31735 research outputs found
Sort by
KEBERLANJUTAN USAHATANI CABAI MERAH KERITING DI PROVINSI BENGKULU
Usahatani cabai merah keriting merupakan salah satu jenis budidaya holtikultura
yang sangat di minati di Provinsi Bengkulu. Tingginya minat dan komsumsi cabai merah
keriting menjadikan peluang yang cukup tinggi. Keberlanjutan usahatani cabe merah
keriting di Provinsi Bengkulu untuk meningkatkan keuntungan dan meningkatkan
produksivitas.
Penelitian bertujuan untuk 1) Menganalisis besar pendapatan petani pada usahatani
cabai merah keriting di provinsi bengkulu. 2) Menganalisis status keberlanjutan usahatani
cabai merah keriting ditinjau dari dimensi ekonomi, sosial, ekologi, teknologi, dan
kelembagaan. Penelitian ini menggunakan metode Three Stages Chuster Sampling. Metode
penentuan sampel yang digunakan adalah Stratified Random Sampling berdasarkan luas
lahan dengan total 169 petani terpilih. Jenis data yang digunakan adalah data primer dan
sekunder dengan melalui wawancara dan dan menyebarkan kuesioner ke petani. Analisis
data yang digunakan adalah analisis kuantitatif.
Hasil penelitian menunjukan bahwa; 1) Pendapatan usahatani cabai merah
keriting di Provinsi Bengkulu pada satu musim tanam per petaninya adalah sebesar Rp
32.538.384/MT/UT. Sedangkan, berdasarkan luas lahan rata-rata pendapatan per petaninya
sebesar Rp 48.734.812/Ha/UT. 2) Keberlanjutan usahatani cabai merah keriting di Provinsi
Bengkulu menunjukkan pada penelitian ini diperoleh 12 atribut sensitif dari lima
dimensi yaitu ekonomi, sosial, ekologi, teknologi dan kelembagaan. Dimensi ekonomi
berstatus cukup keberlanjutan dengan dua atribut sensitif. Dimensi sosial berstatus
cukup berkelanjutan dengan dua atribut sensitif. Dimensi ekologi berstatus cukup
berkelanjutan dengan tiga atribut sensitif. Dimensi teknologi berstatus kurang
berkelanjutan dengan dua atribut sensitif. Dan yang terakhir dimensi kelembagaan
berstatus kurang berkelanjutan dengan tiga atribut sensitif. Dari Status keberlanjutan
usahatani cabe merah keriting di Provinsi Bengkulu dengan meninjau secara multidimensi
berstatus kurang berkelanjutan dengan nilai indeks sebesar dengan meninjau secara
multidimensi berstatus kurang berkelanjutan dengan nilai indeks 49,85% yang menandakan
bahwa usahatani cabai merah keriting di Provinsi Bengkulu berstatus kurang berkelanjutan.
Kata Kunci : Keberlanjutan Usahatani Cabai Merah Keriting, MS
KEANEKARAGAMAN TUMBUHAN PAKU (PTERIDOPHYTA) TERESTRIAL DI DESA AIR KOPRAS TAMAN NASIONAL KERINCI SEBLAT (TNKS) SPTN WILAYAH VI KABUPATEN LEBONG PROVINSI BENGKULU
Taman nasional adalah Kawasan Pelestarian Alam yang mempunyai ekosistem asli,
dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan dimanfaatkan untuk tujuan penelitian,
ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, pariwisata, dan rekreasi (UU No.5
Tahun 1990). Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) ditetapkan berdasarkan SK
Menhutbun No.901/Kpts-II/1999 tanggal 14 Oktober 1999 dengan luas 1.375.349,867 Ha.
Kawasan TNKS memiliki peran yang sangat penting dalam upaya konservasi, terutama
dalam melestarikan keanekaragaman hayati serta ekosistem alam yang ada di Indonesia.
Indonesia adalah negara tropis yang kaya akan keanekaragaman tumbuhan.
Tumbuhan paku merupakan salah satu kelompok yang memiliki keanekaragaman spesies
yang tinggi. Paku-pakuan adalah tumbuhan kormofita berspora yang bisa hidup di tanah
(terestrial) dan di pohon sebagai epifit (Tjitrosoepomo, 2014). Paku terestrial merupakan
tumbuhan paku yang tumbuh di atas permukaan tanah. Tumbuhan paku sering ditemukan di
kawasan hutan hujan tropis sebagai lapisan penutup tanah. TNKS SPTN Wilayah VI
merupakan kawasan hutan hujan tropis yang sesuai untuk pertumbuhan paku terestrial.
