Jurnal Hortikultura
Not a member yet
543 research outputs found
Sort by
Peranan Pseudomonas fluorescens MR 96 pada Penyakit Layu Fusarium Tanaman Pisang
Pseudomonas fluorescens dilaporkan dapat menekan layu fusarium pada tanaman pisang, tetapi mekanisme kerja bakteri itu dalam mengendalikan penyakit belum diketahui. Penelitian bertujuan mempelajari mekanisme kerja P. fluorescens strain MR 96 dalam menekan perkembangan layu fusarium pada tanaman pisang. Percobaan dilakukan di rumah kaca Balai Penelitian Tanaman Buah Solok, mulai Januari sampai dengan Desember 2001. Hasil percobaan menunjukkan bahwa P. fluorescens dapat menekan serangan penyebab layu fusarium dengan cara induksi resistensi tanaman pisang dan antibiosis, serta bakteri antagonis itu mempengaruhi pertumbuhan tanaman pisang. Di samping itu, keefektifan bakteri antagonistik tersebut dalam menekan F. oxysporum f.sp. cubense tidak dipengaruhi oleh jenis tanah di sekitar rizosfer, tetapi perkembangan penyakit layu dan pertumbuhan tanaman pisang dipengaruhi oleh jenis tanah. Kata kunci : Musa sp.; Fusarium oxysporum f.sp. cubense; Pseudomonas fluorescens strain MR 96; Mekanisme antagonis ABSTRACT. Pseudomonas fluorescens MR 96 was reported of its ability to suppress fusarium wilt on banana plants, but the mechanism of the disease suppresion was not known. The aim of this research was to know the mechanism of P. fluorescens in controlling the disease on banana plants. The research was held in greenhouse of Indo- nesian Fruit Research Institute in Solok, from January until December 2001. The results of the research showed that P. fluorescens controlled the disease with resistance induction in banana plant and antibiosis mechanism, and the an- tagonistic bacteria affected the plant development. Beside that, effectiveness of the bacteria to control F. oxysporum f.sp. cubense was not affected by soil type in rizosphere, but wilt disease and banana plants growth were affected by soil type
Pengujian Keefektifan Gliokompos terhadap Pertumbuhan dan Perkembangan Tanaman Krisan
Penelitian bertujuan mengetahui pengaruh aplikasi gliokompos terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman krisan yang dilaksanakan di Kebun Percobaan Balai Penelitian Tanaman Hias Segunung dari bulan September 1999 sampai dengan Januari 2000. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok pola faktorial dengan tiga ulangan. Delapan komposisi media tanam berupa perbandingan volume gliokompos, pupuk kandang, dan tanah sebagai faktor pertama dan tiga varietas, yaitu saraswati, retno dumilah, dan dewi sartika sebagai faktor kedua. Data diperoleh dari beberapa peubah pertumbuhan dan hasil bunga. Penggunaan gliokompos efektif dalam meningkatkan pertumbuhan tanaman, hasil bunga serta ketahanan tanaman terhadap serangan penyakit tular tanah. Pertumbuhan dan hasil bunga terbaik ditunjukkan oleh varietas retno dumilah, disusul dengan varietas saraswati dan dewi sartika. Penggunaan pupuk kandang sebagai media tanam cenderung menurunkan ketahanan tanaman akan serangan beberapa penyakit tular tanah. Sebaliknya penggunaan gliokompos mampu menekan serangan penyakit tular tanah serta meningkatkan hasil bunga. Kata kunci: Dendrathema grandiflora Tzvelev; Gliokompos; Kesehatan tanaman; Pertumbuhan tanaman; Hasil bunga ABSTRACT. The objective of this experiment was to evaluate effective- ness of gliocompost as soil sterillant on the cutting production and healthiness. Experiment was conducted at Indone- sian Ornamental Research Institute Segunung from September 1999 to January 2000. A factorial randomized block design with three replications was used in this experiment. Eight medium compositions described by volume ratio of gliocompost, chicken manure, and soil, were notated as first factor. Three varieties, namely saraswati, retno dumilah and dewi sartika, were used as second factor. Data collected were plant growth and healthiness as well as flower pro- duction. Based on the available data, concluded that the best plant growth performance and flowers production were showed by retno dumilah, followed by saraswati and dewi sartika. The use of chicken manure as a planting medium tended reduce plant resistance to soil borne diseases. Inversely, the use of gliocompost as planting medium increased plant resistance and flower production.
