MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM
Not a member yet
188 research outputs found
Sort by
Pengaruh penyikatan menggunakan pasta gigi yang mengandung Sodium Lauryl Sulfate (SLS) terhadap kekasaran dan kekerasan permukaan resin komposit mikrohibrida
Resin komposit merupakan material yang digunakan untuk restorasi estetik pada praktik kedokteran gigi. Produk pasta gigi yang beredar di pasaran umumnya mengandung detergen berupa Sodium Lauryl Sulfate (SLS) yang bersifat abrasif serta dapat berpenetrasi ke dalam ruang antar gigi. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh penyikatan menggunakan pasta gigi dengan dan tanpa SLS terhadap kekasaran dan kekerasan permukaan resin komposit mikrohibrida. Sampel resin komposit mikrohibrida berdiameter 10,00 ± 0,10 mm dan tinggi 2,00 ± 0,02 mm sebanyak 30 buah, terbagi menjadi 3 kelompok. Kelompok A dilakukan penyikatan dengan menggunakan pasta gigi tanpa SLS, kelompok B menggunakan pasta gigi dengan SLS dan kelompok C menggunakan akuades. Penyikatan dilakukan selama 10 menit pada setiap sampel dengan pengulangan sebanyak 6 kali dalam 6 hari. Uji t berpasangan menunjukkan hasil perbedaan yang bermakna (p ≤ 0,05) pada nilai kekasaran dan kekerasan permukaan resin komposit mikrohibrida sebelum dan sesudah penyikatan pada ketiga kelompok. Uji ANOVA satu jalan dengan post hoc Tukey menunjukkan hasil berbeda bermakna (p ≤ 0,05) pada nilai kekasaran permukaan kelompok A (1,25 ± 0,38 μm), kelompok B (2,14 ± 0,24 μm) dan kelompok C (1,23 ± 0,33 μm), namun penyikatan menggunakan kedua pasta gigi tidak menunjukkan perbedaan yang bermakna (p ≥ 0,05) terhadap nilai kekerasan permukaan. Penggunaan pasta gigi dengan kandungan SLS menyebabkan peningkatan kekasaran yang lebih tinggi terhadap permukaan resin komposit mikrohibrida dibandingkan pasta gigi tanpa kandungan SLS, namun demikian penurunan kekerasan resin komposit mikrohibrida akibat penyikatan menggunakan pasta gigi dengan kandungan SLS tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan jika dibandingkan dengan pasta gigi tanpa kandungan SLS
Potensi seduhan jahe merah (Zingiber officinale Rubrum) terhadap bakteri Porphyromonas gingivalis
Jahe merah merupakan tanaman yang digunakan sebagai bahan baku obat herbal tradisional yang berkhasiat untuk kesehatan. Kandungan senyawa aktif yang dihasilkan jahe merah menghasilkan efek farmakologis. Bahan alam ini dapat dijadikan sebagai alternatif obat kumur yang efek salah satunya sebagai antibakteri. Bakteri Porphyromonas gingivalis merupakan bakteri penyebab periodontitis akibat faktor virulensi yang menginduksi peradangan jaringan periodontal. Obat kumur klorheksidin 0,2% merupakan obat kumur sebagai perawatan periodontitis, namun penggunaannya dalam jangka panjang dapat menyebabkan efek samping. Tujuannya untuk mengetahui efektivitas seduhan jahe merah (Zingiber officinale Rubrum) terhadap pertumbuhan bakteri Porphyromonas gingivalis. Penelitian ini berupa eksperimental laboratorium secara in vitro dengan rancangan post-test only group design. Uji antibakteri dilakukan dengan metode dilusi dengan sampel seduhan jahe merah 5 gram, 2,5 gram, 1,25 gram, 0,625 gram, 0,3125 gram, klorheksidin 0,2% sebagai kontrol positif, dan akuades sebagai kontrol negatif. Seduhan jahe merah memiliki efek antibakteri terhadap bakteri Porphyromonas gingivalis. Hasil rata-rata jumlah koloni seduhan jahe merah 5 gram menghasilkan rata-rata terendah dibanding kelompok lainnya dan pada hasil uji Post Hoc Tukey HSD menunjukkan bahwa terdapat perbedaan bermakna (p < 0,05) dibandingkan kontrol negatif dan positif, sehingga kelompok seduhan jahe merah 5 gram memiliki efek antibakteri yang tertinggi dibandingkan kelompok yang lain, namun tidak dapat melampaui klorheksidin 0,2%
