Jurnal Kesehatan Andalas
Not a member yet
    1143 research outputs found

    Hubungan Pengetahuan dan Sikap dengan Tindakan Pencegahan Penularan HIV-AIDS pada Waria di Kota Padang Tahun 2013

    Get PDF
    AbstrakKasus HIV/AIDS di Provinsi Sumatera barat sampai Desember 2012 sebanyak 133 kasus positif HIV dan 120 kasus AIDS, jumlah kasus terbesar di kota Padang sebesar 78,94%. Faktor resiko paling banyak melalui hubungan seksual sebesar 32%, dan di antara 40 orang waria penjaja seks dibawah bimbingan LSM APP(Aia Pacah Peduli) dinyatakan 5 waria +HIV. Tujuan penelitian untuk menganalisa hubungan pengetahuan dan sikap dengan tindakan pencegahan penularan HIV-AIDS pada waria di kota Padang. Metode penelitian adalah analitik observasional dengan pendekatan cross sectional study. Populasi penelitian adalah para waria penjaja seks dibawah bimbingan LSM APP Padang. Penentuan jumlah sampel menggunakan teknik total sampling dengan jumlah sampel 40 waria penjaja seks. Analisis data menggunakan uji statistik chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 65% waria penjaja seks memiliki tindakan yang baik, 70% memiliki pengetahuan yang tinggi, dan 52,5% menunjukkan sikap sedang terhadap pencegahan penularan HIV-AIDS. Hasil uji chi-square menunjukkan bahwa ke dua variabel independen berhubungan secara bermakna dengan variabel dependen (p < 0,05) yaitu variabel pengetahuan (p = 0,040) dan sikap (p = 0,048).Kata kunci: Pengetahuan, Sikap, Tindakan, HIV-AIDS, Waria penjaja seksAbstractCases of HIV/AIDS in West Sumatra province until December 2012, is as many as 133 cases of HIV positive and 120 cases of AIDS, with the largest number is occured in Padang city that is 79.3%. The most influenced risk factor is through a sexual relationship amounted to 32%, and among the 40 transvestites sex workers who have been under the guidance of the APP (Aia Pacah Peduli)—an NGO, there are 5 transvestites with +HIV. This research aims to analyze the relationship of knowledge and attitude with the precautions of HIV/AIDS transmission on transvestites in Padang city. Methode of this research is an observational analytic study with cross sectional study approach. Population were all transvestites sex workers (40) who have been under the guidance of the APP (Aia Pacah Peduli)—an NGO that is 40. The amount of this sample is chosen using total sampling. Data analysis uses statistical test of chi-square. The research results showed that 65% of transvestites sex workers take good preventive action, 70% had high knowledge, and 52.5% show that they took sufficient attitude related to prevention of HIV/AIDS transmission. Chi-square test results showed that the two independent variables are significantly correlated with the dependent variable (p < 0,05), that is knowledge variable (p =0,040) and attitude (p =0,048).Keywords: Knowledge, Attitude, Action, HIV/AIDS, Transvestites sex worker

    Perbandingan Daya Hambat Madu Alami dengan Madu Kemasan secara In Vitro terhadap Streptococcus beta hemoliticus Group A sebagai Penyebab Faringitis

