Jurnal Hortikultura
Not a member yet
    543 research outputs found

    Patogenisitas Isolat Beauveria bassiana (Balsamo) Vuillemin dalam Mengendalikan Hama Penggerek Bonggol Pisang, Cosmopolites sordidus Germar

    Get PDF
    Penelitian ini dilakukan di laboratorium Hama dan Penyakit, Balai Penelitian Tanaman Buah Solok pada bulan Mei sampai Oktober 2002. Sampel tanah dikoleksi dari sentral produksi pisang di daerah Baso, Sei Tarab, Sei Sariek, dan Sikabau Tujuan penelitian adalah mengetahui pengaruh dosis spora Beauveria bassiana terhadap serangga dewasa dan fase kerentanan serangga pradewasa dan dewasa hama penggerek bonggol pisang. Penelitian ditata dalam rancangan acak lengkap dengan tiga ulangan dan dua belas perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum efektivitas B. bassiana meningkat dengan meningkatnya dosis untuk keempat isolat yang diuji. Terlihat perbedaan yang nyata infektivitas untuk semua  isolat B. bassiana. Mortalitas serangga dewasa hama penggerek bonggol pisang yang disebabkan oleh jamur entomopatogen B. bassiana dari isolat Baso, Sei Tarab, Sei Sariek, dan Sikabau pada konsentrasi tertinggi (3,2X108 konidia/ml) setelah 14 hari perlakuan berturut-turut adalah 96,67; 90,00;60,00;  dan  83,33%. Jumlah  konidia  yang  dibutuhkan  isolat Baso  untuk  mematikan  50%  serangga  dewasa Cosmopolites sordidus relatif lebih rendah (17.782,79 konidia/ml) dan waktu yang dibutuhkan untuk mematikan 50% serangga uji juga lebih singkat (LT 50 = 7,22 hari) dibanding ketiga isolat lainnya. Isolat Baso memiliki patogenisitas yang lebih tinggi dibanding ketiga isolat lainnya. Mortalitas stadia hama penggerek bonggol pisang berkisar 76,67% sampai 100% setelah 15 hari diinokulasi dengan jamur B. bassiana. Mortalitas stadia larva 2 C. sordidus relatif tinggi dibanding dengan stadia uji lainnya pada 15 hari setelah inokulasi. Hasil penelitian ini meberikan informasi bahwa jamur B. bassiana mempunyai potensi untuk dikembangkan sebagai  agens pengendali hama penggerek bonggol. Kata kunci: Musa sp; Patogenisitas; Beauveria  bassiana; Cosmopolites sordidus; Penggerek bonggol; Mortalitas ABSTRACT. This experiment was conducted at the labora- tory of Entomologiy, Indonesian Fruit Research Institute from May to October 2002. The soil samples were collected from banana production centers at Baso, Sei Tarab, Sei Sariek and Sikabau. The objectives of this experiment were to investigate the influence of spore dose on the infectivity of the isolates against adult and the susceptibility host of im- mature stages and mature stage of banana weevil which were treated with B. bassiana isolates. A completely random- ized design with twelve treatments and three replications were used in this study. The result showed that the effectiveness of the B. bassiana from four isolates increased with increasing spore dose. There was a significant differ- ent in infectivity of all isolates of B. bassiana. The adult banana weevil mortalities caused by entomopathogen fungi of B. bassiana isolate from Baso, Sei Tarab, Sei Sariek and Sikabau at highest density (3.2X108 conidia/ml) after two weeks were 96.67%, 90.00%, 60.00%, and 83.33% respectively. The aqueous suspension of B. bassiana conidia from isolate Baso was the lowest with LC50’s of 1778289 conidia/ml and a Lethal time 50’s was faster 7.22 days compare than other isolate. It means that isolate B. basiana from Baso has higher patogenicity than other isolate. The mortality of banana weevil stages ranging from 76.67% to 100% at 15 days after inoculation of B. Bassiana. Mortality of larva at the second stadia was relatively higher compared to the other stadia of banana corm borers. This study was undertaken to provide more information on the potential for developing B. bassiana as a control agent for the banana weevil borer

