MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM
Not a member yet
    188 research outputs found

    Pelaksanaan teknik aseptik oleh dokter gigi di RSGM Universitas Padjadjaran sebagai upaya preventif infeksi silang pada masa pandemi COVID-19

    No full text
    Kedokteran gigi merupakan bidang yang rawan terhadap terjadinya infeksi silang. Munculnya wabah penyakit infeksi COVID-19 meningkatkan kekhawatiran tenaga medis maupun pasien dalam penyebaran infeksi. Dokter gigi merupakan profesi yang berisiko tinggi terhadap penularan COVID-19 karena selama perawatan menghasilkan banyak aerosol maupun droplet yang infeksius. Teknik aseptik merupakan semua prosedur yang dilakukan untukmencegah atau meminimalisir risiko infeksi oleh mikroorganisme patogen pada pasien maupun tenaga medis selama prosedur klinis. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran pelaksanaan teknik aseptik oleh dokter gigi di RSGM Unpad sebagai upaya preventif infeksi silang pada masa pandemi COVID-19. Jenis penelitian ini adalah deskriptif. Sampel diambil menggunakan teknik accidental sampling pada bulan Agustus-November 2022 yangterdiri dari 51 dokter gigi di RSGM Unpad yang memenuhi syarat untuk menjadi responden. Penelitian dilakukan dengan metode survey menggunakan kuesioner yang berisi 32 pertanyaan mengenai tindakan teknik aseptik yang harus dilakukan oleh dokter gigi di fasilitas pelayanan kesehatan gigi dan mulut saat sebelum dan selama masa pandemi COVID-19. Penggunaan masker bedah (92,2%), surgical scrub (86,3%), masker N95 (82,4%) termasuk kategori baik. Penerapan lima momen kebersihan tangan (70,6%), skrining COVID-19 (62,7%), desinfeksi seluruh permukaan dental unit dan benda di meja dental (60,8%), penggunaan goggle/faceshield (70,6%), hazmat (68,6%), dan shoe cover/sepatu boots (60,8%) termasuk kategori cukup baik. Penggunaan rubber dam (7,8%), sarung tangandouble (43,1%), dan penerapan flushing DUWL dan handpiece setiap pergantian pasien (45,1%) termasuk kategori kurang. Pelaksanaan teknik aseptik standar maupun teknik aseptik tambahan pada masa pandemi COVID-19 secara keseluruhan telah dilakukan dengan baik oleh sebagian besar dokter gigi di RSGM Unpad

    Perawatan invasif minimal menggunakan electrosurgery pada kasus perikoronitis

    No full text
    Perikoronitis adalah peradangan yang terjadi pada jaringan gingiva di sekitar mahkota gigi molar. Salah satu faktor yang dapat memperparah perikoronitis adalah trauma mekanis dari gigi antagonis yang dapat menyebabkan ulserasi atau pembengkakan pada operkulum. Operkulektomi dengan electrosurgery dapat menghilangkan operkulum dengan lebih mudah. Pasien wanita berusia 28 tahun dirujuk oleh residen ortodonti dengan keluhan gusi bengkak yang menutupi permukaan gigi molar kiri paling belakang. Kondisi tersebut dirasakan mengganggu saat makan dan keluhan ini telah dirasakan selama sebulan terakhir. Pada kunjungan pertama dilakukan perawatan awal berupa scaling dan root planing serta edukasi kebersihan mulut (dental health education). Selanjutnya, dilakukan operasi operkulektomi yang dimulai dengan anestesi infiltrasi di lipatan mukobukal gigi 37. Eksisi menggunakan electrosurgery dilakukan pada operkulum yang menutupi mahkota gigi 37. Area bedah dibersihkan dengan larutan salin dan kemudian ditekan menggunakan kasa steril. Penggunaan electrosurgery pada operkulektomi dapat meminimalkan perdarahan dan mengurangi durasi operasi. Pasien merasa lebih nyaman selama prosedur. Satu minggu pasca operasi, jaringan gingiva masih menunjukkan kemerahan dan nyeri saat palpasi. Satu bulan pasca operasi, pasien tidak merasakan keluhan, jaringan gingiva dalam kondisi baik, tidak ada kemerahan, pembengkakan, atau nyeri. Penggunaan electrosurgery untuk perawatan perikoronitis kronis dapat menjadi alternatif dari tindakan bedah konvensional dengan perdarahan minimal dan durasi prosedur yang lebih cepat

    Hubungan akar gigi molar kedua maksila dengan dasar sinus maksila pada pria dan wanita: studi pada radiograf panoramik

