Jurnal Forum Nuklir
Not a member yet
208 research outputs found
Sort by
DESAIN AWAL SISTEM KENDALI PARAMETER BERKAS RADIASI MESIN BERKAS ELEKTRON 350 keV/10 mA PTAPB – BATAN YOGYAKARTA
DESAIN AWAL SISTEM KENDALI PARAMETER BERKAS RADIASI MESIN BERKAS ELEKTRON 350 keV/10 mA PTAPB – BATAN YOGYAKARTA. Desain awal sistem kendali parameter berkas radiasi Mesin Berkas Elektron (MBE) 350 keV/10 mA memiliki tujuan mendapatkan algoritma kendali MBE di PTAPB-BATAN Yogyakarta. Desain sistem kendali didasarkan pada model parameter berkas MBE. Model tersebut menunjukkaan ada keterkaitan antara pengaturan parameter dosis radiasi dengan pengaturan energi berkas, yang mana hal itu menjadi masalah dalam pengaturan parameter berkas radiasi. Algoritma kendali diperoleh dengan menentukan persamaan-persamaan kompensator dari model parameter berkas. Persamaan-persamaan tersebut akan menghilangkan korelasi antara parameter dosis radiasi dan parameter energi berkas, sehingga parameter berkas dapat diatur dengan mudah. Hasil pengujian algoritma sistem kendali berdasarkan simulasi menunjukkan bahwa penentuan besar parameter berkas radiasi dapat dilakukan dengan memberikan nilai arus filamen dan tegangan pemercepat yang diharapkan. Besar dosis radiasi dan energi berkas akan diatur secara otomatis sesuai dengan fungsi nilai arus filamen dan tegangan pemercepat.
PENGAMATAN STRUKTUR MIKRO PADA KOROSI ANTAR BUTIR DARI MATERIAL BAJA TAHAN KARAT AUSTENITIK SETELAH MENGALAMI PROSES PEMANASAN
PENGAMATAN STRUKTUR MIKRO PADA KOROSI ANTAR BUTIR DARI MATERIAL BAJA TAHAN KARAT AUSTENITIK SETELAH MENGALAMI PROSES HEAT PEMANASAN. Telah dilakukan pengamatan korosi antar butir pada material baja tahan karat austenitik jenis SS 304 setelah mengalami proses perlakuan panas (heat treatment) pada selang suhu (400-950) oC dengan variasi waktu pemanasan (holding time) yaitu 1 jam, 3 jam, 3,5 jam, dan 4 jam. Sebelum dan sesudah proses perlakuan panas, struktur mikro sampel dianalisis menggunakan mikroskop optik dan SEM (Scanning Electron Microscope). Komposisi kimia pada daerah di sekitar batas butir diamati menggunakan SEM-EDS (Energy Dispersive X-ray Spectrometer). Hasil pengamatan menunjukkan bahwasampel yang mengalami perlakuan panas di bawah suhu sensitisasi yakni pada suhu400 oC, ternyata korosi antar butir tidak teramati. Untuk sampel yang mengalami perlakuan panas pada suhu sensitisasi yakni pada selang suhu (500-900) oC, ternyata korosi antar butir dapat teramati dengan jelas. Sedangkan untuk sampel yang mengalami perlakuan panas di atas suhu sensitisasi yaitu pada suhu 950 oC, ternyata korosi antar butir masih dapat teramati tetapi tidak sejelas sampel yang mengalami perlakuan panas pada suhu sensitisasi. Dari analisis komposisi kimia di sekitar batas butir ditemukan adanya penurunan kandungan karbon (C) yaitu dari 0,61 % massamenjadi 0,47 %massa, dan untuk khrom (Cr) dari 18,37 % massa menjadi 17,76 %massa.
