Jurnal PENELITIAN
Not a member yet
101 research outputs found
Sort by
Pemanfaatan Modal Sosial Dalam Upaya Meningkatkan Kemandirian Mantan Tenaga Kerja Indonesia Di Kabupaten Lampung Timur
Artikel ini akan memfouskan pada bagaimana modal sosial yakni trust, norms, network, reciprocity dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kemandirian mantan Tenaga Kerja Indonesia di Pasar Rintisan TKI Lampung Timur, dengan melakukan field research dan menggunakan pendekatan sosiologis.Menjadi mandiri secara ekonomi adalah mimpi setiap mantan TKI di Lampung Timur. Modal sosial yang dimiliki cukup untuk mnghantarkan pada kemandirian mantan TKI secara ekonomi. Modal sosial yang telah dimiliki mantan TKI di Lampung Timur meliputi (1) kepercayaan (trust). Kepercayaan yang tinggi (hight trust) akan menghasilkan kemauan dan keberanian untuk bekerjasama. (2) Norm (tatanan/pranata sosial yang berlaku). Norma yang disepakati bersama menjadikan setiap orang bertindak atass dasar kesepakatan dan tujuan bersama dari komunitas mantan TKI yang sedang membangun kemandirian ekonomi. (3) Network (jaringan antar anggota), jejaring yang kuat menjadikan para mantan TKI cepat mendapatkan informasi baik berkaitan dengan pemasok, peluang pasar, dan peluang usaha baru, serta peluang mendapatkan pendidikan pelatihan bekerjasama dengan pihak luar. (4) Reciprocity (hubungan timbal-balik) inilah yang kemudian menjadikan anggota pasar Labuhan Ratu sebagai sesama mantan TKI yang senasib sepenanggungan untuk saling membantu, saling menguatkan dan saling memotivasi untuk mencapai kemandirian. Untuk melihat seberapa besar modal sosial memberikan pengaruh terhadap peningkatan kemandirian mantan TKI. Secara garis besar modal sosial memberikan pengaruh positif bagi peningkatan kemandirian TKI di Labuhan Ratu Lampung Timur
PEMANFAATAN GAME MONOPOLI AYO MENGAJI DALAM MENINGKATKAN KEGEMARAN MENGAJI AL-QUR'AN
Artikel ini merupakan hasil penelitian yang bertujuan untuk: 1) mengetahui pelaksanaan kegiatan mengaji Al-Qur’an di Masjid Al-Mustofa Sukobubuk Margorejo Pati, 2) mengetahui penggunaan media game monopoli ayo mengaji dalam kegiatan mengaji Al-Qur’an di Masjid Al-Mustofa Sukobubuk Margorejo Pati, dan 3) mengetahui kegemaran siswa yang mengaji al-Qur’an dengan menggunakan media monopoli Ayo Mengaji di Masjid Al-Mustofa Sukobubuk Margorejo Pati. Penelitian ini merupakan penelitian lapangan dengan pendekatan kualitatif deskriptif. Sumber primernya adalah guru mengaji, ta’mir masjid dan para santri. Sedangkan sumber sekundernya dalah orangtua santri dan masyarakat. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan melakukan wawancara observasi dan dokumentasi. Teknik pengolahan dan analisis data kualitatif menggunakan 3 tahapan yaitu 1) reduksi data, 2) display data, dan 3) pengambilan kesimpulan. Hasil penelitiannya adalah bahwa 1) pelaksanaan pembelajaran mengaji al-Qur’an di Masjid al-Mustofa yaitu pengenalan huruf hija’iyah, cara bacanya, penyambungannya, tajwid dan gharib menggunakan kitab Yanbu’a (susunan yayasan Arwaniyah Kudus) yang terdiri dari 7 jilid. 2) Penggunaan media monopoli Ayo Mengaji dalam belajar mengaji merupakan terobosan dalam penggunaan metode yang bervariasi dalam belajar mengaji, sehingga siswa tidak merasa bosan dan selalu semangat dalam belajar. Pelaksanaannya disesuaikan dengan permainan monopoli hanya saja materinya disesuaikan dengan materi belajar al-Qur’an. 3) Peserta didik yang mengikuti kegiatan mengaji menggunakan media monopoli cenderung sangat antusias, senang dan merasa tidak bosan. Hal ini dapat dilihat pada kehadiran peserta didik dan antusiasme mereka dalam mengikuti kegiatan mengaji. Mereka secara bersama-sama bekerja sama dan saling mengingatkan untuk menjawab perintah yang mereka dapatkan dari kartu umum.