Pengujian Keefektivan Gliokompos terhadap Pertumbuhan dan Perkembangan Tanaman Krisan
Penelitian bertujuan mengetahui pengaruh aplikasi gliokompos terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman krisan yang dilaksanakan di Kebun Percobaan Balai Penelitian Tanaman Hias Segunung dari bulan September 1999 sampai dengan Januari 2000. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok pola faktorial dengan tiga ulangan. Delapan komposisi media tanam berupa perbandingan volume gliokompos, pupuk kandang dan tanah sebagai faktor pertama dan tiga varietas, yaitu saraswati, retno dumilah dan varietas dewi sartika sebagai faktor kedua. Data diperoleh dari beberapa peubah pertumbuhan dan hasil bunga. Berdasarkan hasil analisis dapat diketahui bahwa penggunaan gliokompos efektif dalam meningkatkan pertumbuhan tanaman, hasil bunga serta ketahanan tanaman terhadap serangan penyakit tular tanah. Pertumbuhan dan hasil bunga terbaik ditunjukkan oleh varietas Retno Dumilah, disusul dengan varietas saraswati dan dewi sartika. penggunaan pupuk kandang sebagai media tanam cenderung menurunkan ketahanan tanaman akan serangan beberapa penyakit tular tanah. Sebaliknya penggunaan gliokompos mampu menekan serangan penyakit tular tanah serta meningkatkan hasil bunga. Kata kunci: Dendrathema grandiflora Tzvelev; Gliokompos; Kesehatan tanaman; Pertumbuhan tanaman;Hasil bunga ABSTRACT. The objective of this experiment was to evaluate effectiveness of gliocompost as soil sterillant on the cutting production and healthiness. Experiment was conducted at Indonesian Or- namental Research Institute Segunung from September 1999 to January 2000. A factorial randomized block design with three replications was used in this experiment. Eight medium compositions described by volume ratio of gliocompost, chicken manure and soil, were notated as first factor. Three varieties, namely saraswati, retno dumilah and dewi sartika, were used as second factor. Data collected were plant growth and healthiness as well as flower pro- duction. Based on the available data, concluded that the best plant growth performance and flowers production were showed by retno dumilah, followed by saraswati and dewi sartika. The use of chicken manure as a planting medium tended reduce plant resistance to soil borne diseases. Inversely, the use of gliocompost as planting medium increased plant resistance and flower production
Perlakuan Biji Pepaya dalam Larutan 3-Indolebutyric Acid, Absicic Acid dan Ukuran Polibag terhadap Perkecambahan dan Pertumbuhannya
Hasil persilangan antartanaman berdasarkan tipe seks menghasilkan segregasi dengan proporsi yang berbeda-beda. Teknik identifikasi seks sejak fase benih sangat dibutuhkan dalam upaya mempercepat siklus generasi dan efisiensi ruang uji dalam uji persilangan. Penelitian ini merupakan tahap awal untuk mengidentifikasi bibit sejak dini yaitu dengan memperlakukan biji dalam larutan auksin dan ABA.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh data daya pertumbuhan bibit pepaya yang diperlakukan dengan indole butyric acid (IBA) dan absicic acid (ABA). Penelitian ini dilaksanakan di Sumatera Barat mulai bulan Agustus 1999 sampai dengan Maret 2000. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok sebanyak tiga ulangan yang disusun secara faktorial. Untuk mendapatkan teknik identifikasi tersebut dapat didekati dengan mendiskripsikan benih semaian sampai dengan tanaman di polibag. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan IBA dan ABA berpengaruh terhadap pertumbuhan daun dan tinggi tanaman. IBA dan ABA tidak berpengaruh nyata terhadap diameter batang. Pada awal pertumbuhan, diameter batang dipengaruhi oleh tempat. Pengaruh IBA dan ABA nyata pada perkecambahan biji terutama untuk dampit, lokal kuning dan lokal jingga. Kata kunci : Carica papaya; Biji pepaya; IBA; ABA ABSTRACT. This experiment has been done at Solok Re- search Institute for Fruit Crops. Outpolynation the plant according to sex type produced highly segregation. The pro- portion of segregate was not the same. Identity of variety is the main key in papaya crossing. Sex identification technique at seedling was demanded. This technique can be used to accelarate regeneration cycle and efficiency on