Kodifikasia : Jurnal Penelitian Islam
Not a member yet
    229 research outputs found

    Analisis Strategi Fundraising Terhadap Peningkatan Pengelolaan Zis Pada Lembaga Amil Zakat Kabupaten Ponorogo

    Full text link
    Lahirnya lembaga-lembaga amil zakat, seharusnya mampu menjadi sebuah    harapan bagi para mustahiq, serta dapat terselesaikannya masalah kemiskinan   dan  pengangguran. Namun,  harapan   ini  tidak   akan   tercapai apabila Lembaga Amil Zakat tidak memiliki orientasi dalam pemanfaatan dana  zakat yang tersedia. Lembaga pengelolaan zakat dalam menghimpun dana ZIS dengan mengambil dana  zakat  baik secara  langsung  maupun tidak  langsung dari masyarakat. Cara-cara yang dilakukan saat ini umumnya meliputi pembukaan counter-counter penerimaan zakat, pemasangan iklan pada media massa, korespondensi,   kunjungan dari rumah ke rumah dan kontak dengan komunitas tertentu, dan masih banyak yang lainnya.Demikian hal-nya Lembaga-Lembaga Zakat yang ada di Kabupaten Ponorogo, yang dari tahun ke tahun semakin banyak, yang tentunya ini juga ada harapan besar bahwa, dana zis yang dikumpulkan semakin banyak. Lembaga-lembaga zakat yang ada di Kabupaten Ponorogo, mempunyai cara yang berbeda dalam melakukan pengumpulan zakat atau strategi fundraisingnya.Masalah dalam penelitian ini adalah (a) bagaimanakah   strategi fundraising pada Lembaga-lembaga Amil Zakat di Kabupaten Ponorogo dalam meningkatkan pengelolaan dana Zakat. (b) Bagaimana Dampak  Strategi Fundrising pada peningkatan  pengelolaan     Zakat   pada Lembaga-lembaga Amil Zakat di Kabupaten Ponorogo?.Penelitian ini adalah penelitian lapangan (field research), dengan  menggunakan   jenis   penelitian   kualitatif, yaitu   jenis penelitian yang menghasilkan penemuan yang tidak dapat di capai dengan  menggunakan   prosedur   diskriptif   dengan   menggambarkan, fenomena   yang   terkait   pada   penelitian, fakta-fakta   dan   lain-lain.   Metode   kualitatif   adalah   prosedur   penelitian   yang   menghasilkan   data   deskriptif   berupa   kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang atau perilaku yang dapat di amati.[1] Penelitian ini menggunakan pendekatan komparatif, yaitu membandingkan tiap tahapan pengelolaan zakat pada 5 Lembaga Zakat yang ada di Ponorogo. Pendekatan Komparatif dilakukan dengan cara menggali persamaan dan perbedaan, kelebihan dan kekurangan[2]  hal ini diharapkan mampu menjelaskan secara objektif segala permasalahan dalam penelitian, yaitu bagaimana strategi fundrising dalam peningkatan pengelolaan ZIS pada Lembaga-Lembaga Amil Zakat yang ada di Kabupaten Ponorogo.Dari pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa Strategi Fundraising dalam peningkatan pengelolaan ZIS pada LAZ-LAZ di Kabupaten Ponorogo, dapat di simpulkan sebagai berikut: LAZ Nasional mampu mengumpulkan dana yang lebih banyak dibandingkan dengan LAZ Lokal, bahkan ada LAZ Lokal yang mengalami penurunan dalam pengumpulannya. Dari data yang telah tersaji, bahwa semua itu dipengaruhi oleh beberapa hal :Brand Image lembaga yang bagus, yang memang secara tidak langsung mempengaruhi, sedikit banyaknya dana/daya yang dikumpulkan.Amil Profesional, masih banyak lembaga zakat (lokal) yang hanya mengandalkan pengumpulan dana zakat dengan sistem kepengurusan yang ada, padahal yang masuk dalam jajaran pengurus adalah mereka yang sangat sibuk dan punya pekerjaan di luar, sehingga dalam penggalangan dananya, tidak bisa bersifat fulltime, bahkan ada yang pendapatan dana zakatnya menurun karena amilnya  tidak mau bekerja lagi karena upah yang diterima dianggap tidak cukup. Sedangkan laz yang sifatnya Nasional, mereka mempunyai tim khusus dalam penggalian dana, yang para amil ini direkrut dengan khusus, baik dari sisi managemen maupun sisi attitude nya, yang berbasis pesantren, sehingga tidak mengurangi kinerja para amil, bisa fulltime bekerja, meski hak upah mereka sesuai dengan aturan syara, yaitu tidak lebih dari 1/8 bagian.Sistem managemen yang bagus, baik dalam hal strategi fundraising, keuangan maupun kinerja, ternyata sangat berpengaruh dalam sebuah organisasi. Banyak lembaga zakat yang hanya bekerja sambilan, tanpa managemen, baik dalam konteks pengumpulan maupun pendistribusian, maka hasilnya juga tidak maksimal. Sedangkan lembaga zakat yang bekerja dengan managemen yang bagus, maka hasilnya pun bagus dan memuaskan bahkan tetap bisa eksis di tengah persaingan yang luar biasa dengan semakin banyaknya lembaga zakat, khususnya di wilayah Ponorogo

