Jurnal Kesehatan Andalas
Not a member yet
    1143 research outputs found

    Hubungan Pemberian Makanan Pendamping Asi (MP-ASI) dengan Status Gizi Anak Usia 1-3 Tahun di Kota Padang Tahun 2012

    Get PDF
    AbstrakMakanan pendamping ASI (MP-ASI) adalah makanan padat yang mengandung nutrien lengkap yang diberikan kepada bayi mulai usia 6 bulan disamping ASI eksklusif untuk mencapai tumbuh kembang yang optimal. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui hubungan antara usia pemberian MP-ASI dan jenis MP-ASI dengan status gizi. Penelitian ini merupakan studi cross sectional yang dilaksanakan pada bulan Mei-November 2012 pada anak usia 1-3 tahun yang berdomisili di Kota Padang. Pengumpulan data karakteristik responden, usia pemberian MP-ASI, dan jenis MP-ASI dilakukan dengan wawancara terpimpin. Pengukuran status gizi dilakukan berdasarkan BB/TB Z-score. Analisis statistik yang digunakan adalah uji chi square. Hasil penelitian menunjukan dari 200 anak, 51% anak diberi diberi MP-ASI sesuai jadwal dengan jenis MP-ASI buatan pabrik. Status gizi kurang, lebih banyak didapatkan pada anak yang diberi MP-ASI dini (33%). Tidak ditemukan anak dengan status gizi buruk.Terdapat hubungan antara usia pemberian MP-ASI dengan status gizi p= 0,001 (P < 0,05) dan tidak ada hubungan antara jenis MP-ASI dengan status gizi p= 0,456 (p > 0,05).Kata kunci: MP-ASI, Status gizi, Anak usia 1-3 tahunAbstractComplementary feeding is a solid and nutrient dense foods that contain complete given to infants from 6 months of age are exclusively breastfed in addition to achieve optimal growth and development. The research objective was to determine the relationship between the age of complementary feeding and provision of complementary feeding types with nutritional status. This study is a cross-sectional study that was conducted in May-November 2012 on children aged 1-3 years who live in Padang. The characteristics of the respondents, aged giving complementary feeding, and the type of complementary feeding by the guided interview. Measurement of nutritional status is based on weight / height Z-score.The statistical analysis used was chi square test. The results showed that of 200 children, 51% children were given complementary feeding schedule. The type was given is complementary feeding of factory. Nutritional status is much less than was found in children who were given complementary feeding early (33%). There are no children with poor nutritional status. There is a significant association between age of Complementary feeding with nutritional status p = 0.001 (P < 0.05) and there was no significant association between the type of Complementary feeding with nutritional status p = 0.456 (p >0.05).Keywords:Complementary feeding, nutritional status, children aged 1-3 year

    Hubungan Antara Tingkat Aktivitas Fisik dengan Fungsi Kognitif pada Usila di Kelurahan Jati Kecamatan Padang Timur

