Jurnal Kesehatan Andalas
Not a member yet
    1143 research outputs found

    Hubungan Kadar LDL dan HDL Serum Ibu Hamil Aterm dengan Berat Lahir Bayi

    Get PDF
    AbstrakAda anyak penelitian yang membuktikan transfer kolesterol dari ibu ke janin melalui lapisan trofoblas yang membawa partikel LDL (Low Density Lipoprotein) dan HDL (High Density Lipoprotein). Pengambilan dan pemanfaatan LDL oleh plasenta merupakan mekanisme alternatif oleh janin untuk memperoleh asam lemak dan asam amino esensial. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan kadar LDL dan HDL serum ibu hamil aterm dengan berat lahir bayi. Penelitian ini merupakan studi observasional dengan rancangan cross sectional. Dilakukan pemeriksaan kadar LDL dan HDL serum terhadap 31 sampel ibu hamil aterm yang dipilih secara consecutive sampling, kemudiaan saat bayi dari sampel lahir dilakukan penimbangan berat lahir bayi dalam 1 jam setelah lahir dengan keadaan tanpa pakaian. Data dianalisis menggunakan uji korelasi Pearson dilanjutkan dengan uji regresi linier sederhana, nilai p<0.05 dianggap bermakna secara statistik. Rerata kadar LDL serum ibu hamil aterm 138,52±37,86 mg/dl dengan 7 sampel (22,60%) kadar LDL <101 mg/dl. Rerata kadar HDL serum ibu hamil aterm 53,32±17,39 mg/dl dengan 13 sampel (41,90%) kadar HDL <48 mg/dl. Rerata berat lahir bayi 3150,00±489,89 gram dengan 2 sampel (6,50%) memiliki bayi dengan berat<2500 gram. Terdapat hubungan positif antara kadar LDL serum ibu hamil aterm dengan berat lahir bayi, kekuatan hubungan lemah (r=0,258), secara statistik tidak bermakna (p=0,161). Terdapat hubungan positif antara kadar HDL serum ibu hamil aterm, kekuatan hubungan sangat lemah (r=0,035), secara statistik tidak bermakna (p=0,850). Kesimpulan penelitian tidak terdapat hubungan kadar LDL dan HDL serum ibu hamil dengan berat lahir bayi.Kata kunci: kadar LDL serum, kadar HDL serum, ibu hamil aterm, berat lahir bayiAbstractMany studies proved that the transferring of cholesterol from mother to fetus through the trophoblastic layer carried LDL (Low Density Lipoprotein) and HDL (High Density Lipoprotein) particles. Uptake and usage of LDL by placenta to the fetus is an alternative mechanism to obtain fatty acids and essential amino acids. The objective of this study was to determine whether there is a relationship between LDL and HDL serum level of pregnant women at term with infant birth weight. This study was an observational study with cross sectional design. Examination of LDL and HDL serum level to 31 term pregnancy sample choose by consecutive sampling, and then infant’s birth weight was counted within 1 hour after birth without clothes. The data analyzed with Pearson correlation statistical test followed by simple linier regression statistical test. The mean of LDL serum level term pregnancy was 138,52±37,86mg/dlwith7 samples(22.60%) in LDL levels<101 mg/dl. The mean of HDL serum level at term pregnancy was 53,32±17,39 mg/dlwith 13 samples (41,90%) in HDL levels<48 mg/dl. The mean of infant birth weight was 3150,00±489,89 grams with 2 samples (6,50%) had infants weighing < 2500 grams. There is a positive relationship between LDL serum levels term pregnancy with birth weight infants, the strength of the relationship is weak (r =0,258), were not significant statistically (p=0,161). There is a positive relationship between HDL serum levels at term pregnancy with birth weight infants, the strength ofthe relationshipis veryweak(r =0,035), were not significant statistically (p=0,850). In conclusion there was no correlation of serum levels of LDL and HDL at term pregnant with birth weight

    Gambaran Karakteristik Ibu Hamil pada Persalinan Preterm di RSUP Dr. M. Djamil Padang Tahun 2012

