Jurnal Kesehatan Andalas
Not a member yet
1143 research outputs found
Sort by
Peran Antioksidan pada Non Alcoholic Fatty Liver Disease (NAFLD)
AbstrakNonalcoholic Fatty Liver Disease (NAFLD) merupakan penyebab tersering penyakit hati kronik pada anak dan remaja diseluruh dunia. NAFLD berhubungan dengan obesitas, diabetes melitus tipe 2 dan sindrom metabolik. Resistensi insulin memegang peranan penting dalam patogenesis molecular terjadinya NAFLD. Ketidakseimbangan prooksidan dan antioksidan pada sel hepatosis menentukan progresifitas penyakit ini. Sebagai antioksidan telah dilakukan penelitian mengenai efek antioksidan vitamin E, vitamin C, betaine, N-asetil sistein, probucol dan silymarin. Antioksidan tersebut memperlihatkan perbaikan fungsi hepar dan gambaran histopatologis.Kata kunci: Arial 9 NAFLD, resistensi insulin, antioksidanAbstractNonalcoholic fatty liver disease (NAFLD) is the most common cause of liver disease in pediatric and adolescent population. NAFLD related with obesity, type 2 diabetes mellitus and metabolic syndrome. Insulin resistance and oxidative stress have important role in molecular pathogenesis of NAFLD. Prooxidant and antioxidant factor in hepatosit can determine progressivity of liver disease. As antioxidant agent for treatment NAFLD have been studied effect of vitamin E, vitamin C, betaine, N-acetyl cystein, probucol and sylimarin. They have been shown improvement of liver function test and histopathologycal feature.Keywords:NAFLD, insulin resistance, antioxidan
Hubungan Tingkat Pengetahuan Mengenai Asma dengan Tingkat Kontrol Asma
AbstrakKontrol gejala asma yang baik merupakan tujuan pengobatan bagi pasien asma. Pengobatan medikamentosa dan self management dibutuhkan untuk mencapai kontrol asma. Pengobatan medikamentosa dan self management yang baik akan tercapai jika pasien asma memiliki pengetahuan mengenai asma . Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan asma dengan tingkat kontrol asma. Penelitian ini adalah penelitian cross sectional yang dilaksanakan pada bulan April hingga September 2013 di RSUP Dr. M.Djamil Padang dan RSUD Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi. Subjek penelitian yang telah memenuhi kriteria inklusi akan diwawancara menggunakan lembar kuesioner data dasar, kuesioner AGKQ dan kuesioner ACT. Penelitian ini dilakukan pada 65 orang pasien asma yang datang ke Poliklinik Asma di RSUP Dr.M.Djamil Padang and RSUD Dr.Achmad Mochtar Bukittinggi selama bulan April hingga September 2013. Analisis statistik yang digunakan adalah uji chi square dan pengolahan data menggunakan software SPSS 15. Hasil penelitian menunjukkan dari 65 subjek penelitian, 19 (29,2%) orang dengan asma tidak terkontrol memiliki pengetahuan yang rendah, 1 (1,5%) orang dengan asma terkontrol sebagian dengan tingkat pengetahuan yang rendah dan 1 (1,5%) orang pasien asma terkontrol total memiliki pengetahuan asma yang rendah. Pasien dengan pengetahuan asma rendah didapatkan 21 (32,3%) orang dan pengetahuan asma tinggi 44 (67,7%) orang. Berdasarkan uji chi square, terdapat hubungan yang bermakna antara tingkat pengetahuan asma dengan tingkat kontrol asma dengan nilai p = < 0,01 (p < 0,05).Kata kunci: Asthma Control Test (ACT), Asthma General Knowledge Questionnaire (AGKQ), kontrol asma, pengetahuan asma.AbstractGood control of asthma symptomps is a goal for asthmatic patient. Medical treatment and self-management are needed to reach control of asthma. Good medical treatment and a good self-management will be achieved if the asthma patient have knowledge of asthma. The aim of this study is to find relation between asthma knowledge and asthma control. This study is a cross sectional that was conducted in April – September 2013 at asthma clinic Dr.M.Djamil Hospital, Padang and Dr.Achmad Mochtar Hospital, Bukittinggi. Subject who fulfilled the inclusion criteria was interviewed by using basic data information, asthma general knowledge questionnaire (AGKQ) and asthma control test (ACT). Used 65 asthmatic patients as sample that come to Ashma Polyclinic in