    Get PDF
    AbstrakMadu merupakan substansi alam yang dihasilkan oleh lebah yang diketahui memiliki manfaat, salah satunya untuk mengobati faringitis yang disebabkan Streptococcus beta hemoliticus Group A. Efek antibakteri dari madu dapat menghambat pertumbuhan  Streptococcus beta hemoliticus Group A. Berdasarkan cara pembuatannya madu terdiri dari madu alami dan madu kemasan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan daya hambat madu alami dengan madu kemasan secara in vitro terhadap Streptococcus beta hemoliticus Group A. sebagai penyebab faringitis. Jenis penelitian ini adalah eksperimental dengan rancangan posttest only control group design yang dilaksanakan dari September sampai Desember 2013 di laboratorium Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas. Hasil penelitian menunjukan madu alami dan madu kemasan dapat menghambat pertumbuhan Streptococcus beta hemoliticus Group A dengan diameter daya hambat terbesar pada madu alami adalah 14 mm dan madu kemasan 11 mm. Berdasarkan uji analisis Kruskal-Wallis yang dilanjutkan dengan post-hoc Mann-Whitney terdapat perbedaan yang signifikan antara daya hambat  madu alami dengan madu kemasan dengan nilaip=0,004 (p<0,05). Kesimpulan hasil penelitian adalah madu alami dan madu kemasan memiliki daya hambat terhadap pertumbuhan Streptococcus beta hemoliticus Group A. Madu alami memiliki daya hambat yang lebih kuat dibandingkan madu kemasan.Kata kunci: madu alami, madu kemasan, Streptococcus beta hemoliticus Group A, antibakteri, faringitis AbstractHoney is a natural substance that produced by bees which is known have many benefits, one of them is to treat pharyngitis that caused by Streptococcus beta hemoliticus Group A. The antibacterial effect of honey can inhibit bacterial growth. By way of making, honey is divided to natural honey dan packing honey. The purpose of this study was to see comparison of the antibacterial effect of natural honey and packing honey againt Streptococcus beta hemoliticus Group A by in vitro. This research was experimental with posttest only with control group design This study was conducted in September to December 2013 in the laboratory of Microbiology, Faculty of Medicine, Andalas University. The result showed that natural honey and packing honey have antibacterial effect againt Streptococcus beta hemoliticus Group A. The biggest inhibition area of the natural honey was 14 mm and the biggest inhibition area of the packing honey was 11 mm. Both of honey had differences antibacterial effect with p= 0,004 (p<0,05) with analysis of Kruskal-Wallis test and followed by post-hoc Mann-Whitney. From this study we can conclude that natural honey and packing honey have antibacterial effect againt Streptococcus beta hemoliticus Group A. Antibacterial of natural honey is stronger than packing honey to inhibit bacterial growth.Keywords: natural honey, packing honey, Streptococcus beta hemoliticus Group A, antibacterial, pharyngitis

    Hubungan Lama Aktivitas Membaca dengan Derajat Miopia pada Mahasiswa Pendidikan Dokter FK Unand Angkatan 2010

    Get PDF
    AbstrakMiopia adalah salah satu kelainan refraksi pada mata dengan prevalensi yang tinggi di dunia. Berbagai faktor yang berhubungan dengan miopia seperti faktor keturunan dan lingkungan. Faktor lingkungan yang berperan kuat adalah kerja dekat seperti membaca. Lama membaca dapat meningkatkan risiko dan progresivitas miopia. Mahasiswa kedokteran berisiko mengalami miopia karena banyak melakukan aktivitas membaca yang lama dan intensif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan lama aktivitas membaca dengan derajat miopia. Metode studi menggunakan desain cross sectional analitik dengan 121 sampel. Pengumpulan data dilakukan dengan kuesioner tentang riwayat miopia dan lama membaca. Data dianalisis dengan uji chi-square (x²) dengan kemaknaan (p<0,05). Hasil penelitian didapatkan bahwa kejadian miopia lebih banyak terjadi pada mahasiswa perempuan (78.5%). Miopia pertama kali paling banyak terjadi pada usia 13 tahun (19%). Pertambahan ukuran refraksi per tahun pada mahasiswa miopia rata-rata adalah 0.30 D. Sebagian mahasiswa miopia menghabiskan waktu untuk membaca lebih dari 10.7 jam/hari (52.9%), sebagian lagi kurang dari 10.7 jam/hari (47.1%). Mahasiswa miopia sebagian besar menderita miopia ringan. Analisis statistik hubungan lama aktivitas membaca dengan derajat miopia didapatkan nilai p=0,15. Penelitian ini memperlihatkan bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna antara lama aktivitas membaca dengan derajat myopia.Kata kunci: lama membaca, derajat miopiaAbstractMyopia is a refractive error of the eye with a high prevalence in the world. Various factors association with myopia such as heredity and environmental factor. The strongest role an environmental is near work such as reading. Reading time can increase risk and progression of myopia. Medical students have the risk of myopia because of long and intensive reading. This study aimed to determine relationship the duration of reading activities with the degree of myopia. This study used a cross sectional analytic design with 121 sample. Data were collected by questionnaires about history of myopia and long reading. The data were analyzed by chi-square test (x²) with significance (p<0.05). The results showed incidence of myopia is more in female students (78.5%). Most of myopia occurs first time at the age 13 years (19%). Average refractive power of myopia students increased 0.30 D annual. Some myopia students spending time to read are more than 10.7 hours/day (52.9%), some are less than 10.7 hours/day (47.1%). The most of myopia students suffered mild myopia. Statistical analysis the relationship duration of reading with degree of myopia p value= 0.15.This study showed no significant relationship between duration of reading activities with the degree of myopia.Keywords: duration of reading, degree of myopi

