Jurnal Kesehatan Andalas
Not a member yet
    1143 research outputs found

    Hubungan Kadar Hemoglobin Ibu Hamil Trimester III Dengan Berat Bayi Lahir di Kota Pariaman

    Get PDF
    AbstrakPendahuluan: Kadar hemoglobin merupakan indikator biokimia untuk mengetahui status gizi ibu hamil. World Health Organization (WHO) merekomendasikan kadar hemoglobin ibu hamil ideal adalah ≥ 11 gr/dl dan tidak dibawah 10,5 gr/dl pada trimester II kehamilan. Tinggi rendahnya kadar hemoglobin selama kehamilan mempunyai pengaruh terhadap berat bayi lahir karena dapat mengakibatkan gangguan pertumbuhan janin di dalam kandungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kadar hemoglobin ibu hamil trimester III dengan berat bayi lahir di kota Pariaman. Metode penelitian: design penelitian ini adalah penelitian analitik dengan pendekatan Cross Sectional Study. Penelitian dilakukan di kota Pariaman dengan menggunakan data ibu melahirkan bulan Januari-Juni 2011 dan pengambilan sampel dengan cara consecutive sampling serta data dianalisis dengan uji korelasi Pearson dimana p < 0,05. Hasil penelitian: ditemukan rata-rata kadar hemoglobin ibu hamil trimester III adalah 11,16 (SD 0,82) gr/dl dan ditemukan ibu hamil yang mengalami anemia sebesar 31,25%. Rata-rata berat bayi lahir pada penelitian adalah 3.103 (SD 405) gram dan ditemukan bayi yang mempunyai berat lahir rendah sebesar 3,1%. Kesimpulan: penelitian ini tidak ditemukan adanya hubungan kadar hemoglobin ibu hamil trimester III dengan berat bayi lahir di kota Pariaman (p > 0,05)Kata kunci: Kadar hemoglobin, berat bayi lahir, ibu hamilAbstractIntroduction : Hemoglobin level is biochemical indicator to determine the nutrition status of pregnant women. World Health Organization (WHO) recommends that ideal level of hemoglobin for pregnant women is ≥ 11 g/dl and not below 10,5 g/dl on the second trimester of pregnancy. Increasing and decreasing of hemoglobin levels during pregnancy influences birth weight because it can cause intrauterine growth disruption. This research is purposed to identify the relation between pregnant woment hemoglobin level on the third trimester of pregnancy and birth weight in Pariaman city. Methods : This research uses analytic research which is using cross sectional design. This research is held on Pariaman city and used pregnant woment data taken from January until June 2011. The results: Research found that an average of pregnant woment hemoglobin level on the third trimester pregnancy is 11,16 (SD 0,82) g/dl and the percentage of pregnant women with anemia (Hb < 11 gr/dl) is 31,25%. The average of birth weight is 3.103 (SD 405) grams and 3,1% of total infant have low birth weight. The results of bivariate analysis by using Pearson correlation test is not found the relation between pregnant woment hemoglobin level on the third trimester of pregnancy and birth weight p = 0,856 (p > 0,05).Conclusion: The future research had better has more number of samples and other factors which affect birth weight can be eliminated.Keywords:Hemoglobin level, birth weight, pregnant women

    Diagnosis dan Penatalaksanaan Abses Septum Nasi

    Get PDF
    AbstrakAbses septum nasi adalah terkumpulnya pus di antara tulang rawan dengan mukoperikondrium atau tulang septum dengan mukoperiosteum yang melapisinya. Abses septum dapat menyebabkan hidung pelana bahkan komplikasi intrakranial, sehingga diperlukan diagnosis dan tindakan yang tepat dan cepat. Telah dilaporkan satu kasus abses septum pada wanita umur 34 tahun dan telah dilakukan insisi dan eksplorasi abses dalam narkose umum.Kata kunci: Arial 9 Kata Kunci: Abses septum nasi, hematoma septum, hidung pelana.AbstractNasal septal abscess is defined as pus accumulation between cartilage and mucopericondrium or septal bone and mucoperiosteum which is layer it. Septal abscess can cause saddle nose even intracranial complications, requiring additional diagnosis and appropriately and quickly management. Reported one case of septal abscess in woman 34 years old and has been done the abscess incision and exploration in general anaesthesia.Keywords:Nasal septal abscess, haematoma septum, saddle nose