    Tanggapan Tiga Kultivar Mawar terhadap Media Tumbuh Tanpa Tanah

    Get PDF
    Media tanpa tanah mempunyai peluang untuk dikembangkan karena lebih bersih, ramah lingkungan, dan bahan – bahannya banyak terdapat di alam Indonesia. Percobaan dilakukan di rumah plastik  pada bulan Juni 1999 sampai dengan Februari 2000 dengan tujuan untuk mengetahui tanggapan tiga kultivar mawar terhadap media tumbuh yang mengandung zeolit + serbuk sabut kelapa dan zeolit + serbuk gergaji. Rancangan percobaan adalah acak kelompok dengan pola faktorial, dua buah faktor dengan tiga ulangan. Faktor pertama adalah tiga kultivar mawar (Selabintana, maribaya, dan cipanas dwiwarna). Sedangkan faktor kedua adalah delapan komposisi serbuk sabut kelapa/serbuk gergaji + zeolit dan tanah sebagai kontrol. Hasil penelitian menunjukkan  bahwa tunas yang terbentuk pada media serbuk sabut kelapa maupun serbuk sabut kelapa + zeolit kultivar selabintana mencapai 2,42 kali, Maribaya 2,59 kali, dan cipanas dwiwarna 3,4 kali lebih tinggi dibandingkan pada media serbuk gergaji. Pertumbuhan vegetatif dan generatif mawar pada media  serbuk sabut kelapa, serbuk sabut kelapa + zeolit, dan tanah lebih baik dibandingkan pada serbuk gergaji. Rataan tinggi tanaman pada penggunaan serbuk sabut kelapa + 100 g zeolit adalah tertinggi yaitu 39,4 cm. Bobot total tanaman dan waktu inisiasi bunga pada penggunaan media serbuk sabut kelapa mencapai 1,8 kali lebih besar dan 29 hari lebih pendek dibandingkan pada media serbuk gergaji. Tanaman mawar yang ditumbuhkan pada media serbuk sabut kelapa + zeolit menghasilkan daun lebih hijau dan tanaman lebih tegar dibandingkan pada media serbuk gergaji + zeolit. Komposisi media serbuk sabut kelapa + zeolit 100 dan 200 g memenuhi syarat sebagai media tanam bagi budidaya mawar dan dapat digunakan sebagai media pengganti tanah. Kata kunci : Rosa hybrida L.; Mawar taman; Media tumbuh tanpa tanah; Pertumbuhan; Serbuk sabut kelapa; Zeolit; Serbuk gergaji. ABSTRACT. Soilless media has opportunity for development because of clean, environmentally sound, and the material could be found in Indonesia. Research on the response of rose cultivars to soilless media (coirdust + zeolite and saw- dust + zeolite) was conducted at plastic house from June 1999 to February 2000. Randomized complete block design with factorial pattern consists of two factors and three replications were used in this experiment. The first factor was three cultivars of rose and the second factor was eight combination compositions of sawdust/sawdust + zeolite and soil as control. The results showed that cultivars of Selabintana grown bud on sawdust or sawdust + zeolite media 2.4 times, maribaya 2.6 times, and cipanas dwiwarna 3.4 times higher than those on sawdust media. The vegetative and generative development of such cultivars on the coirdust, coirdust + zeolite, and soil were better than those on sawdust media. Coirdust + 100 g zeolite produced the highest plant high of 39.4 cm. The use coirdust media yielded plant total weight of 1.8 times, higher, fastened flower initiation time of 29 days and improved flower numbers of 3,84 times than those of sawdust media. The rose cultivars planted on zeolite + coirdust had leaf more greenery and heavier compared to those on zeolite + sawdust. The composition of 100 g coirdust and 200 g zeolite could be recommended as alterna- tive media for growing of rose

    Kekerabatan 13 Genotip Anggrek Subtribe Sarcanthinae Berdasarkan Karakter Morfologi dan Pola Pita DNA

