Jurnal Hortikultura
Not a member yet
543 research outputs found
Sort by
Uji Daya Gabung pada Persilangan beberapa Genotipe Pepaya (Carica pa paya L.)
Penelitian bertujuan untuk mengetahui daya gabung pada persilangan beberapa genotipe pepaya dan mempelajari aksigen yang menentukan komponen hasil, daya hasil, dan kualitas buah dari genotipe-genotipe yang diuji. Lima genotipepepaya disilangkan berdasarkan rancangan Dialel Metode 4 menurut Griffing. Penelitian dilakukan di kebun petani didesa Banjarsari (± 2 m dpl), Probolinggo,Jawa Timur, mulai bulan Oktober 2000 sampai Sep tem ber 2001 denganmenggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap dengan tiga ulangan. Perlakuan terdiri dari sepuluh hasilpersilangan. Analisis ragam untuk daya gabung umum berbeda nyata pada seluruh sifat, sedangkan daya gabungkhusus hanya berbeda nyata pada panjang buah, panjang tangkai buah, tebal daging buah, jumlah biji, dan berat buah.Genotipe 99-015 merupakan tetua penggabung yang baik untuk hasil dan kualitas, sedangkan genotipe 99-020merupakan tetua yang baik untuk hasil. Kombinasi persilangan yang terbaik tidak diperoleh dalam penelitian ini. Aksigen aditif terjadi pada panjang buah, di am e ter buah, jumlah buah, berat buah, dan hasil dengan tingkat dominansi tidaklengkap. Aksi gen dominan terjadi pada panjang tangkai buah, tebal daging buah, dan padatan terlarut to tal dengantingkat dominansi lebih, sedangkan jumlah biji tidak terjadi dominansi. Hasil penelitian bermanfaat bagi pemulia yangakan menggunakan genotipe-genotipe yang diuji ini sebagai bahan rakitan varietas unggul pepaya.Kata kunci : Carica pa paya; Daya gabung; Persilangan; GenotipeAB STRACT . Indriyani, NLP., S. Kuntjiyati H., and Soebijanto. 2002. Com bin ing abil ity of some pa paya ge no -types. The re search as sesses the com bin ing abil ity of the cross ing of five pa paya ge no types, and the gene ac tion thatde ter mines the com po nent of yield, and fruit qual ity of the ge no types ob served. Five ge no types were crossed us ingDialel Method 4 of Griffing. The ex per i ment was con ducted at farmer’s fields, Banjarsari, Probolinggo, from Oc to ber2000 to Sep tem ber 2001. A Ran dom ized Com plete Block De sign was used in this ex per i ment with three rep li ca tions.The treat ments con sisted of ten cross ings. The re sults showed that gen eral com bin ing abil ity ef fects were sig nif i cantfor all char ac ters ob served. Spe cific com bin ing abil ity ef fects were sig nif i cant for fruit length, length of fruit stalk,flesh thick ness, seed num ber, and fruit weight. The ge no type 99-015 was a good com bin ing par ent for yield andquality, while the ge no type of 99-020 was a good com bin ing par ent for yield. This re search in di cated no any bestcombining cross. The ad di tive gene ac tion occured on fruit length, fruit di am e ter, fruit num ber, fruit weight, and yieldwith in com plete dom i nance level. Dom i nant gene ac tion was ob served on the length of fruit stalk, flesh thick ness, to talsol u ble solid with over dom i nance level. There was no dom i nance on seed num ber. The re sults sug gest that breed erscan use these ge no types to con struct ma te rial of su pe rior va ri ety
Karakterisasi dan Evaluasi Beberapa Aksesi Nanas
Penelitian ini bertujuan untuk mengarakterisasi dan mengevaluasi karakter-karakter penting beberapa aksesi nanas dalam upaya mendapatkan tetua untuk perakitan varietas unggul. Penelitian dilakukan di Balai Penelitian Tanaman Buah, Solok mulai bulan Januari 2001 sampai Februari 2002. Rancangan yang digunakan adalah acak kelompok dengan 24 nomor aksesi sebagai perlakuan dan diulang dua kali. Setiap perlakuan terdiri dari empat tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakter antaraksesi nanas berbeda, kecuali jumlah dan lebar daun. Aksesi dengan tepi daun tidak berduri ditampilkan oleh aksesi nomor 4C, 5C, 8C, 20C, 26C, 27C, dan 34C. Aksesi yang mempunyai karakter unggul pada komponen buah, yaitu mempunyai mahkota tunggal ditampilkan oleh semua nomor aksesi, kecuali nomor 30H dan 32H; tangkai buah pendek oleh nomor 2Q, 4C, 5C, 8C, 20C, 26C, 