Jurnal Kesehatan Andalas
Not a member yet
1143 research outputs found
Sort by
Kanaloplasti pada Atresia Liang Telinga Pasca Trauma
AbstrakPendahuluan: Atresia liang telinga didapat adalah suatu kelainan yang jarang terjadi dengan karakteristik pembentukan jaringan fibrosis pada liang telinga. Trauma pada liang telinga pada cedera kepala dapat menyebabkan atresia liang telinga pasca trauma dan menyebabkan tuli konduktif serta terbentuknya kolesteatom di daerah cul de sac sehingga diperlukan tatalaksana dengan pembedahan. Ada beberapa pendekatan teknik pembedahan kanoplasti yaitu dengan pendekatan transkanal, endaural dan postaurikula. Metode: Satu kasus atresia liang telinga didapat pasca trauma yang ditatalaksana dengan kanaloplasti transkanal dan bagian tulang yang terpapar ditutupi dengan flap kulit liang telinga. Hasil : Penyembuhan pasca operasi sangat memuaskan, liang telinga lapang dengan perbaikan fungsi pendengaran. Diskusi : Atresia liang telinga didapat salah satunya dapat disebakan oleh trauma dan dapat menimbulkan penurunan pendengaran. Pembedahan pada atresia liang telinga membutuhkan teknik yang khusus karena rekurensi dapat terjadi. Pembedahan dengan pendekatan transkanal sudah dapat memberikan akses yang adekuat. Bagian tulang liang telinga yang terpapar dapat ditutupi dengan flap ataupun graft kulit dengan vaskularisasi yang adekuat serta diperlukannya pembersihan liang telinga pasca operasi secara cermat dan teratur untuk mencegah rekurensi.Kata kunci: Atresia liang telinga, trauma telinga, kanaloplasti transkanal.AbstractIntroduction : Acquired ear canal atresia is a rare condition that characteristic by fibrotic tissue formation in ear canal. Trauma to the ear canal in head injury can cause post traumatic ear canal atresia with conductive hearing loss and cholesteatom in cul de sac area, so this condition necessary surgery procedure. There are several approaches of canaloplasty that are transcanal, endaural and postauricula approach canaloplasty. Methode : One case of post traumatic ear canal atresia that treated with transcanal approach canaloplasty and ear canal skin flap for closing the exposed bone. Result : satisfactory postoperative ear canal healing, with improvement of hearing function. Discussion: Acquired ear canal can be caused by trauma and can cause hearing loss. Surgery on the ear canal atresia requires special techniques because recurrence may occur. Transkanal surgical approach has been able to provide adequate access. The expose bone of ear canal after fibrotic tissue was removed, can be covered by skin flap or skin graft with adequate vascularity as well as the need for postoperative cleaning of the ear canal thoroughly and regularly to prevent recurrence.Keywords: Ear canal atresia, ear trauma, transcanal canaloplasty
Prevalensi Kuman Multi Drug Resistance (MDR) di Laboratorium Mikrobiologi RSUP Dr. M. Djamil Padang Periode Januari 2010 - Desember 2012
AbstrakKuman Multi Drug Resistance (MDR) menyebabkan semakin sulit dalam memilih antibiotika untuk pasien yang mengalami infeksi. Akibat sulitnya pemilihan antibiotika, bisa terjadi perpanjangan masa rawat di Rumah Sakit dan menyebabkan kemunduran dalam dunia medis, sosial dan ekonomi secara tidak terduga. Telah dilakukan penelitian deskriptif-retrospektif dengan mengambil data kuman penyebab infeksi yang mengalami Multi Drug Resistance (MDR) di RSUP Dr. M. Djamil Padang periode Januari 2010 - Desember 2012 untuk mengetahui kuman Multi Drug Resistance (MDR) dan prevalensi kuman Multi Drug Resistance (MDR) di RSUP Dr. M. Djamil Padang periode Januari 2010 - Desember 2012.Hasil Penelitian menunjukkan dari 6.387 jumlah spesimen yang diambil dan