31735 research outputs found
Sort by
PROSEDUR PENDAFTARAN MANDIRI MENGGUNAKAN APLIKASI JAMSOSTEK MOBILE (JMO) PADA BPJS KETENAGAKERJAAN BENGKULU
ETNOFARMAKOLOGI TUMBUHAN OBAT YANG DIGUNAKAN PENYEHAT UNTUK DEMAM DI KECAMATAN KAUR UTARA KABUPATEN KAUR
Studi etnofarmakologi adalah ilmu yang mempelajari tentang tanaman obat yang memiliki hubungan dengan pengobatan dan pemeliharaan kesehatan oleh masyarakat sekitar. Penyehat tradisional adalah seseorang yang memiliki ilmu yang dapat mengobati penyakit dengan memanfaatkan tumbuhan alam atau tanaman obat secara turun-temurun di Kecamatan Kaur Utara Kabupaten Kaur. Penelitian ini merupakan observasional dengan metode kualitatif. Pada penelitian ini digunakan 10 responden yang di observasi dengan menggunakan teknik purposive sampling. Dari penelitian yang dilakukan mendapatkan hasil bahwa terdapat 36 spesies tanaman obat seperti Ocimum Basilicum, Kalanchoe lacinata, Blucea javanica, Habiscus rosa-sinensi, Canna discolor, Canna indica, Scirpodendron ghaeri, Cymbopogon citratus,dan seterusnya. Tanaman obat yang digunakan penyehat dalam mengobati pasien dilakukan dengan 7 cara pengolahan diantaranya diambil daunnya lalu direbus, dipotong, diperas, dicampur air tebu, dicampur kuning telur, diusapkan, di tampung dalam botol, didiamkan dalam ember berisi air, dan diambil getahnya.
Kata kunci: Etnofarmakologi, Penyehat Tradisional, Tujua
GAMBARAN TINGKAT PENGETAHUAN TENTANG KONSEP PENYAKIT HIPERTENSI DI PUSKESMAS JEMBATAN KECIL KOTA BENGKULU
Hipertensi adalah kenaikan tekanan darah baik sistolik maupun distolik yang tebagi
menjadi dua tipe, yaitu hipertensi esensial yang paling seriang terjadi dan sekunder
yang disebabkan oleh penyakit renal atau penyebab lain. Penyebab terjadinya
hipertensi adalah umur, jenis kelamin, riwayat keluarga,genetik (faktor resiko yang
tidak dapat diubah atau dikontrol), kebiasaan merokok, obesitas, kurang aktivitas
fisik, stress penggunaan estrogen dan salah satunya yang dapat menyebabkan
terjadinya hipertensi adalah pola konsumsi garam dengan intake berlebihan.
Penyebab hipertensi diantaranya adalah konsumsi makanan asin, kafien, konsumsi
monosodium glumata vestsin, kecap, pasta udang. Tujuan Penelilitian ini untuk
mengetahui gambaran tingkat pengetahuan hipertensi di wilayah Puskesmas
Jembatan Kecil Kota Bengkulu dan karateristik pada responden. Penelitian ini
menggunakan metode kuantitatif dengan jumlah responden 70 orang dengan
menggunakan teknik purposive sampling. Pengambilan data menggunakan
kuesioner meliputi jumlah, jenis kelamin. Hasil penelitian ini sebagian besar
mempunysi hipertensi pada usia 36-59 (55,7%), responden perempuan (54,3%),
riwayat keluarga Hipertensi (64,3%), dan yang pasien yang tidak merokok (58,6%),
Tingkat pengetahuan hipertensi kategori baik (32,9%), cukup (50,0%), kurang
(17,1%). Kesimpulan tingkat pengetahuan tentang hipertensi di Puskesmas
Jembatan Kecil Kategori cukup (50,0%) dan kurang (17,1%), Puskesmas harus
melakukan promosi kesehatan tentang hipertensi di keluarga.
kata kunci : Hipertensi,Tingkat Pengetahuan Hipertens
TINGKAT KEPATUHAN MINUM OBAT ANTI TUBERKULOSIS PADA PASIEN TB PARU DI PUSKESMAS BETUNGAN KOTA BENGKULU
Tuberkulosis (TB) merupakan salah satu penyakit menular yang menjadi
permasalahan kesehatan global, termasuk di Indonesia yang menempati peringkat
kedua tertinggi kasus TB di dunia. Keberhasilan pengobatan TB sangat dipengaruhi
oleh kepatuhan pasien dalam mengonsumsi obat anti tuberkulosis (OAT) secara
teratur sesuai anjuran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kepatuhan
minum obat anti tuberkulosis pada pasien TB paru di Puskesmas Betungan Kota
Bengkulu. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan
kuantitatif. Sampel yang digunakan adalah total sampling terhadap seluruh pasien
TB paru di Puskesmas Betungan pada tahun 2024 sebanyak 61 responden.