    Metastasis Leher Tersembunyi pada Karsinoma Lidah T1-T2

    Get PDF
    AbstrakKarsinoma lidah memiliki kecenderungan yang tinggi untuk bermetastasis ke limfonodi leher, bahkan pada stadium awal (T1-T2). Tidak ada metode imaging atau pemeriksaan lain yang dapat mendeteksi metastasis leher tersembunyi. Ketebalan atau kedalaman invasi tumor adalah satu-satunya kriteria prediktor metastasis nodal pada karsinoma lidah dengan nilai cut offberkisar antara 3-9 mm. Diseksi Leher Selektif (DLE) level I-III "Diseksi Leher Supraomohioid" (DLSOH) telah direkomendasikan sebagai terapi utama karsinoma lidah stadium awal dengan klinis Node negatif (N0). Hanya pada sebagian kecil kasus yang mengalami metastasis ke level IV yang dikenal dengan “skip metastasisâ€,extended supraomohyoid neck dissectionlevelI-IV direkomendasikan oleh beberapa penulis. Diseksi leher bilateral harus dilakukan bila telah melibatkan struktur midline lidah.Kata kunci: karsinoma lidah, metastasis leher tersembunyi, diseksi leher supraomohioid AbstractCarcinoma of tongue has a high propensity for nodal metastasis in the neck, even in early stages (T1–T2). There is no method of imaging or other examination that will detect occult nodal metastasis. Tumor thickness or depth of invasion is the only size criterion predictor of nodal metastasis in carcinoma of tongue, the critical cut off values ranged from 3 to 9 mm. Selective dissection of levels I–III “supraomohyoid neck dissection†has been recommended as a primary treatment of neck disease in early carcinoma of tongue with clinically N0 neck. Most of the relatively small number of isolated metastasis to level IV are from primary tumours of the tongue, which are known as “skip metastasisâ€. Thus an extended supraomohyoid neck dissection of levels I–IV is recommended by some authors for elective treatment of the neck in carcinoma of tongue. Bilateral neck dissection should be performed in elective treatment of tumours involving midline structure.Keywords : carcinoma of tongue, occult nodal metastasis, supraomohyoid neck dissectio

    Pengaruh Terapi Oksigen Menggunakan Non-Rebreathing Mask Terhadap Tekanan Parsial CO2 Darah pada Pasien Cedera Kepala Sedang