Tumbuhan paku sering diabaikan untuk penelitian karena dianggap tidak
memberikan manfaat yang signifikan bagi kehidupan. Pada suatu ekosistem hutan,
tumbuhan paku berperan penting untuk membantu tumbuhan tingkat tinggi memproduksi
oksigen, pembentukan humus, dan melindungi tanah dari erosi. Tumbuhan paku juga
mempunyai manfaat berupa nilai ekonomis untuk masyarakat di antaranya sebagai kerajinan
tangan, tanaman hias, dan masih banyak manfaat lainnya (Kurniawan, 2009). Tumbuhan
paku adalah tumbuhan pionir yang memiliki peran penting dalam proses suksesi. Oleh sebab
itu, penelitian mengenai keanekaragaman tumbuhan paku terestrial perlu dilakukan untuk
menambah informasi tentang berbagai jenis tumbuhan paku terestrial yang terdapat di
Kawasan TNKS.
Penelitian ini menggunakan metode stratified sampling dengan membagi lokasi
penelitian berdasarkan tutupan lahan dengan jalur sepanjang 100 m dan plot dengan ukuran
4 m x 4 m. Plot diletakkan berseling sepanjang jalur dengan jarak antar plot yaitu 10 m.
Data yang diambil di lapangan adalah jenis paku terestrial, jumlah individu tumbuhan paku,
suhu udara, kelembaban udara, intensitas cahaya, dan tanah di setiap tutupan lahan untuk
dilakukan analisis tanah. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September 2024 di Desa Air
Kopras Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) SPTN Wilayah VI Kabupaten Lebong
Provinsi Bengkulu.
Jenis-jenis tumbuhan paku terestrial yang terdapat di Desa Air Kopras Taman
Nasional Kerinci Seblat (TNKS) SPTN Wilayah VI Kabupaten Lebong Provinsi Bengkulu
adalah 17 jenis dari 12 famili. Nilai H' tertinggi terdapat pada pertanian lahan kering
bercampur semak dengan nilai 2,16, sedangkan yang terendah terdapat pada hutan lahan
kering sekunder dengan nilai 0,77. Indeks kemerataan tertinggi terdapat pada pertanian lahan
kering bercampur semak dengan nilai sebesar 0,94, sedangkan yang terendah terdapat pada
hutan lahan kering sekunder dengan nilai sebesar 0,40. tingkat kesamaan jenis tertinggi
berada pada pertanian lahan kering bercampur semak dan semak/belukar dengan nilai indeks
kesamaan jenis sebesar 0,58, sedangkan tingkat kesamaan jenis terendah berada pada hutan
lahan kering sekunder dan semak/belukar dengan nilai indeks kesamaan jenis sebesar 0,07
KESEHATAN POHON AKASIA (Acacia mangium Willd) DI KAMPUS UTAMA UNIVERSITAS BENGKULU
Universitas Bengkulu (UNIB) adalah salah satu perguruan tinggi yang berada di Kota
Bengkulu, Provinsi Bengkulu yang memiliki lingkungan hijau dengan beranekaragam
tanaman, mulai dari bunga hingga pepohonan salah satunya adalah akasia (Acacia mangium
Willd). Akasia ialah pohon yang cepat dan mudah tumbuh (adaptif) pada kondisi lahan yang
kesuburannya ekstrim dan dapat tumbuh dikondisi iklim yang berubah-ubah. Akasia juga
dapat tumbuh pada tanah bebatuan dan dengan pH rendah (Mashudi, 2004). Akasia memiliki
banyak sekali fungsi seperti bahan baku bangunan, pulp dan kertras dan pada lokasi kampus
akasia berfungsi sebagai tanaman penaung, menjaga kelembaban udara, membantu
mengurangi polusi, mencegah terjadinya degradasi lahan, memperindang kawasan kampus.
Akasia yang sudah bertumbuh besar sangat rentang terkena hama dan penyakit (Nair et al.,
2000). Pohon yang sudah terkena hama dan penyakit akan memiliki kondisi kesehatan yang
rendah yang dapat mengakibatkan kecelakaan ataupun kerugian. Sehingga, pentingnya
dilakukan pengamatan mengenai tingkat kesehatan pohon akasia agar dapat menghindari
kecelakaan atau kerugian yang terjadi dan dari hasil pengamatan ini dapat diketahui
bagaimana tindakan yang dapat dilakukan.