27C, dan 34C; bobot buah>1.000 g oleh nomor 26C, 30H, 32H, dan 34C; mata dangkal oleh nomor 2Q, 16Q, 4C, 5C, 8C, 20C, 27C, dan 34C; serta aksesi yang mempunyai diameter buah >9,5 cm ditampilkan oleh nomor 3H, 30H, 32H, 4C, 8C, 26C, 27C, dan 34C. Aksesi yang mempunyai karakter unggul pada kualitas buah, yaitu kandungan TSS ³16° Brix adalah nomor 2Q, 16Q, 18Q, 4C, 5C, 8C, 20C, 27C, dan 34C; vitamin C tinggi aksesi nomor 1MP, 45MP, 3H, 30H, 32H, 10M, 33M, dan 4C; kadar serat rendah ditampilkan oleh semua nomor aksesi kecuali nomor 1MP dan 45MP; rasio daging/hati yang besar oleh nomor 3H, 30H, 32H, 10M, dan 33M. Aksesi yang mempunyai jumlah karakter unggul terbanyak, yaitu tepi daun tidak berduri, mahkota tunggal, tangkai buah pendek, mata dangkal, diameter buah >9,5 cm, TSS ³16° Brix, kadar serat rendah ditampilkan oleh nomor 4C, 8C, 27C, dan 34C. Bobot buah ditentukan oleh karakter diameter dan panjang buah. Pada jarak taksonomi 1,95 terbagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok A (klon merah, hijau, queen, dan cayenne) dan kelompok B (klon merah pagar). Informasi karakter ini dapat digunakan sebagai pertimbangan untuk pemilihan tetua dalam program perakitan varietas unggul. Kata kunci: Ananas comosus; Aksesi; Karakterisasi; Evaluasi; Pertumbuhan dan hasil; Mutu buah. ABSTRACT. The aim of the research was to characterize and evaluate the important characters of some pineapple accessions to obtain the parents for establishing the superior variety. This research was conducted at Indonesian Fruit Research Institute from January 2001 to February 2002. The experiment was arranged in a com- pletely randomized block design with 24 accessions as treatments and two replications. Each experimental unit con- sisted of four plants. The results showed that all characters were significantly different among accessions, except the number and width of leaves. The leaves margin whithout spine were showed by accessions number of 4C, 5C, 8C, 20C, 26C, 27C, and 34C; superior characters of fruit component, i.e single crown were showed by all accessions, ex- cept accession number 30H and 32H; short peduncle showed by 2Q, 4C, 5C, 8C, 20C, 26C, 27C, and 34C; fruit weight >1000 g showed by 30H, 32H, 26C, and 34C; flat eyes showed by 2Q, 16Q, 4C, 5C, 8C, 20C, 27C, and 34C of accessions number. Superior characters of fruit quality, i.e. TSS ³16°Brix were showed by accessions number of 2Q, 16Q, 18Q, 4C, 5C, 8C, 20C, 27C, and 34; high vitamin C content showed by 1MP, 45MP, 3H, 30H, 32H, 10M, 33M, and 4C; low fibre content showed by all accessions except accessions number 1MP and 45MP; high flesh/core thickness ratio showed by 3H, 30H, 32H, 10M, and 33M. It’s looked that accessions number 4C, 8C, 27C, and 34C had more su- perior characters than the others, i..e leave margin whithout spine, single crown, short peduncle, fruit diameter >9.5 cm, TSS ³16 °Brix, and low fibre content. Fruit weight was determined by diameter and length of fruit characters. There were two clone groups at 1.95 taxonomic distance, i.e group A consisted of merah, hijau, queen, and cayenne clones, and group B consisted of merah pagar clone. The information about the characters observed could be used to obtain the parents for establishing the superior variety
Evaluasi Daya Hasil dan Adaptasi Klon-klon Harapan Krisan
Lima belas klon harapan krisan ditanamkan di lokasi dengan tinggi 700, 800, dan 1.200 m dpl menggunakan rancangan acak kelompok dengan tiga ulangan, pada bulan Oktober 2000 sampai dengan Maret 2001. Tujuan penelitian adalah untuk memperoleh klon-klon krisan yang berdaya hasil tinggi untuk persiapan pelepasan varietas baru. Luaran yang diharapkan adalah lima klon krisan yang berdaya hasil tinggi dan adaptif terhadap kondisi lingkungan di sentra-sentra produksi krisan. Hasil penelitian mendapatkan lima klon krisan no. 49, 26, 4, 21, dan 29 yang adaptif dan berdaya hasil tinggi yang selanjutnya dapat direkomendasikan untuk pelepasan varietas baru. Kata kunci: Chrysanthemum morifolium; Klon harapan; Daya hasil; Adaptasi ABSTRACT. Fiveteen promising clones of chrysanthemum were planted at three locations with eleva- tion 700, 900, and 1,200 m. above sea level. A randomized design with three replications, and conducted from October 2000 to March 2001. The objective of this experiments was to evaluate the potential yield and adaptation of breeder promising clones related to selection method on chrysanthemum breeding program for releasing varieties. The results showed that five clones of chrysanthemum no. 49, 26, 4, 21, dan 29 possesed superior characteristics i.e high yielding potential and adaptive that should be recommended for releasing varieties
