Kodifikasia : Jurnal Penelitian Islam
Not a member yet
229 research outputs found
Sort by
HUBUNGAN KEPERDATAAN ANAK DENGAN BAPAKNYA: Kajian Kritis Penafsiran Pasal-Pasal Dalam Kompilasi Hukum Islam
Pasal 53 ayat (1) KHI : “Seorang wanita hamil di luar nikah, dapat dikawinkan dengan pria yang menghamilinya.” Secara gramatikal adanya Pasal 53 ayat (1) KHI bila ditafsirkan akan berdampak bahwa lelaki yang bukan menghamili wanita yang telah hamil di luar nikah juga dapat menikahi wanita yang hamil tersebut. Hal ini berdasarkan kata “dapat” dalam bunyi Pasal 53 ayat (1) KHI. Oleh sebab itu lelaki yang bukan bapak si anak tersebut, konsekuensi hukumnya terhadap hubung an keperdataan anak berdasarkan bunyi Pasal 53 ayat (1) KHI, terikat secara hukum dan memiliki hubungan keperdataan dengan anak tersebut secara langsung, akibat perkawinan ibunya, walau pun lelaki tersebut bukan bapak biologis dari si anak tersebut. Berdasarkan uraian di atas dan adanya putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 46/PUU-VIII/2010 tentang dihapusnya Pasal 43 ayat (1) UU Perkawinan dan adanya Pasal 53 ayat (1) KHI telah membuka angin baru bagi pengakuan keperdataan anak hasil perkawinan di bawah tangan dan hasil perkawinan wanita hamil dengan lelaki yang tidak menghamilinya
PENGGUNAAN PODCAST DALAM (STAD) UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENYIMAK PADA MATA KULIAH LISTENINGI PRODI TADRIS INGGRIS JURUSAN TARBIYAH STAIN PONOROGO
Kegiatan menyimak yang merupakan proses interaktif harus disampai kan dalam pembelajaran sebagai sebuah proses interaktif untuk meningkatkan motivasi mahasiswa. Pada umumnya, pelajaran listening di perguruan tinggi sangat bergantung pada kegiatan yang monoton. Masalah serupa muncul di mata kuliah Listening I pada prodi Tadris Inggris Jurusan Tarbiyah STAIN Ponorogo. Oleh karena itu, penelitian berkaitan dengan strategi pengajaran yang memotivasi yang dapat meningkatkan kemampuan menyimak mahasiswa. Strategi yang diusulkan di sini termasuk penggunaan (STAD) dengan menggunakan media podcast. Untuk memecahkan permasalahan diatas maka peneliti menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang di sajikan dalam 2 (dua) siklus. Dalam setiap siklusnya melalui alur PTK yang terdiri dari 4 (empat) tahap, yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penggunaan podcast dalam strategi (STAD) dapat meningkatkan: (1) partisipasi mahasiswa dalam diskusi kelompok, (2) prestasi belajar dan (3) respon positif
Pemberdayaan Madrasah Dan Standarisasi Pendidikan Tela'ah Kritis Terhadap Partisipasi STAIN Dalam Pemberdayaan Madrasah Aliyah Di Kabupaten Ponorogo
Madrasah sebagai lembaga pendidikan yang berciri khas Islam sangat menarik perhatian dalam rangka melaksanakan cita-cita pendidikan nasional, bukan semata-mata karena faktor jumlah peserta didiknya yang signifikan tetapi juga karakteristik madrasah yang relevan dengan semangat reformasi sistem pendidikan nasional. (pemerataan, education for all, desentralisasi, dll). Di tengah-tengah upaya pemerintah menggulirkan kebijakan tentang desentralisasi pendidikan, madrasah sudah sangat terbiasa dengan esensi kebijakan tersebut. Karena kebanyakan madrasah lahir dari masyarakat (swasta) untuk memenuhi kebutuhan pendidikan agama anak-anak mereka. Dalam sejarah perkembangannya yang panjang, madrasah memiliki banyak hal yang positif dan