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei sampai Juli 2024 yang berlokasi di
Kampus Utama Universitas Bengkulu. Penelitian ini menggunakan metode purposive
sampling dengan penentuan lokasi penelitian sebanyak 5 lokasi dengan jumlah pohon akasia
sebanyak 41 pohon dan 56 kerusakan. Penentuan tingkat kesehatan pohon menggunakan
metode Forest Health Monitoring (FHM). Hasil penelitian didapatkan 8 tipe kerusakan
yakni, cabang patah/mati 38 (68%), mati pucuk 2 (4%), tumbuhan merambat 1 (2%), batang
pecah/mati 5 (9%), luka terbuka 3 (5%), sarang rayap 3 (5%), gummosis 1 (2) dan daun
berubah warna 2 (4%). Nilai indeks kerusakan pada tingkat pohon (TLI-Tree Level Index)
pada setiap pohon memiliki rentang nilai 1,6-8,0, sehingga nilai 0->5 dikategorikan dalam
tingkat kerusakan sehat dan nilai 6-10 dikategorikan dalam tingkat kerusakan ringan.
Kesehatan pohon akasia juga dipengaruhi oleh faktor abiotik. Faktor abiotik yang
didapatkan selama penilitian yakni, ph 4,94, suhu 270C - 32,90C, kelembaban 70,3 %– 85,2
%, intensitas 733,6 Lux – 1993,7 Lux, kecepatan angin yang diukur pada ketinggian 2 meter
dan 4 meter adalah 0 – 2,7 m/s. Hasil pengukuran yang didapatkan memungkin akasia dapat
tumbuh dengan baik di Kampus Utama Universitas Bengkulu
PENGELOLAAN KELAS PEMBELAJARAN PUISI RAKYAT (PANTUN) MENGGUNAKAN MODEL PROBLEM BASED LEARNING (PBL) DALAM KURIKULUM MERDEKA SMP NEGERI 11 KOTA BENGKULU
Tujuan dari penelitian ini untuk mendeskripsikan pengelolaan kelas pembelajaran
puisi rakyat (pantun) menggunakan model Problem Based Learning dalam
kurikulum merdeka SMPN 11 kota bengkulu. Jenis penelitian ini adalah penelitian
kualitatif dengan menggunakan metode deskriptif. Data dalam penelitian ini yaitu
aktivitas pengelolaan kelas pembelajaran puisi rakyat (pantun) yang di lakukan
guru Bahasa Indonesia dikelas VIIH Di SMPN 11 Kota Bengkulu. Sumber data
yaitu guru dan siswa dalam pembelajaran Bahasa Indonesia siswa kelas VIIH di
SMPN 11 Kota Bengkulu. Teknik pengumpulan data ini dilakukan melalui
observasi, rekaman video, dokumentasi, wawancara. Dalam penelitian ini teknik
analisi data dilakukan menggunakan langkah-langkah merekam sambil mengamati
guru yang mengajar, mecatat bukti kegiatan terkait permasalahan yang diteliti,
menganalisis data, mentaabulasikan data, klarifikasi data, menginterprestasikan
data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukan bahwa pengelolaan
kelas pembelajaran puisi rakyat (pantun) menggunakan model Promblem Based
Learning dalam kurikulum merdeka di SMPN 11 Kota Bengkulu yang berkaitan
Problem Based Learning telah dilaksanakan dengan menggunakan sintak-sintak
Problem Based Learning seperti orientasi, mengorganisasi peserta didik,
membimbing penyelidikan individual maupun kelompok, penyajian hasil diskusi,
analisis dan evaluasi proses mengatasi masalah. Pengelolaan kelas merupakan hal
pembelajaran yang menentukan efektivitas. Pengelolaan kelas ini dilihat dari cara
guru mengatur kelas, membangun suasana kelas hingga siswa nyaman dan senang
dalam belajar. Keterlibatan siswa dalam pembelajaran dapat dilihat dari cara siswa
menanggapi pertanyaan guru, belajar dalam kelompok, serta keikutsertaannya
dalam mengerjakan tugas yang diberikan guru.