    Get PDF
    AbstrakAngka kematian bayi di Indonesia menurut Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 2002-2003 sebanyak 57% terjadi pada umur dibawah 1 bulan. Persalinan preterm merupakan salah satu penyebab kematian bayi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran karakteristik ibu hamil pada persalinan preterm di RS. Dr. M. Djamil Padang pada tahun 2012. Ini merupakan penelitian deskriptif dengan mengambil data bulan Januari - Desember 2012. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu yang melahirkan preterm sebanyak 72 orang. Sampel yang digunakan adalah total populasi. Data yang dikumpulkan adalah data sekunder. Alat ukur dalam penelitian ini adalah checklist dengan melihat catatan rekam medik pasien, analisis yang di gunakan adalah univariat. Hasil penelitian didapatkan persalinan preterm yang terbanyak adalah ibu hamil berusia 20-35 tahun (65,28%), paritas risiko tinggi (55,56%), jarak persalinan <2 tahun (61,11%), memiliki pendidikan tinggi (80,56%), mengalami anemia (76,39%), dan tidak melakukan kunjungan antenatal dengan lengkap (72,22%). Kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian ini adalah bahwa persalinan preterm dapat dipengaruhi oleh faktor usia, paritas, jarak persalinan, pendidikan, anemia dan tingkat kunjungan antenatal.Kata kunci: persalinan preterm, karakteristik ibu hamil, faktor risiko persalinan pretermAbstractIndonesia infant mortality rate in Indonesia Demographic and Health Survey 2002 – 2003 occurs in as many as 57% under the age of 1 month. Preterm labor is one of the causes of infant mortality. The purpose of this study was to know the characteristic of pregnant women in preterm labor at Dr. M. Djamil Padang Hospital in 2012. This research used a descriptive method based on the data from January to December 2012. The population in this study were all of mother who delivered preterm were 72 people. The sample that had been used was the total value of population. The data that had been gathered was a secondary data. Checklist was used as a measuring intrument based on the medical record of the patient. Univariate was used as an analytical approach. The result shows that most preterm delivery are pregnant women aged 20 – 35 years (65,28%), high risk parity (55,56%), birth spacing <2 years (61,11%), have a high education (80,56%), some of them are anemic (76,39%), and no complete antenatal visits (72,22%). Conclusion from this study is that preterm labor may be influenced by factors of age, parity, birth spacing, education, anemia, and levels of antenatal visits. Keywords : preterm labor, characteristics of pregnant women, preterm labor risk facto

    Gambaran Kejadian Hemoptisis pada Pasien di Bangsal Paru RSUP Dr. M. Djamil Padang Periode Januari 2011 – Desember 2012