    RESPONS NAHDLATUL ULAMA PONOROGO TERHADAP GERAKAN ISLAM FUNDAMENTALIS

    Full text link
    Penelitian ini ditujukan untuk mengungkap respons Nahdlatul Ulama Ponorogo terhadap dakwah dan ajaran dari gerakan Islam Fundamentalis. Gerakan Islam Fundamentalis dicirikan sebagai gerakangerakan Islam yang hendak kembali kepada pondasi dasar ajaran Islam dan tradisi kenabian dengan pemahaman terhadap teks yang cenderung harfiah, menonjolkan klaim kebenaran, mempertentangkan Islam dan NKRI, serta menyerang praktik-praktik keagamaan kalangan tradisionalis. Gerakan Islam fundamentalis tersebut sekarang mulai mengembangkan dakwah dan ajarannya di kantong-kantong Nahdlatul Ulama seperti di Ponorogo dan sekitarnya. Untuk menggali data, penulis melakukan wawancara dengan beberapa tokoh sentral NU Ponorogo dan studi terhadap beberapa dokumen serta literarur. Penelitian ini mendapati bahwa untuk merespons gerakan Islam fundamentalis, para kiai NU di bawah koordinasi Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Ponorogo, mendirikan Aswaja NU Center. Lembaga ini kemudian mengkoordinasi beberapa bentuk program dan kegiatan dalam rangka meng-counter gerakan Islam fundamentalis. Program tersebut adalah: 1) Dauroh Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah (Dakwah), 2) Kajian Islam Ahl al-Sunnah wa alJama’ah (Kiswah), 3) Usaha sosialisasi Islam Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah (Uswah), 4) Maktabah Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah (Makwah); dan 5) Bimbingan Islam Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah (Biswah)

    ISLAM MITOS INDONESIA (KAJIAN ANTROPOLOGI-SOSIOLOGI)

    Full text link
    The Muslims in Indonesia, they appreciate the tradition’s value so much, remarkably, the one which becomes the part of the religiousity practices and becomes one with it. Therefore, the Islamic religion manifestation in every community group is different, because of the tradition’s differences cover it; the position of tradition and the ancestors precepts which are placed equally with religion,it is toward the invisible matter or supernatural. Their exiatences are worshipped, honored, respected and even considdered cult, treated as the God in religion. Supernatural is often anthropomorphic, it means that the supernatural is often treated as the other creatures which have the ability and characters like human, animals, or plants. The community divinity concept and perception is not purely monotheism, but it is monopluralistic. Tradition which is accomodated by the in their religious practices is often connected to the myth existence in it. The myth truth is the community faith matter, emotion and mental. All of the religion processes related to doctrine, history and its development can not be separated from the existence of the myth, included religion which is claimed as the revelation religion. The myth element becomes very important in this contextual Islam, because the myth knowledge is considered as the holy story, the primordialic event about the universe genesis, the past time, and the other life. Frazer describes that the myth position in the community religion, is like the holy book in the modern religion. In every tribe and group who claim as Muslim, they have the myth practices which become the base in arrenging local Islamic practices. In the study of anthropology and sociology, the function and the role of myth, religion, and tradition can not be substancially distinguished, since everyone contains the invisible element. The myth as a story which is considered sacred as like the holy book which is able to describe the transendental primordial event. Myth is related to the traditional religion and the holy book is related to modern religion. The Sociology defines that myth is as the social stucture in creating the community condition. As a belief which is able to strengthen the community mystical side in order to be able to conserve the adhesive social values in the community

