahun karena golongan umur tersebut paling rentan terhadap gangguan gizi. Pada tahun 2013 Kecamatan Pauh menempati urutan ke-2 dari 20 Puskesmas dengan angka kejadian gizi buruk dan gizi kurang tertinggi di Kota Padang. Tujuan: Menganalisis faktor yang berhubungan dengan status gizi balita di wilayah kerja Puskesmas Pauh. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan mix method, pendekatan kuantitatif dengan desain studi cross sectional dengan sampel 95 balita di wilayah kerja Puskesmas Pauh, analisis data menggunakan univariat dalam bentuk distribusi frekuensi dan bivariat menggunakan uji Chi-square. Pendekatan kualitatif dengan indepth interview kepada enam informan yang terdiri dari Lurah, Pimpinan Puskesmas, Petugas KIA, Petugas Gizi, Bidan Desa dan Kader di wilayah kerja Puskesmas Pauh. Hasil: Penelitian ini menunjukkan 23,2% balita mengalami kurang gizi. Faktor yang memiliki hubungan bermakna dengan status gizi balita adalah pola asuh (p=0,021), asupan makanan (p=0,014) dan tingkat pendapatan (p=0,043). Simpulan: Informasi kepada ibu terkait pola asuh yang efektif dan asupan makanan bergizi dan berimbang untuk balita guna meningkatkan status gizi balita yang baik melalui kegitan rutin Posyandu.Â
Hubungan Aktivitas Fisik Terhadap Konstipasi pada Pasien Stroke di RS Islam Siti Rahmah Padang
AbstrakKonstipasi merupakan keluhan yang sangat sering pada pasien stroke, jika tidak diatasi akan menyebabkan komplikasi penyakit lainnya. Konstipasi pada pasien stroke bisa disebabkan oleh berbagai faktor, salah satunya diperberat oleh aktivitas fisik yang kurang. Tujuan: Menentukan korelasi aktifitas fisik terhadap konstipasi pada pasien stroke di RS Islam Siti Rahmah Padang. Metode: Subjek penelitian adalah pasien stroke sebanyak 54 orang. Desain penelitian ini adalah cross sectional dengan teknik pengambilan sampel secara simple random sampling. Pengukuran konstipasi menggunakan Constipation Scoring System (CSS) dan untuk menilai aktifitas fisik digunakan International Physical Activity Quosioner (IPAQ). Analisa statisitik dilakukan dengan uji korelasi Spearmen. Hasil: Responden dengan aktifitas rendah dan mengalami konstipasi berjumlah 34 orang (87,18%). Hal ini menunjukan terdapat hubungan yang kuat dan bersifat positif antara aktivitas fisik dan konstipasi pada pasien stroke (p = 0,000, r = 0,608). Simpulan: Terdapat hubungan aktifitas fisik terhadap konstipasi pada pasien stroke di RS Islam Siti Rahmah padangÂ