Jurnal Citizenship: Media Publikasi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan
Not a member yet
96 research outputs found
Sort by
Kampus sebagai miniatur keindonesiaan
Keberhasilan “identitas†sebagai komoditas dalam kontestasi politik tanah air terjadi karena rendahnya pemahaman, penghargaan, dan pengakuan akan keberagaman. Implikasi dari rendahnya kompetensi dalam menyikapi keberagaman bangsa Indonesia berpangkal pada cara pandang terhadap perbedaan yang ada dalam masyarakat. Gejala rendahnya penghargaan akan keberbedaan belakangan ini sudah mulai memasuki dunia kampus dan ditengarai menjadi cikal bakal tumbuh kembangnya paham radikal di perguruan tinggi. Terlepas dari berbagai fenomena dan hasil penelitian yang menunjukkan bahwa radikalisme tumbuh subur di perguruan tinggi, tulisan ini mencoba memberikan perspektif lain dalam melihat kampus dengan cara pandang yang lebih positif. Lebih spesifik, bahasan akan difokuskan pada posisi strategis kampus sebagai miniatur keindonesiaan dan sebagai wahana pembudayaan nilai-nilai kebangsaan. Selain itu, akan diulas pula mengenai cara pandang, pola sikap, dan pola tindak terhadap keberagaman budaya, etnisitas, adat-istiadat, dan agama yang hadir berdampingan di lingkungan kampus.----------------------------------The success of "identity" as a commodity in political contestation in Indonesia due miss understanding, appreciation, and recognition of diversity. The implication of low competence in responding to the diversity of the Indonesian nation stems from the perspective of differences in society. Symptoms of low appreciation for diversity lately have started to enter the campus world and are suspected to be the forerunner to the growth of radical understanding in higher education. Apart from various phenomena and research results that show that radicalism thrives in universities, this paper tries to provide another perspective in viewing the campus with a more positive perspective. More specifically, the discussion will focus on the strategic position of the campus as a miniature of Indonesians and as a vehicle for the culture of national values. Besides, it will also review the perspective, attitude patterns, and patterns of action towards the diversity of cultures, ethnicities, customs, and religions that exist side by side in the campus environment
Partisipasi aktif masyarakat dalam pembangunan desa Toyareka Kecamatan Kemangkon Kabupaten Purbalingga Jawa Tengah
Pembangunan Desa bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa dan kualitas hidup manusia serta penanggulangan kemiskinan melalui pemenuhan kebutuhan dasar, pembangunan sarana dan prasarana desa, pengembangan potensi ekonomi lokal, serta pemanfaatan sumber daya alam dan lingkungan secara berkelanjutan. Mensyaratkan keterlibatan masyarakat dalam tahap perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan. Dewasa ini partisipasi masyarakat dalam pembangunan desa belum berjalan secara maksimal. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui partisipasi aktif masyarakat dalam perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan pembangunan desa di Desa Toyareka Kecamatan Kemangkon Kabupaten Purbalingga Jawa Tengah. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Subjek penelitian ini adalah sekretaris Desa Toyareka, Kepala Dusun 1, tokoh masyarakat, masyarakat. Objek penelitian ini adalah partisipasi aktif masyarakat dalam pembangunan desa di Desa Toyareka, yang meliputi 3 (tiga) tahapan yaitu, partisipasi masyarakat dalam perencanaan, pelaksanaan, dan partisipasi masyarakat dalam pengawasan pembangunan desa. Metode yang digunakan untuk pengumpulan data adalah observasi, wawancara dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan langkah-langkah reduksi data, penyajian data, dan pengambilan kesimpulan/verifikasi. Keabsahan data dilakukan melalui teknik triangulasi sumber dan triangulasi teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa partisipasi masyarakat dalam perencanaan pembangunan tergambar pada aktifnya masyarakat dalam mengikuti rapat atau musyawarah rutin pada tingkat RT maupun musyawarah perencanaan pembangunan tingkat desa. Partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan pembangunan tergambar pada pelaksanaan gotong royong desa. Masyarakat ikut berpartisipasi memberikan bantuan baik dalam bentuk uang, tenaga, maupun material. Sedangkan partisipasi masyarakat dalam pengawasan pembangunan tergambar pada perencanaan pembangunan dibuat, masyarakat sudah dapat menilai keadaan wilayah masing-masing dan kemudian memberikan usulan pada saat rapat. Pengawasan pembangunan juga tergambar pada pelaksanaan pembangunan desa, masyarakat mengevaluasi hasil pembangunan desa
Studi tentang pemahaman peserta didik terhadap perundungan di SMP Negeri 11 Yogyakarta
