IJCCS (Indonesian Journal of Computing and Cybernetics Systems)
Not a member yet
480 research outputs found
Sort by
Pengenalan Spesies Gulma Berdasarkan Bentuk dan Tekstur Daun Menggunakan Jaringan Syaraf Tiruan
AbstrakGulma merupakan tanaman pengganggu yang merugikan tanaman budidaya dengan menghambat pertumbuhan tanaman budidaya. Langkah awal dalam melakukan pengendalian gulma adalah mengenali spesies gulma pada lahan tanaman budidaya. Cara tercepat dan termudah untuk mengenali tanaman, termasuk gulma adalah melalui daunnya. Dalam penelitian ini, diusulkan pengenalan spesies gulma berdasarkan citra daunnya dengan cara mengekstrak ciri bentuk dan ciri tekstur dari citra daun gulma tersebut. Untuk mendapatkan ciri bentuk, digunakan metode moment invariant, sedangkan untuk ciri tekstur digunakan metode lacunarity yang merupakan bagian dari fraktal. Untuk proses pengenalan berdasarkan ciri-ciri yang telah diekstrak, digunakan metode Jaringan Syaraf Tiruan dengan algoritma pembelajaran Backpropagation. Dari hasil pengujian pada penelitian ini, didapatkan tingkat akurasi pengenalan tertinggi sebesar 97.22% sebelum noise dihilangkan pada citra hasil deteksi tepi Canny. Tingkat akurasi tertinggi didapatkan menggunakan 2 ciri moment invariant (moment dan ) dan 1 ciri lacunarity (ukuran box 4 x 4 atau 16 x 16). Penggunaan 3 neuron hidden layer pada Jaringan Syaraf Tiruan (JST) memberikan waktu pelatihan data yang lebih cepat dibandingkan dengan menggunakan 1 atau 2 neuron hidden layer. Kata kunci—3-5 gulma, daun ,moment invariant, lacunarity, jaringan syaraf tiruan AbstractWeeds are plants that harm crops by inhibiting the growth of cultivated plants. The first step to take control of weeds is by identifying weed among the cultivating plant. The fastest and easiest way to identify plants, including weeds is by its leaves. This research proposing weed species recognition based on weeds leaf images by extracting its shape and texture features. Moment invariant method is used to get the shape and Lacunarity method for the texturel. Neural Network with backpropagation learning algorithm are implements for the extracted features recognition proses. The result of this research achievement shows the highest level of recognition accuracy of 97.22% before the noise is eliminated in the image of the Canny edge detection. Highest level of accuracy is obtained using two features from moment invariant (moment and ) and 1 lacunarity’s feature (size box 4 x 4 or 16 x 16). The use of 3 neurons in the hidden layer of Artificial Neural Network (ANN) provide training time data more quickly than by using 1 or 2 hidden layer neurons. Keywords— weed, leaf, moment invariant, lacunarity, artificial neural network
Penerapan Algoritma Invasive Weed Optimnization untuk Penentuan Titik Pusat Klaster pada K-Means
AbstrakK-means merupakan salah satu algoritmaclustering yang paling populer. Salah satu alasan dari kepopuleran K-means adalah karena mudah dan sederhana ketika diimplementasikan. Namun hasil klaster dari K-means sangat sensitif terhadap pemilihan titik pusat awalnya. K-means seringkali terjebak pada solusi lokal optima. Hasil klaster yang lebih baik seringkali baru bisa didapatkan setelah dilakukan beberapa kali percobaan. Penyebab lain seringnya K-means terjebak pada solusi lokal optima adalah karena cara penentuan titik pusat baru untuk setiap iterasi dalam K-means dilakukan dengan menggunakan nilai mean dari data-data yang ada pada klaster bersangkutan. Hal tersebut menyebabkan K-means hanya akan melakukan pencarian calon titik pusat baru disekitar titik pusat awal. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, penerapan metode yang memiliki kemampuan untuk melakukan pencarian global akan mampu membantu K-means untuk dapat menemukan titik pusat klaster yang lebih baik. Invasive Weed Optimization merupakan algoritma pencarian global yang terinspirasi oleh proses kolonisasi rumput liar. Pada penelitian ini diusulkan sebuah metode yang merupakan hasil hibridasi dari metode K-means dan algoritma Invasive Weed Optimization (IWOKM). Kinerja dari metode IWOKM telah dicobakan pada data bunga Iris kemudian hasilnya dibandingkan dengan K-means. Dari pengujian yang dilakukan, didapat hasil bahwa metode IWOKM mampu menghasilkan hasil klaster yang lebih baik dari K-means. Kata kunci—K-means, IWO, IWOKM, analisa klaster AbstractK-means is one of the most popular clustering algorithm. One reason for the popularity of K-means is it is easy and simple when implemented. However, the results of K-means is very sensitive to the selection of initial centroid. The results are often better after several experiment. Another reason why K-means stuck in local optima is due to the method of determining the new center point for each iteration that is performed using the mean value of the data that exist on the cluster. This causes the algorithm will do search for the centroid candidates around the center point. To overcome this, implement a method that is able to do a global search to determine the center point on K-means may be able to assist K-means in finding better cluster center. Invasive Weed Optimization (IWO) is a global search algorithm inspired by weed colonization process. In this study proposed a method which is the result of hybridization of K-means and IWO (IWOKM). Performance of the method has been tested on flower Iris dataset. The results are then compared with the result from K-means. The result show that IWOKM able to produce better cluster center than K-means. Keywords—K-means, IWO, IWOKM, cluster analysi
Metode RCE-Kmeans untuk Clustering Data
AbstrakTelah banyak metode yang dikembangkan untuk memecahkan berbagai masalah clustering. Salah satunya menggunakan metode-metode dari bidang kecerdasan kelompok seperti Particle Swarm Optimization (PSO). Metode Rapid Centroid Estimation (RCE) merupakan salah satu metode clustering yang berbasis PSO. RCE, seperti varian PSO clustering lainnya, memiliki kelebihan yaitu hasil clustering tidak tergantung pada inisialisasi pusat cluster awal. RCE juga memiliki waktu komputasi yang jauh lebih cepat dibandingkan dengan metode sebelumnya yaitu Particle Swarm Clustering (PSC) dan modified Particle Swarm Clustering (mPSC), tetapi metode RCE memiliki standar deviasi kualitas skema clustering yang lebih tinggi dibandingkan PSC dan mPSC dimana ini berpengaruh terhadap variansi hasil clustering. Hal ini terjadi karena equilibrium state, yaitu kondisi dimana posisi partikel tidak mengalami perubahan lagi, kurang tepat pada saat kriteria berhenti tercapai. Penelitian ini mengusulkan metode RCE-Kmeans yaitu metode yang mengaplikasikan K-means setelah equilibrium state metode RCE tercapai untuk memperbarui posisi partikel yang dihasilkan dari metode RCE. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari sepuluh dataset, metode RCE-Kmeans memiliki nilai kualitas skema clustering yang lebih baik pada 7 dataset dibandingkan K-means dan lebih baik pada 8 dataset dibandingkan dengan metode RCE. Penggunaan K-means pada metode RCE juga mampu menurunkan nilai standar deviasi dari metode RCE. Kata kunci—Clustering Data, Particle Swarm, K-means, Rapid Centroid Estimation. Abstract There have been many methods developed to solve the clustering problem. One of them is method in swarm intelligence field such as Particle Swarm Optimization (PSO). Rapid Centroid Estimation (RCE) is a method of clustering based Particle Swarm Optimization. RCE, like other variants of PSO clustering, does not depend on initial cluster centers. Moreover, RCE has faster computational time than the previous method like PSC and mPSC. However, RCE has higher standar deviation value than PSC and mPSC in which has impact in the variance of clustering result. It is happaned because of improper equilibrium state, a condition in which the position of the particle does not change anymore, when the stopping criteria is reached. This study proposes RCE-Kmeans which is a method applying K-means after the equilibrium state of RCE reached to update the particle's position which is generated from the RCE method. The results showed that RCE-Kmeans has better quality of the clustering scheme in 7 of 10 datasets compared to K-means and better in 8 of 10 dataset then RCE method. The use of K-means clustering on the RCE method is also able to reduce the standard deviation from RCE method. Keywords—Data Clustering, Particle Swarm, K-means, Rapid Centroid Estimation.
