31735 research outputs found
Sort by
SEBARAN DAN IDENTIFIKASI SPESIES Ganoderma spp. PADA KELAPA SAWIT (Elais guineensis Jacq.) DI KABUPATEN SELUMA
Kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq) merupakan salah satu tanaman penghasil
minyak tertinggi di Indonesia. Luas areal, produksi dan ekspor komoditas kelapa sawit di
Indonesia terus mengalami peningkatan dibandingkan dengan komoditi lainnya pada
subsektor perkebunan. Salah satu faktor pembatas dalam produksi kelapa sawit Indonesia
adanya serangan penyakit busuk pangkal batang (BPB) pada kelapa sawit yang
disebabkan oleh Ganoderma boninense. Penyakit ini menjadi kendala utama dalam
pengembangan dan peningkatan produksi kelapa sawit di Asia. Tujuan dari penelitian ini
adalah untuk melihat sebaran dan identifikasi spesies Ganoderma spp. pada kelapa sawit
di Kabupaten Seluma.
Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan September 2024 -Februari 2025 di
Laboratorium Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian, Universitas Bengkulu. Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui sebaran dan mengidentifikasi spesies Ganoderma spp. yang
menyerang tanaman kelapa sawit di Kabupaten Seluma dengan metode purposive
sampling. Tahapan awal penelitian dilakukan dengan mengamati karakteristik tubuh buah
Ganoderma. Selanjutnya, sampel tubuh buah yang telah dikumpulkan dianalisis secara
molekuler untuk di identifikasi spesies Ganoderma secara akurat.
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, ditemukan bahwa Ganoderma
spp. tersebar di seluruh kecamatan perwakilan yang menjadi lokasi pengambilan sampel
di Kabupaten Seluma. Analisis molekuler menunjukkan bahwa isolat-isolat Ganoderma
yang diperoleh dari perwakilan setiap kecamatan memiliki kekerabatan yang dekat
dengan Ganoderma boninese tetapi karena hasil dari website NCBI menyatakan Percent
identity hanya dibawah 90% cenderung dikatakan Ganoderma sp.
Kata kunci : Kelapa Sawit, Sebaran, Ganoderma sp. , PCR, Amplifikas
SEBARAN DAN KERAGAMAN Ganoderma spp. PADA KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jacq.) DI KABUPATEN BENGKULU TENGAH
Kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) merupakan spesies tanaman dari salah satu
famili palma dan tanaman industri penghasil Crude Palm Oil (CPO). Kelapa sawit menjadi
komoditas perkebunan penting di bidang pertanian maupun perekonomian di Kabupaten
Bengkulu Tengah. Tetapi produksinya menghadapi ancaman penyakit Busuk Pangkal
Batang (PPB) yang disebabkan Ganoderma spp. Penyakit ini menyebabkan pohon kelapa
sawit banyak yang busuk pangkal dan berujung pohon banyak yang mati dan penurunan
hasil panen. Kabupaten Bengkulu Tengah, sebagai salah satu daerah penghasil kelapa
sawit di Provinsi Bengkulu, belum memiliki data yang lengkap mengenai sebaran dan
keragaman genetik Ganoderma spp. yang menyerang tanaman kelapa sawit.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan memahami keragaman genetik
Ganoderma spp. dan keberadaannya pada tanaman kelapa sawit di wilayah Kabupaten
Bengkulu Tengah. Metode yang digunakan yaitu survei lokasi yang dilakukan di lapangan
metode diagonal di Kabupaten Bengkulu Tengah, dengan kecamatan terpilih yaitu
Kecamatan Bang Haji, Merigi Sakti, Pondok Kelapa, Taba Penanjung dan Kecamatan
Talang Empat. Setiap Kecamatan dipilih 5 desa, dengan mengamati serangan pada
tanaman serta melakukan isolasi dan identifikasi morfologi serta molekuler Ganoderma
spp.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase tanaman kelapa sawit yang
terserang bervariasi di setiap Kecamatan, dengan tingkat serangan tertinggi di Kecamatan
Pondok Kelapa (19,2 %) dan terendah di Kecamatan Merigi Sakti (14,2%). Faktor
lingkungan seperti kelembaban, pH tanah, suhu, serta jenis gulma yang tumbuh di sekitar
tanaman berkontribusi terhadap penyebaran penyakit ini. Pengamatan morfologi
menunjukkan variasi bentuk tubuh buah dan pertumbuhan miselium Ganoderma spp.,
sementara analisis mikroskopis mengonfirmasi adanya struktur khas seperti clamp
connection dan basidiospora. Analisis molekuler menggunakan PCR dengan primer
ITSI/ITS4 menunjukkan bahwa 1 sampel positif mengandung DNA Ganoderma spp., yang
kemudian dianalisis lebih lanjut menggunakan metode sequencing. Analisis homologi
menunjukkan bahwa isolat dari Kecamatan Talang Empat, memiliki kemiripan tertinggi
dengan Ganoderma orbiforme (99.48%) dan Ganoderma boninense (99.48%) .
