JST (Jurnal Sains Terapan)
Not a member yet
97 research outputs found
Sort by
Menentukan Ketebalan Lapisan Lapuk Berdasarkan Data Geolistrik Resistivitas
In building construction planning, roads, or other infrastructures, Soil capacity for placing foundation is an substantial part that must be considered. When the land as construction supporting experiences fracture or shift, then it can generate building failure. The potential for fracturing and soil displacement can be identified from the thickness of weathered layer. Geoelectric resistivity methods of dipole-dipole array were applied in this study to determine the thickness of the weathered layer. The study was conducted at three different measurement locations oriented to east-west. The result of data processing usingRes2dinv software with an inversion technique is 2D resistivity section that represents a conceptual subsurface geological model. From these results, three types of rock layers are identified. The first layer is a weathered layer in the form of topsoil, clay, and sand with resistivity value of 8-276 Ωm and the thickness varied from 5 m to 17 m, the second layer is clay sand with resistivity value of 276-2000Ωm identified in about12m to infinite depth, and the resistivity values up to 2000 Ωm the third layer identified at location SS_01 is considered to be coal.Keywords: resistivity, geoelectric, dipole-dipole, weathered layer ABSTRAKDalam hal perencanaan pembangunan gedung, jalan, maupun infrastruktur lainnya, kestabilan tanah menjadi salah satu bagian penting yang harus diperhatikan. Jika tanah sebagai pendukung bangunan mengalami deformasi berupa rekahan, penurunan atau pergeseran, maka hal tersebut dapat memicu kerusakan konstruksi bangunan. Potensi rekahan,penurunan dan pergeseran tanah dapat diketahui dari ketebalan lapisan lapuk. Metode Geolistrik resistivitas konfigurasi dipol-dipol diaplikasikan dalam penelitian ini untuk menentukan ketebalan lapisan lapuk. Penelitian dilakukan di tiga lokasi pengukuran berbeda dan beroentasi timur-barat. Hasil pengolahan data menggunakan software Res2dinvdengan teknik inversi berupa penampang resistivitas 2D yang merepresentasikan model geologi konseptual bawah permukaan. Dari Hasil tersebut teridentifikasi tiga jenis lapisan batuan. Lapisan pertama merupakan lapisan lapuk yang terdiri dari top soil,lempung dan pasir halusmemiliki nilai resistivitas 8-276 Ωm dan ketebalan yang bervariasi dari 5 m hingga 17 m. Lapisan kedua adalah pasir lempung memiliki nilai resistivitas 276-2000 Ωm danteridentifikasi pada kedalaman 12 m sampai tak hingga, dan lapisan ketiga dengan nilai resistivitas lebih dari 2000 Ωm yangteridentifikasi pada lokasi pengukuran SS_01 diduga sebagai batu bara. Kata Kunci: resistivitas, geolistrik, dipole-dipole, lapisan lapu
Determinan Perilaku Keselamatan Kerja: Peran Faktor Personal Penjamah Makanan di Warung Lesehan Malioboro
Safety behavior has become a vital factor in reducing and even preventing work accidents. Although many studies have examined safety behavior and the factors that influence it, including personal and situational factors, the study is limited to formal industries with high risk. Besides, empirically individual elements have been shown to have a more significant influence on safety behavior. Therefore, this study aims to describe the safety behavior and the personal factors that influence it, which include the safety knowledge, safety attitudes, and safety motivation of food handlers at Warung Lesehan Malioboro. This study involved randomly 110 food handlers at Warung Lesehan Malioboro. Collecting data in this study used a questionnaire technique to measure the safety knowledge, safety attitudes, safety motivations, and safety behaviors of food handlers. Data analysis used descriptive statistics, t-test, F-test, and coefficient of determination (adjusted R2). These study findings showed that the description of the factors of safety