402 research outputs found

    MP-15 Characterization of Infectious Bursal Disease Isolate with Propagation in Chicken Embryonated Eggs and Molecular Biology

    Get PDF
    Infectious Bursal Disease (IBD), also known as Gumboro disease is one that has an adverse economic effect. This disease is a threat to the poultry industry (Mueller, 2003). Deaths in chickens caused by IBD can even reach 100%. Outbreaks remain widespread despite vaccination programmes (Soedoedono, 2001). In Indonesia, the IBD disease is the cause of high death rates in poultry from the very virulent IBD (vvIBD) throughout the year 2014. Prevention of the disease can be done through vaccination. However, a tight vaccination programme so not ensure the safety of poultry from IBD. Therefore, there is a need for a vaccine strain to be suitable with those in the field. This can be accomplished with collecting virus isolates from the field and identifying the suitable vaccine strain. The purpose of this research is to characterize virus IBD isolates through propagation in embryonated chicken eggs. In addition, molecular methods will be used from PCR to identification with sequencing

    AEVI-6 Investigasi Outbreak Bovine Bruselosis pada Peternakan PT. X di Kabupaten Kampar dan Kabupaten Siak Tahun 2018

    Get PDF
    Bruselosis adalah penyakit hewan menular yang secara primer menyerang sapi, kambing, babi dan sekunder menyerang berbagai jenis hewan lainnya serta manusia. Pada sapi penyakit ini dikenal pula sebagai penyakit keluron menular atau penyakit Bang (Bang disease) (Anonimus, 2014). Provinsi Riau dinyatakan bebas bruselosis berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian Nomor : 2541/Kpts/PD.610/6/2009 Tentang Pernyataan Provinsi Sumatera Barat, Riau, Jambi dan Kepulauan Riau Bebas dari Penyakit Hewan Keluron Menular (Brucellosis) pada Sapi dan Kerbau.PT. X adalah sebuah perusahaan sawit yang berada di dua lokasi yaitu di Desa Bina Baru Kabupaten Kampar dan Desa Libo Jaya Kabupaten Siak. Di kedua lokasi perusahaan tersebut terdapat peternakan sapi yang dikelola oleh 1 orang manajer peternakan dan 1 orang petugas kesehatan hewan yang bertanggung jawab untuk kedua peternakan, dibantu oleh pekerja kendang pada setiap peternakan. Pada akhir Maret 2018 telah dilakukan uji RBT terhadap sampel dari peternakan PT. X Desa Bina Baru yang diperoleh hasil positif.Tujuan kegiatan adalah melakukan (1) penelusuran terhadap hasil pengujian positif (+) RBT sampel yang diuji di laboratorium UPT Rumah Sakit Hewan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Riau, (2) mencari sumber penularan dan faktor risiko masuknya bruselosis ke Kabupaten Kampar, (3) untuk mengidentifikasi pola penyebaran bruselosis di Kabupaten Kampar, (4) memberikan rekomendasi pengendalian outbreak

    AEVI-21 Investigasi Outbreak Anthrax di Kecamatan Girimulyo Kabupaten Kulon Progo pada Tahun 2017

    Get PDF
    Anthrax merupakan penyakit yang disebabkan oleh Bacillus anthracis. Penyakit anthrax merupakan peyakit Zoonosis. Kuman Anthrax yang jatuh di tanah, pada kondisi lingkungan yang kurang baik akan membentuk spora. Spora anthrax ini tahan hidup 15 sampai 20 tahun bahkan di laboratorium bisa tahan hidup 50 tahun (Akoso, 2009), sehingga menjadi sumber penularan bagi manusia atau hewan.Penyakit anthrax secara geografis telah menyebar di seluruh dunia dari benua Afrika, Asia, Eropa, Amerika dan Australia. Kejadian penyakit anthrax di Indonesia sudah sejak jaman penjajahan Belanda, tepatnya pada tahun 1884 di daerah Teluk Betung Lampung. Penyakit ini kemudian menyebar hampir ke seluruh wilayah Indonesia, sampai bulan Oktober 2016 kejadian anthrax di Indonesia telah terjadi pada 22 provinsi sedangkan provinsi yang bebas anthrax sejumlah 7 provinsi (Kementerian Pertanian, 2016)

    KIVFA-5 Analisis Manfaat Biaya Pengendalian dan Pemberantasan Hog Cholera di Provinsi Nusa Tenggara Timur