testing the new clones. The aims of this experiment was to find out the seed germination and seedling growth. The re- search was conducted at West Sumatera from August 1999 until March 2000. The experiment was using a Random- ized Block Design with three replication. The technique can be worked out by morphology description from seedling up to the plant that was grown in a polybag. The results indicated that ABA and IBA was significant by affect the leaf growth and hight of stem. There was no significantly different on stem diameters. At early growth polybag sizes was significantly affect the stem diameter. IBA and ABA was affected to the germination of papaya seed variety, dampit, local kuning and local jingga
Evaluasi Beberapa Klon Kentang Asal Stek Batang untuk Uji Ketahanan terhadap Phytophthora infestans
Penelitian dilaksanakan di Desa Cibodas, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung 1.400 m dpl mulai bulan No- vember 2000 sampai dengan Maret 2001. Rancangan percobaan yang digunakan adalah petak terpisah dengan dua ulangan. Petak utama adalah perlakuan proteksi dan non-proteksi sedangkan sebagai anak petak adalah 21 klon kentang. Setiap petak perlakuan terdiri dari 10 tanaman. Tujuan penelitian adalah untuk mendapatkan klon yang resisten terhadap serangan penyakit busuk daun. Dihasilkan 12 klon kentang yang resisten terhadap serangan penyakit busuk daun, yaitu ingabire, Lbr-2, Lbr-40, Lbr-18, cruza -148, idiaf 92, I-1085, MF-I, MF-II, biota, denva, dan klon 20 dengan nilai rataan area under diseases progress curve (AUDPC) untuk masing-masing klon berkisar antara 49-581, sedangkan nilai AUDPC untuk kultivar pembanding (granola) adalah 1873. Rataan potensi hasil tertinggi berturut-turut dicapai oleh klon ingabire, Lbr-18, I-1085, idiaf-92, LBr-40, MF-II, biota, klon 20, dan cruza-148 yang berbeda nyata dengan kultivar pembanding (granola). Kata kunci : Kentang; Resistensi; Klon; Busuk daun ABSTRACT. The experiment was conducted at Cibodas Lembang, Bandung district 1,400 m asl from No- vember 2000 until March 2001. The experimental design used was split plot with two replications. Spray and nonspray were the main plot and 21 potato clones were the subplot. Each treatment plot consisted of 10 plants . The objective of the research was to observe the resistant and high yielding clones. The results indicated that 12 clones were resistance to late blight they were ingabire, Lbr-2, Lbr-40, Lbr-18, cruza -148, idiaf 92, I-1085, MF-I, MF-II, biota, denva, and clone 20. The area under diseases progress curve (AUDPC) scores for those clones ranged from 49 to 581, whereas, the AUDPC score of granola variety was 1873. The highest yielding clones were obtained from ingabire followed by clones, Lbr-18, I-1085, idiaf-92, LBr-40, MF-II , biota, clone 20, and cruza-148 were higher than variety control (granola)
Interaksi Tanaman pada Sistem Tumpangsari Tomat dan Cabai di Dataran Tinggi
Penelitian bertujuan mempelajari interaksi sinergis tanaman tomat dan cabai dalam sistem pertanaman tumpangsari di dataran tinggi. Kegiatan penelitian dilaksanakan di rumah kaca dan lapangan, di Kebun Percobaan Balai Penelitian Tanaman Sayuran, mulai bulai Mei sampai dengan Desember 2000. Perlakuan percobaan terdiri atas delapan macam perlakuan tanam tumpangsari, termasuk pertanaman monokrop sebagai pembandingnya. Percobaan rumah kaca menggunakan rancangan acak lengkap dengan dua ulangan, sedangkan di lapangan menggunakan rancangan acak kelompok dengan tiga ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (a) interaksi sinergis tanaman terjadi pada tumpangsari tanaman tomat dan cabai terhadap komponen pertumbuhan tinggi (7 minggu), perkembangan luas daun, bobot kering tanaman pada fase pertumbuhan maksimum, serapan total NPK, dan komponen hasil buah tomat dan cabai (buah sehat dan rusak), (b) efek sinergis tanaman nyata terjadi searah dari tanaman cabai terhadap setiap parameter tanaman tomat, dan (c) sistem interaksi sinergis tanaman tumpangsari di dataran tinggi dipengaruhi cara pengelolaan tanaman di lapangan. Selanjutnya pengaruh interaksi dua arah dari tanaman tumpangsari sayuran di dataran tinggi perlu diteliti lebih lanjut. Kata kunci: Lycopersicum esculentum;Capsicum