knowledge, safety attitudes, safety motivations, and safety behaviors of food handlers with good enough quality. Also, partially, the safety knowledge, safety attitudes, and safety motivation were proven to influence the work safety behavior of food handlers. Simultaneously, the factors of safety knowledge, safety attitudes, and safety motivation also affect the work safety behavior of food handlers. The contribution of these three determinant factors had an influence of 66% on the work safety behavior of food handlers at Warung Lesehan Malioboro.Keywords : safety motivation, safety knowledge, safety behavior, sefety attitude ABSTRAK Perilaku keselamatan telah menjadi faktor vital untuk mengurangi dan bahkan mencegah terjadinya kecelakaan kerja. Meskipun telah banyak studi yang mengkaji perilaku keselamatan dan faktor-faktor yang mempengaruhinya yang meliputi faktor personal dan situasional, namun studi tersebut terbatas pada industri formal dengan resiko yang tinggi. Selain itu, secara empiris faktor personal terbukti memiliki pengaruh yang lebih besar pada pembentukan perilaku keselamatan. Oleh karena itu, studi ini bertujuan untuk mengetahui gambaran perilaku keselamatan dan faktor personal yang mempengaruhinya yang meliputi pengetahuan, sikap, dan motivasi keselamatan para penjamah makanan di Warung Lesehan Malioboro. Studi ini melibatkan secara acak 110 penjamah makanan di Warung Lesehan Malioboro. Pengumpulan data dalam studi ini menggunakan teknik keusioner untuk mengukur pengetahuan, sikap, motivasi, dan perilaku keselamatan penjamah makanan. Analisis data menggunakan statistik deskriptif, uji t, uji F, dan koefisien determinsi (Adjusted R2). Hasil studi menunjukkan bahwa gambaran faktor pengetahuan, sikap, motivasi, dan perilaku keselamatan para penjamah makanan berketgori cukup baik. Selain itu, secara parsial faktor pengetahuan, sikap, dan motivasi keselamatan terbukti mempengaruhi perilaku keselamatan kerja para penjamah makanan. Secara simultan, faktor pengetahuan, sikap, dan motivasi juga mempengaruhi perilaku keselamatan kerja para penjamah makanan. Kontribusi ketiga faktor determinan yang terdiri dari pengetahuan, sikap, dan motivasi memberikan pengaruh sebesar 66% terhadap perilaku keselamatan kerja para penjamah makanan di Warung Lesehan Malioboro.Kata kunci : motivasi keselamatan, pengetahuan keselamatan, perilaku keselamatan, sikap keselamata
Hidrolisis Limbah Kulit Nanas dengan Asam Asetat Menggunakan Metode Ultrasound-Assisted Acid Hydrolysis (UAAH) untuk Produksi Oligosakarida
Pineapple peel waste has a lot of fiber and carbohydrate content so that it has the potential to become raw material for making oligosaccharides. Oligosaccharide production can be done through hydrolysis with acidic compounds. This research aims to determine the effect of ultrasonic waves application in acid hydrolysis to pineapple peel waste. Hydrolysis was carried out with 0.5 M acetic acid with variations in volume of 10, 15, 20, 25, and 30 mL as well as variations in the time of use of ultrasonic waves for 5, 10, 15, 20, and 25 minutes. The results of hydrolysis showed varying Rf in the analysis using thin layer chromatography (TLC).Based on Rf, oligosaccharides have been produced (Rf ≤ 0.64), including the smallest solvent volume (10 mL) and the shortest duration of ultrasonic wave application (5 minutes).Keywords : Pineapple peel waste, ultrasound-assisted acid hydrolysis, oligosaccharides, prebiotic ABSTRAKLimbah kulit nanas memiliki banyak kandungan serat dan karbohidrat sehingga berpotensi menjadi bahan dasar pembuatan oligosakarida. Preparasi oligosakarida dapat dilakukan melalui hidrolisis dengan senyawa asam. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari efek penerapan gelombang ultrasonik dalam hidrolisis asam terhadap limbah kulit nanas. Hidrolisis dilakukan dengan asam asetat 0,5 M dengan variasi volume 10, 15, 20, 25, dan 30 mL serta variasi waktu penggunaan gelombang ultrasonik selama 5, 10, 15, 20, dan 25 menit. Hasil hidrolisis menunjukkan Rf yang beragam pada analisis menggunakan kromatografi lapis tipis (KLT). Berdasarkan Rf, oligosakarida telah dihasilkan, termasuk dengan volume pelarut terkecil dan durasi aplikasi gelombang ultrasonik yang paling singkat.Kata kunci : Limbah kulit nanas, ultrasound-assisted acid hydrolysis, oligosakarida, prebioti
