Jurnal Kesehatan Andalas
Not a member yet
    1143 research outputs found

    Efek Pemberian Suntikan Subkutan Vitamin C Terhadap Luka Insisi Dermal

    Get PDF
    Abstrak Vitamin C berfungsi sebagai kofaktor enzyme prolil dan lysil hydroxilase. Enzym tersebut berfungsi dalam proses hidroksilasi yang membentuk ikatan hidroksiprolin dan hidroksilisin pada fibroblast dalam membentuk kolagen. Selain itu Vitaimin C juga berfungsi meregulasi dan menstabilkan trankripsi gen mRNA prokolagen pada proses pembentukan kolagen di dermis. Berdasarkan hal tersebut diatas, peneliti tertarik untuk membuktikan apakah pemberian vitamin C subkutan disekitar luka insisi dermal berefek pada pembentukan kolagen yang lebih padat dalam proses penyembuhan luka. Metode: Penelitian eksperimental ini menggunakan tikus Wistar sebanyak 32 ekor, yang dibagi menjadi 2 kelompok yaitu 16 ekor sebagai kontrol dan 16 ekor lagi sebagai perlakuan. Pada kedua kelompok dilakukan insisi di punggung sepanjang 2 cm. Kelompok perlakuan diberi suntikan vitamin C subkutan disekitar luka insisi dermal sebanyak 9 mg (0,09ml), sedangkan kelompokkontrol tidak diberikan.Pada hari kelima dilakukan pengambilan jaringan luka pada kedua sampel untuk pemeriksaan kepadatan kolagen secara mikroskopik. Hasil:Kepadatan kolagen pada hari kelimamenunjukkan perbedaan yang bermakna dari efek penyuntikan vitamin C subkutan terhadap kepadatan kolagen (χ2 = 5,833;

    Gambaran Elektrolit dan Gula Darah Pasien Kejang Demam yang Dirawat di Bangsal Anak RSUP Dr. M. Djamil Periode Januari 2010 - Desember 2012

    Get PDF
    AbstrakKejang demam merupakan kelainan neurologik yang paling sering dijumpai pada anak. Kejang demam merupakan bangkitan kejang yang terjadi pada saat anak demam akibat proses ekstrakranial. Kejang demam terjadi pada suhu rektal >38 C. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran elektrolit dan gula darah pada pasien kejang demam yang dirawat di bangsal anak RSUP Dr. M. Djamil. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif menggunakan metode retrospektif dengan mengambil data dari bagian rekam medis RSUP Dr. M.Djamil. Sampel penelitian adalah seluruh pasien kejang demam yang dirawat di bangsal anak RSUP Dr. M. Djamil periode Januari 2010 - Desember 2012 yang memenuhi kriteria inklusi. Dari 173 kasus kejang demam, terdapat 51 kasus yang memenuhi kriteria sampel penelitian. Sebagian besar sampel merupakan kejang demam pertama (76,5%). Kejang demam kompleks didapatkan sebesar 64,7%. Kasus kejang demam terbanyak terjadi pada kelompok usia ≥6 bulan < 2 tahun yaitu sebesar 51%. Kejang demam lebih sering terjadi pada laki-laki daripada perempuan dengan perbandingan 1,4:1. Penelitian menunjukkan penurunan nilai natrium serum (n=46, 80,4%), dan kalsium serum (n=30, 63,3%), nilai kalium serum normal (n=46, 76,1%), dan peningkatan nilai gula darah sewaktu (n=45, 57,8%). Pada pasien kejang demam ditemukan penurunan nilai natrium dan kalsium serum, nilai kalium serum normal, dan peningkatan nilai gula darah sewaktu. Diharapkan penelitian yang akan datang memiliki jumlah sampel yang lebih besar untuk mengetahui gambaran elektrolit dan gula darah pada pasien kejang demam.Kata kunci: kejang demam, natrium serum, kalium serum, kalsium serum, gula darah sewaktuAbstractFebrile seizure is the most common neurological disorder found in children. Febrile seizure is seizure that occurs while the children have fever caused by extracranial process. It occurs in rectal temperature >38 C. This research aim to describe the electrolytes and blood glucose in patients with febrile seizure who were treated at the pediatric's ward of Dr. M. Djamil general hospital. From 173 cases of febrile seizures, there are 51 cases that meet the criterias of the research sample. Most of the research samples are first febrile seizure (76.5%). Complex febrile seizure occurred in 64.7%. Most cases of febrile seizures occurred in the age group ≥ 6 months - <2 years, about 51%. Febrile seizures are more common in males than females with the ratio 1.4:1. The research shows decrease serum sodium (n = 46, 80.4%), and serum calcium (n = 30, 63.3%), normal serum potassium (n = 46, 76.1%), and increase non-fasting blood glucose level (n = 45, 57.8%). The patients with febrile seizure show decrease serum sodium and calcium, normal serum potassium, and increase non-fasting blood glucose level. Expected future studies have a lot of samples in determining the electrolytes and blood glucose in patients with febrile seizure.Keywords: febrile seizures, serum sodium, serum potassium, serum calcium, non-fasting blood glucose leve

