Jurnal Kesehatan Andalas
Not a member yet
    1143 research outputs found

    Gambaran Tekanan Darah Tikus Wistar Jantan dan Betina Setelah Pemberian Diet Tinggi Garam

    Get PDF
    AbstrakHipertensi masih menjadi masalah kesehatan di dunia. Penyebabnya diduga berkaitan dengan diet tinggi garam. Tujuan Penelitian ini ialah untuk mengetahui gambaran tekanan darah tikus Wistar setelah pemberian diet tinggigaram. Penelitian ini adalah eksperimental dengan post-test only control group design. Subjek penelitian terdiri dari 10 ekor tikus Wistar jantan dan 10 ekor betina yang dibagi menjadi kelompok kontrol (K) dan kelompok perlakuan (P). Diet tinggi garam (NaCl8%, 3ml/hari) diberikan pada kelompok P selama empat minggu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi peningkatan tekanan darah yang bermakna pada kelompok P bila dibandingkan dengan kelompok K, yaitu tekanan darah sistolik (TDS) 191±17mmHg (P) dan 168±16mmHg (K) (p<0,05), tekanan darah diastolik (TDD) 162±17mmHg (P) dan 139±13mmHg (K) (p<0,05), tekanan arteri rata-rata (TAR) 176±17mmHg (P) dan 156±15mmHg (K) (p<0,05). Peningkatan TDS dan TDD hanya terjadi pada tikus jantan, tidak pada tikus betina. Pada tikus jantan TDS 185±13mmHg (P) dan 159±9mmHg (K) (p<0,05), TDD 159±18mmHg (P) dan 131±10mmHg (K) (p<0,05), TAR 172±16mmHg (P) dan 150±15mmHg (K) (p>0,05). Pada tikus betina TDS 197±19mmHg (P) dan 178±16mmHg (K) (p>0,05), TDD 165±18mmHg (P) dan 148±11mmHg (K) (p>0,05), TAR 181±18mmHg (P) dan 162±14mmHg (K) (p>0,05). Kesimpulan studi ini adalah peningkatan tekanan darah setelah pemberian diet tinggi garam hanya terjadi pada tikus jantan.Kata kunci: diet tinggi garam, tekanan darah, hipertensiAbstractHypertension remains a health problem in the world. The cause is believed to be related to the high-salt diet. The purpose of this studi was to describe the blood pressure of Wistar rats after administration of high-salt diet. This research was experimental with post-test only control group design. Ten male and ten female Wistar rats were divided into two groups: control group(K) and treated group(P). High-salt diet (8%NaCl, 3ml/day) was given to the P group for four weeks. Blood pressure increased significantly in group P compared to group K, systolic blood pressure (SBP) 191±17mmHg (P) and 168±16mmHg (K) in (p<0.05), diastolic blood pressure (DBP) 162±17mmHg (P) and 139±13mmHg (K) in (p<0.05), mean arterial pressure (MAP) 176±17mmHg (P) and 156±15mmHg (K) in (p<0.05). The increase in SBP and DBP only occurred in male rats, not in female rats. In male rats, SBP were 185±13mmHg (P) and 159±9mmHg (K) in (p<0.05), DBP were 159±18mmHg (P) and 131±10mmHg (K) in (p<0.05), MAP were 172±16mmHg (P) and 150±15mmHg (K) in (p>0.05). In female rats, SBP were197±19mmHg (P) and 178±16mmHg (K) in (p>0.05), DBP were 165±18mmHg (P) and 148±11mmHg (K) in (p>0.05), MAP were 181±18mmHg (P) and 162±14mmHg (K) in (p>0.05). The conclusion of this study is an increase of blood pressure after the administration of high-salt diet only occured in male rats.Keywords: high-salt diet, blood pressure, hypertensio

    Faktor Yang Mempengaruhi Kepatuhan Berobat Pasien Yang Diterapi Dengan Tamoxifen Setelah Operasi Kanker Payudara