Intensifikasi Proses pada Penyulingan Minyak Serai Wangi dengan Bantuan Gelombang Ultrasonik (Ultrasonic following Steam-Hydro Distillation)
The Steam-Hydro Distillation (SHD) is a commonly used method of the citronella oil processing industry. However, the yield and quality of the oil produced tends to be inconsistent, and energy consumption is quite high. The process intensification in the distillation of citronella oil using ultrasonic waves is expected to be able to increase the yield and quality of the oil produced and reduce energy requirements. This research was conducted to examine the effect of sonication operating conditions on the Ultrasonic following Steam-Hydro Distillation (US-SHD) on the yield and quality of citronella oil. In addition, a comparative analysis of the yield and quality (density) of oil between the US-SHD and the SHD was also carried out in this study. Extraction of citronella oil with the US-SHD was sonicated for 5, 10, 15 and 20 minutes and used a power of 180 and 360 watts and continued with distillation for 60 minutes which also applies to the SHD. In the US-SHD, the highest yield of citronella oil was obtained during sonication for 20 minutes with 360 watts of power, which is 1,13%. Whereas in the SHD, the yield obtained is only 0,85%. The results of this study also showed that with a slight increase in energy consumption due to ultrasonic wave induction (2,15%), it was able to produce a substantial increase in citronella oil yield (31,83%) but did not significantly influence its density.Keywords : citronella oil, process intensification,ultrasonic following steam-hydro distillation, sonicationABSTRAKPada industri pengolahan minyak serai wangi, metode penyulingan kukus (Steam-Hydro Distillation atau SHD) merupakan metode yang umum digunakan. Namun, kualitas dan kuantitas minyak yang dihasilkan cenderung tidak konsisten, serta tingkat konsumsi energi yang cukup besar. Intensifikasi proses pada penyulingan minyak serai wangi dengan menggunakan gelombang ultrasonik diharapkan mampu meningkatkan kuantitas maupun kualitas minyak yang dihasilkan serta mengurangi kebutuhan energi.Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji pengaruh kondisi operasi sonikasi pada metode Ultrasonic following Steam-HydroDistillation (US-SHD) terhadap rendemen dan kualitas minyak serai wangi. Penyulingan minyak serai wangi dengan metode US-SHD dilakukan melalui tahap sonikasi selama 5, 10, 15 dan 20 menit dan menggunakan daya sebesar 180 dan 360 watt serta dilanjutkan tahap penyulingan selama 60 menit. Pada penyulingan metode US-SHD, rendemen minyak serai wangi tertinggi diperoleh pada saat sonikasi selama 20 menit dengan daya 360 watt, yakni sebesar 1,13%. Sedangkan pada metode SHD, rendemen yang diperoleh hanya mencapai 0,85%. Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa dengan sedikit peningkatan konsumsi energi dikarenakan induksi gelombang ultrasonik (13,92%), mampu menghasilkan peningkatan rendemen minyak serai wangi yang substansial (31,83%) namun tidak berpengaruh signifikan terhadap densitasnya. Kata kunci : minyak serai wangi, intensifikasi proses, ultrasonic following steam-hydro distillation, sonikasi
Optimasi Produksi Sumur CBM dengan Radial Jet Drilling (RJD)
