17604 research outputs found
Sort by
ANALISIS KLASTER UNTUK MENGINDENTIFIKASIKAN KADAR FORMALIN BERBASIS BULBUS OLFACTORY ELECTRONIC (BOE)
Dalam beberapa tahun terakhir, perkembangan elctronic nose (e-nose) sangat berkembang, Electronic nose (e-nose) sendiri adalah sebuah instrument yang digunakan untuk mendeteksi bau atau aroma. Sistem ini dibangun atas sensor gas yang dikenal dengan sistem Bulbus Olfactory Electronic (BOE), karena e-nose mempunyai kemampuan meniru cara kerja penciuman manusia. Sensor gas sendiri merupakan salah satu dari banyak komponen yang meniru sistem kerja panca indra manusia yaitu hidung. Seperti layaknya hidung, sensor gas dapat merasakan suatu aroma dengan intensitas aroma (zat kimia) tersebut baik dalam udara bebas . Berbagai jenis sensor gas telah dikembangkan untuk dapat mendeteksi bermacam - macam senyawa kimia yang terdapat di udara bebas. Dan banyak peneliti yang memanfaatkan berbagai jenis sensor gas sebagai alat instrument pendeteksi aroma. Dari latar belakang diatas maka penulis akan merancang dan membuat sistem untuk robot e-nose yang dapat mengindentifikasi aroma formalin dengan kadar tertentu . Adapun sensor yang digunakan untuk penelitian ini adalah sensor gas. Sensor gas yang digunakan yaitu MQ2 dan MQ8. Pembacaan sensor gas digunakan untuk mengindentifikasi aroma formalin dengan kadar tertentu. Maka dengan ini penulis merancang dan membuat sistem serta mengambil judul tugas akhir. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan sebuah Bulbus Olfactory Electronic (BOE) yang diuji coba kepekaan sensor gas pada robot beroda. Modul BOE dirancang dengan menggunakan modul sensor Gas MQ 2 dan MQ 8 yang sudah teruji dalam penelitian sebelumnya untuk pendeteksian kadar formalin pada makanan. Dalam pengujian dilakukan dengan menggunakan pola data dari analisa klaster dan pengujian dilakukan ketika BOE dalam kondisi diam untuk mendeteksi aroma formalin(70%) dengan kadar campuran tertentu. Berdasarkan hasil perancangan dan pengujian pada penelitian ini, sensor MQ 8 dan MQ 2 dapat merespon aroma formalin yang memiliki kadar campuran tertentu dengan persentasi perbandingan air dan formalin(70%). Berdasarkan percobaan, diketahui, bahwa robot dalam keadaan bergerak hanya mampu mengenali kadar formalin 100%. Untuk cairan dengan kadar formalin 50% tidak dapat dikenali oleh robot
SIMULASI DAN PEMODELAN SISTEM PEMBANGKIT LISTRIK HIBRIDA TENAGA SURYA DAN TENAGA DIESEL DENGAN MATLAB SIMULINK
Sistem pembangkit listrik terbarukan maupun tidak terbarukan mempunyai banyak masalah dan untuk mengatasi permasalahan tersebut, diperlukan suatu alternatif untuk mengurangi maupun meminimalisir permasalahan tersebut. Teknik yang bisa digunakan adalah teknik hibrida yaitu menggabungkan beberapa jenis pembangkit listrik, seperti pembangkit energi surya dan diesel. Pemodelan sistem pembangkit hibrida yang berguna untuk dijadikan miniatur sebagai contoh sebuah pembangkit hibrida. Dalam pemodelan pengujian juga sangat penting agar simulasi dari sistem pembangkit hibrida sel surya dan diesel ini performanya seperti yang diinginkan. Agar tujuan untuk bisa mengatasi masalah dari sistem pembangkit energi baru terbarukan dan juga diesel dapat tercapai. Pemodelan dan simulasi tersebut bisa digunakan sebagai alat bantu dalam merancang, membangun dan menganalisa sistem pembangkit energi hibrida surya dan diesel. Sistem hibrida menggabungkan dua pembangkit yaitu panel surya dan diesel generator dimana untuk panel surya keluarannya dinaikkan tegangannya menggunakan boost konverter dan untuk merubah keluaran panel surya dari DC menjadi AC keluaran boost konverter dirubah menggunakan inverter kemudian dinaikan tegangannya menggunakan trafo step up dan untuk pembangkit diesel generator dimana keluaran diesel generator dinaikan tegangannya menggunakan trafo step up kemudian tiap tiap fasa dihubungkan ke grid. Pemodelan dan simulasi sistem hibrida untuk panel surya tanpa menggunakan boost konverter tidak memenuhi syarat masuk ke grid. Untuk panel surya menggunakan boost konverter memenuhi syarat masuk ke grid. Pembangkit diesel generator 10KVA 1500 Rpm memenuhi syarat masuk ke grid
