Jurnal Kesehatan Andalas
Not a member yet
    1143 research outputs found

    Two Walls Orbital Decompression pada Thyroid Eye Disease

    Full text link
    A patients with Grave Ophthalmopathy who underwent orbital decompression surgery involving two walls, medial and lateral. The surgery was performed in collaboration with an ENT specialist. This case report described a patient who presented with Thyroid Eye Disease NOSPEC V. It has been reported that a 35-year-old male had complained of bilateral proptosis, decreased visual acuity, and eye pain. The patient had been diagnosed with hyperthyroid 1 year before coming to the eye clinic. The patient was given a peribulbar steroid injection, but no improvement was observed. Visual acuity of the right eye was 3/60 and the left eye was 1/60. Lagophthalmos were seen on both eyes, 6mm in the right and 4mm in the left. The cornea of the right eye had infiltrated due to exposure keratitis. Proper eye movement was restricted to superonasal. The patient underwent medial and lateral orbital wall decompression of the left eye. Left eye visual acuity was improved to 20/150. Lagophthalmos was improved up to 3 mm. Medial and lateral orbital wall decompression are minimally invasive procedures involving removing a small portion of the bone from either the medial or lateral wall of the orbit. This allows more space for the eye to move backward, reducing pressure on the optic nerve and improving vision. This procedure also improves the cosmetic appearance of the eye. The ophthalmologic specialist performed the lateral wall decompression, and the ENT specialist performed the medial wall decompression. Medial and lateral orbital wall decompression has proven to be effective in treating patients with proptosis. The procedures have a low complication rate, and patients typically experience a significant improvement in their symptoms within a few weeks of the surgery.  Keywords:  orbital decompression, trans endoscopic decompression, thyroid eye diseas

    Hubungan Kecerdasan Emosional dengan Tingkat Kecemasan selama Masa Pandemi Covid-19 pada Mahasiswa Program Studi Kedokteran Angkatan 2019 Universitas Tanjungpura

    Full text link
    Unexpected changes in various aspects of life during the COVID-19 pandemic have made students more vulnerable to anxiety. Anxiety among students, especially medical students, requires more attention because it might affect their academic performance and professional development. One factor that may affect anxiety is the ability to manage emotions or emotional intelligence. The higher the emotional intelligence, the better the emotion management skill. Objective: To determined the correlation between emotional intelligence and anxiety levels during the COVID-19 pandemic among third-year medical students at Tanjungpura University. Methods: This study was an analytical cross-sectional study. A total of 79 students participated in the study. The emotional intelligence and Beck Anxiety Inventory questionnaires were used to measure emotional intelligence and anxiety levels, respectively. Data were analyzed using the Spearman correlation test. Results: The results of the emotional intelligence correlation test with anxiety on self-awareness variables (p = 0.006; r = -0,307), self-control (p = 0.491; r = -0.079), motivation (p = 0.097; r = -0.188), empathy (p = 0.933; r = -0.010), and social skills (p = 0.579; r = -0.063). Conclusion: There is a statistically significant opposite correlation between emotional intelligence on the self-awareness variable and the level of anxiety during the COVID-19 pandemic among third-year medical students at Tanjungpura University.Keywords: emotional intelligence, anxiety, COVID-19 pandemic, medical student

    Hubungan Kadar Gula Darah dengan Nilai Ankle Brachial Index Pasien Diabetes Melitus di Out Patient Departement Siloam Hospital Denpasar

    Full text link
    Uncontrolled blood sugar levels in patients with diabetes mellitus will result in peripheral neuropathy in the lower extremities, so that the sensitivity of the feet will decrease. Ankle Brachial Index (ABI) assessment is necessary for Type 2 Diabetes Mellitus (T2DM) patients to detect peripheral neuropathy early, particularly on the soles of the feet. Low ABI values that cause vascular disorders are influenced by increasing age, duration of DM and obesity. Objective: To determine the relationship between blood sugar levels and the ankle brachial index value of patients with diabetes mellitus in the Out-Patient Department (OPD) Siloam Hospital, Denpasar. Methods: This study employed a correlational research design with a cross-sectional approach, using simple random sampling to involve 227 respondents. The research instruments used were a Sphygmomanometer to measure the ABI value and a Glucometer (Glukotest) to measure the blood sugar levels of respondents. Data analysis was carried out using Spearman's rank correlation. Results:  Based on the value of blood sugar levels, it shows that the majority of respondents have a high category, namely 205 respondents (90.3%) and based on the value of the ankle brachial index (ABI), the majority of respondents' right foot ABI values are in the mild obstruction category, namely 128 respondents (56.4%) and the majority of the left foot has mild obstruction, namely 133 respondents (59.5%). The analysis yielded a p-value of 0.001, indicating a significant relationship between blood sugar levels and ankle brachial index (ABI) values. Conclusion: There is a significant relationship between blood sugar levels and ABI index on T2DM. Keywords: ankle brachial index, blood sugar level, T2D