    Get PDF
    AbstrakTekanan parsial CO2sangat berpengaruh terhadap aliran darah otak (ADO) dan tekanan intra kanial. Latarbelakang penelitian ini adalah bahwa dalam teori tekanan gas campuran John Dalton dinyatakan bahwa jika salah satu tekanan gas dalam campuran gas bertambah maka tekanan parsial gas lain akan menurun. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah peningkatan konsentrasi oksigen dalam Non-Rebreathing Mask (NRM) akan menurunkan tekanan parsial CO2, sehingga dapat digunakan untuk menurunkan PaCO2 sambil memperthankan PaO2 yang tinggi untuk menurunkan TIK (Tekanan Intra Kranial) pada pasien cedera kepala. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian Clinical Trial dengan rancangan penelitian one shoot pretest and postest pada pasien cedera kepala sedang dengan GCS 9-13 yang dilakukan terapi konservatif di RS Dr. M. Djamil Padang. Pada pasien dinilai tekanan parsial CO2 darah sebelum dan setelah 6 jam terapi oksigen menggunakan NRM. Jumlah sampel sebanyak 16 pasien yang memenuhi kriteria inklusi. Hasil: Dari hasil penelitian didapatkan perbedaan bermakna tekanan parsial CO2 darah sebelum dan setelah terapi oksigen menggunakan NRM (p<0,05). Terjadi penurunan tekanan parsial CO2 darah setelah terapi oksigen mengunakan NRM dari39,00 ± 3,7 menjadi 432,06 ± 6,35. Pembahasan: Terapi oksigen menggunakan NRM dapat menurunkan tekanan parsial CO2 darah sehingga dapat digunakan untuk menurunkan tekanan intrakranial pada pasien cedera kepala sedang.Kata kunci: Terapi Oksigen, Non-Rebreathing Mask, Tekanan Parsial CO2 DarahAbstractThe partial pressure of CO2 is very influential on cerebral blood flow (CBF) and intra kanial pressure. The background of this research is that the pressure of the gas mixture in the theory of John Dalton stated that if one of the gas pressure in the gas mixture increases, the partial pressure of other gases will decline. This study aimed to determine whether the increase in oxygen concentration in the non-rebreathing mask (NRM) will decrease the partial pressure of CO2, so that it can be used to decrease PaCO2 while PaO2 still higher to protect brain from higher of ICT (intra-cranial pressure) state in patients with head injuries. Method: This research is a Clinical Trial with one shoot pretest and posttest design in patients with moderate head injury with GCS 9-13 conducted conservative treatment at the hospital Dr. M. Djamil Padang. In patients assessed blood CO2 partial pressure before and after 6 hours of oxygen therapy using the NRM. Total sample of 16 patients who met the incluton criteria. Result: The result showed significant differences in blood CO2 partial pressure before and after oxygen therapy using the NRM (P <0.05). There was a decrease of bloodCO2partial pressureafter oxygen therapy using NRM from 32.06 ± 6.35 to 39.00 ± 3.74. Discussion: Oxygen therapy using NRM can decrease blood CO2 partial pressure that can be used to reduce the intra-cranial pressure in patients with moderate head injury.Keywords: Oxygen Therapy, Non-Rebreathing Mask, Blood CO2 Partial Pressur

    Profil Tumor Ganas Ovarium di Laboratorium Patologi Anatomi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas Periode Januari 2011 Sampai Desember 2012

    Get PDF
    AbstrakTumor ganas ovarium menempati urutan ketiga setelah tumor ganas serviks dan tumor ganas payudara yang menyebabkan kematian di Indonesia. Penelitian ini didapatkan 143 kasus tumor ganas ovarium. Distribusi profil tumor ganas ovarium berdasarkan umur terbanyak pada kelompok umur 31-40 tahun sebanyak 45 kasus (31,46%), berdasarkan jumlah paritas yang terbanyak adalah pada kelompok paritas 1-3 sebanyak 77 kasus (66,37%), berdasarkan status perkawinan yang terbanyak ditemukan pada perempuan yang sudah menikah sebanyak 116 kasus (81,11%), berdasarkan sel asal tumor terbanyak ditemukan dari sel epitel sebanyak 137 kasus (95,80%), dan berdasarkan subtipe histopatologi yang terbanyak adalah kistadenokarsinoma ovarii serosum sebanyak 72 kasus (50,35%).Kata kunci: tumor ganas ovarium, paritas, sel asal tumorAbstractMalignant ovarian tumour is third rank after malignant cervic tumour and malignant breast tumour that cause death in Indonesia. The research found 143 cases of malignant ovarian tumours. Distribution profile of malignant ovarian tumours by the age of majority in the age group 31-40 years were 45 cases (31,46%), based on the highest number of parity is the parity group 1-3 were 77 cases (66,37%), based on marital status which is mostly found in women who are married as many as 116 cases (81,11%), based on the origin of the tumour cells were observed on the epithelial cells by 137 cases (95,80%), and based on the histopathological subtype is most serosum ovarian cystadenocarcinoma were 72 cases (50,35%).Keywords: malignant ovarian tumours, parity, origin of the tumo