negatif. Sisi positif madrasah, di antaranya adalah lembaga pendidikan ini lahir dari masyarakat bawah dan terbiasa mandiri. sisi negatif, antara lain adalah berkembangnya sikap ortodoksi yang ditunjukkan sebagian besar madrasah akibat adanya perlakuan yang diskriminatif dari pemerintah kolonial dan Orde Baru. Namun di saat madrasah dihadapkan pada kebijakan standarisasi pendidikan melalui PP. 19 Tahun 2005, banyak persoalan yang menyeruak dan perlu dipecahkan oleh madrasah. Melalui penelitian ini, peneliti ingin melihat persiapan Madrasah Aliyah menyongsong era standarisasi pendidikan dan bagaimana peran perguruan tinggi agama Islam, dalam membantu madrasah menghadapi penerapan kebijakan tentang standarisasi pendidikan
Ritual Di Makam Ageng Besari Tegalsari Jetis Ponorogo
Fenomena ziarah makam merupakan tradisi turun-temurun dan sudah berakar kuat di kalangan umat Islam. Meskipun muncul kritik yang mencurigai praktek semacam itu dapat menodai tauhid, tetapi dalam faktanya kegiatan mengunjungi makammakam tidak pernah pudar sama sekali bahkan cenderung makin ramai terutama setelah terbukti makin ”˜keramat’-nya makam yang diziarahi itu. Penelitian lapangan yang mengambil lokasi di makam Ki Ageng Besari Tegalsari Jetis di Ponorogo ini menyoroti bentuk-bentuk keyakinan dan ritual yang dipraktekkan para peziarah.Kenyataannya, kepercayaan peziarah memang sangatlah mengkeramatkan makam Ki Ageng Besari di Tegalsari. Meskipun demikian, kepercayaan tersebut tidaklah tunggal karena sangat tergantung pada pola pikir, pemahaman keagamaan dan tradisi yang melingkupinya. Ada tiga tipologi peziarah makam Ki Ageng Besari yaitu: kepercayaan yang berbasis pada pola tradisional Islam, kepercayaan mistis yang berbasis pada tradisi, dan kepercayaan yang berdasar pada pemikiranrasional. Berbagai ragam kepercayaan ini menunjukkan bahwa kita tidak bisa membuat klaim-klaim sepihak kepada para peziarah makam
Kompetensi Guru Pendidikan Agama Islam Dalam Melaksanakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan
Keberagaman kemampuan guru dalam penguasaan materi pembelajaran atau bahan ajar dan penerapannya dalam proses belajar mengajar akan berdampak pada munculnya keragaman pencapaian kompetensi peserta didik pascapembelajaran. Dua kompetensi guru yang secara langsung berkaitan dengan proses belajar mengajar adalah kompetensi pedagogik dan kompetensi profesional. Kompetensi pedagogik berkaitan dengan kemampuan guru dalam merancang dan melaksanan pembelajaran di kelas. Sedangkan kompetensi profesional bagi guru adalah menyangkut tingkat penguasaan materi atau bahan ajar serta pengembangannya. Penelitian ini bertujuan mengungkap dua kompetensi guru pendidikan agama Islam di Madrasah Tsanawiyah Negeri Ponorogo. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan pola studi kasus. Teknik pengumpulan data dengan menggunakan angket, observasi, interview dan dokumentasi. Pemilihan dan pemilahan subjek penelitian menggunakan purposive. Responden yang terlibat dalam penelitian sebanyak 250 orang dengan rincian, seorang kepala Madrasah, lima orang guru pendidikan agama Islam yang meliputi guru mata pelajaran Akidah Akhlak, al-Qur’an Hadits, Fiqih, Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) dan Bahasa Arab. Analisis data menggunakan analisis Deskriptif kualitatif dengan dukungan data kuantitatif. Hasil dari penelitian