Jurnal Hortikultura
Not a member yet
543 research outputs found
Sort by
Me dia Sapih Alternatif untuk Plantlet Anggrek Vanda
Untuk membantu usaha pembibitan anggrek vanda perlu disediakan me dia sapih alternatif yang lebih murah danberkualitas baik sebagai pengganti me dia Vacin & Went atau Knudson. Penelitian dilaksanakan di laboratorium PemuliaanKebun Percobaan Pasarminggu, Balai Penelitian Tanaman Hias mulai bulan Mei sampai dengan No vem ber 1999.Perccobaan dilaksanakan dengan menggunakan rancangan acak kelompok dengan lima ulangan. Bahan yang diuji adalahprotokorm dari populasi F1 vanda hasil persilangan antara V. tri color X V. Dewi sri. Perlakuan terdiri atas delapan jenis me -dia sapih plantlet yang mengandung pupuk daun dengan N tinggi dan me dia Vacin & Went sebagai pembanding.Konsentrasi yang digunakan adalah 3 g/l me dia untuk pupuk kristal dan 3 ml/l me dia untuk pupuk cair. Kedelapan pupukdaun tersebut adalah pupuk daun kristal No.63; pupuk daun lengkap kristal, pupuk majemuk kristal larut air, pupuk dauncair dengan EDTA che lates, pupuk organik cair plus, pupuk daun kristal untuk sayuran dan rumput taman, pupuk daunkristal dengan tonik spesial, pupuk cair kandungan N tinggi. Pengamatan dilakukan pada bulan ketujuh setelah penyapihankecambah. Pa ram e ter yang diamati adalah panjang daun, jumlah daun, panjang akar, jumlah akar, tinggi tanaman, jumlahtu nas dan berat basah plantlet. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagai me dia sapih, pupuk daun cair dengan EDTAche lates, dan pupuk daun No. 63 memberikan pengaruh yang sama baiknya dengan me dia Vacin dan Went terhadappertumbuhan panjang daun, jumlah daun, panjang akar, jumlah akar, tinggi tanaman, jumlah tu nas, dan berat basah plantlet.Kedua pupuk daun di atas dapat digunakan sebagai me dia sapih plantlet anggrek vanda.Al ter na tive me dia for vanda seed ling. The study aimed to find suit able and cheapermedia for Vanda seed ling to sub sti tute the stan dard me dia Vacin and Went. The ex per i ment was per formed at PasarmingguRe search Sta tion for In do ne sian Or na men tal Plant Re search In sti tute since May to No vem ber 1999. The treat ments werear ranged in ran dom ized block de sign us ing five rep li ca tions. The treat ments were eight me dia con tain ing fo liar fer til iz ers asal ter na tive me dia and Vacin and Went as stan dard me dia to grow the protocorms of F1 pop u la tion of V. tri color x V. Dewisri. The eight fo liar fer til iz ers used for sup ple ment of me dia were crys tal line fo liar fer til izer No. 63, com plete el e ments fo -liar fertilizer, soluble com plete elements foliar fertilizer, liquid foliar fertilizer with EDTA chelates, liquid organic foliar fer -til izer plus, crystallyne fo liar fer til izer for veg e ta ble and lawn, crystallyne fo liar fer til izer with spesial tonic, and liq uid fo liarfer til izer with high ni tro gen con tent. Ob ser va tions were taken on seven months af ter protocorms be ing planted. Assesmentwere done on the leaf length, the num ber of leaves, root length, the num ber of roots, plant height, the num ber of shoots, andplant fresh weight. The re sult in di cated that the liq uid fo liar fer til izer with EDTA che lates and crystallyne fo liar fertilizerNo. 63 sup ported the growth of seed ling of vanda or chid as good as the stan dard me dia Vacin and Went did. There -fore, it should be used as sub sti tute me dia for Vacin and Went me dium for grow ing vanda seedling
Patogenisitas Penyakit Speckle Daun Pisang (Cladosporium musae Ma son) pada Tanaman Pisang
Penelitian dilakukandi Laboratorium Fitopatologi Fakulti Pertanian Universiti Putra Ma lay sia dari bulan Juni sampaiSep tem ber 2002. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui patogenisitas cendawan Cladosporium musae Ma sonpada tanaman pisang sebagai tanaman inangnya. Bibit tanaman pisang barangan (AAA) umur 8 minggu yang berasaldari kul tur jaringan dan potongan daun bibit pisang barangan umur 8 minggu diinokulasi dengan cara disemprotsuspensi konidia C. musae (106 konidia per ml). Hasil penelitian menunjukkan bahwa daun bibit pisang barangan yangdiinokulasi dengan suspensi konidia C. musae dan dipelihara di dalam rumah kaca gagal menunjukkan gejala spesifikpenyakit speckle daun. Meskipun demikian, patogenisitas C. musae dapat dibuktikan melalui inokulasi potongandaun bibit pisang barangan dengan suspensi