annuum; Tumpangsari; Sinergisme; Interaksi; Tanaman sayuran. ABSTRACT. This research aimed to study the plants interaction of tomato and hot pepper intercropping system in highland. A series of experiment were conducted at screen house and experimental garden of Indonesian Vegetable Research Institute, starting from May to December 2000. Treatments consisted of eight kinds of intercropping systems including monocrop as control. A screen house experiment used a randomized complete design with two replications, while the randomized block design with three replications was applied in the field experiment. The results showed that (a) the positive plant interaction occurred on tomato and hot pepper intercropping as shown at growth component of plant height (7 weeks), leaf area, dry weight of crop at maximum growth stage, total uptake of NPK, and the yield components of tomato and hot pepper fruits (healthy fruit and damage fruit), (b) synergism affect of plants significantly occurred directly from hot pepper plant on tomato crop, and (c) the plant interaction system of tomato and hot pepper intercropping in the highland were closely related to cropping management in field. Further study are needed to explore more information deeply in two ways interaction affects of cropping sytem on vegetables farming in the highland
Peranan Cendawan Mikoriza Arbuskula terhadap Peningkatan Serapan Hara Bibit Pepaya
Telah dilakukan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui peran lima jenis isolat cendawan mikoriza arbuskula dalam meningkatkan serapan hara dan biomassa dua kultivar bibit pepaya. Penelitian dilakukan di rumah kaca Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran, dari bulan Agustus 2001 hingga Januari 2002. Penelitian ini disusun berdasarkan rancangan acak kelompok pola faktorial dengan tiga ulangan. Faktor pertama adalah jenis isolat cendawan mikoriza terdiri dari kontrol, Glomus etunicatum, Glomus manihotis, Gigaspora margarita, Acaulospora tuberculata dan Scutellospora heterogama, dan faktor ke dua adalah kultivar pepaya Dampit dan Sari Rona. Hasil penelitian menunjukkan bahwa derajat infeksi akar bibit pepaya pada umur dua bulan setelah inokulasi dipengaruhi oleh efek interaksiantara isolat cendawan mikoriza dan kultivar pepaya. Isolat A. tuberculata, G. etunicatum dan Gi. margarita menunjukkan derajat infeksi akar yang sangat tinggi, yaitu lebih dari 76% untuk kedua kultivar pepaya, sedangkan dua jenis isolat lainnya menunjukkan tingkat infeksi yang lebih rendah (21,33%-59,67%). Serapan hara N, P, K, dan bobot kering pupus, secara mandiri dipengaruhi oleh jenis isolat cendawan mikoriza dan kultivar pepaya. Acaulospora tuberculata dan G. etunicatum meningkatkan bobot kering total bibit berturut-turut 1.028% dan 1.632% lebih tinggi dibanding kontrol. Kultivar Sari Rona menunjukkan serapan hara N, P, K, dan bobot kering pupus lebih tinggi dibanding kultivar Dampit. Prospek aplikasi cendawan mikoriza untuk tanaman pepaya cukup baik, namun masih memerlukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui keefektifan dalam efisiensi penggunaan pupuk. Katakunci: Carica papaya; Bibit; Mikoriza arbuskula; Serapan hara; Pertumbuhan. ABSTRACT. Muas, I. 2003. Role of arbuscular mycorrhizal fungus on nutrient uptake of papaya seedlings. An experiment was aimed to find out the role of five arbuscular mycorrhizal fungus isolates in increasing nutrient uptake and biomass production on two cultivars of papaya seedling. The research was conducted at a screen house of Agriculture Faculty, Padjadjaran University, from August 2001 until January 2002. This experiment was laid in Randomized Blocks Design in factorial pattern with three replications. The first factor was the kind of mycorrhizaes isolates, control, Glomus etunicatum, Glomus manihotis, Gigaspora margarita, Acaulospora tuberculata and Scutellospora heterogama, and the second factor was papaya cultivars Dampit and Sari Rona. The results showed that root infection level of papaya seedlings on two months after inoculation influenced by interactions between mycorrhizaes isolate and papaya cultivars. Acaulospora tuberculata, G. etunicatum, and Gi. margarita isolates showed very high root infection level which was higher than 76% from both papaya cultivars, whereas two other mycorrhizaes isolate showed the lower infection 21.33-59.67%. Nutrient uptake on N,P,K, and shoot dry weight, in autonomous caused by kinds of mycorrhizaes isolate and papaya cultivars. Acaulospora tuberculata and G.etunicatum isolates increased total dry weight 1,028% and 1,632% respectively higher than control. Sari Rona cultivar showed higher nutrient uptake on N, P, K, and shoot dry weight than Dampit cultivar. The mycorrhizaes application for papaya have good prospect, but there needs further studies to know the effectiveness in fertilizer efficiency