Kata Kunci: Kurikulum Merdeka, Pengelolaan Kelas, Problem Based Learning,
Puisi Rakyat (Pantun
RESPON FISIOLOGIS DOMBA CROSS BREED YANG DIBERI PAKAN KOMERSIAL, PALM KERNEL CAKE DAN LIMBAH JAMU
Domba adalah sumber protein hewani penting di Indonesia, ada beberapa jenis
domba Lokal yang dapat menyesuaikan diri dengan pakan protein rendah. Namun, karena
faktor mutu genetik yang kurang baik, produksi domba Lokal cenderung rendah. Oleh
karena itu, untuk meningkatkan produksi domba, persilangan dengan domba bergenetik
tinggi seperti Dorper, Awassi dan Texel, yang memiliki kualitas genetik yang unggul.
Memanfaatkan pakan limbah pertanian seperti kulit kacang hijau, Palm Kernel Cake
(PKC) adalah cara untuk mengurangi biaya pakan yang relatif tinggi baik untuk skala
industri maupun peternakan rakyat. Penambahan suplemen limbah jamu pada pakan dapat
membantu ternak domba karena dapat menurunkan tingkat stres yang di alami oleh ternak.
Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi respon fisiologis domba Cross Breed
yang berbeda pada Pakan Komersial, PKC dan suplementasi limbah jamu. Penelitian ini
dilaksanakan di Peternakan Setya Lembu Multifarm, Desa Plesan, Kecamatan Ngunter,
Kabupaten Sukoharjo, Provinsi Jawa Tengah. Rancangan percobaan menggunakan
Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 4 perlakuan dan 5 ulangan. P0 : Domba
Lokal (kontrol), P1 : Domba Cross Dorper, P2 : Domba Cross Awassi, P3 : Domba Cross
Texel, variabel yang diukur (HTC) dan (THI). Data dianalisis menggunakan sidik ragam
(ANOVA) untuk melihat pengaruh perlakuan terhadap respon fisiologis antar bangsa
domba, apabila terdapat pengaruh yang nyata (P<0,05) dilakukan uji lanjut Duncan’s
Multiple Range Test (DMRT). Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa respirasi, denyut
nadi pagi, sore dan suhu rektal sore tidak berpengaruh nyata (P>0,05). Denyut nadi pada
siang dan suhu rektal siang berpengaruh sangat nyata (P<0,01) berkisar antara 83-112
kali/menit dan 38,5-39,10C, suhu rektal pagi hari berpengaruh nyata (P<0,05) berkisar 37-
390C. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemberian pakan pada domba Cross Breed,
menunjukkan adanya perbedaan respon antar bangsa ternak. Dapat disimpulkan respon
fisiologi domba Lokal pada pakan komersial, PKC, dan limbah jamu lebih baik
dibandingkan domba Cross Breed
POLITENESS STRATEGIES USED IN “MISSION: IMPOSSIBLE 1” MOVIE
Politeness is an attitude or behavior that shows respect, attention and appreciation for
other people. Using politeness strategies in communication helps create comfort and
maintain social relationships. In researching politeness strategies, there are several
objects that can be used and one of them in this research is movie. This research aims
to analyze the politeness strategies used by characters in movie and the factors that
influence them. This research is a qualitative descriptive study to describe the
politeness strategies contained in the data source. The data source used is the movie
Mission: Impossible 1 (1996), which is an action movie directed by Brian De Palma.
Then this research used an observation table checklist instrument to collect data. After
the data were obtained and analyzed using Brown and Levinson's (1987) theory
regarding politeness strategies, the research results were obtained: 1) The characters in
the movie used four politeness strategies, namely positive politeness as the most
dominant strategy, followed by negative politeness, off record politeness and bald on
record politeness. 2) Three factors that influence the use of politeness strategies by
characters are social distance as the most dominant factor, then relative power and size
imposition.
