Prosiding Seminar Biologi
Not a member yet
    365 research outputs found

    PROFIL “EMBUNG” DAN SUMBERDAYA AIR DI WILAYAH PERBATASAN KABUPATEN BELU – NTT

    Full text link
    ABSTRACT ‘Embung’ is one of the collected and served water constructions for domestic consumption, cattle drinking and irrigation in the border area and dry climate of Belu District, East Nusa Tenggara (ENT) Province. The others are water source from shallow soil-water digging and natural springs.  There are 26 small ‘embungs’ which have 11,700 – 96,830 m3 water volume  and the biggest ‘embung’  which has 1,860,000 m3 water volume; 276 springs, and some shallow soil-water digging.  ‘Embungs’ sustainability are influenced by some aspects such as technical problem since construction developed, utilization, social and management.  Due to the natural resources and budget handicap, generally in one village just exist one type of the three water collected constructions. However, it is possible in one village there are three constructions, i.e.: ‘embung’ is particularly for cattle drinking and irrigation; and the shallow soil-water digging and natural springs are specially for water domestic consumption. These man made and natural water source are very valuable to serve farmers in the Belu-ENT village area.   Key words : sustainability, ‘embung’, border area, dry climate, Belu-NNT.   ABSTRAK   Embung merupakan salah satu bentuk bangunan penampungan dan pelayanan air untuk rumah tangga penduduk, minum ternak dan irigasi di wilayah perbatasan dan beriklim kering Kabupaten Belu, Provinsi Nusa Tenggara Timur  (NTT). Bentuk bangunan yang lain adalah sumur air tanah dangkal (kedalaman kurang dari 30 m) dan sumber-sumber air alam.  Terdapat 26 embung-embung kecil dengan kapasitas tamping  11,700 – 96,830 m3 air  dan, sebuah embung paling besar dengan kapasitas tampung 1,860,000 m3 air; 276 sumber air alam dan beberapa sumur air tanah dangkal.  Kelestarian embung-embung, dipengaruhi oleh berbagai aspek, seperti faktor teknis saat embung dibangun, pemanfaatan, sosial dan pengelolaan.  Oleh karena keterbatasan sumberdaya alam dan anggaran, pada umumnya di sebuah desa hanya terdapat satu tipe sumber air.  Meskipun demikian, dimungkinkan pada sebuah desa terdapat tiga bangunan sumber air, yakni:  embung khusus hanya untuk minum ternak dan pertanian;  sumur gali air tanah dangkal dan sumber air alam untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.  Baik sumber air alam maupun buatan tersebut sangat bermanfaat untuk melayani kebutuhan petani di wilayah perbatasan Belu-NTT.   Kata kunci : pelestarian, embung, wilayah perbatasan, iklim kering, Belu-NTT

    TUGAS RUMAH BERBASIS HOME SCIENCE PROCESS SKILL (HSPS) PADA PEMBELAJARAN BIOLOGI UNTUK MENGEMBANGKAN LITERASI SAINS SISWA

    Full text link
    ABSTRAK  Sains merupakan ilmu dasar yang melandasi pengembangan teknologi (technological and scientific advancement), sehingga memiliki peran penting dalam mendorong laju perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK). Oleh karenanya, sains harus terus dikembangkan dan dikenalkan baik secara formal melalui kegiatan pembelajaran di kelas maupun secara non-formal dalam kegiatan di luar kelas, agar terwujud masyarakat “melek sains” (science literacy) khususnya di kalangan siswa.Dalam konteks pembelajaran biologi di kelas, guru masih mengalami hambatan dalam mengembangkan keterampilan proses sains. Keterbatasan waktu mendorong guru lebih berorientasi produk (tercapainya target kurikulum) daripada mengembangkan keterampilan proses sains siswa. Akibatnya pembelajaran biologi dimaknai hanya sebatas transfer of knowledge berupa sekumpulan konsep-konsep yang harus dihafal, akibatnya siswa menjadi pasif, pembelajaran monoton, tidak menarik, dan membosankan. Belum optimalnya prestasi belajar, lemahnya penguasaan keterampilan sains, serta buruknya perilaku moral peserta didik, merupakan bukti bahwa pembelajaran biologi belum mengacu pada proses, produk, dan sikap ilmiah. Kondisi ini perlu segera dicari solusinya jika tak ingin pembelajaran biologi kehilangan ruhnya sebagai sains yang seharusnya dikembangkan sesuai dengan hakikatnya yakni pembelajaran berbasis hands on, minds on, dan hearts on activities sesuai yang diamanahkan dalam Undang Undang No. 20 Tahun 2003 bahwa Pendidikan Nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, menjadi warga negara yang demokratis, serta bertanggung jawab.    Home Science Process Skill adalah keterampilan proses sains berbasis kehidupan sehari-hari (daily life) yang dapat dilakukan oleh peserta didik di rumah secara terbimbing. Menurut (Debbye Vitti & Angie Torres, 2006) proses sains dapat terjadi secara spontan dan alami dalam situasi dan kondisi apapun, dengan demikian keterampilan proses sains dapat dilatihkan melalui kegiatan sehari-hari dalam bentuk tugas rumah secara terstruktur. Melalui optimalisasi tugas rumah berbasis Home Science Process Skill diharapkan selain dapat meningkatkan literasi sains siswa, sekaligus merupakan solusi yang efektif untuk mengatasi hambatan guru dalam mengembangkan keterampilan proses sains terkait dengan terbatasnya waktu pembelajaran di kelas.  Berangkat dari hal tersebut, maka paparan yang berjudul:“TUGAS RUMAH BERBASIS HOME SCIENCE PROCESS SKILL (HSPS) PADA PEMBELAJARAN BIOLOGI UNTUK MENGEMBANGKAN LITERASI SAINS SISWA” menjadi fokus dalam makalah ini.  Kata kunci : Home Science Process Skill, literasi sains