PEMBACAAN NOMOR SAMPEL DALAM REFURBISHING ALAT LOW BACKGROUND COUNTER-LBC TENNELEC TYPE LB5100 SERIES II
PEMBACAAN NOMOR SAMPLE DALAM REFURBISHING ALAT LBC TENNELEC TYPE LB5100 SERIES II. Telah dirancang dan dibuat interface pembacaan nomor sample secara otomatis dengan komputer melalui komunikasi serial USB dalam rangka refurbishing alat LBC TENNELEC type LB5100. Refurbishing dilakukan dengan cara memanfaatkan bagian mekanik dari instrumen dan mengganti bagian elektronik yang kadaluwarsa dengan berbasis komputer pribadi-PC. Pada alat ini, sample yang diukur cukup banyak sehingga perlu dilakukan secara otomatis. Setiap sample telah ditandai dengan lobang-lobang yang disusun tertentu yang mengindikasikan nomor sample, group, dan send stack reader. Pada bagian mekanik diletakkan beberapa sensor photo transistor sesuai kedudukan sample. Sensor dihubungkan dengan jalur data dan dikirim ke komputer melalui komunikasi serial USB. Alat tersebut mampu mengukur 150 sampel dan 10 group. Hasil pengujian telah sesuai yang diharapkan
NUCLEAR ENERGY IS THE ANSWER TO COPE WITH THE LACK OF ENERGY AND GLOBAL WARMING
NUCLEAR ENERGY IS THE ANSWER TO COPE WITH THE LACK OF ENERGY AND GLOBAL WARMING. This paper of nuclear energy is the answer to cope with the lack of energy and global warming based on the analysis of energy demand which is increasing rapidly, meanwhile the energy reserve is limited and decreased. Mostly world’s energy is generated by fossil fuel energy, mainly oil and coal. Fossil fuel energy and industrial activities produce green house gases (GHG) such as : COx, CH4, N2O, and CFC which cause of global warming. Global warming gives bad impact to environment and to human being. Every country in the world needs sufficient energy, but the energy resources is limited and decreased. The answer for this solution must be an energy source which doesn’t produce green house gases. Why nuclear energy is chosen to cope with the lack of energy and global warming will be explained briefly in this paper
SMALL AND MEDIUM SIZED LIQUID METAL COOLED SAFETY ANALYSIS USING MULTI LEVEL COMPLEXITY MODEL
SMALL AND MEDIUM SIZED LIQUID METAL COOLED SAFETY ANALYSIS USING MULTI LEVEL COMPLEXITY MODEL Inherent safety characteristics of liquid metal cooled fast reactors is very important capital for next generation nuclear power plants. However inherent safety assessment need appropriate computer code or experiment. Here, a computer code for liquid metal cooled fast reactor accident analysis with various level of complexity has been developed. At the simplest approach, quasi-static method is adopted to get asymptotic condition during UTOP, ULOF, and UTOP-ULOF accident. Here we can get asymptotic power level, asymptotic average coolant temperature, and asymptotic fuel temperature for a certain external reactivity and natural circulation level. In the next grade, the code will simulate transient effect using point kinetic method and quasistatic approach for thermal hidraulic analysis. Here we can get time depedent power change, coolant temperature change and fuel temperature change. Finally in the rigorous analysis, coupled space dependent kinetic and transient thermal hydraulic are coupled and solved to get time depedent information of various process involved in the accident
PENENTUAN KEDALAMAN PENETRASI BERKAS ELEKTRON 800 keV DALAM GAS BUANG PLTU PADA SISTEM PENGOLAHAN GAS BUANG MENGGUNAKAN MESIN BERKAS ELEKTRON