    Get PDF
    Abstrak Banyak faktor yang mempengaruhi kepatuhan berobat pasien yang diterapi dengan tamoxifen setelah operasi kanker payudara. Pada penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor apa saja yang dapat mempengaruhi kepatuhan berobat pasien di RS. Dr. M Djamil, Padang. Sehingga dapat menjadi masukan dan perbaikan untuk meningkatkan kepatuhan berobat pasien. Metode yang digunakan adalah wawancara langsung, penderita mengisi daftar pertanyaan (kuesioner) dan skala likert pelayanan tenaga medis. Periode penelitian dilakukan selama 3 bulan. Analisis univariat, bivariat dan multivariat dilakukan dengan memakai SPSS versi 18.00. Dari 61 pasien didapatkan 9 pasien tidak patuh terapi tamoxifen, hasil penelitian bivariat didapatkan hubungan yang bermakna antara kepatuhan dengan umur, tingkat pendidikan, pendapatan keluarga, ketersediaan asuransi kesehatan dan pelayanan tenaga medis (p<0,05) sedangkan efek samping tidak berhubungan dengan kepatuhan (p>0,05). Analisis multivariat didapatkan faktor yang paling berpengaruh adalah pelayanan tenaga medis dengan p= 0,06. Dapat disimpulkan bahwa pelayanan medis merupakan faktor yang paling berpengaruh terhadap kepatuhan berobat pasien yang diterapi tamoxifen setelah operasi kanker payudara, faktor lain yang berpengaruh adalah umur, tingkat pendidikan, pendapatan keluarga dan ketersediaan asuransi kesehatan. Hasil penelitian ini dapat menjadi masukan pada tenaga medis sehingga dapat meningkatkan kepatuhan berobat pasien. Kata kunci: Kepatuhan, tamoxifen, kanker payudara.AbstractMany factors affect compliance of treatment in patients treated with tamoxifenAfter breast cancer surgery. This study aims to determine the factors that may affect treatment compliance of patients in the hospital. Dr.M.Djamil, Padang. So it can be sugestion and improvement to enhance patients treatment compliance.Methods. The method is a direct interview, patients filled out a questionnaire (questionnaire) and Likert scale medical services. Period of research carried out for 3 months. Analysis univariat, bivariat and multivariat performed by using SPSS version 18.00.Results. Of the 61 patients we found 9 patients not adherent tamoxifen therapy, the results bivariant a significant association between adherence to the age, level of education, familyIncome, availability of health insurance and medical care (p<0.05). Multivariate analysis found that the most influential factor is the care of medical personnel with p=0.06. Discussion. It can be concluded that the medical services are the most influential factor on treatment compliance of patients receiving tamoxifen after breast cancer surgery, other factors are age, education level, family income and the availability of health insurance. The results of this study can be suggestion on the medical staff so as to improve treatment compliance of patients.Keywords:Compliance, tamoxifen, breast cancer

    Hubungan Pemberian ASI Eksklusif dengan Angka Kejadian Diare Akut pada Bayi Usia 0-1 Tahun di Puskesmas Kuranji Kota Padang

    Get PDF
    AbstrakPemberian ASI eksklusif merupakan salah satu upaya untuk mencapai tumbuh kembang optimal dan terlindungi dari penyakit seperti diare. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan pemberian ASI eksklusif dengan angka kejadian diare akut pada bayi usia 0-1 tahun di Puskesmas Kuranji Kota Padang. Penelitian ini dilaksanakan secara observasional dengan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian ini adalah bayi usia 0-1 tahun yang berkunjung ke posyandu di wilayah kerja Puskesmas Kuranji Kota Padang dengan menggunakan simple random sampling. Jumlah bayi dengan kelompok usia 0-5 bulan 29 hari sebanyak 69 orang (51,1%) dan usia 6-12 bulan sebanyak 66 orang (48,9%). Dari hasil penelitian didapatkan bayi usia 0-5 bulan 29 hari yang masih mendapat ASI saja sebanyak 41 bayi (30,4%) dan yang sudah mendapat campuran lain selain ASI sebanyak 28 bayi (20,7%). Jumlah bayi usia 6-12 bulan dengan ASI eksklusif sebanyak 34 bayi (25,2%) dan 32 bayi lainnya (23,7%) non ASI eksklusif. Sebanyak 57 bayi (42,2%) pernah diare dan 78 bayi lainnya (57,8%) tidak pernah. Analisis chi square mendapatkan p=0,001 dan hasil ini signifikan (p<0,5). Pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan harus ditingkatkan karena mempunyai hubungan dengan angka kejadian diare akut.Kata kunci: Bayi, ASI Exclusif, diareAbstractExclusive breastfeeding is an effort to achieve optimal growth and development and can be protected from diarrhea. The purpose of this study was to determine the relationship of exclusive breastfeeding with the incidence of acute diarrhea in infants aged 0-1 years in the Kuranji Public Health Center Padang. This study conducted a cross sectional observational study. The sample was a baby aged 0-1 years who visited posyandu in the Kuranji Public Health Center working area using simple random sampling. The result showed 41 infants (30.4%) aged 0-5 months 29 days which is still breastfed only and other than breast milk were 28 infants (20.7%). Number of 6-12 months infants are exclusively breastfed as many as 34 babies (25.2%) while the other 32 babies (23.7%) were not exclusively breastfed. A total of 57 infants (42.2%) had suffered from diarrhea and the other 78 infants (57.8%) had never. Chi square analysis got p = 0.001 and the results are significant (p <0.5). Exclusive breastfeeding for 6 months should be improved because it has relation with diarrhea.Keywords:Baby, Exclusive breastfeeding, diarrhe