Pemahaman tentang perundungan (bullying) sangat penting bagi para peserta didik, supaya mereka tidak lagi menjadi korban perundungan (bullying) pihak tertentu. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk melihat tingkat pemahaman peserta didik terhadap Perundungan (bullying). Pendekatan penelitian ini menggunakan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif kualitatif. Subjek penelitian peserta didik kelas VIII dan IX SMP Negeri 11 Yogyakarta, dan objek penelitian adalah pemahaman peserta didik tentang perundungan (bullying). Metode pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara mendalam, observasi terhadap lingkungan sekolah dan dokumentasi. Teknis analisis data menggunakan reduksi data, klasifikasi data penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) peserta didik mengetahui mampu menerjemahkan arti perundungan; (2) peserta didik mampu mengetahui faktor penyebab dan bentuk-bentuk perundungan (bullying); (3) peserta didik mampu memahami dampak perundungan dan mampu memberikan solusi permasalahan
Interelasi latar belakang pendidikan orang tua dengan perilaku disiplin belajar pendidikan kewarganegaraan di SMA Negeri 21 Bandung
Basically, education which is one of the most important factor for human being aims to achieve maturity and perfection in individual behaviour, especially for parents they have central role to bring their chidren up in familly environment. This research aims to figure out the conection between parents’ educational background and students’ dicipline behavior in studying citizenship education, conducted in SMAN 21 Bandung using quantitaive aproach within likert scale model and ordinal data. The result of the the research shows that there is a relationship between parents’ educational background and students’ attitudes toward learning process in the school. This relationship is verified from the result of categorical analysis of the correlation between both variable. The result shows that parents’ ecuational background is at midle category about 74,5 % and learning behaviour students’ is at high category about 60% from 90 students; in spite of not sufficient, it is still a good result. It verifies the connection between parents’ educational background which is at middle category of 74,4% and students’ learning behaviour which is at strong or high category from 60% for 90 student
Hubungan keterampilan mengajar guru mata pelajaran PPKn terhadap minat belajar peserta didik
Pendidikan mempunyai peranan penting untuk memajukan suatu bangsa, oleh karena itu pembelajaran di sekolah harus berjalan dengan baik dan sesuai dengan tujuan dan fungsi pendidikan nasional. Guru memiliki peranan yang sangat penting dalam proses pembelajaran di sekolah sebagai tenaga pendidik, maka dari itu guru harus memiliki keterampilan mengajar yang inovatif dan kreatif untuk dapat meningkatkan minat belajar peserta didik. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pengaruh keterampilan mengajar guru mata pelajaran PPKn terhadap minat belajar peserta didik di SMPN 2 Kasihan Bantul. Penelitian ini termasuk kedalam penelitian kuantitatif. Keberhasilan dari penelitian ini dilihat dari ada tidaknya pengaruh keterampilan mengajar guru mata pelajaran PPKn terhadap minat belajar peserta didik SMPN 2 Kasihan Bantul. Populasi dari penelitian ini ialah seluruh murid kelas VIII SMPN 2 Kasihan Bantul. Sampel penelitian ini adalah sebagian murid kelas VIII A, B, C, dan D. Sampel dipilih dengan teknik probability sampling menggunakan Proportionate Stratified Random Sampling. Teknik pengumpulan data dengan kuesioner. Instrument penelitian berjumlah 24 butir pernyataan. Teknik analisis data yaitu analisis deskriptif kuantitatif. Hasil analisis deskripsi menggunakan uji Correlation Pearson Product Moment dengan SPSS 20, hubungan keterampilan mengajar guru terhadap minat belajar siswa diperoleh hasil nilai r hitung sebesar 0,339, sedangkan r tabel pada taraf signifikasi 5% dengan N=56 (df= N-2, 56-2= 54) diperoleh hasil r tabel sebesar 0,2221. Hasil analisis tersebut diketahui nilai r hitung lebih besar daripada r tabel (0,339>0,2221) maka Ha diterima dan karena nilai r hitung positif berarti hubungan juga positif, maka kesimpulannya adanya hubungan keterampilan mengajar guru PPKn terhadap minat belajar peserta didik pada mata pelajaran PPKn di smp 2 kasihan Bantul
Penanaman nilai-nilai religius dalam pembelajaran PPKn di Madrasah Aliyah Ali Maksum Yogyakarta