Pengawasan Ombudsman Republik Indonesia Perwakilan Jawa Tengah Terhadap Maladministrasi Pungutan Liar Program Nasional Agraria di Kabupaten Kudus Tahun 2017
Sertifikat tanah merupakan dokumen penting yang menunjukkan tanda bukti kepemilikan dan hak seseorang atas tanah. Program pendaftaran tanah sistematis lengkap melalui Prona menawarkan kepada masyarakat untuk membuat sertifikat tanah dengan biaya yang murah. Akan tetapi, dalam pelaksanaannya banyak ditemui permasalahan dan penyimpangan, terutama pemungutan biaya ke masyarakat yang tinggi. Pada tahun 2017, Kabupaten Kudus menjadi salah satu kota yang memiliki kuota sertifikat Prona terbesar dan sering terjadi banyak permasalahan dalam penyelenggaraan Prona. Ombudsman Republik Indonesia hadir sebagai lembaga yang berfungsi untuk mengawasi dan menyelesaikan permasalahan pelayanan publik yang terjadi di masyarakat. Ombudsman Republik Indonesia Perwakilan Jawa Tengah sebagai perwakilan Ombudsman pusat melakukan pengawasan dan berupaya untuk menyelesaikan permasalahan yang terjadi dalam penyelenggaraan Prona di Kabupaten Kudus.Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Tujuan dari penggunaan metode tersebut adalah untuk menggali data dan informasi dengan akurat dan spesifik, supaya data dan informasi yang dihasilkan lengkap dan mendalam. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara dengan delapan informan, kajian pustaka dan telaah dokumen yang berkaitan dengan pengawasan Ombudsman Republik Indonesia.Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa pengawasan yang dilakukan Ombudsman Republik Indonesia Perwakilan Jawa Tengah dalam mengawasi Prona di Kabupaten Kudus sudah sesuai dengan fungsi, tugas, dan wewenangnya. Pengawasan yang dilakukan oleh Ombudsman Republik Indonesia Perwakilan Jawa Tengah adalah melakukan investigasi inisiatif sendiri, melakukan pengawasan preventif dan melakukan kerjasama dengan aparat hukum lainnya. Ombudsman Republik Indonesia Perwakilan Jawa Tengah berupaya untuk menyelesaikan permasalahan Prona yang dilaporkan masyarakat dan Ombudsman Republik Indonesia Perwakilan Jawa Tengah juga mengirimkan saran perbaikan kepada instansi yang terlibat untuk mencegah permasalahan terulang kembali. Hal yang kurang dalam pengawasan tersebut adalah Ombudsman Republik Indonesia Perwakilan Jawa Tengah kurang melibatkan masyarakat dalam melakukan pengawasan Prona di Kabupaten Kudus
PEMIKIRAN PENDIDIKAN KI. HAJAR DEWANTARA DAN RELEVANSINYA DENGAN KURIKULUM 13
The progress in education side today, cannot be separated from the role of figures as the main actor. The figure who has a major contribution to the development of education in Indonesia and become a Father of National Education that is KI. Hajar Dewantara, This study is a library research by using content analysis approach. His thought about education is relevant to the K13, such as learning objectives, which are aimed at educational goals in four dimensions, physical, intellectual, spiritual and social objectives. The purpose of education is; equally directing educational goals relating to individuals and society, but in K13 the objectives itself are further related to the nation and state, even the civilization of the world. The role of educators according to KI. Hajar Dewantara as facilitator and motivator. Meanwhile, according to the k13 the role of educator itself as a facilitator in learning and as a learning partner for learners. Both agree that there are four competencies that must be owned by an educator, namely pedagogic, personality, social and professional. The principle of learning in theEka Yanuarti414 Jurnal Penelitian, Vol. 11, No. 2, Agustus 2017K13 also related to the Father of National Education’s learning principles. He stated that there are five principles itself: the principle of independence, the principle of nationality, the principle of culture, the principle of nature and the principle of humanity. Furthermore, in the learning materials both agreed that learning materials are taught in accordance with the level of development of the age of learners. Both of them put the subjects of education of Religion and Character in every level of the educational uni
TRINITAS DAN SIFAT TUHAN: Studi Analisis Perbandingan Antara Teologi Kristen dan Teologi Islam
This paper emphasizes discussion on two traditions of Abrahamic religion, Islam and Christian who have more or less the same doctrine. Among these doctrinal similarities are the attributes of God. Various schools in Islamic theology differ on the existence of such attributes. Some say qadim and some say hadithas well as in the Christian tradition. In addition, this paper also elaborates the Mu’tazilite opinion that believes that the atributes of God as hadith contrasts with the opinion of Ash’ariyah. While in the Christian tradition that has a doctrine similar to the Mu’tazila is the understanding of the humanity of Jesus
Reaktualisasi Manajemen Kesiswaan dalam Mempertahankan Local Wisdom (Studi Analisis di MTs Miftahul Ulum Karangmojo, Klego, Boyolali)
This paper discusses how the active role of MTs Miftahul Ulum in maintaining the local culture through structural students’ management. Students’ management is one of important aspects in educational institutions. It is because base on this, institution can map and plan the future activities in an educational institution. Basically, the students’ management discusses the planning of student, students’ organization and students’ coaching so the students’ learning process in educational institutions can be success. Management pattern used in this Madrasa always considers local culture by keeping the culture and customs that exist in the community through its superior programs.
