Jurnal Ilmiah Rekayasa Pertanian dan Biosistem
Not a member yet
213 research outputs found
Sort by
Bibliometric Analysis on Recent Advances and Development of Microcontroller Application in The Postharvest System
Postharvest is a vital stage in agricultural production which is prone to causing losses due to improper implementation. Using a microcontroller that allows automation and increased precision in the postharvest process will likely reduce costs and potential losses. This research conducted a bibliometric study on applying microcontrollers in postharvest systems in Scopus-indexed publications from 2003 to 2022. The aim was to reveal microcontroller developments, evaluate current research topics, and discuss future challenges facing microcontroller applications in postharvest systems. First, this paper presents a bibliometric review of the role of microcontrollers in postharvest. Second, co-citation, coupling, and cluster analysis methods were used to analyze collaboration networks, and VOSviewer was used to visualize these networks. Third, Biblioshiny was used to analyze thematic trends of microcontroller applications. Finally, the paper discusses the challenges of using microcontrollers and provides suggestions for overcoming them. The results show that institutions from China and Italy lead research production in this field, with globally popular studies focusing primarily on fruit, digital storage, moisture determination, and cost. In addition, the thematic evolution of keywords indicating response time, cost, and design reliability issues have become basic and emerging topics in microcontroller application research for postharvest systems in recent years.Postharvest is a vital stage in agricultural production which is prone to causing losses due to improper implementation. Using a microcontroller that allows automation and increased precision in the postharvest process will likely reduce costs and potential losses. This research conducted a bibliometric study on applying microcontrollers in postharvest systems in Scopus-indexed publications from 2003 to 2022. The aim was to reveal microcontroller developments, evaluate current research topics, and discuss future challenges facing microcontroller applications in postharvest systems. First, this paper presents a bibliometric review of the role of microcontrollers in postharvest. Second, co-citation, coupling, and cluster analysis methods were used to analyze collaboration networks, and VOSviewer was used to visualize these networks. Third, Biblioshiny was used to analyze thematic trends of microcontroller applications. Finally, the paper discusses the challenges of using microcontrollers and provides suggestions for overcoming them. The results show that institutions from China and Italy lead research production in this field, with globally popular studies focusing primarily on fruit, digital storage, moisture determination, and cost. In addition, the thematic evolution of keywords indicating response time, cost, and design reliability issues have become basic and emerging topics in microcontroller application research for postharvest systems in recent years
Potensi Pemanfaatan Kulit Jeruk Lemon Afkir (Citrus limon (L.) var. Eureka) sebagai Bahan Pembuatan Minyak Asiri
Unutilized (off-grade) lemon with slight damage have been utilized for lemon juice, even most of that just become waste. In fact, lemon by-product also have many essential compounds. This research aimed to determine the potential and optimal conditions of unutilized lemon peels using distillation process. The research used experimental methods with a factorial complete randomized design. This research used 3 factors including the conditions of material, distillation methods, and time of distillation. Essential oils parameters observed included oil yield, volatile compounds, and physico-chemical characteristics. Based on the results of research, unutilized lemon produced a concentration of limonene compounds of 63,8—67,7%. Optimal treatment was found in the fresh material, using steam and hydro distillation for 6 hours that produced an oil yield of 0.25%, a specific gravity of 0.856 g/ml, an acid value of 2.749 mg KOH/g, and an odour close to fresh lemon peel.Jeruk lemon afkir dengan kerusakan ringan sejauh ini hanya dimanfaatkan untuk sari buah lemon, bahkan sebagian besar buahnya dibiarkan menjadi limbah. Padahal pada limbah jeruk lemon sekalipun masih terdapat kandungan esensial yang sangat berlimpah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi dan kondisi optimal pada proses penyulingan kulit jeruk lemon afkir. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimen dengan rancangan acak lengkap faktorial. Penelitian ini menggunakan 3 faktor, yaitu kondisi bahan, metode penyulingan, dan waktu penyulingan. Parameter minyak asiri yang diamati di antaranya adalah rendemen minyak asiri, komponen senyawa volatil, dan karakteristik fisiko-kimia. Berdasarkan hasil penelitian, kulit jeruk lemon afkir menghasilkan rerata kandungan limonene sebesar 63,8—67,7%. Perlakuan optimal terdapat pada kondisi bahan segar, menggunakan metode penyulingan uap dan air selama 6 jam, dengan rerata rendemen yang dihasilkan sebesar 0,25%, bobot jenis 0,856 g/ml, bilangan asam 2,749 mg KOH/g, serta menghasilkan karakteristik aroma paling mendekati kulit lemon segar
PENGENDALIAN SUHU RUANG PADA MESIN PENGERING VERTIKAL TIPE RAK (VERTICAL TRAY DRYER) DALAM PENGERINGAN BIJI JAGUNG (Zea mays L.)
Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kinerja panas pada pengering rak untuk mendukung proses penyediaan benih jagung. Penelitian bekerja sama dengan petani Kecamatan Wuluhan yang bermitra dengan perusahaan penyedia benih PT. East West Seed Indonesia. Pengering rak yang sudah dibuat terdiri atas sumber pemanas, blower, rak, dinding dalam dan luar, rangka, lubang pengeluaran udara, thermostat dan alat ukur temperatur secara digital; panas tersirkulasi dalam rak secara zig-zag. Panas dalam ruang pengering diukurPenelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kinerja panas pada pengering rak untuk mendukung proses penyediaan benih jagung. Penelitian bekerja sama dengan petani Kecamatan Wuluhan yang bermitra dengan perusahaan penyedia benih PT. East West Seed Indonesia. Pengering rak yang sudah dibuat terdiri atas sumber pemanas, blower, rak, dinding dalam dan luar, rangka, lubang pengeluaran udara, thermostat dan alat ukur temperatur secara digital; panas tersirkulasi dalam rak secara zig-zag. Panas dalam ruang pengering diuku
MODEL PENGELOLAAN LAHAN KRITIS PADA DAERAH ALIRAN SUNGAI KRUENG PEUSANGAN MENGGUNAKAN SISTEM DINAMIK
Lahan kritis menyebabkan menurunnya kualitas dan produktivitas dari lahan sehingga tidak dapat dimanfaatkan sebagai media produksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui distribusi tingkat lahan kritis yang terdapat di Daerah Aliran Sungai (DAS) Krueng Peusangan dan mendapatkan model pengelolaan lahan kritis terbaik berdasarkan waktu pada DAS Krueng Peusangan. Penelitian ini dimulai dengan menentukan sebaran lahan kritis di DAS Krueng Peusangan dengan menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG). Setelah didapatkan distribusi lahan kritis di DAS Krueng Peusangan, lalu dibuat model pengelolaan lahan kritis dengan dua skenario yaitu skenario berdasarkan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) dan skenario berdasarkan land use protection. Kemudian dibandingkan scenario mana yang terbaik untuk mengelola lahan kritis di DAS Krueng Peusangan. Hasil penelitian didapatkan bahwa pada DAS Krueng Peusangan, lahan tidak kritis sebesar 15%, lahan potensial kritis sebesar 10%, lahan agak kritis sebesar 53%, lahan kritis sebesar 9% dan lahan sangat kritis sebesar 13%. Berdasarkan identifikasi lahan kritis di DAS Krueng Peusangan, total luas lahan kritisnya adalah 191.760,02 Ha. Hasil simulasi dengan skenario RTRW yang dijalankan dalam waktu 20 tahun hingga tahun 2042 diprediksi terjadi pengurangan luas lahan kritis yaitu menjadi 174.178,52 Ha. Sedangkan hasil simulasi dengan skenario land use protection diprediksi terjadi pengurangan luas lahan kritis yaitu menjadi 164.914,83 Ha. model pengelolaan lahan kritis yang terbaik berdasarkan waktu pada DAS Krueng Peusangan yaitu dengan berdasarkan skenario land use protection.Lahan kritis menyebabkan menurunnya kualitas dan produktivitas dari lahan sehingga tidak dapat dimanfaatkan sebagai media produksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui distribusi tingkat lahan kritis