Pengaruh gel chamomile (Matricaria Chamomila L.) terhadap fibroblas, pembuluh darah, dan kolagen pasca pencabutan gigi
Pencabutan gigi merupakan tindakan terbanyak kedua untuk mengatasi permasalahan gigi dan mulut. Terdapat empat tahap dalam proses penyembuhan luka yaitu hemostasis, inflamasi, proliferasi, dan remodeling. Studi menunjukkan bahwa bahan alam memiliki kandungan yang membantu mempercepat penyembuhan luka. Salah satu bahan alam yang potensial untuk mempercepat penyembuhan luka yaitu tanaman Chamomile (Matricaria Chamomila L.). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh aplikasi gel Chamomile (Matricaria Chamomila L.) terhadap fibroblas, pembuluh darah, dan kolagen pasca eksodonsi gigi tikus Wistar jantan. Jenis penelitian ini adalah true eksperimental laboratories dengan rancangan post test only control group design menggunakan 36 ekor tikus Wistar jantan yang terbagi menjadi 3 kelompok, yaitu kelompok kontrol negatif tanpa diberi perlakuan, kelompok kontrol positif yang diberi aloclair gel, dan kelompok perlakuan yang diberi gel chamomile 3%. Hasil penelitian pada semua kelompok menunjukkan terbentuknya fibroblast, pembuluh darah, dan kepadatan kolagen pada hari ke-3, kemudian mengalami peningkatan pada hari ke-5 dan mencapai puncaknya pada hari ke-7. Hasil uji one way Anova menunjukkan adanya perbedaan yang bermakna rerata jumlah fibroblas, pembuluh darah, kepadatan kolagen pada seluruh kelompok sampel (p<0,05). Kesimpulan penelitian ini adalah pemberian gel chamomile 3% (Matricaria Chamomila L.) dapat meningkatkan fibroblast, pembuluh darah, dan kolagen pasca eksodonsi pada gigi tikus Wistar jantan
Manajemen perawatan gigi non-vital pada insisivus sentral maksila dengan apeks terbuka
Perawatan endodontik pada gigi anterior permanen non-vital dengan apeks terbuka merupakan tantangan bagi klinisi terkait dengan tidak adanya konstriksi apikal. Metode apeksifikasi dengan kalsium hidroksida membutuhkan waktu yang lama dan dapat melemahkan struktur dentin, sedangkan teknik apical plug dengan bahan biokeramik menawarkan hasil yang lebih prediktif dan efisien. Pasien perempuan berusia 20 tahun datang dengan keluhan perubahan warna pada gigi insisivus sentral kanan atas setelah mengalami trauma delapan tahun sebelumnya dan telah melakukan restorasi mandiri dengan bahan non-dental. Pemeriksaan klinis dan radiografis menunjukkan nekrosis pulpa dengan apeks yang terbuka disertai lesi periapikal. Perawatan dilakukan dengan pembentukan apical barrier menggunakan bioceramic putty, dilanjutkan obturasi saluran akar, preparasi pasak, insersi fiber post dengan semen resin adhesif, serta pembuatan inti komposit. Restorasi akhir berupa crown lithium disilikat dipasang dengan teknik sementasi adhesif. Evaluasi lima bulan menunjukkan tidak ada keluhan, pasien melaporkan kepuasan secara estetik, dan radiograf memperlihatkan tanda-tanda penyembuhan pada periapikal. Kombinasi apical plug dengan biokeramik, adhesi fiber post, dan crown lithium disilikat merupakan pendekatan konservatif sekaligus estetik yang dapat menjadi solusi pada manajemen gigi anterior non-vital dengan apeks terbuka
Analisis kandungan logam timbal (Pb) pada pasta gigi dengan ekstrak biji kopi robusta (Coffea canephora L.)