    Get PDF
    Abnormalitas meiosis dan rendahnya fertilitas sering terjadi pada persilangan interspesifik maupun intergenerik pada beberapa  tanaman anggrek  subtribe  sarcanthinae.  Kendala  tersebut  mungkin  berkaitan  dengan  jauh-dekatnya hubungan kekerabatan. Hubungan kekerabatan antara dua individu atau populasi dapat diukur berdasarkan kemiripan dari sejumlah karakter, dengan asumsi karakter-karakter berbeda menggambarkan perbedaan susunan genetiknya. Penelitian dilakukan mulai Januari-Desember 2001. Tujuan penelitian adalah mengetahui kekerabatan antar-13 genotip anggrek subtribe sarcanthinae serta korelasi antara jarak taksonomi berdasarkan karakter morfologi dan tingkat kemiripan berdasarkan pola pita DNA. Pengelompokan 13 genotip anggrek dianalisis berdasarkan 22 data morfologi dan 185 pita DNA yang diperoleh dari hasil amplifikasi 14 primer dekamer acak random amplified poly- morphic DNA berbasis polymerase chain reaction. Analisis gerombol  13 genotip anggrek subtribe sarcanthinae dilakukan berdasarkan karakter morfologi menggunakan rumus rataan jarak taksonomi dan berdasarkan pola  pita DNA menggunakan  rumus Nei & Li atau koefisien Dice. Dari hasil analisis  diperoleh matriks kemiripan yang digunakan untuk menentukan nilai korelasi antara hasil pengelompokan dengan data fenotipik dan data pola pita DNA. Hasil pengelompokan tanaman anggrek subtribe sarcanthinae berdasarkan karakter morfologi tidak konsisten dengan hasil yang diperoleh dari analisis pola pita DNA. Jarak genetik yang berasal dari data fenotip tidak dapat digunakan untuk menduga kemiripan genetik. Rataan jarak taksonomi 13 genotip anggrek berdasarkan karakter morfologi berkorelasi negatif (r = -0,586, P < 0,01) dengan tingkat kemiripan berdasarkan pola pita DNA. Kata kunci : Anggrek; Kekerabatan; Jarak genetik; Subtribe sarcanthinae; Karakter morfologi; Pola pita DNA; Random amplified polymorphic DNA ABSTRACT. Several interspesific and intergeneric hybrid of subtribe sarcanthinae showed meiotic abnor- mality and poor fertility. This condition was caused by the distant genetic relationship. Genetic relationships between individuals and populations can be measured based on similarity of traits, assuming that the different traits describe the genetic composition. This experiment was begun in January-December 2001. The objective of this study was to esti- mate the correlation between taxonomic distance based on phenotypic performance and genetic similarity based on DNA banding pattern among 13 different genotype of orchid member of subtribe sarcanthinae. The genetic relation- ship analysis among those genotypes was based on 22 morphological traits and 185 DNA bands generated from 14 random amplified polymorphic DNA primers by polymerase chain reaction procedure. Cluster analysis of the geno- types based on phenotypic performance was computed by average taxonomic distance and the DNA banding pattern was calculated by the Dice coefficient of Nei & Li. The analysis resulted in a distance and similarity matrix which was used to determine correlation value between phenotype and DNA. Subtribe sarcanthinae clusters were not consistent with DNA banding pattern. Genetic distance from phenotypic data can't be used to estimate genetic similarity distance based on phenotypic performance which was negatively correlated (r = -0.586, P < 0.01) with that of similarity based on DNA banding pattern

    Peranan Cendawan Mikoriza Arbuskula terhadap Peningkatan Serapan Hara oleh Bibit Pepaya