Instrumen yang digunakan adalah kuesioner Morisky Medication Adherence Scale
(MMAS-8). Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar pasien memiliki
tingkat kepatuhan tinggi (74%), sedangkan kepatuhan sedang dan rendah masing�masing sebesar 13%. Dapat disimpulkan bahwa tingkat kepatuhan minum obat pada
pasien TB paru di Puskesmas Betungan tergolong tinggi, namun masih diperlukan
upaya edukasi dan pengawasan berkelanjutan untuk meningkatkan kepatuhan
secara menyeluruh.
Kata kunci: Tuberkulosis paru, kepatuhan, obat anti tuberkulosis, MMAS-8,
Puskesmas Betungan
EFEKTIVITAS GEL AROMATERAPI KOMBINASI MINYAK ESENSIAL BUNGA KENANGA (Cananga odorata) DAN SERAI WANGI (Cymbopogon nardus L) SEBAGAI ANTINYAMUK
Nyamuk menjadi masalah yang serius bagi masyarakat Indonesia. Penggunaan
antinyamuk berbahan hayati merupakan solusi penggunaan antinyamuk tanpa efek
samping dan jauh lebih aman dari segi kesehatan. Salah satu tanaman yang
berkhasiat sebagai antinyamuk adalah bunga Kenanga (Cananga odorata) dan
Serai wangi (Cymbopogon nardus L) yang mengandung geraniol, citronella,
linalool. Penelitian ini bertujuan mengkombinasikan minyak atsiri bunga kenanga
dan serai wangi menjadi produk gel aromaterapi antinyamuk yang aman, ramah
lingkungan, dan praktis digunakan. Metode penelitian ini adalah experimental
laboratorium dengan pengujian organoleptik, homogenitas, hedonik, penguapan zat
cair, dan daya tolak nyamuk. Sediaan dibuat 4 formula yaitu F0, F1, F2 dan F3 dari
kombinasi minyak atsiri bunga kenanga (Cananga odorata) dan serai wangi
(Cymbopogon nardus L) dengan variasi konsentrasi minyak atsiri bunga kenanga
0%, 2%, 5%, 7% dan minyak atsiri serai wangi 0%, 1%, 2%, 3% sebagai zat aktif
antinyamuk. Hasil daya tolak menunjukkan bahwa sediaan gel aromaterapi
antinyamuk dari kombinasi minyak bunga kenanga (Cananga odorata) dan serai
wangi (Cymbopogon nardus L) memiliki efektivitas untuk dijadikan sediaan gel
aromaterapi sebagai antinyamuk dimana formula yang paling efektif yaitu pada F3
dengan kombinasi konsentrasi bunga kenanga 7% dan serai wangi 3%, dengan
persentase daya tolak nyamuk sebesar 80% dan 90% menit ke-15 dan ke-30, dan
terus meningkat sampai 100% dimenit ke-45 dan ke-60. Hasil menunjukkan bahwa
daya tolak tertinggi terdapat pada formula F3 dengan pesentase daya tolak sebesar
92,5% dalam waktu satu jam. Gel aromaterapi kombinasi minyak atsiri bunga
kenanga dan serai wangi memiliki potensi menjadi alternatif antinyamuk alami,
aman dan praktis digunakan masyarakat.