    Gambaran Faktor Risiko dan Tipe Stroke pada Pasien Rawat Inap di Bagian Penyakit Dalam RSUD Kabupaten Solok Selatan Periode 1 Januari 2010 - 31 Juni 2012

    Get PDF
    AbstrakStroke merupakan penyakit akibat gangguan peredaran darah otak yang dipengaruhi oleh banyak faktor risiko terdiri dari yang tidak dapat diubah berupa usia dan jenis kelamin dan yang dapat diubah seperti hipertensi, peningkatan kadar gula darah, dislipidemia, dan pekerjaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui distribusi tipe stroke dan faktor risiko yang berpengaruh pada pasien stroke rawat inap di RSUD Kabupaten Solok Selatan. Metode penelitian: Penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan menggunakan data skunder pasien stroke yang dirawat di RSUD Solok Selatan. Data yang diambil meliputi usia, jenis kelamin, tekanan darah, kadar gula darah, profil lipid saat pertama pasien masuk rumah sakit, dan pekerjaan. Sampel penelitian adalah seluruh pasien stroke yang pernah dirawat di Bagian Penyakit Dalam RSUD Kabupaten Solok Selatan pada periode 1 Januari 2010 – 31 Juni 2012 yang memenuhi kriteria inklusi. Hasil penelitian: Hasil penelitian menunjukkan proporsi stroke terbanyak adalah stroke ischemic (61,46%), perempuan (54,17%) yang berusia >50 tahun (81,25%) yang bekerja sebagai ibu rumah tangga (43,75%). Faktor risiko yang dapat diubah tertinggi adalah hipertensi (82,30%) diikuti kolesterol total meningkat (69,79%). Faktor risiko tertinggi pada stroke ischemic adalah gula darah meningkat (47,89%) dan pada stroke hemorrhagic adalah hipertensi (100,00%). Faktor risiko tertinggi pada seluruh pasien adalah hipertensi (82,30%). Kesimpulan: Berdasarkan hasil penelitian ini disimpulkan bahwa stroke tipe ischemic lebih banyak dari tipe hemorrhagic dengan faktor risiko utama hipertensi, sedangkan stroke ischemic terutama dipengaruhi oleh peningkatan gula darah.Kata kunci: stroke ischemic, stroke hemorrhagic, faktor risiko strokeAbstractStroke is a disease caused by disorder of brain blood circulation with many risk factors that contribute in this disease, consist of non modifiable risk factor including age and sex and modifiable risk factors example hypertension, high glucose level, dyslipidemia, and jobs. This study aimed to determine the distribution of the type of stroke and the risk factors that affect to stroke patients who were treat in South Solok hospital.Methods: This research is descriptive research using secondary data, including the patient’s medical record. The data including age, gender, blood pressure, glucose level, lipid profile when the first patient in the hospital, and jobs. The samples were all stroke patients who had been treat in the Department of Internal Medicine of South Solok hospital in the period from January 1st 2010 until June 31th 2012 that meet the inclusion criteria.The results: The results showed the highest proportion of strokes were ischemic stroke (61.46%), women (54.17%) aged> 50 years (81.25%) who work as housewives (43.75%). The highest of modifiable risk factors are hypertension (82.30%) followed by increases in total cholesterol (69.79%). The highest risk factors for ischemic stroke is high glucose level (47.89%) and for hemorrhagic stroke is hypertension (100.00%). The highest risk in both ischemic stroke and hemorrhagic is hypertension (82.30%).Conclusion: Based on the end result, we can concluded that the insidence of ischemic stroke disease is greater than hemorrhagic stroke, and as the main risk factor is hypertension, mean while ischemic stroke is most affected by high glucose level.Keywords: stroke ischemic, stroke hemorrhagic, faktor risiko strok