PENENTUAN KEDALAMAN PENETRASI BERKAS ELEKTRON 800 keV DALAM GAS BUANG PLTU PADA SISTEM PENGOLAHAN GAS BUANG MENGGUNAKAN MESIN BERKAS ELEKTRON. Dalam tulisan ini disajikan hasil perhitungan kedalaman penetrasi berkas elektron 800 keV dalam bahan gas buang (flue gas) dari PLTU berbahan bakar batu bara. Proses Electron Beam for Flue Gas Treatment (EB-FGT) adalah proses pengolahan kering gas buang menggunakan berkas elektron yang secara simultan dapat mereduksi SO2 dan NOx. Iradiasi gas buang menghasilkan radikal- radikal aktif dan bereaksi dengan SO2 dan NOx membentuk asam sulfat dan asam nitrat. Dalam proses pengolahan ini dibutuhkan bejana proses yang berfungsi sebagai tempat/wadah terjadinya reaksi antara gas buang dengan berkas elektron. Untuk menentukan dimensi bejana proses perlu ditentukan/dihitung kedalaman penetrasi berkas elektron pada gas tersebut. Secara perhitungan diperoleh kedalaman penetrasi optimum berkas elektron 800 keV kedalam gas buang adalah 188,67 cm
STUDI PENDAHULUAN PREPARASI MEMBRAN UNTUK SEL BAHAN BAKAR MEMBRAN ELEKTROLIT POLIMER
Telah dilakukan preparasi membran penghantar proton untuk sel bahan bakar membran elektrolit polimer (PEMFC) melalui pencangkokan kopolimer dengan cara iradiasi asam akrilat pada polimer induk polietilena linier kerapatan rendah (LLDPE), polietilena kerapatan tinggi (HDPE), dan polipropilena (PP). Kopolimer cangkok dibuat dengan menggunakan iradiasi-γ dan iradiasi berkas elektron. Metode yang digunakan dalam pencangkokan adalah metode radikal peroksida dan metode pencangkokan yang diinisiasi oleh radikal terjebak. Reaksi pencangkokan dilakukan setelah proses iradiasi (pre-irradiation grafting). Kemudian dipelajari pengaruh kondisi-kondisi preparasi dan peran matriks polimer induk. Derajat pencangkokan dipengaruhi oleh dosis total selama radiasi, konsentrasi monomer, suhu pencangkokan, dan waktu pencangkokan. Laju dosis tidak terlalu berpengaruh terhadap hasil pencangkokan. Kondisi paling baik untuk pencangkokan adalah dosis total 45 kGy, konsentrasi monomer 40% (v/v), suhu pencangkokan 70°C, dan lama pencangkokan 90 menit.Membran dengan matriks polimer berbeda memiliki daya pengembangan dalam air yang berbeda pula. Daya pengembangan dalam air tergantung pada matriks polimer induk. Ini mencerminkan sifat hidrofilik membran. Pengujian daya serap terhadap ion logam dilakukan pada membran cangkok dengan menggunakan analisis teknik spektrometri serapan atom. Daya serap maksimum membran terhadap ion logam secara nonkompetitif menghasilkan Fe > Cu > Co, kecuali membran LLDPE-g-AAc daya serap terhadap Co > Cu. Bila ketiga larutan ion logam dicampurkan sebagai satu jenis larutan umpan, daya serap maksimum membran adalah Fe > Cu > Co
MATHEMATICAL MODELING FOR THE EXTRACTION OF URANIUM AND MOLYBDENUM WITH EMULSION LIQUID MEMBRANE, INCLUDING INDUSTRIAL APPLICATION AND COST EVALUATION OF THE URANIUM RECOVERY
MATHEMATICAL MODELING FOR THE EXTRACTION OF URANIUM AND MOLYBDENUM WITH EMULSION LIQUID MEMBRANE, INCLUDING INDUSTRIAL APPLICATION AND COST EVALUATION OF THE URANIUM RECOVERY. Emulsion liquid membrane systems are double emulsion drops. Two immiscible phases are separated by a third phase which is immiscible with the other two phases. The liquid membrane systems were classified into two types: (1) carrier mediated mass transfer, (2) mass transfer without any reaction involved. Uranium extraction, molybdenum extraction and solvent extraction were used as purposed elements for each type of the membrane systems in the derivation of their mathematical models. Mass transfer in emulsion liquid membrane (ELM) systems has been modeled by several differential and algebraic equations. The models take into account the following : mass transfer of the solute from the bulk external phase to the external phase-membrane interface; an equilibrium reaction between the solute and the carrier to form the solute- carrier complex at the interface; mass transfer by diffusion of the solute-carrier complex in the membrane phase to the membrane-internal phase interface; another equilibrium reaction of the solute-carrier complex to release the solute at the membrane-internal phase interface into the internal phase. Models with or without the consideration