    ERUPSI MERAPI DAN POTENSI PENGEMBANGAN BAHAN AJAR BIOLOGI

    Full text link
     Artikel ini mengkaji bagaimana potensi peristiwa erupsi Gunung Merapi dan peristiwa lain ikutannya dapat digunakan sebagai bahan ajar pembelajaran biologi melalui pendekatan representasi. Peristiwa erupsi merupakan fenomena yang dapat menyajikan fakta objek dan persoalan biologi khususnya untuk topik ekologi. Beberapa fenomena itu di antaranya keanekaragaman, perubahan-perubahan ekologi kawasan lereng selatan Gunung Merapi, dan peristiwa banjir lahar dingin. Namun demikian, fakta-fakta peristiwa erupsi dan peristiwa ikutannya ini tidak serta merta dapat disajikan dalam pembelajaran. Beberapa catatan atau dokumen fenomena tersebut, yang menjadi sumber belajar tangan kedua, perlu diolah dan ditata-ulang menjadi bahan ajar fungsional, yang memungkinkan siswa belajar melakukan penafsiran ulang antara fakta/gejala dengan konsep-konsep yang relevan. Upaya pengembangan bahan ajar berbasis representasi memungkinkan munculnya aktivitas belajar penafsiran yang menjembatani antara fakta/gejala dengan konsep tersebut. Kata kunci : erupsi Merapi, bahan ajar biologi, representas

    PEMBANGUNAN KARAKTER MELALUI LESSON STUDY PADA PENDIDIKAN LINGKUNGAN HIDUP BERBASIS KEUNGGULAN LOKAL

    Full text link
    ABSTRAK Salah satu upaya meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia khususnya bagi guru dalam jabatan adalah dengan lesson study. Pada lesson study pembentukan (recontruction) karakter guru dibentuk secara terpadu untuk meningkatkan kompetensi profesional, pedagogi, sosial, dan kepribadian. Salah satu upaya pembangunan karakter adalah pada lingkup pengelolaan lingkungan hidup bagi peserta didik di mana masih dipandang perlu dideseminasikan lagi sebagai salah satu peta jalan dalam strategi pengelolaan lingkungan melalui pendidikan secara berkesinambungan. Di samping itu, berkembangnya asumsi kurang proporsional tentang lesson study, misal keaktifan peserta didik terkesan sudah dikondisikan dan hanya guru-guru MIPA saja yang dapat melakukan lesson study. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui bentuk dan sumber motivasi belajar peserta didik selama mengikuti pembelajaran melalui lesson study. Model implementasi lesson study pendidikan lingkungan hidup yang dikembangkan meliputi plan, do, see, dan menambahkan tahap pre-plan untuk menganalisis keunggulan lokal yang dapat diimplementasikan. Keunggulan lokal kemudian diintegrasikan pada pembelajaran dilakukan saat plan, dilaksanakan dengan open lesson dengan satu guru model dan lainnya sebagai observer, dilanjutkan tahap see untuk merefleksikan pembelajaran. Model digunakan pada pokok bahasan pencemaran dan diujikan pada satu rombongan belajar kelas X SMA Ar-Risalah Kota Kediri, 2-20 Januari 2011, sebanyak tiga siklus. Hasil yang diperoleh antara lain: ketuntasan belajar siklus I, II, dan III berturut-turut 50%, 80%, dan 90%. Bentuk motivasi yang teramati adalah rasa ingin tahu peserta didik yang tinggi dari kasus diskusi yang disampaikan guru model berupa bencana alam karena ulah manusia. Bentuk motivasi ini diperoleh rata-rata (mulai siklus I sampai III) sejumlah 81,67%. Sumber motivasi tertinggi (selain faktor pembelajaran yang lebih dekat dengan peserta didik) diperoleh peserta didik ketika peserta didik melihat kerja sama baik antar guru-guru mereka walaupun berbeda bidang keahlian (mata pelajaran), yaitu mencapai 90%. Penyebab turunnya motivasi tersebut saat pendapat peserta diskusi mulai dapat disanggah oleh kelompok lain sejumlah 95%. Penanaman nilai karakter selain dapat dilakukan dengan mendesain pembelajaran yang kontekstual melalui integrasi keunggulan lokal pada pembelajaran, namun juga dapat dimulai dengan membentuk profil keteladaan guru dengan membentuk learnig comunity melalui lesson study (ing ngarso sung tulado, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani) yang menumbuhkan motivasi untuk melaksanakan tugas sebagai generasi bangsa.   Kata-kata kunci: karakter, lesson study, keunggulan lokal

