MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM
Not a member yet
188 research outputs found
Sort by
Perawatan saluran akar teknik crown-down pada gigi anterior kiri rahang atas
Perawatan saluran akar merupakan perawatan yang dilakukan dengan cara mengambil seluruh jaringan pulpa yang terinfeksi dari kamar pulpa dan saluran akar, kemudian saluran akar dibersihkan, dibentuk dan diisi dengan bahan pengisi saluran akar. Preparasi saluran akar merupakan salah satu tahapan yang penting dalam keberhasilan perawatan saluran akar. Teknik preparasi crown-down merupakan salah satu teknik yang digunakan untuk preparasisaluran akar. Teknik ini dilakukan dan diharapkan mampu memberikan hasil preparasi dan obturasi saluran akar yang hermetis. Seorang pasien perempuan berusia 24 tahun datang dengan keluhan gigi kiri depan rahang atas yang sudah ditambal sejak 9 tahun yang lalu berubah warna dan terlihat adanya bayangan hitam. Pemeriksaan menunjukkan gigi 21 mengalami nekrosis pulpa disertai periodontitis apikalis simtomatik. Rencana perawatan akan dilakukan perawatan saluran akar gigi 21. Perawatan saluran akar diawali dengan access opening, preparasi saluranakar dengan teknik crown-down menggunakan Protaper hand-use, dan obturasi dengan gutta percha Protaper F4. Preparasi saluran akar dengan teknik crown-down menggunakan Protaper hand-use menunjukkan hasil preparasi yang baik sehingga dihasilkan obturasi yang hermetis yang menunjang keberhasilan perawatan saluran akar
Static guide endodontik untuk manajemen obliterasi saluran akar
Obliterasi saluran akar adalah kondisi yang ditandai dengan deposisi jaringan keras dalam ruang saluran akar yang sering kali disebabkan oleh trauma dan dapat menyebabkan tantangan besar dalam diagnosis maupun perawatan. Seorang wanita berusia 27 tahun dengan keluhan diskolorasi kuning pada gigi insisivus sentral atas (gigi 11) akibat trauma 10 tahun sebelumnya. Pemeriksaan klinis dan radiografis menggunakan CBCT menunjukkan obliterasi saluran akar tanpa disertai kondisi patologis periapikal. Uji sensitivitas pulpa menunjukkan tidak ada respons, namun tidak dapat disimpulkan sebagai nekrosis. Untuk manajemen, static guide endodontik berbasis data CBCT digunakan untuk membantu penetrasi akurat ke saluran akar yang terkalsifikasi. Perawatan melibatkan preparasi biomekanik dengan teknik crown down menggunakan instrumen rotary, irigasi larutan natrium hipoklorit, dan medikasi intrakanaldengan kalsium hidroksida. Saluran akar kemudian diobturasi menggunakan teknik single cone dengan bioceramic sealer. Untuk memulihkan estetika, dilakukan perawatan intracoronal bleaching dengan hidrogen peroksida 35% yang dilanjutkan dengan restorasi komposit. Prosedur ini berhasil mengembalikan warna gigi dari warna A3 menjadi A2 tanpa komplikasi teknis seperti perforasi atau patahnya instrumen. Evaluasi menunjukkan jaringan periapikal dalam batas normal tanpa gejala klinis. Laporan ini menunjukkan bahwa penggunaan static guide endodontik meningkatkan akurasi dan efisiensi dalam pengelolaan kasus obliterasi saluran akar, terutama pada gigi anterior dengan diskolorasi yang menuntut estetika. Pendekatan ini direkomendasikan sebagai solusi yang efektif untuk kasus serupa, mengatasiketerbatasan teknik konvensional dan meningkatkan keberhasilan jangka panjang
Pengelolaan margin subgingiva pada kavitas kelas II dengan modifikasi pita matriks tofflemire
Penanganan kavitas kelas II dengan margin subgingiva sering kali menimbulkan kesulitan bagi klinisi. Hal tersebut berkaitan dengan kesulitan untuk memperoleh adaptasi yang sempurna antara margin kavitas dan bahan tambalan. Laporan kasus ini menjelaskan tahapan yang dilakukan oleh penulis untuk mendapatkan adaptasi yang baik antara bahan tambalan dan margin kavitas pada kavitas kelas II. Pasien laki-laki datang dengan keluhan sensitivitas terhadap dingin pada gigi belakang kiri atas. Diagnosisnya adalah pulpitis reversible pada gigi 25, jaringan apikal normal dengan margin subgingiva pada kavitas kelas II. Penulis menyelesaikan kasus ini dengan memodifikasi pita matriks tofflemire. Pada kasus ini, tidak dilakukan pemanjangan mahkota dan rencana perawatan meliputi deep margin elevation (DME) yang diikuti dengan restorasi komposit langsung. Penggunaan pita matriks Tofflemire yang dimodifikasi untuk DME pada margin subgingiva dengan kavitas kelas II memberikan hasil yang memuaskan. Radiografi periapikal menunjukkan adaptasi yang sangat baik antara kavitas dan tambalan. Tindak lanjut selama 6 bulan menunjukkan tidak adanya tanda-tanda inflamasi gingiva maupun keluhan nyeri pada gigi yang telah direstorasi. Penulis merekomendasikan penggunaan pita matriks tofflemire yang telah dimodifikasi pada kasus deep margin karena dapat memberikan hasil perawatan yang sangat baik dan memuaskan