Isolasi dan Identifikasi Penyebab Penyakit Speckle Daun Pisang
Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Fitopatologi Fakultas Pertanian Universiti Putra Malaysia dari bulan Mei sampai dengan Desember 2001. Penelitian bertujuan mengisolasi dan mengidentifikasi secara mendetail morfologi cendawan penyebab penyakit speckle daun pisang. Teknik isolasi menggunakan cellotape imprint, isolasi secara langsung dengan contoh daun sakit, dan isolasi spora tunggal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teknik isolasi pal- ing sesuai untuk mendapatkan cendawan penyebab speckle daun pisang adalah isolasi spora tunggal. Berdasarkan atas pengamatan menunjukkan bahwa konidia cendawan yang berasal dari media buatan didominasi oleh konidia bersel tunggal, terbentuk dalam rangkaian, berbentuk oval atau membulat, tidak berwarna, berukuran panjang 3-21 mm dan lebar 2-6 mm. Sementara konidia yang diambil secara langsung dengan selotip berukuran sedikit lebih besar, berukuran panjang 5-22 mm dan lebar 3-7 mm, terbentuk dalam rangkaian dan tidak berwarna. Berdasarkan atas sifat-sifat morfologinya, cendawan yang berasal dari contoh daun yang terserang penyakit speckle ada kesamaan dengan cendawan Cladosporium musae Mason sebagaimana telah dilaporkan sebelumnya. Kata kunci: Pisang; Penyakit speckle; Isolasi; Identifikasi ABSTRACT. The experiment was conducted at Phytopathology Laboratory of Universiti Putra Malaysia from May to De- cember 2001. The aim of this study was to isolate and to identify the causal agent of speckle disease from banana leaves. The isolation techniques used were cellotape imprint, direct plating diseased banana leaves, and single spore isolation. The results showed that the suitable technique for isolation agent of speckle disease was single spore isola- tion. Observation showed that the conidia in cultures were predominantly one-celled, colorless, produced in catenulate chains, and were ellipsoidal, ovate cylindrical or fusiform in shape. The average conidial dimension in cul- tures was 3-21 mm in length and 2- 6 mm in width. Those observed from cellotape imprints made on banana leaves were larger, averaging 5 -22 mm in length and 3 -7 mm in width. The cultural and morphological characteristics of the fungus isolated from diseased banana leaf samples are discussed
Interaksi Tanaman pada Sistem Tumpangsari Tomat dan Cabai di Dataran Tingg
Penelitian bertujuan mempelajari interaksi sinergis tanaman tomat dan cabai dalam sistem pertanaman tumpangsari di dataran tinggi. Kegiatan penelitian dilaksanakan di rumah kaca dan lapangan, di Kebun Percobaan Balai Penelitian Tanaman Sayuran, mulai bulai Mei sampai dengan Desember 2000. Perlakuan percobaan terdiri atas delapan macam perlakuan tanam tumpangsari, termasuk pertanaman monokrop sebagai pembandingnya. Percobaan rumah kaca menggunakan rancangan acak lengkap dengan dua ulangan, sedangkan di lapangan menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan tiga ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (a) interaksi sinergis tanaman terjadi pada tumpangsari tanaman tomat dan cabai terhadap komponen pertumbuhan tinggi (7 minggu), perkembangan luas daun, bobot kering tanaman pada fase pertumbuhan maksimum, serapan total NPK, dan komponen hasil buah tomat dan cabai (buah sehat dan rusak), (b) efek sinergis tanaman nyata terjadi searah dari tanaman cabai terhadap setiap parameter tanaman tomat; dan (c) sistem interaksi sinergis tanaman tumpangsari di dataran tinggi dipengaruhi cara pengelolaan tanaman di lapangan. Selanjutnya pengaruh