    Toksoplasmosis Okular

    Full text link
    Toksoplasmosis merupakan penyakit yang disebabkan oleh Toksoplasma gondii yang merupakan protozoa obligat intraselular.  Parasit ini mempunyai tiga bentuk morfologi yang berbeda, yaitu: tachizoites, bradizoites dan ookista. Transmisi parasit ke manusia dapat terjadi dengan cara termakan makanan yang mengandung ookista atau kista jaringan yang terdapat di dalam daging yang dimasak tidak sempurna. Dilaporkan kasus dengan diagnosis toksoplasmosis okular pada lima pasien yang datang ke RSUP Dr. M. Djamil Padang antara Februari sampai Mei 2015. Lima  pasien datang dengan keluhan penglihatan kabur dengan onset yang berbeda-beda. Pada pemeriksaan oftalmologi didapatkan penurunan visus unilateral dan terdapatnya lesi di polus posterior dengan pinggir hiperpigmentasi pada pemeriksaan funduskopi. Semua pasien diberikan terapi trimethoprim/sulfamethoxazole  selama 6 minggu. Perbaikan visus pada pasien toksoplasmosis okular terjadi setelah pemberian terapi selama 6 minggu dengan terapi trimethoprim/sulfamethoxazole walaupun tidak terlalu signifikan karena ada lesi didaerah makula.Kata kunci: lesi hiperpigmentasi, toksoplasmosis okular, trimethoprim / sulfamethoxazol

    Hubungan Ekspresi Protein 16 (p16) dengan Derajat Histopatologik dan Invasi Perineural pada Karsinoma Sel Skuamosa Kepala dan Leher

    Full text link
    Protein 16 (p16) merupakan salah satu protein supresor tumor yang memiliki peran dalam patogenesis Karsinoma Sel Skuamosa (KSS) kepala dan leher. Peran protein ini berbeda sesuai dengan faktor risiko paparan karsinogen dan memiliki implikasi terhadap faktor prognostik patologik. Tujuan: Menentukan hubungan protein 16 dengan derajat histopatologik dan Invasi Perineural (IPN) pada KSS kepala dan leher. Metode: Penelitian ini merupakan cross-sectional study dengan sampel sebanyak 60 kasus KSS kepala dan leher yang telah didiagnosis di Laboratorium Patologi Anatomik RSUP Dr. M. Djamil Padang periode Januari 2016 sampai Desember 2018. Sampel diperoleh secara simple random sampling dari blok parafin yang berasal dari jaringan tumor. Dilakukan penilaian ulang pada slaid histopatologik untuk menilai derajat histopatologik dan invasi perineural. Ekspresi p16 pada sel tumor dilihat dengan pulasan imunohistokimia. Korelasi dilakukan analisis statistik bivariat menggunakan uji Chi-square dengan tingkat kemaknaan p<0,05. Hasil: Ekspresi p16 positif didapatkan pada 24 kasus (40%) dengan kasus terbanyak pada KSS kepala dan leher derajat tinggi, sedangkan pada 36 kasus (60%) tidak terdapat ekspresi p16. Ekspresi p16 positif memiliki hubungan yang bermakna dengan derajat histopatologik (p = 0,002) namun tidak terdapat hubungan antara ekspresi p16 dengan IPN (p = 1,000). Simpulan: Ekspresi p16 positif berhubungan dengan derajat histopatologik tumor yang lebih tinggi namun p16 tidak tidak berhubungan dengan kejadian invasi perineural pada KSS kepala dan leher.Kata kunci: derajat histopatologik, ekspresi p16, invasi perineural, KSS kepala dan lehe