Pengaruh mutu pelayanan terhadap kepuasan pasien di Puskesmas Terakreditasi dan bersertifikat ISO di Kota Banda Aceh
Mutu pelayanan kesehatan menjadi faktor kunci dalam meningkatkan kepuasan pasien, terutama di Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) yang berperan sebagai layanan kesehatan tingkat pertama. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh lima dimensi mutu pelayanan, yaitu “bukti fisik” (tangibles), “keandalan” (reliability), “daya tanggap” (responsiveness), “jaminan” (assurance), dan “empati” (empathy) terhadap kepuasan pasien di tiga Puskesmas terakreditasi dan bersertifikat ISO di Kota Banda Aceh. Data dikumpulkan melalui kuesioner dari 150 responden terpilih dengan metode purposive sampling. Analisis data dilakukan menggunakan uji korelasi Pearson, analisis regresi linier berganda, dan Structural Equation Modeling (SEM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua dimensi mutu pelayanan berpengaruh signifikan terhadap kepuasan pasien (nilai CR > 1,96 dan p < 0,05). Secara khusus, dimensi “bukti fisik” dan “empati” memiliki pengaruh terbesar terhadap kepuasan pasien. Penelitian ini menegaskan pentingnya standar mutu pelayanan sesuai akreditasi dan sertifikasi ISO dalam meningkatkan kepuasan pasien. Puskesmas diharapkan terus menjaga kualitas layanan dengan memperhatikan dimensi-dimensi tersebut
Regional odontodysplasia melibatkan dua kuadran pada anterior rahang atas
Regional odontodyplasia (RO) merupakan anomali yang terjadi secara lokal, nonherediter developmental abnormality dengan kerusakan parah pada pembentukan enamel, dentin serta pulpa. Gambaran radiografis menunjukkan kamar pulpa besar dengan lapisan enamel dan dentin yang sangat tipis serta penurunan densitas sedangkan ukuran gigi normal atau sedikit lebih kecil daripada normal sehingga tampilan gambaran tersebut tampak seperti “ghost teeth”. Kompleksitas abnormalitas yang membutuhkan visualisasi gambaran hubungan gigi dan skeletal dapat dilakukan dengan pemeriksaan Cone Beam Computed Tomography (CBCT). Laporankasus berikut memaparkan gambaran radiografik CBCT pasien RO melibatkan regio anterior kanan rahang atas dan insisivus sentral kiri rahang atas. Pasien anak laki-laki usia 8 tahun 8 bulan dengan gigi depan atas kanan permanen belum tumbuh. Pada panoramik reconstruction tampak kehilangan gigi 51, 52, 53 dan gigi 61 resorpsi akar mencapai 1/3 apikal. Benih gigi 11, 12, 13, 21 berukuran kecil dan belum erupsi. Diagnosis banding kasus ini adalah dentinogenesis imperfekta dan segmental odontomaxillary dysplasia. Perawatan yang dilakukan berupapembuatan gigi tiruan sebagian lepasan akrilik regio 51, 52, 53. RO yang melibatkan dua regio sangat jarang terjadi. Pada laporan kasus ini dilakukan evaluasi menggunakan CBCT dengan tampilan Multiplanar reformatted (MPR), panoramic Volume Rendering (VR) pada potongan axial, panoramic view, transaxial-sagittal, and 3D view sehingga dapat dilakukan evaluasi perkembangan benih gigi secara menyeluruh dalam segala aspek. Gambaran radiografik yang khas dari RO menunjukkan bahwa pemeriksaan radiografik merupakan metode diagnostik utama dalam menegakkan diagnosis yang penting dalam menentukan rencana perawatan yang tepat
Pengaruh karakteristik sosio-demografi terhadap kondisi jaringan periodontal pada penduduk usia lanjut di Yogyakarta: penelitian potong lintang
Populasi lanjut usia merupakan fenomena global yang menjadi tren paling signifikan saat ini dan telah terjadi di semua negara dengan berbagai tingkat perkembangan, termasuk Indonesia. Penyakit periodontal merupakan salah satu permasalahan kesehatan oral yang utama di masyarakat dan keparahannya meningkat seiring dengan bertambahnya usia. Penyakit periodontal memiliki dampak yang signifikan terhadap kualitas hidup lanjut usia dan merefleksikan permasalahan kesehatan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengkajipengaruh karakteristik sosio-demografi terhadap kondisi jaringan periodontal pada penduduk usia lanjut di Yogyakarta. Penelitian dengan desain potong lintang ini melibatkan 108 responden (n = 108) berusia ≥ 60 tahun. Karakteristik sosio-demografi yang diteliti pada penelitian ini meliputi jenis kelamin, tingkat pendidikan, dan karakteristik wilayah tempat tinggal. Kondisi jaringan periodontal dinilai berdasarkan status perdarahan (bleeding on probing), tingkat kedalaman poket periodontal (pocket depth), dan kehilangan perlekatan jaringan periodontal (clinical attachment loss). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat pendidikan dankarakteristik wilayah tempat tinggal berpengaruh terhadap status perdarahan (p = 0,001, p = 0,015) dan rerata kedalaman poket (p = 0,005, p = 0,027), namun tidak berpengaruh terhadap rerata kehilangan perlekatan jaringan periodontal (CAL) (p = 0,148, p = 0,105). Pada penelitian ini, jenis kelamin tidak memiliki pengaruh terhadap kondisi jaringan periodontal, baik pada status perdarahan (BOP) (p = 0,399), rerata kedalaman poket (PD) (p = 0,365), maupun rerata kehilangan perlekatan jaringan periodontal (CAL) (p = 0,179). Tingkat pendidikan dan karakteristik wilayah tempat tinggal berpengaruh terhadap kondisi jaringan periodontal (BOPdan PD) pada populasi lanjut usia, sehingga aspek tersebut perlu dipertimbangkan dalam perencanaan intervensi pencegahan penyakit periodontal pada lanjut usia
Evaluasi tingkat pengetahuan mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada pada ilmu penyakit mulut dan radiologi kedokteran gigi
Dokter gigi memerlukan pengetahuan yang memadai untuk merawat pasien. Pendidikan jenjang sarjana merupakan bagian dari proses belajar yang tidak terpisahkan bagi dokter gigi. Ilmu Penyakit Mulut (IPM) dan Radiologi Kedokteran Gigi (RKG) merupakan dua bidang ilmu yang membutuhkan pengetahuan mendalam dan berperan penting dalam hal diagnosis dan manajemen penyakit pada pasien. Berdasarkan Standar Kompetensi Dokter Gigi Indonesia,terdapat kompetensi minimal yang harus dicapai oleh mahasiswa. Terdapat lima jenis kompetensi pada bidang IPM dan dua jenis kompetensi pada bidang RKG. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui tingkat pengetahuan mahasiswa dan perbandingannya antar jenis kompetensi pada masing-masing bidang ilmu, yaitu IPM dan RKG. Penelitian dilakukan pada mahasiswa angkatan 2021 program studi S1 Kedokteran Gigi FKG UGM. Terdapat 142responden yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Enam pertanyaan IPM dan sepuluh pertanyaan RKG yang memenuhi syarat valid dan reliabel digunakan untuk mengukur pengetahuan responden terhadap dua kompetensi IPM yaitu ‘anamnesis’ dan ‘Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE)’, serta dua kompetensi RKG yaitu ‘kemampuan interpretasi’ dan ‘keterampilan prosedural’. Hasil uji Mann-Whitney U pada bidang IPM dan RKG menunjukkannilai p<0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara statistik terdapat variasi tingkat pengetahuan mahasiswa pada bidang IPM dan RKG. Selain itu, juga terdapat perbedaan tingkat pengetahuan antar jenis kompetensi pada bidang ilmu yang sama. Pada bidang IPM, terdapat perbedaan tingkat pengetahuan antara kompetensi ‘anamnesis’ dengan ‘KIE’. Pada bidang RKG, terdapat perbedaan tingkat pengetahuan antara ‘kemampuan interpretasi’ dengan ‘keterampilan prosedural’
The relationship between occlusal support zones and blood glucose levels: the moderating role of carbohydrate and fiber intake frequency
Blood glucose levels are influenced by carbohydrate and fiber intake. A diet high in carbohydrates and low in fiber can elevate blood glucose levels. The impact of carbohydrate and fiber intake is mediated by masticatory function, which depends on the occlusal contact of the posterior teeth. The aim of this study was to examine the relationship between the occlusal support zone and blood glucose levels, with the frequency of carbohydrate and fiber consumption actingas moderating variables. This research employed an observational analytic design using a cross-sectional method. The sample consisted of 33 elderly individuals, aged 60 to 74 years, from Kalibening Village, Dukun Subdistrict, Magelang Regency, selected through accidental sampling. Blood glucose levels were measured using the Accu-Chek test, occlusal support zones were assessed with the Eichner index, and the frequency of carbohydrate and fiber intake was recorded through a 4-day food diary questionnaire. The examination data were analyzed using pathanalysis. The results of the analysis showed no significant direct relationship