    Get PDF
    AbstrakHemoptisis adalah ekspektorasi darah yang berasal dari saluran pernafasan bagian bawah dengan jumlah minimal hingga masif yang dapat membahayakan jiwa. Etiologi hemoptisis seperti infeksi, neoplasma dan kelainan kardiovaskular berbeda kekerapannya di berbagai negara. Di Indonesia dan negara berkembang lainnya, tuberkulosis paru merupakan penyebab utama hemoptisis. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran kejadian hemoptisis pada pasien di bangsal paru RSUP Dr. M. Djamil Padang periode Januari 2011 – Desember 2012. Metode yang digunakan adalah deskriptif secara retrospektif menggunakan data rekam medis pasien rawat inap dengan hemoptisis di bangsal paru RSUP Dr. M. Djamil Padang periode Januari 2011 – Desember 2012. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sejak Januari 2011 – Desember 2012 terdapat 103 kejadian hemoptisis dan prevalensi kejadiannya sebesar 3,6%. Sebagian besar pasien dengan hemoptisis adalah laki-laki (65%) dengan kelompok usia terbanyak yaitu 31 – 40 tahun. Sementara distribusi frekuensi pasien dengan hemoptisis berdasarkan riwayat pendidikan terbanyak yaitu tamat SLTA (32%), berdasarkan pekerjaan adalah ibu rumah tangga (29,1%) dan sebagian besar berdomisili di Kota Padang. Klasifikasi hemoptisis terbanyak adalah hemoptisis sedang (34%) dengan etiologi utama tuberkulosis paru (47,6%). Pada penelitian ini didapat angka kematian pasien sebesar 6,8% dari total kejadian hemoptisis.Kata kunci: hemoptisis, prevalensi, tuberkulosis AbstractHemoptysis is expectoration of blood from the lower respiratory tract that varies in amount of blood from small amount to the massive amount and can become threaten of life. The etiology of hemoptysis such as infection, neoplasm and cardiovascular disorder are vary over the world. In Indonesia and other developed countries, pulmonary tuberculosis is a main etiology of hemoptysis. The purpose of this study is to determine the profile of hemoptysis among patients admitted in Pulmonary Department of Dr. M. Djamil Hospital Padang period January 2011 – December 2012. This research was a descriptive survey based on retrospective study design that reviewed the medical record of hospitalized patients with hemoptysis in Pulmonary Department of Dr. M. Djamil Hospital period January 2011 – December 2012. The result has shown that since January 2011 – December 2012 there were 103 patients with hemoptysis, and the prevalence of hemoptysis is 3.6%. Most of patients with hemoptysis are male (65%) with highest frequency distribution based on age group of patients is 31 – 40 years old. While the highest frequency distribution based on patients’ history of education is high school diploma (32%), based on patients’ profession is housewife (29.1%) and most of patients live in Padang. Moderate hemoptysis (34%) were the highest frequency distribution based on classification of hemoptysis, with pulmonary tuberculosis as the main etiology (47.6%). Mortality rate of patients with hemoptysis in this study was 6,8% of all hemoptysis cases.Keywords: hemoptysis, prevalence, tuberculosi

    Pengaruh Hiperglikemia terhadap Gambaran Histopatologis Pulau Langerhans Mencit

    Get PDF
    AbstrakDiabetes mellitus menjadi ancaman global yang bersifat serius dengan prevalensi yang terus meningkat. Banyaknya teori patogenesis dan perjalanan penyakit yang melibatkan interaksi kompleks banyak faktor menyebabkan pendekatan terapi diabetes masih berpusat pada tindakan preventif dan diagnosis diabetes ditegakkan sepenuhnya dari ada atau tidaknya hiperglikemia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh hiperglikemia terhadap gambaran histopatologis pulau Langerhans mencit. Dua puluh empat (24) mencit Swiss Albino jantan dibagi dalam empat kelompok: satu kelompok kontrol (K) dan tiga kelompok perlakuan (G1, G2, G3). Kelompok perlakuan diinduksi untuk mengalami hiperglikemia melalui pemberian glukosa intraperitoneal dengan dosis berbeda (G1=2g/kgBB, G2=4g/kgBB, G3=6g/kgBB) selama 14 hari. Hasil analisis morfometrik menunjukan bahwa luas dan diameter pulau Langerhans meningkat pada kelompok G1 (p<0.01) namun menurun pada kelompok G2 (p<0.01) dan G3 (p<0.05). Jumlah sel endokrin pulau Langerhans meningkat pada kelompok G2 (p<0.05) dan G3 (p<0.01). Akan tetapi, tidak ada perbedaan yang bermakna pada jumlah sel endokrin pulau Langerhans pada kelompok K dan G1 (p>0.05). Densitas pulau Langerhans meningkat pada seluruh kelompok perlakuan (p<0.05) melalui mekanisme neogenesis. Kesimpulan penelitian ini adalah hiperglikemia yang diinduksi lewat pemberian glukosa secara intraperitoneal menyebabkan perubahan yang signifikan pada gambaran histopatologis pulau Langerhans mencit.Kata kunci: hiperglikemia, pulau Langerhans, gambaran histopatologisAbstractDiabetes mellitus become a serious health threat which prevalence have been increasing steadily all over the world. With complex interactions of risk factors on the disease, therapeutic approach of diabetes still centered on preventive measures and diagnosis was made entirely from the presence of hyperglycemia. The objective of this study was to determine the effect of hyperglycemia on histopathological features of islet of Langerhans, we examined pancreatic tissues from 24 male Swiss Albino mice: 6 control (K) and 18 glucose-treated mice with 3 different doses (G1=2g/kg, G2=4g/kg, G3=6g/kg) for 14 days to induce hyperglycemia. Morphometric analysis of islet of Langerhans on H&E-stained pancreatic sections showed that the islet area and diameter were increased in group G1 (48607.13 μm2 and 240713.25 nm, respectively; p<0.01) but decreased in group G2 (5471.42 μm2 and 81170.83 nm, p<0.01) and G3 (4628.07 μm2 and 74730.86 nm, p<0.05). The islet cells count was increased in group G2 (210.33 ± 18.66 cells/islet, p<0.05) and G3 (264.17 ± 75.52 cells/islet, p<0.01). However, there was no significant difference on islet cells count between group K and group G1 (p>0.05). Islet density was slightly increased in all treated group (p<0.05) through mechanism of neogenesis. The result suggest that hyperglycemia induced by administration of different doses of glucose intraperitoneally for 14 days caused significant changes in histopathological features of mice pancreatic islet.Keywords: hyperglycemia, islet of Langerhans,histopathologic feature