    Get PDF
    Hog cholera masih merupakan ancaman bagi kelangsungan produksi ternak babi di provinsi Nusa Tenggara Timur. Paling kurang 10,000 ekor ternak babi mati karena Hog Cholera pada tahun 2017. Wabah ini memberikan dampak ekonomi yang signifikan bagi peternak dan pemerintah daerah. Hal ini mendorong pemerintah menetapkan Penyakit hog cholera sebagai salah satu penyakit strategies yang mendapat prioritas dalam pemberantasanya (Peraturan Dirjen Peternakan No. 59/Kpts/PD610/05/2007). Pemerintah melalui Kementerian Pertanian telah mengambil langkah-langkah konkrit dalam mengendalikan dan memberantas penyakit hog cholera antara lain vaksinasi, stamping out policy, biosekuriti dan pengetatan lalu lintas ternak. Pemberantasan hog cholera pada ternak babi melalui vaksinasi massal telah dilakukan di seluruh daerah endemik hog cholera di Indoensia. Walaupun pemberian vaksin pada ternak telah terbukti mampu menurunkan kasus hog cholera pada ternak babi (Ahrens et al., 2000; Bouma et al, 2000; 1999; de Smit et al 2001) namun cakupan vaksinasi pada populasi ternak babi di Indonesia umumnya dan NTT khususnya masih sangat rendah. Salah satu faktor pemicu rendahnya cakupan vaksinasi adalah kurangnya pemahaman masyarakat terutama pemilik ternak terkait akan biaya dan manfaat program vaksinasi hog cholera. Oleh karena itu analisis manfaat biaya investasi pada program vaksinasi hog cholera perlu dilakukan sebagai acuan dalam menyusun rencana strategis pengendalian dan pemberantasan hog cholera dimasa yang akan datang

    PF-22 Reproductive Disorder in Cows: Data Analisys of UPSUS SIWAB in Lima Puluh Kota District, 2017

    Get PDF
    The Ministry of Agriculture has declared Upaya Khusus Sapi Indukan Wajib Bunting (Upsus Siwab) to optimizing the potential of breeding cows and increase population (Ministry of Agriculture 2016). The success of Upsus Siwab program depends on a number of areas, namely land availability, decreased reproductive disorder, availability of frozen semen, availability of liquid N2, competent inseminator, and rescue of productive females (Ministry of Agriculture 2016). Animal health plays an important role in supporting the success of population increase [1], so that reproduction disorder activities are among the activities that contribute to the success of the Upsus Siwab program.                The implementation of reproductive disorder in Upsus Siwab is reported through the Integrated National Animal Health Information System (ISIKHNAS). The data can be a source of information to assess the performance results of animal health officers and to know the proportion of cured and pregnant cows after reproductive disorders are handled.                This paper aims to study the incidence of reproductive disorders on cows in Lima Puluh Kota District in 2017. The results of these studies are expected to serve as a basis for policy making for subsequent activities

    KIVPU-1 Tren Hasil Pengujian Residu Antibiotik pada Daging Ayam di Indonesia Tahun 2015-2017

    Get PDF
    Keamanan pangan merupakan salah satu isu yang sedang berkembang di Indonesia, terutama terkait pangan asal hewan. Hal ini dikarenakan banyaknya masyarakat yang mulai memahami pentingnya mengonsumsi bahan pangan yang berkualitas baik secara fisik maupun non fisik. Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan, keamanan pangan adalah kondisi dan upaya yang diperlukan untuk mencegah pangan dari kemungkinan cemaran biologis, kimia, dan benda lain yang dapat mengganggu, merugikan, dan membahayakan kesehatan manusia serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinan, dan budaya masyarakat sehingga aman untuk dikonsumsi [1].Balai Pengujian Mutu dan Sertifikasi Produk Hewan (BPMSPH) sebagai unit pelaksana teknis Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian memiliki tugas dan fungsi untuk melaksanakan pemeriksaan, pengujian, dan sertifikasi keamanan, dan mutu produk hewan.  Setiap tahunnya, BPMSPH melakukan monitoring dan surveilans terhadap produk hewan yang beredar di Indonesia melalui pemeriksaan dan pengujian pada sampel produk hewan untuk memastikan bahwa produk hewan yang beredar di Indonesia aman, sehat, utuh, dan halal (ASUH). Adapun salah satu pengujian yang dilakukan adalah pengujian terhadap residu antibiotik yang terkandung pada produk pangan asal hewan. Tujuan dari penulisan ini adalah untuk menggambarkan tren hasil uji positif residu antibiotik pada sampel daging ayam yang beredar di wilayah Indonesia selama tahun 2015 sampai dengan tahun 2017