    Capillary Haemangioma of Nasal Septum

    Get PDF
    AbstrakCapillary haemangioma is a benign, rapidly growing lesion of the skin and mucous membranes. It may rarely present as a mass of considerable size and thus entirely fill the nasal cavity. Its etiology remains obscure. Capillary haemangioma usually involves the gingiva, lips, tongue, and buccal mucosa. However, the nasal cavity is a rare location for this lesion. The most common symptoms are unilateral epistaxis and nasal obstruction. The treatment of choice is surgery to remove the tumour even for large lesion. A case of capillary haemangioma at anterior nasal septal in 6 years old girl had been treated with extirpation.Kata kunci: Capillary haemangioma, nasal septum, epistaxis, diagnosis, treatmentAbstractHaemangioma kapiler merupakan suatu lesi jinak pada kulit dan mukosa dengan pertumbuhan yang cepat. Meskipun jarang berukuran besar, namun dapat memenuhi seluruh kavum nasi. Etiologinya sampai sekarang masih belum jelas. Haemangioma kapiler sering terdapat pada ginggiva, bibir, lidah dan mukosa bukal. Kavum nasi merupakan lokasi yang jarang terdapatnya haemangioma kapiler. Gejala yang paling sering adalah unilateral epistaksis dan sumbatan hidung. Pembedahan untuk mengangkat tumor ini merupakan terapi pilihan meskipun berukuran besar. Suatu kasus haemangioma kapiler septum anterior pada anak perempuan berumur 6 tahun telah dilakukan ekstirpasi sebagai terapi.Keywords: Haemangioma kapiler, septum nasi, epistaksis, diagnosis, penatalaksanaa

    Perbedaan Perlukaan Genitalia Perempuan Berdasarkan Posisi Persetubuhan Diluar Perkawinan di RSUP Dr. M. Djamil Padang Tahun 2010-2012

    Get PDF
    AbstrakPersetubuhan diluar perkawinan menjadi suatu masalah di pengadilan karena banyaknya perbedaan pendapat mengenai perlukaan selaput dara. Penelitian ini dilakukan untuk membuktikan perbedaan perlukaan selaput dara tersebut yang dilakukan di RSUP Dr. M. Djamil Padang, mencakup karakteristik korban, perlukaan selaput dara, perlukaan dibagian tubuh lain, dan hubungan perlukaan berdasarkan posisi persetubuhan. Penelitian ini bersifat analitik. Sampel sebanyak 81 responden yang telah mengalami persetubuhan diluar perkawinan. Data diambil dari Bagian Forensik RSUP Dr. M. Djamil Padang periode bulan Juli 2010 sampai dengan Juli 2012. Data diolah dengan menggunakan program komputer dan dianalisis melalui uji chi square. Dari 81 subjek penelitian ditemukan hasil tertinggi berupa usia korban adalah 12-18 tahun (62%), pekerjaan sebagai pelajar (56%), alamat berada di Kecamatan Koto Tangah (20%), hubungan korban dengan pelaku sebagai pacar (48%), perlukaan selaput dara pada arah jarum jam selain 5 dan 7 (47%), tidak tampaknya tanda-tanda kekerasan dibagian tubuh lain (81%). Dari uji chi square didapatkan nilai p = 0,585 dengan demikian Ha penelitian ditolak (p>0,05). Penelitian ini dapat disimpulkan bahwa tidak terdapatnya hubungan yang signifikan antara perlukaan selaput dara dengan posisi persetubuhan diluar perkawinan.Kata kunci: Persetubuhan, selaput dara, perlukaanAbstractNon marital sexual activity has been being a big issues on the court because there are contradictions argument about wounded hymen. This research is conducted to prove the difference of that wound occurs in public hospital of dr.M.Djamil Padang, including the victim’s character, hymen’s injury, another injury in other parts body, and the connection of each injuries based on intercourse position. This research having an analitical nature. 81 respondents of sample who done non marital sexual activity. The data taken from Forensics division of RSUP dr.M.Djamil Padang for period of July 2010 to July 2012. The data be treated with computer program and analyzed by chi square test. From 81 subjects of research found the highest result are the age of victim in range 12-18 years old (62%), the occupation as a student (56%), the address in Koto Tangah sub district (20%), the relation of victim and executants as a boyfriend (48%), wounded hymen injured in except area 5 and 7 (47%), no other visible injuries due to violation in other parts of the victim’s bodies (81%). From chi square test, the vale of p=0,585 as the result and the conclusion this research of Ha rejected (p>0,05)]. The conclusion of this research, there is no significant relationship between wounded hymen injured with non marital sexual activity.Keywords:sexual intercourse, hymen, injur