    Penatalaksanaan Sinus Preaurikuler Tipe Varian Dengan Pit pada Heliks Desenden Postero-Inferior

    Get PDF
    AbstrakSinus preaurikuler merupakan kelainan kongenital berupa adanya lubang kecil pada telinga luar yangbiasanya terdapat di anterior dari heliks asendens. Disamping lokasi tersebut, sinus preaurikuler juga dapatditemukan posterior dari liang telinga luar yang dikenal sebagai sinus preaurikuler tipe varian. Sinus preaurikulertipe varian merupakan kasus yang jarang dilaporkan. Kebanyakan kasus tidak menunjukkan gejala, sebagianlainnya mengalami masalah infeksi berupa keluarnya cairan, atau terbentuknya abses. Penatalaksanaan sinuspreaurikuler adalah dengan pengangkatan sinus secara lengkap. Kekambuhan merupakan masalah yang dapattimbul jika tidak diangkat secara lengkap.Dilaporkan satu kasus sinus preaurikuler tipe varian dengan pitberada pada heliksdesendens postero-inferior dekatlobulus pada seorang anak laki-laki umur 3 tahun 6 bulan dan ditatalaksana dengan sinektomi.Kata kunci: Sinus preaurikuler, sinus preaurikuler tipe varian, sinektomi.AbstractPreauricular sinusis a congenital malformation that manifests as pit in the extenal ear, usually located in theanterior limb of ascending helix. In additional to these location, preauricular sinus can also be found in the posterior ofthe external ear canal, known as the preauricular sinus with variant type. Preauricular sinus variant type is a rarelyreported. Almost cases are asymptomatic, but others are infectious with discharge or abscess formation. Themanagement of preauricular sinus is excision sinus completely. Recurrence is the problem that happen if the excisionwas not complete.One case of preauricular sinus variant type with pit on the postero-inferior decending helixnearlobulus in a boy 3 years and 6 months old and managed bysinectomy.Keywords: Preauricular sinus, Preauricular sinus variant type, sinecto

    Hubungan Tekanan Darah Ibu Hamil Aterm Dengan Berat Badan Lahir di RSUP Dr. M. Djamil Padang

    No full text
    AbstrakTinggi rendahnya tekanan darah sistolik dan diastolik dalam kehamilan mempunyai pengaruh terhadap berat badan lahir. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan tekanan darah ibu hamil aterm dengan berat badan lahir di RSUP dr M. Djamil Padang. Metode penelitian : Penelitian yang dilakukan merupakan survei analitik dengan menggunakan studi komparatif dengan design penelitian Cross Sectional Study. Penelitian menggunakan data sekunder yang diambil dari sub bagian Rekam Medik (Medical Record) RSUP dr. M. Djamil Padang bulan Januari 2010 – Desember 2012 dengan jumlah sampel 34 orang ibu hamil yang tidak hipertensi dan 34 orang ibu hamil yang mengalami hipertensi dalam kehamilannya. Hasil penelitian : Ditemukan rata-rata berat badan lahir bayi yang dilahirkan oleh kelompok ibu yang tidak mengalami hipertensi pada kehamilannya adalah 3.408 (SD 307) gram dan rata-rata berat badan lahir bayi yang dilahirkan oleh kelompok ibu yang mengalami hipertensi pada kehamilannya adalah 2.799 (SD 413) gram. Dari hasil uji analisis Independent Sample T-test diperoleh hasil ditemukan adanya hubungan tekanan darah ibu hamil dengan berat badan lahir di RSUP dr. M. Djamil Padang p = 0,00 (p < 0,05). Kesimpulan : Pemeriksaan kehamilan secara teratur penting untuk mengantisipasi adanya peningkatan tekanan darah ibu hamil yang dapat berpengaruh terhadap berat bayi lahir.Kata kunci: tekanan darah, berat badan lahir, ibu hamilAbstractHigh and low level of systolic and diastolic blood pressure in pregnancy has impact to birth weight. This research is purposed to identify the relation between aterm pregnant blood pressure and birth weight.Methods : This research is analytical survey which used comparative study with Cross Sectional Study design. This research used secondary data taken from Medical Record in RSUP dr. M. Djamil Padang since Januari 2010 until December 2012 with number of samples are 34 pregnant women who have not hypertension and 34 pregnant women who have hypertension in pregnancy.The results: Research found that average of birth weight from non-hypertension pregnant woman is about 3,408 (SD 307) gr and average of birth weight from hypertension pregnant woman is about 2,799 (SD 413) gr. The result from Independent sample T-test analysis found that there is a relation between blood pressure in pregnancy with birth weight at RSUP dr. M.Djamil Padang p = 0.00 (p<0.05).Conclusion: Regular antenatal care is important to anticipate an increase in maternal blood pressure can affect birth weight.Keywords: blood pressure, birth weight, pregnant wome