interaksi dua arah dari tanaman tumpangsari sayuran di dataran tinggi perlu diteliti lebih lanjut. Kata kunci: Lycopersicum esculentum;Capsicum annuum; Tumpangsari; Sinergisme; Interaksi; Tanaman sayuran. ABSTRACT. A series of experiment were conducted at screen house and experi- mental garden of Research Institute for Vegetable, starting from May to December 2000. Treatments consisted of eight kinds of intercropping systems including monocrop as its control treatment. A screen house experiment used a randomized complete design with two replications, while the randomized block design with three replications was ap- plied in the field experiment. The results showed that (a) the positive plant interaction occurred on tomato and hot pep- per intercropping as shown at growth component of plant height (7 weeks), leaf area, dry weight of crop at maximum growth stage, total uptake of NPK, and the yield components of tomato and hot pepper fruits (healthy fruit and damage fruit), (b) synergism affect of plants significantly occurred directly from hot pepper plant on tomato crop, and (c) the plant interaction system of tomato and hot pepper intercropping in the highland were closely related to cropping man- agement in field. Further study are needed to explore more information deeply in two ways interaction affects of crop- ping sytem on vegetables farming in the highland
Evaluasi Daya Hasil dan Adaptasi Klon- klon Harapan Krisan
Lima belas klon harapan krisan ditanamkan di lokasi dengan tinggi 700 , 800 , dan 1.200 m di atas permukaan laut menggunakan rancangan acak kelompok dengan tiga ulangan, pada bulan Oktober 2000 sampai dengan Maret 2001. Tujuan penelitian adalah untuk memperoleh klon-klon krisan yang berdaya hasil tinggi untuk persiapan pelepasan varietas baru. Luaran yang diharapkan adalah lima klon krisan yang berdaya hasil tinggi dan adaptif terhadap kondisi lingkungan di sentra-sentra produksi krisan. Hasil penelitian mendapatkan lima klon krisan yang adaptif dan berdaya hasil tinggi yang selanjutnya dapat direkomendasikan untuk pelepasan varietas baru. Kata kunci; Krisan; Klon harapan; Daya hasil; Adaptasi ABSTRACT. Fiveteen promising clones of chrysanthemum were planted at three locations with eleva- tion 700, 900, and 1,200 m. above sea level. A randomized design with three replications, and conducted from October 2000 to March 2001. The objective of this experiments was to evaluate the potential yield and adaptation of breeder promising clones related to selection method on chrysanthemum breeding program for releasing varieties. The results showed that five clones of chrysanthemum possesed superior characteristics i.e high yielding potential and adaptive that should be recommended for releasing varieties
Peningkatan Mutu Bunga dan Produktivitas Dua Kultivar Sedap Malam dengan Pemupukan N, P, dan K
Penelitian bertujuan mengetahui tanggap kultivar sedap malam terhadap pemberian beberapa kombinasi dosis pupuk dalam rangka peningkatan produktivitas dan mutu bunga. Penelitian dilaksanakan di Cianjur dari bulan September 1998 sampai dengan bulan Juli 1999. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok pola faktorial dengan tiga ulangan. Dua kultivar, yaitu kultivar berbunga tunggal dan berbunga ganda sebagai faktor pertama dan tujuh kombinasi dosis pupuk inorganik (N, P2O5, dan K2O) sebagai faktor kedua. Didapatkan bahwa keragaan tumbuh dan hasil bunga kultivar bunga berpetal ganda lebih adaptif dibandingkan dengan kultivar bunga berpetal tunggal. Kombinasi dosis pupuk inorganik dengan N tertinggi (40 g/m2/tahun), menampakkan keragaan yang paling baik dan berbeda nyata dengan beberapa kombinasi di bawahnya sepanjang diimbangi dengan jumlah unsur P dan K. Kata kunci: Polianthes tuberose; Kultivar; Pemupukan; Produktivitas bunga; Kualitas bunga. ABSTRACT. The objective of this experiment was to evaluate response of two cultivars P. tuberose treated with several inorganic fertilizer dosages application. Experiment was conducted in Cianjur from September 1998 until July 1999. A factorial randomized block design with three replications was used in this experiment. The first factor consisted of two cultivars meanwhile the second factor com- prised of seven dosages inorganic fertilizers ( N, P2O5, and K2O) compositions. The results indicated that the double petals cultivar was significantly more adaptive compared to those of single petal cultivar. Dosage of N inorganic fertilizer applications up to 40 g/m2/year gave significantly different compared to that below dosages