    Get PDF
    Penelitian bertujuan mengetahui peran lima jenis isolat cendawan mikoriza arbuskula dalam meningkatkan serapan hara dan biomassa dua kultivar pepaya. Penelitian dilakukan di rumah kaca Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran, Bandung, dari bulan Agustus 2001 hingga Januari 2002. Penelitian ini disusun berdasarkan rancangan acak kelompok pola faktorial dengan tiga ulangan. Faktor pertama adalah jenis isolat cendawan mikoriza terdiri dari kontrol, Glomus etunicatum, Glomus manihotis, Gigaspora margarita, Acaulospora tuberculata, dan Scutellospora heterogama, dan faktor ke dua adalah kultivar pepaya dampit dan sari rona. Hasil penelitian menunjukkan bahwa derajat infeksi akar pada bibit pepaya umur dua bulan setelah inokulasi dipengaruhi oleh efek interaksi antara isolat cendawan mikoriza dan kultivar pepaya. Isolat A. tuberculata, G. etunicatum, dan Gi. margarita menunjukkan derajat infeksi akar yang sangat tinggi, yaitu lebih dari 76% untuk kedua kultivar pepaya, sedangkan dua jenis isolat lainnya menunjukkan tingkat infeksi yang lebih rendah (21,33-59,67%). Serapan hara N, P, K, dan bobot kering pupus, secara mandiri dipengaruhi oleh jenis isolat cendawan mikoriza dan kultivar pepaya. Acaulospora  tuberculata dan G. etunicatum meningkatkan bobot kering total bibit berturut-turut 1,028 dan 1,632% lebih tinggi dibanding kontrol. Kultivar sari rona menunjukkan serapan hara N, P, K, dan bobot kering pupus lebih tinggi dibanding kultivar dampit. Prospek aplikasi cendawan mikoriza untuk tanaman pepaya cukup baik, namun masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui keefektifan dalam efisiensi penggunaan pupuk. Kata kunci:  Carica papaya; Bibit; Mikoriza arbuskula; Serapan hara; Pertumbuhan. ABSTRACT. The experiment was aimed to find out the role of five arbuscular mycorrhizal fungus isolates in increasing nutrient uptake and biomass production on seedlings of two cultivars of papaya. The research was conducted at a screen house of Agri- culture Faculty, Padjadjaran University, Bandung, from August 2001 until January 2002. This experiment was laid on a randomized block design of factorial pattern with three replications. The first factor was the kind of mycorrhizal iso- late, control, Glomus etunicatum, Glomus manihotis, Gigaspora margarita, Acaulospora tuberculata, and Scutellospora heterogama, and the second factor was papaya cultivars of dampit and sari rona. The results showed that root infection level of papaya seedlings at two months after inoculation was influenced by interactions between mycorrhizal isolates and papaya cultivars. Acaulospora tuberculata, G. etunicatum, and Gi. margarita isolates showed very high root infection level which were higher than 76% for both papaya cultivars, whereas two other mycorrhizal isolates showed lower infection 21.33-59.67%. Nutrient uptake of N,P,K, and shoot dry weight, in auton- omous caused by kinds of mycorrhizal isolates and papaya cultivars. Acaulospora tuberculata and G. etunicatum iso- lates increased total dry weight 1.028% and 1.632% respectively higher than control. Sari rona showed higher nutrient uptake of N, P, K, and shoot dry weight than dampit. The mycorrhizal application for papaya has good prospect, but further studies are required to determine the fertilizer efficiency