Uji Kelayakan Teknis dan Finansial Penggunaan Pupuk NPK Anorganik pada Tanaman Kentang Dataran Tinggi di Jawa Barat
Penelitian ini dilaksanakan di Desa Alamendah, Kecamatan Rancabali, Kabupaten Bandung pada musim kemarau 2001. Lokasi penelitian termasuk lahan dataran tinggi dengan ketinggian 1.400 m dari permukaan laut dengan jenis tanah andosol. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui kandungan unsur hara beberapa jenis pupuk alternatif NPK anorganik dan pengaruhnya terhadap pertumbuhan, produksi, dan pendapatan usahatani kentang sebagai dasar penyusunan rekomendasi teknologi penggunaan pupuk alternatif. Percobaan menggunakan rancangan acak kelompok dengan delapan perlakuan dan empat ulangan. Hasil analisis tanah menunjukkan bahwa tanah di lokasi penelitian memiliki ketersediaan unsur N rendah, namun P2O5 dan K2O tinggi, serta pH tanah agak rendah (5,2). Hasil analisis hara dari beberapa jenis pupuk alternatif NPK anorganik menunjukkan bahwa kandungan unsur N, P2O5, dan K2O yang tertera pada label/kemasan tidak sesuai dengan hasil analisis di laboratorium. Dari 10 jenis pupuk yang diuji hanya 30% yang unsur N-nya sesuai, 40% unsur P2O5 sesuai, dan 50% unsur K2O-nya yang sesuai. Pengaruh penggunaan pupuk NPK anorganik terhadap tinggi tanaman dan jumlah tunas tidak berbeda nyata dengan kontrol, namun pupuk NPK 20-9-9 dapat meningkatkan produksi umbi sebesar 13,34% dari rata-rata produksi di tingkat petani. Pupuk NPK 20-9-9 pada tanaman kentang memberikan tingkat pengembalian marginal tertinggi, yaitu 1,74 (174%), sehingga paling menguntungkan dibandingkan perlakuan lainnya dan layak untuk direkomendasikan. Kata kunci : Solanum tuberosum; Pupuk anorganik; Kentang; Lahan dataran tinggi; Pertumbuhan; Hasil. ABSTRACT. The research of NPK fertilizers usage was carried out on dry season of 2001 in Alamendah village, Rancabali, Bandung. The experimental location was 1,400 meters above sea level and of andosol soils. The objective of the study was to investigate the composition of several NPK anorganic fer- tilizers and the effects on growth, yield, and profit for potato farming as the basis for technical recommendations re- garding the usage. The experimental was randomized block design with eight treatments and four replications. The soil analysis results showed that the plots were low in nitrogen availability while P2O5 and K2O levels were quite high. The investigation revealed that the stated compositions of nitrogen, phosphorus, and potassium on the respective la- bels were not in accordance with the results of laboratory analysis. Among ten fertilizers tested, the number actually containing the stated levels of nitrogen, phosphorus, and potassium were 30, 20, and 40% respectively. Plant height and number of shoots/plant were not significantly different from the control for any of the alternative fertilizers NPK anorganic used. The use of fertilizer NPK 20-9-9 showed an average yield increase of 13.34% over typical farmer pro- duction methods. The increase in yield was one of the main factors resulting in a marginal return of 174% for fertilizer NPK 20-9-9 as well. Form these results it appears the fertilizer NPK 20-9-9 may be recommended for potato farming in West Java
Studi Bedengan Kompos Permanen Untuk Budidaya Kentang di Pekarangan