Keywords: Pragmatics, Politeness Strategy, Movie, Brown and Levinson, Mission:
Impossible
AKIBAT HUKUM PENGEMBALIAN NEPIK UANG TERHADAP GAGALNYA SUATU PERTUNANGAN MENURUT HUKUM ADAT SERAWAI DI DESA TALANG PADANG KECAMATAN TALO KECIL KABUPATEN SELUMA
Dalam proses pertunangan suku Serawai di Desa Talang Padang,
Kecamatan Talo Kecil, Kabupaten Seluma pada tahapan pertama ialah pemberian
uang (dalam bahasa Serawai dikenal dengan istilah nepik uang) kepada pihak
perempuan. Namun, apabila terjadi pembatalan pertunangan dari pihak perempuan,
maka pemberian dari pihak laki-laki kepada pihak perempuan harus dikembalikan
dua kali lipat. Tujuan penelitian ini untuk menjelaskan dan menggambarkan akibat
hukum pengembalian nepik uang terhadap gagalnya suatu pertunangan menurut
hukum adat Serawai di desa Talang Padang kecamatan Talo Kecil kabupaten
Seluma, serta untuk menjelaskan faktor penghambat pengembalian nepik uang
terhadap gagalnya suatu pertunangan menurut hukum adat Serawai di desa Talang
Padang kecamatan Talo Kecil kabupaten Seluma. Jenis penelitian yang digunakan
dalam penelitian ini adalah jenis penelitian hukum empiris bersifat deskriptif atau
kualitatif. Hasil penelitian menunjakkan bahwa; 1) akibat hukum pembatalan
pertunangan menurut hukum adat Serawai di Desa Talang Padang, Kecamatan Talo
Kecil, Kabupaten Seluma adalah jika pembatalan datang dari pihak laki-laki maka
nepik uang dan mahar lain dalam apapun tidak dikembalikan lagi dan ditambah
denda berupa uang, dan jika pembatalan pertunangan datang dari pihak perempuan,
maka pemberian dari pihak laki-laki berupa nepik uang dan mahar lain kepada
pihak perempuan harus dikembalikan dua kali lipat dan ditambah denda berupa
uang, 2) faktor penghambat pengembalian nepik uang di desa Talang Padang
Kecamatan Talo Kecil Kabupaten Seluma terhadap gagalnya suatu pertunangan
diantaranya terjadi ketidaksepakatan antara kedua belah pihak atas nilai
pengembalian nepik uang dan denda yang telah ditetapkan oleh adat Desa Talang
Padang, terjadinya konflik antara kedua belah pihak akibat gagalnya suatu
pertunangan, pihak yang membatalkan pertunangan tidak memenuhi sanksi yang
telah ditetapkan adat Desa Talang Padang berupa pengembalian nepik uang, mahar,
dan denda.
Kata kunci: nepik uang; pertunangan; hukum adat Serawa
ANALISIS PRAKTIK MEANINGFUL PARTICIPATION DALAM UNDANG-UNDANG NOMOR 13 TAHUN 2022 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 12 TAHUN 2011 TENTANG PEMBENTUKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN BERDASARKAN PUTUSAN MAHKAMAH KONSTITUSI NOMOR 91/PUU. XVIII/2020
Dalam sistem hukum Indonesia yang menjunjung tinggi prinsip negara hukum
dan demokrasi konstitusional, partisipasi publik merupakan unsur mendasar
dalam penyelenggaraan pemerintahan yang transparan, akuntabel, dan
berkeadilan. Prinsip partisipasi ini diakui dalam berbagai kerangka hukum,
khususnya dalam kaitannya dengan perumusan kebijakan publik dan
pembentukan peraturan perundang-undangan. Namun dalam praktiknya,
partisipasi sering kali hanya bersifat prosedural dan tidak memberikan ruang
substantif bagi masyarakat untuk memengaruhi hasil keputusan secara nyata.
Oleh karena itu, konsep meaningful participation menjadi prinsip hukum
penting yang menuntut keterlibatan publik yang otentik, inklusif, dan mampu
memberikan dampak terhadap proses pengambilan keputusan. Penelitian ini
mengkaji meaningful participation dari perspektif hukum normatif, dengan
menekankan pentingnya mekanisme partisipatif yang menjamin keadilan secara
prosedural dan substansial. Pada akhirnya, meaningful participation harus
dimaknai bukan sekadar sebagai gagasan demokratis, tetapi juga sebagai
instrumen hukum strategis untuk memperkuat legitimasi, responsivitas, dan
keadilan dalam tata kelola pemerintahan.