    Hubungan Status Gizi dengan Prestasi Belajar pada Siswa –Siswi SMA Negeri 1 Padang Tahun Ajaran 2013/2014

    Get PDF
    AbstrakKeberhasilan pembangunan nasional ditentukan oleh ketersediaan sumber daya manusia yang sehat dan cerdas. Remaja sebagai asset bangsa membutuhkan gizi yang cukup untuk menunjang prestasi dan produktifitas mereka dalam beraktifitas. Status gizi merupakan salah satu faktor yang berkaitan erat dengan tingkat prestasi siswa. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat hubungan status gizi dan prestasi belajar siswa SMA Negeri 1 Padang. Penelitian ini menggunakan desain studi potong lintang (cross sectional study) dengan populasi seluruh siswa kelas X dan XI SMA Negeri 1 Kota Padang. Jumlah subjek sebanyak 87 orang. Data primer berupa berat badan dan tinggi badan serta data sekunder berupa nilai rapor semester 1 (satu). Data dianalisis menggunakan uji korelasi Pearson. Berdasarkan pengukuran Indeks Massa Tubuh (IMT), diketahui sebagian besar subjek mempunyai status gizi normal sebanyak 44 orang (50,6%). Lebih dari separoh subjek memiliki prestasi baik yaitu sebanyak 48 orang (55,2%). Pada penelitian ini tidak terdapat hubungan yang bermakna antara status gizi dengan prestasi belajar. Namun, prosedur yang digunakan pada penelitian ini tidak dapat mengekslusi faktor-faktor lain selain status gizi yang mempengaruhi prestasi siswa.Kata Kunci: status gizi, prestasi belajar, remajaAbstractThe successfulness of national development is determined by the availability of human resources. Teenagers as a national asset need adequate nutrient to support their achievement and productivity. Nutritional status is one factors that is closely related to student academic achievement. The purpose of this research is to examine the relationship betweennutritional status and academic achievement of students of Senior High School Number1 Padang (SMAN1 Padang).This research is cross-sectional study. The population is students year X and XI SMA Negeri1 Padang. Number of sample is 87 students. Primary data was weight and height of students while secondary data wasstudent score of first semester which is analyzed by Pearson correlation test. Student’s Body Mass Index (BMI) shows that most students had normal nutritional status (50,6%). More than half the sample had good academic achievement (55,2%). The findings suggest that there was no significant correlation between nutritional status and student academic achievement. However, the methods applied in this research failed to exclude other confounding factors influencing academic achievement.Keywords: nutritional status, academic achievement, adolescent

    Perbandingan Fungsi Extremitas Atas pada Fraktur Metafise Distal Radius Intraartikuler Usia Muda Antara Tindakan Operatif Dan Non Operatif dengan Penilaian Klinis Quickdash Score