Penentuan Arsitektur Jaringan Syaraf Tiruan Backpropagation (Bobot Awal dan Bias Awal) Menggunakan Algoritma Genetika
AbstrakKelemahan dari jaringan syaraf tiruan backpropagation adalah sangat lama untuk konvergen dan permasalahan lokal mininum yang membuat jaringan syaraf tiruan (JST) sering terjebak pada lokal minimum. Kombinasi parameter arsiktektur, bobot awal dan bias awal yang baik sangat menentukan kemampuan belajar dari JST untuk mengatasi kelemahan dari JST backpropagation. Pada penelitian Ini dikembangkan sebuah metode untuk menentukan kombinasi parameter arsitektur, bobot awal dan bias awal. Selama ini kombinasi ini dilakukan dengan mencoba kemungkinan satu per satu, baik kombinasi hidden layer pada architecture maupun bobot awal, dan bias awal. Bobot awal dan bias awal digunakan sebagai parameter dalam perhitungan nilai fitness. Ukuran setiap individu terbaik dilihat dari besarnya jumlah kuadrat galat (sum of squared error = SSE) masing – masing individu, individu dengan SSE terkecil merupakan individu terbaik. Kombinasi parameter arsiktektur, bobot awal dan bias awal yang terbaik akan digunakan sebagai parameter dalam pelatihan JST backpropagation.Hasil dari penelitian ini adalah sebuah solusi alternatif untuk menyelesaikan permasalahan pada pembelajaran backpropagation yang sering mengalami masalah dalam penentuan parameter pembelajaran. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa metode algoritma genetika dapat memberikan solusi bagi pembelajaran backpropagation dan memberikan tingkat akurasi yang lebih baik, serta menurunkan lama pembelajaran jika dibandingkan dengan penentuan parameter yang dilakukan secara manual. Kata kunci Jaringan syaraf tiruan, algoritma genetika, backpropagation, SSE, lokal minimum AbstractThe weakness of back propagation neural network is very slow to converge and local minima issues that makes artificial neural networks (ANN) are often being trapped in a local minima. A good combination between architecture, intial weight and bias are so important to overcome the weakness of backpropagation neural network.This study developed a method to determine the combination parameter of architectur, initial weight and bias. So far, trial and error is commonly used to select the combination of hidden layer, intial weight and bias. Initial weight and bias is used as a parameter in order to evaluate fitness value. Sum of squared error(SSE) is used to determine best individual. individual with the smallest SSE is the best individual. Best combination parameter of architecture, initial weight and bias will be used as a paramater in the backpropagation neural network learning. The results of this study is an alternative solution to solve the problems on the backpropagation learning that often have problems in determining the parameters of the learning. The result shows genetic algorithm method can provide a solution for backpropagation learning and can improve the accuracy, also reduce long learning when it compared with the parameters were determined manually. Keywords: Artificial neural network, genetic algorithm, backpropagation, SSE, local minima
Klasifikasi Data NAP (Nota Analisis Pembiayaan) untuk Prediksi Tingkat Keamanan Pemberian Kredit (Studi Kasus : Bank Syariah Mandiri Cabang Luwuk Sulawesi Tengah)
AbstrakSetiap bulannya bank syariah mandiri cabang luwuk menerima proposal kredit (NAP) dari nasabah dalam jumlah yang terus meningkat dan perlu respon yang cepat. Dengan demikian, perlu dikembangkan sistem untuk melakukan data mining dari tumpukan data tersebut yang akan digunakan untuk kepentingan tertentu, salah satunya adalah untuk menganalisis resiko pemberian kredit.Teknik data mining digunakan dalam penelitian ini untuk klasifikasi tingkat keamanan pemberian kredit dengan menerapakan algoritma Naïve Bayes Classificatio. Naive bayes classifier merupakan pendekatan yang mengacu pada teorema Bayes yang menkombinasikan pengetahuan sebelumnya dengan pengetahuan baru, sehingga merupakan salah satu algoritma klasifikasi yang sederhana namun memiliki akurasi tinggi. Sebelum dilakukan klasifikasi, data debitur melalui preprocessing. Kemudian dari preprocessing ini dilakukan klasifikasi dengan naive bayes classifier, sehingga menghasilkan model probabilitas klasifikasi untuk prediksi