    Pengaruh Larutan Pulsing dalam Pengemasan dan Pengangkutan Bunga Mawar Potong

    Get PDF
    Penggunaan larutan pulsing bunga sebelum pengemasan dan pengangkutan sangat berguna untuk menggantikan sumber karbohidrat, melindungi tangkai bunga dari serangan mikroorganisme penyebab penyumbatan, menjaga kualitas bunga tetap prima, dan dapat memperpanjang masa kesegaran bunga setelah pengangkutan. Penelitian bertujuan mendapatkan larutan pulsing dalam pengemasan dan pengangkutan bunga mawar potong varietas kiss guna memperpanjang masa kesegaran setelah pengangkutan. Bunga mawar potong kiss dipanen di Sukabumi dengan tingkat kemekaran 0-10%, kemudian direndam dalam larutan pulsing (AgNO3 20 ppm + gula pasir 5% + asam sitrat 320 ppm selama 16 jam). Selanjutnya bunga mawar dikemas dalam wadah ( berisi masing-masing larutan holding; akuades dan dikemas kering) dan diletakkan dalam karton berukuran 78 x 20 x 8 cm berkapasitas 20 tangkai bunga mawar potong. Sebagai kontrol bunga tanpa direndam dalam larutan pulsing. Setelah bunga dikemas, kemudian diangkut dengan mobil pendingin (5o-10oC) dan tanpa pendingin (27o-30oC) selama 20 jam. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap dengan tiga ulangan. Hasil percobaan menunjukkan bahwa perlakuan pengemasan dengan akuades selama pengangkutan 20 jam merupakan perlakuan yang terbaik dengan masa kesegaran bunga mencapai 9 hari dan persentase kemekaran bunga mencapai 100%. Perlakuan tersebut dapat mempertahankan kualitas bunga tetap prima dan dapat memperpanjang masa kesegaran bunga setelah pengangkutan. Kata kunci: Mawar; Pengemasan; Larutan perendam; Suhu pengangkutan; Mempertahankan mutu ABSTRACT. Dipping the lower portion of flower stems in the solution containing sugar and germicides before packaging and transportation was to supply carbohydrate and prevented the plugging of flower stems by microbial growth. Furthermore, in was prolonged the periode of flowers vaselife and kept flower quality af- ter transportation. The objective of the study was to find out both of proper pulsing solution, packaging and transporta- tion to keep the prime quality of flower cut Rose c.v. Kiss. The flowers were harvested from the field when the flowers was at 0-10% bud opening stages and then they were pulsed with solution of AgNO3 20 ppm + sugar 5% + citric acid 320 ppm for 12 hours. Each the flower was placed in the vials containing aquades; holding solution) and put them in the boxes (78 x 20 x 8 cm) with capacity 20 inflorescences. All treated cut flowers were transported for 20 hours with carchamber with temperature of 5o-10oC and 27o-30oC. The experiment was arranged on a completely randomized de- sign with three replications. The results indicated that wet packaging with aquades during 20 hours transportation was the best treament which prolonged vaselife until 9 days and kept the enflorescence up to 100% bud opening. By ap- plying those treatment, the periode of flowers vaselife could be extended and quality after transportation could be maintained

    Dinamika Populasi dan Pola Infestasi Liriomyza huidobrensis Blanchard pada Tanaman Kentang di Musim Kemarau dan Musim Hujan

    Get PDF
    Liriomyza huidobrensis merupakan hama baru pada tanaman kentang. Hama ini pertama kali dilaporkan menyerangtanaman kentang di Puncak, Jawa Barat pada tahun 1994 dan diduga telah resisten terhadap berbagai jenis insektisidaseperti organofosfat, karbamat, dan piretroid sintetik. Upaya pengendalian diarahkan pada pengendalian hamaterpadu yang penerapannya bergantung pada bioekologi serangga hama. Tujuan dari penelitian ini adalah untukmengetahui dinamika L. huidobrensis dan musuh alaminya, serta pola infestasi pada tanaman kentang di musimkemarau dan musim hujan. Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan Balai Penelitian Tanaman Sayuran Lembang,sejak bulan Juni 1999 sampai dengan bulan Pebruari 2000. Rancangan percobaan yang digunakan adalah PetakBerpasangan, terdiri atas dua perlakuan dan diulang enam kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa L. huidobrensismulai menyerang tanaman kentang sejak umur tiga minggu setelah tanam (MST) dan mencapai puncaknya pada umurempat, enam, dan delapan MST. Keberadaan kompetitor sangat mempengaruhi fluktuasi populasi L. huidobrensis.Selain itu faktor lingkungan abiotik seperti suhu, kelembaban, dan angin juga mempengaruhi fluktuasi populasi L.huidobrensis. Keberadaan musuh alami H. varicornis tidak mampu menekan serangan L. huidobrensis. Penggunaaninsektisida bensultaf 50 WP cukup efektif untuk mengendalikan L. huidobrensis. Pada musim kemarau serangan L.huidobrensis lebih tinggi bila dibandingkan dengan musim hujan. L. huidobrensis lebih memilih daun bawah dantengah sebagai tempat peletakan telur.Kata kunci : Solanum tuberosum; Dinamika populasi; Pola infestasi; Liriomyza huidobrensis; Musim kemarau;Musim hujan.AB STRACT. Setiawati, W., A. Somantri, and Purwati. 2002. Pop u la tion dy namic and in fes ta tion pat tern ofLiriomyza huidobrensis on po tato in dry sea son and rainy sea son. The leafminer flies are newly re corded as a peston po tato in In do ne sia. It was firstly re ported to at tack po tato in Puncak, west Java in 1994 and its has be came re sis -tance to sev eral in sec ti cide such as organophospate, carbamat, and syn thetic pyrethroid. In te grated pest man age mentis the best way to con trol this pest and in for ma tion of bioecology of this pest is im por tant to sup port im ple men ta tion ofin te grated pest man age ment (IPM) tech nol ogy in the field. The ob jec tives of this ex per i ment were to know pop u la tiondy namic of L. huidobrensis and its nat u ral en e mies and in fes ta tion pat tern of this pest on po tato in dry and rainy sea -son. This ex per i ment was con ducted at Re search In sti tute for Veg e ta bles (Lembang, West Java) from June 1999 toFeb ru ary 2000. Comparation paired de sign was used in this ex per i ment with two treat ments and rep li cated six times.Re sults of this ex per i ment in di cated that L. huidobrensis in vaded and at tacked po tato plants start ing from the shootemer gence stage or at three weeks af ter plant ing. Pop u la tion of L. huidobrensis fluc tu ated dur ing the grow ing pe riodof plants, and there were three pop u la tion peaks oc curred at four, six, and eight weeks af ter plant ing. Com pet i tors andabiotic fac tors such as tem per a ture, hu mid ity, and wind were more in flu enced L. huidobrensis pop u la tion thanparasitoid ac tiv ity. Bensultaf 50 WP in sec ti cide was ef fec tive to con trol L. huidobrensis. Pop u la tion of L.huidobrensis was higher in dry sea son than in rainy sea son. The adult of L. huidobrensis pre ferred to feed and ovipositon leaves lo cated in the bot tom and mid dle part of po tato plants