yang terdapat di Daerah Aliran Sungai (DAS) Krueng Peusangan dan mendapatkan model pengelolaan lahan kritis terbaik berdasarkan waktu pada DAS Krueng Peusangan. Penelitian ini dimulai dengan menentukan sebaran lahan kritis di DAS Krueng Peusangan dengan menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG). Setelah didapatkan distribusi lahan kritis di DAS Krueng Peusangan, lalu dibuat model pengelolaan lahan kritis dengan dua skenario yaitu skenario berdasarkan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) dan skenario berdasarkan land use protection. Kemudian dibandingkan scenario mana yang terbaik untuk mengelola lahan kritis di DAS Krueng Peusangan. Hasil penelitian didapatkan bahwa pada DAS Krueng Peusangan, lahan tidak kritis sebesar 15%, lahan potensial kritis sebesar 10%, lahan agak kritis sebesar 53%, lahan kritis sebesar 9% dan lahan sangat kritis sebesar 13%. Berdasarkan identifikasi lahan kritis di DAS Krueng Peusangan, total luas lahan kritisnya adalah 191.760,02 Ha. Hasil simulasi dengan skenario RTRW yang dijalankan dalam waktu 20 tahun hingga tahun 2042 diprediksi terjadi pengurangan luas lahan kritis yaitu menjadi 174.178,52 Ha. Sedangkan hasil simulasi dengan skenario land use protection diprediksi terjadi pengurangan luas lahan kritis yaitu menjadi 164.914,83 Ha. model pengelolaan lahan kritis yang terbaik berdasarkan waktu pada DAS Krueng Peusangan yaitu dengan berdasarkan skenario land use protection.
PENGARUH SUHU PENYIMPANAN DAGING BUAH KELAPA (Cocos nucifera L.) TERHADAP KARAKTERISTIK KIMIA SANTAN KELAPA
Tanaman kelapa (Cocos nucifera) merupakan salah satu tanaman agroindustri yang sangat berpotensial di Indonesia karena kandungan nutrisinya. Masyarakat Indonesia banyak yang memanfaatkan buah dari tanaman kelapa salah satunya sebagai bahan baku pembuatan santan. Santan didapat dari ekstrak daging buah kelapa tua yang telah diparut, baik dengan penambahan atau tanpa air, cairan santan berwarna putih ini merupakan emulsi minyak dan air. Selama produksi, santan perlu mengalami pretreatment homogen geser berkecepatan tinggi. Umumnya, jenis perlakuan awal ini dapat meningkatkan stabilitas emulsi pada santan. Hal tersebut perlu dilakukan karena sistem emulsi santan sangat mudah tidak stabil setelah pencairan. Suhu pretreatment pada daging buah kelapa menjadi faktor utama yang memberikan pengaruh terhadap kualitas mutu santan kelapa. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis perubahan kualitas mutu santan kelapa setelah dilakukan pretreatment penyimpanan daging buah kelapa sebelum diparut dan diperas menjadi santan. Penelitian dilaksanakan dengan tahapan meliputi persiapan alat dan bahan, pembuatan santan kelapa yang dimulai dengan pembersihan kelapa, kemudian pemberian pretreatment daging buah kelapa dengan 3 perlakuan penyimpanan. Karakteristik kimia santan kelapa terbaik diperoleh dengan pretreatment penyimpanan pada suhu (-16 °C ± 2 °C) dengan nilai Kadar Protein (3,263%), Kadar Lemak (55,87%), Asam Lemak Bebas (0,15%), dan Stabilitas Emulsi (88,38%).