    RESILIENSI KELUARGA PADA PASANGAN USIA PARUH BAYA

    Full text link
    Usia paruh baya merupakan usia penuh tantangan sekaligus usia pencapaian puncak prestasi. Beberapa masalah yang dihadapi pasangan usia paruh baya seperti, pertengkaran suami istri, kenakalan anak, dan perdebatan siapa yang harus berperan di luar rumah seringkali mengakibatkan perceraian bagi pasangan yang tidak memiliki resiliensi keluarga. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengetahui peran pasangan usia paruh baya dalam meningkatkan resiliensi keluarga, dan (2) mengetahui faktor-faktor protektif yang mempengaruhi resiliensi keluarga pada pasangan usia paruh baya. Penelitian ini menggunakan pendekatan Kualitatif dengan jenis penelitian Studi Kasus. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara. Analisis datanya menggunakan langkah-langkah: (1) pengumpulan data (2) reduksi data, (3) penyajian data, dan (4) penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini adalah: (1) peran pasangan usia paruh baya dalam meningkatkan resiliensi keluarga adalah: a) bertanggungjawab atas ketenangan, keselamatan, dan kesejahteraan keluarga; b) mendidik anak dengan penuh rasa kasih sayang dan tanggung jawab; c) memberi kebebasan berpikir dan bertindak kepada istri sesuai dengan ajaran agama; dan d) penghubung intern keluarga dengan masyarakat atau dunia luar; (2) faktor-faktor protektif yang turut mempengaruhi peningkatan resiliensi keluarga adalah sebagai berikut: a). faktor internal, meliputi: pengamalan nilai-nilai agama, adanya komitmen, saling percaya, dan adanya komunikasi; dan b) faktor eksternal, meliputi: orang tua, santri, kepercayaan dari masyarakat, asisten rumah tangga, teman, dan kyai

    MOTHERHOOD SPIRITUNTUK KEDERMAWANAN SOSIAL DI MUSLIMAT NAHDLATUL ULAMA PONOROGO

    Full text link
    Tulisan ini mendeskripsikan pemahaman dan peran kaum ibu serta strategi yang dilakukan dalam pemberdayaan dan penguatan masyarakat. Kaum ibu diasumsikan sebagai pribadi yang hanya mengabdikan untuk keluarganya karena lebih fokus pada area reproduktif dan dimensi domestik. Asumsi tersebut tampak berbeda dengan aktivitas kaum ibu di Muslimat Nahdlatul Ulama Ponorogo. Dengan spirit motherhood, kaum ibu sudah mulai ikut berjuang, berkorban dalam melakukan pemberdayaan masyarakat. Kaum ibu di Muslimat NU Ponorogo lebih cenderung memaknai/memahami spirit motherhood sebagai landasan gerakan yang lebih banyak dalam konteks gerakan sosial kaum ibu seperti pendidikan, kesehatan, dan sosial keagamaan. Dari model dan ragam kegiatan yang dilakukan tampak bahwa Muslimat NU Ponorogo sudah beranjak dari motherhood biologis ke motherhood sosial, akan tetapi belum sampai ke arah motherhood politik. Dari hasil kajian tersebut tampak pula bahwa Muslimat NU dapat menjadi semacam institution by example, yaitu sebagai contoh organisasi perempuan yang bisa dijadikan pilot project dalam melakukan strategi pemberdayaan melalui filantropi sosialnya

    PENCITRAAN AMERICAN NIGHTMARE MELALUI PENGGUNAAN ARCHETYPEDAN LOOSE SENTENCE STRUCTUREDALAM “THE GREAT GATSBY” KARYA F. SCOTT. FIZGERALD