    Hubungan Daerah Tempat Tinggal dengan Gambaran Histopatologi Karsinoma Tiroid pada Masyarakat Sumatera Barat

    Get PDF
    AbstrakKarsinoma tiroid merupakan keganasan kelenjar endokrin yang paling sering ditemukan dan insidennya meningkat setiap tahun. Berdasarkan gambaran histopatologinya, karsinoma tiroid dibagi menjadi tipe papiler, folikuler, meduler, dan anaplastik. Salah satu faktor yang mempengaruhi gambaran histopatologi karsinoma tiroid adalah keadaan geografis, dimana karsinoma tipe folikuler dan anaplastik akan lebih sering ditemukan pada daerah beresiko defisiensi yodium dibandingkan daerah tidak beresiko defisiensi yodium. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan daerah tempat tinggal dengan gambaran histopatologi karsinoma tiroid. Penelitian ini menggunakan desain analitik observasional dengan mengumpulkan data sekunder di Laboratorium Patologi Anatomi FK Unand dan rekam medik RSUP M. Djamil periode Januari 2010 – Desember 2011 Dari penelitian ini ditemukan 102 kasus karsinoma tiroid, dimana 32 kasus bertempat tinggal di daerah beresiko defisiensi yodium dan 70 kasus bertempat tinggal di daerah tidak beresiko defisiensi yodium. Pada daerah beresiko defisiensi yodium, 34,4% merupakan karsinoma folikuler dan anaplastik, dan 65,5% merupakan karsinoma selain folikuler dan anaplastik. Pada daerah tidak beresiko defisiensi yodium, 22,9% merupakan karsinoma folikuler dan anaplastik, dan 77,1% merupakan karsinoma selain folikuler dan anaplastik. Dari analisis statistik hubungan daerah beresiko defisiensi yodium dengan kejadian karsinoma folikuler dan anaplastik berdasarkan uji chi-square didapatkan nilai p =0,33. Tidak terdapat hubungan bermakna antara daerah tempat tinggal dengan gambaran histopatologi karsinoma tiroid pada masyarakat Sumatera Barat pada periode Januari 2010 – Desember 2011. Kata kunci: Gambaran histopatologi karsinoma tiroid, daerah tempat tinggalKata kunci: Gambaran histopatologi karsinoma tiroid, daerah tempat tinggalAbstractThyroid carcinoma is the most common endocrine tumor and is increasing in incidence every year. Based on histopathological types, thyroid carcinomas are divided into papillary carcinoma, follicular carcinoma, medullary carcinoma, and anaplastic carcinomas. Factors that can influence the histopathological type of thyroid carcinomas is geographical factor, which follicular and anaplastic type of thyroid carcinomas more frequently found in areas at risk of iodine deficiency than the area not at risk of iodine deficiency.The purpose of this study was to determine the relationship of residential areas with histopathologic types of thyroid carcinoma. This analytic research with observational design obtaining secondary data from Pathology Anatomy Laboratory of Medical Faculty of Andalas University and medical record of M. Djamil Hospital in a period of January 2010 – December 2011. From this reseach, found 102 cases of thyroid carcinoma, of which 32 cases residing in areas at risk of iodine deficiency and 70 cases residing in the area are not at risk of iodine deficiency. In areas at risk of iodine deficiency, 34.4% are follicular and anaplastic carcinomas, and 65.5% are papillary carcinomas. In areas not at risk of iodine deficiency, 22.9% are follicular and anaplastic carcinomas, and 77.1% are papillary carcinomas. Statistical analysis of the relationship of the area at risk of iodine deficiency with follicular and anaplastic carcinoma incidence by chi-square test p value = 0.32.There is no significant correlation between residential areas and histopathological types of thyroid carcinoma of West Sumatera society.Keywords:Histopathological types of thyroid carcinoma, residential area