    Hubungan Berat Plasenta Dengan Berat Badan Lahir Bayi di Kota Pariaman

    Get PDF
    AbstrakPertumbuhan janin intrauterine dipengaruhi oleh fungsi plasenta. Plasenta mensuplai oksigen dan makanan dari sirkulasi ibu ke janin dan mengeluarkan sisa metabolisme dari sirkulasi janin ke ibu. Berat plasenta bertambah akibat pertumbuhan vilus plasenta. Vilus-vilus ini berfungsi sebagai tempat pertukaran makanan, oksigen dan zat sisa janin, sehingga berat plasenta akan berperan penting dalam menentukan berat badan lahir bayi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan berat plasenta dengan berat badan lahir bayi di Kota Pariaman. Metode penelitian adalah deskriptif dan analitik, sedangkan pengolahan data dilakukan dengan uji korelasi software SPSS 15. Penelitian dilakukan di kota Pariaman dengan menggunakan data ibu melahirkan dari bulan Januari-Juni 2011. Ada 30 orang subjek dalam penelitian ini, didapatkan berat badan lahir bayi rata-rata adalah 2.996,67 gram (SD = 448,36), 4 diantaranya (13,33%) memiliki berat badan lahir rendah (BBLR) sementara yang lainnya normal. Berat plasenta rata-rata 496,67 gram (SD = 49,01). Berdasarkan hasil uji korelasi, berat plasenta berhubungan dengan berat badan lahir bayi di Kota Pariaman dengan p = 0,00 (<0,05) dan r = 0,784. Kesimpulan dari penelitian ini adalah berat plasenta memiliki hubungan yang bermakna dengan berat badan lahir bayi di Kota Pariaman dan kekuatan hubungan sedang.Kata kunci: Plasenta, berat plasenta, berat badan lahir bayiAbstractThe intrauterine growth of foetus is affected by the placental function. The functions are supplying oxygen and nutrition from maternal circulation to the foetus and secreting the metabolism residual from foetus circulation to the maternals. The increase of placental and foetus weight occurs in the same time. The villi is the surface for the exchange of nutritions, oxygens, and residual substances of feotus. The goals of this study is to identify the relationship between placental weight and birth weight in Pariaman. The method of this study is descriptive and analytical with correlation test and SPSS 15 was used for data processing. This study was held in Pariaman and pregnant woment’s data taken from January until June 2011. The results of this study showed that 30 subjects had the average of birth weight was 2,996.67 gram (SD = 448.36), 4 (13.33%) were low birth weight, while the others were normal. The average of placental weight was 496.67 gram (SD = 49.01). Based on correlation test, placental weight had relationship with birth weight in Pariaman (p = 0.00 (<0.05) and r = 0.784). The conclusion is placental weight had significant correlation with birth weight in Pariaman and the power of correlation was intermediate.Keywords:Placenta, placental weight, birth weigh

    Analisis Ketahanan Hidup Lima Tahun Kanker Tiroid yang Dikelola di RSUP Dr. M. Djamil Padang