Kata Kunci: partisipasi publik, partisipasi bermakna, prinsip hukum, keadilan
prosedural, tata kelola demokrati
PERMODELAN PREDIKSI BANJIR DI RAWA MAKMUR KOTA BENGKULU MENGGUNAKAN METODE NARMAX
Banjir sering terjadi di Kota Bengkulu, khususnya di Kelurahan Rawa Makmur
dengan luas terdampak 150 Ha, menurut BPBD Kota Bengkulu (2018). Penelitian
ini bertujuan mengembangkan model prediksi banjir menggunakan metode
NARMAX (Nonlinear Auto-Regressive Moving Average with eXogenous inputs)
untuk menangkap hubungan non-linear antara variabel input dan output. Data yang
digunakan terdiri dari 1.485 sampel (297 per variabel), mencakup curah hujan
UNIB, curah hujan Taba Penanjung, suhu udara, kelembaban udara, dan ketinggian
air sungai. Model dikembangkan melalui pra-pemrosesan data, identifikasi struktur,
estimasi parameter, dan validasi menggunakan Forward Regression Orthogonal
Least Squares (FROLS). Hasil terbaik diperoleh dengan konfigurasi ny = 2, ne = 2,
nl = 2, nu = 3, nterms = [16 4], iterasi = 100 atau 500 atau 1000, menghasilkan
RMSE 0.22067 dan pearson corelation 0.62407. Model ini berhasil memprediksi
banjir di Rawa Makmur pada 17 Januari 2024, sebagaimana tercatat oleh BPBD
Kota Bengkulu. Diharapkan penelitian ini dapat mendukung mitigasi banjir di
Rawa Makmur, Kota Bengkulu.
Kata kunci: Banjir, Prediksi, NARMAX, FROLS, Kota Bengkulu
UJI EFEKTIVITAS EKSTRAK DAUN SUREN (Toona sureni Blume.) DAN DAUN GAMAL (Gliricidia sepium Jacq. Kunth) TERHADAP ULAT GRAYAK (Spodoptera litura (F).)
Ulat grayak (Spodoptera litura (F).) adalah salah satu hama penting di Indonesia,
terutama menyerang berbagai tanaman seperti palawija dan sayuran. Penggunaan
insektisida kimia sintetis yang berlebihan dapat menyebabkan masalah lingkungan dan
kesehatan. Oleh karena itu, penelitian ini berfokus pada penggunaan insektisida nabati dari
ekstrak daun suren dan daun gamal sebagai alternatif yang ramah lingkungan. Penelitian
ini bertujuan untuk mendapatkan konsentrasi ekstrak daun suren dan daun gamal yang
efektif dalam mengendalikan hama Spodoptera litura.
Penelitian dilaksanakan pada bulan juli sampai Oktober 2023 di Laboratorium
Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian, Universitas Bengkulu. Penelitian ini terdiri dari dua
tahap yaitu uji seleksi dan uji efikasi. Uji seleksi dilakukan untuk mendapatkan konsentrasi
yang paling efektif unuk mengendalikan larva Spodoptera litura. Uji seleksi menggunakan
Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan dua faktor. Faktor pertama adalah jenis
insektisida nabati yang terdiri dari : ekstrak daun suren (S) dan ekstrak daun gamal (G).
Faktor kedua adalah konsentrasi ekstrak yang terdiri dari : K0 = 0% (kontrol), K1 = 2,5%,
K2 = 5%, dan K3 = 7,5%. Setiap perlakuan diulang sebanyak tiga kali sehingga total
satuan percobaan yaitu 24 unit. Setiap unit percobaan menggunakan 10 ekor larva instar
III. Setelah dilakukan uji seleksi didapatkan ekstrak daun suren dan gamal yang efektif
yaitu sebesar 7,5%. Uji efikasi menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan
satu faktor yaitu kombinasi ekstrak daun suren dan daun gamal S:G (1:1), kombinasi SSG
(2:1), kombinasi SGG (1:2), pestisida kimia sintetis berbahan aktif Abamektin yang umum
dipakai oleh petani dengan dosis sesuai anjuran pada kemasan (A) dan kontrol (tidak
disemprot). Setiap perlakuan diulang sebanyak tiga kali, setiap unit percobaan terdapat 10
cup yang masing masing diisi satu larva instar III.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun gamal dan daun suren baik
ekstrak tunggal maupun kombinasi pada konsentrasi 7,5% menyebabkan kematian ulat
grayak sebesar 63,33% - 70%. Namun, efektivitasnya belum mencapai standar yang
diharapkan, karena kematian di atas 80% baru dianggap efekti(F). Kombinasi kedua
ekstrak tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan dibandingkan dengan penggunaan
tunggal.
Program Studi Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian, Universitas Bengkul