Kata Kunci: Kelapa Sawit, keragaman genetik Ganoderma, penyakit busuk pangkal
batan
INDUKSI RESISTENSI CENDAWAN ENDOFIT Beauveria bassiana (Balsamo) PADA TANAMAN KEDELAI (Glycine max (L.) Merryl) DAN PENGARUHNYA TERHADAP KUTU PUTIH (Ferrisia dasylirii Cockerell)
Kedelai (Glycine max (L.) Merryl) merupakan salah satu komoditas utama
andalan nasional dan menjadi diversifikasi dalam ketahanan pangan. Adanya penurunan
produktivitas kedelai dapat dipengaruhi oleh Organisme Penganggu Tanaman. Salah satu
spesies hama yang menyerang tanaman kedelai adalah kutu putih Ferrisia dasylirii
Cockerell. F. dasylirii merupakan spesies serangga hama yang bersifat polifag dan hidup
pada 57 spesies tanaman inang dalam 28 famili. Upaya pengendalian yang masih
diandalkan petani saat ini yaitu insektisida kimia. Namun, hal ini dapat mengakibatkan
kerusakan lingkungan dan biaya produktivitas yang tinggi. Pengembangan pengendalian
ramah lingkungan, dapat dilakukan dengan memanfaatkan cendawan endofit Beauvaria
bassiana. Penelitian ini bertujuan untuk memastikan efektivitas dari ketiga metode
inokulasi B. bassiana sebagai endofit mengendalikan populasi F. dasylirii.
Penelitian ini terdiri dari tiga kali percobaan. Isolat yang digunakan adalah koleksi
Laboratorium Hayati Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian, Universitas Bengkulu.
Variabel pengamatan yang dilakukan adalah tinggi tanaman, populasi F. dasylirii, jumlah
daun, luas daun trifoliat, panjang akar, jumlah cabang akar, bobot basah, dan bobot kering
tanaman. Data dianalisis menggunakan analisis varian, simpangan baku dan standar deviasi
dengan menggunakan excel. Jika terdapat perbedaan nyata antar perlakuan, maka
dilakukan uji lanjut Uji BNT pada taraf 5%. Inokulasi konidia dilakukan tiga metode yang
berbeda sebagai perlakuan, yaitu metode perendaman benih (P1) dengan suspensi konidia,
inokulasi dengan metode penyemprotan pada daun (P2), dan metode penyiraman pada
media tanam (P3). Tanaman yang digunakan adalah kedelai varietas Devatra 2, yang
ditanam secara tunggal dalam polybag. Aplikasi cendawan endofit dilakukan pada tanaman
14 hari setelah tanam (HST) dengan kerapatan konidia 108
/ml sebanyak 10 ml/tanaman.
Infestasi F. dasylirii sebanyak 5 serangga per unit percobaan pada umur 7 hari setelah
inokulasi (HSI) tanaman kedelai. Pengamatan populasi F. dasylirii dengan menghitung
jumlahnya langsung pada tanaman setiap 3 hari sekali sampai umur tanaman 1,5 bulan.
Pengamatan tinggi tanaman, jumlah daun, dan luas daun trifoliat dilakukan setiap minggu,
sedangkan pengamatan panjang akar, jumlah cabang akar, bobot basah dan bobot kering
tanaman dilakukan pada akhir tanam. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi
efektivitas tiga metode inokulasi B. bassiana sebagai endofit untuk mengendalikan
populasi kutu putih F. dasylirii pada tanaman kedelai.