    Get PDF
    AbstrakKanker tiroid merupakan kanker yang jarang terjadi, namun kanker tersering pada organ endokrin. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui ketahanan hidup lima tahun kanker tiroid yang di tatalaksana di RS Dr. M. Djamil Padang dari Januari 2007 sampai dengan Desember 2011. Metode: Subjek penelitian adalah 117 penderita kanker tiroid yang ditatalaksana di RS Dr. M. Djamil Padang dari Januari 2007 sampai dengan Desember 2011. Data dianalisis dengan pendekatan survival time menggunakan Kaplan-Meier survival curve dan Log rank test. Hasil: Median umur 39 tahun (range, 11 sampai 77 tahun), median waktu follow up 32 bulan (range, 1 sampai 70 bulan), median ukuran tumor 6 cm (range, 1 sampai 16 cm). Didapatkan 100 (85,5%) %) penderita sehat bebas tumor, 7 (6%) penderita kambuh lokal, 1 (0,9%) metastasis jauh serta 9 (7,7%) penderita meninggal. Overall five survival rate pada penelitian ini 92,3%. Faktor umur, ukuran tumor, dan jenis histopatologi berhubungan secara bermakna dengan survival (p 0,000), (p= 0,046) dan (p= 0,000). Sedangkan faktor-faktor jenis kelamin, jenis operasi, dan terapi adjuvan tidak mempunyai hubungan bermakna dengan survival. Pembahasan: Umur, ukuran tumor, dan jenis histopatologi memiliki hubungan bermakna dengan survival. Jenis kelamin, jenis operasi, dan terapi adjuvan tidak tidak berhubungan bermakna dengan survival.Kata kunci: Umur, Ukuran Tumor, Jenis Histopatologi, Survival, Kanker TiroidAbstractThyroid cancer is a rare cancer, but most common in endocrine organ. The purpose of this research is to determine about at five year survival of thyroid cancer which recorded at RS M. Djamil Padang Hospital from January 2007 until December 2011. Methods: Subjects were 117 patients with thyroid cancer be recorded in hospital Dr. M. Djamil Padang from January 2007 to December 2011. Data were analyzed with the survival time using Kaplan-Meier survival curve and log rank test. Result: Median age 39 years (range, 11 to 77 years), median follow-up time of 32 months (range, 1 to 70 months), median tumor size was 6 cm (range, 1 to 16 cm). Obtained 100 (85.5%)%) patients with tumor-free healthy, 7 (6%) patients with local recurrence, 1 (0.9%) distant metastases, and 9 (7.7%) patients died. Five overall survival rate in this study was 92.3%. Factors of age, tumor size and histopathological type was significantly associated with survival (p 0.000), (p = 0.046) and (p = 0.000). While the factors gender, type of surgery, and adjuvant therapy had no significant association with survival. Discussion: Discussion: Age, tumor size and histopathological type has a significant relationship with survival. Gender, type of surgery, and adjuvant therapy did not significantly associated with survival.Keywords: Age, Tumor Size, Type of Histopathology, Survival, Thyroid Cance

