Journal of Visual Art and Design
Not a member yet
    274 research outputs found

    Front Matter Vol. 8 No. 2, 2016

    No full text

    Back Matter Vol. 8 No. 2, 2016

    No full text

    Front Matter Vol. 7 No. 2, 2016

    No full text

    Urban Paranoia II

    Get PDF
    Abstrak. Kriminal adalah masalah yang sulit untuk dipecahkan, di negara yang paling aman pun masih terjadi kasus kriminal, inilah mengapa kriminal adalah kasus yang hampir mustahil untuk dipecahkan. Kriminal adalah sesuatu yang membahayakan kita karena mengancam kita secara materi dan juga secara mental. Ketika berita menenai kriminal tersebar memalui kecepatan informasi media massa, maka informasi tersebut secara tidak langsung menjadi sebuah teror. Teror disini tentu saja bersifat imajinatif, artinya apa yang kita takuti adalah ketakutan kita sendiri, singkatnya kriminal membuat kita semua paranoid secara tidak sadar. Untuk mengatasi masalah personal ini penulis menemukan seni sebagai sesuatu yang bersifat terapeutik, yakni pengalihan enerji alam bawah sadar kepada sesuatu yang lebih berguna. Sebagai salah satu yang mengalami teror berita kriminal tersebut. penulis ingin merepresentasikan fenomena tersebut, maka penulis akan membuat karya seni berdasarkan dari unsur piktorial konten media massa, yakni menggunakan foto-foto berita kriminal dari media massa (elektronik maupun cetak) yang representatif di kota Bandung. Dengan foto-foto tersebut penulis akan menambahkan figur simbolik dari kebudayaan Indonesia dengan metode yang juga bersifat imajinatif dan kompulsif yakni drawing secara digital.Kata kunci: digital; drawing; kriminal, seni, terapeutik; teror.Urban Paranoia IIAbstract. Crime is a difficult problem to solve. Even the safest countries experience crime, this is why crime is almost impossible to abolish. Crime is something that endangers us because it threatens us materially and mentally. When a crime story spreads with the speed of mass media's information, that information implicitly becomes a terror. The terror in this case, of course, is imaginative. In other words, what we fear is fear itself. In short, crime unconsciously makes us paranoid. To resolve this personal problem, the authors found art as something therapeutic, i.e. a diversion of our unconscious energy to something more beneficial socially and personally. As some of many experiencing the terror of the crime stories, the authors want to represent the phenomenon. The author, therefore, would like to create an artwork based on mass media's pictorial content, using published crime stories' photos from representative mass media in Bandung. With these photos, the authors will add a symbolic figure from Indonesian's culture with an imaginative and compulsive method, namely digital drawing. Keywords: art; crime; digital; drawing; therapeutic; terror

    Cover Vol. 9 No. 1, 2017

    No full text

    Dualisme Modular

    Get PDF
    Abstrak. Dualisme merupakan konsep filsafat yang menyatakan bahwa segala sesuatu memiliki dua hal yang berlawanan atau prinsip. Hidup dan mati, laki dan perempuan, siang dan malam, jiwa dan raga, sehat dan sakit, kaya dan miskin, baik dan buruk, halal dan haram, pro dan kontra, aktif dan pasif, statis dan dinamis, tampan dan buruk rupa, besar dan kecil, panjang dan pendek, manis dan pahit, mahal dan murah, kuat dan lemah, dan seterusnya. Dalam konteks karya ini merupakan representasi dari manusia yang pada dasarnya memiliki 2 kepribadian, baik dan buruk. Keduanya diterjemahkan ke dalam konsep modular dalam menyusun sebuah konfigurasi karya.Pesan yang ingin penulis sampaikan adalah seseorang tidak bisa dinilai dari "baju atau seragam" yang ia pakai. Selain itu keseimbangan dalam baik dan buruk yang direpresentasikan dengan modul positif dan negatif menjadi ambigu dalam kaitan dengan pahala dan dosa dalam Islam. Karya ini meminjam gambar Rubin's vase/goblet (vas/piala Rubin) karya seorang psikolog gestalt Edgar Rubin asal Denmark yang ditransformasi menjadi sebuah karya keramik 3 dimensional [1]. Vas/piala Rubin ini secara perseptual memiliki 2 makna, yaitu gambar vas/piala dan siluet wajah dari samping yang saling berhadapan (pengaruh antarobjek dan latar secara bergiliran). Proses kreasi berasal dari pengalaman empirik personal yang dihubungkan dengan teori-teori pendukung. Perpaduan keduanya menghasilkan karya seni yang merupakan representasi dari realitas. Dalam penciptaan karya seni rupa sebenarnya tidak ada metode baku seperti halnya dalam riset pada umumnya. Proses kreasi kadang berdasarkan intuisi, pengalaman personal yang dominan dan mengandung narasi yang sangat subjektif. Kesemuanya itu dikaitkan dengan disiplin ilmu lainnya (sosial, ekonomi, budaya dan politik) untuk menghasilkan sebuah representasi.Kata kunci: ambigu; dualisme; gestalt; keramik; modular; vas/piala Rubin.Modular DualismAbstract. Dualism is the concept that everything has two opposite sides or principles. Life and death, male and female, day and night, body and soul, health and sickness, rich and poor, good and evil, halal and haram, pro and con, active and passive, static and dynamic, good and bad looking, big and small, long and short, bitter and sweet, expensive and cheap, strong and weak, and so on. In the context of art, dualism is the representation of human beings as basically having two personalities, good and evil. Both were translated into a modular concept for creating a work configuration. The message that the artist wanted to deliver is that an individual cannot be judged from the 'clothes or uniform' s/he wears. In addition, a balance between good and evil represented by positive and negative modules is ambiguous in relation to the concept of reward and punishment in Islam. This final project draws upon the famous vase/goblet picture by Danish gestalt psychologist Edgar Rubin, which was transformed into a three-dimensional ceramic artwork [1]. Rubin's vase/goblet perceptually contains two meanings, namely the image of a vase/goblet and a facial silhouette facing each other (alternatingly appearing as object or background). The creative process comes from personal-empirical experience linked to the supporting theory. The combination of both resulted in an artwork that represents reality. Generally, in the creation of visual artworks there is no formal method as in scientific research. The creative process is sometimes based on intuition, a dominant personal experience and contains a very subjective narration. All of these are related to other disciplines (social, economical, cultural and political), in order to create a representation.Keywords: ambiguity; ceramic; dualism; gestalt; modular; Rubin's vase/goblet