between the occlusal support zone and blood glucose levels (p = 0.76; r = 0.003). However, when the frequency of carbohydrate consumption was included as a moderating variable, a significant relationship was found (p = 0.008). In contrast, when the moderating variable was the frequency of fiber consumption (p = 0.97), no significant relationship was observed. The study concludes thatthere is a relationship between the occlusal support zone and blood glucose levels in the elderly, with the frequency of carbohydrate consumption as a moderating variable. However, no relationship was found between the occlusal support zone and blood glucose levels when the frequency of fiber consumption was the moderating variable
Karakteristik kasus kegawatdaruratan di IGD dental Rumah Sakit Gigi dan Mulut Universitas Airlangga tahun 2022
Kegawatdaruratan pada gigi dan mulut memiliki pola distribusi dan karakteristik yang perlu dikaji untuk memaksimalkan penggunaan sumber daya secara efektif. Kedaruratan gigi berhubungan dengan prosedur gigi yang melibatkan trauma, nyeri dan perdarahan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui distribusi dan karakteristik kasus emergensi yang ditangani di Instalasi Gawat Darurat (IGD) Dental Rumah Sakit Gigi dan Mulut (RSGM) Universitas Airlangga (UNAIR). Penelitian ini berjenis deskriptif retrospektif dengan mengambil data pasien di IGD Dental RSGM UNAIR periode 1 Januari 2022 hingga 31 Desember 2022 yang memenuhi kriteria yaitu pasien yang terdaftar menjalani konsultasi dan terapi serta telah lolos screening COVID-19. Hasil dari penelitian menunjukkan terdapat 90 pasien yang berkunjung ke IGD Dental RSGM UNAIR selama tahun 2022. Sejumlah 42 pasien (46,67%) pasien berjenis kelamin perempuan dan 48 pasien (53,33%) laki-laki. Pasien yang datang sebagian besar merupakan kasus infeksi sejumlah 28 kasus (31,11%), kasus trauma 38 kasus (42,22%) dan penyakit lainnya sebesar 24 kasus (26,67%). Penyakit lainnya yang tercatat adalah perdarahan, kontrol pasca odontektomi, lepas jahitan, nyeri gigi, gigi goyang dan kasus kegawatdaruratan lain yang tidak menunjukkan angka tindakan maupun medikasi yang tinggi. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa rumah sakit perlu menyiapkan tindakan yang efektif pada kasus kegawatdaruratan, khususnya untuk penanganan kasus trauma
Herpes labialis yang dipicu kondisi psikologis pada wanita umur 23 tahun
Infeksi herpes simpleks labialis rekuren merupakan bentuk sekunder atau rekuren dari infeksi herpes simpleks primer. Pada manusia, virus herpes simpleks bersifat laten dan dapat mengalami reaktivasi. Rekurensi akibat reaktivasi virus tinggi, paparan sinar ultraviolet, trauma jaringan mukosa rongga mulut atau jaringan saraf, kondisi imunosupresi, dan gangguan hormon. Laporan kasus ini bertujuan untuk melaporkan dan membahas tatalaksana dari infeksi herpes simpleks labialis rekuren pada seorang perempuan berusia 23 tahun yang datangke RSGM UGM Prof. Soedomo Yogyakarta dengan keluhan rasa nyeri dan panas akibat sariawan di lidah disertai rasa menebal pada bibir atas yang didahului demam selama empat hari. Kondisi serupa telah beberapa kali terjadi sebelumnya dan diobati dengan krim asiklovir, namun kali ini ditambahkan penggunaan penguat imun. Hasil pengisian kuesioner Depression Anxiety Stress Scale (DASS) oleh pasien menunjukkan nilai stres ringan, dan kecemasan serta stres sedang. Pasien diterapi dengan asiklovir sistemik sebagai terapi kausatif. Pasien sembuh sepenuhnya 14 hari setelah kunjungan pertama. Disimpulkan bahwa kasus ini didiagnosis klinis sebagai infeksi herpes simpleks labialis rekuren. Terapi kausatif dengan pemberian asiklovir sistemik menunjukkan respon yang sangat baik. Penting untuk memberikan edukasi mengenai pengelolaan masalah mental guna mencegah kekambuhan dalam waktu singkat.ne boosters were used. The patient completed the DASS questionnaire, which revealed mild stress, anxiety, and moderate stress values. The patient was treated with 400 mg of oral acyclovir, taken five times daily, accompanied by instructions to manage her mental stress. The patient recovered completely within 14 days after the initial visit. The diagnosis was confirmed through clinical examination, characteristic of herpes labialis. Causative therapy with oral acyclovir had excellent results. It is important to give education on the management of mental issues to prevent recurrences in a short period