KURIOSITAS Media Komunikasi Sosial dan Keagamaan
Not a member yet
144 research outputs found
Sort by
The Communication Strategy of The Directorate of Drugs Police Sumatera Utara in an Effort to Eradicate Drugs
Drug abuse is still a considerable problem today considering the consequences of the development of science and technology, the impact of globalization, the flow of transport is very rapidly growing and the transfer of materialistic values with the dynamics of the purpose of bad opinion that led to the spread of drugs to urban areas but also to rural areas. This study aims to determine the communication strategy used by the Direktorat Reserse Narkoba Polda Sumut in this case eradicating drugs. This study uses the theory of organizational communication with descriptive qualitative research methods. Data collection techniques used are observation, in-depth interviews and documentation. The results of this study concluded that the Direktorat Reserse Narkoba Polda Sumut has a strategy or way of working to achieve the goals in the Direktorat Reserse Narkoba Polda Sumut, with various ways such as the dissemination of News, providing the media as a place to provide information.Penyalahgunaan narkoba masih menjadi masalah yang cukup besar saat ini mengingat akibat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, dampak globalisasi, arus transportasi yang sangat berkembang pesat dan perpindahan nilai-nilai materialistis dengan dinamika tujuan opini buruk yang menyebabkan meluasnya narkoba ke perkotaan tetapi juga hingga ke pedesaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui strategi komunikasi yang digunakan Direktorat Reserse Narkoba Polda Sumut dalam hal ini memberantas narkoba. Penelitian ini menggunakan teori komunikasi organisasi dengan metode penelitian kualitatif deskriptif. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu observasi, wawancara mendalam dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa Direktorat Reserse Narkoba Polda Sumut memiliki strategi atau cara kerja untuk mencapai tujuan didalam organisasi Direktorat Reserse Narkoba Polda Sumut, dengan berbagai cara yang dilakukan seperti penyebaran berita, menyediakan media sebagai tempat untuk memberi informasi. 
Metaverse And Hajj: The Meaning Of Muslims In Indonesia
This study describes and explains the meaning of Muslims in Indonesia in the discourse of the pilgrimage through the metaverse space. The description in this study will provide a more comprehensive discussion of the discourse of the pilgrimage through metaverse in the meaning of Muslims in Indonesia. This study uses a virtual ethnographic method, which emphasizes data collection through reading online news texts through the Google search engine using the search keyword “Wacana Ibadah Haji melalui Metaverse". The findings in this study show that the discourse of the pilgrimage through metaverse space such as visualization of Hajj symbols and imitation of Hajj practices through virtual reality (VR) methods, such as visualization of the Kaaba and the Grand Mosque. The two forms have significantly influenced the meaning of Muslims in Indonesia in evaluating the discourse of the pilgrimage through the metaverse space. This evaluation was shown by several religious organizations in Indonesia, such as the Indonesian Ulama Council, Nahdlatul Ulama, and Muhammadiyah
The Study of Religious Interpretation and Expression; : Construction of an Islamic Boarding School for Religious Moderation in Palopo City
This study discusses the Religious Moderation Construction of Islamic Boarding Schools in Palopo City with a focus on religious interpretation and expression. The research was carried out at the DatokSulaiman Putra Palopo Islamic Boarding School and the Hidayatullah Islamic Boarding School Palopo. This study aims to determineinterpretation of religious moderation and religious expression of Islamic boarding schools in the city of Palopo. The type of research used is descriptive qualitative. Basically, qualitative research seeks to describe, analyze, and interpret the data collected in the research process. The results of the research obtained in the field are the interpretation of religious moderation in the DatokSulaiman Putra Modern Islamic Boarding School and the HidayatullahPalopo Islamic Boarding School, as follows: 1) The vision of the state, as a form of attitude and behavior related to the vision of the state in the pesantren, namely: Attitudes of nationalism, love for the homeland , The use of school attributes according to the rules, and discipline. 2) Multiple awareness, as a form of attitude and behavior related to plural awareness in Islamic boarding schools, namely: working with various institutions, rejecting radicalism, mutual respect and respect, and tolerance between religious communities. 