dilakukan uji sensitifitas, ditemukan 3.689 kuman yang telah mengalami Multi Drug Resistance (MDR) diantaranya kuman Klebsiella sp, Staphylococcus aureus, Enterobacter sp, E.coli sp, Pseudomonas sp, dan Proteus sp. Dari 3.689 kuman yang mengalami Multi Drug Resistance (MDR) di RSUP Dr. M. Djamil Padang, peningkatan resistensi paling tinggi ditemukan pada tahun 2010 dan meningkat kembali ditahun 2012. Hasil ini menunjukkan bahwa, kasus Multi Drug Resistance (MDR) sudah ditemukan pada hasil kuman yang dikultur di Laboratorium Mikrobiologi RSUP Dr. M. Djamil Padang dan kasus tertinggi ditemukan ditahun 2010 (62%), kemudian menurun ditahun 2011 (55%) dan kembali meningkat ditahun 2012 (58%).Kata kunci: kuman multi drug resistance, prevalensi, kumanAbstractMulti Drug Resistance (MDR) bacteria, makes harder to choose the right antibiotics to use for the treatment and can cause the longer of hospitality days and the sudden decrease of medic, social and economics. It had been conducted a descriptive-retrospective study by taking the data of bacteria that cause infections experienced Multi Drug Resistance (MDR) in RSUP Dr. M.Djamil Padang from January 2010 - December 2012 to find out the Multi Drug Resistance (MDR) bacteria in RSUP Dr. M. Djamil Padang from January 2010 - December 2012. The result from the research from 6.387 study that shows the number of specimens taken and get sensitivity test, found 3.689 bacterias that have experienced the Multi Drug Resistance (MDR) including Klebsiella sp, Staphylococcus aureus, Enterobacter sp, E.coli sp, Pseudomonas sp, dan Proteus sp. The highest resistance from 3.689 Multi Drug Resistance (MDR) bacteria was in 2010 and increased again in 2012.These result indicate that, Multi Drug Resistance (MDR) case has been found in bacteria from specimen in Laboratory of Microbiology RSUP Dr. M. Djamil Padang and the highest was discovered in 2010 (62%), than decreased in 2011 (55%) and increased again in 2012 (58%).Keywords:Multi Drug Resistance bacteria, prevalention, bacteri
Hubungan Status Gizi dengan Prestasi Belajar Siswa Sekolah Dasar Negeri 01 Guguk Malintang Kota Padangpanjang
AbstrakGizi merupakan salah satu faktor penentu utama kualitas Sumber Daya Manusia. Status gizi yang baik akan mempengaruhi proses pertumbuhan dan perkembangan anak, salah satunya dapat meningkatkan kemampuan intelektual yang akan berdampak pada prestasi belajar di sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan status gizi dengan prestasi belajar siswa Sekolah Dasar Negeri 01 Guguk Malintang Kota Padang Panjang. Subjek pada penelitian ini adalah siswa kelas 1-5 yang berjumlah 120 siswa yang diambil dengan teknik Proportional Random Sampling. Data penelitian didapatkan dengan mengukur antropometri berdasarkan indeks IMT/U dan TB/U dengan timbangan injak digital dan microtoise serta hasil belajar dari nilai rapor. Data dianalisis dengan uji chi-square pada p-value<0,05. Hasil penelitian didapatkan siswa Sekolah Dasar Negeri 01 Guguk Malintang mengalami stunting danwasting, yaitu 7,5% dan 21,66%. Prestasi belajar siswa Sekolah Dasar Negeri 01 Guguk Malintang Kota Padang Panjang dibawah rata-rata sebesar 30,8%. Terdapat hubungan yang bermakna antara status gizi stunting dan status gizi wasting dengan prestasi belajar siswa. Kesimpulan dalam penelitian ini adalah terdapat hubungan antara status gizi dengan prestasi belajar siswa Sekolah Dasar Negeri 01 Guguk Malintang Kota Padang Panjang.Kata kunci: status gizi, stunting, wasting, prestasi belajar.AbstractNutrition is one of the main determinants of quality of Human Resource. Good nutritional status will affect the growth and development of children, one of which can increase