HISTORIA Jurnal Program Studi Pendidikan Sejarah
Not a member yet
283 research outputs found
Sort by
MEMBUMIKAN SANG SURYA: S.D. MHD. ILJAS SANG FOUNDER MUHAMMADIYAH PARIAMAN TAHUN 1929-1941
Sidi Mhd. Iljas merupakan sosok lokal pengembang Muhammadiyah yang belum pernah muncul dalam historiografi Pariaman, terutama pada episode modernisasi Islam di awal abad ke-20. Ilyas cs memberanikan diri untuk meluaskan pengaruh Muhammadiyah di tengah basis masyarakat penganut Tarekat Syattariyah. Penelitian ini bertujuan untuk membingkai strategi Ilyas dalam menyebarluaskan Muhammadiyah, termasuk ketika berhadapan dengan pemerintah jajahan. Metode historis yang diterapkan dalam penelitian ini terdiri atas pengumpulan sumber (heuristik). Setelah heuristik, dilakukan kritik terhadap sumber temuan, interpretasi, dan historiografi.Tradisi keagamaan Syattariyah sejak abad ke-17 di pesisir Barat Pariaman, memang tidak terbantahkan. Sampai gelombang modernisasi Islam dibawa Adnan ke Nagari Kurai Taji melalui Surau Paninjauan, telah merusak rust en orde kalangan ulama Syattariyah. Adalah Ilyas yang kemudian melanjutkan gerakan modernisasi Islam melalui Muhammadiyah Groep Kurai Taji. Beragam strategi diterapkannya, baik ketika berhadapan dengan pengikut Syattariyah, maupun berhadapan dengan pemerintah Kolonial Belanda. Setelah Ilyas memutuskan hijrah ke Kisaran, namun perhatiannya terhadap gerak Muhammadiyah Pariaman tetap tidak berubah. Konkritnya, Ilyas telah meletakkan fondasi kuat, yang kemudian dilanjutkan pemimpin persyarikatan berikutnya
MAKNA NYALE DALAM UPACARA ADAT PASOLA SEBAGAI UPAYA PELESTARIAN BUDAYA DI SUMBA BARAT NUSA TENGGARA TIMUR
Tradisi nyale adalah salah satu kearifan lokal di Kabupaten Sumba Barat yang memiliki nilai budaya yang masih terpelihara dalam upacara adat Pasola. Namun demikian, terdapat masalah dari tradisi Nyale dalam Upacara Pasola adalah semakin hilangnya makna dalam pelaksanaan ritual tersebut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui makna tradisi Nyale dalam prosesi Upacara Pasola di Sumba Barat Nusa Tenggara Timur. Metode peneltian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan deskriptif analitik. Teknik analisis data melalui tahap reduksi data, analisis data, verifikasi data. Hasil penelitian adalah Pertama, makna upacara ini digunakan untuk penghormatan peninggalan leluhur dan eksistensinya masih bertahan. Prosesi upacara tidak lepas dari nilai religi dan kepercayaan asli orang Sumba yaitu marapu. Kedua, Syair adat dan upacara penyajian kepada roh halus berfungsi sebagai naluri manusia dalam kepercayaan dan ungkapan syukur kepada Tuhan YME. Perwujudannya dalam bentuk tradisi ritual Nyale yaitu mencari cacing laut dan Pasola sebagai permainan perang di atas kuda menggunakan lembing atau tombak. Peranan ritual Nyale dan adat Pasola di Sumba Barat dimaknai sebagai alat pemersatu masyarakat berupa persaudaraan dan ungkapan kegembiraan sejati menyambut hasil panen. Meskipun upacara Pasola dipenuhi ketakutan karena melukai lawan, tetapi upacara ini terus dilestarikan. Nyale dan Pasola berkaitan erat dengan nilai luhur dalam pelaksanaan prosesi dan kepercayaan masyarakat Sumba. Ketiga, tahapan upacara Nyale dan Pasola adalah a). penentuan waktu pencarian cacing laut mulai dari perkumpulan para rato, b). persiapan kelengkapan Pasola yaitu kayu lembing, kuda, kain adat, dan c). prosesi pelaksanaan Pasola
PENGEMBANGAN MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS NILAI-NILAI MUSIK PATROL SEBAGAI UPAYA MENINGKATKAN PEMAHAMAN SISWA TERHADAP BUDAYA LOKAL KABUPATEN JEMBER