3) Respect for human values, as a form of attitude and behavior related to respect for human values in Islamic boarding schools, namely: there is no dichotomization of students, both from the aspect of social status, economy, even ethnicity, not discriminatory in service, and respect fellow students and teachers. 4) Appreciation of cultural values and identity, as a form of attitude and behavior related Appreciation of Cultural Values and Identity in Islamic boarding schools, namely visiting historical places in the city of Palopo, local traditional activities such as barasanjitahlilan and others related to religion, as well as attending celebrations or traditional events carried out by the community. Expressions of diversity in the DatokSulaiman Putra Modern Islamic Boarding School and the HidayatullahPalopo Islamic Boarding School, namely: expressions of ceremonial activities as a form of nationalism and love for the homeland, expressions in humanitarian mission activities, expressions on anti-violence socialization activities, expressions on religious tourism activities, expressions on religious tradition activities, expression in the form of mental and spiritual strengthening, and expression in the form of integral activities. The interpretation of religious moderation is in line with religious expressions in cultivating the moderate values of Islamic boarding schools in Palopo City, especially the DatokSulaiman Putra Modern Islamic Boarding School and the HidayatullahPalopo Islamic Boarding School. So that the two pesantren take part and contribute in constructing religious moderation in the city of Palopo.Penelitian ini membahas tentang Kontruksi Moderasi Beragama Pesantren di Kota Palopo dengan fokus pada interpretasi dan ekpresi keberagamaan. Penelitian dilaksanakan di Pesantren Modern Datok Sulaiman Putra Palopo dan Pesantren Hidayatullah Palopo. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui interpretasi moderasi beragama dan ekspresi keberagamaan pondok pesantren di kota Palopo. Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Secara mendasar penelitian kualitatif berupaya mendiskripsikan, menganalisis, dan menginterpretasikan data yang terkumpul dalam proses penelitian. Hasil penelitian yang didapatkan di lapangan yakni interpretasi moderasi beragama Pesantren Modern Datok Sulaiman Putra dan Pesantren Hidayatullah Palopo, sebagai berikut: 1) Visi bernegara, sebagai wujud dari bentuk sikap dan prilaku yang berkaitan visi bernegara di pesantren, yakni: Sikap nasionalisme, cinta tanah air, Penggunaan atribut sekolah sesuai aturan, dan disiplin. 2) Kesadaran majemuk, sebagai wujud dari bentuk sikap dan prilaku yang berkaitan kesadaran majemuk di pesantren, yakni: bekerjasama dengan berbagai lembaga, menolak paham radikalisme, saling menghargai dan menghormati, serta toleransi antara umat beragama. 3) Penghargaan terhadap nilai-nilai kemanusiaan, sebagai wujud dari bentuk sikap dan prilaku yang berkaitan penghargaan terhadap nilai-nilai kemanusiaan di pesantren, yakni: tidak ada dikotomisasi santri, baik dari aspek status sosial, ekonomi, bahkan suku, tidak diskriminatif dalam pelayanan, dan menghargai sesama santri dan guru. 4) Apresiatif terhadap nilai-nilai dan identitas kultural, sebagai wujud dari bentuk sikap dan prilaku yang berkaitan Apresiatif terhadap Nilai-Nilai dan Identitas Kultural di pesantren, yakni mengunjungi tempat-tempat sejarah yang ada di kota Palopo, kegiatan tradisi lokal yang ada seperti barasanji, tahlilan dan lainnya berkaitan dengan keagamaan, serta menghadiri hajatan atau acara adat yang dilaksanakan masyarakat. Ekspresi keberagamaan Pesantren Modern Datok Sulaiman Putra dan Pesantren Hidayatullah Palopo, yakni: ekspresi kegiatan upacara sebagai wujud nasionalisme dan cinta tanah air, ekspresi dalam kegiatan misi kemanusiaan, ekspresi pada kegiatan sosialisasi anti kekerasan, ekspresi pada kegiatan wisata religus, ekspresi pada kegiatan tradisi keagamaan, ekpresi dalambentuk penguatan mental ruhani, dan ekspresi dalam bentuk kegiatan integral. Intersptrasi moderasi beragama sejalan dengan ekpresi keberagamaan dalam menyemaikan nilai-nilai moderasi beragama pesantren di Kota Palopo khususnya Pesantren Modern Datok Sulaiman Putra dan Pesantren Hidayatullah Palopo. Sehingga kedua pesantren tersebut turut andil dan berkontribusi dalam mengkontruksi moderasi beragama di kota Palopo
Cyberfeminisme: Pembebasan Psikologi Perempuan di Ruang Digital