    KIVSA-1 Framework Evaluasi Titer Antibodi Rabies

    Get PDF
    Rabies atau lebih dikenal sebagai penyakit anjing gila masih menjadi salah satu masalah kesehatan di Indonesia pada umumnya dan Pulau Flores khususnya. Menurut data kementerian kesehatan, di Flores, kasus rabies dilaporkan ada di 6 kabupaten dengan jumlah kasus gigitan anjing rabies sebanyak 2000 orang setiap tahun dan 10 orang diantara meninggal dunia. Langkah efektif mencegah rabies pada manusia adalah vaksinasi populasi anjing dengan cakupan 70% (WHO, 2013). Namun seringkali ditemukan dilapangan kasus rabies pada anjing yang sudah divaksinasi. Hal ini disebabkan oleh gagalnya sistem imun anjing membentuk kekebalan yang mampu melawan virus rabies (≥ 0.5 IU/ml) (WHO, 2012). Beberapa faktor potensial penentu dalam proses pembentukan kekebalan seperti ras, umur, jenis kelamin, status vaksinasi, waktu penggambilan darah setelah vaksinasi dan jenis vaksin yang digunakan (Mansfield, et. al., 2004). Kegagalan anjing membentuk kekebalan pasca vaksinasi akan sangat berbahaya bagi kesehatan manusia sebab 98% kasus rabies pada manusia ditularkan oleh anjing (WHO, 2013).Penelitian-penelitian terdahulu terkait respon kekebalan anjing pasca vaksinasi masih sangat terbatas pada daerah perkotaan negara-negara maju (Mansfield, et. al., 2004; Kennedy et al., 2007; Minke et al., 2008; Jakel et al, 2008) yang mana sistem pemeliharaan anjing sangat berbeda dengan situasi di daerah pedesaan negara berkembang seperti Indonesia. Sebagai contoh, di negara maju anjing umumnya mendapat tempat yang layak dalam rumah sebagai bagian dari keluarga. Sebaliknya di negara yang sedang berkembang terutama di daerah pedesaan anjing dibiarkan berkeliaran baik siang maupun malam hari. Sebagai kosekuensi status gizi anjing dan status kekebalan anjing terhadap penyakit rabies juga akan berbeda dengan sistem pemeliharaan yang berbeda. Vaksinasi pada anjing merupakan langkah utama pencegahan penularan rabies kepada manusia, namun kajian terkait respon kekebalan anjing yang divaksinasi belum pernah dilakukan di Pulau Flores.Untuk mendukung pengembangan strategi pemberantasan rabies yang efektif dan efisien dibutuhkan data lapangan yang akurat antara lain data titer kekebalan pasca vaksinasi. Pengukuran titer kekebalan harus dilakukan secara berseri/berulang, misalnya hari ke-0, 30, 90, 180, dan 360 paska vaksinasi. Hal ini dilakukan untuk melihat trend pembentukan kekebalan tubuh anjing paska vaksiansi. Data yang terkumpul akan di jadikan input terkait waktu yang tepat dalam melakukan vaksinasi ulang (booster)

    KIVSA-4 Identifikasi Klinis Kristaluria pada Kasus Feline Lower Urinary Track Disease (FLUTD) di Klinik Hewan Maximus Pet Care