Kata kunci : Antinyamuk, Minyak atsiri, Bunga kenanga, Serai wangi,
Aromaterapi, Sediaan gel
GAMBARAN PENGGUNAAN OBAT ANTIDIABETES PADA PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 DI PUSKESMAS PERUMNAS BENGKULU UTARA PERIODE JANUARI 2023 – DESEMBER 2024
Diabetes Melitus tipe 2 merupakan penyakit kronis dengan prevalensi yang terus
meningkat di Indonesia, termasuk di Kabupaten Bengkulu Utara. Penatalaksanaan
terapi yang tepat, termasuk pemilihan obat antidiabetes, sangat penting untuk
mengendalikan kadar glukosa darah dan mencegah komplikasi. Penelitian ini
bertujuan untuk menggambarkan penggunaan obat antidiabetes pada pasien
diabetes melitus tipe 2 di Puskesmas Perumnas Bengkulu Utara periode Januari
2023 – Desember 2024, serta mengidentifikasi jenis obat dan pola penggunaannya,
baik tunggal maupun kombinasi. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan
pendekatan retrospektif. Data diambil dari rekam medis pasien diabetes melitus tipe
2 yang memenuhi kriteria inklusi selama periode Januari 2023 hingga Desember
2024. Pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling dengan
jumlah sampel sebanyak 102 pasien. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
mayoritas pasien adalah perempuan (70,58%), berusia di atas 61 tahun (76,47%),
bekerja sebagai IRT atau ibu rumah tangga (26,47%) dan berpendidikan terakhir
SMA (35,30%). Obat yang paling banyak digunakan adalah metformin (62,75%)
dari golongan biguanida. Sebagian besar pasien (90,20%) menerima terapi tunggal
dibandingkan kombinasi (9,80%).
Kata Kunci : Penggunaan Obat Diabetes Melitus Tipe 2, Puskesmas,
Bengkulu Utara
STUDI ETNOZOOLOGI PEMANFAATAN HEWAN YANG DIGUNAKAN OLEH PENYEHAT TRADISIONAL SEBAGAI PENGOBATAN DI KECAMATAN MANNA KABUPATEN BENGKULU SELATAN
Etnozoologi merupakan ilmu yang mempelajari hubungan antara manusia,
biota dan lingkungan sekitar yang meliputi tentang pengetahuan masyarakat
mengenai sumber daya hewan yang dapat dimanfaatkan sebagai hewan obat.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh data hewan apa saja yang
digunakan oleh penyehat tradisonal, bagian yang digunakan, cara pengolahan,
cara penggunaan, aturan pakai, penyakit yang dapat diobati dan efek samping
dari hewan obat sebagai alternatif pengobatan tradisional yang digunakan
oleh penyehat tradisional di Kecamatan Manna Kabupaten Bengkulu Selatan.
Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif, dengan
pendekatan observasional deskriptif. Dari hasil wawancara yang sudah
dilakukan terdapat sebanyak 24 jenis hewan obat yang digunakan sebagai
pengobatan tradisional di Kecamatan Manna Kabupaten Bengkulu Selatan.
Dari 17 orang penyehat tradisional yang ada di Kecamatan Manna Kabupaten
Bengkulu Selatan didapatkan bagian-bagian hewan yang digunakan sebagai
pengobatan tradisional, yaitu seluruh bagian dari hewan, lendir, air liur,
daging, minyak dan juga hati. Cara pengolahannya direbus, dipanggang,
disop, dan dimakan langsung. Cara penggunaannya ditempelkan langsung ke
kulit, diminum, dimakan secara langsung. Penyakit yang dapat disembuhkan
dengan menggunakan hewan obat tersebut meliputi sakit digigit lipan, untuk
menyedot darah kotor, sesak nafas, kejang-kejang, malaria, malaria tipes,
luka setelah operasi, batuk, batuk menahun, batuk disertai sesak nafas, bisul
ditelapak kaki, anak-anak yang masih kencing dalam celana (ngompol),
digigit ular, gatal-gatal, angin duduk, sakit mata, kekurangan gizi, kesat
(terlambat tumbuh kembang anak), sulit hamil dan asma.
v
Kata Kunci : etnozoologi, hewan obat, penyehat tradisional, pengobatan
tradisiona
EFEKTIVITAS KLAIM JAMINAN HARI TUA MELALUI KANAL LAPAK ASIK DALAM MENDUKUNG E-GOVERNMENT DI BPJS KETENAGAKERJAAN CABANG BENGKULU
ANALISIS TEKNIS KONSTRUKSI ALAT TANGKAP DAN DAERAH PENANGKAPAN BENIH LOBSTER (BENUR) YANG BERBASIS DI TPI LINAU KECAMATAN MAJE KABUPATEN KAUR
Potensi benih lobster di Kabupaten Kaur cukup tinggi. Nelayan TPI Linau
memanfaatkan potensi tersebut dengan menggunakan alat tangkap dengan teknis
pengoperasian yang tergolong pasif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis teknis
konstruksi alat tangkap dan daerah penangkapan benih lobster (benur) yang berbasis di
TPI Linau, Kecamatan Maje, Kabupaten Kaur. Alat tangkap yang digunakan oleh nelayan
setempat disebut pocong-pocong, terbuat dari waring yang dilengkapi lampu aki dan
pemberat, dengan teknis pengoperasian yang bersifat pasif dan ramah lingkungan.