konidia cendawan tersebut. Pengujian secara mikroskopis menunjukkanbahwa infeksi penyakit terjadi melalui stomata. Selain itu pengujian secara histologis menunjukkan bahwa di dalamsel-sel daun, hifa C. musae tumbuh dan berkembang baik secara intrasel maupun antarsel.Patho ge nic ity study of ba nanaleaf speckle (Cladosporium musae Ma son) on ba nana. The ex per i ment was con ducted in Phytopathology Lab o ra -tory Fac ulty of Ag ri cul ture, Uni ver sity of Putra Ma lay sia from June - Sep tem ber, 2002. The aim of this ex per i mentwas to es tab lish and con firm the patho ge nic ity of Cladosporium musae Ma son on ba nana as the host plant. The ba nanaseed lings of barangan (AAA) of 8 weeks old pro duced by tis sue cul ture and de tached ba nana leaves of barangan werein oc u lated by spray ing with conidia sus pen sion of C. musae (106 conidia per ml). The re sults of this ex per i mentshowed that in oc u la tion of barangan seed lings which were main tained un der glass house con di tions was failed show -ing the speckle dis ease symp tom on ba nana leaves. How ever, ev i dence of patho ge nic ity was ob tained by a sim i lar in -oc u la tion done on de tached leaves of barangan. Mi cro scopic ex am i na tions re vealed hyphal pen e tra tion via stomatare sult ing in ne cro sis of the cells ad ja cent. Histological ex am i na tions also showed intracellular and intercellular growthof C. musae within leaf cells
Transformasi cDNA Gen 1-Aminosiklopropan-1-Asam Karboksilat Oksidase untuk Penundaan Kematangan Buah Pepaya Dampit dan Sarirona
Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Januari 2002 sampai Februari 2003, bertujuan untuk mendapatkan kalustransforman gen 1-aminosiklopropan-1-asam karboksilat oksidase yang mampu hidup dan dapat berdiferensiasi,wahana untuk membuat pepaya transgenik tahan simpan, telah dilakukan di Laboratorium Biologi Molekuler, BalaiBesar Penelitian Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik Pertanian, Bogor. Mutu buah pepaya salah satunyaditentukan oleh kesegaran buah saat dikonsumsi. Proses pemasakan buah pepaya berlangsung sangat cepat, hal inimenyulitkan dalam transportasi pepaya, terutama untuk menjangkau tempat yang jauh. Proses pemasakan buahdikontrol oleh meningkatnya konsentrasi hormon etilen yang disintesis dari 1-aminosiklopropan-1-asam karboksilat.Produksi etilen dapat ditekan dengan memblok jalur biosintesis etilen. Mekanismenya adalah membuat antisens genreg u la tor biosintesis etilen. Transformasi pepaya varietas dampit dan sarirona dilakukan menggunakan bombardemenpartikel. Rancangan percobaan adalah deskriptif kuantitatif dengan rancangan acak lengkap. Sumber eksplan pepayaberupa embrio zigotik yang digunakan untuk optimasi taraf kematian terhadap kanamisin, uji gus menggunakanplasmid pRQ6 (gen gus, NPH, promotor 35S, dan ter mi na tor NOS) dan introduksi gen interes dalam plasmid pGA643SM4 (gen antisens 1-aminosiklopropan-1-asam karboksilat oksidase, NPT II, promotor 35S, dan ter mi na tor NOS)pada me dia seleksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua eksplan pepaya op ti mal pada kanamisin 150 mg/l, dimana pada konsentrasi ini eksplan mati seluruhnya. Pengujian gus terbanyak pada varietas sarirona 25% (25 spotbiru) jarak 9 cm, sedangkan varietas dampit 10% (9 spot biru) jarak 5 cm. Spot biru menandakan gen yang disisipitelah terintegrasi pada gen tanaman. Efisiensi gen antisens ACC oksidase pada me dia seleksi kanamisin 150 mg/lmenunjukkan 16% (14 embrio kotiledon) pada varietas dampit, sedangkan varietas sarirona tidak tumbuh.Tumbuhnya transforman pada me dia seleksi menunjukkan eksplan tersebut sudah tersisipi pGA643 SM4 yangmengandung gen tahan terhadap kanamisin (gen NPT II ).Trans for ma tion of cDNAACC ox i dize gene for de lay rip en ing on pa paya dampit and sarirona. This re search was con ducted from Jan u ary2002 to Feb ru ary 2003. The aim of this re search was to find out trans formed cal lus by aminocyclopropane carboxylicacid (ACC) ox i dize gene, there are vi a ble and be able to dif fer en ti a tion, the means to de velop pa paya trans gen ic forde lay rip en ing. The re search was con ducted at the Lab o ra tory of Mo lec u lar Bi ol ogy of Re search In sti tute for Bio tech -nol ogy and Ag ri cul tural Ge netic Re sources, Bogor. One of pa paya qual ity was de ter mined by fruit fresh ness. The pro -cess of pa paya ma tu rity