    In Vitro Cytotoxic Study and Detection of Apoptosis on Breast Cancer Cell lines MDA-MB 231 after Exposed to Azadirachta Indica A. Juss (neem) Extract

    Get PDF
    AbstrakSuatu senyawa obat dapat menjadi kemoterapi kanker adalah dengan cara menskrining terlebih dahulu tumbuhan obat yang berpotensi sebagai obat antikanker. Salah satunya adalah tanaman obat daun nimba (Azadirachta indica L.Juss) yang terbukti secara significant menyebabkan apoptosis pada beberapa jenis sel line kanker. Dalam penelitian ini, ekstrak ethanol dari A. indica dipelajari untuk melihat efeknya pada pertumbuhan sel kanker payudara manusia jenis MDA-MB-231 dengan menggunakan tes untuk proliferasi yaitu MTT assai dan untuk mengetahui perubahan morphologi dari apoptosis selnya dengan menggunakan TUNEL assay Ekstrak daun nimba (A. indica) dapat menurunkan keberadaan jumlah sel kanker dengan cara menghambat perkembangan daripada sel tersebut dan menginduksi proses apoptosis pada sel kanker tersebut. Hasil pemeriksaan MTT assai didapatkan nilai IC50 nya adalah 55 ug / mL. Kematian MDA-MB231 sel yang disebabkan oleh ekstrak daun nimba (A.indica) ditemukan melalui mekanisme apoptosis yang secara morfologinya menunjukan ciri ciri dari kematian secara apoptosis seperti kondensasi dari nucleus, membrane nukleus yang melebur dan akhirnya terjadinya fragmentasi dari DNA. Analisis struktur dalaman sel juga mengungkapkan karakteristik apoptosis yaitu marginasi dari kromosom yang disertai dengan fragmentasi DNA dan selanjutnya akan terbentuk badan apoptotik pada sel kanker yang diinkubasi dengan ekstrak tersebut. Pada penelitian ini juga dijumpai peningkatan jumlah sel apoptosis dari hari 1 sampai hari 3 inkubasi oleh ekstrak nimba. Ekstrak ethanol A.indica mungkin mengandung senyawa bioaktif(s) yang menyebabkan kanker payudara MDA-MNB 231 mengalami kematian sel secara apoptosis. Penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk mengetahui mekanisme tumbuhan ini membunuh sel kanker MDA-MB 231.Kata kunci: Studi In vitro, Azadirachta indica, apoptosis, TUNEL assayAbstractA screening is conducted on plants that have potential as anticancer is a promising way for discovering novel chemotherapeutic compound. A medicinal plant neem leaf (Azadirachta indica L.Juss) intake has been shown to induce significant levels of apoptosis in various cancer cells. In this present study, ethanol extract of Azadirachta indica was studied for its effects on growth in MDA-MB 231 human breast cancer cells using assays for proliferation (MTT assay) and mechanisme of cell apoptosis using TUNEL assay. Neem leaf extract decreased cell viability, inhibited cell proliferation, and induced cell apoptosis. Result of MTT assay was 55 μg/mL of neem remarkably reduced cell viability of MDA-MB 231 cells. MDA-MB231 cell death elicited by the extract was found to be apoptotic in nature based the indication of nucleus condensation, shrinkage of nucleus membrane and also DNA fragmentation which are a hallmark of apoptosis. In addition, ultrastructural analysis also revealed apoptotic characteristics which are the presence of chromatin margination and apoptotic bodies in the extract-treated cells. There was an increase in the number of apoptotic cells from day 1 to day 3 post incubation with neem extract. Thus, the results from this study strongly suggest that the ethanol extract of A.indica may contain bioactive compound(s) that caused breast carcinoma, MDA-MNB 231 cell death by apoptosis. It’s needed to do advance research to know more deeply the mechanism this plant on breast cancer cell line MDA-MB.Keywords:In vitro study, Azadirachta indica, apoptosis, TUNEL assa