RSUP Dr.M.Djamil Padang and RSUD Dr.Achmad Mochtar Bukittinggi during April until September 2013. The statistical analysis used chi square test and SPSS 15 for data processing. The results showed that from 65 subjects, 19 (29,2%) subjects with uncontrolled asthma showed low level of asthma knowledge, 1 (1,5%) subjects with partially controlled asthma showed low level of asthma knowledge, and 1 (1,5%) subjects with controlled asthma showed low level of asthma knowledge. Patients with low level of asthma general knowledge was 21 samples (32,3%) and high level of asthma general knowledge was 44 samples (67,7%). Based on chi square test, there is significant association between asthma general knowledge with asthma control p < 0.01 (<0.05).Keywords: asthma control test(ACT), asthma general knowledge questionnaire(AGKQ), asthma control, asthma knowledg
Hubungan Tingkat Pengetahuan Ibu dengan Pemberian Imunisasi Dasar Lengkap pada Bayi di Kelurahan Parupuk Tabing Wilayah Kerja Puskesmas Lubuk Buaya Kota Padang Tahun 2013
AbstrakDi kota Padang cakupan imunisasi sebesar 88,1% dengan cakupan terendah di wilayah kerja Puskesmas Lubuk Buaya sebesar 81,8%. Serta Kelurahan Parupuk Tabing merupakan kelurahan yang cakupannya terendah dan angka drop-out tertinggi sebesar 12,9% di tahun 2012. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan ibu dengan pemberian imunisasi dasar lengkap bayi di wilayah kerja Kelurahan Parupuk Tabing Wilayah Kerja Puskesmas Lubuk Buaya Kota Padang Tahun 2013.Metode: Jenis penelitian ini analitik dengan desain cross-sectional. Populasi adalah ibu yang memiliki bayi usia 1-2 tahun di Kelurahan Parupuk Tabing. Jumlah sampel 63 orang diambil secara Random Sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara menggunakan kuesioner dan observasi.pengolahan data dilakukan secara komputerisasi dengan analisis uji Chi-Square pada α=0,05. Didapatkan 57,1%, responden memberikan imunisasi dasar lengkap pada bayinya dan 63,5%. responden yang mempunyai pengetahuan yang cukup tentang imunisasi dasar lengkap. Didapatkan adanya hubungan bermakna antara kedua variabel tersebut.Kesimpulan: terdapat hubungan yang bermakna antara pengetahuan ibu terhadap pemberian imunisasi dasar lengkap pada bayi di kelurahan Parupuk Tabing wilayah kerja puskesmas Lubuk Buaya. Sehingga disarankan kepada kader posyandu dan petugas puskesmas agar memberikan penyuluhan tentang imunisasi, fungsi, dan jadwal pemberian imunisasi tersebut.Kata kunci: imunisasi dasar lengkap, pengetahuanAbstractIn the city of Padang immunization coverage was 88.1% with the lowest coverage in the Lubuk Buaya Public Health Centre was 81.8 % .Village of Parupuk Tabing was the lowest coverage and highest drop-out rate of 12.9% in 2012. This study aims to determine relationshipof the level of mother's knowledge with base complete infant immunization in the Village of Parupuk Tabing Lubuk Buaya Public Health Centre working area in the City of Padang in 2013. Type of this study is analytic study in the form of a cross - sectional design. The population of this study is all of mothers with babies aged 1-2 years in the Village of Parupuk Tabing. The number of samples taken 63 Random Sampling. Data were collected by interviews using questionnaires.Computerized data processing and analisis perfomed by Chi - Square test at α = 0.05. Obtained 57.1% of respondents are fully immunized and 63.5 % of the respondents have sufficient knowledge about the complete basic immunization. There was a significant correlation between the two variables (p=0,000). There was a significant relationship between mother's knowledge to complete basic immunization in infants in Village of Parupuk Tabing Lubuk Buaya Public Health Centre working area. So it is advisable to officer cadre of health posts and health centers that provide counseling about immunization, function, and the immunization schedule.Keywords:complete basic immunization, knowledg
Hubungan Pemberian ASI dengan Tumbuh Kembang Bayi Umur 6 Bulan di Puskesmas Nanggalo