was very fast. This prob lem made dif fi cult for hap pened pa paya trans por ta tion. The pro cess ofma tu rity was con trolled by in creas ing con cen tra tion of eth yl ene hor mone and it was syn the sized from1-aminocyclopropane-1-carboxylic acid. One of ef fort pressed eth yl ene pro duc tion was long dis tance block ingethylene biosynthesis path way. Mech a nism of block ing eth yl ene biosynthesis path way was made antisens of genereg u la tor. The trans for ma tion of pa paya dampit and sarirona va ri ety have been de rived by bom bard ment par ti cle. Theex per i men tal de sign was de scrip tive quan ti ta tive with ran dom ized com plete de sign. The zy gotic em bryo as explantsource were used for op ti miz ing kanamycin lev els, gus as say with pRQ6 plasmid (gus gene, NPH, 35S pro moter, andNOS ter mi na tor) and in tro duc tion in ter est gene with pGA643 SM4 plasmid (antisens ACC ox i dize gene, NPT II, 35Spro moter, NOS ter mi na tor) on the se lec tive me dium. The re sults in di cated the op ti miz ing of both pa paya on 150 mg/lkanamycin. This con cen tra tion made all explant of results. Gus as say pref er ence of sarirona 25% (25 blue spot) in dis -tance 9 cm and dampit 10% (9 blue spot) in dis tance 5 cm. Ef fi ciency of antisens ACC ox i dize gene on se lec tive me -dium con tain ing 150 mg/l kanamycin in di cated 16% (14 cotyledone em bryo) in dampit but in sarirona was not growth.Transforman growth on se lec tive me dium in di cated pGA643 SM4 have in serted to zy gotic em bryo be cause plasmidcon tain ing se lec tion gene of kanamycin (NPT II gene)
Respons Pertumbuhan Cabai dan Selada terhadap Pemberian Pukan Kuda dan Pupuk Hayati Rosliani, R., A. Hidayat, dan A. A. Asandhi
Percobaan dilaksanakan di Rumahkasa Balai Penelitian Tanaman Sayuran Lembang 1.250 m dpl dari Juli 2001sampai Januari 2002. Percobaan ini bertujuan untuk mengetahui keragaan pukan kuda dan pupuk hayati terhadappertumbuhan dan hasil sayuran cabai dan selada yang ditanam dalam pot. Rancangan percobaan menggunakan acaklengkap dengan tiga ulangan. Perlakuan terdiri atas pukan kuda 0,7 kg + 33 g NPK per pot (isi 10 kg) atau setara 20 t/ha+ pupuk NPK 1 t/ha sebagai kontrol, lima dosis pemberian pukan kuda tanpa pupuk NPK dan lima dosis pukan kuda +pupuk hayati (mikroba berguna: lactobacillus, mikoriza, dan saccharomyces) tanpa pupuk NPK. Dosis pukan kudayang digunakan yaitu 1, 2, 3, 4, dan 5 kg per pot atau setara 30, 60, 90, 120, dan 150 t/ha. Hasil percobaanmenunjukkan bahwa pemberian pukan kuda dan pupuk hayati meningkatkan tinggi tanaman dan hasil panen seladaserta meningkatkan pertumbuhan tinggi tanaman, luas daun, biomassa tanaman, hasil buah cabai, serapan hara, dankandungan hara tanah. Pukan kuda 3 kg per pot (90 t/ha) atau 2 kg per pot (60 t/ha) dengan pupuk hayati merupakanperlakuan yang terbaik dalam menghasilkan buah cabai. Peningkatan hasil cabai pada kedua dosis tersebutmasing-masing adalah 1.316 dan 1.194% dibandingkan dengan kontrol (0,7 kg per pot pukan kuda + 33 g NPK atau 20t/ha pukan kuda + 1 t/ha pupuk NPK). Untuk tanaman selada, perlakuan terbaik adalah pukan kuda 1 kg per pot (30t/ha) atau meningkatkan 69% dibandingkan dengan kontrol (20 t/ha pukan kuda + pupuk NPK).Kata kunci : Cap si cum annuum; Lactuva sativa; Pukan kuda; Mikroba; Lactobacillus; Mikoriza; Saccharomyces;Kesuburan tanah; Pertumbuhan; HasilAB STRACT. Rosliani, R., A. Hidayat, and A.A. Asandhi. 2004. Re sponse of ap pli ca tion of horse ma nure andbiofertilizer on hot pep per and let tuce growth. Ex per i ment was con ducted in a Screenhouse of In do ne sian Veg e ta -bles Re search In sti tute, 1,250 m asl, from July 2001 un til Jan u ary 2002. The ob jec tive of the ex per i ment was to findout the per for mance of or ganic mat ter and biofertilizer in put on the growth and the yield of hot pep per and let tuceplanted in the pot. The ex per i men tal de sign used was com pletely ran dom ized de sign with three rep li ca tions. The treat -ments con sist of ap pli ca tion of 0.7 kg horse ma nure + 33 g NPK per pot (con tent of 10 kg) or about 20 t/ha or ganic mat -ter + 1 t/ha NPK, five kinds ap pli ca tion of horse ma nure with out syn thetic anorganic fer til izer (NPK), and five kindsap pli ca tion of horse ma nure + biofertilizer (ben e fi cial mi crobe: lactobacillus, my cor rhi za, and saccharomyces) with -out syn thetic anorganic fer til