Pesantren: Lembaga Pendidikan Berbasis Masyarakat (Tinjauan Pasal 1 ayat 4 PP Nomor 55 T ahun 2007 Tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan)
Pesantren is one of the religious education institutions that have gained trust from the people of Indonesia. The position of pesantren as an educational institution, also received government recognition, as mentioned in article 1 verse 4 of PP No.55 of 2007 on Religious Education, that Pesantren or Islamic boarding school is a community-based Islamic education institution. The concept of community-based education at its core is education from society, by society and for society. The study of this article is viewed from the aspect of law, religion, education, social and culture. In addition, the function of PP No.55 of 2007 is expected to not only be a function that is only written in the rules, but also applicable in the implementation. The existence of PP No.55 of 2007 really brings benefits, especially here in the development of pesantren as one form of community-based education institutions
Fundamentalisme dan Radikalisme dalam Pusaran Krisis Politik di Timur Tengah
Artikel ini mengkaji tentang eksistensi fundamentalisme dan radikalisme dan pengaruhnya dalam krisis politik di Timur Tengah. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan sosiologi agama dan pendekatan sejarah. Menggunakan pendekatan sosiologi agama, karena studi tentang fundamentalisme dan radikalisme sangat terkait dengan agama-agama. Selain itu, juga menggunakan pendekatan sejarah, karena mengkaji politik timur tengah sangat berkaitan dengan latar belakang sejarah, sosial, politik, budaya, ekonomi dan lain sebagainya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa krisis politik di Timur Tengah dapat dianalisis dalam tiga hal: pertama, konflik antara negara-negara Arab dengan Israel. Kedua, konflik dalam internal Negara Arab. Ketiga, konflik negara-negara non Arab di Wilayah Timur Tengah.Krisis politik ini disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu: pertama, masalah perbatasan(boundary dispute). Pada tahun 1916, melalui perjanjian Sykes-Picot, Inggris dan Perancis melakukan negoisasi membagi bekas wilayah Turki Utsmani; Irak, Libanon, Suriah, dan Yordania. Kedua, Masalah Minyak. Minyak menjadi salah satu faktor munculnya isu sentral yang sangat sensitif dan selalu menjadi pemicu adanya konflik di TimurTengah. Ketiga, Masalah Air. Air menjadi salah satu sumber vital kehidupan manusia, sehingga banyak sekali konflik yang terjadi di kawasan Timur-Tengah yang disebabkankan oleh air. Sedangkan fundamentalisme dan radikalisme agama di Timur Tengah dapat diklasifikasikan dalam beberapa kategori. Pertama, negara-negara yang rezim pemerintahnya otoriter seperti Irak dan Suriah. Kedua, wilayah yang dijajah dan diduduki kekuatan asing, seperti di Palestina. Ketiga, di negara yang kebijakan pemerintahannya dipandang terlalu memihak ke Barat seperti di Mesir
Perguruan Tinggi Berbasis Pesantren: Menggagas Interkoneksi Agama dan Sains
This research presents about college strategy based on pesantren in realizing the interconnection of religion and science in Sekolah Tinggi Tekhnologi dan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Nurul Jadid Paiton Probolinggo. Interconnection of religion and science as a concept that offers for the relationship between discipline of science of religion and general science. The estuary of the interconnection of religion and science is to unite and make a connection between religious education and science. This research uses qualitative approach of case study type. The results show that; 1) The interconnection strategy of religion and science conducted by Sekolah Tinggi Tekhnologi (STT) Nurul Jadid and Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) Nurul Jadid Paiton Probolinggo include; internal and external environment analysis, vision and mission determination, mindset change, curriculum development with integration pattern, strengthening of human resource quality, formation of religious culture. 2) the impact of the interconnection of religion and science is; the inclusive attitude in understanding the development of science and religion, has a global perspective, the achievement of the vision and mission of the institution as the leader of the vision and mission of pesantren
Manajemen Sumber Daya Manusia Berbasis Pendidikan Pondok Pesantren
Human resource management works in the area of an organization's processes and policies by managing the human resources in it. Islamic boarding schools are da'wah and da'wah institutions that require HRM to achieve their expected goals. A strategy is needed to achieve the intended goals, including setting the direction of the organization, making environmental analysis, formulating strategies, implementing starategi, and evaluating. The presentation in this report uses the Preliminary formation, discussion and closing. Data collection uses a qualitative-descriptive and analysis-critical approach. Data sources are extracted from the literature relating to the formulation of the problem