    Full text link
    Penelitian ini adalah penelitian stilistika yang mengkaji tentang penggunaan archetype dan loose sentence structure dalam membangun kesan mental pembaca tentang American Nightmare. Melalui penelitian ini, peneliti peneliti menggali pola-pola penggunaan archetype, loose sentence structure, serta konsep mental pembaca dalam memahami bacaan.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektifitas gaya penulisan Fizgerald dengan menggunakan ornamen berupa archetype, loose sentence structure guna membangun kesan mental pembaca tentang America Nightmare. Pendekatan penelitian ini adalah deskriptive kualitatif sedangkan desainnya adalah library research. Data yang digunakan adalah data primer berupa kutipankutipan yang dicari dari novel, selain itu juga data sekunder berupa referensireferensi pendukung. Peneliti juga menggunakan coding dalam proses koleksi data. Teknik ini digunakan untuk membantu peneliti dalam mengklasifikasikan data. Lebih lanjut, penelitian ini merupakan penelitian dokumentasi maka dalam analisis peneliti menggunakan pendekatan content analysis selain itu interactive analysis juga digunakan peneliti dalam tahap analisis data. Dalam penelitian ini diperoleh data sebagai berikut, 1.ditemukan data tentang penggunaan archetype sejumlah 851 data/ 70.79%; 2. ditemukan data tentang penggunaan loose sentence structure sejumlah 351 data/ 29.20 %; 3. ditemukan data tentang penggunaan archetype dan loose sentence structure secara bersamaan sejumlah 1202 data/ 100%. Sedangkan kesimpulan dari penelitian ini adalah:penggunaan kedua ornamen khususnya berupa archetype didukung juga oleh penggunaan loose sentence structure membuat kontek dari sebuah teks mudah dipahami, Kedua ornamen tersebut meminimalis kesulitan pembaca dalam berinteraksi dengan teks

    AN ANALYSIS OF DEPRESSION ON THE MAIN CHARACTER KYLE KINGSON ON THE BEASTLY FILM.

    Full text link
    This research is a literary criticism which uses psychological approach. It employs a literary criticism because the writer conducts discussion of literary works which is related with the personality of the main character in the Beastly film namely Kyle Kingson. The findings showed that there are five symptoms of depression from the main character Kyle Kingson namely, (1) feeling sad or unhappy, (2) loss of interest or pleasure daily activity that be loved before, (3) easy to be angry or easy to be offended, (4) difficult to take decision, less to concentrate, (5) feeling worthless, guilty and always thinking about past failures. Moreover, Kyle can solve his depression by himself and Zola and Will make Kyle confidence with his ugly face

    MODEL MANAJEMEN MUTU PEMBELAJARAN ENTREPRENUERSHIP BERBASIS SISTEM NILAI Studi Analisis Kualitatif di Pondok Pesantren Sidogiri Pasuruan Jawa Timur

    Full text link
    Realitas eksistensi pesantren itu semakin nyata pentingnya manakala melihat perkembangan pesantren di Indonesia saat ini, khususnya pesantren di wilayah Jawa Timur sebagai representasi ”˜induk semang’ lahirnya pondok pesantren di nusantara yang semakin pesat. Namun di tengah arus globalisasi yang begitu pesat ini, justru kondisi sebagian besar pesantren di Indonesia mengalami degradasi kualitas pembelajaran yang luar biasa, bahkan banyak yang ”˜gulung tikar’. Dalam konteks itulah, upaya mengembangkan model manajemen mutu pembelajaran entrepreneurship berbasis sistem nilai di sejumlah pesantren di Indonesia, menjadi sangat urgen sebagai upaya memunculkan prototipe ”˜pesantren nusantara masa depan’ yang lebih kokoh akan tradisi keilmuan, dan kewirausahaan (entrepreneurship) sekaligus yang ditopang oleh nilai-nilai keilmuan, profesionalitas dan kepesantrenan yang integratif, sehingga ke depan mampu menjadi pondok pesantren yang lebih kompetitif dalam percaturan dunia pendidikan global. Hasil penelitian ini menegaskan bahwa: (1). Sistem nilai yang dikembangkan oleh Pondok Pesantren Sidogiri Pasuruan dalam mendukung manajemen entreprenuershipnya mencakup 3 komponen yaitu: profesionalitas, keilmuan dan kepesantrenan; (2). Tingkat mutu pembelajaran entrepreneurshipnya dapat dikatakan sangat baik, karena didukung oleh nilai pembelajaran yang rata-rata tinggi dan stabil di antara para santri entreprenuernya, termasuk omzet 1.25 trilyun yang telah dihasilkannya; dan (3) Aplikasi model manajemen mutu pembelajaran entreprenuershipnya telah sesuai dengan prinsip manajemen mutu yang berbijak khususnya pada 3 aspek utama yaitu perencanaan mutu, pelaksanaan mutu dan evaluasi mutu pembelajaran entreprenuershipnya