izer (NPK). Dos age of horse ma nure was 1, 2, 3, 4, and 5 kg per pot or about 30, 60, 90,120, and 150 t/ha. The re sults showed that ap pli ca tion of horse ma nure and biofertilizer in creased plant height andyield of let tuce and in creased plant height, leaf area, plant bio mass, yield of hot pep per, its nu tri ent up take, and soil nu -tri ent con tent. Horse ma nure sin gly at 3 kg per pot (90 t/ha) or 2 kg per pot (60 t/ha) + biofertilizer were the best treat -ment in terms of yield of hot pep per. These two dos ages could in crease hot pep per yield by 1,316 and 1,194%,re spec tively, com pared to con trol (0.7 kg horse ma nure per pot + 33 g NPK per pot or about 20 t/ha horse ma nure + 1t/ha NPK). The best treat ment for let tuce yield was 1kg/pot horse ma nure or 30 t/ha horse ma nure). The yield in creasewas 69% com pared to con trol (0.7 kg horse ma nure per pot + 33 g NPK per pot or about 20 t/ha horse ma nure +anorganic NPK fer til izer)
Bionomi Tungau pada Enam Kultivar Jeruk
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh enam kultivar jeruk terhadap panjang siklus hidup dan potensireproduksi tungau. Enam varietas jeruk yang dievaluasi adalah manis sumut, keprok batu-55, keprok kacang, keprokmanis singkarak, keprok keling, dan keprok siem. Penelitian ini dilakukan pada bulan Agustus 1997 sampai April1998 di laboratorium Balai Penelitian Tanaman Buah, Solok . Hasil penelitian menunjukkan bahwa siklus hidup danpotensi reproduksi tungau dipengaruhi oleh kultivar jeruk. Keprok kacang pal ing tahan terhadap tungau. Hal initampak pada umur nimfa pal ing lama (7,2 hari), umur imago pal ing pendek (10,4 hari), jumlah telur yang diletakkanpal ing sedikit (7,1 butir), dan mortalitas nimfa pal ing tinggi (54,0%). Kultivar yang pal ing peka terhadap tungau iniadalah keprok manis singkarak, dicirikan dengan umur nimfa tungau pal ing pendek (4,1 hari), umur imago pal inglama (15,7 hari), jumlah telur yang diletakkan pal ing banyak (36,6 butir), dan mortalitas nimfa pal ing rendah (17,9%).Berdasarkan hasil analisis anatomi daun ternyata panjang siklus hidup dan potensi reproduksi tungau dipengaruhioleh ketebalan epi der mis daun. Semakin tebal epi der mis daun, pertumbuhan tungau semakin kurang baik.Berdasarkan pengamatan terhadap siklus hidup dan potensi reproduksi Tetranychus urticae, keprok kacang memilikiprospek untuk digunakan sebagai sumber tetua guna menghasilkan kultivar jeruk yang toleran terhadap T. urticae.Kata kunci : Tetranychus urticae; Bionomi; Kultivar jerukAB STRACT. Muryati, M. Istianto, and L. Setyobudi. 2004. The bionomic of mite on six cit rus cultivars. Theob jec tives of this re search was to eval u ate the life cy cle and po ten tial re pro duc tion of T. urticae on six cit rus cultivars.The six cultivars were manis sumut, keprok batu-55, keprok kacang, keprok manis singkarak, keprok keling, andkeprok siem. The re search was con ducted since Au gust 1997 un til April 1998 un der lab o ra tory con di tion at In do ne -sian Fruit Re search In sti tute, Solok. The re sults showed that the life cy cle length and po ten tial re pro duc tion of T.urticae was sig nif i cantly in flu enced by cit rus cultivars. Keprok kacang was the most un suit able cultivar for T. urticaede vel op ment com pare with oth ers, which was in di cated by the lon gest nymph stages (7.2 days), the short est adultstage (10.4 days), the low est num ber of eggs laid (7.1), and the high est nymph mor tal ity (54.0%). The most suit ablecultivar for T. urticae de vel op ment was keprok manis singkarak, which was in di cated by the short est nymph stages(4.1 days), the lon gest adult stages (15.7 days), the high est num ber of eggs laid (36.6), and the low est nymph mor tal ity(17,9%). Based on the leaves anat omy, the keprok kacang has the thick ness of epi der mic tis sue, which in flu enced un -suit able on the mite’s lenght life cy cle and re pro duc tive po ten tial. There fore, keprok kacang has a po ten tial to be usedas pa ren tal for cit rus va ri ety im prove ment pro gram against T. urticae
Produksi dan Mutu Umbi Klon Kentang dan Kesesuaiannya sebagai Bahan Baku Kentang Gor eng dan Keripik Kentang