Cyberfeminism emerged as a feminist response to cyberpunk politics, as well as the development of communication technology in the digital space. The agenda of women's liberation in cyberfeminism, echoed by feminists, is to fight subordination. In practice, subordination refers to, among other things, gender inequality. Sexual violence that often afflicts women is often a manifestation of the position of women who are considered weak. Moreover, sexual violence is also targeted online. This is evident from the rise of Online Gender-Based Violence (KGBO). Thus, in this study, the author attempts to describe how cyberfeminism is a way to liberate women from sexual violence. This research uses descriptive qualitative method. The data is obtained through books, papers, or related articles as a support to clearly describe the formula used by feminists. The results of this study indicate that as a way to liberate women in the digital space, it is necessary to have a media with a gender perspective. In addition, feminists and women need to have the power of data as a basis for carrying out the path of liberation.Cyberfeminisme muncul sebagai respons feminis terhadap politik cyberpunk, sekaligus perkembangan teknologi komunikasi di ruang digital. Agenda pembebasan perempuan pada cyberfeminisme, yang digaungkan oleh feminis adalah melawan subordinasi. Pada praktinya, subordinasi merujuk kepada, salah satunya, ketidakadilan gender. Kekerasan seksual yang kerap menimpa perempuan seringkali merupakan manifestasi kedudukan perempuan yang dianggap lemah. Terlebih lagi, kekerasan seksual juga turut menyasar secara daring. Terbukti dari maraknya Kekerasan Gender Berbasis Online (KGBO). Sehingga, dalam penelitian ini, penulis berupaya menggambarkan bagaimana cyberfeminisme menjadi jalan pembebasan perempuan dari kekerasan seksual. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Data diperoleh melalui buku, makalah, ataupun artikel yang terkait sebagai penunjang untuk menggambarkan secara gamblang formula yang digunakan oleh para feminis. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa sebagai jalan pembebasan perempuan di ruang digital, perlu adanya media yang berperspektif gender. Selain itu, para penganut feminis dan perempuan perlu memiliki kuasa data sebagai pijakan untuk melakukan jalan pembebasan
The Meaning of Communication Politeness Viewed from the Qur'an’s Perspective
This study examines how to build politeness in communication from the perspective of the Qur'an. The research problems raised in this study revolve around two research questions, what is politeness in communication? How to do polite communication from the perspective of the Qur'an? Methodologically, this is a literature study that uses qualitative research. The data used in this study consisted of two, primary and secondary data. Primary data contains a religious textual basis sourced from the Qur'an, while secondary data is in the form of information or literature explanation obtained from various literature sources, especially library sources that are related to the focus of the problem in this study. Based on the research of data analysis, the study found two important findings; First, politeness in communication is a social relationship based on kindness and subtlety in speech, full of calm and gentleness, avoiding all forms of speech or speech that are bad, rude, and loud. Second, in the Qur'an, the recommendation to humans to instill the values of politeness in communication can be found in many verses such as the recommendation to speak with noble words (qoulan karima), pleasant words (qoulan Maysura), good words (qoulan ma'rufa), gentle words (qoulan Layyina), honest words (qoulan sadid), and a number of other words that have a similar meaning to it.Studi ini mengkaji bagimana membangun kesantunan dalam komunikasi ditinjau dari sudut pandang Al-Qur’an. Permasalahan penelitian yang diangkat dalam kajian ini berkisar pada dua pertanyaan penelitian, apa yang disebut dengan kesantunan dalam berkomunikasi? Bagaimana melakukan komunikasi yang santun ditinjau dari perspektif Al-Qur’an? Secara metodologi, kajian merupakan studi kepustakaan yang menggunakan jenis penelitian kualitatif. Data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari dua, data primer dan data sekunder. Data primer berisikan landasan tekstual keagamaan yang bersumber dari Al-Qur’an, sedangkan data sekunder berupa informasi atau penjelasan literatur yang diperoleh dari berbagai sumber kepustakaan, khususnya sumber kepustakan yang memiliki keterkaitan dengan fokus permasalahan dalam kajian ini. Berdasarkan analisa data penetian, studi mendapati dua temuan penting; pertama, kesantunan dalam komunikasi merupakan hubungan sosial yang dilandaskan pada kebaikan dan kehalusan dalam bertutur kata, penuh ketenangan dan kelembutan, menghindari segala bentuk ucapan atau pembicaraan yang buruk, kasar, dan keras. Kedua, di dalam Al-Qur’an, anjuran kepada manusia agar menanamkan nilai-nilai kesantunan dalam berkomunikasi, itu dapat ditemukan di banyak ayat semisal anjuran agar berbicara dengan perkataan yang mulia (qoulan karima), perkataan yang menyenangkan (qoulan Maysura), perkataan yang baik (qoulan ma’rufa), perkataan yang lembut (qoulan Layyina), perkataan yang jujur (qoulan sadid), dan sejumlag perkataan lain yang memiliki arti serupa dengannya