    No full text
    Sinus maksilaris merupakan struktur anatomi vital yang berada di atas gigi posterior rahang atas dengan variasi perluasan anatomis yang beragam. Kedekatan akar gigi terhadap sinus maksilaris dapat berkaitan dengan komplikasi yang tidak diinginkan yang menyertai tindakan klinis. Radiograf panoramik dapat digunakan sebagai pemeriksaan penunjang untuk menganalisis kedekatan struktur anatomi tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan jenis gigi molar kedua kanan dan kiri serta jenis kelamin terhadap keterdekatan akar mesiobukal dengan sinus maksilaris. Sampel penelitian berjumlah 164 sampel radiograf panoramik digital (81 pria dan 81 wanita) berusia 20-40 tahun yang sesuai kriteria inklusi dan ekslusi. Sampel diperoleh secara retrospektif dari Instalasi Radiologi Dentomaksilofasial RSGM UGM Prof. Soedomo. Pengamatan radiografis hubungan akar mesiobukal gigi molar kedua terhadap dasar sinus maksilaris dikategorikan menjadi tiga tipe, yaitu tipe 0 (akar tidak berkontak dengan dasar sinus), tipe 1 (akar berkontak dengan tepi kortikal sinus), dan tipe 3 (akar menembus kedalam rongga sinus). Hasil uji korelasi dengan Coefficient Contingency menunjukkan tidak terdapat hubungan antara molar kedua sisi kanan dan kiri terhadap tipe keterdekatan akar gigi terhadap sinus (p > 0,05) serta tidak terdapat hubungan antara jenis kelamin terhadap tipe keterdekatan akar gigi terhadap sinus (p > 0,05). Melalui analisis Coefficient Contingency C diperoleh korelasi variabel jenis kelamin (C = 0,117) yang menunjukkan keeratan hubungan yang lebih tinggi terhadap kedekatan akar gigi terhadap sinus maksilaris dibandingkan dengan jenis gigi (C = 0,036), namun demikian korelasi antar variabel tersebut tidak signifikan

    Management of erosive oral lichen planus

    No full text
    Oral lichen planus (OLP) is an autoimmune disease that commonly affects the mucocutaneous area. The etiology of OLP remains unclear, but several factors are considered risk factors, such as chronic liver disease (hepatitis C infection), stress, genetics, hypertension, diabetes, smoking, and tobacco chewing. OLP often causes pain, especially during exacerbation periods. OLP management aims to reduce symptoms, improve clinical conditions, reduce the riskof oral cancer, and maintain oral health. This case report presents a case of OLP in a 54-year-old Javanese female patient with complaints of pain in her oral cavity that persisted for three weeks. The same condition occurred three months earlier, but it resolved without treatment. Clinical examination of pathognomonic features of OLP in the form of white, mesh-shaped lesions (Wickham striae) on the buccal and gingival mucosa is the basis for determining thediagnosis of OLP. The ulcerative type of OLP is established based on the appearance of ulcerated lesions in the tongue area and complaints of pain. The patient had a history of hypertension with regular consumption of captopril for the past three years., but there was no documented history of allergies. The results of the psychological assessment with DASS-42 revealed that the patient experienced very severe anxiety, moderate depression, and mild stress. Management in this case was done by prescribing topical corticosteroid, which is dexamethasone mouthwash, whichwas gargled by the patient twice a day. One month after therapy, the ulcerative lesions on the tongue resolved entirely, and pain complaints disappeared. In this case, topical corticosteroids effectively reduced symptoms and improved the clinical condition. However, long-term follow-ups are necessary to ensure that the lesion does not transform into a malignant lesion

    Perbandingan efektivitas jus buah pir dengan jus buah stroberi sebagai bahan pemutih gigi yang mengalami diskolorasi

    No full text
    Banyak masyarakat mengalami perubahan warna pada gigi. Perawatan yang dapat mengatasi masalah ini adalah pemutihan gigi, tetapi bahan pemutih kimia seperti hidrogen peroksida dan karbamid peroksida memiliki efek iritasi dan sensitif, sehingga membuat para peneliti mencari alternatif bahan pemutih gigi alami yang lebih aman dan mudah dicari. Buah pir hijau mengandung hidrogen peroksida dan buah stroberi mengandung asam elegat yang dapat dijadikan pemutih gigi alami. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan pengaruh jus buah pir dan jus buah stroberi dalam mengubah gigi yang mengalami diskolorasi. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratoris dengan metode pretest dan posttest design. Sampel penelitian berjumlah 30 gigi anterior. Sampel direndam selama 1 hari di dalam larutan teh hitam. Setelah itu sampel dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu kelompok perlakuan yang direndam dengan jus buah pir dan jus buah stroberi dan kelompok kontrol yang direndam karbamid peroksida 10%, Masing-masing kelompok direndam selama 5 hari. Setiap setelah perlakuan dilakukan pengukuran menggunakan Vita Easyshade untuk melihat nilai lightness. Jus pir dan karbamid peroksida memiliki perbedaan signifikan dengan nilai signifikan p = 0,009 Jus stroberi dan karbamid peroksida 10% tidak memiliki perbedaan signifikan dengan nilai p = 0,269. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa jus buah stroberi lebih efektif dibandingkan jus buah pir dalam memutihkan gigi yang telah mengalami diskolorasi