Penelitian dilaksanakan pada bulan Agustus sampai dengan No vem ber 2002 di Pangalengan dengan ketinggiantempat 1.300 m dpl. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui produksi dan mutu serta mendapatkan klon yangcocok sebagai bahan baku keripik dan kentang gor eng. Klon dan varietas yang diuji sebanyak 16, terdiri dari 13 klonyang berasal dari CIP dan tiga varietas pembanding. Rancangan yang digunakan adalah acak kelompok dengan tigaulangan, masing-masing unit penelitian terdiri dari 20 tanaman. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa klonmerbabu-17 diikuti klon 380584.3, AGB 69.1, dan MF-II menampilkan hasil tinggi masing-masing 57,9; 44,4; 41;8;dan 41,1 t/ha yang nyata lebih tinggi dari varietas pembanding atlantik (28,5 t/ha) dan panda (25,2 t/ha). Untukproporsi umbi konsumsi tertinggi adalah klon I-1085 (87%), CFQ 69.1 (84%), dan TS-2 (83%) yang nyata lebih tinggidaripada varietas atlantik (60%) dan panda (64%). Spe cific grav ity tertinggi adalah klon TS-2 (1.095), FBA-4 (1.084),378501.3 (1.084), I-1085 (1.084), panda (1.082), atlantik (1.080), dan MF-II (1.072). Klon terbaik untuk industrikeripik adalah TS-2 dan MF-II sementara untuk kentang gor eng adalah TS-2 dan I-1085. Dampak dari penelitian inimemberikan informasi mengenai klon prosesing harapan untuk diusulkan dilepas sebagai varietas baru.Kata kunci : Klon kentang; Umbi bibit; Produksi; Mutu umbi; Kentang olahanAB STRACT. Kusmana and R.S. Basuki, 2004. Yield and qual ity of po tato clones tu bers and meets as raw ma -te rial for chips and french fries. The ex per i ment was con ducted at Pangalengan at el e va tion of 1,300 m asl. Ob jec -tives of the re search were to ob tain promissing clones for raw ma te rial of chips and french fries. Plant ing was done onAu gust and har vest was on No vem ber 2002. The ex per i men tal de sign was ran dom ized com plete block de sign withthree rep li ca tions. Num bers of plant per plot were 20 hills. Num ber of clones tested were 16 in cluded 3 con trol va ri -et ies. The re sults proved that the high yield ing clones were ob tained from clones merbabu-17 (57.9) fol lowed by380584.3 (44.4), AGB 69.1 (41.8) and MF-II (41.1) t/ha and sig nif i cantly dif fer ent from con trol va ri et ies of at lan tic(28.5) and panda (25.2) t/ha. The high est mar ket able yield were ob tained from clones I-1085 (87%), CFQ 69.1 (84%),and TS-2 (83%) sig nif i cantly dif fer ent to at lan tic (60%) and panda (64%). The high of spe cific grav ity were ob tainedfrom clones TS-2 (1.095), FBA-4 (1.084), 378501.3 (1.084), I-1085 (1.084), panda (1.082), at lan tic (1.080), andMF-II (1.072) . The best clones for chip were TS-2 and MF-II. Whereas, the best clones for french fries were TS-2 andI-1085. The im pact of the reserch was pro vide in for ma tion about ad vanced proscessing clones to sub mit for re leas ingthe va ri et ies
Uji Kepekaan Gamma-Glob u lin An ti serum Poliklonal Cu cum ber Mo saic Vi rus untuk Deteksi Cepat CMV dengan Metode Elisa Tidak Langsung pada Tanaman Tapak Dara
Vi rus mosaik ketimun merupakan salah satu patogen penting pada berbagai tanaman hortikultura, termasuk tanamantapak dara. Untuk dapat mengetahui secara dini infeksi vi rus pada tanaman, perlu dikembangkan metode deteksicepat. Salah satu metode serologi yang pal ing banyak digunakan dewasa ini untuk deteksi vi rus secara cepat adalahen zyme-linked immunosorbent as say (ELISA). Penelitian ini bertujuan memperoleh gamma-glob u lin murni dari an ti -serum poliklonal cucumber mosaic virus (CMV) dan mengetahui konsentrasi optimalnya untuk deteksi cepat.Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Virologi, Balai Penelitian Tanaman Hias, Segunung, dari bulan Januarisampai Desember 2001. An ti serum diproduksi dengan cara penyuntikan vi rus murni CMV secara bertahap padakelinci dengan konsentrasi setiap penyuntikan sebesar 1 mg/ml yang dilakukan pada penelitian sebelumnya.Pemurnian gamma-glob u lin mengikuti metode Clark & Adam. Konsentrasi gamma-glob u lin diukur denganspektrofotometer pada panjang gelombang 280 nm. Pengujian kepekaan gamma-glob u lin terhadap an ti gen dilakukandengan metode ELISA tidak langsung. Hasil pengujian menunjukkan konsentrasi gamma-glob u lin sebesar 1 mg/mldengan uji ELISA tidak langsung, konsentrasi gamma-glob u lin yang op ti mal untuk deteksi CMV adalah sebesar 1mg/ml dengan pengenceran enzim con ju gated goat antirabbit dan sampel, masing-masing sebesar 1/25.000 dan 1/10atau konsentrasi gamma-glob u lin sebesar 1mg/ml dengan pengenceran enzim con ju gated goat antirabbit dan sampel,masing-masing sebesar 1/10.000 dan 1/100.AB STRACT. Rahardjo, I.B., Y. Sulyo, and E. Diningsih. 