    Front Matter Vol. 6 No. 2, 2014

    No full text

    Back Matter Vol.9 No.1, 2017

    No full text

    Kain Songket Palembang dengan Penerapan Teknik Batik sebagai Produk Fesyen

    Get PDF
    Minimnya perkembangan motif Songket Palembang dan menghadapi kemunculan 'songket' mesin yang harga jualnya jauh lebih murah membuat beberapa pengrajin tenun songket asli menggunakan material alternatif, seperti sutera campuran, benang emas campuran, dan lain-lain untuk tetap bertahan. Semaraknya tren batik di Indonesia sejak UNICEF menetapkan batik sebagai warisan tak benda asli Indonesia, namun banyak masyarakat dalam dan luar Palembang yang tidak kenal dengan Batik Palembang. Kenyataannya, karena ketidakpahaman ini dan karena sisi ekonomis menyebabkannya sebagian masyarakat terpaksa memilih tekstil hasil industri pabrik dibanding karya asli daerah. Akhirnya, kepentingan untuk mempopulerkan motif batik Palembang yang mulai terlupakan juga menjadi kepentingan penelitian ini, selain kebutuhan akan variasi baru kreasi kain Songket Palembang. Hubungan dengan Cina dan India memberikan pengaruh dalam beberapa ragam hias dan warna pada kain Songket Palembang. Kesultanan Palembang Darussalam membeli benang emas dari Cina untuk ditenun menghiasi Songket Palembang sebagai pakaian  mewah kalangan bangsawan wanita. Berdasarkan kuantitas benang dan motif yang diterapkan di dalamnya, kain songket berbeda bagi golongan penggunanya. Diketahui, sebagai komoditi dagang dari Jawa, batik juga dikenakan oleh masyarakat Palembang. Motif-motif tertentu digemari dan menjadi ciri khas motif Palembangan hingga kini. Batik Palembang tidak dibuat di Palembang melainkan di Pesisir Jawa. Oleh karena itu, motifnya merupakan paduan ragam hias flora fauna Palembang dan corak songket selain motif India dan daerah pembuatnya. Akhirnya, salah satu solusi yang ditawarkan untuk keragaman variasi ini adalah menerapkan teknik batik di atas permukaan kain Songket Palembang sebagai salah satu cara menghias permukaan kain. Penerapan ini dapat dilakukan karena kain terbuat dari benang sutera alam. Menggunakan mode kualitatif, data-data didapat melalui literatur, wawancara dan observasi non partisipatoris di tempat pengrajin songket dan batik. Menggunakan metode triangulasi data didukung pendekatan berbagai disiplin terkait untuk menghasilkan karya eksperimentatif, penelitian ini bertujuan untuk memberikan variasi baru pada kain Songket Palembang dengan penerapan teknik batik di atasnya, sebagaimana belum pernah ada yang pernah melakukan hal seperti ini sebelumnya. Proses berkarya dimulai dari perancangan yang mengangkat motif-motif batik Palembang mengikuti estika karya Palembang yang repetitif dan geometris terukur. Hasilnya teknik batik dapat diterapkan di atas permukaan kain songket dengan memperhatikan jenis pewarna batik yang cocok untuk selanjutnya diterapkan sebagai produk fesyen. Kata Kunci: Batik Palembang; penerapan; ragam hias; Songket Palembang; variasi. Kain Songket Palembang with Batik Technique Implementation for Fashion ProductLess variation on motifs and facing the low cost production of machine woven Songket has make the Songket Palembang crafters are trying to use alternative materials, like synthetic silk, cheap threads et cetera. In the middle of the batik trend in since UNICEF announced Batik as intangible heritage from Indonesia, many people inside and outside Palembang do not know about what is Batik Palembang. Sadly, lack of knowledge about this, the community tends to choose machine woven textiles upon their own traditional folk art such as hand woven textiles. Therefore, reintroducing Palembang batik that is almost forgotten and the need for a new variation in kain Songket Palembang creation become one of the goals in this research. Songket has influences from China and India especially its color and motifs. A rich city as Palembang in the past has made its Kingdom can afford to buy gold threads from China to decorate Songket as the cloth for their royal women costume. The users are ranked divided to its quality and the motifs of the Songket. At the same time, batik is also used by Palembang citizens for it was known as trading matters. The Palembangan motifs had a lot of absorbance from not only floral and animals of Palembang, songket motifs, but also from Indian and places where they are made in Pesisir Jawa. One of the solutions offer is by implementing batik technique upon kain Songket Palembang. As an act of decorating cloth surface, this technique is surely can be done for this textille is made of silk thread. Using a qualitative mode, the data were collected through literatures, interviews and non-participate observation at Songket Palembang and Batik crafters' studios. With multidiscipline approaches for inspiration in creating the artworks, the datas were united for their analysis. The artwork process began by researching the aesthetical matters from Palembang to the designs for developing Batik motifs. The result is Batik technique can be implemented to the Songket survace with the adequate batik dyeing technique into become a suitable fashion product. Aiming to give a new variation, this will give a new look on Songket Palembang which none has ever done it before. Keywords: Batik Palembang; implementation; ornaments; Songket Palembang; variations