Metode penelitian meliputi observasi langsung, wawancara partisipatif dengan nelayan,
serta analisis data primer dan sekunder. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konstruksi
alat tangkap terdiri dari komponen utama seperti pocong-pocong, lampu aki, kili-kili,
pemberat, pelampung dan tali utama, dengan rata-rata hasil tangkapan didominasi oleh
benih kepiting (38%), diikuti oleh benih bening lobster (38%), benih ikan (22%), dan
benih gurita (2%). Analisis keanekaragaman (indeks Shannon) menunjukkan kategori
sedang dengan nilai 1,15-1,16, sedangkan indeks keseragaman menunjukan angka 0,83-
0,84 yang artinya hasil tangkapan alat tangkap memiliki tingkat keseragaman yang tinggi
dan dominansi rendah dengan dengan angka 0,33-0,34. Terdapat lima lokasi daerah
penangkapan benih lobster di perairan Maje antara lain: sekitar Muara Sungai Air
Sambat, Desa Benteng Harapan, Muara Jaya, Pantai Wayhawang, dan Muara Sungai Air
Nasal, dengan substrat berpasir dan karang. Alat tangkap pocongan yang digunakan
nelayan tergolong ramah lingkungan dan efektif dalam menangkap benih lobster.
Kata kunci: Alat Tangkap Pocong-pocong, Benih Lobster, Daerah Penangkapan,
Konstruksi, Kabupaten Kaur
ANALISIS KARAKTERISTIK HABITAT PENELURAN PENYU DI PULAU ENGGANO PROVINSI BENGKULU
Secara administratif, Pulau Enggano berada wilayah adminitrasi Kabupaten Bengkulu Utara,
Provinsi Bengkulu. Pulau ini memiliki potensi strategis yang signifikan sebagai pulau kecil
terluar di Indonesia, yang memiliki keanekaragaman ekosistem yang kaya, termasuk hutan
mangrove, terumbu karang, padang lamun, pulau-pulau kecil dan pantai berpasir. Beberapa
lokasi di Pulau Enggano berfungsi sebagai habitat dan tempat bersarang bagi berbagai spesies
penyu. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik pantai habitat peneluran
penyu di Pulau Enggano. Penelitian ini dilakukan menggunakan metode survei pada
Desember 2024 - Februari 2025. Lokasi penelitian ini terletak di Desa Malakoni dan terbagi
menjadi 3 Stasiun, Stasiun 1 terletak di Pantai Humo, Stasiun 2 di Pantai Kualo Kecil dan
Stasiun 3 terletak di Pantai Be’wa. Data yang diambil adalah karakteristik habitat peneluran
penyu yaitu panjang dan lebar pantai, elevasi pantai, jenis vegetasi, tekstur substrat, suhu
substrat, kelembaban substrat dan pH substrat. Hasilnya menunjukkan bahwa ke tiga Stasiun
masing-masing memiliki panjang pantai 75,40 m, 26,90 m, 29 m dan lebar pantai 22,4-28,75
m dengan kemiringan pantai yang termasuk dalam kategori landai yaitu berkisar antara 5,66°-
6,12°. Memiliki 8 jenis vegetasi yaitu Pandan Laut, Kangkung Laut, Rumput Grinting,
Cemara Laut, Malapari, Ketapang, Mengkudu dan Mangga Laut. Suhu berkisar antara 27-
32ᵒC sedangkan kelembapan berkisar antara 6-8% 6% serta memiliki pH tertinggi 4,2 dan
terendah 3,4, memiliki jenis substrat berupa pasir pada setiap stasiun. Lokasi peneluran penyu
di Desa Malakoni termasuk kedalam kategori sangat sesuai dengan nilai Indeks Kesesuaian
Habitat Stasiun 1 sebesar 91,30%, Stasiun 2 sebesar 86,95% dan pada Stasiun 3 sebesar
86,95%.
Kata kunci: Karakteristi Habitat, Penyu, Pulau Enggan