Pasta gigi dengan ekstrak biji kopi robusta merupakan produk alternatif untuk mencegah penyakit periodontal yang mengandung bahan alami dengan sifat antibakteri, antiinflamasi, dan antioksidan. Pengembangan pasta gigi memerlukan pengujian untuk mendapatkan formula yang baik dan sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI). Salah satu pengujian yang perlu dilakukan adalah uji kandungan logam berat timbal (Pb). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah kandungan Pb dalam pasta gigi dengan ekstrak biji kopi robusta sesuai dengan standar SNI. Ekstrak biji kopi robusta dibuat menggunakan metode maserasi dengan pelarut etanol 96%. Pasta gigi diformulasikan dengan mencampur pasta plasebo dan ekstrak biji kopi robusta pada konsentrasi 0,0625%, 0,125%, 0,25%, dan 0,5%. Pengujian kontaminasi Pb dilakukan menggunakan Spektrofotometer Serapan Atom (AAS) dengan hasil dinyatakan dalam mg/kg. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak biji kopi robusta tidak mengandung Pb yang terdeteksi, dengan hasil tercatat sebagai "nd" atau "not detected", namun kandungan Pb sebesar 1,382mg/kg ditemukan pada pasta plasebo. Pada pasta gigi dengan ekstrak biji kopi robusta dengan berbagai konsentrasi, kandungan Pb berkisar antara 1,626 hingga 1,866mg/kg. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa kandungan Pb dalam pasta gigi dengan ekstrak biji kopi robusta lebih rendah dari batas maksimum Pb yang ditetapkan SNI, yaitu kurang dari 20 mg/kg
Pemeriksaan CBCT pada ankilosis unilateral TMJ disertai kecurigaan fibrous dysplasia pada ramus mandibula
Ankilosis berasal dari bahasa Yunani yang merujuk pada kondisi “kaku sendi” yang menyebabkan hilangnya sebagian atau seluruh mobilitas TMJ yang disebabkan oleh trauma, infeksi, maupun penyakit sistemik. Ankilosis dapat mempengaruhi kualitas hidup pasien karena keterbatasan pembukaan mulut sehingga mengganggu proses pengunyahan dan fungsi bicara serta meningkatkan resiko terjadinya karies. Ankilosis yang disertai lesi fibro osseous dapat terjadi pada regio TMJ dan merupakan kasus yang langka. Lesi fibro osseous bila mengenai TMJakan menyebabkan ankilosis yang ditandai dengan keterbatasan mobilitas rahang bawah. CBCT merupakan sarana pencitraan yang memiliki kemampuan untuk menampilkan gambaran tiga dimensi dan dapat memberikan kemampuan diagnostik berbagai kelainan pada rahang dengan sangat baik termasuk pada TMJ. Laporan kasus ini bertujuan untuk menggambarkan kelainan ankilosis yang disertai lesi hypodensity (radiolusen) yang ditemukan secara tidak sengajapada ramus mandibula kanan dan kiri. Pasien perempuan berusia 25 tahun datang dengan keluhan utama sering timbul bengkak pada pipi kiri disertai bunyi sendi sisi kiri sejak 4 tahun yang sebelumnya dan tidak bisa membuka mulut lebar sejak 3 bulan yang lalu. Dari anamnesa didapatkan informasi bahwa pasien memiliki riwayat trauma akibat kecelakaan 7 tahun yang sebelumnya. Gambaran CBCT potongan sagital dan koronal menunjukkan adanya penyatuan TMJ kiri serta struktur anatomi TMJ yang tidak dapat diidentifikasi. Hasil pemeriksaan histopatologi (HPA) pada lesi hypodense menunjukkan keping trabekula tulang yang menunjukkan kemungkinan ke arah fibro-osseous lesion
Perbandingan tinggi dan lebar kondilus serta kesimetrisan vertikal mandibula pada perawatan ortodonti maloklusi kelas I