    Get PDF
    AbstrakGangguan kognitif merupakan masalah yang sering terjadi pada golongan usia lanjut. Prevalensi gangguan kognitif tinggi pada negara yang memiliki populasi usila yang tinggi. Indonesia merupakan negara keempat dunia yang memiliki populasi usila tertinggi dan diperkirakan akan menjadi ketiga tertinggi pada 2020. Antara usaha preventif yang dilakukan adalah dengan beraktivitas fisik. Penelitian ini dilakukan untuk melihat apakah ada hubungan antara tingkat aktivitas fisik terhadap fungsi kognitif pada usila. Jenis penelitian ini adalah studi cross sectional dengan metode non probability sampling. Populasi penelitian adalah usila ≥60 tahun yang berada di Kelurahan Jati Kecamatan Padang Timur dan memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Total sampel seramai 51 orang dengan 13 laki-laki dan 38 perempuan. Tingkat aktivitas fisik dinilai menggunakan General Practice Physical Activity Questionnaire (GPPAQ) dan fungsi kognitif dinilai menggunaan Mini Mental State Examination (MMSE). Data diolah dengan uji statistik chi square menggunakan program SPSS. Hasil univariat didapatkan persentase usila yang aktif sebanyak 29.4% dan yang kurang aktif 70.6%. Persentase usila dengan fungsi kognitif yang normal sebanyak 82.4% dan yang mengalami penurunan 17.6%. Hasil bivariat didapatkan ada hubungan antara tingkat aktivitas fisik dengan fungsi kognitif dimana nilai p = 0.044 (p < 0.05). Penelitian ini menunjukkan terdapat hubungan antara tingkat aktivitas fisik dengan fungsi kognitif usila di Kelurahan Jati Kecamatan Padang Timur.Kata kunci: fungsi kognitif, aktivitas fisik, usia lanjutAbstractCognitive impairment is common and highly age-related in the world. The prevalence of cognitive impairment is high in the country with high proportion of elderly. Indonesia is the fourth country with the highest population of elderly and estimated to be the third highest in 2020. Little attention has been paid to the identification of modifiable lifestyle habits for its prevention. This study aimed to determine whether there is a relationship between the level of physical activity and cognitive function in the elderly. This study was a cross sectional study with non probability sampling method. The study population was elderly ≥ 60 years who reside in the Village of Jati, East Padang district and fit the inclusion and exclusion criteria. There were 51 samples with 13 males and 38 females. The level of physical activity was measured by using General Practice Physical Activity Questionnaire (GPPAQ) and the cognitive function was assessed by using Mini Mental State Examination (MMSE). Data processed by the chi-square statistical tests using SPSS. Results of univariate analysis level of physical activity showed the percentage of active elderly is 29.4% and less active is 70.6%. Elderly with normal cognition is 82.4% and with impaired cognition is 17.6%. Results of bivariate analysis showed a significant relationship exists between the level of physical activity and cognitive function in the elderly p = 0.044 (p < 0.05). This study showed that there is a relationship between the level of physical activity and cognitive function in the elderly.Keywords: cognitive function, physical activity, elderl

    Peran Kemokin dalam Patogenesis Rinitis Alergi

    Get PDF
    AbstrakLatar belakang: Rinitis alergi merupakan penyakit dengan insiden yang cukup tinggi diseluruh dunia dengan prevalensi yang semakin meningkat setiap tahun. Patogenesis rinitis alergi melibatkan reaksi imun yang cukup komplek. Tujuan: Mengetahui peranan kemotaktik sitokin (Kemokin) dalam patogenesis rinitis alergi. Tinjauan pustaka: Kemokin sebagai kemotaktik sitokin berperan dalam semua tahap reaksi alergi. CC kemokin merupakan subfamili kemokin yang berperan dalam reaksi alergi. Kemokin bekerja pada permukaan sel-sel inflamasi berikatan dengan reseptor. CCR3 merupakan reseptor dengan kadar tertinggi yang ditemukan pada permukaan eosinofil dan eotaxin sebagai ligand yang spesifik bagi CCR3. Kesimpulan: Eotaxin dan reseptor CCR3 adalah faktor yang paling menonjol dalam patogenesis rinitis alergi yang melibatkan eosinophilKata kunci: Reaksi alergi, Th2, CC Kemokin, eosinofil, CCR3 AbstractBackground: Allergic rhinitis such a disease with high incidence among the world and its prevalence appears to be increasing every year. The pathogenesis of allergic rhinitis commit complex imunological reaction. Purpose: To know the role of chemotactic cytokine (chemokine) in pathogenesis of allergic rhinitis. Literature review: Chemokine as a chemotactics cytokine participate to all allergic reaction stage. CC chemokines were subfamilial chemokines which have role in allergic reaction. They working by binding with receptor on the surface of inflamatory cells. CCR3 is the receptor with the highes level could be found on eosinophil cell membran and eotaxin was the spesific ligand to itt. Conclusion: Eotaxin and CCR3 are the major factor in pathogenesis of allergic rhinitis which is involve eosinophil.Keywords: Allergic reaction, Th2, CC Chemokines, eosinophil, CCR

    Pola Sensitivitas Bakteri Penyebab Infeksi Saluran Napas Bawah Non Tuberkulosis Terhadap Kotrimoksazol di Laboratorium Mikrobiologi RSUP Dr. M. Djamil Padang Periode 1 Januari 2012 – 31 Desember 2012