    Perawatan maloklusi kelas I dengan rotasi caninus 180° dan impaksi premolar rahang atas

    No full text
    Derotasi gigi caninus perlu dikoreksi di fase awal suatu perawatan ortodonti cekat. Walaupun kasus gigi kaninus yang ekstrim merupakan salah satu masalah yang berat untuk ortodontis, tetapi de-rotasi gigi anterior dengan menggunakan powerchain merupakan cara yang sederhana dan efektif. Tujuan studi kasus ini adalah untuk memaparkan koreksi berdesakan anterior dengan rotasi 180º caninus dan impaksi premolar rahang atas. Laki-laki usia 17 tahun dengankeluhan gigi taring rahang atas yang abnormal dan gigi depan yang terasa maju. Pada pemeriksaan ekstraoral menunjukan profil wajah yang cembung dengan bibir yang kompeten. Pada pemeriksaan intraoral menunjukkan relasi kelas I angle dengan berdesakan rahang atas dan bawah. Pada pemeriksaan radiografi menunjukkan adanya impaksi pada gigi premolar kiri atas. Pada pemeriksaan klinis dan sefalometri menunjukkan relasi skeletal kelas I. Gigi 14, 25, 34, dan 44 dicabut untuk koreksi protrusi dan berdesakan. Derotasi rotasi caninus rahang atas dilakukandengan kawat SS 16.22 dan powerchain pada sisi labial dan palatal. Setelah itu, dilakukan retraksi 2 tahap untuk koreksi profil. Kesimpulan dari kasus ini perawatan tidak hanya mencapai faktor estetik namun juga fungisonal yang baik. Pada kasus ini relasi caninus terkoreksi dan profil wajah membaik

    Perbandingan mental index dan panoramic mandibular index berdasarkan status dental: kajian pada radiograf panoramik

    No full text
    Mandibula berperan dalam proses pengunyahan sehingga mengalami proses remodeling secara terus menerus. Status dental menunjukkan kondisi gigi serta kehilangan gigi-gigi pada individu. Status dental yang berbeda-beda akan menghasilkan beban mastikasi beragam yang selanjutnya mempengaruhi proses remodeling pada mandibula. Adanya perubahan ukuran tulang pada area kortikal mandibula dapat dideteksi dengan indeks radiomorfometri,antara lain Mental Index (MI) dan Panoramic Mandibular Index (PMI). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan MI dan PMI pada radiograf panoramik antar kelompok status dental. Sampel penelitian ini berupa 134 radiograf panoramik digital dari instalasi radiologi RSGM UGM Prof. Soedomo. Status dental terbagi menjadi 5 kelompok, yaitu kategori I (bergigi lengkap), Kategori II (bergigi sebagian), Kategori III (tidak bergigi padarahang atas), Kategori IV (tidak bergigi pada rahang bawah) dan Kategori V (tidak bergigi total). Indeks MI dan PMI diukur dengan perangkat lunak EzDent-I Vatech. Rerata MI pada Kategori I adalah 3,73 ± 0,59, Kategori II adalah 3,59 ± 0,49, Kategori III adalah 3,54 ± 0,74, Kategori IV adalah 3,63 ± 0,27, dan Kategori V adalah 3,43 ± 0,78. Rerata PMI pada Kategori I adalah 0,33 ± 0,08, Kategori II adalah 0,32 ± 0,05, Kategori III adalah 0,31 ± 0,07, Kategori IVadalah 0,30 ± 0,03, dan Kategori V adalah 0,29 ± 0,06. Hasil uji Kruskal-Wallis menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada pengukuran MI (p = 0,440) dan PMI (p = 0,266) antar kelompok status dental (p > 0,05). Kondisi status dental tidak berpengaruh terhadap ketebalan korteks mandibula di area foramen mental, yang ditunjukkan dengan hasil pengukuran MI maupun PMI yang tidak berbeda secara signifikan pada semua kelompokstatus dental