PENGATUR GERAKAN CRANE SECARA NIRKABEL
Berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini semakin banyak memberikan kemudahan dalam kehidupan manusia. Dimana banyak diterapkan ilmu pengetahuan dan teknologi baik mesin ataupun elektronik, sehingga pekerjaan manusia dapat dikerjakan dengan mudah tanpa harus membuang tenaga dan mempersingkat waktu. Melihat kemungkinan dan kenyataan yang ada, maka dibuatlah suatu alat yang dapat digunakan untuk menggantikan pekerjaan manusia untuk mengoperasikan crane dari jarak jauh. Tugas Akhir ini menjabarkan tentang pembuatan alat penggerak crane dengan menggunakan remote control sebagai pengendalinya. Tujuan utama dari dibuatnya alat ini adalah untuk membuat suatu perangkat yang dapat berfungsi untuk mempermudah kegiatan atau pekerjaan manusia dalam hal mengoperasikan crane dari jarak jauh. Seluruh gerakan dari perangkat ini dapat dikendalikan oleh sebuah pengendali jarak jauh yang menggunakan gelombang radio dengan frekuensi sebesar 315 MHz sebagai frekuensi pembawa data yang akan diterima oleh receiver yang terhubung dengan mikrokontroler pada bagian tuas crane. Sebagai perangkat penggerak crane, digunakan transmitter untuk mengirimkan data ke receiver yang telah terhubung dengan mikrokontroler dan motor DC sebagai pengatur gerakan. Dari hasil pengujian dan pengambilan data pada alat, pintu gerbang dapat membuka dan menutup secara otomatis dengan menggunakan pengendali remote control. Oleh karena itu, remote control dan mekanismenya diharapkan dapat diaplikasikan untuk mengoperasikan gerakan crane secara otomatis dan dapat melengkapi kebutuhan manusia akan fasilitas kenyamanan dan kemudahan dalam mengoperasikan crane tersebut dari jarak jauh
ELIMINASI PEMBOROSAN PADA PROSES PRODUKSI GULA KRISTAL PUTIH (GKP) DI PT. GENDHIS MULTI MANIS MENGGUNAKAN VALUE STREAM MAPPING (VSM)
PT Gendhis Multi Manis mempunyai visi ingin menjadi perusahaan gula nasional terbaik yang mampu menjadi model percontohan dalam industri pergulaan nasional. Namun kondisi aktualnya waktu produksi Gula Kristal Putih adalah 2,79 hari, lebih lama dari standar perusahaan yaitu 2 hari. Tujuan dari penelitian dengan menggunakan tools value stream mapping adalah mengetahui value added dan non-value added dan jenis-jenis pemborosan pada sepanjang current state map kemudian dilakukan perumusan alternatif perbaikan dan hasil perbaikan tersebut dipetakan kedalam future state map. Dari hasil analisa current state map, terdapat pemborosan tipe one waste berupa pendampingan pekerja, dan tipe two waste berupa waktu menunggu bahan dari evaporator, kelebihan 1 orang tenaga kerja pemasangan pengaman tipper, gerakan tidak perlu operator tipper, kelebihan inventori sisa pagi 50-70%, pengulangan aktifitas material handling, dan defect colour GKP lebih dari 300 dan bag gula pecah. Alternatif perbaikan subtitusi bahan menjadi 60% CaO dan 40% MgO, pengurangan 1 tenaga kerja di bagian tipper, penambahan alat gerobak sorong. Ada reduksi total waktu setelah perbaikan pada future state map yaitu dari 240858,72 menjadi 236830,81 detik atau 65,78 jam atau kurang lebih 2,74 hari
TINJAUAN PELEPASAN INFORMASI MEDIS UNTUK KEPERLUAN VISUM ET REPERTUM DILIHAT DARI STANDAR OPRASIONAL PROSEDUR DAN HUKUM KESEHATAN YANG ADA DIRUMAH SAKIT UMUM DAERAH DR.REHATTA KELET KABUPATEN JEPARA TAHUN 2017