To produce gas methane from the coal bed methane (CBM) field requires the right completion system that considers the reservoir properties which are encountered. One of technologies that is recommended to produce gas methane in the CBM field is Radial Jet Drilling System (RJD). Two important aspects which are considered to test the feasibility of RJD in the CBM field are the problems that usually show up while drilling and producing. The other aspects are the principle of RJD that considers several special tools like radial jetting and length of radial and the problems that usually present during RJD’s application in conventional field like water blocking, hole positioning and hole cleaning. To see the effectiveness of RJD, a comparison with other completion systems (vertical well) is done through simulation step by using WS field data, precisely at BP formation. CBM field simulation that is produced with vertical well system is sensed by adding wells. Meanwhile the CBM field that is produced by RJD completion is sensed by the number of radial phases and the length of each phase.The results show that RJD can be applied in the CBM well with certain parameters then the RJD effectiveness can be achieved with the minimum number of three phases, where the distance of each phase is 90 degrees and length of each radial phase is 300 until 500 ft.Key words: Completion, CBM, RJD, radial jetting, water blocking, hole cleaning, hole positioning, simulation, WS fieldABSTRAK Untuk memperoleh produksi gas metan pada lapangan CBM maka dibutuhkan sistem komplesi yang tepat dengan tetap mempertimbangkan karakteristik reservoir CBM yang dihadapi. Salah satu teknologi yang di rekomendasikan untuk memproduksi gas metan pada lapangan CBM adalah Radial Jet Drilling (RJD).Dua aspek penting yang dipertimbangkan untuk menguji kelaikan RJD pada lapangan CBM ialah masalah yang biasa muncul pada saat pemboran dan pada saat proses produksi. Aspek berikutnya adalah prinsip kerja RJD yang mempertimbangkan beberapa alat khusus seperti radial jetting dan panjang radial, serta masalah yang biasa muncul seiring dengan aplikasi RJD pada lapangan konvensional seperti water blocking, hole position dan hole cleaning.Sementara untuk melihat keefektifan RJD maka dilakukan perbandingan dengan sistem komplesi lain (sumur vertical) melalui tahap simulasi dengan menggunakan data lapangan WS tepatnya pada formasi BP. Simulasi lapangan CBM yang diproduksi dengan sistem sumur vertikal di sensitivitas dengan menambahkan sumur. Sedangkan lapangan CBM yang diproduksi dengan sistem komplesi RJD di sensitivitas terhadap jumlah fase radial dan panjang masing-masing fase.Hasil pengujian menunjukkan bahwa RJD dapat diaplikasikan pada sumur CBM dengan parameter tertentu sedangkan efektifitas RJD dapat dicapai pada jumlah fase minumum 3 (tiga), dengan jarak antara fase 90o dan dengan panjang radial masing-masing fase 300 ft – 500 ft.Kata kunci : Komplesi, CBM, RJD, radial jetting, water blocking, hole cleaning, hole position, simulasi, WS
Extraction and Characterization of Cellulose from Yellow Meranti (Shore macrobalanos) Sawdust Waste
Meranti (Shorea macrobalanos) is a typical wood from Kalimantan that is still valued as a raw material of furniture production. According to statistical data, meranti sawdust waste reached 44% and has not been widely used. It is known that meranti has a high lignocellulose content, which are 38.18% of lignin, 26.03% of hemicellulose and 40.33% of cellulose. Due to the high cellulose level, meranti becomes an alternative source of cellulose which can be applied in composites, biomaterials, and membranes. Therefore, this study aims to produce cellulose from yellow meranti sawdust waste using an alkali treatment, NaOH 17.5%, with a variation of extract time of 20, 40, and 60 minutes. Cellulose characterization was performed using the Chesson-Datta method, Fourier-transferred Infrared Spectroscopy (FTIR), and Scanning Electron Microscope (SEM). The Chesson-Datta test showed that cellulose concentration escalated by increasing process time, which is 45%, 47% and 53% at 20, 40, and 60 minutes respectively. Increased levels of cellulose were followed by decreasing concentrations of lignin