    Faktor-faktor yang Berhubungan Dengan Unmet Need KB Pasca-Salin IUD post-placenta di Kamar Rawat Pasca-bersalin RSUP DR. M. Djamil periode Januari-Maret 2013

    Get PDF
    AbstrakWanita pada periode post-partum memiliki angka unmet need terhadap kontrasepsi, padahal ini waktu yang tepat untuk mulai memakai kontrasepsi. Salah satu kontrasepsi pasca-salin terkini yang mulai disosialisasikan adalah IUD post-placenta. Namun demikian, masih belum banyak wanita pasangan usia subur yang menggunakan alat kontrasepsi ini bahkan mengetahuinya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan unmet need KB pasca-salin IUD post-placenta. Jenis penelitian survey dengan desain cross sectional study. Waktu pengambilan data dari 12 Januari sampai dengan 12 Maret 2013. Sampel adalah wanita pasangan usia subur yang melahirkan pervaginam dan dipilih secara accidental sampling. Penelitian dilakukan pada 88 orang responden dengan 50 orang bukan akseptor KB IUD post-placenta dan 38 orang akseptor KB IUD Post-placenta. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner melalui wawancara terpimpin. Data dianalisis secara univariat dan bivariat. Hasil penelitian menunjukkan faktor yang memiliki hubungan signifikan dengan unmet need IUD post-placenta adalah faktor pengetahuan (p value = 0,001), sedangkan faktor lain yang tidak memiliki hubungan signifikan adalah faktor pendidikan (p value = 0,222), faktor status ekonomi (p value = 1,000), dan faktor konseling KB (p value = 0,583).Kata kunci: faktor yang berhubungan, unmet need, KB pasca-salin, IUD post-placentaAbstractThe women in post-partum period have unmet need rate to contraception, whereas it’s approriate time to start using contraception. One of recent post-partum contraception method is IUD post-placenta. But, only a few women of fertile age couple use this contraception even has known it. The purpose of this study was to determine the factors associated to unmet need of post-partum contraception IUD post-placenta. This survey study with cross sectional design study. The data was collected from January 12 until March 12 2013. The subject were women of fertile age couple who give birth per vaginam and selected by accidental sampling. This study had 88 respondents consists of 50 as not IUD Post-placenta acceptors and 38 respondents as IUD post-placenta acceptors. The data collected by using questionnaire through guided interview and analyzed through univariate and bivariate.The result of analysis showed that the factor had significant relation to unmet need of IUD post-placenta is knowledge (p value = 0,001), while another factors did not have significant relation are education level (p value = 0,222), economic level (p value=1,000), and family planning counselling (p value=0,583).Keywords:the relating factors, unmet need, post-partum contraception, IUDpost-placent

    Cancer Immunology

    Get PDF

    Hubungan Kadar Ft4 Dengan Kejadian Tirotoksikosis berdasarkan Penilaian Indeks New Castle Padawanita Dewasa di Daerah Ekses Yodium