    Get PDF
    AbstrakFraktur metafise distal radius merupakan fraktur dengan insiden tertinggi kedua pada usia tua di luar fraktur daerah panggul. Di Rumah Sakit Dr. M. Djamil Padang terdapat 122 dari 612 kasus fraktur radius, antara Januari 2011 – Juni 2012. Tujuan utama terapi ini adalah pengembalian permukaan sendi ke posisi anatomis dengan fiksasi yang stabil dan pengembalian fungsi extremitas atas semaksimal mungkin. Metode: Penelitian ini berupa penelitian retrospektif yang dilakukan di poliklinik orthopaedi RSUP Dr M Djamil Padang pada bulan November-Desember 2012 pada pasien fraktur metafise distal radius intraartikuler usia muda yang mendapat tindakan operatif dibandingkan dengan kelompok non-operatif dengan penilaian klinis Quick DASH Score. Sampel yang digunakan sebanyak 30 orang dari 55 orang yang memenuhi kriteria inklusi. Hasil: Ada hubungan yang bermakna antara fungsi extremitas atas dengan penilaian Quick DASH Score antara tindakan operatif pada fraktur distal radius intraartikuler usia muda dengan tindakan non-operatif (p Fisher = 0,010). Tidak terdapat hubungan bermakna antara Quick DASH Score dengan jenis kelamin dan diagnosa kanan atau kiri. Pembahasan: Terdapat perbedaan yang bermakna antara pasien fraktur metafise distal radius intraartikuler pada usia muda yang mendapat tindakan operatif berupa ORIF dengan yang mendapatkan tindakan non-operatif berupa pemasangan Gips.Kata kunci: Fraktur Metafise Distal Radius, Tindakan Operatif dan Non Operatif, Quick Dash ScoreAbstractFracture metafise distal radius is fracture with second highest incident on old age besides a fracture in the pelvic area. In the Dr. M. Djamil Hospital found 122 from 612 cases fracture of radius from january 2011 to june 2012. The main purpose therapy is restore the joint in the surface position anatomically by fixation a stable and restore the function upper extremitas over their best. Method: This study is a retrospective conducted at the Orthopaedi clinic of Dr M Djamil Hospital in November-December 2012 on young age patinet with the distal radius metafise intrartikular fracture who got the operative treatment in compare with non-operative groups with clinical assessment Quick Dash Score. The sample used is 30 people from 55 people who meet criteria for inclusion. Result: There is meaningful relationship the function upper extremitas with Quick Dash Score a distal radius fracture actions on intraartikuler at a young age that got an operative treatment and non-operative (p Fisher = 0,010 S). There is not meaningful relationships between Quick Dash Score with gender and diagnosis right or left. Discussion: There is significant difference between patients of intraarticuler radius distal metafise fractur who get operatif treatment, such as ORIF and the pasients who get non-operatif treatment, such as Gips.Keywords: Metafise Distal Radius Fracture, Operatif and Non Operatif Treatment, Quick Dash Scor

    Pengaruh Lamanya Pemberian Citicoline dalam Memperbaiki Retinal Nerve Fiber Layer (Rnfl) dan Lapang Pandangan pada Primary Open Angle Glaucoma (Poag)