Abstrak. Sumiati, E. dan A. Hidayat. 2000. Studi Bedengan Kompos Permanen untuk Budidaya Kentang di Pekarangan.Kebutuhan pupuk buatan/kimia untuk meningkatkan pertumbuhan dan hasil umbi kentang, sebagian dapat disubstitusi melaluipemanfaatan bahan limbah organik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui teknik pengomposan dan efektivitas bedengan komposuntuk budidaya tanaman kentang di lahan kering. Penelitian dilakukan di dataran tinggi Samarang-Garut, Jawa Barat. Rancanganpercobaan digunakan Rancangan Acak Kelompok, dengan 6 ulangan. Perlakuan pada bedengan permanen terdiri atas 4 macam for -mula, yaitu menggunakan komposisi berbagai macam campuran limbah organik, serta pupuk kandang sapi sebagai kontrol. Hasilpenelitian menunjukkan bahwa bedengan permanen yang digarit dan diisi limbah organik pupuk kandang sapi 20 tha-1 ditambah NPK(15-15-15) 40 kgha-1, memberikan pertumbuhan serta hasil dan kualitas umbi kentang kultivar Gra nola yang tertinggi. Selain itu,proses dekomposisi limbah organik pupuk kandang sapi, sangat cepat yang tercermin dari nilai C/N yang terendah setelah 1 bulanterjadi proses pengomposan.Kata kunci : Solanum tuberosum L., limbah organik, pengomposan, hasil umbi.Abstract. Sumiati, E. dan A. Hidayat. 2000. Study on the permanent plot of organic waste materials for cultivation of potato onthe dry-land area. The application of several kinds of organic waste materials hopefully may support and substitute the need ofchemical fertilizers to increase the growth and yield of potato which sustainable and lower environmental pollution. Research activityhave been conducted in highland area of Samarang-Garut, West Java. A Randomized Block Design with six replication was set up inthe field. Treatments on the permanent plots comprised of mixture of several kinds of waste organic materials, including cattle manureas control. Research results revealed that the permanent plot with cattle manure of 20 tha-1 + NPK (15-15-15) 40 kgha-1, gave the bestgrowth and the highest yield of potato cultivar Granola. Moreover, the decomposition process of cattle manure was the faster whichwas identified by the lowest C/N value gained after one month of decomposition process took place
Hubungan Laju Pertumbuhan dengan Saat Berbunga Untuk Seleksi Kegenjahan Tanaman Pepaya
Telah dilakukan penelitian untuk mengetahui hubungan antara laju pertumbuhan tanaman dengan saat berbunganya beberapa aksesi pepaya di Kebun Percobaan Aripan, Balai Penelitian Tanaman Buah di Solok mulai bulan Agustus 1999 sampai Februari 2000. Penelitian merupakan percobaan pot di lapangan yang dilakukan dalam rancangan acak kelompok dengan tiga ulangan. Jumlah aksesi yang diuji sebanyak 40 nomor yang diperoleh dari Sumatera Barat, Bengkulu, Sumatera Selatan, Lampung, dan Jawa Timur. Parameter yang diamati meliputi laju tumbuh relatif, laju asimilasi bersih, bobot kering tanaman, tinggi tanaman, jumlah daun, diameter batang, dan saat tanaman mulai berbunga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kecepatan pertumbuhan serta saat tanaman mulai berbunga antarnomor aksesi pepaya yang diuji bervariasi secara nyata. Komponen laju pertumbuhan tanaman pepaya tidak ada yang berkorelasi secara nyata dengan saat tanaman mulai berbunga. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa untuk mendapatkan varietas pepaya genjah tidak dapat dilakukan dengan seleksi terhadap laju pertumbuhan. Aksesi No. 029 merupakan aksesi yang tumbuh cepat dan genjah sehingga dapat dijadikan sebagai calon varietas unggul. Kata kunci: Carica papaya; Laju tumbuh; Pembungaan ABSTRACT. The research has been conducted at Aripan Experimental Station , Indone- sian Fruit Research Institute at Solok from August 1999 to February 2000 in randomized block design with three repli- cations and 40 accessions of papaya as treatments were collected from West Sumatera, Bengkulu, South Sumatera, Lampung, and East Jawa. The research was using container trial in field. The parameters observed were relative growth rate, net assimilation rate, plant dry weight, plant height, leaf number, stem diameter, and flowering time. The results of the experiment indicated that growth rate and flowering time among accessions are enough variations. No correlation between growth rate component and flowering time of papaya. The experiment results indicated that selec- tion of early flowering papaya by exploited of plant growth rate can not be applied. Accesion No. 029 which indicated faster growth and early flowering can be used as an candidate of superior variety