    Hubungan Pola Makan dengan Kejadian Depresi pada Penderita Dispepsia Fungsional

    Get PDF
    AbstrakKetidakteraturan makan seperti kebiasaan makan yang buruk, tergesa-gesa, dan jadwal yang tidak teratur dapat menyebabkan dispepsia. Penderita depresi harus ditangani dengan sungguh-sungguh karena dikhawatirkan penderita depresi sangat tidak memperhatikan kesehatan dirinya seperti tidak mematuhi pola makan atau pola makannya menjadi tidak teratur. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pola makan dengan kejadian depresi pada penderita dispepsia fungsional. Penelitian bersifat analitik dengan desain cross sectional. Subjek penelitian adalah 40 orang penderita dispepsia fungsional. Penelitian dilakukan di kota Padang dengan menggunakan data pasien dispepsia fungsional bulan Januari-Desember 2011. Pengumpulan data dilakukan pada periode Juni-November 2012 dan pengolahan data dilakukan dengan uji korelasi menggunakan sistem komputerisasi. Hasil penelitian didapatkan nilai peluang Odd Ratio (OR) dengan Confidence Interval (CI) 95% pada penderita depresi berpeluang sebesar 4.500 kali lebih besar memiliki pola makan tidak teratur dibandingkan dengan tidak depresi serta menunjukkan derajat hubungan yang cukup kuat dengan tarif signifikansi (p) 0.025 (p < 0.05). Terdapat hubungan yang bermakna antara pola makan dengan kejadian depresi pada penderita dispepsia fungsional.Kata kunci: pola makan, depresi, dispepsia fungsionalAbstractIrregularity of meals as poor eating habits, unhurried, and irregular schedules may cause dyspepsia. Patients with depression should be treated seriously because it was feared people with depression do not pay attention to their own health so as not to comply with the diet or eating patterns become irregular. The aim of this study is to determine the relationship of diet to the incidence of depression in patients with functional dyspepsia. The research is analytic cross sectional design. The subjects were 40 people of functional dyspepsia patients. The study was conducted in the Padang City with functional dyspepsia patients using data from January to December 2011. Data collection was conducted during the period of June to November 2012 and the data processing used correlation test by computerized system. The result was the probability odds ratios (OR) with 95% Confidence Interval (CI) in patients with depression were 4,500 times more likely to have irregular diet compared with non-depressed ones and showed a strong degree of correlation with the significance of correlation (p) 0.025 (p <0.05). There is a significant relationship between the diet and the incidence of depression in patients with functional dyspepsia.Keywords:diet, depression, functional dyspepsi

    Hubungan Kadar Glukosa Darah Saat Masuk Rumah Sakit Dengan Lama Hari Rawat Pasien Sindrom Koroner Akut (SKA) Di RSUP Dr. M. Djamil Padang