of film resistances were developed and compared. The models developed in this study can predict the extraction rate through emulsion liquid membranes theoretically. All parameters required in the models can be determined before an experimental extraction run. Experimental data from literature (uranium extraction) and (molybdenum extraction and solvent extraction) were used to test the models. The agreements between the theoretical predictions and the experimental data were very good. The advantages of emulsion liquid membrane systems over traditional methods were discussed. The models developed in this research can be used directly for the design of emulsion liquid membrane systems. The results of this study represent a very significant step toward the practical applications of the emulsion liquid membrane technology
PEMBUATAN KOMPOSIT POLIMER SUPERABSORBEN DENGAN MESIN BERKAS ELEKTRON
PEMBUATAN KOMPOSIT POLIMER SUPERABSORBEN DENGAN MESIN BERKAS ELEKTRON. Polimer superabsorben adalah suatu polimer yang dapat mengabsorpsi air dan mempunyai daya serap sampai beberapa kali lipat dibandingkan berat polimernya. Polimer superabsorben dapat dimanfaatkan dalam banyak bidang diantaranya pembungkus makanan, teknik konstruksi, industri kimia, pengolahan limbah dan bahan pembuat sensor. Bahan utama polimer superabsorben adalah poliakrilamida. Poliakrilamida mempunyai kekurangan dalam kekuatan fisik dan kestabilan terhadap suhu. Dalam penelitian ini telah dilakukan pembuatan komposit polimer superabsorben menggunakan monomer akrilamida dan zeolit alam. Komposit polimer superabsorben dibuat dengan proses polimerisasi dan grafting akrilamida dengan zeolit alam menggunakan iradiasi mesin berkas elektron. Variabel yang dipelajari adalah dosis radiasi 15; 25; 28; 35; 48 kGy dan perbandingan akrilamida terhadap zeolit 0,5 : 1; 1 : 1; 2:1. Bertambahnya dosis radiasi akan meningkatkan konversi komposit yang dihasilkan dan kapasitas absorpsi polimer superabsorben. Setelah tercapai ikatan polimer yang sempurna, penambahan dosis radiasi akan menurunkan kapasitas absorpsi. Semakin besar perbandingan akrilamida terhadap zeolit akan menaikkan konversi komposit yang dihasilkan dan kapasitas absorpsi
KAJIAN SISTEM KEDARURATAN RADIOLOGI KOREA (CARE SYSTEM) DAN RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM KEDARURATAN NUKLIR NASIONAL
KAJIAN SISTEM KEDARURATAN RADIOLOGI KOREA-CARE SYSTEM DAN RENCANA PENGEMBANGAN SISTEM KEDARURATAN NUKLIR NASIONAL. Radioaktivitas lingkungan merupakan salah satu aspek utama yang harus diperhatikan dalam konsep pengawasan terkait dengan pemanfaatan tenaga nuklir. Penggunaan teknologi informasi di bidang nuklir memberikan kontribusi yang signifikan terhadap antisipasi dan upaya-upaya proteksi masyarakat dan lingkungan. Sejak 1960-an Korea Selatan telah mengembangkan suatu sistem yang terintegrasi (Care system) guna membantu upaya-upaya proteksi manusia dan lingkungan dalam kondisi kedaruratan radiologi. Indonesia yang telah memiliki beberapa instalasi nuklir dan dimasa yang akan datang akan membangun dan mengoperasikan beberapa reaktor daya (PLTN), perlu mempersiapkan sejak dini sistem yang bisa memberikan dukungan teknis terkait dengan kedaruratan radiologi. Hikmah yang dapat diambil dari apa yang telah dilakukan Korea Selatan adalah bahwa Indonesia harus mempersiapkan sistem kedaruratan radiologi yang akan digunakan di Indonesia. Rancangan Peraturan Pemerintah tentang Sistem Kedaruratan Nuklir Nasional (RPP SKNN) yang sedang disusun belum menyentuh hal-hal teknis dan hanya pada aspek manajemen. Ketika hal teknis harus diatur maka perlu dipertimbangkan sistem (Technical Supporting System), organisasi pelaksana/operator, dan sumber daya manusia dari masing-masing instansi. Disamping itu BAPETEN harus memiliki sistem serupa yang independen dalam rangka pengawasan.