Hasil induksi ketahanan dari ketiga percobaan, menunjukkan bahwa populasi F.
dasylirii secara umum lebih rendah pada tanaman yang diinokulasi dengan cendawan
endofit, membuktikan bahwa `B. bassiana meningkatkan ketahanan tanaman kedelai
terhadap kutu putih. Ketahanan induksi tersebut melemah 2 minggu setelah infestasi kutu
putih atau 3 minggu setelah inokulasi B. bassiana (Gambar 3). Inokulasi cendawan endofit
B. bassiana mampu menurunkan populasi F. dasylirii secara signifikan, dengan penurunan
tertinggi sebesar 59,3% dengan metode aplikasi penyemprotan daun. Hal ini
mengindikasikan cendawan endofit mampu meningkatkan ketahanan tanaman. Inokulasi B.
bassiana juga mampu meningkatkan pertumbuhan tanaman pada variabel tinggi tanaman
sebesar 27,9 - 75,7%. Variabel pertumbuhan tanaman pada umumnya tidak berbeda nyata
antara tanaman kontrol dengan tanaman yang diinokulasi dengan cendawan endofit B.
bassiana, akan tetapi cenderung lebih tinggi pada tanaman yang diinokulasi dengan B.
bassiana.
Program Studi Proteksi tanaman, Fakultas Pertanian, Universitas Bengkul
KERAGAMAN MORFOLOGI DAN FITOKIMIA SUMBER DAYA GENETIK TALAS PROVINSI BENGKULU SEBAGAI PANGAN POTENSIAL
Tanaman talas merupakan bahan pangan yang memiliki beragam manfaat
seperti sumber karbohidrat, vitamin dan kandungan serat yang tinggi. Talas juga
dimanfaatkan sebagai alternatif pengganti nasi dan bernilai ekonomis yang tinggi.
Talas cukup menjanjikan untuk program diversifikasi pangan alternatif dan bagian
talas yang dapat dimakan seperti umbi, daun, dan tangkai daun merupakan sumber
karbohidrat, protein, serat makanan, mineral dan vitamin, serta fitokimia. Namun,
sejauh ini talas masih banyak dibiarkan tumbuh secara liar dan belum banyak
dibudidayakan oleh petani.
Eksplorasi keragaman plasma nutfah talas di Provinsi Bengkulu sudah
dilakukan, namun kegiatan tersebut masih bersifat parsial yang hanya mencakup
dataran rendah dan karakteristik morfologis tanaman. Oleh karena itu, informasi
mengenai penampilan tanaman dari berbagai plasma nutfah yang ada di berbagai
ketinggian tempat belum tersedia, baik secara morfologi tanaman maupun
fitokimia umbi yang dihasilkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi
dan mengelompokkan karakteristik morfologi dan fitokimia talas yang tumbuh di
berbagai ketinggian tempat di Provinsi Bengkulu.
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari - April 2023. Eksplorasi
dan karakterisasi morfologi tanaman talas dilakukan di Provinsi Bengkulu.
Penelitian ini dilakukan secara eksploratif dengan sistem jelajah. Data yang
dihimpun dianalisis secara statistik dengan menggunakan software statistika SAS
V9.4 (SAS Institute Inc., Cary, N.C.).
Eksplorasi dilaksanakan pada 3 transek di Provinsi Bengkulu, masingmasing dengan ketinggian tempat berbeda, yaitu dataran rendah, dataran
menengah, dan dataran tinggi menghasilkan 22 aksesi talas. Dari transek 1
diperoleh sebanyak 6 aksesi, transek 2 sebanyak 9 aksesi, dan transek 3 sebanyak
7 aksesi. Dari 22 aksesi talas yang dihimpun dari berbagai kondisi lingkungan
tumbuh di Provinsi Bengkulu terlihat bahwa keragaman morfologis antar aksesi
umumnya dicirikan oleh perbedaan ukuran daun, warna kulit umbi, dan berat
vi
umbi yang dihasilkan. Berdasarkan karakter-karakter penciri tersebut, maka
aksesi-aksesi tersebut dapat dibedakan menjadi empat kelompok. Pola serupa juga
dijumpai pada karakteristik fitokimia umbi yang ragamnya lebih dicirikan oleh
kandungan karbohidrat, kadar abu, kadar lemak, dan kadar protein yang
membedakan aksesi menjadi empat kelompok.