AbstrakBayi mengalami proses tumbuh kembang yang dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya adalah gizi. Unsur gizi pada bayi dapat dipenuhi dengan pemberian ASI, bahkan sampai umur 6 bulan sesuai rekomendasi WHO tahun 2001 diberikan ASI eksklusif. Namun, angka pencapaian ASI eksklusif di Indonesia masih rendah yaitu 61,5% dan puskesmas Nanggalo 65%. Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan pemberian ASI dengan tumbuh kembang bayi umur 6 bulan di Puskesmas Nanggalo. Penelitian ini merupakan studi analitik dengan desain cross sectional. Pertumbuhan dinilai melalui status gizi dan perkembangan melalui Tes Denver II, dengan jumlah sampel 50 bayi. Analisis statistik yang digunakan adalah uji chi square dengan derajat kemaknaan 0,05.Hasil penelitian menunjukkan pemberian ASI eksklusif masih rendah (30%) dibandingkan ASI non eksklusif (70%). Bayi ASI eksklusif berpeluang mengalami pertumbuhan normal 1,62 kali lebih besar dibandingkan bayi ASI non eksklusif (nilai OR = 1,62) dan perkembangan sesuai umur 5,474 kali lebih besar dibandingkan bayi ASI non eksklusif. Namun, pada pertumbuhan diperoleh nilai p = 0,696 dan nilai p perkembangan= 0,062 sehingga hubungan pemberian ASI terhadap tumbuh kembangan tidak signifikan. Penelitian ini memperlihatkan bahwa tidak terdapat hubungan antara pemberian ASI dengan tumbuh kembang bayi umur 6 bulan di Puskesmas Nanggalo Kota Padang.Kata kunci: Bayi umur 6 bulan, Pemberian ASI, Tumbuh KembangAbstractThe infant has a process of growth and development that is affected by several factors, one of them is nutrition. The element of nutrition for infant can be fulfilled by breast feeding, WHO (2011) recommends the infant should be given the exclusive breast feeding until it reaches 6 months old. However, the achievement number of exclusive breast feeding in Indonesia is still low (61.5%) and in the Nanggalo Community Health Center (65%). The aim of this research is to know the relationship between the breast feeding with the growth and development of 6 months old infants in the Nanggalo Community Health Center.This research was analytical study using cross sectional design, by assessing the nutritional status of infants through growth and development that assessed with tests of the Denver II, sample size 50 infants which were given the breast feeding. The statistical analysis test that used was chi square with the degree of significancy 0.05.The results shows that the exclusive breast feeding is still low (30%) compared to the non-exclusive breast feeding (70%). The infants who get the exclusive breast feeding have chance to experience the normal growth 1,62 times more than the non-exclusive breast feeding infants (OR value = 1,62) and the development which is appropriated to ages 5,474 times more than the non-exclusive breast feeding infants. But, p value of growth 0,696 and p value of development 0,062, so there is no significant relationship between the breast feeding with growth and development.This research shows that there is no relationship between the breast feeding with the growth and development of 6 months old infants in the Nanggalo Community Health Center.Keywords:6 months old infants, Breast feeding, Growth and developmen
Twin to Twin Transfusion Syndrom
AbstrakPeningkatan mortalitas pada kembar monokorion disebabkan oleh adanya anastomosis vaskuler pada plasenta yang menyebabkan Twin to Twin Transfussion syndrome.Berikut laporan kasus yang ditangani di RS. DR. M. Djamil Padang. Kasus 1: Seorang pasien usia 28 tahun dengan diagnosa MP3 gravid preterm 33-34 minggu dengan Twin To Twin Transfusion Syndrom, Dari pemeriksaan USG didapatkan kesan: Gemelli, gravid 33-34 minggu dengan TTTS. Pasien diterminasi secara SCTPP. Bayi pertama lahir perempuan, dengan: BB: 1400 grams, PB: 44 cm, A / S: 8/9, Bayi ke II: perempuan, BB: 1000 grams, PB: 38 cm, A / S: 6/7, Hb janin I: 16,9 g/dl dan Hb janin II : 11,3 g/dl. Kedua bayi dirawat di bagian perinatology. Bayi pertama bertahan hidup dengan beberapa kelainan kongenital yaitu VSD dan Hemangioma Orbita. Bayi kedua meninggal