    Get PDF
    AbstrakHiperglikemia masih menjadi topik penelitian yang sering dihubungkan dengan kejadian sindrom koroner akut (SKA) di dunia, terutama hiperglikemia saat masuk rumah sakit. Hal ini didasari oleh beberapa pengaruh kadar glukosa darah yang tinggi terhadap sistem kardiovaskuler seperti gangguan fungsi ventrikel kiri, stroke volume yang menurun, regurgitasi katup mitral berulang, gangguan pada waktu pengisian diastolik hingga risiko tinggi untuk arritmia, serta hubungannya dengan peningkatan risiko trombosis. Sehingga semakin memperjelas pengaruh hiperglikemia yang tidak hanya dapat meningkatkan risiko terjadinya SKA, melainkan juga dapat memperburuk kondisi pasien SKA sendiri. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi hubungan kadar glukosa darah sewaktu dengan lama hari rawat pasien Sindrom Koroner Akut (SKA). Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian analitik dengan menggunakan desain penelitian Cross Sectional Study. Penelitian ini menggunakan data sekunder yang diambil di Instalasi Rekam Medik (Medical Record), yakni data rekam medik pasien yang didiagnosis sebagai Sindrom Koroner Akut (SKA) yang dirawat inap di Rumah Sakit Umum Pusat DR. M. Djamil Padang Periode Januari–Desember 2011. Ditemukan sebagian besar pasien SKA masuk rumah sakit dengan kadar Glukosa Darah Sewaktu (GDS) sebesar ≥ 200 mg/dl (40%) dan lama hari rawat sebesar ≥ 7 hari (52%). Dari hasil analisa bivariat dengan menggunakan uji korelasi Spearman ditemukan adanya hubungan searah antara kadar glukosa darah saat masuk rumah sakit dengan lama hari rawat pasien SKA dengan kekuatan hubungan yang sedang, r = +0,492, p = 0, 000 (p<0,05). Pemantauan terhadap kadar GDS yang diperiksa saat pasien masuk rumah sakit perlu dilakukan dan untuk penelitian yang akan datang diharapkan dapat diteliti lebih lanjut faktor-faktor lain yang mempengaruhi lama hari rawat pasien SKA.Kata kunci: Kadar glukosa darah saat masuk RS, lama hari rawatAbstractHyperglicemia is still become a research topic which is often associated with the incidence of Acute Coronary Syndrome (ACS) in the world, especially hyperglicemia on hospital admission. This is due to several effects of high random blood glucose to the cardiocasculer system for instance impaired left ventricular function, decreased stroke volume, reccurrent mitral valve regurgitation, impaired diastolic filling, high risk arrhytmias and its corelation with the increase thrombosis risk. This circumstance explains more about the effects of hyperglicemia that not only increase the risk of Acute Coronary Syndrome (ACS), but can also worsen the Acute Coronary Syndrome (ACS) patients condition through a various of mechanisms. This research is purposed to identify the relation between hospital admission blood glucose level with length of stay of Acute Coronary Syndrome (ACS). This research uses analytic research which is using cross sectional design. This research uses secondary data that is taken from the medical records of patients diagnosed as Acute Coronary Syndrome (ACS) admitted to RSUP DR. M. Djamil Padang from January until December 2011. Research found that the most of ACS patients admitted to the hospital with as random blood glucose of ≥200 mg/dl (40%) and length of stay for ≥7 days (52%). The results of bivariate analysis by using Spearman correlation test is obtained the correlation between hospital admission blood glucose level to length of stay ACS patients and the strength of correlation is moderate, r = +0,492 , p = 0, 000 (p<0,05). The monitoring of random glucose level of ACS patients upon hospitalization is necessary and for future studies the other factors that affect the length of stay of ACS patients should be considered.Keywords:Hospital admission blood glucose, length of sta

    Hubungan Kadar Limfosit Total dengan Prognosis Penyakit pada Penderita Sirosis Hati di Bagian Penyakit Dalam RSUP Dr. M. Djamil Padang Tahun 2011