    Get PDF
    AbstrakPenyakit infeksi saluran napas, terutama Infeksi Saluran Napas Bagian Bawah (ISPB) non tuberkulosis merupakan masalah kesehatan yang sering dihadapi. Penegakan diagnosis secara tepat dan tepat serta pemilihan antibiotika berdasarkan uji sensitivitas akan sangat membantu dalam tatalaksana penyakit. Kotrimoksazol merupakan antibiotika lini pertama dan banyak digunakan dibeberapa puskesmas sebagai salah satu pengobatan infeksi saluran napas bawah non tuberkulosis.Tujuannya untuk mengetahui bakteri penyebab infeksi saluran napas bawah serta sensitivitasnya terhadap kotrimoksazol. Penelitian ini merupakan studi deskriptif yang bersifat cross-sectional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 671 permintaan pemeriksaan mikrobiologis yang mencantumkan diagnosis klinis sebagai infeksi saluran napas bawah non tuberkulosis, sebagian besar ditegakkan diagnosis pneumonia (87,78%), diikuti oleh bronkiektasis (5,96%), bronkitis kronis (4,32%), dan bronkitis akut (1,94%). Selain itu, dari hasil penelitian ditemukan bakteri penyebab terbanyak infeksi saluran napas bawah non tuberkulosis yang utama adalah Klebsiella pneumoniae (51,92%), Streptococcus α hemolyticus (17,78%), dan Pseudomonas sp. (9,25%). Persentase sensitivitas bakteri penyebab infeksi saluran napas bawah terhadap kotrimoksazol sebesar 18,78%.Kata kunci: infeksi saluran napas bawah non tuberkulosis, bakteri penyebab, sensitivitas, kotrimoksazolAbstractRespiratory tract infections diseases, especially lower respiratory tract infections non tuberculosis is a health problem that is often encountered. Proper diagnosis and appropriate antibiotic selection based on testing and sensitivity will be helpful in the treatment of disease. Co-trimoxazole is a first-line antibiotic and widely used in several health centers as one of the treatment of lower respiratory tract infections non tuberculosis.The goal of this research was to discover which bacterium causes lower respiratory tract infection and its sensitivity to Cotrimoxazole. This research was a cross-sectional descriptive study. The results of research showed that there were 671 requests for microbiological examination which included a clinical diagnosis of lower respiratory tract infectionas non-tuberculosis, most revealed clinical sign as pneumonia (87,78%), followed by bronchiectasis (5,96%), chronicbronchitis (4,32%), and acutebronchitis (1,94%). Besides that, according to the research result, bacteria that cause lower respiratory tract infection are Klebsiella pneumoniae (51,92%), Streptococcus α hemolyticus (17,78%), and Pseudomonas sp. (9,25%). All the bacteria has 18,78% sensitivity to cotrimoxazole.Keywords:lower respiratory tract infection, bacteria, sensitivity, cotrimoxazole

    Distribusi Frekuensi Soil Transmitted Helminth pada Sayuran Selada (Lactuca sativa) yang Dijual di Pasar Tradisional dan Pasar Modern di Kota Padang