    Rekonstruksi Lantai Orbita dan Dinding Anterior Maksila pada Blow Out Fracture Terbuka Tidak Murni Menggunakan Titanium Mesh Plate

    Full text link
    Blow out fracture merupakan fraktur yang melibatkan dinding orbita terutama dinding medial dan atau lantai orbita yang disebabkan dari peningkatan tekanan intraorbita mendadak. Blow out fracture merupakan fraktur orbita yang paling sering terjadi akibat jatuh, perkelahian, kecelakaan lalu lintas atau cedera olahraga. Tanda dan gejala yang dapat muncul karena blow out fracture adalah enoftalmos, diplopia, dan gangguan gerak bola mata. Diagnosis blow out frakture ditegakkan dari anamnesis, pemeriksaan fisik dan computerized tomography scanning. Tindakan bedah rekonstruksi menggunakan implan dilakukan jika didapatkan adanya herniasi volume isi bola mata, fraktur lantai orbita >1 cm,  muscle entrapment, diplopia, enoftalmus dan keterbatasan gerakan bola mata. Dilaporkan satu kasus fraktur blow out dekstra yang ditatalaksana rekonstruksi dengan menggunakan titanium mesh plate dan screws melalui pendekatan insisi luka infra orbita. Fraktur ini terjadi akibat benturan objek dari luar yang mengenai orbita atau rim orbita yang mengakibatkan peningkatan tekanan intraorbita. Tekanan intraorbita mendorong organ intraorbita ke sekelilingnya termasuk ke lantai orbita yang rapuh sehingga terjadi herniasi ke inferior.Kata kunci: blow out fracture, fraktur orbita, mesh titanium, trauma fasia

    Studi Awal Analisis Molekuler Human Papillomavirus dari Apusan Glans dan Batang Penis

    Full text link
    Pria juga dapat mengalami keganasan akibat infeksi Human Papillomavirus (HPV) serta bertindak sebagai reservoir virus. Metode skrining HPV pada wanita telah terstandardisasi, namun belum ada standar metode skrining pada pria di Indonesia. Beberapa studi pada populasi pria di luar negeri menunjukkan potensi sampling pada daerah genitalia eksterna untuk skrining HPV. Tujuan: mengoptimasi metode skrining HPV secara molekuler pada pria. Metode: Responden adalah partner seksual wanita pansien kanker serviks di RSUD Arifin Achmad Provinsi Riau. Apusan dari glans dan batang penis diambil menggunakan nylon-flocked swab yang kemudian dimasukkan ke dalam 350µl viral transport medium terpisah. DNA diisolasi dari sampel yang kemudian dianalisis untuk mendeteksi gen human β-globin dan HPV. Hasil: Optimasi awal menunjukkan gen β-globin dapat terdeteksi dari hasil ekstraksi dengan kit Zeesan Viral RNA Extraction. Pita HPV hasil PCR dengan primer MY09 dan MY11 dapat muncul namun masih tipis. Simpulan: Studi awal ini menunjukkan bahwa apusan glans dan batang penis dapat digunakan untuk deteksi HPV secara molekuler pada pria, namun proses pengambilan sampel, ekstraksi DNA, dan PCR masih perlu dioptimasi.Kata kunci: apusan, glans, HPV, peni

    Gambaran Kualitas Hidup Santriwati yang Menderita Skabies di Pondok Pesantren Kecamatan Enam Lingkung, Kabupaten Padang Pariaman