    Get PDF
    AbstrakSirosis hati adalah stadium akhir dari penyakit hati kronik berupa proses fibrosis difus yang ditandai dengan perubahan arsitektur normal hati menjadi bentuk nodulus abnormal. Pada penderita sirosis hati ini sering terjadi penyakit infeksi akibat adanya imunosupresi. Hitung kadar limfosit total dapat digunakan untuk menentukan status imunitas penderita sirosis hati. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui kadar limfosit total penderita sirosis hati. Jenis penelitian ini adalah deskriptif analitik. Populasi penelitian adalah penderita sebagai sirosis hati yang dirawat di Bagian Penyakit Dalam RSUP Dr. M. Djamil Padang pada tahun 2011. Sampel diambil dari populasi yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Data diolah menggunakan uji Chi-square. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa sebanyak 83,1% penderita sirosis hati memiliki kadar limfosit total yang rendah. Terdapat hubungan kadar limfosit total dengan berat ringannya penyakit sirosis hati dengan p<0,05. Sebanyak 49,2% infeksi ditemukan pada penderita sirosis hati. Kematian pada penderita sirosis hati akibat penyakit infeksi ditemukan 52,9%.Kata kunci: kadar limfosit total, sirosis hatiAbstractLiver Cirrhosis is the end stage of chronic liver disease in the form of a diffuse fibrotic process characterized by changes in the normal architecture of the liver to abnormal nodules. In patients with liver cirrhosis is common infections due to immunosuppression. The total lymphocyte count can be used to determine the immune status of patients with liver cirrhosis. The purpose of this study was to determine total lymphocyte count of liver cirrhosis patients. This research design is descriptive analytic. The population is the liver cirrhosis patients as treated in the Internal Medicine Dr. M. Djamil Padang in 2011. Samples were taken from the population that meet the inclusion and exclusion criteria. The data processed by Chi-square test.The results of this study indicated that as many as 83,1% of cirrhosis patients have a low total lymphocyte count. There is a relationship of total lymphocyte levels with severity of liver cirrhosis with a value of p<0,05. The infections found 49.2% of cirrhosis patients. Mortality in cirrhosis patients due to infection was found 52,9%Keywords:total lymphocyte count, liver cirrhos

    Peran Dokter sebagai Saksi Ahli Di Persidangan

    Get PDF
    AbstrakPemanfaatan ilmu kedokteran forensik dalam penegakan hukum serta keadilan membutuhkan dokter sebagai saksi ahli medis di persidangan. Saksi ahli pada dasarnya adalah seseorang yang memiliki pengetahuan, pengalaman dan keahlian khusus sebagai dasar dalam memberikan keterangan ahli suatu perkara pidana. Kewajiban dokter untuk membuat keterangan ahli diatur dalam Kitab Undang-undang Acara Pidana dan dalam etika kedokteran. Kehadiran dokter sebagai saksi ahli dapat diminta oleh jaksa penuntut ataupun penasehat hukum tersangka atas persetujuan hakim. Dokter dapat menjadi saksi fakta (dokter yang merawat) atau saksi pendapat (ahli independen) tergantung keterangan yang dibutuhkan pengadilan. Dalam memberikan keterangan ahli, dokter harus mengikuti ketentuan yang berlaku di persidangan Indonesia, sehingga penting bagi dokter untuk mengetahui tata cara dan sikap dokter sebagai saksi ahli dan mengikuti pedoman menjadi saksi ahli kedokteran.Kata kunci: Dokter sebagai aksi ahli, dasar hukum, persidangan, pedoman saksi ahliAbstractThe utilization of forensic medical science in law enforcement and justice requires a medical doctor as an expert medical witness in court. An expert witness is basically a person who has knowledge, experience and special skill as a basis in providing expertise which is caused a criminal. The obligation of the doctor to make expert explanation is arranged in the book of the law in the crime and in medical ethics.The presence of the doctor as an expert witness can be requested by the prosecutor or the lawyer of the suspect upon approval the judge. Doctors can be as a witness of fact (the treating doctor) or as a witness of opinion (the independent expert witness), depending on the information needed at the court. In providing expert information, the doctor should follow the applicable provisions in Council of Indonesia, so it is important for the doctor to know the ordinances and the attitude of doctors acting as medical witnesses.Keywords: Doctors as medical expert witnesses,legal basis, court, guidelines for expert witness

    Hubungan Diare dengan Status Gizi Balita di Kelurahan Lubuk Buaya Kecamatan Koto Tangah Kota Padang