    Get PDF
    AbstrakPenyakit kecacingan sampai saat ini masih merupakan masalah kesehatan di daerah tropis, termasuk Indonesia. Banyak faktor yang menyebabkan tingginya angka kejadian penyakit ini, salah satunya yaitu memakan sayuran mentah yang tidak dicuci bersih seperti selada atau kol yang sering dijadikan lalapan. Daun selada berposisi duduk sehingga dapat kontak langsung dengan tanah. Keadaan ini memungkinkan STH (Soil Transmitted Helminth) yang berada ditanah akan mudah menempel pada daun selada. Tujuan peneliti melakukan penelitian ini adalah untuk mengetahui ada atau tidaknya STH pada selada yang dijual di pasar tradisional dan modern di Kota Padang. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Parasitologi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas sejak Bulan September-Desember 2013. Penelitian ini berjenis deskriptif menggunakan metode sedimentasi. Hasil yang peneliti dapatkan dari penelitian ini adalah ditemukan STH positif pada 32 dari 44 sayuran selada dari pasar tradisional di Kota Padang dengan persentase 73%. Tiga dari 5 sayuran selada dari pasar modern di Kota Padang dinyatakan positif dengan persentase 40%. Jenis STH terbanyak yang peneliti temukan pada penelitian ini adalah telur Ascaris sp (79%), larva Trichostrongylus orientalis (16%) dan telur cacing tambang (5%). Jadi, Terdapat kontaminasi STH pada selada yang dijual di pasar tradisional maupun pasar modern di Kota Padang.Kata kunci: Soil Transmitted Helminth, sayuran selada, pasar tradisional, pasar modernAbstractWorm disease is still a health problem in the tropics, including Indonesia. Many factors contribute to the high incidence of this disease, one of which is eating unwashed raw vegetables such as lettuce or cabbage cleaner is often used as vegetables. Lettuce sitting position so that it can direct contact with the ground. This situation allows STH ( Soil Transmitted Helminths ) that are ground will easily stick to the leaves selada. Purposes of researchers conducted this study was to determine the presence or absence of STH on lettuce sold in traditional markets and modern in the city of Padang. This research was conducted in the Laboratory of Parasitology, Faculty of Medicine, University of Andalas since Month from September to December 2013. This study was descriptive using sedimentation method. Researchers get results of this study were found positive on STH 32 of 44 lettuce from traditional markets in the city of Padang with a percentage of 73%. Three of 5 lettuce of the modern market in Padang tested positive with a percentage of 40%. Most types of STH that researchers have found in this study are the eggs of Ascaris sp (79%), Trichostrongylus orientalis larvae (16%) and hookworm eggs (5%). So, There STH contamination on lettuce sold in traditional markets and modern markets in Padang.Keywords: Soil Transmitted helminths, lettuce, traditional markets, modern marke

    Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Perilaku Bidan dalam Pencegahan Risiko Penularan HIV/AIDS pada Pertolongan Persalinan Normal di Kota Tanjungpinang Tahun 2014

    Get PDF
    AbstrakKasus HIV/AIDS di Kota Tanjungpinang lebih banyak dialami perempuan usia reproduksi. Dari 925 kasus HIV/AIDS hingga tahun 2013, 502 kasus diderita perempuan sementara laki-laki hanya 423 kasus. Perempuan usia reproduksi tersebut dapat saja hamil dan melahirkan ke bidan. Bidan berisiko tinggi tertular HIV/AIDS pada saat menolong persalinan. Pencegahan risiko penularan HIV/AIDS dalam pertolongan persalinan normal tercermin dari perilaku bidan dalam menerapkan kewaspadaan standar. Tujuan penelitian adalah untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku bidan dalam pencegahan risiko penularan HIV/AIDS pada pertolongan persalinan normal di Kota Tanjungpinang tahun 2014. Penelitian ini merupakan analitik observasional dengan pendekatan cross sectional. Dilakukan terhadap 39 orang bidan dengan menggunakan kuisioner dan pedoman observasi. Data dianalisis dengan uji Chi Square dan regresi logistik ganda. Faktor yang berhubungan dengan perilaku bidan adalah pengetahuan (p=0,027), sikap (p=0,004), motivasi (p= 0,047), supervisi (p=0,001) dan ketersediaan sarana (p=0,002). Faktor paling dominan yang berhubungan adalah supervisi (p=0,000). Kesimpulan penelitian adalah bidan akan berperilaku baik dalam pencegahan risiko penularan HIV/AIDS pada pertolongan persalinan normal apabila berpengetahuan baik, bersikap positif, memiliki motivasi tinggi, dilakukan supervisi serta didukung dengan sarana yang lengkap.Kata Kunci: Perilaku, pencegahan HIV/AIDS, pertolongan persalinan normal, pengetahuan, sikap, motivasi, supervisi, ketersediaan sarana.AbstractHIV/AIDS cases in Tanjungpinang city were suffered by women at reproductive ages. 925 HIV/AIDS cases trough 2013, 502 cases were suffered by women while 423 cases were men. This women may become pregnant and deliver their babies at midwives assistance. Midwives are at high risk of HIV/AIDS tramsmission while assisting delivery. Prevention risk of HIV/AIDS transmission in normal delivery assistance reflected from their behaviour by implementing standard precaution. This study aimed to analyze factors related to midwives behaviour toward prevention risk of HIV/AIDS transmission in normal delivery assistance in Tanjungpinang city year 2014.This is analytical observasional study with cross sectional approach to 39 midwives using self administered questionare and observasional guided forms. Data were analyzed using chi square test and multiple logistic regression. Factors related to midwives bahaviour were knowledge (p=0,027), attitude (p=0,004), motivation (p=0,047), supervision (p=0,001) and avaibility of equipment (p=0,002). Dominant factor was supervision (p=0,000).This study concluded that midwives will have good behaviour towards prevention risk of HIV/AIDS transmission in normal delivery assistance if they are having good knowledge, positive attitude, high motivation, frequently supervised and supported by complete equipment.Keywords: Behaviour, HIV/AIDS prevention, normal delivery assistance, knowledge, attitude, motivation, supervision, availability of equipment