Eksistensi suatu budaya ditentukan dengan seberapa besar masyarakat mengenali, peduli dan melakukan suatu kegiatan kebudayaan.Semakin tinggi tingkat kepedulian suatu masyarakat terhadap budaya yang dimiliki semakin berkembang dan lestari suatu budaya tersebut. Kurikulum K-13 di Sekolah Dasar memberikan ruang pengenalan terhadap kebudayaan masing-masing daerah di Indonesia yang dapat dimanfaatkan oleh berbagai daerah untuk menginventarisir potensi kebudayaan lokal untuk diajarkan kepada generasi muda, hal ini tertuang pada tema 1. Indahnya Kebersamaan, subtema keberagaman budaya bangsaku. Kabupaten Jember sebenarnya memiliki kebudayaan musik patrol yang menjadi ciri khas kota Jember, namun tidak diajarkan dalam kurikulum di sekolah-sekolah sekitar kabupaten Jember. Hal ini pula yang terjadi di SDN Tegal Besar 02 Jember, dimana materi yang diajarkan tidak satupun mengakomodir kebudayaan lokal yang dimiliki Kabupaten Jember. Metode Penelitian yang digunakan adalah Riset and Development (R & D) dengan menggunakan model desain ADDIE dengan tahapan Analisis, Desain, Development, Implementasi dan Evaluasi.Hasil penelitian menujukkan bahwa model pembelajaran berbasis nilai-nilai musik patrol layak digunakan berdasarkan penilaian validator dengan kategori tinggi dengan skor 4,42 dan pemahan budaya lokal siswa meningkat dari rerata awal 2,31 yang berada pada kriteria rendah menjadi 3,56 yang berada pada kriteria tinggi. Adapun perhitungan Paired Sample T Test dengan taraf siginifikansi 5% menunjukkan bahwa nilai Sig. (2-tailed) adalah 0.00 dengan demikian H0 ditolak, sehingga ada peningkatan pemahaman budaya lokal siswa antara sebelum dan sesudah menggunakan model pembelajaran berbasis nilai-nilai msuik patrol, dapat disimpulkan bahwa pengembangan model pembelajaran berbasis nilai-nilai musik patrol layak untuk digunakan di sekolah dasar kabupaten Jember serta dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap budaya lokal Kabupaten Jember
UPAYA MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR BIDANG STUDI SEJARAH DENGAN MENGGUNAKAN METODE COOPERATIVE LEARNING TIPE KEPALA BERNOMOR TERSTRUKTUR
Upaya Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Bidang Studi Sejarah dengan Menggunakan Metode Cooperative Learning Tipe Kepala Bernomor Terstruktur Kelas XII IPS 1 Semester Ganjil di SMA Negeri 1 Punggur Tahun Pelajaran 2017/2018Salah satu factor penunjang kemajuan bangsa adalah pendidikan karena dengan mutu pendidikan yang baik akan menghasilkan sumber daya manusia yang cerdas, terampil, dan mandiri. Proses pembelajaran yang memiliki kekuatan spiritual, keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya masyarakat bangsa dan negara.Masalah yang melatarbelakangi penelitian ini adalah rendahnya aktivitas belajar siswa yang rendah,siswa kurang termotivasi mengikuti mata pelajaran sejarah, siswa kurang disiplin dalam mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh guru, begitu juga hasil belajar sejarah yang rendah, dengan demikian peneliti menggunakan metode cooperative learning tipe kepala bernomor terstruktur untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar sejarah.Penelitian ini menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan subyek penelitian adalah siswa kelas XII IPS 1 semester ganjil pada SMA Negeri 1 Punggur Tahun Pelajaran 2017/2018 pada materi Perjuangan bangsa Indonesia sejak Proklamasi hingga lahirnya Orde. Pada tanggal 21 Agustus – 25 September 2017 yang dilaksanakan dalam 2 siklus dan pada setiap siklus dilaksanakan evaluasi.Dari hasil analisis data diperoleh aktivitas memperhatikan guru menjelaskan dengan indicator 80% diperoleh 92,1%, aktivitas menyelesaikan masalah dengan indicator 80% diperoleh 89,1%, aktivitas aktif berdiskusi dengan teman dengan indicator 70% diperoleh 78,3%, aktivitas memberikan tanggapan dengan indicator 25% diperoleh 27,4%, dan aktivitas bertanya dengan indicator 15% diperoleh 18,5%. Hasil belajar siswa pada siklus I dengan persentase 70,5% siswa yang tuntas belajar, pada siklus II meningkat menjadi 99%.Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa metode cooperative learning tipe kepala bernomor terstruktur dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar sejarah siswa kelas XII IPS 1 semester ganjil pada SMA Negeri 1 Punggur Tahun Pelajaran 2017/2018
PEMANFAATAN SITUS PENINGGALAN SEJARAH DI KABUPATEN BONDOWOSO SEBAGAI PENGEMBANGAN SUMBER BELAJAR DI SEKOLAH LANJUTAN TINGKAT ATAS DI KABUPATEN BONDOWOSO