kelas pada debitur selanjutnya. Teknik pengujian akurasi model diukur menggunakan boostrap, dan menunjukkan bahwa nilai akurasi terkecil 80% dihasilkan pada sampel data 100, dan menghasilkan nilai akurasi terbesar 98,66% pada sampel data 463. Kata kunci— akurasi, naive bayes, data mining, klasifikasi, preprocessing, NAP AbstractEvery month the Mandiri Syariah Bank Branch Office of Luwuk receives a very large number of proposal credit. Thus, the system should be developed to perform data mining of the heap data to be used for specific purpose, one of which is for the risk analysis of credit allowance. Data mining techniques used in this study for classification level prediction of credit allowance by applying a naïve Bayes Classification algorithm . Naive bayes classifier is an approach that refers to the bayes theorem, is a combination of prior knowledge with new knowledge. So that is one of the classification algorithm is simple but has a high accuracy. Prior to classification, data of debitur has been through a preprocessing. Then the weight is to perform classification with naive bayes classifier. After the data is classified, so produce probabilitas of model classification for prediction class to next debitur. Testing techniques the accuracy of the model was measured by bosstrap, and shows that the smallest value of accuracy is 80% produced in the 100 data sample, and the largest value of accuracy 98,66% on a data sample of 463. Keywords— accuracy, naive bayes, data mining, classification, preprocessing, NA
Purwarupa Framework Aplikasi Desktop Menggunakan Teknologi Web
AbstrakAplikasi desktop adalah aplikasi yang berjalan lokal dalam lingkungan desktop dan hanya dapat diakses oleh pengguna desktop. Ini berbeda dengan aplikasi web yang dapat diakses dari manapun melalui jaringan. Namun tidak seperti halnya aplikasi desktop, aplikasi web yang berjalan di atas web browser tidak dapat berintegrasi dengan aplikasi desktop yang berjalan pada sisi klien.Dalam penelitian ini dibangun purwarupa framework yang diberi nama HAF (Hybrid Application Framework). HAF digunakan untuk mengembangkan dan mengeksekusi jenis aplikasi desktop baru yang diberi nama HyApp (Hybrid Application). Melalui HAF, HyApp dibangun menggunakan teknologi web dan dapat diakses secara lokal maupun melalui jaringan. Saat diakses secara lokal, walaupun dikembangkan dengan teknologi web, HyApp dapat berkomunikasi dengan aplikasi desktop lainnya. Selain itu, melalui API yang disediakan oleh HAF, HyApp akan dapat menerapkan perilaku yang berbeda berdasarkan modus pengaksesan yang dilakukannya. Kata kunci—framework, aplikasi desktop, aplikasi web AbstractDesktop application is an application that runs locally in a desktop environment and can be accessed only by desktop users. It differs from web application which can be accessed from anywhere through networks. But unlike desktop applications, web applications cannot integrate nicely with desktop applications from where it is accessed.This research developes a prototype of framework which is named HAF (Hybrid Application Framework). HAF is used for developing and executing a new type of desktop application, named HyApp (Hybrid Application). Through HAF, HyApp is built using web technologies and can be accessed either locally or from networks. When accessed locally, even though it is built using web technologies, it still can communicate with other desktop applications. Also by using APIs provided by HAF, HyApp is capable to behave differently based on whether it is accessed locally or remotely. Keywords—framework, desktop applications, web application
Implementasi Protokol Diffie-Hellman Dan Algoritma RC4 Untuk Keamanan Pesan SMS