    PERSEPSI GURU BIOLOGI TERHADAP PEMBELAJARAN YANG MEMBERDAYAKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS DAN HASIL BELAJAR SISWA DI SMP NEGERI DAN SWASTA TONDANO

    Full text link
    ABSTRAK   Penelitian survei yang menggunakan angket ini diberikan pada 27 guru Biologi di 12 SMP Negeri dan Swasta di Tondano Kabupaten Minahasa. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan respon guru biologi terhadap strategi yang mampu memberdayakan kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar siswa. Berdasarkan jawaban responden, yang mengemukakan sangat penting melibatkan kemampuan berpikir kritis dalam pembelajaran (11,11%), penting (51,85%), dan jawaban kurang penting (0%), serta sisanya (37,04%) tidak memberikan jawaban. Responden yang menjawab telah mengembangkan strategi berpikir kritis dalam pembelajaran (62,96%), yang belum (3,70%), sedangkan (33,33%) tidak menjawab. Dalam pemberdayaan kemampuan berpikir kritis siswa, responden menjawab: sangat penting ( 14,81%), penting (48,15%), dan kurang penting (0%), serta tidak dijawab (37,04%). Lebih lanjut, yang menjawab benar bagaimana langkah-langkah memberdayakan kemampuan berpikir kritis siswa 48,15%, sedangkan sisanya (51,85%) tidak menjawab. Hal ini mengindikasikan sangat perlu lebih dikembangkan suatu strategi yang mampu memberdayakan kemampuan berpikir kritis, meskipun terdapat (59,26%) responden menjawab adanya kendala dalam memberdayakannya. Hal ini terkait pula dengan penilaian hasil belajar terkait cakupan tiap domain kognitif, afektif dan psikomotorik, di mana (7,41%) responden menjawab benar cakupan tiap domain, dan (44,44%) menjawab tidak benar, sedangkan (48,15%) tidak menjawab.   Kata Kunci : Berpikir Kritis, Hasil Belajar

    ILMU PENGETAHUAN BIOLOGI DALAM KETAHANAN NASIONAL

    Full text link

    UJI SALMONELLA-SHIGELLA PADA TELUR AYAM YANG DISIMPAN PADA SUHU DAN WAKTU YANG BERBEDA

    Full text link
    Uji Salmonella-Shigella pada telur ayam yang disimpan pada suhu dan waktu yang berbeda dilakukan dengan metode deskriptif. Mikroba diidentifikasi di Komplek Lik Ulu Gadut Badan Penelitian dan Pengembangan Industri Balai Riset dan Standardisasi (Baristand) Industri Padang. Hasil penelitian menyatakan bahwa waktu dan suhu penyimpanan telur ayam yang berbeda tidak ada hubungannya dengan keberadaan Salmonella-Shigella.  Kata kunci: Salmonella, Shigella, mikroba, deskripti