    Keterpautan Marka Amplified Fragment Length Polymorphism dengan Sifat Resisten Penyakit Antraknos pada Cabai Berdasarkan Metode Bulk Segregant Analysis

    Get PDF
    Penggunaan varietas resisten merupakan cara yang potensial untuk mengendalikan penyakit antraknos. Untuk mendapatkan varietas yang resisten perlu penerapan teknik seleksi yang efektif. Marka molekuler sebagai alat seleksi dalam program pemuliaan telah terbukti sangat handal dalam mempercepat perakitan varietas unggul. Di dalam penelitian ini marka amplified fragment length polymorphism (AFLP) yang terpaut erat dengan sifat tahan antraknos telah  diidentifikasi berdasarkan  metode bulk  segregant  analysis.  Penelitian  menggunakan populasi F2   hasil persilangan interspesifik antara jatilaba, C. annuum sebagai tetua rentan dan sebagai tetua resisten adalah PI 315023, C. chinense. Teknik molekuler AFLP memungkinkan menganalisis ribuan marka dalam waktu relatif singkat. Analisis bulk segregant adalah metode yang memfasilitasi identifikasi marka yang terpaut erat dengan gen yang dimaksud.  Dari  penelitian  ini  diperoleh  satu  marka AFLP  yang  terpaut  erat  dengan  sifat  tahan  antraknos (Colletotrichum capsici dan C. gloeosporioides) berdasarkan analisis fragmen yang teramplifikasi secara selektif menggunakan 96 kombinasi primer EcoRI/MseI. Marka E37M51184 dapat digunakan sebagai marker assisted selec- tion dalam program pemuliaan tanaman cabai dan merupakan dasar untuk mengkloning gen resisten. Kata kunci:  Capsicum annuum; Amplified fragment length polymorphism; Analisis bulk segregant; Antraknos; Collotetrichum capsici; Collotetrichum gloeosporioides. ABSTRACT. The use of resistant varieties is recommended to be as the most reliable method to control the antracnose disease on hot-pepper. To produce those varieties, effective selec- tion technique must be applied.  Molecular marker technologies have eased and potentiated for genetic analysis of plants and have become an extremely useful tool in plant breeding. Using F2, an intercross Jatilaba as susceptible par- ent and PI 315023 as resistance parent for segregation population as a model, this paper was aimed to show and discuss the possibility of  applying amplified fragment length polymorphism to assess the disease resistance against antracnose, Colletotrichum gloeosporioides and Colletorichum capsici, using bulk segregant analysis. A marker was identified linked to antracnose resistance based on selective amplified fragments using 96 EcoRI/MseI primer combi- nation. Marker E37M51184 can be used for hot-pepper breeding program as marker assisted selection and clonning of resistance gene