pada usia 7 hari dengan susp. Sepsis. Hingga saat ini, bayi ini masih kontrol rutin ke poliklinik RS. DR. M. Djamil Padang. Kasus 2: Seorang pasien usia 31 tahun dengan diagnosa MP5 parturient aterm kala II dengan gemelli. Pasien melahirkan spontan. Bayi pertama lahir perempuan dengan: BB: 3200 grams, PB: 48cm, A / S: 8/9, Bayi ke II perempuan : BB: 2100 grams, PB: 44 cm, A / S: 7/8. Kadar Hb bayi I : 17,6 g/dl dan bayi II: 14,1 g/dl. Plasenta lahir secara spontan lengkap 1 buah, berat 1150 gr, ukuran 20x19 x3 cm, panjang kedua tali pusat masing-masing 60 cm, insersi paracentralis,Monokhorion-Monoamnion. Kesan: TTTS.Kata kunci: twin to twin transfusion sindrom, ultrasonografi, monokorionAbstractIncreased mortality in monochorionic fetus caused by vascular anastomosis in the placenta that causes Twin to Twin Transfusion Syndromes (TTTS). Reporting two cases experienced and taken care in our hospital. Case1: a woman 28 years old was diagnosed with MP3 preterm pregnancy 33-34 weeks with Twin to Twin Transfusion Syndromes.Ultrasound impression: Gemelli gravid 33-34 weeks with TTTS. The patient was terminated by SCTPP. The first baby was female, born with: BW: 1400 grams, BL: 44 cm, A / S: 8/9, the second baby: female, BW: 1000 grams, BL: 38 cm, A / S: 6/7 the first baby Hemoglobin was 16,9 g/dl and the second baby was 11,3 g/dl. The babies were treated in Perinatology, the first baby survive with some congenital abnormalities such as VSD and hemangioma in the orbita. The second baby died at the age of 7 days with suspected sepsis. To date the baby still has a routine medical checkup to RS. DR. M. Djamil Padang. Case2: a woman 31 years old with diagnose MP5 term parturient in second stage of labour with, gemelli. The babies were born spontaneously. The first baby: BW: 3200 gr, BL: 48 cm, A/S: 8/9. The second baby: BW: 2100 gr, BL: 44 cm, A/S: 7/8. Hemoglobin Concentration of the first baby: 17,6 g/dl and the second baby : 11,4 g/dl. Placenta was born monochorion, diamnion.Keywords:twin to twin transfusion syndrome, ultrasonography, monochorio
Gambaran Zat Pewarna Merah pada Saus Cabai yang Terdapat pada Jajanan yang Dijual di Sekolah Dasar Negeri Kecamatan Padang Utara
AbstrakSaat ini, semakin banyak produsen makanan menggunakan zat pewarna yang sudah dilarang penggunaannya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran zat pewarna pada saus cabai yang terdapat pada jajanan yang dijual di Sekolah Dasar Negeri Kecamatan Padang Utara pada bulan November 2013 - Februari 2014. Penelitian dilaksanakan di Balai Laboratorium kesehatan Padang. Metode yang digunakan adalah deskriptif dengan jumlah sampel sebanyak 25 sampel yang diambil dari pedagang makanan jajanan saus cabai yang terdapat di SD Negeri pada kecamatan Padang Utara. Pemeriksaan dilakukan secara kualitatif dengan menggunakan pereaksi kimia NaOH 10%, NH4OH 10%, HCl pekat dan H2SO4 pekat serta dilanjutkan dengan metoda kromatografi kertas untuk mendapatkan jenis zat pewarna yang terdapat didalam jajanan saus cabai. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 10 sampel (40%) mengandung Rhodamin B dan 15 sampel (60%) yang diizinkan penggunaannya. yaitu Erytrosin. Rata-Rata kadar Erytrosin dalam saus cabai adalah 639,5% dari 300 mg/kg sampel yang diizinkan.Kata kunci: saus cabai, zat pewarna berbahaya, kadar zat pewarnaAbstractNowadays more and more food manufacturers use dyes that have been banned uses. Applied this study is to describe the dye contained in the chili sauce snacks sold in Elementary School District of the northern desert in November 2013-February 2014. This research was conducted in Health Laboratoratorium Padang. The method used a descriptive with a sample size of 25 samples taken from street food vendors chili sauce found in the districts of SD Negeri Kecamatan Padang Utara. Examination conducted qualitatively by using chemical reagents NaOH 10%, 10% NH4OH, and concentrated HCl and concentrated H2SO4 followed by paper chromatography method to get the type of dye contained in chili sauce snacks.The results showed that 10 samples (40%) containing Rhodamine B and 15 samples (60%) which allowed determination of use, Erytrosin. Concentration of Erytrosin, the average levels in the chili sauce as much as 639,5% of the 300 mg/kg samples were allowed.Keywords: chili sauce, harmful dyes, dye concentratio