Tanaman kelapa (Cocos nucifera) merupakan salah satu tanaman agroindustri yang sangat berpotensial di Indonesia karena kandungan nutrisinya. Masyarakat Indonesia banyak yang memanfaatkan buah dari tanaman kelapa salah satunya sebagai bahan baku pembuatan santan. Santan didapat dari ekstrak daging buah kelapa tua yang telah diparut, baik dengan penambahan atau tanpa air, cairan santan berwarna putih ini merupakan emulsi minyak dan air. Selama produksi, santan perlu mengalami pretreatment homogen geser berkecepatan tinggi. Umumnya, jenis perlakuan awal ini dapat meningkatkan stabilitas emulsi pada santan. Hal tersebut perlu dilakukan karena sistem emulsi santan sangat mudah tidak stabil setelah pencairan. Suhu pretreatment pada daging buah kelapa menjadi faktor utama yang memberikan pengaruh terhadap kualitas mutu santan kelapa. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis perubahan kualitas mutu santan kelapa setelah dilakukan pretreatment penyimpanan daging buah kelapa sebelum diparut dan diperas menjadi santan. Penelitian dilaksanakan dengan tahapan meliputi persiapan alat dan bahan, pembuatan santan kelapa yang dimulai dengan pembersihan kelapa, kemudian pemberian pretreatment daging buah kelapa dengan 3 perlakuan penyimpanan. Karakteristik kimia santan kelapa terbaik diperoleh dengan pretreatment penyimpanan pada suhu (-16 °C ± 2 °C) dengan nilai Kadar Protein (3,263%), Kadar Lemak (55,87%), Asam Lemak Bebas (0,15%), dan Stabilitas Emulsi (88,38%).
KAJIAN SISTEM HIDROPONIK MENGGUNAKAN ULTRASONIC ATOMIZER UNTUK PEMBIBITAN TSS (TRUE SHALLOT SEED) BAWANG MERAH
TSS (True Shallot Seed) merupakan benih botani alternatif selain umbi yang sangat potensial untuk digunakan dalam proses budidaya bawang merah. Proses pembibitan di petani umumnya menggunakan metode tebar langsung pada lahan dengan tingkat persentase tumbuh yang rendah. Hal tersebut menjadi permasalahan dalam penerapan TSS di lapangan. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan studi pembibitan benih TSS menggunakan metode hidroponik, khususnya sistem aeroponik dengan modul ultrasonic atomizer sebagai pengabutan larutan nutrisi. Percobaan menggunakan 3 jenis varietas TSS yaitu Lokananta, Tuktuk dan Sanren. Proses penyemaian bibit dilakukan selama 7 minggu pada ruangan dengan kisaran suhu 23,5-29 oC serta kelembapan relatif sebesar 54,1-75,7 %. Penyinaran fotosintesis menggunakan cahaya LED White dengan nilai photosynthetic photon flux density (PPFD) rata-rata sebesar144 mmol/m2/s. Diperolah hasil performa performa pengabutan ultrasonic atomizer sebesar 89,71 % pada konsentrasi larutan nutrisi 135-1.048 ppm. Sistem aeropnik mampu menghasilkan bibit bawang merah TSS dengan performa keberhasilan pembibitan rata-rata sebesar 89,29 %. Varietas Lokananta, Tuktuk dan Sanren secara berurutan memiliki tinggi tanaman rata-rata sebesar 32 ± 3,61 cm, 34,47 ± 4,52 cm dan 30,2 ± 3,53 cm dengan jumlah daun rata-rata sebanyak 4,07 helai, 4,33 helai dan 4,01 helai. Keragaan tanaman tersebut sesuai dengan kriteria bibit TSS bawang merah. Penggunaan TSS dapat menjadi alternatif penyediaan bibit berkualitas untuk petani bawang merah di Indonesia.
TSS (True Shallot Seed) merupakan benih botani alternatif selain umbi yang sangat potensial untuk digunakan dalam proses budidaya bawang merah. Proses pembibitan di petani umumnya menggunakan metode tebar langsung pada lahan dengan tingkat persentase tumbuh yang rendah. Hal tersebut menjadi permasalahan dalam penerapan TSS di lapangan. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan studi pembibitan benih TSS menggunakan metode hidroponik, khususnya sistem aeroponik dengan modul ultrasonic atomizer sebagai pengabutan larutan nutrisi. Percobaan menggunakan 3 jenis varietas TSS yaitu Lokananta, Tuktuk dan Sanren. Proses penyemaian bibit dilakukan selama 7 minggu pada ruangan dengan kisaran suhu 23,5-29 oC serta kelembapan relatif sebesar 54,1-75,7 %. Penyinaran fotosintesis menggunakan cahaya LED White dengan nilai photosynthetic photon flux density (PPFD) rata-rata sebesar144 mmol/m2/s. Diperolah hasil performa performa pengabutan ultrasonic atomizer sebesar 89,71 % pada konsentrasi larutan nutrisi 135-1.048 ppm. Sistem aeropnik mampu menghasilkan bibit bawang merah TSS dengan performa keberhasilan pembibitan rata-rata sebesar 89,29 %. Varietas Lokananta, Tuktuk dan Sanren secara berurutan memiliki tinggi tanaman rata-rata sebesar 32 ± 3,61 cm, 34,47 ± 4,52 cm dan 30,2 ± 3,53 cm dengan jumlah daun rata-rata sebanyak 4,07 helai, 4,33 helai dan 4,01 helai. Keragaan tanaman tersebut sesuai dengan kriteria bibit TSS bawang merah. Penggunaan TSS dapat menjadi alternatif penyediaan bibit berkualitas untuk petani bawang merah di Indonesia.