    Get PDF
    AbstrakTujuan penelitian ini adalah untuk menilai pengaruh lamanya pemberian citicoline dalam memperbaiki kualitas RNFL dan lapang pandangan pada POAG. Penelitian ini dilakukan pada pasien POAG yang datang dari bulan September 2010 – Januari 2011 dengan tehnik consecutive sampling. Semua subjek penelitian yang sudah diskrining dilakukan pemeriksaan OCT dan perimetri segera sebelum pemberian citicoline, pemeriksaan ulangan dilakukan setelah 10 hari pertama, 10 hari kedua, dan 10 hari ketiga pemberian citicoline. Dari penelitian ini didapatkan perbaikan ketebalan RNFL dengan pemeriksaan OCT lebih banyak terjadi pada pemberian citicoline selama 10 hari III (45.7%) dibandingkan dengan pemberian 10 hari I (25,7%) dan 10 hari II (42,9%). Perbaikan mean sensitivity lapang pandangan dengan pemeriksaan perimetri lebih banyak terjadi pada pemberian citicoline selama 10 hari III (51,4%) dibandingkan dengan pemberian 10 hari I (32.4%) dan 10 hari II (37.2%). Lama pemberian citicoline sangat berpengaruh meningkatkan ketebalan RNFL dengan pemeriksaan OCT dan mean sensitivity lapang pandangan dengan pemeriksaan perimetri pada pasien POAG dan bermakna secara statistik dengan p=0.000 dan p=0.001Kata kunci: Primary Open Angle Glaucoma, Retinal Nerve Fiber Layer, CiticolineAbstractThe objective of this study was to assessing the influence of duration of citicoline administration in improve the quality of RNFL and visual field in POAG. The study was conducted in patients with POAG who take place in September 2010 - January 2011 with consecutive sampling technique. After screening examination, subjects underwent OCT examination and early perimetry after the administration of citicoline, re-examination were in first 10 days, second 10 days, and third 10 days. RNFL thickness by OCT examination were much more going in citicoline administered for the third 10 days (45.7%) compared with the provision of first 10 days (25.7%) and second 10 day (42.9%). Mean sensitivity improvements with visual field perimetry examination occurs more frequently in the administration of citicoline for the third 10 days (51.4%), compared with 10 days of first administration (32.4%) and second 10 days (37.2%). Length of citicoline administration is influencing of RNFL thickness in OCT examination and improvement of the mean sensitivity of perimetry examination in patients with POAG and statistically significant, each with p = 0.000 and p = 0.001.Keywords: Primary Open Angle Glaucoma, Retinal Nerve Fiber Layer, Citicolin

    Perbandingan Levofloxacin dengan Ciprofloxacin Peroral dalam Menurunkan Leukosituria Sebagai Profilaksis Isk pada Kateterisasi di RSUP. Dr. M. Djamil Padang