    Faktor Risiko Asma Pada Murid Sekolah Dasar Usia 6-7 Tahun di Kota Padang

    Get PDF
    Abstrak Latar belakang : Asma merupakan penyakit kronik yang sering dijumpai pada anak. Dilaporkan bahwa prevalens asma meningkat pada anak maupun dewasa. Usia 6-7 tahun merupakan periode dimana prevalens asma dan angka kunjungan ke rumah sakit karena asma lebih tinggi. Terjadinya asma dianggap sebagai interaksi yang kompleks antara faktor genetik dan faktor lingkungan. Faktor genetik sudah dibuktikan dari penelitian-penelitian sebelumnya, tetapi karakteristik faktor risiko lingkungan pada asma belum jelas. Apabila melihat derajat peningkatan kejadian asma, tidak mungkin hanya faktor genetik yang berperan, tetapi peran faktor lingkungan justru yang lebih besar. Tujuan : Untuk mengetahui prevalens dan faktor risiko asma pada anak SD usia 6-7 tahun di Kota Padang.Metoda : Suatu penelitian cross sectional di 20 SD di Kota Padang pada bulan Juni – November 2009 dengan jumlah sampel 879 orang. Terhadap setiap subjek dilakukan penelitian yaitu pembagian kuisioner ISAAC (international study of asthma and allergies in childhood) untuk orang tua. Analisis data dilakukan dengan uji chi-square untuk variabel katagorik dan analisis multivariat dengan regresi logistik. Data dianalisis menggunakan peranti lunak komputer.Hasil : Prevalens asma pada murid SD usia 6-7 tahun di Kota Padang berdasarkan kuisioner ISAAC sebesar 8%. Faktor yang paling dominan berpengaruh terhadap kejadian asma adalah atopi ayah atau ibu, diikuti faktor berat badan lahir dan kebiasaan merokok pada ibu serta pemberian obat parasetamol. Sedangkan pemberian ASI dan kontak dengan unggas merupakan faktor protektif terhadap kejadian asma. Kata kunci: faktor risiko, asma, sekolah dasar Abstract Background: Background Asthma is a common chronic disease in children. It had been reported that the prevalence of asthma in children and adults was increasing. The age of 6-7 years is the period where the prevalence and the number of visits to the hospital because of asthma are higher. The occurrence of asthma is considered as a complex interaction between genetic factors and environmental factors. Genetic factors have been proved to be the risk factor for asthma, but not for the characteristic of environmental that factors that were still unclear. If seeing the increased incidence of asthma, genetic factors might not play a role solely, but the environmental factors might play moreObjective The aim of this study was to determine the prevalence and the risk factors of asthma in elementary school children aged 6-7 years in Padang.Methods This research is cross sectional study in 20 elementary schools in Padang during June until November 2009, total sample of 879 students. To each respondent the ISAAC (international study of asthma and allergies in childhood) questionnaire was given to be fulfilled. Data were analyzed using computer software. Results The prevalence of asthma in elementary school students aged 6-7 years in Padang based on ISAAC questionnaire was 8%. The most dominant factor influencing the incidence of asthma is atopic in father or mother, followed by factors of birth weight and maternal smoking habits and drug administration of paracetamol, while breastfeeding and poultry contact were protective factors. Keywords:risk factors, asthma, elementary schoo

    Kualitas Air Minum Yang Diproduksi Depot Air Minum Isi Ulang Di Kecamatan Bungus Padang Berdasarkan Persyaratan Mikrobiologi

    Get PDF
    Abstrak Latar belakang: Pendahuluan: Setiap depot air minum wajib melakukan pemeriksaan mutu produk sesuai dengan peraturan yang berlaku, namun tidak satupun dari sembilan depot air minum di Kecamatan Bungus melakukan hal tersebut. Diare adalah salah satu penyakit yang disebabkan oleh air minum yang tidak berkualitas. Morbiditas rate diare di Kecamatan Bungus tertinggi ke-2 di Kota Padang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas air minum yang dihasilkan depot air minum di Kecamatan Bungus berdasarkan persyaratan mikrobiologi. Metode Penelitian: Populasi pada penelitian ini adalah air minum yang berasal dari depot air minum isi ulang di Kecamatan Bungus Padang dan sampel pada penelitian ini adalah seluruh populasi yang ada, yaitu sembilan sampel. Penelitian dilaksanakan dalam 2 tahap yaitu pengambilan sampel air dengan galon air sekaligus observasi faktor yang mempengaruhi kualitas air dan pemeriksaan mikrobiologis dengan Most Probable Number Test (MPN) terhadap sampel yang terdiri dari tiga tes, yaitu presumptive test, confirmative test, dan complete test. Hasil Penelitian: Lima dari sembilan sampel mengandung bakteri Coliform dan tiga dari lima sampel tersebut juga mengandung E. coli. Kesimpulan: Hal ini menunjukkan bahwa 55,6% depot air minum di Kecamatan Bungus menghasilkan air minum yang kualitasnya tidak memenuhi persyaratan mikrobiologi yang telah ditetapkan pemerintah. Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi adalah air baku, kondisi depot, kebersihan operator, dan penanganan terhadap wadah pembeli. Kata kunci: Depot air minum isi ulang, pemeriksaan mikrobiologis Abstract Background: Every depot is obliged to do inspection of product quality prescribed by the regulations, but not one even also from nine drinking water depot in District of Bungus do the mentioned. Diarrhea is one of the disease that cause by bad quality water product. Diarrhea morbidity rate in the Bungus District is second highest in Padang City. This Research aim to to know the drinking water quality produced by drinking water refill depot in the Bungus District based on microbiological requirements. Methods: Population of this research is drinking water refill depots in the Bungus District of Padang city and sample of this research is all of existing population, that is nine drinking water depot. Research executed in 2 phase that is intake of water sample with gallon at the same time do observation of the factor that influencing the quality of water and mikrobiological test with Most Probable Number Test ( MPN) to the sampel which consist of three test, that is presumtive test, konfirmative test, and complete test. Result: Five from nine sample contain coliform bacteria and three from five the sampel also contain E. coli. Conclusion: This matter indicate that 55,6% drinking water refill depot in District of Bungus produce drinking water which its quality don’t fulfill microbiological requirements which have been specified by government. Some factor able to influence is standard water, condition of depot, hygiene of operator, and handling to place of buyer. Keywords: Drinking water refill depots, mikrobiological tes