    Get PDF
    AbstrakMalnutrisi pada anak masih menjadi masalah kesehatan utama di dunia. Data dari WHO pada tahun 2010 menunjukkan sebanyak 18% anak usia di bawah lima tahun di negara berkembang mengalami underweight. Keadaan kurang gizi dapat meningkatkan risiko terkena penyakit infeksi karena daya tahan tubuh yang menurun. Sebaliknya, penyakit infeksi juga dapat memengaruhi status gizi karena asupan makanan menurun, malabsorpsi, dan katabolisme tubuh meningkat. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan apakah terdapat hubungan antara diare dengan status gizi balita. Jenis penelitian ini adalah studi observasional dengan desain cross sectional. Populasi penelitian adalah ibu dan balita usia 12-60 bulan yang bertempat tinggal di Kelurahan Lubuk Buaya. Sampel yang diambil sebanyak 145 orang dengan metode proportionate random sampling. Data dikumpulkan dengan kuesioner untuk mengetahui riwayat diare dalam sebulan terakhir dan penimbangan berat badan. Data diolah dengan uji statistik chi square menggunakan program SPSS 17.0. Hasil analisis univariat menunjukkan terdapat balita berstatus gizi baik (84,1%), status gizi kurang (13,8%), dan status gizi buruk (2,1%). Terdapat 25,5% balita yang pernah mengalami diare dengan rerata durasi diare 3,0 hari. Hasil analisis bivariat menunjukkan tidak terdapat hubungan bermakna antara diare dengan status gizi (BB/U) balita di Kelurahan Lubuk Buaya (p=0,742). Penelitian ini memperlihatkan bahwa tidak terdapat hubungan antara diare dengan status gizi balita di Kelurahan Lubuk Buaya Kecamatan Koto Tangah Kota Padang.Kata kunci: status gizi balita, diareAbstractMalnutrition in children is still a major health problem in the world. Data from WHO in 2010 showed 18% of children under five years old in developing countries are underweight. Malnutrition may increase the risk of infectious disease because the immune system is decreased. Otherwise, infectious disease can also affect the nutritional status because of decreased food intake, malabsorption, and increased body catabolism. This study aimed to determine association between diarrhea and nutritional status of children. The study was an observational study with cross sectional design. The population is mother and children aged 12- 60 months residing in Lubuk Buaya Village. There are 145 samples taken with proportionate random sampling method. Data were collected with questionnaire to determine the history of diarrhea in the last month and weighing. The data were processed with chi square test by using SPSS 17.0 program. Results of univariate analysis showed that there are children with good nutritional status (84,1%), underweight (13,8%), and poor nutritional status (2,1%). There are 25,5% children had diarrhea with average duration of illness 3,0 days. Results of bivariate analysis showed no significant association between diarrhea and nutritional status (weight/age) of children in Lubuk Buaya Village (p = 0,742). This study showed no association between diarrhea and nutritional status of children in Lubuk Buaya Village, Koto Tangah Subdistrict, Padang City.Keywords: nutritional status of children, diarrhe

    Hubungan Derajat Merokok Dengan Derajat Eksaserbasi Asma Pada Pasien Asma Perokok Aktif di Bangsal Paru RSUP DR. M. Djamil Padang Tahun 2007 - 2010