the intellectual capability that will have an impact on learning achievement at school. This study aimed to determine the relationship between nutritional status with student achievement of 01 Guguk Malintang Elementary School Padang Panjang city. The subject in this experimental were 120 students from grade 1-5 were taken with Proportional random sampling technique. Research data from the antropometric based BMI index and high index and learning achievement from report cards. Data were analyzed using chi-square test.The results showed that the students 01 Guguk Malintang Elementary school experiencing stunting and wasting, 7,5% and 21,66. Learning achievement of students 01 Guguk Malintang undergrade are 30,8%. Based on the results of using chi-square statistical test, there is a significant association between nutritional status of stunting and wasting with student’s learning achievement.The conclusion of this study found that the nutritional status affect student’s learning achievement in 01 GugukMalintang Elementary School Padang Panjang city.Keywords: nutritional status, stunting, wasting, learning achievemen
Sensitivitas Bakteri Penyebab Sepsis Neonatorum terhadap Meropenem di Neonatal Intensive Care Unit dan Perinatologi RSUP DR M Djamil Padang Padang Tahun 2012
AbstrakSepsis neonatorum merupakan salah satu penyebab kematian terbanyak pada neonatus. Manifestasi klinis sepsis neonatorum stadium dini tidak spesifik sehingga sulit dibedakan dari masalah neonatus lainnya. Meropenem merupakan antibiotika lini ketiga dengan ultra broad spectrum. Meropenem banyak digunakan dibeberapa instalasi RSUP DR M Djamil Padang terutama di bagian perinatologi dan Neonatal Intensive Care Unit (NICU) untuk mengobati infeksi berat seperti sepsis. Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan Juni 2013 sampai Desember 2013 di bagian Rekam Medik RSUP DR M Djamil Padang. Tujuannya untuk mengetahui bakteri penyebab sepsis neonatorum serta sensitivitasnya terhadap meropenem. Penelitian ini merupakan studi deskriptif yang bersifat cross-sectional. Dari hasil penelitian ditemukan bakteri penyebab sepsis neonatorum adalah Klebsiella sp. (79.2%) diikuti oleh Staphylococcus aureus dan Pseudomonas aerogenosa masing-masing sebanyak (5.7%), E. coli sebanyak (3.8%), Proteus mirabilis, Staphylococcus epidermidis serta Streptococcus alfa hemoliticus masing-masing (1.9%). Persentase sensitivitas bakteri penyebab sepsis neonatorum terhadap meropenem sebesar 77.4%. Disimpulkan bahwa bakteri penyebab terbanyak pada sepsis neonatorum adalah Klebsiella sp dan sensitivitas bakteri terhadap meropenem masih baik.Kata kunci: Sepsis neonatorum, bakteri penyebab, meropenemAbstractSepsis neonatorum is one of the diseases that cause the highest number of deaths in neonatal period. Because clinical manifestations of early onset sepsis neonatorum is not specific, it is quite difficult to differentiate it from other neonatal problems. Meropenem is a third line antibiotics with ultra-broad spectrum. It is widely used in many installations at RSUP DR M. Djamil especially in the section of perinatology and Neonatal Intensive Care Unit (NICU) to treat severe infections such as sepsis. This research was conducted from June 2013 until December 2013 at Medical Record Section of RSUP DR M. Djamil Padang. The goal of this research is to discover which bacterium causes sepsis neonatorum and its sensitivity to meropenem. This research is a cross-sectional descriptive study. According to the research result, bacteria that cause sepsis neonatorum are Klebsiella sp. (79.2%), Staphylococcus aureus (5.7%), Pseudomonas aerogenosa (5.7%), E. coli (3.8%), Proteus mirabilis (1.9%), Staphylococcus epidermis (1.9%) and Streptococcus alfa hemoliticus (1.9%). These bacteria has 77.4% sensitivity to meropenem. It can be concluded that the bacteria which cause the highest number of sepsis neonatorum cases is Klebsiella sp. and still has good sensitivity to meropenem.Keyword: Sepsis neonatorum, bacteria, meropene