Dari 22 aksesi talas yang berhasil dihimpun pada eksplorasi ini semua
aksesi memiliki potensi dimanfaatkan sebagai bahan pangan potensial, akan tetapi
jika dilihat dari besarnya kandungan dari fitokimia yang dihasilkan maka TPS 18
merupakan aksesi yang paling potensial untuk dikembangkan, karena memiliki
kandungan karbohidrat yang tinggi (77,09%), serat yang tinggi (11,26%), dan
protein yang masuk kategori tinggi (11,38%). Selain TPS 18, aksesi yang
berpotensi dikembangkan adalah TPS 19, TPS 20 dan TPS 21
RANCANG BANGUN ALAT PEMISAH BIJI KOPI MENGGUNAKAN METODE SENTRIFUGASI DENGAN KENDALI KECEPATAN DAN PERHITUNGAN MASSA JENIS
Penelitian ini bertujuan untuk merancang dan membangun alat pemisah biji kopi
berdasarkan massa jenis dengan menggunakan metode sentrifugal berbasis sensor
load cell. Proses sepintas dilakukan dengan memanfaatkan gaya sentrifugal yang
dihasilkan oleh putaran motor DC, di mana kecepatan rotasi dikendalikan melalui
sinyal PWM dan distabilkan menggunakan sensor rotary encoder. Biji kopi dengan
massa jenis berbeda akan terdorong ke posisi yang berbeda di dalam tabung
pemisah sehingga memungkinkan visibilitas ke dalam dua wadah penampung yang
masing-masing dilengkapi dengan sensor load cell untuk mendeteksi hasil
verifikasi. Sistem dikendalikan oleh mikrokontroler yang memadukan kecepatan
putaran dan berat hasil spesifikasi secara real-time. Hasil pengujian menunjukkan
bahwa alat ini mampu melakukan pengintaian dengan efektivitas yang cukup baik,
terutama pada beban 500 gram, dengan kestabilan kecepatan motor di kisaran 3500
rpm ±100 rpm. Alat ini diharapkan dapat menjadi solusi efisien dalam proses
pemisahan biji kopi secara lebih presisi dan otomatis.
Kata kunci: Kopi, Massa Jenis, Sistem Kendali, Load cell, Motor DC, Sentrifugasi,
Pulse Width Modulation, Rotary encoder
PENYELESAIAN SENGKETA HIBAH ATAS HARTA TANPA PERSETUJUAN AHLI WARIS DITINJAU MENURUT HUKUM ISLAM (STUDI PADA KELURAHAN DUSUN KEPAHIANG KABUPATEN KEPAHIANG)
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis keabsahan hibah atas
harta tanpa persetujuan dari ahli waris menurut Hukum Islam dan penyelesaian
sengketa hibah atas harta tanpa persetujuan ahli waris. Hibah yang terjadi tidak
sesuai dengan syarat dan rukun hibah sehingga merugikan pihak ahli waris dari
pemberi hibah. Penelitian ini menggunakan metode hukum empiris dengan
pendekatan kualitatif. Data primer diperoleh melalui wawancara langsung dengan
pihak terkait, sedangkan data sekunder dokumen-dokumen pendukung, regulasi
hukum Islam, serta literatur yang relevan. Data yang terkumpul dianalisis
menggunakan pemeriksaan data kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
ketidakabsahan hibah yang terjadi karena tidak memenuhi syarat hibah unsur
penghibah dan obyek yang dihibahkan, penghibah menghibahkan seluruh hartanya
yang menyebabkan penghibah dikatakan tidak cakap hukum. Penyelesaian
sengketa hibah dilakukan melalui jalur non-litigasi secara negosiasi, yang
menghasilkan kesepakatan berupa membayar harta peninggalan seharga
Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah) dan sepakat tidak melakukan penuntutan
melalui jalur hukum serta harta peninggalan milik penerima hibah.