    Penatalaksanaan diskolorasi gigi ekstrinsik dengan perawatan minimal invasif

    No full text
    Diskolorasi gigi merupakan masalah estetik yang dapat disebabkan oleh faktor intrinsik, faktor ekstrinsik, atau kombinasi keduanya. Salah satu perawatan pada kasus diskolorisasi gigi adalah bleaching eksternal dengan keunikan perawatan pendekatan minimal invasif untuk mendapatkan hasil estetik yang baik pada diskolorasi gigi ekstrinsik. Tujuan laporan kasus ini adalah untuk menyampaikan penatalaksanaan diskolorasi gigi ekstrinsik pada pasien dengan perawatan minimal invasif. Laki-laki berusia 22 tahun datang dengan keluhan gigi depan rahang atas dan rahang bawah bawah tampak berwarna kuning dan pasien ingin memutihkan giginya. Pada gigi pasiendilakukan perawatan minimal invasif dengan prosedur bleaching eksternal teknik in-office bleaching menggunakan bahan hidrogen peroksida (H2O2) konsentrasi 40%. Penatalaksanaan pada gigi yang mengalami diskolorasi gigi ekstrinsik adalah perawatan bleaching eksternal dengan teknik in-office bleaching karena merupakan perawatan minimal invasif yang dapat memberikan hasil perubahan warna dengan prosedur yang lebih cepat

    Efektivitas penyuluhan media poster secara luring dan daring dalam meningkatkan kesehatan gigi

    No full text
    Kesehatan gigi dan mulut ialah satu faktor penting dalam menentukan status kesehatan pada anak khususnya anak usia sekolah. Salah satu upaya yang dapat dilakukan yaitu dengan cara memberi penyuluhan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat efektivitas penyuluhan menggunakan poster secara luring dan daring terhadap peningkatan pengetahuan kesehatan gigi dan mulut serta penurunan angka (skor) OHI-S. Penelitian ini merupakan penelitian quasy-experiment dengan rancangan pre-test post-test design (pretest dilakukan sebelum responden diberi penyuluhan dan post-test dilakukan sesudah responden diberi penyuluhan yang berupa pertanyaan pilihan ganda dan pemeriksaan skor OHI-S). Penilaian pre-test post-test menggunakan skala ordinal dengan kategori kurang, cukup, dan baik. Populasi penelitian merupakan siswa SD Negeri 1 Talang Saronggi Sumenep dengan jumlah 88 siswa dengan pengambilan sampel random sampling. Berdasarkan hasil uji non parametrik menyatakan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil selisih nilai pre-test post-test antara kedua kelompok (p-value < 0,05). Maka dapat disimpulkan terdapat perbedaan efektivitas penyuluhan yang signifikan dalam meningkatkan pengetahuan antara media poster secara luring dengan media poster bergerak secara daring via whatsapp

    Estimasi usia menggunakan periodontal ligament visibility: tinjauan dari perspektif radiografi kedokteran gigi

    No full text
    Metode periodontal ligament visibility (PLV) merupakan metode estimasi usia untuk individu pada fase remaja akhir dan dewasa menggunakan pengamatan terhadap visualisasi ligamen periodontal pada gigi molar ketiga mandibula yang akar giginya sudah terbentuk sempurna. Tujuan review ini untuk mendeskripsikan keakuratan dan potensi metode PLV untuk estimasi usia di Indonesia. Pencarian literatur menggunakan database Google Scholar, ScienceDirect,dan PubMed dengan kata kunci “third molar, forensic dentistry” berdasarkan kriteria inklusi yaitu artikel penelitian dan textbook ilmiah yang terbit tahun 2010-2022 serta berbahasa Indonesia dan Inggris. Total artikel yang direview sejumlah 31, dengan 11 artikel utama mengenai estimasi usia metode PLV. Akurasi metode PLV untuk estimasi usia pada suatu populasi dapat dipengaruhi oleh jenis dan jumlah sampel radiograf. Berdasarkan hasil review, didapatkan bahwa skor PLV 0 digunakan untuk mengestimasi usia 17-22 tahun, sedangkan skor PLV 1, 2 dan 3 digunakan untukmengestimasi usia 19-28 tahun pada wanita dan 21-30 tahun pada pria. Hanya satu artikel mengenai metode PLV di Indonesia, sehingga diperlukan penelitian metode PLV untuk estimasi usia pada populasi Indonesia

    0

    full texts

    188

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