    Hubungan Pemakaian Fenobarbital Rutin dan Tidak Rutin Pada Anak Kejang Demam dengan Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD)

    Get PDF
    AbstrakKejang demam akan berulang 62,2% serta memiliki tingkat kejadian epilepsi 2-5%. Oleh karena itu dibutuhkan pengobatan yang adekuat untuk mencegah terjadi kejang demam dengan pemberian fenobarbital rutin setiap hari selama 1-2 tahun. Efek samping fenobarbital yaitu hiperaktifitas, iritabilitas. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan pemakaian fenobarbital rutin dan tidak rutin pada anak kejang demam dengan ADHD. Penelitian ini bersifat analitik observasional dengan desain cross sectional yang dilakukan pada 32 orang sampel, terdiri dari 16 penderita kejang demam yang mengonsumsi fenobarbital rutin dan 16 penderita kejang demam yang mengonsumsi fenobarbital tidak rutin. Penelitian ini dilakukan dengan wawancara berdasarkan kuisioner SPPAHI dan diolah dengan uji statistik chi-square dengan tingkat kepercayaan 95%. Hasil penelitian didapatkan (1) Anak kejang demam bertempat tinggal di kota Padang yang memakai fenobarbital di RSUP Dr. M. Djamil Padang adalah 134 orang (2) kejadian ADHD lebih banyak terjadi pada anak kejang demam yang rutin memakai fenobarbital dan secara statistik terdapat hubungan yang bermakna (p value<0,05) (3) kejadian ADHD lebih banyak terjadi pada anak kejang demam yang rmemakai fenobarbital >1 tahun dan secara statistik terdapat hubungan yang bermakna (p value<0,05). Dapat ditarik kesimpulan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara pemakaian fenobarbital rutin dan tidak rutin pada anak kejang demam dengan ADHD.Kata kunci: Fenobarbital, kejang demam, ADHDAbstractRecurrent febrile seizures will have a rate of 62.2% and 2-5% incidence of epilepsy. Therefore, it needs adequate treatment to prevent febrile seizures with phenobarbital administration routine every day for 1-2 years. Phenobarbital side effects are hyperactivity, irritability. The purpose of this study to determine the correlation of the use of continous and uncontinous phenobarbital in febrile seizures children with ADHD. This research using observational analytic cross sectional design performed on 32 samples, consisting of 16 patients with febrile seizures regularly taking phenobarbital daily and 16 patients with febrile seizures do not routinely taking phenobarbital. This study is based on interviews conducted with questionnaires SPPAHI and processed with statistical chi-square test with a confidence level of 95%.The results showed (1)Children of febrile seizures residing in the city of Padang who taking phenobarbital in Dr. M. Djamil Padang is 134 people (2)the incidence of ADHD is more common in children whose continous taking phenobarbital and there is a statistically significant relationship (p value <0.05) (3) incidence of ADHD is more common in children whose taking phenobarbital >1 year and there is a statistically significant relationship (p value <0.05)The conclusion of this study that there is a significant association between the use of continous and uncontinous phenobarbital in febrile seizures children with ADHD.Keywords: Phenobarbital, febrile seizure, ADH

    1,096

    full texts

    1,143

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Kesehatan Andalas
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