RSUD Dr.Rehatta Kelet Kabupaten Jepara merupakan rumah sakit tipe C dimana Unit Rekam Medisnya, melayani pelepasan informasi medis pasien keperluan visum et repertum untuk pembuktian tindak pidana dipengadilan. Pelayanan pelepasan informasi medis pasien diatur dalam SOP (445/484/2005/RevII) tapi untuk keperluan visum et repertum belum ada SOPnya secara spesifik padahal dengan SOP dapat digunakan untuk mengevaluasi mutu pelayanan, supaya tidak terjadi kesalahan dalam proses pelayanan. Pengetahuan petugas dan pasien kurang tentang tata cara pelepasan informasi keperluan visum et repertum. Jenis penelitian adalah deskriptif dengan metode survei dan pendekatan retrospektif. Populasi adalah data permintaan visum et repertum ditahun 2016 berdasarkan observasi data. Dari hasil penelitian menunjukkan sudah ada Standar Operasional Prosedur pelepasan dokumen. Tapi Belum ada standar oprasional prosedur keperluan visum et repertum. Dari populasi 17 data permintaan visum, telah dilaksanakan sesuai pemberitahuan dari koordinator pengolahan data namun tidak sesuai dengan teori. Petugas tidak mengetahui pangkat anggota kepolisian yang tertera dalam surat permonan visum dan sebanyak 65% pasien belum mendapatkan informasi keperluan visum dari unit rekam medis. Disarankan pembuatan Standar Operasional Prosedur untuk keperluan visum et repertum, mutu pelayanan yang lebih baik, dan pemberitahuan kepada pasien dalam bentuk selebaran di papan informasi atau informasi langsung untuk pasien tentang tata cara pelaksanaan pemintaan visum et repertum
ANALISIS RISIKO KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA PADA PETUGAS KEBERSIHAN RUMAH SAKIT UMUM DAERAH TUGUREJO SEMARANG TAHUN 2017
Setiap pekerjaan memiliki risiko yang berbeda-beda, sesuai dengan karakteristik pekerjaan itu sendiri. Bekerja di rumah sakit dapat menimbulkan risiko untuk tertular penyakit dari pasien. Risiko ini tidak hanya berpotensi bagi tenaga medis saja, namun juga terhadap tenaga non medis seperti petugas kebersihan. Saat bekerja risiko yang selalu dihadapi oleh petugas kebersihan adalah terpapar faktor bilogi dan terpapar bahan kimia atau obat pembersih. Hal ini akan dapat mengganggu keselamatan dan kesehatan kerja petugas kebersihan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis risiko keselamatan dan kesehatan kerja apa saja yang dapat terjadi pada petugas kebersihan di RSUD Tugurejo Semarang. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik dengan desain studi menggunakan AS/NZS 4360:1999. Identifikasi risiko menggunakan JSA (Job Safety Analysis), pengambilan data dilakukan dengan cara observasional dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa risiko yang dihadapi petugas kebersihan adalah risiko terpapar kuman, bakteri dan virus dan terpapar obat kemoterapi risiko ini termasuk dalam high risk (36,6%). Risiko tertusuk jarum suntik atau tergores benda tajam, terpeleset atau jatuh karena lantai licin, gangguan muskuloskeletal, terjatuh dari tangga, dan tersengat listrik merupakan risiko dengan tingkatan moderate risk (45,1%). Risiko alergi atau iritasi terhadap penggunaan bahan kimia merupakan risiko dengan tingkatan low risk (18,3%). Untuk mengendalikan risiko tersebut, disarankan kepada petugas kebersihan agar selalu menggunakan alat pelindung diri yang baik dan benar dimana pun dan kapan pun saat melakukan pekerjaan. Karena paparan debu, kuman, bakteri dan virus tidak terlihat dan dapat menempel dimana saja. Selain itu juga sebaiknya dilakukan evaluasi tentang jenis APD yang digunakan petugas kebersihan, terutama mengenai kesesuaian jenis APD dengan pekerjaan yang dilakukan. Seperti penggunaan sarung tangan saat membersihkan kaca, steinless, dan membuang sampah sebaiknya menggunakan sarung tangan yang tebal dan tidak mudah sobek