Pengaruh Timbal (Pb) Terhadap Kadar MDA Serum Tikus Putih Jantan
AbstrakTimbal (Pb) merupakan logam berat bersifat toksik yang konsentrasinya di lingkungan saat ini dipandang sebagai zat berbahaya. Pb dalam bentuk senyawa berasal dari pembakaran bahan bakar kendaraan bermotor, emisi industry dan dari penggunaan cat bangunan yang mengandung Pb. Toksisitas Pb menghambat enzim yang berperan sebagai antioksidan dan merusak sel hati.Tujuan studi ini adalah untuk melihat pengaruh timbal (Pb) terhadap kadar malondialdehid (MDA) tikus putih jantan. Desain penelitian ini adalah eksperimental menggunakan 25 ekor tikus putih jantan yang dibagi menjadi lima kelompok, yaitu kelompok kontrol, dan kelompok perlakuan dengan pemberian Pb asetat dengan dosis konsentrasi 5, 10, 20 dan 40 mg/kg BB selama 26 hari.Hasil penelitian menunjukkan terjadinya peningkatan rerata kadar MDA serum secara bermakna (p < 0,05), setelah pemberian Pb asetat selama 26 hari. Peningkatan kadar MDA secara bermakna terjadi antara kelompok kontrol dibandingkan dengan kelompok tikus yang diberi dosis 5, 10, 20 dan 40 mg/kg BB.Kesimpulan yang dapat diambil dari studi ini adalah bahwa pemberian Pb asetat meningkatkan kadar MDA serum tikus.Kata kunci: Pb asetat, MDAAbstractLead (Pb) is atoxi cheavy metal concentrationsin the environment are now seenas a dangerous substance. Pb in the form of compounds derived from burningmotor vehicle fuel. Pb toxicityinhibitsan enzyme that acts as an antioxidant and liver cell damage.The purpose of this study was to observe the effect of lead (Pb) on levels of malondialdehyde (MDA) male whiterats. Experimental research design was used 25 white male rats were divided into five groups, namely the control group and the group treated with the administration of Pb acetate at a dose concentration of 5, 10, 20, and 40 mg / kg body weight for 26 days.The results showed an average increase in level of MDA, after administration of Pb acetate for 26 days were significantly (p <0.05). Increase in level of MDA of serum were significantly (p <0.05) occurred between the control group compared with the group of mice given a dose of 5, 10, 20 and 40 mg / kg bw.The conclusion from this study is that the administration of Pb acetate can increase the level of MDA serum mice.Keywords: Pb acetate, MD
Augmentasi Silikon pada Hidung Pelana
AbstrakHidung pelana merupakan salah satu tantangan dalam bedah rinoplasti. Hidung pelana dapat disebabkan oleh beberapa faktor seperti trauma, infeksi dan iatrogenik. Pembedahan bertujuan untuk mengoreksi kelainan bentuk fisiologi serta meningkatkan aspek estetik dan emosional. Metode: Satu kasus hidung pelana pada anak perempuan usia 14 tahun yang yang telah ditatalaksana dengan rinoplasti eksterna dan augmentasi silikon. Hasil: Terdapat perbaikan kosmetik pada hidung pelana. Diskusi: Tujuan utama penatalaksanaan hidung pelana adalah meningkatkan penampilan hidung dengan mempertahankan fungsi hidung.Kata kunci: hidung pelana, rinoplasti eksterna, silikonAbstractSaddle nose is one of the most challenging in all of rhinoplasty surgery. Saddle nose may be caused by many factors: traumatism, infection and iatrogenic. Surgical intervention is required to correct the anatomic and physiologic disorder andd improve the aesthetic and emotional aspect. Methods: A case of saddle nose in a 14 years olg girl had been treated by external rhinoplasyi and augmentation of of silicone. Results: There cosmetic repairs on the saddle nose . Discussion: The main objective the management of saddle nose was to improve the appearance of the nose and maintain nasal function.Keywords: saddle nose, open rhinoplasty, silicon