    Get PDF
    AbstrakTirotoksikosis merupakan manifestasi klinis yang terjadi akibat peningkatan kadar hormon tiroid dalam darah. Kelebihan yodium merupakan salah satu penyebab terjadinya tirotoksikosis. Ini ditandai dengan hasil pemeriksaan kadar Ekskresi Yodium Urin (EYU) > 199 μg/L. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kadar FT4 dengan kejadian tirotoksikosis berdasarkan penilaian indeks New Castle pada wanita dewasa di daerah ekses yodium. Metode: Penelitian dilakukan dengan menganalisis data yang dikumpulkan secara Cross Sectional Study terhadap 37 wanita dewasa menggunakan metoda total sampling di Nagari Koto Salak, Kecamatan Koto Salak Kabupaten Dharmasraya yang merupakan daerah ekses yodium (median EYU 323,5 μg/L). Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara menggunakan penilaian Indeks New Castle dan pengambilan darah untuk dilakukan pemeriksaan kadar FT4 dalam serum. Hasil: Analisis univariat didapatkan jumlah penduduk wanita dewasa dengan kadar FT4 meningkat sebanyak 14 persen dan nilai rata-rata 1,71 ng/dl. Penilaian indeks New Castle dalam kategori doubtful 16 persen dan tidak ditemukan penduduk yang termasuk dalam kategori toxic. Berdasarkan hasil uji statistik Chi-square, didapatkan p value=1. Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara kadar FT4 dalam serum dengan kejadian tirotoksikosis pada wanita dewasa di derah ekses yodium. Saran: Perlu dilakukan penyuluhan mengenai asupan yodium kepada masyarakat dan diharapkan penelitian ini dapat menjadi masukan kepada pemerintah dalam mengambil kebijakan terhadap pemberian kapsul yodium serta melakukan kontrol kadar EYU secara teratur dan berkala.Kata kunci: FT4, tirotoksikosis, indeks New Castle, wanita, ekses yodium, tiroidAbstractThyrotoxicosis is a clinical manifestation that occurs due to elevated levels of thyroid hormones in the blood. Iodine excess is one of the causes of thyrotoxicosis. This is indicated by the results of urine iodine excretion levels (EYU) > 199 μg/L. Objective: This study aimed to determine the association FT4 levels with thyrotoxicosis incidence based on New Castle index assessment of adult women in iodine excess area.Method: The study was conducted data analysis which collected with Cross Sectional Study against 37 adult females by using total sampling methods in Koto Salak, Dharmasraya regency which is the iodine excess area (median EYU 323,5 μg/L). Data were collected by using interview New Castle Index assessments and blood sampling for examination FT4 levels in blood serum.Result: Univariate analysis of adult women population is 14 percent in increase category of FT4 levels and 1,71 ng/dl of the average value. New Castle index assessment 16 percent in doubtful category and none included in the toxic category. Based on Chi-Square statistics test, showed p value=1.Conclution: There was no significant association between FT4 levels in blood serum with thyrotoxicosis incidence of adult women in iodine excess area.Suggestion: Therefore, it should be informed to the community about iodine intake and this research is hoped can be input for the government policy towards iodine suplementation and control EYU levels regularly and periodically.Keywords: FT4, thyrotoxicosis, New Castle index, women, iodine excess, thyroi

    Jurnal Kesehatan Andalas. 2013; 2(2) Malrotasi dan Volvulus pada Anak

    Get PDF
    AbstrakMalrotasi dan volvulus merupakan kasus gawat darurat dibidang bedah anak yang memerlukan intervensi segera. Malrotasi dan volvulus kebanyakan terjadi pada periode neonatus walaupun pada beberapa kasus dilaporkan terjadi pada usia anak besar bahkan dewasa. Manifestasi klinis berupa muntah hijau dengan atau tanpa distensi abdomen yang berhubungan dengan obstruksi duodenum atau volvulus midgut. Keterlambatan diagnosis dan talaksana dapat mengakibatkan terjadinya nekrosis intestinal, short bowel syndrome, dan ketergantungan pada nutrisi parenteral total. Mortalitas pada neonatus diperkirakan mencapai angka 30% pada sekitar tahun 1950, namun angka mortalitas tersebut semakin menurun mencapai 3% - 5%. Penanganan operatif yang darurat seringkali dibutuhkan untuk mencegah iskemia intestinal atau untuk melakukan reseksi pada lengkung usus yang telah mengalami infark.Kata kunci: malrotasi, volvulus midgut, prosedur Ladd, anakAbstractArial 9 italic Malrotation and volvulus is an emergency case in the field of surgery that requires immediate intervention. Malrotation and volvulus mostly occur in the neonatal period although in some cases have been reported in the age of the children and even adults. The clinical manifestations of vomiting green with or without abdominal distension associated with duodenal obstruction or midgut volvulus. Delay in diagnosis and management can lead to intestinal necrosis, short bowel syndrome, and dependence on total parenteral nutrition. Neonatal mortality rate is estimated at 30% in the 1950s, but the mortality rate has declined approximately 3% - 5%. Handling emergency operative is often needed to prevent intestinal ischemia or to perform bowel resection in the arch that has undergone infarction.Keywords:Malrotation, volvulus, Ladd procedure, childre