FAKTOR-FAKTOR RISIKO KEJADIAN PENYAKIT JANTUNG KORONER (PJK) PADA WANITA USIA >= 40 TAHUN DI RSUD TUGUREJO SEMARANG TAHUN 2016
PROGRAM STUDI S1 KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KESEHATAN UNIVERSITAS DAIN NUSWANTORO SEMARANG 2017 ABSTRAK ISTIQOMAH FAKTOR-FAKTOR RISIKO KEJADIAN PENYAKIT JANTUNG KORONER (PJK) PADA WANITA USIA ? 40 TAHUN DI RSUD TUGUREJO SEMARANG TAHUN 2016. xii + 67 halaman + 12 tabel + 4 gambar + 12 lampiran Penyakit jantung koroner terjadi akibat adanya penyempitan arteri koroner. Penyempitan terjadi karena adanya endapan kolesterol dan lemak sehingga menyebabkan suplai darah ke jantung terganggu. Penyakit kardiovaskular yang selalu menempati urutan paling tinggi yaitu PJK. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor risiko kejadian penyakit jantung koroner (PJK) pada wanita usia ? 40 tahun di RSUD Tugurejo Semarang tahun 2016. Sampel penelitian ini yaitu berjumlah 76 pasien yang terdiri dari 38 kasus dan 38 kontrol. Jenis penelitian ini adalah analitik kuantitatif dengan pendekatan case control. Penelitian ini dilakukan dengan mengambil data sekunder pada rekam medis RSUD Tugurejo Semarang. Data dianalisa menggunakan uji statistik chi-square dan odds ratio. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan antara diabetes melitus (p=0,629 ), hipertensi (p= 0,163), dislipidemia (p=0,260), kadar trigliserida (p=0,493), obesitas (p= 1,000) dengan kejadian PJK. Saran untuk peneliti selanjutnya diharapkan dapat eksplorasi dengan data primer sehingga bisa meneliti faktor risiko PJK yang berhubungan dengan perilaku pada wanita seperti olahraga, menopause, paparan asap rokok orang lain dan fakor risiko PJK lainnya
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PERILAKU ANTE NATAL CARE (ANC) PADA IBU HAMIL DI PUSKESMAS TLOGOSARI KULON TAHUN 2017
Kurangnya pengetahuan ibu terhadap pemeriksaan ANC (Ante Natal Care) untuk melihat riwayat penyakit menular atau tidak menular sehingga menyebabkan faktor risiko tinggi pada ibu hamil. Penyebab kematian ibu tertinggi yaitu karena tumor otak, kanker tulang, kanker getah bening, penyakit jantung bawaan (PJB), kanker mamae dan AIDS. Tujuan adanya penelitian ini untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku ante natal care pada ibu hamil. Jenis penelitian ini menggunakan pendekatan Cross Sectional dengan metode kuantitatif dengan instrumen kuesioner dan wawancara yang digunakan untuk uji faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku ante natal care dengan jumlah populasi 292 dan data yang diambil sejumlah 88 ibu hamil. Analisis data menggunakan uji Fisher Exact Test. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara umur (p=1,000), pendidikan (p=0,589), jumlah anak (p=0,179), peristiwa pada kehamilan lalu (p=1,000), saran petugas kesehatan (p=0,342), persepsi (p=0,251) dengan perilaku ante natal care dan terdapat hubungan yang signifikan antara keadaan kesehatan (p=0,044). Kebanyakan ibu hamil sudah sesuai dalam melakukan pemeriksaan kehamilan dari trimester ke-1 sampai trimester ke-4. Ibu hamil melakukan pemeriksaan setiap bulan agar menjaga kehamilan dan dapat mendeteksi risiko dini terhadap kehamilan. Bagi petugas kesehatan dapat memberikan materi atau memberikan penyuluhan mengenai pemeriksaan kehamilan agar ibu hamil dapat melakukan pemeriksaan secara rutin dan mendeteksi dini risiko terhadap kehamilan
Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Pemilihan Penolong Persalinan oleh Ibu Hamil di Wilayah Kerja Puskesmas Tlogosari Kulon Semarang Tahun 2017