and hemicellulose. The FTIR results presented a strengthening of the intensity in the C-O-C functional group which indicated an increase in cellulose levels. Meanwhile, a decrease intensity was also revealed in the aromatic C=C and C=O groups, which implied a reduction in the amount of lignin and hemicellulose. Through the SEM, the surfaces were recognizably less dense by increasing extract time. It is because of the degradation of lignin and hemicellulose. Herein, the most optimum yield was achieved in 60 minutes to produce up to 53% of cellulose. Thus, yellow meranti sawdust waste has a high potential source of cellulose.Keywords: yellow meranti, alkali treatment, cellulose Abstrak Meranti (Shoreamacrobalanos) merupakan kayu khas Kalimantan yang saat ini masih dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan furnitur. Menurut data statistik, limbah serbuk kayu meranti yang dihasilkan mencapai 44% dan belum banyak dimanfaatkan. Telah diketahui bahwa meranti memiliki kandungan lignoselulosa yang cukup tinggi, yaitu 38,18% lignin, 26,03% hemiselulosa, dan 40,33% selulosa. Dengan kandungan selulosa yang tinggi, meranti menjadi salah satu alternative sumber selulosa yang kemudian dapat diaplikasikan di bidang komposit, biomaterial, dan membran. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan selulosa dari limbah serbuk meranti kuning dengan menggunakan metode alkalisasi, NaOH 17,5%, dengan variasi waktu ekstrak selama 20, 40, dan 60 menit. Karakterisasi selulosa dilakukan dengan menggunakan uji Chesson-Datta, fourier-transferred infrared (FTIR), dan scanning electron microscope (SEM). Uji Chesson-Datta menunjukkan semakin lama waktu alkalisasi dapat meningkatkan konsentrasi selulosa, yaitu 45%, 47% dan 53% pada waktu alkalisasi 20, 40, dan 60 menit. Peningkatan kadar selulosa diikuti dengan menurunnya konsentrasi lignin dan hemiselulosa. Hasil FTIR menunjukkan penurunan intensitas pada gugus C=O yang mengindikasikan adanya penurunan jumlah lignin dan hemiselulosa seiring dengan meningkatnya waktu. Hasil morfologi SEM juga menunjukkan permukaan yang semakin tidak rapat seiring dengan meningkatnya waktu alkalisasi. Hal ini diakibatkan terjadi degradasi lignin dan hemiselulosa. Pada penelitian ini, hasil paling optimum dicapai pada waktu 60 menit dengan menghasilkan selulosa hingga 53%. Sehingga, limbah serbuk meranti memiliki potensi sebagai sumber selulosa yang cukup tinggi. Kata kunci: meranti kuning, alkalisasi, selulos
Identifikasi Lapisan Bawah Permukaan Berdasarkan Data Resistivitas 2 Dimensi
Kondisi bawah permukaan bumi yang kompleks sangat menarik untuk dipelajari. Informasi kondisi bawah permukaan dapat digunakan dalam berbagai bidang keilmuan. Informasi kondisi bawah permukaan memberikan gambaran karakteristik dari setiap lapisan batuan. Dalam penelitian ini menggunakan metode geolistrik untuk mengetahui kondisi bawah permukaan. Metode geolistrik menggunakan sifat kelistrikan yaitu resistivitas batuan. Akuisisi data lapangan dilakukan dengan cara mengalirkan arus listrik ke bawah permukaan dan mengukur beda potensia yang muncul. Konfigurasi elekroda yang digunakan adalah konfigurasi wenner yang menghasilkan penampang 2D resistivitas bawah permukaan. Berdasarkan penampang 2D resistivitas bawah permukaan diketahui lapisan bawah permukaan daerah penelitian didominasi oleh lapisan lempung yang tersisipi pasir dengan nilai resistivitas 10 – 31 Ωm tersebar disemua lintasan pengukuran. Terdapat juga lapisan lempung yang tersaturasi oleh air dengan resistivitas 1 – 10 Ωm yang hanya terdapat dilintasan pertama pada kedalaman 5 – 18 m dibawah permukaan. Sesuai dengan kondisi geologi di dareah penelitian juga terdapat sisipan batubara, hal ini terlihat pada lintasan pertama dan kedua dengan nilai resistivitas > 90 Ωm. Data informasi bawah permukaan hasil penelitian dapat digunakan sebagai data pendukung dalam persiapan pembangunan dan meminimalisisr dampak bencana alam.