    Penggunaan Asthma Control Test (ACT) secara Mandiri oleh Pasien untuk Mendeteksi Perubahan Tingkat Kontrol Asmanya

    Get PDF
    AbstrakAsma adalah penyakit dengan spekrum gejala yang luas dan gejala yang sering dilaporkan pasien kepada dokter sangat beragam, tergantung dari persepsi masing-masing pasien. Pendekatan terbaru dalam penatalaksanaan pasien asma yaitu pasien dapat hidup bebas tanpa terganggu oleh gejala penyakitnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efektifitas penggunaan ACT secara mandiri oleh pasien asma untuk mendeteksi perubahan tingkat kontrol asmanya. Metode yang digunakan adalah Studi Analisis kohort Prospektif. Didapatkan 32 orang pasien asma yang berobat ke poliklinik Paru RS M. Djamil Padang, yang bersedia ikut dalam penelitian ini. Efektifitas penggunaan ACT secara mandiri oleh pasien sebagai alat untuk mendeteksi perubahan tingkat kontrol asma, cukup efektif karena penilaian tingkat kontrol asma pasien sama dengan dokter yaitu 78,1%. Efektifitas ACT tidak berhubungan dengan tingkat pendidikan pasien, derajat keparahan asma, tingkat pengetahuan awal pasien terhadap penyakit asma serta lama menderita asma. Selama penelitian tidak ditemukan kejadian eksaserbasi pada pasien penelitian.Kata kunci: Asma, asma kontrol tesAbstractAsthma is a disease with wide spectrum symptoms and the patient's symptoms are often reported to doctors also with wide range of diversity, depending on the perception of each patient. New approaches in the management of asthma patients i.e. patients can live freely without being distracted by the symptoms of the disease. The purpose of this study was to determine the effectiveness of the use of ACT independently by asthma patients to detect changes in the level of asthma control. The method used was a prospective cohort study analysis. There were 32 asthma patients who went to the Lung polyclinic of M. Djamil Hospital Padang and were willing to participate in the study.Effective use of ACT independently by the patient as a tool to detect changes in the level of asthma control is quite effective in which the assessment level of asthma control between patient and the doctor is equal with the value 78.1%. The effectiveness of ACT is not related to the educational level of the patient, severity of asthma, the level of prior knowledge of the patients and the period of suffering asthma. During the study found no incidence of exacerbations in the patients.English, Arial 9 italicKeywords: asthma, asthma control tes

    Uji Daya Hambat Sabun Cair Cuci Tangan pada Restoran Waralaba di Kota Padang Terhadap Pertumbuhan Bakteri Escherichia coli dan Staphylococcus aureus Secara In Vitro