Abstrack— SMS now becomes such a need for cellular phone users to communicate to other people. But the cellular phone users do not realize that the sent messages could be intercepted or changed by an unwanted party. Therefore it requires a security in sending an SMS message which is called cryptography. Given limited resources on cellular phone, then the implementation of symmetric cryptographic technique is suitable to meet the security needs of an SMS message. In symmetric cryptography, there is a symmetric key for encryption and decryption process. In order to secure exchange of symmetric keys in public channels is required of a protocol for key exchange.This research implements RC4 symmetric cryptography to encrypt and decrypt messages, while for key exchange is using Diffie-Hellman protocol. In this research, there are modifications to the Diffie-Hellman protocol that is the calculation of the public key and symmetric key to include cellular phone number as authentication. Whereas on a modified RC4 is the key where there is a combination with cellular phone number as authentication and key randomization, and then there are also modifications to the pseudorandom byte generator, encryption and decryption of the RC4 algorithm. The system is constructed using the Java programming language in the platform Micro Edition (J2ME) based MIDP 2.0 and CLDC 1.0.The research found that with the cellular phone number as authentication, key, encryption and decryption process automatically it is able to maintain confidentiality, data integrity, authentication and non-repudiation to the message. Keywords— Diffie-Hellman, Key exchange, RC4, SMS Secure, Symmetric Cryptography
Analisis Kinerja Voip Server pada Wireless Access Point
AbstrakPada komunikasi VoIP (Voice Over IP) kualitas suara dipengaruhi oleh banyak faktor salah satunya yaitu kualitas server. Pemilihan platform PC atau server yang cocok (baik dari segi harga maupun kinerja) merupakan persoalan utama dalam membangun jaringan VoIP. Kinerja server yang jelek akan menurunkan kualitas suara atau bahkan tidak mampu untuk menghubungkan antar pengguna.Dalam penelitian ini dilakukan pengujian terhadap kinerja wireless access point Linksys WRT54GL yang dimanfaatkan sebagai VoIP server. Pengujian dilakukan untuk mengetahui berapa banyak panggilan VoIP yang mampu dilayani oleh wireless access point sebagai VoIP server serta berapa waktu yang diperlukan oleh server tersebut untuk dapat memproses setiap sinyal SIP maupun paket RTP. Berdasarkan hasil pengujian yang dilakukan, VoIP server pada wireless access point mampu melayani komunikasi VoIP dengan baik untuk jumlah panggilan yang sedikit sehingga layak diimplementasikan pada penggunaan skala kecil. Penggunaan metode Native Bridging dalam penanganan media yang dilakukan oleh server dapat meningkatkan jumlah panggilan yang mampu dilayani sebesar 3 hingga 7 kali dibandingkan dengan metode lainnya. Kata kunci—VoIP, Asterisk, Acess Point, WRT54GL, OpenWRT, Kinerja AbstractVoice quality on VoIP communication is caused by many factors, one of which is the quality of the server. Choosing PC platform or server which is suitable is the main issue in developing VoIP network. A bad server performance or not equivalent with the most of users will degrade the sound quality or even not able to connect between users.Tthe test carried out to the performance of the wireless access point Linksys WRT54GL which is used as a VoIP server. The test was carried out to determine how many VoIP calls which are able to be serviced by a wireless access point as a VoIP server and how long the server needs to be able to process every signal of SIP and RTP packet.Based on the test result performed, the VoIP server on the wireless access point is able to serve VoIP communication well for a few calls number, so it is worth to be implemented on the use of small scale. The use of Native Bridging method in handling the media performed by the server can increase the number of calls that were able to be served about 3 to 7 times compared with other methods. Keywords— VoIP, Asterisk, Acess Point, WRT54GL, OpenWRT, Performanc
Analisis Pengaruh Ukuran Window Pada Pengendali Kemacetan di SCTP Menggunakan Fitur Multihoming