Analisa Pengaruh Posisi Biji pada Malai Terhadap Gaya Perontokan Beberapa Varietas Padi
Quantity and quality of rice grain can be developed through more efficient and accurate threshing methods based on the measurement of threshing force (TF). This study aimed to investigate the influence of rice varieties and grain position on the panicle on the threshing force (TF) results. Rice grains from several harvested varieties were dried to a moisture content level of 12% and prepared for threshing force (TF) testing. The research design used was a 2-factor completely randomized design with 3 replications. The first factor was rice varieties consisting of 4 levels: Sintanur, Siliwangi, Pajajaran, and Cakrabuana. The second factor was grain position on the panicle, consisting of 3 levels: upper, middle, and basal. Threshing force (TF) values were tested for 12 treatment combinations. The obtained data were analyzed using analysis of variance (ANOVA) followed by Duncan's multiple range test (DMRT) at a significance level of 5%. The results indicated that rice varieties had a highly significant effect on the threshing force (TF). On the other hand, grain position on the panicle had a non-significant effect on the threshing force (TF). The rice variety that produced the highest average threshing force (TF) value was Cakrabuana with 0.51 N, followed by Siliwangi with 0.50 N, Sintanur with 0.43 N, and Pajajaran with 0.35 N. The upper position of the grains on the rice panicle yielded the lowest average threshing force (TF) value of 0.41 N, compared to the middle position with 0.46 N and the basal position with 0.47 N.Kuantitas dan kualitas biji padi yang baik dapat dikembangkan dengan metode perontokan yang lebih efisien dan akurat berdasarkan pengukuran threshing force (TF). Penelitian ini bertujuan untuk menginvestigasi pengaruh varietas padi dan posisi biji pada batang malai padi terhadap hasil threshing force (TF). Biji padi yang masih melekat pada malai dari beberapa varietas yang telah dipanen lalu dikeringkan hingga tingkat kadar menjadi sebesar 12% dipersiapkan untuk dilakukan pengujian threshing force (TF). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap 2 Faktorial dengan 3 pengulangan. Faktor pertama adalah varietas padi yang terdiri atas 4 taraf yaitu Sintanur, Siliwangi, Pajajaran dan Cakrabuana. Faktor kedua adalah posisi biji yang terdiri atas 3 taraf yaitu upper, middle dan basal. Pengujian nilai threshing force (TF) dilakukan pada 12 macam kombinasi perlakuan. Data yang diperoleh dianalisa menggunakan analysis of variance (ANOVA) lalu dilanjutkan dengan uji duncan’s multiple range test (DMRT) pad tingkat signifikansi 5%. Hasil penelitian menyatakan bahwa varietas padi memberikan pengaruh hasil yang sangat signifikan terhadap nilai threshing force (TF). Sedangkan posisi biji memberikan pengaruh hasil yang tidak signifikan terhadap nilai Threshing force (TF). Varietas padi yang menghasilkan nilai rata-rata threshing force (TF) paling tinggi adalah padi varietas Cakrabuana yaitu sebesar 0.51 N, disusul dengan varietas Siliwangi sebesar 0,50 N dan varietas padi Sintanur sebesar 0.43 N, sedangkan varietas Pajajaran sebesar 0.35 N. Posisi upper dari biji di batang malai padi menghasilkan rata-rata nilai threshing force (TF) paling rendah yaitu sebesar 0.41 N dibandingkan dengan posisi middle sebesar 0.46 N dan posisi basal sebesar 0.47 N
Analisis Pindah Panas Konduksi dan Konveksi pada Heat Exchanger Evaporator Efek Ganda pada Pengolahan Nira Tebu