Analisis Pengelompokan dan Hubungan Kekerabatan Spesies Anggrek Phalaenopsis Berdasarkan Kunci Determinasi Fenotipik dan Marka Molekuler RAPD
Hubungan kekerabatan antara 19 anggrek phalaenopsis dianalisis menggunakan random amplified polymorphic DNA pada tingkat molekuler dan secara fenotipik menggunakan kunci determinasi dari Sweet. Dendrogram kekerabatan anggrek phalaenopsis tersebut diperoleh dari 300 pola pita DNA dan 27 karakter fenotipik. Hubungan kekerabatan secara genetik dianalisis menggunakan koefisien kemiripan Dice dan jarak genetik secara fenotipik menggunakan koefisien Dist. Korelasi antara keduanya dianalisis menggunakan statistik Mantel dengan prosedur MXCOMP pada program NTSYS. Hasil penelitian menunjukkan hubungan kekerabatan berdasarkan koefisien kemiripan Dice adalah 0,24-0,66 (jarak genetik antara 0,34-0,76), sedangkan jarak taksonomi berdasarkan koefisien Dist adalah 1,42-0,08. Nilai korelasi antara matriks kemiripan dan matriks jarak adalah kecil yaitu -0,38, dengan nilai koefisien determinasi R2 = 0,15. Nilai koefisien determinasi yang kecil menunjukkan bahwa hanya 15% data morfologi dapat digunakan untuk mengestimasi kemiripan genetiknya. Hasil analisis komponen utama menunjukkan terdapat 231 pita yang berperan dalam pengelompokan secara terpisah 19 spesies anggrek phalaenopsis, namun tidak dapat mengidentifikasi pita spesifik untuk karakter atau genotip tertentu. Kata kunci : Kunci determinasi; Kekerabatan genetic; Phalaenopsis; Penanda molekuler RAPD; Analisis pengelompokan. ABSTRACT. Genetic relationships among 19 genotypes of phalaenopsis orchid were investigated us- ing random amplified polymorphic DNA technique at the DNA level and using the determination key introduced by sweet at the phenotypical level. Orchid dendrogram was obtained from banding patterns of DNA and from 27 phenotypic traits scored, using Dice similarity and average taxonomic distances respectively. Correlation between a pair of proximity matrices was tested with the Mantel statistic generated by the MXCOMP procedure in NTSYS-pc software. The results showed that constant similarity coefficient and relative order were obtained with 16 primers (300 DNA bands). Genetic relationships among 19 species of phalaenopsis orchids based on Dice similarity coefficient var- ied from 0.24 – 0.66 (genetic distance 0.34 – 0.76). Cluster analysis based on the determination key indicated that the genetic distance (Dist coefficient) varied from 1.42 – 0.08. Grouping of phalaenopsis species using RAPD technique was different from the one using phenotypic characters as used by Sweet with correlation value -0.38 and coefficient determination value 0.15. A small correlation coefficient indicated that the relationship between variables is weak, meaning that average taxonomic distance could not be used to estimate the genetic similarity. The principal compo- nent analysis showed the relative position of 19 genotypes of phalaenopsis in two and three dimensions (principal component). The same procedure also identified the most important DNA bands (231 bands) having very important roles in the grouping, but failed to identify any specific band for any particular character or genotype
Pengaruh Suhu dan Kelembaban Relatif terhadap Perkecambahan dan Perkembangan Tabung Kecambah Konidia Cladosporium musae Mason