    Deteksi Penyebaran Geografis Penyakit CVPD di Bali Utara dengan Metode Polymerase Chain Reaction

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan mengevaluasi  penyebaran  geografis penyakit  citrus vein phloem  degeneration pada tanaman jeruk di Bali Utara hasil rehabilitasi jeruk, dilakukan di sepanjang Bali Utara pada ketinggian 10-1.000 m di atas permukaan laut dari berbagai keparahan gejala.  Teknik deteksi CVPD yang digunakan adalah dengan metode polymerase chain reaction dengan tiga primer (oligenukleotida) spesifik CVPD O11, O12, dan OA1 yang sesuai untuk Liberobacter asiaticum dan Liberobacter africanum. Pelacakan DNA sampel yang teramplifikasi dilakukan pada 0,7% agarose dengan elektroforesis horisontal. Hasil observasi menunjukkan bahwa semua sampel asal pohon yang tidak bergejala memberikan reaksi PCR negatif. Sampel-sampel dengan gejala visual spesifik CVPD memberikan reaksi PCR positif.  Hasil reaksi PCR selalu positif pada sampel-sampel dari pertanaman jeruk keprok tejakula pada ketinggian 10-700 m dpl. Pada ketinggian di atas 700 m dpl. tidak ditemukan hasil positif deteksi dengan PCR. Hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan untuk menentukan strategi pengendalian CVPD di wilayah terinfeksi. Kata kunci: Citrus sp; CVPD; Deteksi; PCR; Penyebaran geografi. ABSTRACT. The objective of this research was to evaluate the present status of CVPD disease on citrus trees after the citrus rehabilitation. This research was conducted along North Bali on 10-1,000 m above sea level. The technique of CVPD detection used was polymer- ase chain reaction with three specific primers (oligonucleotide) of CVPD O11, O12, and OA1 that are sensitive for both Liberobacter asiaticum and Liberobacter africanum. Identity of samples DNA amplified that were appeared on 0.7% agarose with horizontal electrophoresis. The result of observation showed of all samples from 11 symptomless samples on infected trees gave negative PCR reaction. The samples with specific symptom of CVPD gave positive PCR reaction. Based on the observation, the positive result was always obtained from orchards with altitude 10-700 m above sea level, but no reaction sign of PCR on samples from orchards above 700 m above sea level. This research re- sult can be used to arrange the control strategy of CVPD in infected areas.The detection technique can be used to deter- mine a strategy for controlling CVPD in that areas

    Selektivitas Insektisida Sintetik dan Nabati terhadap Larva Helicoverpa armigera, Crocidolomia binotalis, dan Spodoptera litura, serta Imago Parasitoid Eriborus argenteopilosus