Heat transfer occurs due to differences in temperature contained in an object. In this study only discussed about heat transfer by conduction, and by convection (inside and outside the tube). The purpose of this study was to determine the value of conduction and convection heat transfer in the heat exchanger of the sugarcane juice evaporation process using a dual effect evaporator and its effect on the rate of evaporation. The method used through observation and experimentation on the heat exchanger contained in the second tube evaporator. The materials used were 50 liters of sugar cane juice in the 1 effect tube and 26 liters of the effect tube 2. Experiments and data collection in the form of temperature, pressure, and volume were carried out 3 times. Each repeat process was carried out at 5.2 hours under vacuum. The temperature and pressure data were recorded every 10 minutes. In addition, the plate thickness, plate type, material contact surface area and characteristics of the processed material were determined. Furthermore, the data is substituted in several heat transfer equations to get the value. Based on the results of the study, the overall heat transfer coefficient value of the convection heat transfer is 35.98 w / m2K. Meanwhile, the total heat transfer from convection and conduction to the heat exchanger is 4656.6 watts. This heat transfer value can cause the evaporation rate of sugarcane juice to effect 2 of 1.03 liters / hour.Pindah panas terjadi karena perbedaan suhu yang terdapat pada suatu benda. Pada penelitian ini hanya dibahas mengenai pindah panas secara konduksi, dan secara konveksi (dalam dan luar tube). Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui nilai pindah panas konduksi dan konveksi pada heat exchanger dari proses evaporasi nira tebu menggunakan evaporator efek ganda dan pengaruhnya terhadap laju penguapan. Metode yang digunakan melalui pengamatan dan eksperimen pada heat exchanger yang terdapat pada evaporator tabung kedua. Bahan yang digunakan berupa nira tebu sebanyak 50 liter pada tabung efek 1 dan 26 liter pada tabung efek 2. Eksperimen dan pengambilan data berupa suhu, tekanan, dan volume dilakukan sebanyak 3 kali ulangan. Setiap proses ulangan dilakukan pada waktu 5,2 jam dalam kondisi vakum. Pencatatan data suhu dan tekanan dilakukan setiap 10 menit. Selain itu dilakukan penentuan ketebalan plat, jenis plat, luas permukaan kontak bahan, dan karakteristik bahan yang diproses. Selanjutnya data tersebut disubtitusikan dalam beberapa persamaan pindah panas untuk mendapatkan besaran nilainya. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan nilai overall heat transfer coeficient dari pindah panas konveksi sebesar 35,98 w/m2K. Sedangkan pindah panas total dari konveksi dan konduksi pada heat exchanger adalah sebesar 4656,6 watt. Nilai pindah panas tersebut dapat menyebabkan laju evaporasi nira tebu pada efek 2 sebesar 1,03 liter/jam
Pemanasan Ohmik Roti Bebas Gluten Berbasis Tepung Kedelai Hitam-Beras: Kajian Suhu Dan Daya
Ohmic heating is a heating process that works based on passing electric current through resistive materials. This heating is known to have advantages such as producing uniform heat and a high heating rate. The purpose of this study was to determine the changes in temperature and power used in ohmic heating of gluten-free bread based on black soybean flour substituted with rice flour. The bread batter formulation in this research was based on black soybean flour with rice flour substitution (50, 40, 30, 20, 10 and 0%). The parameters of temperature and electrical power were obtained from the data logger. The data is calculated in formulas and displayed in curves as a function of time during the process. The results showed that the addition of rice flour or the higher the ratio of rice flour in the dough showed a rapid rate of temperature increase at its maximum value, as well as the initial electrical power value used during heating. Based on the calculation of the time needed to reach the optimal temperature of about 97 oC in each treatment, it was found that the treatment of 50% black soy flour + 50% rice flour (8 minutes 10 seconds), the treatment of 60% black soy flour + 40% rice flour (8 minutes 30 seconds), the treatment of 70% black soy flour + 30% rice flour (8 minutes 60 seconds), the treatment of 80% black soy flour + 20% rice flour (9 minutes 40 seconds), the treatment of 90% black soy flour + 10% rice flour (11 minutes 30 seconds), and the treatment of 100% black soy flour + 0% rice flour (12 minutes).Pemanasan ohmic merupakan proses pemanasan yang bekerja berdasarkan melewatkan arus listrik pada bahan yang bersifat resistif. Pemanasan ini diketahui memiliki kelebihan seperti menghasilkan panas seragam dan laju pemanasan yang tinggi. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui perubahan suhu dan daya yang digunakan dalam pemanasan ohmik roti bebas gluten berbasis tepung kedelai hitam yang disubtitusi tepung beras. Formulasi adonan roti perlakuan pada penelitian ini berbasis tepung kedelai hitam dengan subtitusi tepung beras (50, 40, 30, 20, 10 dan 0%). Parameter suhu dan daya arus diperoleh dari hasil data logger. Data dikalkulasikan dalam rumus dan ditampilkan dalam kurva sebagai fungsi dari waktu selama proses. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan tepung beras atau semakin tinggi rasio tepung beras pada adonan menunjukkan laju peningkatan suhu yang cepat pada nilai maksimumnya, begitu juga dengan nilai daya listrik awal yang digunakan selama pemanasan. Berdasarkan perhitungan waktu yang dibutuhkan untuk mencapai suhu optimal sekitar 97 oC pada setiap perlakuan, diperoleh bahwa perlakuan 50% tepung kedelai hitam + 50% tepung beras (8 menit 10 detik), perlakuan 60% tepung kedelai hitam + 40% tepung beras (8 menit 30 detik), perlakuan 70% tepung kedelai hitam + 30% tepung beras (8 menit 60 detik), perlakuan 80% tepung kedelai hitam + 20% tepung beras (9 menit 40 detik), perlakuan 90% tepung kedelai hitam + 10% tepung beras (11 menit 30 detik), dan perlakuan 100% tepung kedelai hitam + 0% tepung beras (12 menit)
Initial Characterization of Activated Charcoal from the Indigenous Ziziphus mauritiana Wood from Dryland of Sumbawa
Ziziphus mauritiana is widely found in Sumbawa arid and semi-arid area. It is a drought tolerant plant which grows in areas with extreme conditions. While information of the utilisation of Bidara seeds as activated carbon is available, there are limited resources that use Bidara woods. Therefore, this study aims to characterize the activated charcoal derived from Z. mauritiana wood which was activated using 25%, 30% and 35% of H2SO4 and NaOH. The moisture content, ash content, volatile matter, fixed carbon, and iodine absorption capacity were investigated and compared to the Indonesian National Standard (SNI. 06-3730-1995). The result showed that NaOH activated charcoal obtained higher quality compared to the H2SO4 activated charcoal. The best activated charcoal was obtained from 35% of NaOH which has 1.19% moisture content, 13.21% ash content, 1.42% volatile matter, 84.73% fixed carbon, and 1892.40 mg/g iodine number. This study concludes that the characteristics of Z. mauritiana activated charcoal (except the ash content) comply with Indonesian National Standard and potentially can be developed as an adsorbent.Ziziphus mauritiana is widely found in Sumbawa arid and semi-arid area. It is a drought tolerant plant which grows in areas with extreme conditions. While information of the utilisation of Bidara seeds as activated carbon is available, there are limited resources that use Bidara woods. Therefore, this study aims to characterize the activated charcoal derived from Z. mauritiana wood which was activated using 25%, 30% and 35% of H2SO4 and NaOH. The moisture content, ash content, volatile matter, fixed carbon, and iodine absorption capacity were investigated and compared to the Indonesian National Standard (SNI. 06-3730-1995). The result showed that NaOH activated charcoal obtained higher quality compared to the H2SO4 activated charcoal. The best activated charcoal was obtained from 35% of NaOH which has 1.19% moisture content, 13.21% ash content, 1.42% volatile matter, 84.73% fixed carbon, and 1892.40 mg/g iodine number. This study concludes that the characteristics of Z. mauritiana activated charcoal (except the ash content) comply with Indonesian National Standard and potentially can be developed as an adsorbent