    Giant Parotid Pleomorphic Adenoma Involving Parapharyngeal Space

    Get PDF
    AbstrakLatar belakang: Pleomorfik adenoma parotis merupakan tumor jinak kelenjar liur yang paling sering ditemukan, namun pleomorfik adenoma parotis yang sangat besar sehingga melibatkan ruang parafaring (RPF) sangat jarang. Diagnosis ini sulit ditegakkan karena gejala klinisnya tidak khas. Penatalaksanaanya harus hati-hati mengingat banyak struktur vital yang beresiko mengalami trauma. Tujuan: Bagaimana menegakkan diagnosis dan penatalaksanaan pleomorfik adenoma parotis yang melibatkan RPF. Kasus: Seorang pasien perempuan 27 tahun ditegakkan diagnosis pleomorfik adenoma parotis kanan dengan melibatkan RPF. Terdapat pembengkakan pada leher yang bersifat asimtomatis dan gejala pendorongan faring dan laring yang menyebabkan disfonia, disfagia, dan defisit saraf kranial IX,X,XII. Penatalaksanaan: Pasien telah dilakukan operasi parotidektomi pendekatan transervikal–transparotid dengan preservasi arteri karotis eksterna dan saraf fasialis. Kesimpulan: Biopsi Aspirasi Jarum Halus (BAJAH) dan radiologi merupakan pemeriksaan yang penting untuk menegakkan diagnosis. Penatalaksanaan pleomorfik adenoma parotis yang melibatkan RPF adalah bedah ekstirpasi komplit dengan beberapa pendekatan. .Kata kunci: tumor jinak kelenjar liur, pleomorfik adenoma, ruang parafaringAbstractBackground: Parotid pleomorphic adenoma is the most common benign salivary gland tumor, while giant parotid pleomorphic adenoma involving the parapharyngeal space (PPS) is rare. It was difficult to diagnose because the clinical presentation of this tumor can be subtle. The management must be performed carefully due to anatomy relation to complex vital structure lead to traumatic injury highrisk. Purposes: How to make diagnosis and management parotid pleomorphic adenoma involving PPS. Case: A female 27 years old with diagnosis was giant parotid pleomorphic adenoma involving PPS. There was asymptomatic swelling of the neck and presence of pushing the pharynx and larynx medially causes dysphonia, dysphagia, and IX,X,XII cranial nerves deficit. Management: The patient has been performed parotidectomy with transcervical-transparotid approaches by preservation of the external carotid artery and facial nerve. Conclusion: Fine Needle Aspiration Biopsy (FNAB) and imaging are essential for diagnostic. The management of parotid pleomorphic adenoma involving PPS is surgical complete extirpation with various approaches.Keywords:benign salivary gland tumor, pleomorphic adenoma, parapharyngeal spac