ini adalah guru-guru pendidikan agama Islam di Madrasah Tsanawiyah Negeri Ponorogo pada umumnya telah memenuhi kompetensi pedagogik. Hal ini ditunjukkan dengan adanya rerata skor kompetensi pedagogik sebesar 62,60 di atas rerata skor idealnya yang sebesar 52,50. Rerata skor tersebut berkategori positif atau baik. Sedangkan kompetensi profesionalnya masih belum terpenuhi. Hal ini ditunjukkan dengan adanya rerata skor kompetensi profesional sebesar 28,20 berada dibawah rerata skor idelanya. Rerata skor ini yang berada di bawah rerata skor ideal yang sebesar 30 sehingga kategorinya negatif/kurang
PRILAKU SEKS BEBAS REMAJA DI KABUPATEN PONOROGO PERSEPKETIF INTERAKSIONALISME SIMBOLIK GEORGE HERBERT MEAD
Abstraks: Penelitian ini berusaha mengungkap proses terjadinya prilaku seks bebas di kalangan remaja dalam interaksionalisme simbolik George Herbert Mead dan pola interaksi seks bebas di kalangan remaja di kabupaten Ponorogo. Penelitian ini bersifat deskriptif-analitis dan didesain dengan pendekatan kualitatif. Data diambil dengan cara wawancara dengan para pelaku sek bebas. Ada beberapa tahapan sebelum aktor melakukan tindakan atau hubungan seks yaitu, impuls, persepsi,manipulasi dan terakhir konsumasi. Dari hasil penilitian dapat disimpulkan bahwa proses terjadinya seks bebas pada awalnya mereka tertarik dengan lawan jenisnya. Kemudian melakukan pendekatan, saling melirik, berkenalan, kemudian pacaran. Tahap berikutnya mereka saling berpegangan, berciuman, meremas payudara, kedudian melakukan hubungan seks. Sementara pola interaksi seks bebas di kalangan remaja ada dua: pertama, remaja melakukan hubungan seks bebas dengan pacarnya sendiri. Kedua, remaja tersebut melakukan hubungan dengan membeli atau menyewa wanita lain
KYAI, PENGANTIN DAN NETRALITAS MASYARAKAT: Studi Analisis Gender terhadap Ceramah Agama pada Acara Resepsi Pernikahan di Ponorogo
Abstarks: Resepsi pernikahan merupakan kegiatan penting dalam masyarakat dan biasanya disampakan ceramah agama oleh seorang tokoh agama, kyai. Penceramah menjelaskan nilai-nilai dan prinsip-prinsip ajaran Islam tentang pembentukan keluarga sakinah mawaddah wa rahmah. Melalui analisis bahasa ditemukan beberapa ungkapan dan pernyataan yang bernuansa bias gender atau tidak sensitif gender. Ungkapan dan pernyataan tersebut diungkap dengan melalui 3 cara, yaitu diungkapkan dengan melalui kata atau kalimat yang lugas, melalui bahasa kiasan dan melalui konteksnya. Sedangkan pemetaan ceramah kyai melalui indikator-indikator gender dapat ditemukan bahwa pada indikator stereotype, semua kyai secara eksplisit bernuansa bias gender kecuali kyai MU. Pada indikator subordinasi, semua kyai bias gender. Sementara pada indikator marginalisasi dan double/multy burden hanya kyai PS saja mengutarakan secara jelas tentang bias gender. Sementara yang lainnya tidak menyentuh masalah gender ini atau tidak memberi berkomentar
PERKEMBANGAN PSIKOLOGIS ANAK MI/SD: STUDI ATAS DAMPAK KEPERGIAN IBU SEBAGAI TKW KE LUAR NEGERI