Pengaruh Perlakuan Alkalinisasi Serat Alam Kayu Bangkirai (Shorea Laevifolia Endert) pada Sifat Mekanik Komposit dengan Matriks Poliester
Waste of bangkirai wood is very abundant and is not currently utilized optimally. It is known that composites using natural fibers have many advantages such as the material produced is lighter, corrosion-resistant, the availability of abundant raw materials, low production costs and natural fibers are more environmentally friendly. Natural fiber composite is a solution to the utilization of bangkirai wood waste. For optimal mechanical properties, chemical treatment of bangkirai wood fiber waste is needed. This study was conducted to determine the effect of alkalization treatment of natural fibers of bangkirai wood (Shorea Laevifolia Endert) with polyester matrix on the mechanical properties of tensile and flexural strength. The making of composites was carried out using the hand lay up method with the size of tensile test specimens that referred to ASTM D 638 and bending test specimens which referred to ASTM D 790 and from the tensile test results morphological observations were performed using Scanning Electron Microscopy (SEM).The results of this study are the optimal tensile strength values of 58.33 MPa in fiber composites with 7% alkalization treatment. As for the optimal bending strength in bending test of 65.63 MPa in fiber composites with 5% alkalization treatment. Keywords :bangkirai wood, alkalization treatment, tensile test, bending testABSTRAKJenis Kayu bangkirai terutama limbahnya sangat berlimpah dan saat ini belum dimanfaatkan secara optimal. Diketahui bahwa komposit menggunakan serat alam memiliki banyak keunggulan seperti material yang dihasilkan lebih ringan, tahan korosi, ketersediaan bahan baku yang melimpah, biaya produksi rendah serta serat alam lebih ramah lingkungan. Komposit serat alam merupakan solusi pemanfaatan limbah kayu bangkirai. Agar sifat mekaniknya optimal, perlu dilakukan perlakuan kimia pada limbah serat kayu bangkirai. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh perlakuan alkalinisasi serat alam kayu bangkirai (Shorea Laevifolia Endert) dengan matriks poliester pada sifat mekanik kekuatan tarik dan kelenturan. Pembuatan komposit dilakukan menggunakan metode hand lay up dengan ukuran spesimen uji tarik yang mengacu pada ASTM D 638 dan spesimen uji bending yang mengacu pada ASTM D 790 serta dari hasil pengujian tarik dilakukan pengamatan morfologi menggunakan Scanning Electron Microscopy (SEM). Kata kunci :bangkirai wood, perlakuan alkalisasi, uji tarik, uji bendin
Evaluasi Intensitas Konsumsi Energi Listrik Di Kampus Politeknik Negeri Balikpapan
Energy audit is a method used to determine the profile of energy use of buildings as well as to find out about efforts to save efficiency. However, the energy audit activity at the Balikpapan State Polytechnic has not been carried out on an ongoing basis for the needs of efficient use of electricity. The purpose of this study was to determine the profile of energy use, and the magnitude of the Energy Consumption Intensity and the level of efficiency in the Balikpapan State Polytechnic. The research method used was an analysis of the calculation of energy consumption intensity (IKE) for each part of the room. The results showed the power consumption in Balikpapan State Polytechnic in 2016 was 62.7 kWH and the IKE level was 93,096 kWH / m2 / year. The highest use of electrical energy consumption per year in the civil engineering building is 33.876.38 kWH / year, while the lowest building heavy