Membandingkan Status Hematologis Pasien Malaria Falciparum dengan Vivax di RSUP M. Djamil Januari 2011 – Maret 2013
AbstrakMalaria merupakan masalah kesehatan yang besar di daerah tropis dan subtropis termasuk di Indonesia. Jenis malaria yang sering terjadi di daerah Sumatera adalah malaria falciparum dan vivax. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan status hematologis pasien malaria falciparum dengan malaria vivax. Jenis penelitian ini adalah analitik retrospektif, dengan jumlah sampel sebanyak 67 orang. Data dikumpulkan melalui hasil rekam medis yang kemudian dianalisis melalui uji T-test Independent dan Mann-Whitney. Hasil penelitian ini didapatkan nilai signifikasi p<0,05 pada perbedaan nilai hemoglobin yaitu 0,027, perbedaan nilai hematokrit yaitu 0,03, dan pada perbedaan jumlah trombosit yaitu 0,03. Nilai signifikasi p>0,05 pada jumlah hitung leukosit yaitu 0,89.Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa terdapat nilai hemoglobin, hematokrit dan trombosit pada pasien malaria falciparum signifikan lebih rendah daripada malaria vivax. Jumlah leukosit pada pasien malaria falciparum tidak signifikan lebih rendah daripada malaria vivax.Kata kunci : malaria falciparum, malaria vivax, hematologisAbstractMalaria is a major public health problem in tropical and subtropical country, including in Indonesia. The most type of malaria in Sumatera are malaria falciparum and vivax.The objective of this study was to determine haematological status in falciparum and vivax malaria patient at M Djamil hospital. This study was an analytic retrospective study, with a total sample of 67 patients. Data were collected through medical records than analyzed by T-test Independent and Mann-Whitney. The result of this study, the significance value p<0,05 were found in difference of hemoglobin value (0,027), in difference of haematocrit value (0,03) and in difference of thrombocyte count (0,03). The significance value p>0,05 was found in difference of leukocyte count (0,89). From these result, it can be concluded that the haemoglobin value, haematocrit value and thrombocyte count are significantly lower in falciparum malaria patient than vivax malaria patient. Leukocyte count is not significantly lower in falciparum malaria patient than vivax malaria patient.Keywords: falciparum malaria, vivax malaria, haematologica
Hubungan Tumor Necrosis Factor-Alfa (Tnf-A) dengan Kadar Hemoglobin dan Parasitemia pada Infeksi Malaria Falciparum
AbstrakMalaria sampai saat ini masih menjadi masalah kesehatan di dunia terutama negara tropis karena menimbulkan angka kesakitan dan kematian yang masih tinggi. Infeksi yang disebabkan oleh plasmodium falciparum dapat menimbulkan gejala yang berat bahkan bisa menimbulkan kematian. Adanya perbedaan perjalanan penyakit pada masing-masing individu salah satunya dipengaruhi oleh sistim imun tubuh seseorang. Diantara zat yang ikut berpengaruh pada imunitas malaria adalah TNF-α. Tujuan dari penelitian adalah untuk mengetahui hubungan TNF-α dengan kadar hemoglobin dan parasitemia pada infeksi malaria falciparum. Penelitian ini menggunakan rancangan explanatory secara cross sectional. Penelitian ini terdiri dari 25 penderita malaria falciparum dengan umur berkisar 14 – 60 tahun.Pengolahan data dilakukan dengan uji Pearsonn correlation menggunakan sistem komputerisasi dan hasil analisis statistik dinyatakan bermakna bila didapatkan harga p < 0,05.Arah korelasi ditandai dengan nilai positif atau negatif. Kadar TNF-α dianalisis dengan metoda enzyme linked immunosorbent assay (ELISA).Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa TNF-α dengan kadar hemoglobin (r = - 0,189, p > 0,05), TNF-α dengan parasitemia (r = 0,036, p > 0.05). Hasil dari penelitian ini dapat disimpulkan tidak terdapat hubungan bermakna antara TNF-α dengan kadar hemoglobin dan parasitemia, dan berkorelasi negatif dengan kadar hemoglobin, berkorelasi positif dengan parasitemia pada penderita infeksi malaria falciparum.Kata kunci: Tumor Necrosis Factor-Alfa (TNF- α), hemoglobin, parasitemia, malaria falciparumAbstractA laboratory study on malaria still become health problem in the world, mainly in tropic country. It was still the causes of sickness and deadness highly. Infection that is caused by falciparum plasmodium can make heavy characteristic and may become death. The differences how illness spread out on each individual, once is effected by someone imune system.Concentration which effected on malaria imunitas are TNF-α. The research has aims to determine the relationship of TNF-α for hemoglobin and paracitemia in falciparum malaria infection. This study used explanatory design by cross sectional. This study consisted of twenty-five falciparum malaria patients as samples. Age was around 14 – 60 years old. The data processing Pearsonn correlation test by computerized system and it was consider to be significant if it gets p < 0.05. Direction of the correlation is characterized by a positive or negative value.TNF-α are analyzed by enzyme linked immunosorbent assay (ELISA) method.The result of this study showed that TNF-α with hemoglobin (r = - 0.189; p > 0.05), TNF-α with paracitemia (r = 0.036; p > 0.05).The result of this study concluded that not significant relationship between of TNF-α with hemoglobin and paracitemia, negative correlation with hemoglobin and positive correlation with paracitemia in falciparum malaria infection .Keywords:Tumor Necrosis Factor-Alfa (TNF- α), hemoglobin, paracitemia, falciparum malari
Uji Bakteriologis Es Batu Rumah Tangga yang digunakan Penjual Minuman di Pasar Lubuk Buaya Kota Padang
AbstrakEs batu digunakan untuk minuman dan terbuat dari air. Nilai sanitasi dan kehegienisan yang baik suatu minuman/makanan adalah tidak ditemukan adanya kuman E. coli sebagai parameter karena E. coli merupakan flora normal usus yang keluar bersama tinja dimana sebagai sumber infeksi terhadap makanan dan minuman. Dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan masyarakat perlu dilaksanakan berbagai upaya kesehatan termasuk pengawasan kualitas makanan dan minuman. Telah dilakukan penelitian deskriptif dengan menggunakan metoda indeks MPN (Most Propable Number) di bagian Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas. Penelitian ini bertujuan untuk menilai kualitas bakteriologis es batu Rumah Tangga yang digunakan penjual minuman di pasar Lubuk Buaya kota Padang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 88,9% sampel es batu Rumah Tangga yang digunakan penjual minuman di pasar Lubuk Buaya kota Padang belum memenuhi syarat kesehatan, dengan angka MPN yang bervariasi. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa sanitasi dan higienis es batu Rumah Tangga yang digunakan penjual minuman di pasar Lubuk Buaya kota Padang terkontaminasi bakteri koliform.Kata kunci: Uji Bakteriologis, Es Batu, MPNAbstractIce cube is widely use for drinks and beverages, it made from water.Good sanitation and hygienic value of a food/drink is determined by the founding of the E. coli germ as a parameter, since the E. coli is a normal flora of the intestine that is secreted together with feces, which is an infection-resulting source on food and drink. In order to improve the health of public, many efforts need to be done, including the monitoring of foods and drinks quality. A descriptive study has been done with index method of MPN (Most Probable Number) in Microbiology section of Medical Faculty Andalas University. This study is aimed to determine the bacteriological qualiti of Ice cube were use by seller drinks at the pasar Lubuk Buaya kota Padang. Result of the study shows that 88,9% sampel of ice cube were use by seller drinks at the pasar Lubuk Buaya kota Padang has not fulfilled the medical conditions yet, with the various number of MPN. From the result, it is concluded that the sanitation and hygienic of ice cube were use by seller drinks at the pasar Lubuk Buaya kota Padang is contaminated by coliform bactery.Keywords:Bacteriological test, ice cube, MP