2004. Sen si tiv ity test of gamma-glob u lin of cu cum bermo saic vi rus polyclonal an ti serum for rapid de tec tion of CMV with in di rect ELISA on Vinca sp. Cu cum bermo saic vi rus is one of the ma jor patho gens on some hor ti cul ture crops in clud ing Vinca sp. A rapid de tec tion methodshould be de vel oped to sup port the eval u a tion of ini tial in fec tion of the vi rus on crops. A serological method com -monly used for rapid de tec tion of plant vi ruses is ELISA. The ob jec tives were to pro duce pu ri fied gamma-glob u lin ofCMV an ti serum and to de ter mine the op ti mum con cen tra tion for rapid de tec tion of the vi rus. The ex per i ment was donein Virological Lab o ra tory of In do ne sian Or na men tal Crops Re search In sti tute in Segunung, from Jan u ary to De cem -ber 2001. A polyclonal CMV an ti serum had been pro duced by in jec tions of pu ri fied CMV into rab bit with the con cen -tra tion of 1 mg/ml each in jec tion from pre vi ous re search. Clark & Adam method for gamma-glob u lin pu ri fi ca tion wasfol lowed. Gamma-glob u lin con cen tra tion was mea sured with spectrophotometer on wave length of 280 nm. The testof gamma-glob u lin sen si tiv ity was car ried out with in di rect ELISA method. The re sults showed that the gamma-globulincon cen tra tion ob tained in this study was 1 mg/ml. The op ti mum con cen tra tion of the gamma-glob u lin for CMVde tec tion with in di rect ELISA was 1 mg/ml with 1/25,000 and 1/10 of en zyme con ju gated goat antirabbit di lu tion andsam ples, re spec tively, or the op ti mum con cen tra tion of the gamma-glob u lin was 1 mg/ml with 1/10,000 and 1/100 ofen zyme con ju gated goat antirabbit di lu tion and sam ples, re spec tively
Transformasi cDNA Gen 1-Aminosiklopropan-1-Asam Karboksilat Oksidase untuk Penundaan Kematangan pada Pepaya Dampit dan Sarirona
Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Januari 2002 sampai Februari 2003. Penelitian bertujuan untuk mendapatkankalus transforman gen 1-aminosiklopropan-1-asam karboksilat (ACC) oksidase yang mampu hidup dan dapatberdiferensiasi, wahana untuk membuat pepaya transgenik tahan simpan, telah dilakukan di Laboratorium BiologiMolekuler, Balai Penelitian Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik Pertanian, Bogor. Mutu buah pepaya salahsatunya ditentukan oleh kesegaran buah saat dikonsumsi. Proses pemasakan buah pepaya berlangsung sangat cepat,hal ini menyulitkan dalam transportasi pepaya, terutama untuk menjangkau tempat yang jauh. Proses pemasakan buahdikontrol oleh meningkatnya konsentrasi hormon etilen dan disintesis dari 1-aminosiklopropan-1-asam karboksilat.Produksi etilen dapat ditekan dengan memblok jalur biosintesis etilen. Mekanismenya adalah membuat antisens genreg u la tor biosintesis etilen. Transformasi pepaya varietas dampit dan sarirona dilakukan menggunakan par ti cle bom -bard ment. Rancangan percobaan adalah deskriptif kuantitatif dengan rancangan acak lengkap. Sumber eksplanpepaya berupa embrio zigotik yang digunakan untuk optimasi taraf kematian terhadap kanamisin, uji gusmenggunakan plasmid pRQ6 (gen gus, NPH, promotor 35S, dan ter mi na tor NOS) dan introduksi gen interes dalamplasmid pGA643 SM4 (gen antisens ACC oksidase, NPT II, promotor 35S, dan ter mi na tor NOS) pada me dia seleksi.Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua eksplan pepaya op ti mal pada kanamisin 150 mg/l, di mana padakonsentrasi ini eksplan mati seluruhnya. Pengujian gus terbanyak pada varietas sarirona 25% (25 spot biru) jarak 9cm, sedangkan varietas dampit 10% (9 spot biru) jarak 5 cm. Spot biru menandakan gen yang disisipi telah terintegrasipada gen tanaman. Efisiensi gen antisens ACC oksidase pada me dia seleksi kanamisin 150 mg/l menunjukkan 16%(14 embrio kotiledon) pada varietas dampit, sedangkan varietas sarirona tidak tumbuh. Tumbuhnya transforman padame dia seleksi menunjukkan eksplan tersebut sudah tersisipi pGA643 SM4 yang mengandung gen tahan terhadapkanamisin (gen NPT II ).Trans for ma tion of cDNAACC ox i dize gene for de lay rip en ing on pa paya dampit and sarirona. This re search was con ducted from Jan u ary2002 to Feb ru ary 2003. The aim of this re search was to find out trans formed cal lus by ACC ox i dize gene, there are via -ble and be able to dif fer en ti a tion, the means to de velop pa paya trans gen ic