Hubungan Berbagai Faktor Risiko Terhadap Kejadian Penyakit Jantung Koroner Pada Penderita Diabetes Melitus Tipe 2
AbstrakPenyebab mortalitas dan morbiditas utama pada pasien diabetes mellitus (DM) tipe 2 adalah penyakit jantung koroner (PJK) dimana penderitanya dua sampai empat kali lebih berisiko terkena penyakit jantung dari pada non DM. Mekanisme terjadinya PJK pada DM tipe 2 dikaitkan dengan adanya aterosklerosis yang dipengaruhi oleh berbagai faktor. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan berbagai faktor risiko terhadap kejadian PJK pada penderita DM tipe 2. Penelitian dilaksanakan di RSUP. Dr. M. Djamil Padang dan RS. Khusus Jantung Sumbar pada bulan Maret-Agustus 2013. Penelitian bersifat analitik dengan desain cross sectional comparative. Jumlah sampel 176 orang yang terdiri dari 88 orang penderita DM dengan PJK dan 88 orang DM tanpa PJK. Pengolahan data dilakukan dengan uji chi-square menggunakan sistem komputerisasi. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian PJK pada penderita DM tipe 2 adalah jenis kelamin (p=0,000), lama menderita DM (p=0,043), hipertensi (p=0,007), dislipidemia (p=0,000), obesitas (p=0,023), dan merokok (p=0,000). Kesimpulan: Terdapat hubungan yang sangat bermakna (p<0,0001) antara jenis kelamin, dislipidemia, dan merokok dengan kejadian PJK pada penderita DM tipe 2 dan terdapat hubungan yang bermakna (p<0,05) antara lama menderita DM, hipertensi, obesitas dengan kejadian PJK pada penderita DM tipe 2.Kata kunci: DM tipe 2, PJK, faktor risikoAbstractThe main causes of mortality and morbidity in type 2 diabetes mellitus (DM) patients is coronary heart disease (CHD) which adults who suffer from DM are two to four times have the risk of heart disease than people without DM. The mechanism of CHD in DM is associated with the presence of atherosclerosis that influenced by various factors. This research has aims to determine the relationship of risk factors for CHD incident in patients with DM. The study was conducted in the Dr. M. Djamil Padang and Cardiac Hospital of West Sumatra from March to August 2013. This research is an analytic study with comparative cross-sectional design. There are 176 DM patient samples that consist of 88 CHD patients and 88 patients without CHD. The data processing used chi-square test by computerized system. The result showed that risk factors that were related with CHD incident in DM patients are gender (p=0,000), long-suffering diabetes (p=0,043), hypertension (p=0,007), dyslipidemia (p=0,000), obesity (p=0,023), and smoking habit (p=0,000). Conclusion: There are marked significant (p<0,0001) relationship between gender, dyslipidemia, and smoking habit with CHD incident in DM patients and significant relationship (p<0,05) between long-suffering diabetes, hypertension, and obesity with CHD incident in DM patients.Keywords: type 2 diabetes mellitus, CHD, risk facto
Gambaran Hitung Jenis Leukosit pada Pasien Penyakit Paru Obstruktif Kronik yang Dirawat di RSUP Dr. M. Djamil Padang