    Get PDF
    AbstrakSabun cair cuci tangan terbukti dapat menghambat pertumbuhan bakteri Escherichia coli dan Staphylococcus aureus. Sebagian besar restoran waralaba di Kota Padang menyediakan sabun cair cuci tangan yang telah diencerkan. Proses pengenceran mengubah kemampuan sabun dalam menghambat pertumbuhan bakteri. Penelitian bertujuan untuk menguji daya hambat sabun cair cuci tangan pada restoran waralaba di Kota Padang terhadap pertumbuhan E. coli dan S. aureus. Sampel diambil dari empat restoran waralaba dan diuji dengan metode difusi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keempat sabun dapat menghambat pertumbuhan S. aureus namun hanya sebagian yang memiliki daya hambat terhadap E. coli. Median daya hambat pertumbuhan E. coli dan S. aureus pada setiap periode yaitu 0, 7.4, 7.3 dan 0, 26.1, 23.3. Nilai maksimum daya hambat pertumbuhan E.coli dalam tiga periode yaitu 19.5, 35.4, 27.1 dan 20.7, 40.2, 36.6 untukS. aureus. Daya hambat minimum terhadap kedua bakteri adalah 0.00. Hal tersebut dapat dipengaruhi komposisi dan konsentrasi antiseptik, antibakteri, pH sabun, pengenceran dan struktur dinding sel bakteri. Disimpulkan bahwa sabun cair cuci tangan yang diuji memiliki kemampuan lebih besar dalam menghambat pertumbuhan S.aureus daripada E.coli.Kata kunci: sabun cair cuci tangan, restoran, pengenceran, uji daya hambat, pertumbuhan bakteriAbstractLiquid hand soaps proved to inhibit Escherichia coli and Staphylococcus aureus bacterial growth. In Padang, most of Restaurants provide diluted liquid hand soaps. Research found dilution changed soap ability to inhibit bacterial growth. The purpose of this study was to examine the ability of Padang City Restaurants’ liquid hand soaps to inhibit E. coli and S. aureus bacterial growth. The samples were taken from four restaurants and examined by using diffusion method. The results showed all of them could inhibit S. aureus but only a half inhibited Escherichia coli bacterial growth. Median for E. coli and S. aureus bacterial inhibition growth for each period were 0, 7.4, 7.3 and 0, 26.1, 23.3. Maximum inhibition value for E. coli growth in the first, second, and third periods were 19.5, 35.4, 27.1 and 20.7, 40.2, and 36.6 for S. aureus. In addition, minimum inhibition in both bacteria were 0.00. It could be influenced by soap antiseptic and antibacterial composition and concentration, pH, dilution, and structure of bacterial cell wall. In conclusion, the liquid hand soaps has greater ability to inhibit S. aureus than E. coli.Keywords: liquid hand soaps, restaurant, dilution, inhibitory test, bacterial growt

    Perbedaan Rerata Kadar Gula Darah pada Luaran Stroke Iskemik Berdasarkan Indeks Barthel

    Get PDF
    AbstrakStroke merupakan salah satu sindrom yang ditandai oleh gangguan fungsi otak dengan angka morbiditas dan mortalitas yang tinggi bila tidak ditangani dengan adekuat. Kenaikan kadar gula darah yang terjadi 48 jam pertama pada penderita stroke fase akut dapat memengaruhi morbiditas dan luaran serta mortalitas penderita. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan rerata kadar gula darah pada stroke iskemik fase akut yang dihubungkan dengan luaran berdasarkan Indeks Barthel. Desain penelitian yang digunakan ialah retrospektif dengan mengumpulkan data rekam medis pasien stroke iskemik yang dirawat di bagian ilmu penyakit saraf RSUP Dr. M. Djamil Padang periode 1 Desember 2012 – 31 Desember 2013. Dari 24 sampel, didapatkan nilai rerata gula darah pada luaran ketergantungan total 163,50 mg/dL; SD : 48,59, nilai rerata gula darah pada luiaran ketergantungan berat 150,25 mg/dL; SD : 36,291 dan nilai rerata gula darah pada luaran ketergantungan sedang 156,75 mg/dL; SD: 61,799. Hasil analisis bivariat dengan uji Anova menunjukkan tidak terdapat perbedaan bermakna rerata kadar gula darah pada luaran ketergantungan total, luaran ketergantungan berat dan luaran ketergantungan sedang pada pasien stroke iskemik fase akut berdasarkan indeks Barthel dengan nilai p = 0,862 (p>0,05).Kata kunci: kadar gula darah, luaran, stroke iskemik, indeks BarthelAbstractStroke is a clinical syndrome characterized by losing of cerebral function with high morbidity and high mortality rate if not getting an adequate treatment. Raised of blood glucose that occur in first 48 hours in acute phase of stroke can influence morbidity or severity and mortality rate. This analytic research with a retrospective design by obtaining datas from medical records of patient who hospitalize in department of neurology RSUP Dr. M.Djamil Padang during December 1st 2012 – December 31st 2013. Mean of blood glucose level of totally dependent 163.50 mg/dL with standard of deviation 48.59, whereas mean of blood glucose level of severely dependent 150.25 mg/dL with standard of deviation 36.291, mean of blood glucose level of moderately dependent 156.75 mg/dL with standard of deviation 61.799 on total 24 cases. The result of bivariate analysis using Anova test showed there is no significant difference average of blood glucose level between totally dependent, severely dependent, and moderately dependent stroke of acute phase of ischemic stroke with use Barthel Index (BI) with p value = 0,862 (p>0,05)Keywords: blood glucose level, outcome, Barthel Inde