Hubungan Status Gizi dengan Status Sosial Ekonomi Keluarga Murid Sekolah Dasar di Daerah Pusat dan Pinggiran Kota Padang Lisbet Rimelfhi Sebataraja,
AbstrakStatus gizi anak secara tidak langsung berkaitan dengan faktor sosial ekonomi keluarga. Jika status sosial ekonomi rendah maka kebutuhan makanan keluarga akan kurang terpenuhi sehingga anak akan memiliki status gizi kurang. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan status gizi dan status sosial ekonomi keluarga murid SD di pusat dan pinggiran kota Padang. Suatu penelitian analitik secara cross sectional telah dilakukan terhadap 220 orang murid di SDN 08 Alang Lawas sebagai perwakilan SD di pusat kota Padang dan SDN 36 Koto Panjang sebagai perwakilan SD di pinggiran kota Padang. Pengumpulan data dilakukan melalui kuisioner, pengukuran tinggi, dan berat badan anak. Analisa data dilakukan dengan menggunakan uji statistik Chi-Square. Hasil penelitian didapatkan status gizi murid SD di pusat kota dengan tingkat sosial ekonomi baik sebesar 84,2% status gizi baik dan 6% status gizi kurang, sedangkan keluarga dengan tingkat sosial ekonomi rendah didapatkan 15,7% status gizi baik dan 0% status gizi kurang. Pada daerah pinggiran kota dengan status ekonomi baik didapatkan 15,8% status gizi baik dan 64,7% status gizi kurang, sedangkan pada keluarga dengan status ekonomi rendah didapatkan 84,3% status gizi baik dan 100% status gizi kurang. Dari uji Chi-Square didapatkan nilai pearson Chi-Square (x2) = 71.004 lebih besar dari nilai x2 tabel = 7,815 dan nilai probabilitas (p) = 0,000 lebih kecil dari nilai probabilitas yang bermakna yaitu p < 0,05 berarti terdapat hubungan yang signifikan antara status gizi dengan status sosial ekonomi keluarga murid SD di pusat dan pinggiran kota Padang. Status gizi anak juga berhubungan dengan tingkat ekonomi keluarga, tingkat pendidikan ayah dan ibu serta jumlah anak dalam keluarga.Kata kunci: Status Gizi, Status Sosial Ekonomi, Pusat Kota, Pinggiran KotaAbstractNutritional status of children is indirectly related to socioeconomic factors. If the low socioeconomic status family meals needs will not fulfilled so that the child will have malnutrition status. The purpose of this study was to determine the relationship of nutritional status and family socioeconomic status elementary students in the center and suburbs of Padang. An analytic study is cross-sectional was conducted on 220 students at SDN 08 Alang Lawas as representatives elementary in the city center of Padang and SDN 36 Koto Panjang as a representative elementary school on the in the suburbs of Padang. Data collection was conducted through questionnaires and measurements of height and weight of children. Data analysis was done using Chi-Square test statistics. The results were obtained nutritional status in the city center with good socioeconomic level of 84.2% obtained a good nutritional status and 6% malnutrition, while families with lower socioeconomic levels obtained 15.7% of good nutritional status and 0% malnutrition. In the suburban areas with good economic status of 15.8% obtained a good nutritional status and 64.7% malnutrition status, while in families with low socioeconomic status obtained 84.3% a good nutritional status and 100% malnutrition. Of the Chi-Square test obtained value Pearson Chi-Square (x2) = 71 004 is greater than the table value x2 = 7.815 and the probability value (p) = 0.000 is smaller than the value that is meaningful probability p < 0.05 means that there is a significant relationship between the nutritional status of the family's socioeconomic status elementary students in the center and suburbs the city of Padang. Nutritional status associated with Economic level of families, father and mother's education level and number of children in families.Keywords:Nutritional Status, Socioeconomic Status, The City Center, Suburb