for de lay rip en ing. The re search was con -ducted at the Lab o ra tory of Mo lec u lar Bi ol ogy of Re search In sti tute for Bio tech nol ogy and Ag ri cul tural Ge neticRe sources, Bogor. One part of pa paya qual ity was de ter mined by fruit re fresh ment. The pro cess of pa paya ma tu ritywas went on very fast. This prob lem made dif fi cult for pa paya tranportation, ex cel lence to reach out long place. Thepro cess of ma tu rity was controled by incresing con cen tra tion of eth yl ene hor mone and it was syn the sized from ACC(1-aminocyclopropane-1-carboxylic acid). One of ef fort pressed eth yl ene pro duc tion with to block eth yl enebiosynthesis path way. Mech a nism of block ing eth yl ene biosynthesis path way was made antisens of gen reg u la tor.The trans for ma tion of pa paya dampit and sarirona va ri ety have been de rived by bom bard ment par ti cle. The ex per i -men tal de sign is de scrip tive quan ti ta tive and ran dom ized com plete de sign. The zy gotic em bryo as explant sourcewere used for op ti miz ing kanamycin lev els, gus as say with pRQ6 plasmid (gus gene, NPH, 35S pro moter, NOS ter mi -na tor) and in tro duc tion in ter est gene with pGA643 SM4 plasmid (antisens ACC ox i dize gene, NPT II, 35S pro moter,NOS ter mi na tor) on the se lec tive me dium. The re sult in di cated the op ti miz ing of both pa paya on 150 mg/l kanamycin.This concentration made explant die all of it. Gus as say pref er ence of sarirona 25% (25 blue spot) in dis tance 9 cm anddampit 10% (9 blue spot) in dis tance 5 cm. Ef fi ciency of antisens ACC ox i dize gene on se lec tive me dium con tain ing150 mg/l kanamycin in di cated 16% (14 cotyledonae em bryo) in dampit but in sarirona do not growth. Transformangrowth on se lec tive me dium in di cated pGA643 SM4 have in sert to zy gotic em bryo be cause plasmid con tain ing se lec -tion gene of kanamycin (NPT II gene)
Perbaikan Cara Ekstraksi untuk Meningkatkan Rendemen dan Mutu Minyak Melati
Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan rendemen minyak yang tinggi melalui ekstraksi bertahap denganmeningkatkan perbandingan bunga dan pelarut. Penelitian dikerjakan pada melati gambir (Jasminum officinale),diekstraksi dengan pelarut heksan selama 12 jam. Pelarut diuapkan untuk mendapatkan concrete. Concrete yangdiperoleh dilarutkan dengan etanol dan diuapkan sampai didapatkan minyak melati. Perlakuan yang diterapkanadalah perbandingan bunga dan pelarut (1 : 1,5 dan 1 : 2), tahapan ekstraksi (sekali, dua kali, dan tiga kali) denganpelarut heksan. Rancangan percobaan menggunakan acak lengkap pola faktorial 2 x 3 dengan tiga ulangan. Pa ram e teryang diamati adalah rendemen concrete dan minyak, jumlah penggunaan heksan, indeks bias, dan komponenpenyusun minyak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstraksi bunga melati pada perbandingan bunga dan pelarut(1 : 2) pada tahap ekstraksi dua kali menghasilkan rendemen minyak tertinggi (0,1326%), dengan penggunaan pelarutpal ing sedikit (528,2933 ml) untuk menghasilkan 1 g minyak. Mutu minyak melati yang dihasilkan mempunyai indeksbias 1,4309 dan mengandung kadar komponen penyusun minyak atsiri tertinggi (34,3357%) dengan delapankomponen sudah diidentifikasi (linalol, linalil asetat, indol, fenol, bensil asetat, metil antranilat, bensil alkohol, dan cisjasmon). Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai acuan untuk pemilihan proses ekstraksi bunga melati agarmenghasilkan rendemen minyak yang tinggi dengan penggunaan pelarut min i mal.Kata kunci : Jasminum officinale; Ekstraksi minyak melati; Kualitas minyak melatiAB STRACT. Prabawati, S., Endang D. A., Suyanti, and Dondy ASB. 2002. Im prove ment of ex trac tion methodto in crease quan tity and qual ity of jas mine oil re cov ery. This re search was aimed to in crease the re cov ery of oil ex -trac tion ab so lute through in creas ing the flower-sol vent ra tio and multi-ex trac tion stages of red jas mine (Jasminumofficinale). Hex ane perfumary grade was used on sim ple ex trac tion method by dip ping the flow ers and man ual stir ringfre quently. Af ter 12 hours of ex trac tion, sol vent was evap o rated to pro duce con crete. Eth a nol 95% was added to dis -solve the con crete, and then the so lu tion was fil tered to sep a rate wax frac tions. The clear so lu tion was evap o rated topro duce ab so lute. The treat ments tested were flower-sol vent