    Full text link
    Kualitas hidup terkait dengan kesehatan  meliputi aspek fisik, psikis dan sosial. Penilaian kualitas hidup tersebut terdiri dari: tidak ada pengaruh, pengaruh kecil, pengaruh sedang dan pengaruh besar terhadap kualitas hidup karena penyakit skabies. Tujuan: Mengetahui gambaran kualitas hidup santriwati yang menderita skabies di Pondok Pesantren Kecamatan Enam Lingkung, Kabupaten Padang Pariaman. Metode: Jenis penelitian ini adalah deskriptif dengan desain cross sectional. Pondok Pesantren Kecamatan Enam Lingkung Kabupaten Padang Pariaman pada bulan Desember 2019. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik total sampling dengan jumlah sampel sebanyak 32 orang. Data dikumpulkan melalui wawancara, pemeriksaan kulit dan pengerokan kulit. Proses wawancara yang dipandu kuesioner modified Dermatology Life Quality Index yang sudah diterjemahkan dari Bahasa Inggris ke Bahasa Indonesia.  Hasil: Mayoritas penyakit skabies berpengaruh kecil terhadap kualitas hidup responden (62,5%), diikuti dengan pengaruh sedang pada kualitas hidup (25,0%), selanjutnya tidak ada pengaruh pada kualitas hidup (4%) dan pengaruh besar pada kualitas hidup (0%). Komponen kualitas hidup yang paling terganggu adalah kegiatan sekolah/belajar (18,8%) dan yang paling tidak terpengaruh adalah hubungan pertemanan (78,1%). Simpulan: Mayoritas penyakit skabies memiliki pengaruh yang kecil terhadap kualitas hidup penderita skabies.Kata kunci: modified dermatology life quality index, kualitas hidup, skabie

    Penatalaksanaan Multirinosinusitis Kronis dengan Komplikasi Abses Subperiosteal Sinistra

    Full text link
    Abses subperiosteal merupakan salah satu komplikasi dari rinosinusitis baik akut ataupun kronis. Beberapa faktor sangat berperan sebagai penyebab penyebaran rinosinusitis ke orbita. Diagnosis rinosinusitis kronik dengan komplikasi abses periorbita ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, nasoendoskopi, tomografi komputer serta Magnetic Resonance Imaging (MRI). Penatalaksanaan rinosinusitis kronis dengan komplikasi abses subperiosteal adalah pemberian medikamentosa antibiotik intravena spektrum luas atau kombinasi, dekongestan, kortikosteroid sistemik disertai dengan tindakan operatif yaitu pendekatan Bedah Sinus Endoskopi Fungsional (BSEF). Dilaporkan satu kasus rinosinusitis kronis dengan komplikasi abses subperiosteal kiri pada laki-laki umur 40 tahun dan telah dilakukan perawatan dan dilanjutkan dengan pembedahan melalui pendekatan BSEF. Rinosinusitis kronik dengan komplikasi abses subperiosteal dapat ditatalaksana dengan terapi antibiotik dan pembedahan. Keterlambatan penanganan mempengaruhi tingkat kerusakan. Penanganan dengan antibiotik yang adekuat dan BSEF memberikan prognosis yang baik pada pasien.Kata kunci: abses subperiosteal, BSEF, rinosinusitis kronik                        Â

    Uji Daya Hambat Isolat Actinomycetes sebagai Antibakteri terhadap Pertumbuhan Pseudomonas aeruginosa ATCC 27853 secara In Vitro

    Full text link
    Pneumonia is a lung parenchymal infection caused by Pseudomonas aeruginosa.It is Gram negative bacteria that have developed antibiotic resistance. Actinomycetes are Gram-positive bacteria that produce secondary metabolites which have the ability as antimicrobial. Objectives: To identified the ability of Actinomycetes isolates to inhibit the growth of the bacterium Pseudomonas aeruginosa ATCC 27853. The samples in this experiment were from Kebun Raya Bogor that had been rejuvenated on Starch Casein Agar (SCA). Methods: Six dilution series 10-1; 10-2; 10-3; 10-4; 10-5; 10-6 Actinomycetes isolates were used to observe the inhibition zone of P.aeruginosa growth on Mueller Hinton Agar (MHA) media by diffusion method. Results: The effective incubation time occurred at 24 hours, and then it resulted in the average clear zone diameter of 14.70 mm, 10.57 mm, 8.53 mm, 8.47 mm, 6.97 mm, and 5.30 mm. The results of the One – Way Anova test with p-value = 0.000 (p < 0.005) showed some differences at each concentration to inhibit the growth of P.aeruginosa ATCC 27853 at 24 hours incubation period. Conclusion: The most effective concentration of Actinomycetes isolates that can potentially be antibacterial was the concentration of 10-1 with potential solid inhibitory power.Keywords: Actinomycetes, antibacterial, Pseudomonas aeruginos

    1,096

    full texts

    1,143

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Kesehatan Andalas
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