Peninggalan kebudayan megalitikum yang tersebar di Bondowoso ini berupa menhir, dolmen, sarkofagus, kubur batu, batu kenong, pelinggih batu, ruang batu atau stonechamber dan arca. Kebudayaan megalitikum ini berlangsung hingga kini dengan memahami makna kepercayaan akan adanya hubungan antara mahluk yang hidup dan sudah mati. Pembelajaran sejarah tingkat SMA, kebudayaan Megalitikum masuk dalam materi Sejarah Indonesia Kelas X dengan alokasi waktu 2 jam pelajaran tiap minggunya namun pemblajaran dikelas yang ditawarkan kurang menarik dan menyenangkan. Penelitian ini bertujuan menjelaskan implementasi pemanfaatan situs peninggalan sejarah di Kabupaten Bondowoso sebagai pengembangan sumber belajar di SMA Negeri 2 Bondowoso dengan menggunakan kompetensi dasar 3.2 berdasarkan tipologi hasil budaya Pra Aksara Indonesia termasuk yang berada di lingkungan terdekat. Pengembangan sumber belajar yang digunakan menggukan metode lawatan sejarah dan pembuatan buku teks sebagai bahan ajar tingkat SLTA dengan menggunakan model desain ADDIE dan diimplementasikan di sekolah menggunakan penelitian tindakan kelas di kelas X IIS SMA Negeri 2 Bondowoso. Penelitian pengembangan ini diharapkan mampu meningkatkan pemahaman siswa dan meningkatkan hasil belajar siswa di kelas
POLITIK ETIS DAN PENGARUHNYA BAGI LAHIRNYA PERGERAKAN BANGSA INDONESIA
Politik etis berakar pada masalah kemanusiaan dan sekaligus pada keuntungan ekonomi. Pada akhir abad XIX, para pegawai kolonial baru yang datang dari negeri Belanda menuju Indonesia sudah memiliki suatu pemikiran tentang pemerintah kolonial ini. Politik etis secara resmi ditetapkan pada bulan September 1901, ketika Ratu Wilhelmina menyampaikan pidato tahunan. Politik etis di pusatkan membangun irigasi, menyelenggarakan emigrasi, dan memberikan sebuah pendidikan bagi bangsa Indonesia. Politik etis menuntut bangsa Indonesia kearah kemajuan, namun tetap bernaung di bawah penjajahan Belanda. Awal mula dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab, bahwa Belanda memperhatikan pribumi dan membantu Indonesia dalam masa kesulitan. Meskipun pada kenyataannya kebijakan politik etis tidak serta merta mensejahterakan rakyat Indonesia, namun mampu merubah tatanan kehidupan bangsa, dimana sistem irigasi ada dimana-mana, masyarakat mengenal sistem pertanian dan perkebunan modern. Emigrasi atau trasmigrasi, dimana masyarakat dikirim keluar pulau Jawa, masyarakat Indonesia menjadi kenal satu sama lain dan membangun hubungan yang baik. Dampak politik etis yang sangat menonjol adalah program edukasi atau pendidikan. Adanya pendidikan bagi bangsa Indonesia, akhirnya dapat merubah pemikiran bangsa Indonesia untuk berfikir lebih maju dan bagaimana memperjuangkan suatu kemerdekaan tanpa jalan perang seperti di masa silam. Keuntungan dibidang pendidikan, yaitu banyak melahirkan tokoh cendikian lokal yang cerdas dan memiliki pemikiran yang setara dengan bangsa barat lainnya. Tokoh Cendikian atau golongan terpelajar bangsa Indonesia inilah yang akhirnya memperjuangkan kemerdekaan rakyat Indonesia dengan semangat nasionalisme dan cinta tanah air Indonesia yang dilakukan melalui diplomasi dan perang kemerdekaan Indonesi
SOCIAL CHANGE IN YOGYAKARTA: PAST AND NOW A SELO SOEMARDJAN PERSPECTIVE
Yogyakarta is one of Javanese cultural centers that still exist both nationally and internationally. Historically, social and cultural developments in the pre-Independence era until the Reformation era experienced significant social change. This research wants to analyze and find the process of social change in Yogyakarta. Selo Soemardjan's perspective approach was used in analyzing social change in the pre-Independence era in Yogyakarta. While at the contextual level of social phenomenology analysis used in analyzing the development of social change in Yogyakarta in the post-independence period. The findings in this study are that Yogyakarta experienced a sense of value and culture in the pre-independence and