Penelitian dilakukan di Laboratorium Fitopatologi Fakultas Pertanian, Universiti Putra Malaysia dari bulan Januari-Maret 2002. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh suhu dan kelembabam relatif terhadap perkecambahan dan perkembangan tabung kecambah konidia C. musae. Rancangan percobaan menggunakan faktorial dengan suhu sebagai faktor pertama dan kelembaban relatif sebagai faktor kedua. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konidia C. musae dapat berkecambah pada kisaran suhu dan kelembaban relatif yang lebar masing-masing 22-34oC dan 88,5-100%. Pada kelembaban relatif yang rendah, rataan jumlah konidia yang berkecambah berkurang secara drastis. Perkecambahan maksimum terjadi pada suhu 26oC dengan kelembaban relatif 99-100%. Tabung kecambah terpanjang 133,64 mm terdapat pada suhu 26oC dengan kelembaban relatif 100% diikuti 116,5 mm pada suhu 22oC. Panjang tabung kecambah berkurang pada suhu tinggi dan kelembaban relatif rendah. Dibahas juga perbedaan pengaruh suhu dan kelembaban relatif terhadap perkecambahan dan perkembangan tabung kecambah. Kata kunci: Cladosporium musae; Suhu; Kelembaban relatif; Konidia; Perkecambahan; Tabung kecambah. ABSTRACT. The experiment was conducted in Phytopathology Laboratory of Faculty Agriculture, Universiti Putra Malaysia from January-March 2002. The aim of this experiment was to study effect of temperature and RH on the germination and germ tubes development of conidia C. musae. The experimental design used a factorial with temperature as the first factor and RH as the second factor. The results of this experiment showed that conidia of C. musae germinated over a wide range temperature of 22-34oC and of RH 88.5-100%. Mean percent- age conidial germination generally decreased drastically at lower RH. Maximum germination was observed at temper- ature 26oC with RH 99-100%. The longest of germ tubes conidia of C. musae 133.64 mm was occurred at temperature 26oC with RH 100% followed by 116.50 mm 22oC. Germ tubes length was decreased at high temperature and at lower RH. Differences effect of temperature and RH on the conidial germination and germ tubes development are discusse
Studi Kerusakan Buah Manggis Akibat Getah Kuning
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi faktor penyebab timbulnya getah kuning pada buah manggis yang dilakukan di KabupatenLimapuluh Kota dan Kodya Padang, mulai April 1995 - Maret 1996. Perlakuan terdiri dari pembungkusan buah dan tanpa pembungkusan buah. Hasilpenelitian menunjukkan bahwa munculnya getah kuning pada kulit buah dapat terjadi selama proses perkembangan buah. Intensitas getah pada kulitbuah dipengaruhi oleh hari hujan, suhu min i mum, dan rata-rata suhu harian. Persentase kulit buah manggis yang bergetah dipengaruhi olehpembungkusan, hari hujan, suhu min i mum, dan suhu rata-rata harian. Pembungkusan buah tidak berpengaruh terhadap intensitas getah pada dagingbuah, tetapi berpengaruh pada persentase daging buah yang bergetah. Tidak ada korelasi antara getah yang ada pada kulit buah dengan getah yang adapada daging buah manggis. Hasil penelitian merupakan dasar untuk mengendalikan keluarnya getah kuning pada buah manggis sehingga kualitasbuah dapat ditingkatkan.Kata kunci : Garcinia mangostana; Getah kuning; IklimAB STRACT. Indriyani, NLP., S. Lukitariati, Nurhadi, and M. Jawal A. 2002. Study of man go steen fruit dam age caused yel low la tex stain -ing. The ob jec tives of this re search was to iden tify fac tors which cause the oc cur rence of yel low la tex stainingon man go steen fruits. This re search wascon ducted at Limapuluh Kota and Padang dis trict, from April 1995 un til March 1996. The treat ments con sisted of wrapped and un wrapped fruit. The re -sults showed that in ci dence of yel low la tex on the rind occured dur ing the pro cess of fruit de vel op ment. La tex in ten sity of the rind was af fected by the rainday, minimum tem perature, and average daily tem perature. The percentage of the latex rind was influ enced by fruit wrapping, rainfall, minimum tem pera -ture, and daily av er aged tem per a ture. Fruit wrap ping did not in flu enced la tex in ten sity of the flesh, how ever, it did on the per cent age of flesh con tain ing.There was no cor re la tion be tween the la tex occured on the rind and on the flesh of man go steen. The re sults of this re search is a ba sic in for ma tion to de cidethe con trol of man go steen fruit dam age caused by yel low la tex stain ing for im prov ing fruit qual ity