Kenakalan remaja yang akhir-akhir ini meningkat bisa dijadikan sebagai indikator turunnya nilai religius di kalangan remaja. Nilai religius menjadi hal yang sangat penting dalam kehidupan setiap individu dan menjadi sikap hidup yang mengacu pada tatanan hidup yang sesuai dengan aturan dalam agama masing-masing. Kondisi sekarang ini, yang penting untuk melakukan upaya agar nilai religius kembali menguat, salah satunya yaitu upaya pemerintah dapat memperkuat eksistensinya adalah lewat jalur pendidikan, baik formal ataupun non formal. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui penanaman nilai religius melalui metode pembelajaran PPKn di MA Ali Maksum Yogyakarta. Metode penelitian yang digunakan berupa penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Subjek penelitian adalah guru mata pelajaran PPKn dan siswa. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik wawancara, pengamatan (observasi), dan dokumentasi. Metode analisis data menggunakan analisis data model interaktif. Berdasarkan hasil penelitian yang sudah dilakukan, bahwa semua unsur yang terkandung di dalam nilai religius disampaikan oleh guru Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan di dalam pembelajaran. Secara keseluruhan penyampaian unsur-unsur nilai religius kepada siswa menggunakan cara yang berbeda-beda, terkadang guru mengajak siswa unruk berdiskusi dan tidak jarang pula guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok kemudian diberi tugas dan hasilnya dipresentasikan di depan kelas. Hal ini dimaksudkan untuk membuat siswa tidak bosan dalam pembelajaran dan bisa menerima penyampaian dengan baik
Upaya peningkatan karakter cinta damai peserta didik SMK Muhammadiyah 3 Yogyakarta
Karakter cinta damai peserta didik SMK Muhammadiyah 3 Yogyakarta belum terwujud dengan baik. Hal ini dibuktikan dengan masih ada beberapa peserta didik yang kurang sopan terhadap guru dan karyawan (etika kurang baik), masih ada salah satu dari mereka yang membolos, kemudian segala hal perbedaan selalu menimbulkan masalah. Padahal SMK Muhammadiyah 3 Yogyakarta sudah berupaya meningkatkan karakter cinta damai. Rumusan Masalah dalam penelitian ini adalah apa saja upaya dan hambatan SMK Muhammadiyah 3 Yogyakarta dalam meningkatkan karakter cinta damai peserta didik. Penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara kepada Kepala Sekolah, Waka kesiswaan, Guru BK dan Guru Kelas (PPKn & PAI). Selain metode wawancara juga menggunakan observasi untuk meneliti apakah hasil wawancara sesuai dengan yang di observasi. Keabsahan data yang digunakan adalah triangulasi sumber dengan cara membandingkan hasil wawancara antara narasumber yang satu dengan narasumber yang lain. Data kemudian dianalisis dan akan menghasilkan kesimpulan yang menunjukkan keabsahan data yang telah diperoleh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sudah adanya upaya sekolah dalam meningkatkan karakter cinta damai dengan berbagai indikator, antara lain terciptanya sekolah dan kelas yang nyaman, tenteram, dan harmonis. Melalui upaya tersebut masih ditemukan beberapa hambatan bahwa upaya tersebut belum tercapai secara maksimal karena ada faktor lain yang mempengaruhi kondisi karakter cinta damai peserta didik
Pendidikan kewarganegaraan untuk sekolah menengah pertama: Tinjauan filosofis, sosiologis, yuridis, dan psikologis
Artikel ini membahas tentang Pendidikan Kewarganegaraan yang diselenggarakan di jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) dilihat dari tinjauan filosofis, sosiologis, yuridis, dan psikologis.Sebagai program kurikuler, pendidikan Kewarganegaraan menjadi satu mata pelajaran di sekolah dasar dan menengah yang memiliki tugas profesional untuk membina siswa agar menjadi generasi penerus yang sebagaimana diharapkan bangsa dan negara dalam konteks pembinaan generasi muda menjadi seorang warga negara yang baik. Oleh karenanya pendidikan kewarganegaran khususnya di jenjang SMP mengemban misi nasional untuk mencerdaskan kehidupan bangsa Indonesia melalui koridor “value based educationâ€. Secara filosofis pendidikan kewarganegaraan memiliki visi holistik-eklektis yang memadukan secara serasi pandangan perenialisme, esensialisme, progresifisme, dan sosiorekonstruksionisme dalam konteks keindonesiaan. Secara sosiologis, dalam teori perkembangan sosial Ericson anak usia SMP berada pada tingkat tingkat 5, Identity vs Role Confusion, dimana remaja sedang dalam usaha sedang mencari jati dirinya. Anak-anak remaja perlu diberi kesempatan untuk mengeksplorasi berbagai cara untuk memahami identitas dirinya. Secara yuridis, Menurut Permendikbud No. 58 Tahun 2014, secara umum tujuan mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah adalah mengembangkan potensi peserta didik dalam seluruh dimensi kewarganegaraan, yakni: (1) sikap kewarganegaraan termasuk keteguhan, komitmen, dan tanggungjawab kewarganegaraan (civic confidence, civic committment, and civic responsibility); (2) pengetahuan kewarganegaraan; (3) keterampilan kewarganegaraan termasuk kecakapan dan partisipasi kewarganegaraan (civic competence and civic responsibility). Secara psikologis, masa remaja awal (Usia SMP) sudah mencapai tahap operasi formal. Pada usia ini secara mental anak telah dapat berpkir logis tentang berbagai gagasan yang abstrak. Dengan kata lain, berpikir operasi formal lebih bersifat hipotesis dan abstrak serta sistematis dan ilmiah dalam memecahkan masalah daripada berpikir konkrit