Maloklusi diperkirakan sebagai faktor yang berkontribusi terhadap perubahan posisi sendi temporomandibular. Perawatan ortodonti berisiko menyebabkan resorpsi kondilus sebagai bentuk adaptasi terhadap perubahan bentuk jaringan akibat kekuatan mekanik pada TMJ. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan tinggi dan lebar kondilus serta kesimetrisan vertikal mandibula pada pasien sebelum dan sesudah perawatan ortodonti cekat. Penelitian analitik komparatif ini menggunakan data sekunder dengan teknik purposive sampling. Sampel penelitian berjumlah 35 pasang radiograf panoramik digital dari pasien dengan maloklusi kelas I dentoskeletal yang telah selesai dilakukan perawatan ortodonti cekat di RSGM Universitas Padjadjaran pada tahun 2015-2019 dengan kelompok tanpa pencabutan sebanyak 27 pasang serta kelompok dengan pencabutan 4 premolar pertama sebanyak 8 pasang sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi. Pengukuran tinggi dan lebar kondilus serta kesimetrisan vertikal mandibula menggunakan software Image J win 64 dan dilakukan uji signifikansi Paired t test dengan nilai signifikan p 0,05), serta ketidaksimetrisan vertikal mandibula sebelum perawatan sama dengan sesudah perawatan pada semua kelompok (p>0,05). Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa perawatan ortodontik memiliki pengaruh yang signifikan terhadap perubahan tinggi kondilus, namun tidak ada pengaruh yang signifikan terhadap lebar kondilus dan simetri vertikal mandibula
Potensi ekstrak biji chia (Salvia hispanica L.) dalam menghambat pembentukan biofilm Streptococcus mutans ATCC 25175 in vitro
Streptococcus mutans merupakan bakteri gram positif yang berperan sebagai faktor etiologi utama karies dan koloni primer dalam pembentukan biofilm rongga mulut. Biji chia mengandung flavonoid dan asam fenolik yang mampu menghambat pertumbuhan bakteri. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh ekstrak etanol biji chia terhadap pembentukan biofilm S. mutans. Penelitian eksperimental laboratoris ini menggunakan metode uji dengan microtiter plate. Streptococcus mutans ATCC 25175 dikultur dalam BHI yang mengandung 1% sukrosa dan diberi perlakuan ekstrak biji chia 1,3%, 2,6%, 5,2%, klorheksidin glukonat 0,2% sebagai kontrol positif dan akuades sebagai kontrol negatif. Biakan bakteri diinkubasi selama 24 jam dalam 96-well microplate kemudian diwarnai dengan kristal violet 0,1% selama 15 menit. Densitas optik dibaca dengan microplate reader (λ = 540 nm). Data dianalisis dengan uji Kruskal-Wallis dan uji post-hoc U-Mann Whitney. Uji Kruskal-Wallis menunjukkan perbedaan signifikan (p < 0,05) rerata persentase daya hambat pembentukan biofilm S. mutans pada setiap kelompok perlakuan. Uji U-Mann Whitney menunjukan ekstrak etanol biji chia konsentrasi 1,3%, 2,6%, dan 5,2% memiliki kemampuan setara dalam pembentukan biofilm S. mutans meskipun masih lebih rendah dibandingkan klorheksidin 0,2%. Kesimpulan dari penelitian ini adalah ekstrak etanol biji chia mampu menghambat pembentukan biofilm S. mutans ATCC 25175
Deteksi karies proksimal menggunakan radiografi bitewing dan near-infrared light transillumination