    Polimorfisme Gen Apolipoprotein E Pada Penderita Sindrom Down Trisomi 21

    Get PDF
    AbstrakLatar Belakang: Sindrom Down merupakan suatu kelainan kromosom yang ditandai dengan adanya baik seluruhnya (trisomi 21) maupun sebagian (translokasi) suatu salinan tambahan kromosom ke 21. Apolipoprotein E (APOE) merupakan suatu bentuk protein polimorfik yang disandikan oleh suatu gen yang berlokasi pada lengan panjang kromosom 19 pada posisi 13.2 (19q13.2). Polimorfism gen APOE berkaitan dengan meningkatnya frekuensi alel ε4 yang berakibat terjadinya hambatan dalam percabangan dan pertumbuhan neuron. Dimungkinkan, penderita Sindrom Down Trisomi 21 memiliki gen APOE yang berbeda dengan kontrol sebagai faktor yang dapat mengakibatkan penuaan dini otak. Metode : Penelitian ini merupakan penelitian kasus kontrol untuk mengamati perbedaan distribusi dan frekuensi alel dan genotip gen APOE pada penderita Sindrom Down trisomi 21 dibandingkan dengan kontrol. Kasus Sindrom Down dan kontrol diambil dari data sekunder yang tersimpan di Center for Biomedical Research (CEBIOR) Semarang Indonesia. Ekstraksi DNA dilakukan dengan menggunakan metode yang terdapat di (CEBIOR) Semarang Indonesia. Kegiatan selanjutnya adalah pemeriksaan polimorfisme gen Apolipoprotein E dengan mengunakan teknik PCR dan RFLP. Hasil : Sebanyak 33 sampel dari penderita Sindrom Down, 18 laki-laki dan 15 perempuan dan 33 sampel kontrol, 18 laki-laki dan 15 perempuan. Baik sampel Sindrom Down maupun kontrol memiliki frekuensi alel ε3 paling tinggi dibandingkan dengan alel ε2 dan ε4. Pada Sindrom Down didapatkan alel ε4 4 sampel (6,1%) dan alel ε2 8 sampel (12,1%). Baik sampel Sindrom Down maupun kontrol memiliki genotip ε3/ε3 paling tinggi dibandingkan dengan genotip gen APOE lainnya. Pada Sindrom Down didapatkan genotip ε2/ε4 4 sampel (12,1%) dan genotip ε2/ε2 2 sampel (6,1%). Simpulan : Terdapat perbedaan distribusi alel dan genotip gen APOE pada penderita Sindrom Down trisomi 21 dibandingkan dengan kelompok kontrol. Diperlukan analisis sampel yang lebih banyak untuk mengkonfirmasi hasil penelitian ini.Kata kunci: Sindrom Down, Polimorfisme, Apolipoprotein E.AbstractBackgrounds :Down syndrome is an abnormal chromosomal condition, characterized by the presence of all (trisomy 21) or part (such as due to translocations) of a third copy of chromosome 21. Apolipoprotein E (APOE) is a polymorphic protein coded by a gene located on the long arm (q) of chromosome 19, positioning at 13.2 (19q13.2). Polymorphism of APOE gene is related with the increasing of allele ε4’s frequency thus cause obstruction in neuron ramification and development. In previous study, Down Syndrome groups are having different type of APOE gene compared with control. That why it can be considered as one of the caused premature aging of brain. Methods : This is a case control study to observe the difference of distribution and frequency of APOE gene allele and genotype in Down Syndrome Trysomi 21 compared to control. Down Syndrome and control samples was taken as secondary data from Center for Biomedical Research (CEBIOR) Semarang Indonesia. DNA extraction was done by using the commonly used salting out method in CEBIOR Semarang Indonesia. Subsequently polimorphism of APOE gene analysis has been done by using PCR and RFLP.Result : Thirty three samples were Down Syndrom patients, consist of 18 male and 15 female. Thirty three samples are control, consist of 18 male and 15 female. Both groups were having the highest frequency of allele ε3 compared to allele ε2 and ε4. In Down Syndrome, frequency of ε4 allele was found in 4 samples (6,1%) while allele ε2 was found in 8 samples (12,1%). Genotype ε3/ε3 were the highest frequency on both group compared to the other. In Down Syndrome group identified ε2/ε4 genotype in 4 samples (12,1%) and ε2/ε2 genotype in 2 samples (6,1%).Conclusion : There is slight difference distribution of APOE gene allele and genotype in Down Syndrome Trysomi 21 compared to control. More samples should be analyzed to confirm this finding.Keywords:Down Syndrome, Polymorpism, Apolipoprotein E

    1,096

    full texts

    1,143

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Kesehatan Andalas
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