    Get PDF
    Feline lower urinary tract disease (FLUTD) terjadi karena adanya disfungsi dari kantung kemih maupun uretra pada kucing.  Salah satu simptom dari FLUTD yaitu polakiuria tanpa disertai poliuria, adanya stranguria dan hematuria (Gunn-Moore 2003; Westroop dan Buffington 2010).  Menurut Hostutler et al. (2005), hampir kebanyakan kucing yang mengalami LUTD terjadi karena terjadinya feline idiopathic, interstitial cystitis, urolitiasis, infeksi bakterial pada saluran urinari, malformasi anatomi saluran urinari, neoplasia, behavioral disorder, dan gangguan syaraf seperti refleks dysnergia.  Seperti yang dilaporkan Dorsch et al. (2014), dari 302 ekor kucing yang mengalami LUTD terdapat feline idiopathic cystitis (FIC) (55%), infeksi bakterial saluran urinari (18,9%), uretral plug (10,3%) dan urolithiasis (7%).  Kojrys et al. (2017) juga melaporkan 385 kucing yang mengalami LUTD terdapat 60,7% mengalami FIC, 17,4% obstruksi uretra akibat plug, 7,8% infeksi bakterial saluran urinari, 13% mengalami urolitiasis, 1 % terjadinya hiperplasia.Hampir sebagian besar kejadian LUTD diikuti dengan adanya obstruksi.  Menurut laporan Kojrys et al. (2017), FLUTD diikuti terjadi obstruksi uretra pada 229 kucing.  Umumnya obstruksi ini terjadi pada kucing jantan (204 ekor) dan hanya terdapat 25 ekor terjadi pada kucing betina.  Obstruksi ini biasanya terjadi pada kasus FIC yakni 129 ekor dan 67 ekor mengalami urolitiasis.  Menurut Osborne dan Lulich (2006), jenis kristal urin yang sering ditemukan pada kasus urolitiasis seperti struvit, kalsium oksalat, urat, sistin ataupun campuran.  Studi ini dilakukan untuk mengetahui karakteristik kristalurin yang terjadi pada 13 ekor kucing yang mengalami LUTD

    SA-5 Case report: Mammary Gland Tubulocarcinoma on Dog Miniature Dachshund at Animal Hospital University of Brawijaya Indonesia

    Get PDF
    In 1 study of 2000 dogs In America, 23% were found to have died due to cancer [1]. Mammary tumors are one of the most common neoplasms of female dogs [2]. This tumor mainly affects middle-aged dogs (9 to 11 years), with an increased incidence that begins at about 6 years old [3]. Sex steroid hormones are thought to have a major role during the early stages of carcinogenesis due to the presence of estrogen and progesterone receptors in higher proportions in most mammary tumours. [3,4]. In addition to hormonal influences, the use of products containing medroxyprogesterone acetate (progestin and estrogen combinations) to prevent estrus in dogs is also associated with an increased incidence of mammary tumors [5]. Mammary tumors can interfere with the physiological appearance and physiological function of the body. This report aims to describe cases of mammary tumors in dogs supported by hematology laboratory examination, blood biochemistry, cytology and histopathology

    KIVP-4 Studi Kasus: Babesiosis pada Anjing Doberman (Borna)

    Get PDF
    Kejadian babesiosis pada anjing umumnya disebabkan oleh Babesia canis  dan Babesia gibsoni. Babesia canis memiliki ukuran yg lebih besar dibandingkan dengan Babesia gibsoni. Babesia canis memiliki ukuran 4 – 5 um, sedangkan  Babesia gibsoni memiliki ukuran 1 – 3 um (Zajac & Conboy, 2011). Babesia sp menginfeksi anjing dalam bentuk sporozoid yang terdapat dalam saliva caplak ketika caplak menggigit inang. Sporozoid akan berpenetrasi dalam RBC dan akan mengalami fase parasitic dalam RBC. Sporozoid yg telah masuk dalam RBC disebut tropozoid. Tropozoid dalam RBC akan mengalami pembelahan biner menjadi merozoid. Bersamaan dengan lisis eritrosit, merozoit akan menginfeksi eritrosit yg lainnya (Chauvin et al. 2009).Gejala klinis yg muncul akibat infeksi Babesia sp antara lain: lemas, tidak nafsu makan, demam, anemia, splenomegaly, lymphadenopathy, ikhterus, diare, muntah, melena, dan gagal ginjal (Barr & Bowman 2006).Pengobatan Babesiosis pada anjing (B. gibsoni) dg menggunakan Clindamycin 25 mg/kg BB, per oral 2x per hari selama 14 hari dapat secara bertahap menurunkan tingkat parasitemia dan menyebabkan perubahan morfologi yg diindikasikan adanya degenerasi parasit misalnya, segmentasi, penurunan ukuran, kerusakan inti /  nucleus sel, penurunan atau tidak terlihatnya sitoplasma (Wulansari R. dkk, 2003)

    281

    full texts

    402

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Hemera Zoa
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