Data dari Dinas Kesehatan Kota Semarang menunjukkan bahwa cakupan ibu yang ditolong oleh tenaga kesehatan profesional di Kota Semarang Tahun 2015 sebanyak (95,5%) dari 28.149 jumlah persalinan. Pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan di wilayah kerja Puskesmas Tlogosari Kulon adalah sebanyak 5,28% pada tahun 2016. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan antara beberapa faktor dengan pemilihan penolong persalinan oleh tenaga kesehatan di wilayah kerja puskesmas Tlogosari Kulon Semarang tahun 2017. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian Explanatory Research dan metode yang digunakan adalah survey secara langsung dengan pendekatan Cross sectional. Jumlah sampel yang diteliti sebanyak 42 ibu hamil dengan menggunakan teknik Accidental sampling. Instrumen penelitian yang digunakan yaitu kuesioner. Uji statistik untuk mengetahui ada hubungan menggunakan uji Chi Square. Hasil penelitian menunjukkan responden yang memilih persalinan oleh bidan berpendapat bahwa akses pelayanan pertolongan persalinan yang kurang baik (71,4%), responden yang memilih persalinan oleh bidan dengan perilaku petugas kesehatan sebagai akses informasi yang baik (81,8%), dan responden yang memilih persalinan oleh bidan dengan dukungan psikososial ibu hamil yang kurang baik (77,8%). Tidak ada hubungan antara faktor akses pada pelayanan pertolongan persalinan , perilaku petugas kesehatan sebagai akses informasi, dan dukungan psikososial ibu hamil dengan pemilihan tempat penolong persalinan. Disarankan agar petugas kesehatan dapat meningkatkan sosialisasi mengenai jenis – jenis penolong persalinan melalui kaflet, spanduk, iklan layanan masyarakat, dan agar lebih memperhatikan kondisi ibu hamil dengan memberikan pendampingan dan pengawasan langsung secara rutin dengan cara mengaktifkan posyandu. Serta agar suami sebagai faktor pendukung terbesar agar memberikan dukungan yang dapat menunjang ibu hamil dalam memilih penolong persalina
ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN BAYI BERAT LAHIR RENDAH (BBLR) BERBASIS DATA REKAM MEDIK DI RSUD K.R.M.T WONGSONEGORO SEMARANG PERIODE JULI – DESEMBER TAHUN 2016
PROGRAM STUDI S1 KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KESEHATAN UNIVERSITAS DIAN NUSWANTORO SEMARANG 2017 ABSTRAK AGENG BAGAS NOVANTORO Analisis Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) Berbasis Data Rekam Medik Di RSUD K.R.M.T Wongsonegoro Semarang Periode Juli - Desember Tahun 2016 xv + 45 Hal + 14 Tabel + 4 Lampiran Latar belakang penelitian ini adalah meningkatnya trend kejadian Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR) di RSUD K.R.M.T Wongsonegoro setiap tahunnya. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis hubungan antara umur ibu, paritas, kehamilan kembar, usia kehamilan dan anemia dengan kejadian BBLR di RSUD K.R.M.T Wongsonegoro Semarang pada bulan Juli – Dsember 2016. Penelitian ini mempunyai sifat analitik kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Jenis penelitian adalah retrospektif. Dengan total sampel yaitu sejumlah 258 ibu yang melahirkan bayi dengan berat kurang dari 2500 gram. Pengumpulan data menggunakan checklist yang diambil dari berkas rekam medis. Analisis data menggunakan analisis univariat dan analisis bivariat dengan uji chi square dari aplikasi SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil uji menunjukkan nilai P-value adalah P=0,000 untuk semua variabel yaitu variabel umur, paritas, kehamilan ganda, usia kehamilan dan anemia mempunyai hubungan yang signifikan dengan kejadian BBLR. Kelompok kehamilan ganda mempunyai hubungan yang paling besar terhadap kejadian BBLR. Saran bagi RSUD K.R.M.T Wongsonegoro diharapkan hasil penelitian ini dapat memberikan informasi dan konseling kepada ibu tentang faktor faktor yang berhubungan dengan BBLR sehingga kejadian BBLR dapat diantisipasi sedini mungkin. Kata kunci : BBLR, umur ibu hamil, paritas, kehamilan ganda, usia kehamilan, anemia, RSUD K.R.M.T Wongsonegoro Kepustakaan : 21 Buah, 1997-201