    Pengaruh Unsur Alam terhadap Minat Berkunjung Kembali di Mal

    Get PDF
    Pusat perbelanjaan yang berkonsep alam dianggap lebih diminati pengunjung. Penelitian ini mengkaji tentang pengaruh unsur-unsur alam terhadap minat konsumen untuk berkunjung kembali. Variabel yang akan dikaji terdiri dari variabel bebas, yaitu air (diam-bergerak) dan vegetasi (tanaman rendah-tanaman tinggi), dan variabel terikat, yaitu persepsi alam dan sikap berkunjung kembali. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen stimulus-respon melalui pendekatan kuantitatif dengan prinsip between-subject factorial design. Simulasi gambar digital dari interior pusat perbelanjaan pada 4 kondisi sebagai kombinasi variabel tersebut di atas digunakan sebagai stimulus percobaan, di mana 4 kelompok responden, masing-masing 20 orang, akan menilai stimulus eksperimen dalam kondisi berbeda, atas dasar persepsi alam dan sikap berkunjung kembali. Data eksperimen dihitung dan dianalisa dengan statistik one-way ANOVA. Efek kombinasi variabel air bergerak dan tanaman tinggi ternyata tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap persepsi alam responden. Efek kombinasi variabel air diam dengan tanaman tinggi tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap minat responden untuk berkunjung kembali. Namun, efek kombinasi variabel air mengalir dengan tanaman rendah cenderung lebih mengundang persepsi alam yang baik dan minat berkunjung kembali. Hasil eksperimen ini diharapkan dapat menjadi rekomendasi bagi perkembangan ilmu desain dan sebagai salah satu referensi bagi desainer dan pengembang.Kata Kunci: mal; minat berkunjung; persepsi alam; perilaku konsumen.Effects of Natural Elements on Interest to Revisit a MallShopping malls with a natural concept are more attractive to visitors. This study examined the influence of natural interior design elements on client interest to revisit a mall. The assessed elements consisted of independent variables, namely water (still-standing/flowing) and vegetation (ground plants/potted plants), and dependent variables, namely nature perception and interest to revisit. In the experiment for this study, a stimulus-response method was applied, using a quantitative approach based on the principle of between-subjects factorial design. Simulated digital images of a shopping mall interior in 4 conditions with different combinations the abovementioned variables were used as experimental stimulus, while 4 groups of respondents, consisting of 20 people each, judged the stimulus regarding nature perception and interest to revisit. The experimental data were calculated and statistically analyzed using one-way ANOVA. The combined variables of moving water and tall plants did not have a significant effect on the respondents' nature perception. The combined variables of stationary water and tall plants did not have a significant effect on the respondents' interest to revisit. However, the combined variables of flowing water and ground plants tended to be more inviting with a good nature perception and interest to revisit. The experimental results can be used as a reference for interior designers and shopping mall developers, and for the development of design science.Keywords: consumer behavior; mall; perception of nature; revisit interest

    194

    full texts

    274

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Journal of Visual Art and Design
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