The Hadith Interpretations of Radical-Terrorist Groups: (Reconstructing the Concepts of Caliphate, Jihad, Hijrah, Faith, and the End of Time)
Radical groups were known to deconstruct the meaning of hadith, especially those related to the themes of the caliphate, jihad, hijrah, faith, and the end of time. They put aside the context of the background of the hadith so that it only clumped up as a text without having a fundamental historical basis. The pattern of understanding applied was also contrary to the principal rules of hadith studies which were well-known among scholars and hadith reviewers. The four radical groups examined in this study were the Ikhwanul Muslimin (IM), Hizb al-Tahrir (HT), Al-Qaeda, and the Islamic State of Iraq and Syria (ISIS). Despite having different characteristics of thought and movement, the four radical-terrorist groups had similarities in terms of exploiting the meaning and function of hadith to legitimize their acts of terror. The findings in this study confirmed the views of scholars who argued that understanding of hadith could be reduced by the interests and problems of power politics that were increasingly complex from time to time
Strengthening the Qur’an Literacy Learning Program in Religious Universities
Artikel ini berkenaan dengan program pembelajaran baca tulis al-Qur’an di perguruan tinggi keagamaan Islam. Penelitian ini kualitatif dengan menggunakan pendekatan paedagogik dengan mengambil lokasi penelitian di Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar. Temuan penelitian menginformasikan bahwa keterampilan membaca al-Qur’an mahasiswa UIN Alauddin Makassar masih berada pada interval 70-79 dengan presentase 48,5% dengan kategori cukup yang dapat dideskripsikan bahwa keterampilan membaca al-Qur’an mahasiswa UIN Alauddin Makassar masih perlu ditingkatkan lagi karena masih berada dalam kategori cukup. Ragam kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan program pembelajaran Baca Tulis al-Qur’an (BTQ) di UIN Alauddin Makassar adalah kompetensi tenaga pengajar/pembimbing yang kurang memadai, latar belakang serta motivasi mahasiswa yang kurang disebabkan karena BTQ dianggap tidak penting dan tidak punya muatan SKS, waktu pelaksanaan kegiatan pembelajaran BTQ yang kurang tepat, tempat pelaksanaan kegiatan pembelajaran BTQ yang kurang nyaman. Solusi menghadapi ragam kendala program pembelajaran baca tulis al-Qur’an (BTQ) di UIN Alauddin Makassar adalah pengelola BTQ melakukan rekrutmen tenaga pengajar yang berkompeten di bidang BTQ, melakukan workshop tahsin al-Qur’an bagi dosen pengajar, melaksanakan lomba tilawah, menghafal serta menulis ayat al-Qur’an dalam rangka meningkatkan motivasi mahasiswa, waktu pelaksanaan kegiatan pembelajaran BTQ ditetapkan berdasarkan kesepakatan antara dosen pengajar dengan mahasiswa, tempat pelaksanaan kegiatan BTQ di ruang perkuliahan dan diatur berdasarkan kesepakatan antara dosen pengajar dan mahasiswa
Jalan Tengah Konflik Agama Sains dalam Vaksinasi Covid-19 Perspektif Pemikiran Ian G. Barbour
This study examines the phenomenon of religious and scientific conflicts related to vaccination in the dynamics of handling Covid-19. There are two research problems in this study; How is the religion-science conflict related to the Covid-19 vaccine? How to mediate religion-science conflict in Covid-19 vaccination, from the perspective of Ian G. Barbour? Methodologically, this study uses qualitative research methods. There are two types of data in this study, namely primary data sourced from both print and online media in the period January 2020 to December 2022, and secondary data obtained from library sources. Using Ian G. Barbour's theory of the religion-science relationship, this study finds two important findings; First, one of the crucial problems in the midst of the efforts of many countries to fight the Covid-19 pandemic is the existence of conflict or friction between religious circles and scientists. The friction arose along with the differences in their mindset regarding the prevention and control of Covid-19, in this case the Covid-19 vaccination. In response to this polemic or conflict, it is necessary to have a breakthrough at the level of thought, namely by developing the idea of a middle way, through which sages and clergy can meet, make peace, and compromise with each other. Second, in Iai G. Barbour's perspective, the relationship between religion and science can be mapped into four patterns, namely patterns of conflict, independence, dialogue, and finally the pattern of integration. Of these four patterns, the most ideal approach as a middle ground for religious and scientific conflicts related to Covid-19 vaccination is integration.