ra tio (1 : 1.5 and 1 : 2) and stages of ex trac tion (1, 2, and 3stage of ex trac tion), and fac to rial de sign 2 x 3 with three rep li ca tions was used. Ob ser va tions were done on the yield ofcon crete and ab so lute, to tal sol vent used on ex trac tion, re frac tion in dex of ab so lute, and the com po si tion of es sen tialoil. Re sults showed that, flower-sol vent ra tio (1 : 2) and two stage of ex trac tion had the high est per cent age of ab so lute(0.1326%) and the low est to tal sol vent used (528.2933 ml to get 1 g of ab so lute). Jas mine ab so lute was in good qual itywith re frac tion in dex of 1.4309 and con tained 34.3357% of es sen tial oil com po nent (linalool, linalil ac e tate, indole,phenole, benzil ac e tate, methyl antranilate, benzil al co hol, and cis jasmone) were indentified. Futhermore, the re sult ofthis study can be used an ap pro pri ated ef fec tive method of jas mine oil ex trac tion method
Peranan Cendawan Mikoriza Arbuskula terhadap Peningkatan Serapan Hara Oleh Bibit Pepaya
Telah dilakukan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui peran lima jenis isolat cendawan mikoriza arbuskula dalam meningkatkan serapan hara dan biomassa dua kultivar bibit pepaya. Penelitian dilakukan di rumah kaca Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran, dari bulan Agustus 2001 hingga Januari 2002. Penelitian ini disusun berdasarkan rancangan acak kelompok pola faktorial dengan tiga ulangan. Faktor pertama adalah jenis isolat cendawan mikoriza terdiri dari kontrol, Glomus etunicatum, Glomus manihotis, Gigaspora margarita, Acaulospora tuberculata dan Scutellospora heterogama, dan faktor ke dua adalah kultivar pepaya Dampit dan Sari Rona. Hasil penelitian menunjukkan bahwa derajat infeksi akar bibit pepaya pada umur dua bulan setelah inokulasi dipengaruhi oleh efek interaksi antara isolat cendawan mikoriza dan kultivar pepaya. Isolat A. tuberculata, G. etunicatum, dan Gi. margarita menunjukkan derajat infeksi akar yang sangat tinggi, yaitu lebih dari 76% untuk kedua kultivar pepaya, sedangkan dua jenis isolat lainnya menunjukkan tingkat infeksi yang lebih rendah (21,33%-59,67%). Serapan hara N, P, K, dan bobot kering pupus, secara mandiri dipengaruhi oleh jenis isolat cendawan mikoriza dan kultivar pepaya. Acaulospora tuberculata dan G. etunicatum meningkatkan bobot kering total bibit berturut-turut 1.028% dan 1.632% lebih tinggi dibanding kontrol. Kultivar Sari Rona menunjukkan serapan hara N, P, K, dan bobot kering pupus lebih tinggi dibanding kultivar Dampit. Prospek aplikasi cendawan mikoriza untuk tanaman pepaya cukup baik, namun masih memerlukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui keefektifan dalam efisiensi penggunaan pupuk. Katakunci: Carica papaya; Bibit; Mikoriza arbuskula; Serapan hara; Pertumbuhan. ABSTRACT. An experiment was aimed to find out the role of five arbuscular mycorrhizal fungus isolates in increasing nutrient uptake and biomass production on two cultivars of papaya seedling. The research was conducted at a screen house of Agricul- ture Faculty, Padjadjaran University, from August 2001 until January 2002. This experiment was laid in Randomized Blocks Design in factorial pattern with three replications. The first factor was the kind of mycorrhizaes isolates, con- trol, Glomus etunicatum, Glomus manihotis, Gigaspora margarita, Acaulospora tuberculata and Scutellospora heterogama, and the second factor was papaya cultivars of Dampit and Sari Rona. The results showed that root infec- tion level of papaya seedlings on two months after inoculation influenced by interactions between mycorrhizaes iso- late and papaya cultivars. Acaulospora tuberculata, G. etunicatum, and Gi. margarita isolates showed very high root infection level which was higher than 76% from both papaya cultivars, whereas two other mycorrhizaes isolate showed the lower infection 21.33-59.67%. Nutrient uptake on N,P,K, and shoot dry weight, in autonomous caused by kinds of mycorrhizaes isolate and papaya cultivars. Acaulospora tuberculata and G. etunicatum isolates increased to- tal dry weight 1.028% and 1.632% respectively higher than control. Sari Rona cultivar showed higher nutrient uptake on N, P, K, and shoot dry weight than Dampit cultivar. The mycorrhizaes application for papaya have good prospect, but there needs further studies to know the effectiveness in fertilizer efficiency