AbstrakStream Control Transmission Protocol (SCTP) merupakan protokol yang mirip dengan Transmission Control Protocol (TCP) dan User Datagram Protocol (UDP). SCTP merupakan protokol yang bersifat reliable dan connectionless. Protokol ini memiliki kemampuan multistreaming dan multihoming dalam melakukan transmisi data. Penelitian ini merupakan pemodelan terhadap SCTP menggunakan simulator OPNET yang dapat menjadi akselerasi bagi peneliti dalam bidang jaringan. SCTP pada simulator dibangun dengan melakukan modifikasi terhadap TCP. Pemodelan dimulai dengan membangun skenario jaringan dan menentukan bandwidth pada jalur yang akan dilewati oleh paket data.Modifikasi ukuran window dalam penelitian ini menggunakan nilai 1 MMS, 2 MMS hingga 10 MMS pada pengendali kemacetan. Tujuannya adalah untuk melihat pengaruh modifikasi ukuran window terhadap nilai packet loss, delay dan throughput. Hasil pengukuran memperlihatkan bahwa nilai throughput tertinggi terdapat pada Skenario Kedua sebagaimana diperlihatkan pada Tabel 6.4 dengan nilai throughput sebesar 433.566,0244 bit/s. Penggunaan ukuran window dalam pengendali kemacetan dimaksudkan untuk menghindari banjir data pada sisi endpoint yang dapat menyebabkan packet loss. Kata kunci—Pengendali kemacetan, throughput, delay, packet loss, ukuran window, multihoming, SCTP Abstract Stream Control Transmission Protocol (SCTP) is a protocol that is similar to the Transmission Control Protocol (TCP) and User Datagram Protocol (UDP). SCTP is a protocol that is both reliable and connectionless. This protocol has the ability multistreaming and multihoming in the transmit data.This research is the modeling of the SCTP using OPNET simulator that can be accelerated for researchers in the field of networking. SCTP on the simulator was built to perform modifications to TCP. Modeling starts with building a network scenarios and determine the bandwidth on the path that will be passed by data packets.Modification of window size in this research using 1 MMS, 2 MMS up to 10 MMS on congestion control. The aim is to disclose the effect of modification of the window size to the value packet loss, delay and throughput. The measurement results show that the throughput rate is highest in the Second Scenario as shown in Table 6.4 with throughput value of 433.566,0244 bits/s. Using window size in congestion control is intended to prevent a flood of data on the endpoint that can lead to packet loss. Keywords—Congestion control, throughput, delay, packet loss, window size, multihoming, SCTP
Hybrid Recommendation System Memanfaatkan Penggalian Frequent Itemset dan Perbandingan Keyword
AbstrakRecommendation system sering dibangun dengan memanfaatkan data peringkat item dan data identitas pengguna. Data peringkat item merupakan data yang langka pada sistem yang baru dibangun. Sedangkan, pemberian data identitas pada recommendation system dapat menimbulkan kekhawatiran penyalahgunaan data identitas.Hybrid recommendation system memanfaatkan algoritma penggalian frequent itemset dan perbandingan keyword dapat memberikan daftar rekomendasi tanpa menggunakan data identitas pengguna dan data peringkat item. Penggalian frequent itemset dilakukan menggunakan algoritma FP-Growth. Sedangkan perbandingan keyword dilakukan dengan menghitung similaritas antara dokumen dengan pendekatan cosine similarity.Hybrid recommendation system memanfaatkan kombinasi penggalian frequent itemset dan perbandingan keyword dapat menghasilkan rekomendasi tanpa menggunakan identitas pengguna dan data peringkat dengan penggunaan ambang batas berupa minimum similarity, minimum support, dan jumlah rekomendasi. Nilai pengujian yaitu precision, recall, F-measure, dan MAP dipengaruhi oleh besarnya nilai ambang batas yang ditetapkan. Kata kunci— Hybrid recommendation system, frequent itemset, cosine similarity. AbstractRecommendation system was commonly built by manipulating item is ranking data and user is identity data. Item ranking data were rarely available on newly constructed system. Whereas, giving identity data to the recommendation system causes concerns about identity data misuse.Hybrid recommendation system used frequent itemset mining algorithm and keyword comparison, it can provide recommendations without identity data and item ranking data. Frequent itemset mining was done using FP-Gwowth algorithm and keyword comparison with calculating document similarity value using cosine similarity approach.Hybrid recommendation system with a combination of frequent itemset mining and keywords comparison can give recommendations without using user identity and rating data. Hybrid recommendation system using 3 thresholds ie minimum similarity, minimum support, and number of recommendations. With the testing data used, precision, recall, F-measure, and MAP testing value are influenced by the threshold value. Keywords— Hybrid recommendation system, frequent itemset, cosine similarity.