Kata Kunci : Hibah, Tanpa Persetujuan Ahli Waris, Kepahiang, Penyelesaian
Sengketa
MAJALAH ILMIAH KONSERVASI (MILKON) PERBANYAKAN VEGETATIF AMORPHOPHALLUS TITANUM UNTUK MENINGKATKAN LITERASI KONSERVASI SISWA MAN 1 KOTA BENGKULU
Jenis penelitian ini adalah Research and Development (R&D) dengan
model ADDIE. Penelitian ini bertujuan untuk 1) mendeskripsikan hasil
komposisi ekoenzim terhadap pertumbuhan tunas pada umbi
Amorphophallus titanum, 2) mendeskripsikan tingkat kelayakan MILKON
Amorphophallus titanum dalam meningkatkan literasi konservasi siswa, 3)
mendeskripsikan hasil literasi konservasi siswa setelah menggunakan
MILKON Amorphophallus titanum, 4) mendeskripsikan hasul uji respon
siswa setelah menggunakan MILKON Amorphophallus titanum. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa ekeonzim yang dibuat memenuhi syarat
standar kementerian pertanian, dengan ciri-ciri berbau asam segar, warna
coklat bening, ada jamur pada permukaan cairan ekoenzim, selain itu
perlakuan menggunakan komposisi ekoenzim ini berhasil menumbuhkan
tunas baru pada permukaan umbi Amorphophallus titanum. Hasil uji
kelayakan Majalah Ilmiah Konservasi (MILKON) yang dikembangkan
sebesar 95,32% (sangat layak) artinya MILKON dapat menstimulus
literasi konservasi siswa pada domain pengetahuan, keterampilan, sikap,
dan perilaku. Terdapat peningkatan hasil literasi konservasi siswa pada
rata-rata hasil postests kelas eksperimen dengan skor N-Gain 0,75
(Tinggi), sedangkan kelas kontrol skor N-Gain 0,56 (sedang). Hasil uji
respon didapatkan rata-rata 75% (Baik) artinya MILKON yang
dikembangkan mudah dipahami oleh siswa.
Kata Kunci: Amorphophallus titanum, MILKON, Literasi Konservas
PROSEDUR PENAGIHAN PIUTANG PADA PELANGGAN PERUSAHAAN DAERAH AIR MINUM (PDAM) TIRTA MANNA KABUPATEN BENGKULU SELATAN
STUDI KOMPARASI KINERJA MODEL TRANSFER LEARNING DENSENET201, RESNET50, DAN VGG16 PADA CITRA SATELIT LANDSAT-8 UNTUK KLASIFIKASI HUTAN
Hutan tropis Indonesia, yang mencakup 62,97% dari total daratan, memiliki peran
vital dalam ekosistem global. Namun, deforestasi yang terus berlangsung, salah satunya
di Provinsi Bengkulu, memerlukan pemantauan yang akurat. Penelitian ini
membandingkan tiga model deep learning Transfer learning—DenseNet201, ResNet50,
dan VGG16 untuk mengklasifikasi hutan dan non-hutan menggunakan citra satelit
Landsat 8. Studi ini difokuskan pada Taman Hutan Buru Semidang Bukit Kabu di
Provinsi Bengkulu, yang merupakan hutan konservasi yang mengalami deforestasi. Hasil
penelitian menunjukkan DenseNet201 mencapai akurasi tertinggi 99,87%, diikuti oleh
ResNet50 dengan 98,03% dan VGG16 dengan 96,85%. Berdasarkan analisis perubahan
luas hutan di Taman Buru Semidang Bukit Kabu, DenseNet201 terbukti lebih efektif
dalam mendeteksi dan mengklasifikasikan perubahan luas hutan antara 2016 hingga
2020. Pada data asli, luas hutan yang terdeteksi berkisar antara 7102,26 ha hingga 7684,65
ha, sementara pada data yang ditingkatkan, luasnya berkisar antara 7365,42 ha hingga
7741,35 ha. Meskipun model lain memberikan hasil baik, DenseNet201 lebih unggul
dalam memonitor perubahan tutupan hutan secara keseluruhan.
Kata kunci: Klasifikasi, Hutan, Deep learning, Transfer learning, Landsat 8,
DenseNet201, ResNet50, VGG1