    Get PDF
    AbstrakPrevalensi asma dan perokok aktif di Indonesia semakin meningkat. Penyakit asma dapat menurunkan kualitas hidup dan menimbulkan kematian terutama pada perokok aktif jika eksaserbasi asma berat terjadi. Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana hubungan antara derajat merokok dengan derajat eksaserbasi asma pada pasien asma perokok aktif. Penelitian analitik telah dilakukan dengan menggunakan data deskriptif di Bangsal Paru RSUP Dr. M. Djamil Padang pada bulan Desember 2011 sampai Januari 2013. Data yang dikumpulkan berasal dari catatan rekam medik pasien asma di Bangsal Paru sejumlah 228 orang. Sampel ditetapkan dengan menggunakan teknik total sampling sehingga didapatkan sampel sebanyak lima puluh orang. Untuk melihat hubungan antara derajat merokok dengan derajat eksaserbasi asma digunakan uji korelasi Spearman. Hasil Penelitian menunjukkan 51 dari 228 dari pasien asma (22,4%) adalah perokok aktif. Secara umum pasien memiliki derajat merokok sedang (41,18%) dan derajat eksaserbasi asma sedang (78,43%). Berdasarkan analisis statistik didapatkan nilai p = 0,275 (p<0,05) yang berarti tidak ada hubungan yang bermakna antara derajat merokok dengan derajat eksaserbasi asma.Kata kunci: merokok, eksaserbasi, asmaAbstractPrevalence of asthma and active smokers in Indonesia has increased. Asthma can reduce quality of life and lead to death especially in active smokers if the severe asthma exacerbation occur. This study aims to look at how the correlation between the degree of smoking by the degree of asthma exacerbation in active smoker patients with asthma. Analytic studies have been conducted using the descriptive data in Pulmonary Ward of RSUP Dr. M. Djamil Padang in December 2011 to January 2013. Data collected from the medical records of patients with asthma history in Pulmonary Ward for 228 people. The samples were appointed by using total sampling technique, so obtained the samples about fifty people. Spearman correlation test was used to examine the relationship between the degree of smoking by the degree of asthma exacerbation. The results of this study showed 51 of 228 of the patients with asthma (22.4%) were active smokers. In general, patients had a moderate degree of smoking (41.18%) and moderate degree of asthma exacerbations (78.43%). The statistical analysis was obtained p-value = 0.275 (p<0,05) which means there is no significant correlation between the degree of smoking by the degree of asthma exacerbation.Keywords: smoking, exacerbation, asthm

    Memahami Patofisiologi dan Aspek Klinis Syok Hipovolemik: Update dan Penyegar

    Get PDF
    AbstrakSecara patofisiologis syok merupakan gangguan hemodinamik yang menyebabkan tidak adekuatnya hantaran oksigen dan perfusi jaringan. Gangguan hemodinamik tersebut dapat berupa penurunan tahanan vaskuler sitemik terutama di arteri, berkurangnya darah balik, penurunan pengisian ventrikel dan sangat kecilnya curah jantung. Gangguan faktor-faktor tersebut disbabkan oleh bermacam-macam proses baik primer pada sistim kardiovaskuler, neurologis ataupun imunologis. Diantara berbagai penyebab syok tersebut, penurunan hebat volume plasma intravaskuler merupakan faktor penyebab utama. Terjadinya penurunan hebat volume intravaskuler dapat terjadi akibat perdarahan atau dehidrasi berat, sehingga menyebabkan yang balik ke jantung berkurang dan curah jantungpun menurun. Penurunan hebat curah jantung menyebabkan hantaran oksigen dan perfusi jaringan tidak optimal dan akhirnya menyebabkan syok. Pada tahap awal dengan perdarahan kurang dari 10%, gejala klinis dapat belum terlihat karena adanya mekanisme kompensasi sisitim kardiovaskuler dan saraf otonom. Baru pada kehilangan darah mulai 15% gejala dan tanda klinis mulai terlihat berupa peningkatan frekuensi nafas, jantung atau nadi (takikardi), pengisian nadi yang lemah, penurunan tekanan nadi, kulit pucat dan dingin, pengisian kapiler yang lambat dan produksi urin berkurang. Perubahan tekanan darah sistolik lebih lambat terjadi akibat adanya mekanisme kompensasi tadi, sehingga pemeriksaan klinis yang seksama harus dilakukan.Kata kunci: syok, hipovolemik dan patofisiologiAbstractShock is hemodynamic disorders, which causes inadequate oxygen delivery and perfusion. The hemodynamic disorders can be decreasing of systemic vascular resistant, venous return, ventricular filling and inadequate of cardiac output. The disorders are caused by cardiovascular dysfunction, neurologic or immunologic factors. Intravascular volume loss is one of the main factors, which is caused by severe dehydration or bleeding. These conditions lead to decreasing of venous return and cardiac output that cause inadequate oxygen delivery and perfusion. The homeostatic defence mechanism can compensate the cardiovascular function with the blood loss up to 10%. The clinical symptoms appears when the blood loss 15%, such as tachypnoea, tachycardia, weak of pulse, decreasing of mean arterial pressure, skin pale and cold, decreasing refilling capillary and urine production. Due to the compensation mechanism, alteration of systolic blood pressure is relatively late; therefore, thorough and complete clinical assessment is necessary.Keywords: shock, hypovolemic and pathophysiolog

    1,096

    full texts

    1,143

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Kesehatan Andalas
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