AbstrakPenyakit paru obstruktif kronik (PPOK) ditandai oleh adanya hambatan aliran udara yang irreversibel dan bersifat progresif. Asap rokok, polusi udara, dan infeksi berulang pada saluran napas akan mengaktivasi makrofag alveolus dan melepaskan mediator inflamasi yang merangsang progenitor granulositik dan monositik di sumsum tulang sehingga mempengaruhi hitung jenis leukosit pada darah tepi. Faktor lain yang dapat mempengaruhi hitung jenis leukosit pada pasien PPOK adalah adanya penyakit penyerta. Desain penelitian ini adalah retrospektif deskriptif terhadap data rekam medik 69 orang yang dirawat di bagian paru dan penyakit dalam RSUP dr. M. Djamil Padang. Hasil penelitian menunjukkan pasien PPOK tanpa penyakit penyerta (n=9) memiliki nilai rata-rata hitung jenis basofil 0±0%, eosinofil 1,22±1,2%, neutrofil batang 3,33±2,5%, neutrofil segmen 79,56±9,26%, limfosit 13,67±6,55%, dan monosit 2,22±2,44%. Pada pasien PPOK dengan penyakit penyerta infeksi (n=41) didapatkan nilai rata-rata hitung jenis basofil 0±0%, eosinofil 1,02±1,59%, neutrofil batang 1,98±2,63%, neutrofil segmen 81,07±8,44%, limfosit 12,83±6,68%, dan monosit 3,1±2,71%. Pada pasien PPOK dengan penyakit penyerta non infeksi (n=19) didapatkan nilai rata-rata hitung jenis basofil 0±0%, eosinofil 2,16±5,65%, neutrofil batang 2,16±1,77%, neutrofil segmen 79,0±10,44%, limfosit 14,16±8,03%, dan monosit 2,53±1,87%. Penelitian ini memperlihatkan pasien PPOK tanpa penyakit penyerta, dengan penyakit penyerta infeksi, dan dengan penyakit penyerta non infeksi mengalami neutrofilia dan limfositopenia.Kata kunci: PPOK, hitung jenis leukositAbstractChronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD) characterized by airflow obstruction that is irreversible and progressive. Cigarette smoke, air pollution, and recurrent infections in the respiratory tract can activates alveolar macrophages to release inflammatory mediators that stimulate granulocytic and monocytic progenitors in the bone marrow that can affect leukocyte counts in peripheral blood. Other factors that can also affect leukocyte count in COPD patients is the presence of comorbidities. The design of this study was descriptive retrospective from medical record of 69 people with COPD who were treated at the lungs and internal medicine department of dr. M. Djamil Hospital Padang. The result of this study show in COPD patients without comorbidities (n=9) average value of basophil counts 0±0%, eosinophils 1.22±1.2%, neutrophils rod 3.33±2.5%, neutrophils segment 79.56±9.26%, lymphocytes 13.67±6.55%, and monocytes 2.22±2.44%. COPD patients with infectious comorbidities (n=41) obtained average value of basophil counts 0±0%, eosinophils 1.02±1.59%, neutrophils rod 1.98±2.63%, neutrophils segment 81.07±8.44%, lymphocytes 12.83±6.68%, and monocytes 3.1±2.71%. In COPD patients with non-infectious comorbidities (n=19) obtained average value of basophil counts 0±0%, eosinophils 2.16±5.65%, neutrophils rod 2.16±1.77%, neutrophils segment 79.0±10.44%, lymphocytes 14.16±8.03%, and monocytes 2.53±1.87%. This study shows that COPD patients without comorbidities, with infectious, and with non-infectious comorbidities obtained neutrophilia and lymphocytopenia.Keywords:COPD, differential leukocyte coun
Hubungan Tingkat Pengetahuan dan Sikap dengan Tindakan Pencegahan Osteoporosis pada Wanita Usila di Kelurahan Jati
AbstrakOsteoporosis menjadi masalah kesehatan yang serius di Indonesia dan dunia. Laporan WHO, dianggarkan bahwa setiap 1 dari 3 wanita kecenderungan terkena osteoporosis, pada usia diatas 45 tahun percepatan proses penyakit ini pada wanita meningkat menjadi 80%. Osteoporosis dapat dicegah dari dini, tingkat pengetahuan dan sikap yang dimiliki seseorang mempengaruhi prilakunya.Penelitian ini bertujuan untuk menentukan apakah terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan dan sikap dengan tindakan pencegahan osteoporosis. Jenis penelitian ini adalah studi observasional dengan desain cross sectional. Populasi penelitian adalah wanita usila ≥60 tahun yang bertempat tinggal di Kelurahan Jati