Studi ini mengkaji fenomena konflik agama dan sains terkait vaksinasi dalam dinamika penanganan Covid-19. Ada dua permasalahan penelitian dalam kajian ini; bagaimana konflik agama-sains terkait vakisnasi Covid-19? Bagaimana menengahi konflik agama-sains dalam vaksinasi Covid-19, ditinjau dari pemikiran Ian G. Barbour? Secara metodologi, kajian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Jenis data dalam penelitian ini ada dua, yaitu data primer yang bersumber dari media baik cetak maupun online pada periode Januari 2020 hingga Desember 2022, dan data sekunder yang diperoleh dari sumber-sumber kepustakaan. Dengan menggunakan teori hubungan agama-sains dari Ian G. Barbour, studi ini mendapati dua temuan penting; Pertama, salah satu problem krusial di tengah upaya banyak negara memerangi pandemi Covid-19 adalah adanya pertentangan atau pergesekan antara kalangan agamawan dan saintis. Pergesekan tersebut muncul seiring mencuatnya perbedaan pola pikir keduanya terkait penanggulangan dan pencegahan Covid-19, dalam hal ini vaksinasi Covid-19. Menyikapi polemik atau pertentagan ini, perlu adanya terobosan di level pemikiran, yakni dengan membangun gagasan jalan tengah, yang dengannya santis dan agamawan dapat bertemu, berdamai, dan saling kompromi. Kedua, dalam perspektif pemikiran Iai G. Barbour, hubungan agama dan sains dapat dipetakan ke dalam empat pola, yaitu pola konflik, independensi, dialog, dan terakhir adalah pola integrasi. Dari keempat pola ini, pendekatan paling ideal sebagai jalan tengah konflik agama dan sains terkait vaksinasi Covid-19 adalah dengan melakukan integrasi.
 
Social Change Philanthropy: The Role Of Rumah Zakat In Mobilizing Muslim Civil Society Against Poverty
Currently, the problem of poverty is one of the social problems in Indonesia. Therefore, it needs a strategy to solve it. The purpose of this paper is to present an approach of Rumah Zakat aimed at mobilizing civil society in reducing the poverty gap. This study used the descriptive method and qualitative analysis. The data source was secondary data collected from documents and texts related to the topic, be it books, articles, newspapers, and journals. This study found the that socio-economic empowerment of Rumah Zakat had a role in providing social change in the communities where the contribution of the program’s productive implementation has an impact in reducing the depth severity of poverty in Indonesia. The provision of voluntary charity through empowering programs in Muslim civil society is needed to bring welfare to the communitie
Santri and Jihad Algorithm: The Production of Da’wah Content on Instagram Stories
Jihad Algoritma defined as a movement that push the academician, moslem micro-influencer, local Da’I, Santri, and moslem community in common to create more da’wah content in social. This movement aimed to compete the algorithm of social media that also promote ‘negative content’ based on Islamic value standart, to create creative, viral, and engaged content. This research aimed to explore the production of dakwah content on Santri’s Instagram Story. Using the perspective of phenomenological research, it portrays santri experience on using Instagram Story as a medium of communication and da’wah in conveying information and religious messages to the public. Results showed three indicators on Da’wah Content production in Instagram Story. The concern of the creators are: 1) the content development, 2) the form of remediation, and also 3) to adjusted the content algorithm and jihad spirit on the da’wah activity. Santri planned the development of content on every account. The plan are organized based on the characteristic of Instagram Story as the main media. The da’wah message adjusted on Instagram Story characteristics. Then, algorithm consideration and jihad spirits on every santri’s community evaluates how the content production and content development, based on the development of account and the content plan implementation.influencer muslim, Da’I lokal, Santri, dan masyarakat musim secara umum untuk membuat konten dakwah di media sosial. Gerakan ini berusaha mengalahkan algoritma media sosial yang turut mempromosikan konten negatif, sekaligus membuat konten kreatif, viral, dan dengan engagement yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengekplorasi produksi konten dakwah oleh santri di Instagram Story. Menggunakan perspektif fenomenologi, penelitian ini menggambarkan pengalaman santri menggunakan Instagram story sebagai media komunikasi dan dakwah, untuk menyampaikan pesan dakwah dan informasi. Hasil penelitian menunjukkan tiga indikator produksi Konten Dakwah di Instagram Story. Kepedulian pencipta adalah: 1) pengembangan konten, 2) remediasi, serta 3) penyesuaian algoritma konten dan semangat jihad pada kegiatan dakwah. Santri merencanakan pengembangan konten di setiap akun. Rencana disusun berdasarkan karakteristik Instagram Story sebagai media utama. Pesan dakwah disesuaikan dengan karakteristik Instagram Story. Kemudian, pertimbangan algoritma dan semangat jihad pada setiap komunitas santri mengevaluasi bagaimana produksi konten dan pengembangan konten, berdasarkan pengembangan akun dan implementasi rencana konte