    Get PDF
    AbstrakInfeksi saluran kemih (ISK) adalah keadaan ketika kuman tumbuh dan berkembang biak di dalam saluran kemih dalam jumlah yang bermakna. Diagnosis ISK ditegakkan berdasarkan manifestasi klinis bakteriuria dan leukosituria. ISK pasca kateterisasi merupakan penyebab terbesar infeksi nosokomial, dengan sumber kuman bisa dari penyebaran ascending (seperti penggunaan kateter), hematogen maupun limfogen. Antibiotik profilaksis perlu diberikan untuk mencegah infeksi, mengingat tingginya kemungkinan ISK pasca kateterisasi. Flouroquinolon saat ini masih direkomendasikan untuk profilaksis ISK, namun akhir-akhir ini banyak laporan tentang resistensi terhadap golongan ini, terutama ciprofloxacin. Ciprofloxacin adalah golongan fluoroquinolon generasi kedua sedangkan Levofloxacin merupakan generasi ketiga. Di RSUP DR M Djamil, khususnya di SMF Urologi belum ada data mengenai perbandingan keefektifan levofloxacin dan ciprofloxacin ini terhadap profilaksis ISK. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian keefektifan levofloxacin dibandingkan dengan ciprofloxacin dalam menurunkan insiden leukosituria sebagai profilaksis ISK pada pasien yang dipasang kateter Foley. Metode: Subjek diambil dari 30 pasien yang akan dipasang kateter Foley, yang dibagi atas dua kelompok atas 15 pasien. Setelah pemasangan dilakukan urinalisis untuk menentukan kadar leukosit <10/LPB, lalu diberi Levofoloxacin 750 mg dan Ciprofloxacin 750 mg secara oral pada masing-masing kelompok. Tiga hari kemudian dilakukan urinalisis ulang. Hasil Penelitian: Tidak didapatkan perbedaan bermakna dalam kadar lekosit urin antara kedua kelompok baik pada hari pemasangan kateter (p Fisher = 0,159) atau pun tiga hari kemudian (p fisher = 0,097). Penurunan kadar lekosit urin juga tidak bermakna antara kelompok Levofloxacin dan Ciprofloxacin (Chi-square = 1,222; P>5%). Kesimpulan: Tidak terdapat perbedaan keefektifan antara Levofloxacin oral 750 mg dengan Ciprofloxacin oral 750 mg dalam menurunkan insiden leukosituria sebagai terapi profilaksis terhadap ISK pada pasien yang dipasang Foley catheter.Kata kunci: Levofloxacin, Ciprofloxacin, Leukosituria.AbstractUrinary tract infection (UTI) occurred when bacteria grow and multiply in the urinary tract in significant quamtities. The diagnosis of UTI is confirmed by clinical manifestations with bacteriuria and leukocyturia. Post-catheterization UTI is the biggest cause of nosocomial infection, with the bacteria spread in ascending (such as the use of catheter), haematogenous or lymphogenous fashions. Prophylactic antibiotic is needed to prevent infection because the probability of post-catheterization UTI is high. Fluoroquinolone is currently recommended for UTI prophylaxis, however, reports about resistance to it is accumulating, especially ciprofloxacin. Ciprofloxacin is the second generation fluoroquinolone, and the later addition is Levofloxacin as the third generation fluoroquinolone. At RSUP Dr. M. Djamil, notably at the Urology section, no data is available regarding the comparison of the effectiveness between the two generations. It is therefore a research on this efficacy between those antibiotics in lowering the incidence of leukocyturia as the measure to prevent UTI in patients with Foley catheter. Method: Subjects are 30 patients with Foley catheter, divided into two groups of 15 patients each. After insertion of catheter, urinalysis was performed to determine that the lecocyte count was less than 10 per high power field of the microscope, and each group then received either Ciprofloxacin or Levofloxacin, 750 mg orally. Urinalysis was repeated three days after the catheter wa inserted. Results: No significant differnce was found in urinary leucocyte count between the two groups, either on the day cathete was inserted (p Fisher = 0.159) or three days after (p Fisher 0.097). There was no significant difference on the reduction of lucocyte count among the two groups (chi-square = 1.222; P>5%). Conclusion: There was no difference in effectiveness between oraly administered 750 mg Levofloxacin and 750 mg Ciprofloxacin in lowering the incidence of leukocyturia as prophilactic measures against UTI on patients using Foley catheter.Keywords: Levofloxacin, Ciprofloxacin, Leukosituria

    Gambaran Peningkatan Angka Kejadian Gangguan Afektif dengan Gejala Psikotik pada Pasien Rawat Inap di RSJ Prof. Dr. HB. Sa’anin Padang pada Tahun 2010 - 2011