    Get PDF
    Parasitoid E. argenteopilosus Cam. adalah musuh alami penting hama H. armigera, C. binotalis, dan S. litura. Untuk melindungi parasitoid tersebut, dalam implementasi pengendalian hama terpadu pada tanaman tomat, kubis, dan cabai perlu digunakan insektisida selektif. Untuk memperoleh jenis insektisida yang selektif telah dilaksanakan pengujian laboratorium di Balai Penelitian Tanaman Sayuran, Lembang sejak bulan Maret sampai dengan Nopember 2001. Penghitungan nilai LC50 lima jenis insektisida sintetik termasuk dua jenis insektisida mikroba dan lima jenis ekstrak kasar tanaman dilakukan dengan analisis probit. Berdasarkan hasil pengujian diperoleh data dasar nilai LC50 awal 10 jenis insektisida yang diuji. Selain itu secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa jenis insektisida yang selektif terhadap hama H. armigera, C. binotalis, dan S. litura serta parasitoid E. argenteopilosus adalah B. thuringiensis var. aizawai, protiofos, ekstrak daun Lantana sp., dan ekstrak biji sirsak. Untuk memantapkan hasil percobaan diperlukan penelitian lebih lanjut di lapangan. Kata kunci : Insektisida selektif; Helicoverpa armigera; Crocidolomia binotalis; Spodoptera litura; Eriborus argenteopilosus; implementasi PHT. ABSTRACT. An Ichneumonid parasitoid, E. argenteopilosus Cam., is important as a natural enemy of H. armigera, C. binotalis and S. litura. The use of selective insecticides in the implementation of integrated pest management on tomato, cabbage, and hot pepper should be persued to protect the role of E. argenteopilosus. A laboratory study has been conducted at Indonesian Vegetables Research Institute, Lembang from March to November 2001 to obtain selective insecticides. LC50 values of five synthetic insecticides including two types of microbial insec- ticides and five crude extracts of plants were calculated using probit analysis. Based on the laboratory test has been obtained base line data of initial LC50 values of the ten tested insecticides. As a whole, it can be concluded that B. thuringiensis var. aizawai, prothiophos, crude extract of Lantana sp. leaves, and Annona sp. seeds were selective against H. armigera, C. binotalis, S. litura, and E. argenteopilosus. A field trial is still needed to confirm result of this study

    Pemanfaatan Ekstrak Ragi dalam Kultur In Vitro Plantlet Media Anggrek

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh ekstrak ragi terhadap pertumbuhan plantlet anggrek dendrobium. Anggrek dendrobium merupakan salah satu jenis anggrek yang disukai konsumen. Tanaman anggrek umumnya menggunakan bibit anggrek asal kultur in vitro. Optimasi komposisi media untuk kultur in vitro sangat diperlukan untuk meningkatkan kemampuan multiplikasi maupun kualitas bibit. Salah satu cara optimasi media yaitu dengan pemberian bahan organik kompleks. Bahan penelitian ini adalah plantlet anggrek dendrobium yang ditumbuhkan dalam media Vacin & Went dengan penambahan air kelapa 150 ml/l, sukrosa 20 g/l, dan bubur pisang 50 g/l. Perlakukan-perlakuan disusun dalam rancangan acak kelompok dengan sembilan perlakuan dan tiga ulangan. Perlakuan terdiri atas penambahan ekstrak ragi ke dalam media kultur dengan konsentrasi: 0 (kontrol); 0,25; 0,50; 0,75; 1,00; 1,25; 1,50; 1,75; dan 2,00 g/l. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian ekstrak ragi dalam media kultur dapat meningkatkan pertumbuhan plantlet anggrek dendrobium. Ekstrak ragi konsentrasi 1,25 g/l merupakan konsentrasi terbaik bagi pertumbuhan plantlet dilihat dari tinggi tanaman, luas daun, panjang, dan jumlah akar. Kata kunci: Anggrek dendrobium; Ekstrak ragi; Media; Plantlet. ABSTRACT. The aim of this experiment was to investigate the effect of yeast extract on the growth of dendrobium plantlets. Dendrobium is one of the favourite orchid genera. The orchid plantations generally use orchid seedlings that are obtained through in vitro culture. Media optimization is a critical point for improving the capacity of seedling mul- tiplication and quality. One of the methods to enrich the medium was the use of a complex organic mixture of yeast ex- tract. The materials used in this research were dendrobium orchid plantlets that were cultivated in Vacin  & Went medium with the addition of 150 ml/l of coconut water, 20 g/l of sucrose and 50 g/l of banana pulp. The treatments were laid in a randomized block design with nine treatments and three replications. The treatments were the addition of yeast extract into the culture medium of concentrations of 0 (control); 0.25; 0.50; 0.75; 1.00; 1.25; 1.50; 1.75; and 2.00 g/l. The results  showed that the use of yeast in the culture media significantly increased growth of dendrobium plantlets. Concentration of 1.25 g/l was the best for the performance of plantlets in term of plants height, leaf size, root length and number of roots

    509

    full texts

    543

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Hortikultura
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