    Ekstirpasi Hemangioma di Dinding Lateral Hidung dengan Pendekatan Endoskopi

    Get PDF
    Abstrak Pendahuluan: Hemangioma di dinding lateral hidung merupakan kasus tumor jinak pembuluh darah yang jarang angka kejadiannya. Metode: Pendekatan endoskopi memberikan hasil yang lebih baik pada penatalaksanaan kasus tumor jinak di daerah hidung dan sinus paranasal. Pada kasus-kasus tertentu, pendekatan endoskopi memberikan beberapa keuntungan lebih, seperti dapat mengangkat massa tumor dengan morbiditas yang rendah dan menghindari kerusakan yang tidak perlu pada mukosa dan struktur anatomi yang sehat. Diskusi: Telah dilakukan pengangkatan hemangioma di dinding lateral hidung dengan pendekatan endoskopi pada seorang pasien wanita berusia 33 tahun. Kata kunci: hemangioma, dinding lateral hidung, pendekatan endoskopi Abstract Introduction: The hemangioma in the lateral wall of the nose is an uncommon benign vascular neoplasm. Methods: The endoscopic approach can be succesfully employed for the treatment of benign tumor of the nose and paranasal sinuses. In selected cases, this surgical technique allows the complete removal of the tumor with less morbidity, and avoidance of unnecessary resection of healthy mucosa and anatomy structures. Discussion: A case of endoscopic management of a hemangioma in the lateral wall of the nose in a 33 years old girl is reported. Keywords:hemangioma, lateral wall of the nose, endoscopic approac

    Sindrom Hepatorenal pada Anak

    Get PDF
    Abstrak Latar belakang:Sindrom hepatorenal (SHR) merupakan suatu keadaan dimana terjadinya gangguan fungsi ginjal pada pasien sirosis hepatis tahap lanjut. Sindrom ini mempunyai karakteristik terjadinya penurunan GFR tanpa adanya kelainan yang lain pada ginjal. Hal yang mendasar penyebab SHR ini adalah terjadinya vasokonstriksii ginjal dan vasodilatasi perifer, tidak disertai protein uria dan kelainan histologi ginjal. Diagnosis SHR ditegakkan pada pasien sirosis hepatis dengan gangguan fungsi ginjal dengan menyingkirkan penyebab lain kelainan ginjal. Tatalaksana dengan menggunakan vasokonstriktor perifer yang dikombinasi dan albumin intravena dapat memperbaiki fungsi ginjal, akan tetapi transplantasi hati tetap merupakan terapi definitif untuk memperpanjang harapan hidup. Prognosis pasien dengan SHR ini buruk, harapan hidup pada bulan pertama hanya 50% dan 6 bulan kemudian hanya 20%. Kata kunci: Sindrom hepatorenal, sirosis hepatis, gangguan fungsi ginjal. Abstract Background: Hepatorenal syndrome (HRS) is functional renal impairment that occurs in patient with advanced liver cirrhosis. It is characteristized by marked reduction in GFR (glomerulous filtration rate) in the absence of other cause of renal failure. The hallmark of HRS is intense renal vasoconstriction with predominant peripheral arterial vasodilation, absence of proteinuria or histological change in kidney. HRS is diagnosis by exclusion and all other cause of acute renal injury in patient advanced liver disease. Management requires combined use of splanchnic and peripheral vasoconstrictor in combination with intravenous albumin may improve renal function in HRS. How ever liver transplantation is the only definitive way of improving long term outcome. The prognosis for patient with cirrhosis and renal failure is poor. The overall survival is approximately 50% at 1 month and 20% at 6 month. Keywords:Hepatorenal syndrome, liver cirrhosis, renal impairment

    1,096

    full texts

    1,143

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Kesehatan Andalas
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