    Get PDF
    AbstrakGangguan suasana perasaan (gangguan afektif atau mood) merupakan sekelompok gambaran klinis yang ditandai dengan berkurang atau hilangnya kontrol emosi dan pengendalian diri. Gangguan afektif dapat berupa depresi, manik atau campuran keduanya (bipolar). Pada beberapa pasien gejala-gejalanya dapat disertai dengan ciri psikotik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran peningkatan angka kejadian gangguan afektif dengan gejala psikotik pada pasien rawat inap di RSJ Prof. Dr. HB. Sa’anin Padang dari tahun 2010 - 2011. Penelitian ini dilakukan pada bulan Mei 2013 - Agustus 2013. Metode penelitian adalah deskriptif dengan jumlah sampel sebanyak 199 orang pada tahun 2010 dan 205 orang pada tahun 2011. Data dikumpulkan melalui bagian rekam medik RSJ Prof. Dr. HB. Sa’anin Padang dan hasil yang didapat disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat peningkatan jumlah pasien gangguan afektif dengan gejala psikotik pada pasien rawat inap dari segi umur, jenis kelamin, pasien dari kota Padang dan luar kota Padang. Total pasien rawat inap gangguan afektif dengan gejala psikotik terhadap seluruh pasien rawat inap di RSJ Prof. Dr. HB. Sa’anin Padang adalah 31,7% (2010) dan 30% (2011) dengan usia terbanyak 20-29 tahun dan laki-laki lebih banyak daripada perempuan. Status perkawinan ditemukan kasus terbanyak pada pasien yang belum menikah dan berasal dari luar kota Padang, pekerjaan terbanyak ditemukan pada pasien yang tidak bekerja, dari segi pendidikan kasus terbanyak adalah pada SLTA-sederajat.Kata kunci: gangguan manik, gejala psikotik, gangguan depresi berat, gangguan afektif tipe campuranAbstractAffective disorder (mood disorder) is group of clinical picture is characterized by reduced or loss of emotional control and self-control. Affective disorders may include depression, manic or mixture of both. In some patients the symptoms may be accompanied by psychotic featured. This study aims to describe the increase in the incidence of affective disorder with psychotic symptoms in patients hospitalized RSJ Prof. Dr. HB. Sa'anin Padang of the year 2010-2011. This study was conducted in May 2013-August 2013. The research method was descriptive with sample of 199 people in 2010 and 205 people in 2011. Data were collected through medical record section RSJ Prof. Dr. HB. Sa'anin Padang and the results are presented in the form of a frequency distribution table. Results of this study indicate that there are an increasing number of affective disorder with psychotic symptoms in hospitalized patients in terms of age, gender, patients from outside the city of Padang and Padang. Total patients affective disorder with psychotic symptoms in patients hospitalized RSJ Prof. Dr. HB. Sa'anin Padang was 31.7% (2010) and 30% (2011) to the age of 20-29 years and the majority of men more than women. Married status of cases found in patients who have not been married and come from outside the city of Padang, most jobs are found in patients who do not work, in terms of education most cases is the high school-equivalent.Keywords:manic disorder, psychotic symptoms, major depressive disorder, affective disorder mixed typ

    Identifikasi Formalin pada Bakso yang Dijual pada Beberapa Tempat di Kota Padang

    Get PDF
    AbstrakKonsumsi makanan cepat saji saat ini telah menjadi kebiasaan makan bagi masyarakat Indonesia. Salah satu makanan cepat saji yang popular adalah bakso, namun saat ini sering dijumpai penggunaan bahan tambahan non pangan di dalam bakso yaitu formalin. Penggunaan formalin sudah dilarang dalam makanan berdasarkan peraturan Menteri Kesehatan No. 1168 tahun 1999, tetapi pada kenyataannya masih ada produsen makanan yang memproduksi makanan mengandung formalin. Salah satu makanan yang sering ditemukan berformalin adalah bakso. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi apakah terdapat formalin pada bakso yang dijual di Kota Padang. 42 sampel yang diidentifikasi diambil dari pedagang bakso gerobak, warung bakso, serta rumah makan franchise di beberapa lokasi dengan jumlah pedagang bakso terbanyak. Pemeriksaan kualitatif dilakukan dengan menggunakan Test Kit Formalin yang terdiri atas cairan pereaksi I dan serbuk pereaksi II. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 20 sampel dari 42 sampel yang diidentifikasi dilaboratorium positif mengandung formalin (47,6%). Bedasarkan hasil yang didapatkan dapat disimpulkan bahwa hampir separuh bakso yang dijual di Kota Padang mengandung formalin.Kata kunci: Bakso, FormalinAbstractNow a days, the consumption of fast food has become an eating pattern for Indonesian. One of the most popular fast food is meatball, but today, we often found that the producents add a non food addition ingredient in the meatball that we call formalin. The use of formalin actually has been prohibited used in food based on the Peraturan Menteri Kesehatan No.1168 tahun 1999, but in fact, there are food producent that produce food with formalin. One of the food is meat ball. The objective of this research is to identifying whether there are formalin in meatballs that sold in padang. 42 samples that identified taken from mobile vendor, meatball restaurant and franchise restaurant in several locations with the greatest numbers of meatball seller. The qualitative examination done by using the formalin test kit that contain of reagen I and reagen II. The result of the research conclude that 20 sample from 42 sample that has been identified in laboratorium are positive have formalin (47.6%). Based on the result, we can conclude that almost of the bakso that has been sold in Padang contain formalin.Keywords:Meatball, formali

    1,096

    full texts

    1,143

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Kesehatan Andalas
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