Abstrak: Anak di usia sekolah dasar yang pada saat ini akan lebih baik perkembangan moralnya jika berada di lingkungan yang kondusif untuk tumbuh kembangnya. Peran orang tua dalam mendampinginya sangat dibutuhkan untuk perkembangan lebih baik dan lebih lanjut. Artikel ini ini mencoba menggali bagaimana perkembangan moral, sosial, kognitif anak yang ibunya pergi ke luar negari sebagai Tenaga Kerja Wanita (TKW) dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa anak SD/MI yang ditinggal pergi ibunya menjadi TKW ke luar negeri rata-rata menunjukkan perbedaan yang signifikan antara sebelum dan setelah ibunya pergi ke luar negeri. Perbedaan mencolok terutama pada anak laki-laki; perkembangan sosial anak menunjukkan variasi pola perilaku, mulai dari pola perilaku yang disetujui sampai pada pola perilaku yang tidak disetujui dalam keluarga dan masyarakat, hal positif yang terjadi pada mereka adalah kemandirian, mereka sudah bisa memasak, mencuci baju sendiri, mengatur waktu. Dari sisi negatif, perlaku sosial yang nampak adalah ketidakaturan dalam mengatur waktu untuk bermain, mengaji dan istirahat; Perkembangan kognitif anak, rata-rata menunjukkan perilaku yang baik, ada beberapa saja yang belum bisa membaca, menulis dan berhitung bahkan tidak anaik kelas. Kontribusi dalam penelitian ini agar para semua pihak yang terkait selalu menjalin komunikasi dan monitoring demi mendampingi pertumbuhan dan perkembangan anak
Fiqh Parenting Dan HAk Asasi Anak Perspektif Kyai Di Ponorogo
Abstrak: Artikel ini akan menelaah parenting perspektif kyai, dengan tiga pertanyaan inti yang diajukan, yaitu pertama, bagaimana pandangan para kyai tentang konsep parenting dan Hak Asasi Anak; Kedua, bagaimana dan sejauhmana peran kyai membangun kesadaran parenting, hak asasi dan perlindungan anak; ketiga, bagaimana pendapat mereka melihat fenomena sosial menyangkut pekerja anak (child labour), pekerja seks anak (prostituted children), perdagangan anak (child trafficking), perlakuan kekerasan (violation) dan penyiksaan (turtore) terhadap anak. Masing-masing kyai memiliki konsep yang khas tentang parenting dan HAM anak. Argumentasi yang dibangun dideduksi dari al-Qur’an dan hadis. Dalil yang digunakan adalah surah al-Fatihah, QS al-Tahrim: 6, QS. al-A’raf: 189, QS: al-Baqarah: 233, dan hadis-hadis pendidikan.Semua kyai memprihatinkan kasus kekerasan seksual dan pemukulan pada anak. Namun peran keterlibatan dan sosialisasi yang dilakukan masih minim. Menurut mereka persoalan ini dapat diselesaikan dengan membangun sikap orangtua yang berilmu (well-educated). Namun solusi yang ditawarkan ini belum menjadi aksi nyata dengan membentuk wadah sekolah parenting bagi orangtua atau sejenisnya
PENGELOLAAN ZAKAT OLEH NEGARA DAN SWASTA Studi Efektifitas dan Efisiensi Pengelolaan Zakat Oleh BAZ Dan LAZ Kota Madiun
Abstraks: Keberadaan lembaga zakat di Indonesia yang diakui oleh perundang-undangan ada dua, yaitu Badan Amil Zakat (BAZ) dan Lembaga Amil Zakat (LAZ). BAZ adalah lembaga zakat yang dikelola oleh pemerintah, sedangkan LAZ adalah lembaga yang dikelola oleh masyarakat. Artikel ini merupakan merupakan hasil penelitian lapangan dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Data digali langsung dari BAZ Kota Madiun dan LAZ dalam hal ini ada 2 lembaga, yaitu Lembaga Manajemen Infaq (LMI) dan Baitul Maal Hidayatullah (BMH). Hasil penelitian BAZ lebih efektif dibanding LAZ, karena BAZ di bawah naungan Pemerintah Kota Madiun dan didukung dengan kebijakan dalam menjalankan progam kerjanya. Sedangkan pada LAZ (LMI dan BMH) karena sifatnya mandiri, maka segala sesuatunya akan efektif jika mereka bekerja keras, dan itulah yang selama ini dilakukan oleh LMI dan BMH, sehingga sampai saat ini mereka masih eksis