post-independence period. Yogyakarta people who previously put great ethical values of Javanese culture has shifted to the culture of consumptive, business and hedonist. The role of the Sultan and the government is less strong in stemming the various global currents that enter the territory of Yogyakarta. Social control is weak in building and stemming cultural values that are not in accordance with the ethical norms of the old Yogyakarta community. Suggestion of this research is socialization of social and cultural system strengthening from local government to the smallest level of society and family. Second, the need for government to work together with social organizations and religious communities in strengthening cultural identity, ethics and religious norms of societ
PRAKTIK UPETI DALAM TRADISI HEGEMONI NUSANTARA (Tela’ah kritis terhadap praktik mengakar KKN di Indonesia)
Tradisi pemberian Upeti di era kerajaan, yang hadir melalui konsep penundukan dan juga perwujudan rasa kesetiaan terhadap kerajaan, memiliki relevansi terhadap aktivitas Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN) yang sedang terjadi di Indonesia beberapa dekade terakhir. persoalan yang muncul dan terjadi dalam praktik Upeti, merupakan pelaksanaan praktik hegemoni secara fisik ataupun kebudayaan, kondisi ini menyebabkan tidak sadarnya individu atau masyarakat yang sedang di hegemoni oleh Negara atau pemerintah yang memiliki kekuasaan. Kajian ini bertujuan untuk mengetahui proses terjadinya praktik hegemoni yang menyebabkan tidak sadarnya masyarakat dalam melaksanakan praktik – praktik Upeti yang akhirnya memperkuat praktik KKN. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan sosiologis historis, yang mencoba melihat prilaku masyarakat secara teratur berdasarkan pembabakan waktu. Tradisi upeti yang telah di temukan dalam beberapa pembabakan waktu, memberikan pola terhadap beberapa konsep, yakni kekuasaan dalam perspektif jawa, yakni: “manunggaling kaula gusti”, konsep ini menempatkan bentuk penghormatan terhadap raja atau kalangan bangsawan dalam posisi tinggi dan juga sangat di hormati, sehingga berkembang kepercayaan bahwa kalangan priyayi atau bangsawan bisa membawa rakyat jelata menuju surga dan kemakmuran di dunia, praktik upeti dalam kondisi saat itu, masih berada dalam pengaruh kebudayaan hindu – budha yang sangat kuat dalam tradisi sistem kelas sosial, sehingga pemerintah kolonial belanda, yang mencoba menekan masyarakat nusantara dengan cara kekerasan dan budaya, supaya struktur kelas tetap terjaga, sehingga kepentingan pemerintah kolonial, yakni: “Glory, Gold, dan Gospel”, dapat tetap terlaksana. Padahal dalam ajaran agama hindu tidak mengenal sistem kasta varnas melainkan model caturvanas yang lebih menekankan pada peranan, bukan pembagian kelas. Hal ini yang kemudian tereduksi dalam penyelenggaraan pemerintah di nusantara sebagai wujud budaya yang diyakini kebenaranyya, hingga dalam praktik kehidupan masyarakat pemberian upeti, sogokan, uang pelicin, gratifikasi, menjadi salah tafsir dan makna, hal ini yang membuat Indonesia mengalami kondisi darurat KKN
SERAT JANGKA JAYABAYA RELASI SASTRA, SEJARAH DAN NASIONALISME
Rendahnya minat sejarawan terhadap serat Jangka Jayabaya dipengaruhi oleh faktor konten mitologi dalam serat ini. Disisi lain popularitas Jangka Jayabaya justru tinggi dikalangan masyarakat awam. Hal yang menarik dalam fokus penelitian ini yaitu mengkaji Serat Jangka Jayabaya berdasarkan ontologis, epistemologis dan aksiologis serta sumbang silihnya terhadap resistensi terhadap kolonialisme. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif historis dengan tehnik pengumpulan data studi literatur, observasi, wawancara dan kuisioner. Hasil penelitian menunjukkan bahwa popularitas Serat Jangka Jayabaya melalui proses panjang dalam sejarah Indonesia merupakan awal benih nasionalisme. Sastra yang ditinjau berdasarkan intertektual kepengarangan nyatanya dapat digunakan sumber sejarah primer terkait mentalitas mayarakat sezaman.