Radiografi bitewing merupakan metode standar untuk deteksi karies proksimal karena dapat mencitrakan mahkota gigi dari permukaan distal kaninus hingga distal permukaan molar paling posterior tanpa tumpang tindih. Pemanfaatan sinar-X di bidang kedokteran gigi menerapkan prinsip as low as reasonably achievable (ALARA) untuk mengurangi efek radiasi. Near-Infrared Light Transillumination (NILT) merupakan metode deteksi karies tanpa menggunakanradiasi pengion sehingga dapat dijadikan alternatif untuk mengatasi permasalahan tersebut. Narrative review ini ditujukan untuk mendeskripsikan kelebihan dan kekurangan antara teknik intraoral bitewing dengan NILT beserta perbedaan hasil deteksi karies proksimal dari masing-masing teknik tersebut. Pencarian literatur pada narrative review ini menggunakan Google Scholar, ScienceDirect, dan Pubmed dengan kriteria inklusi yaitu artikel berjenis original/research article, case report, dan textbook ilmiah, serta artikel berbahasa Inggris maupun Indonesia yangditerbitkan tahun 2010-2021. Kriteria eksklusi berupa review article, artikel yang menunjukkan duplikasi, artikel yang tidak dapat diakses secara utuh, serta artikel tanpa metode penelitian. Total literatur yang dikaji sebanyak 29 artikel. Hasil review menunjukkan bahwa NILT merupakan metode deteksi karies proksimal tanpa disertai risiko radiasi sehingga tidak memberikan efek berbahaya pada tubuh sehingga penggunaannya dapat diulangi sesuai kebutuhan. Kelebihan lainnya, NILT lebih sensitif daripada radiograf untuk mendeteksi jaringan keras gigi yang mengalami demineralisasi pada fase awal. Nilai sensitivitas dan spesifisitas NILT lebih tinggi daripada radiografi bitewing sehingga dapat dijadikan alternatif pemeriksaan radiografi. Meskipun demikian, NILT tidak dapat mencitrakan karies yang telah meluas hingga pulpa karena NILT tidak memiliki daya tembus sebesar sinar-X, sehingga radiografi bitewing masihmerupakan standar pemeriksaan untuk deteksi karies proksimal
Rehabilitasi pasca hemimaksilektomi menggunakan obturator resin akrilik dan protesa bibir silikon dengan penyangga magnet
Defek nasofaring dan rongga antrum adalah defek maksila intraoral yang paling banyak ditemukan. Penyebab defek maksila dapat berupa faktor kongenital, maupun dampak dari operasi onkologi orofasial. Obturator maksila merupakan protesa yang diperlukan untuk memperbaiki defek tersebut. Pasien wanita berusia 31 tahun dirujuk dari klinik THT untuk pembuatan obturator. Pasien didiagnosis dengan karsinoma klinonasal dan direncanakan untuk pengangkatan massa serta hemimaksilektomi sinistra. Pemeriksaan klinis ekstraoral menunjukkan asimetri wajah. Pasien kehilangan sebagian maksila kiri dan terdapat defek wajah di area bibir atas. Pemeriksaan klinis intraoral menunjukkan bahwa gigi yang dapat dipertahankan adalah gigi 13, 14, 15, dan 16. Perawatan prostodontik yang dilakukan meliputi pembuatan obturator sementara, obturator definitif, dan prostesa bibir. Laporan klinis ini menggambarkan protesa berbasis silikon biokompatibel untuk perawatan defek bibir yang dipertahankan dengan obturator akrilik menggunakan penahan magnet yang memenuhi kebutuhan estetika dan fungsional pasien. Defek maksila yang disertai defek wajah cukup menantang pada perencanaan protesa ini. Pada kasus ini, perawatan prostodontik yang dilakukan adalah pembuatan obturator sementara, obturator definitif, dan protesa bibir. Pasien merasa nyaman dengan penggunaan protesa silikon medis karena menyerupai struktur anatomis yang sesungguhnya, tekstur lembut, ringan, dan biokompatibel. Persepsi kenyamanan dan estetika pasien tercapai pada perawatan ini