Kecamatan Padang Timur.Sampel diambil sebanyak 96 orang dengan metode Systemic Random Sampling. Data dikumpulkan dengan kuesioner untuk mengetahui tingkat pengetahuan dan sikap tentang osteoporosis dan tindakan pencegahan yang dilakukan. Data diolah dengan uji statistik chi square menggunakan program SPSS. Hasil analisis univariat diperoleh tingkat pengetahuan osteoporosis wanita usila baik (87,5%) tingkat pengetahuan kurang (12,5%), sikap tentang osteoporosis baik (86,5%) sikap kurang (13,5%), tindakan pencegahan baik (88,5%) tindakan pencegahan kurang (11,5%). Hasil analisis bivariat menunjukkan terdapat hubungan bermakna antara tingkat pengetahuan dengan tindakan pencegahan wanita usila di Kelurahan Jati (p=0,004) dan terdapat hubungan bermakna antara sikap dengan tindakan pencegahan wanita usila di Kelurahan Jati (p=0,001).Penelitian ini memperlihatkan bahwa terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan, sikap dengan tindakan pencegahan osteoporosis pada wanita usila di Kelurahan Jati Kecamatan Padang Timur.Kata kunci: tingkat pengetahuan, sikap, tindakan pencegahan, osteoporosisAbstractOsteoporosis is a serious health problem in Indonesia and the world. WHO reports, budgeted that every 1 in 3 women prone to osteoporosis, at the age of over 45 years of accelerating the disease process in women increased to 80%. Osteoporosis can be prevented from early, the level of knowledge and attitude of a person affects his behavior. This study aimed to determine whether there is a relationship between the level of knowledge and attitudes with osteoporosis preventive measures.The study was an observational study with cross-sectional design. The study population was elderly women ≥ 60 years who reside in the Village of Jati, East Padang district. Samples were taken as many as 96 people with Systemic random sampling method. Data were collected with a questionnaire to determine the level of knowledge and attitudes about osteoporosis and preventive measures undertaken. Data processed by the chi-square statistical tests using SPSS.Results of univariate analysis level of knowledge obtained both elderly osteoporotic women (87.5%) level of knowledge is less (12.5%), good attitudes about osteoporosis (86.5%) less attitude (13.5%), good preventive measures (88,5%) less precautions (11.5%). Results of bivariate analysis showed a significant relationship exists between the level of knowledge of the precautions elderly woman in the village of Jati (p = 0.004 ) and there is a significant relationship between the attitude of the precautions elderly woman in the village of Jati (p = 0.001).This study shows that there is a relationship between the level of knowledge, attitudes and preventive measures of osteoporosis in elderly women in the village of Jati, East Padang DistrictKeywords:Level of knowledge, behavior, preventive measure, osteoporosi
Perbedaan Sensitivitas Kuman Pseudomonas Aeruginosa Penyebab Infeksi Nosokomial Terhadap Beberapa Antibiotika Generik dan Paten
AbstrakInfeksi nosokomial adalah infeksi yang didapat di rumah sakit, terjadi sesudah 72 jam perawatan pada pasien rawat inap dan bisa juga pada pasien yang dirawat lebih lama dari masa inkubasi suatu penyakit. Menurut penelitian, salah satu kuman penyebab infeksi nosokomial adalah Pseudomonas aeruginosa. Tingginya biaya kesehatan yang bersumber dari obat sebenarnya bisa ditekan secara signifikan jika pasien menggunakan obat generik. Namun telah terjadi salah persepsi di kalangan masyarakat luas bahwa obat generik adalah obat kelas dua yang khasiatnya kurang dibandingkan dengan obat paten. Beberapa penelitian juga sudah membuktikan bahwa efektivitas dari obat generik dan paten