equipment engineering workshop is 28.460,875 kWH / year. This study provides recommendations that can be used by management to take strategic steps in saving electricity. Keywords : Audit, Electric Energy, Electric Power, Energy Intensity AbstrakAudit energi merupakan cara yang digunakan untuk mengetahui profil penggunaan energi bangunan gedung serta mengetahui upaya efiseinsi penghematanya. Namun,kegiatan audit energi di Politeknik Negeri Balikpapan belum dilaksanakan secara berkelanjutan untuk kebutuhan efesiensi penggunaan energi listrik.Tujuan penelitian untuk untuk mengetahui profil penggunaan energi, dan besarnya intensitas konsumsi energi serta tingkat efisiensi di Politeknik Negeri Balikpapan. Metode penelitian yang dilakukanmenggunakan analisa perhitungan intesitas konsumsi energi (IKE) untuk masing-masing bagian ruangan. Hasil penelitian menunjukan konsumsi daya di Politeknik Negeri Balikpapan pada tahun 2016 sebesar 62,7 kWH dan tingkat IKE sebesar 93,096 kWH/m2/tahun.Penggunaan konsumsi energi listrik pertahun yang paling tinggi digedung teknik sipil yaitu 33.876,38 kWH/tahun, sedangakan terendah gedung workshop teknik mesin alat berat sebesar 28.460,875 kWH/tahun. Studi ini memberikan rekomendasi yang dapat digunakan oleh manajemen untuk mengambil langkah-langkah strategis dalam penghematan energi listrik. Kata kunci : Audit, Energi Listrik, Daya Listrik, IK
Desain Ship Power Plant Sebagai Alternatif Krisis Listrik di Pulau Kagean, Jawa Timur
Kangean Island is one of the areas in East Java, Indonesia that does not yet have access to electricity because restricted accessibility by the land routes. To supply the electricity in that area, one of alternative solutions is to create a ship power plant that can be operated independently. This ship can help the program of the ministry of energy and mineral resources (ESDM) for the distribution of electricity from PLN to the area that has not been electrified, and achieve the development of 35,000 MW of electricity in all regions of Indonesia. This research is to design a ship power plant to supply the electricity for 1,439 houses in Kangean Island which requires electricity power of 647,63 kW. The type of ship designed is adopted landing ship tank (LST) with the main dimension of length = 23.68 m, width = 7.8m, height = 2.7 m, draught = 1.9 m and equipped with 8 generators set of 1,320 kW. Keywords : Ship Power Plant, Kangean Island, LST. ABSTRAKPulau Kagean merupakan salah satu daerah di wilayah Indonesia yang masih belum mendapatkan akses listrik, hal ini dikarenakan daerah tersebut berada di daerah pedalaman yang tidak bisa diakses dari jalur darat. Untuk mensuplai kebutuhan listrik di daerah tersebut maka salah satu solusi yang dilakukan adalah dengan membuat ship power plant yang bisa dioperasikan di daerah tersebut. Sehingga dapat membantu kinerja kementerian energi dan sumber daya mineral (ESDM) dalam penyaluran aliran listrik dari PLN yang belum teraliri listrik, dan pencapaian pembangunan listrik sebesar 35000 MW di seluruh wilayah indonesia. Sehingga dari tugas akhir ini adalah mendesain ship power plant sebagai alternatif krisis listrik di pulau kangean jawa timur dengan daya yang dibutuhkan sebesar 7,7022 mw. Sehingga dirancanglah kapal pembangkit listrik tenaga diesel dengan daya sebesar 7,760 mw. Type kapal yang digunakan adalah kapal LST, Untuk desain ini didapat ukuran utama yaitu: panjang = 53 m, lebar = 7,5 m, tinggi = 4,17 m, dan sarat = 2,25 m yang telah dianalisa dengan metode trial and error. Kata kunci : Ship Power Plant, Pulau Kangean, LS