    PENGARUH MEDIUM AIR CUCIAN BERAS TERHADAP KECEPATAN PERTUMBUHAN MISELIUM BIAKAN MURNI JAMUR TIRAM PUTIH

    Full text link
    Biakan murni Jamur tiram putih(Pleurotus ostreatus var. florida) merupakan pembibitan tahap pertama yang berperan sangat penting dalam budidaya jamur tiram. Pertumbuhan miselium biakan murni jamur tiram putih membutuhkan karbohidrat, protein, mineral dan vitamin. Air cucian  beras berpotensi sebagai medium biakan jamur tiram putih karena mengandung karbohidrat, protein, mineral, dan vitamin yang dibutuh-kan dalam pertumbuhan jamur tiram putih. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) menguji pengaruh medium air cucian beras dalam beberapa konsentrasi terhadap kecepatan pertumbuhan miselium jamur tiram putih; 2) menentukan konsentrasi medium air cucian beras terbaik yang menghasilkan kecepatan pertumbuhan miselium paling tinggi. Penelitian ini dilakukan di laboratorium Mikrobiologi, jurusan Biologi FMIPA Universitas Negeri Malang pada bulan Februari-April  2013. Jenis penelitian ini ialah penelitian eksperimental. Rancangan yang digunakan ialah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan perlakuan macam konsentrasi  air cucian beras 0% (sebagai  kontrol negatif), 10%, 20%, 30%, 40%, 50%, 60%, 70%, 80%, 90%, 100%, dan medium Potato Dekstrose Agar  (sebagai kontrol positif) yang diulang sebanyak tiga kali. Pengukuran diameter koloni dilakukan pada hari ke-4, hari ke-7 dan hari ke-10 setelah inokulasi. Diameter koloni diukur berdasarkan rerata diameter koloni dengan arah horisontal dan vertikal. Kecepatan pertumbuhan miselium diperoleh dengan cara menghitung selisih diameter akhir dengan diameter awal kemudian dibagi rentang hari.Data  kecepatan pertumbuhan miselium dianalisis dengan menggunakan Analisis Varians Tunggal 5% dan dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Terkecil (BNT) 5%.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: 1)  terdapat perbedaan pengaruhmacam konsentrasi medium air cucian beras terhadap kecepatan pertumbuhan miselium jamur tiram putih; 2) konsentrasi medium air cucian beras terbaik ialah konsentrasi 90% yang menghasilkan kecepatan pertumbuhan miselium jamur tiram putih paling tinggi. Perlakuan kontrol positif dengan medium PDA menghasilkan diameter koloni lebih kecil dibandingkan diameter koloni pada perlakuan medium air cucian beras konsentrasi 90%. Kata Kunci:air cucian beras, kecepatan pertumbuhan, biakan murni, jamur tira

    DISTRIBUTION OF CALCIUM OXALATE CRISTAL, REDUCTION OF OXALATES, AND THE EFFECT OF CULTIVATION METHOD ON ITS FORMATION IN SOME VEGETABLES

    Full text link
    Oxalate is one of the plant metabolites. Oxalate can enter into the formation of both bio-soluble and insoluble oxalate in the some plants. Some plant which containing oxalates has been a good source of certain minerals, vitamins, dietary fiber, and some antioxidant phytochemicals. Most of vegetables are usually consumed both as a raw and or after cooking. On the other hand, oxalate can accumulate in the renal glomeroli and can lead to the formation of kidney stones and renal disorders. Besides that, the size, location, accumulation and formation oxalate acid to be calcium oxalate crystals in some vegetables may be affected by physical, chemical, and biological condition such us temperature, light exposure, pressure, time harvesting, pH, ion concentration, and macro and or micro ratio of field. This paper was aimed to describe: (1) distribution and formation of oxalate in some part of plants, (2) some methods how to reduce oxalates contents but still provided some good nutrition to healthy, (3) differences of the cultivation methods on oxalates content in some vegetables, in order to look for suitable cultivating method of vegetables.                 Key words: calcium oxalate, crystals, reduction, distribution, and formatio

    Pemanfaatan Internet sebagai Source of the Newest and Most Actual Science Infomtation untuk Meningkatkan Minat Belajar Mahasiswa pada Perkuliahan Kimia Unsur

    Full text link
    ABSTRAKPenelitian tentang penggunaan internet sebagai sumber informasi terbaru dan aktual untuk meningkatkan minat belajar mahasiswa dalam perkuliahan kimia unsur telah dilakukan. Tujuan penelitian ini adalah untuk 1). Mengetahui penilaian mahasiswa terhadap kinerja dosen saat memberikan kuliah kimia unsur 2). Mengetahui tanggapan mahasiswa terhadap pemberian materi materi aktual dari internet yang berupa artikel-artikel tentang aplikasi unsur dan senyawa dalam perkuliahan kimia unsur. Penelitian ini dilakukan dengan cara pemberian kuisioner kepada mahasiswa di akhir perkuliahan kimia unsur. Data penelitian dianalisis secara deskriptif kualitatif. Kesimpulan dalam penelitian ini adalah 1) Menurut penilaian mahasiswa, dosen pengampu mata kuliah kimia unsur telah mempunyai kinerja yang cukup baik dalam melaksanakan perkuliahan kimia unsur. 2). Lebih dari 50% mahasiswa setuju jika dalam perkuliahan kimia unsur diberikan materi-materi aktual dari internet untuk me-mutakhir-kan pengetahuan mereka tentang aplikasi unsur dan senyawanya.Kata kunci : internet, minat belajar, kimia unsur

    354

    full texts

    365

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Prosiding Seminar Biologi
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