adalah sama. Tujuan penelitian ini untuk melihat dan membandingkan zona bebas kuman Pseudomonas aeruginosa penyebab infeksi nosokomial setelah pemberian antibiotika generik dan paten.Penelitian telah dilaksanakan pada bulan Juni 2013 - Desember 2013 di Laboratorium Mikrobiologi Universitas Andalas. Penelitian menggunakan 24 sampel biakan kuman P. aeruginosa dari pasien infeksi nosokomial di RSUP dr. M. Djamil Padang yang ditentukan berdasarkan rumus simple random sampling menggunakan metode difusi cakram Kirby-Bauer dan dihitung zona bebas kuman terhadap 4 antibiotika generik dan paten yang diuji.Dari hasil penelitian ditemukan amoxicillin dan eritromisin generik dan paten tidak menghasilkan zona bebas kuman, zona bebas kuman dari 3 sampel yang diuji dengan kloramfenikol generik lebih besar daripada yang paten sedangkan 21 sampel sisanya sebaliknya, dan zona bebas kuman dari 8 sampel yang diuji dengan siprofloksasin generik lebih besar daripada yang paten sedangkan 16 sampel sisanya sebaliknya.Setelah dilakukan analisis statistik menggunakan SPSS dengan uji T-test independen menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang bermakna antara sensitivitas kuman Pseudomonas aeruginosa penyebab infeksi nosokomial terhadap kloramfenikol dan siprofloksasin generik dan paten. Sedangkan resistensi yang terjadi pada amoxicillin dan eritromisin diduga dipengaruhi oleh pemberian antibiotik.Kata kunci: Pseudomonas aeruginosa, infeksi nosokomial, sensitivitas, antibiotika generik dan patenAbstractNosocomial infections are infections acquired in hospitals, occurred after 72 hours of treatment in hospitalized patients and could also in patients treated for longer than the incubation period of a disease. According to research, one of the causative organism of nosocomial infection is Pseudomonas aeruginosa. The high cost of health care is actually derived from the drug can be suppressed significantly if patients use generics. But, there has been a wrong perception among the public that generic drugs are the properties of two classes of drugs less than branded name medicine. Some of studies proved that the effectiveness of generic drugs and patent are the same. The goal was to see and compare the germ-free zone of Pseudomonas aeruginosa causing nosocomial infection after given the antibiotics generic and branded name. The experiment was conducted from June 2013 to December 2013 at the Microbiology Laboratory of the Andalas University. The experiment used 24 sample of P. aeruginosa from nosocomial infection patient in RSUP Dr. M. Djamil Padang that determinded by simple random sampling formula and used Kirby-Bauer diffusion method then counted the free zone germ towards 4 antibiotics generic and branded name. From the results founded that generic and branded name of amoxicillin and erythromycin did not have results of germ-free zone, the germ-free zone of 3 sample that tested with generic kloramfenikol is bigger than the branded name and the less are the other way and the germ-free zone of 8 sample that tested with generic siprofloksasin is bigger than the branded name and the less are the other way.After doing statistical analysis using SPSS through the independent T-test showed that there was no significant difference between the sensitivity of Pseudomonas aeruginosa causes of nosocomial infections between generic and branded name of chloramphenicol and ciprofloxacin. Whereas about the resistance in amoxicillin dan eritromisin assumed because the influenced by irrasional antibiotics given in hospital and the prescription from the doctor.Keywords: Pseudomonas aeruginosa, nosocomial infection, sensitivity, generic and branded name antibioti