    KEBIJAKAN PEMERINTAH TERKAIT HAK SIPIL PENGHAYAT KEPERCAYAAN DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PERKEMBANGAN PENGHAYAT KEPERCAYAAN DI PONOROGO

    Full text link
    Penelitian kualitatif ini menggunakan data dokumen (literatur) dan wawancara yang berkenaan dengan kebijakan pemerintah, Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa (terutama HPK Ponorogo), dan gambaran umum tentang Ponorogo yang menjadi lokasi penelitian. Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa mempunyai beberapa karakteristik, yakni berupaya melakukan pendekatan kepada Tuhan, bersifat akomodatif terhadap anasir dari kebudayaan spiritual lain, dan mengutamakan prinsip kerukunan. Eksistensinya di Indonesia tidak dapat dilepaskan dari peranan Mr. Wongsonegoro yang mengusulkan pencantuman kepercayaan dalam batang tubuh Undang-Undang Dasar 1945 pasal 29 pada tahun 1945. Secara umum, kebijakan pemerintah menekankan legalitas formal eksistensi Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa di Indonesia. Di antara kebijakan pemerintah era reformasi. Di antaranya ialah UU no: 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia, UU no: 12 tahun 2005 tentang Pengesahan Kovenan Internasional tentang Hak-Hak Sipil dan Politik, UU no: 23 tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan, Peraturan Pemerintah no: 37 tahun 2007 tentang Pelaksanaan UU no: 23 tahun 2006, Peraturan Presiden no: 25 tahun 2008 tentang Persyaratan dan Tata Cara Pendaftaran Penduduk dan Pencatatan Sipil, serta Peraturan Bersama Menteri Dalam Negeri dan Menteri Kebudayaan Pariwisata no: 43/41 tahun 2009 tentang Pedoman Pelayanan kepada Penghayat Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Kebijakan yang memberikan perlindungan hukum kepada para penghayat Kepercayaan itu berdampak signifikan dalam perkembangan HPK di Ponorogo. Hal itu terlihat dari pertambahan jumlah warga penghayat kepercayaan dalam HPK Ponorogo sejak pembentukannya tanggal 1 Oktober 2008 sampai sekarang. Selain itu, jumlah penghayat Kepercayaan yang tidak mengisi kolom agama di dokumen kependudukan juga semakin bertambah

    PREFERENSI WALI SANTRI DALAM MEMILIH PENDIDIKAN TINGKAT DASAR Studi Kasus Di Pondok Tahfidz Al-Qur’an AlMuqaddasah Nglumpang Mlarak Ponorogo

    Full text link
    Ketika menghadapi tahun ajaran baru, para wali disibukkan memilih sekolah sebagai jaminan masa depan anaknya. Mereka mencari sekolah yang bermutu, dan akhirnya lembaga pendidikan juga berlomba untuk membuat branding agar menjadi pilihan dengan menawarkan kompetensi, skill, pekerjaan, dan lain-lain. Bertolak belakang dengan fakta, Pondok alMuqaddasah yang memfokuskan pada pendidikan al-Qur’an, ternyata juga diminati oleh para wali. Berbalik antara data dan fakta, peneliti mengkaji faktor yang mempengaruhi preferensi wali dalam memilih pendidikan tingkat dasar melalui pertanyaan: (1) bagaimana persepsi wali santri terhadap pondok dan (2) faktor apa yang mempengaruhi dalam menentukan pilihan di pondok? Dengan pendekatan kualitatif, penelitian ini menyimpulkan sebagai berikut. Persepsi wali santri terhadap sistem maupun nilai pondok bahwa sistem pondok dipandang sebagai sesuatu yang strategis, berjalan di atas nilai yang hidup pada jiwa kiyai, guru, dan santri yang digerakkan oleh nilai keikhlasan dan semangat pengabdian. Adapun faktor dominan yang mempengaruhi wali santri dalam memilih Pondok al-Muqaddasah adalah pendidikan al-Qur’an. Motif ini didasarkan pada pergeseran kesadaran masyarakat terhadap pendidikan, yaitu peralihan orientasi kerja dari yang berorientasi kapital menuju kepada nilai spiritual. Pilihan sikap ini bagian dari aktualisasi diri para waliyang memiliki kematangan jiwa yang telah bergeser dari materi menuju meta-motivation

    202

    full texts

    229

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Kodifikasia : Jurnal Penelitian Islam
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