    Perbedaan Kadar Formalin pada Tahu yang Dijual di Pasar Pusat Kota dengan Pinggiran Kota Padang

    Get PDF
    AbstrakTahu merupakan makanan yang digemari oleh masyarakat.Tahu mempunyai daya tahan sekitar 1 - 2 hari sehingga pedagang sering menambahkan formalin sebagai pengawet. Formalin merupakan bahan pengawet yang dilarang oleh pemerintah yang penggunaannya masih terdapat secara luas di masyarakat dan bila dilihat dari tekstur tahu yang dijual di pasar kota Padang, dicurigai tahu memiliki kandungan formalin.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan kadar formalin pada tahu yang dijual di pasar pusat kota dengan pinggiran kota Padang. Penelitian ini dilakukan di laboratorium Balai Riset dan Standardisasi Industri Padang.Jenis penelitian ini adalah analitik yang telah dilaksanakan pada bulan Juni-September 2013. Jumlah sampel adalah sebanyak 36 buah yang terdiri dari 18 sampel tahu yang berasal dari pasar pusat kota dan 18 sampel tahu yang berasal dari pasar pinggiran kota Padang. Uji kualitatif formalin pada tahu dilakukan dengan metode asam kromatropat dan uji kuantitatif formalin menggunakan metode titrasi asam basa. Analisis data dilakukan secara bivariat dengan menggunakan uji t. Hasil penelitian didapatkan kadar formalin pada tahu di pasar pusat kota Padang dari 18 sampel yang diperiksa terdapat 17 sampel yang positif formalin dengan kadar paling tinggi adalah 3.65%. Kadar formalin pada tahu di pasar pinggiran kota Padang dari 18 sampel yang diperiksa terdapat 17 sampel yang positif formalin dengan kadar paling tinggi adalah 2.73%. Rata-rata kadar formalin pada pasar pusat kota adalah 1.08% dan pasar pinggiran kota adalah 0.67%.Kata Kunci: kadar formalin, tahu, pasar pusat kota Padang, pasar pinggiran kota PadangAbstractTofu is a favorite food among the community. Tofu has resistance 1 - 2 days so that merchant often add formalin as a preservative. Formalin is a preservative which is banned by the government that there is still widespread use in the community and the texture of tofu sold in the market is suspected for having formaldehyde content. The purpose of this study was to difference the levels of formaldehyde in tofu sold in downtown market and suburban market of Padang. This research was conducted in the laboratory Industry Research and Standardization Padang. This research is an analytic that has been conducted in June-September 2013. The number of samples of this study are 36 units consisting of 18 pieces of tofu samples derived from downtown market and 18 pieces of tofu samples derived from suburban market of Padang. Qualitative test performed with chromotropic acid method and quantitative formalin test using acid-base titration method. Bivariate data were analyzed using t test. The results showed that the levels of formaldehyde found in tofu sold in downtown market of Padang is from 18 samples tested there were 17 positive samples with the highest levels of formaldehyde was 3.65%. Levels of formaldehyde found in tofu sold in suburban market of Padang is from 18 samples tested there were 17 positive samples with the highest levels of formaldehyde was 2.73%. Average levels of formaldehyde in downtown market is 1.08% and suburban market is 0.67%. Keywords: formaldehyde level, tofu, downtown market of Padang, suburban market of Padan

    1,096

    full texts

    1,143

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Kesehatan Andalas
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