Jurnal Hortikultura
Not a member yet
    543 research outputs found

    Pengaruh Tanaman Aromatik Dalam Sistem Tanam Tumpangsari Dengan Cabai Merah Terhadap Serangan Trips dan Kutudaun (Effect of Aromatic Plants on Thrips and Aphid Infestation in Intercropping System with Hot Pepper)

    Full text link
    Tanaman aromatik seperti seledri dan kemangi mengandung minyak esensial yang antara lain bersifat sebagai penolak hama. Oleh karena itu tanaman tersebut dapat digunakan sebagai salah satu cara pengendalian hama dengan cara ditumpangsarikan dengan tanaman utama. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana tanaman seledri dan kemangi yang ditumpangsarikan dengan cabai merah dalam menekan populasi hama trips dan kutudaun pada tanaman cabai merah. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Margahayu (1.250 m dpl.), Balai Penelitian Tanaman Sayuran di Lembang, dari bulan Maret sampai Agustus 2016.  Penelitian disusun alam rancangan acak kelompok dengan pola petak terpisah. Petak utama ialah sistem tanam (A), yang terdiri atas: (a1) tumpangsari cabai-seledri, (a2) tumpangsari cabai-kemangi, dan (a3) cabai monokultur. Anak petak ialah penyemprotan insektisida (B), yang terdiri atas: (b1) disemprot insektisida 2x/minggu dan (b2) tidak disemprot insektisida. Setiap kombinasi perlakuan diulang sebanyak empat kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) dalam sistem tumpangsari dengan cabai, seledri dan kemangi mampu menekan populasi trips masing-masing sebesar 35,84% dan 34,76%, serta menekan populasi kutudaun masing-masing sebesar 44% dan 50,25%; (2) penggunaan seledri dan kemangi dibandingkan dengan penggunaan insektisida menunjukkan penekanan yang lebih baik terhadap trips dan kutudaun, sehingga penggunaan tanaman aromatik tersebut dalam sistem tumpangsari dengan cabai mampu menekan penggunaan insektisida hingga 100%; dan (3) penggunaan seledri dan kemangi dalam sistem tanam tumpangsari dengan cabai mampu meningkatkan hasil panen cabai masing-masing sebesar 61,89% dan 65,04%.KeywordsCabai (Capsicum annuum); Seledri (Apium graveolens); Kemangi (Ocimum basilicum); Tumpangsari; HamaAbstractAromatic plants like celery and basil contain essential oils that able to repel the pests. Therefore, these aromatic plants can be used in intercropping system to control pests of the main crop. The aim of the research was to know how far celery and basil in intercropping with hot pepper in reducing thrips and aphid infestation on hot pepper. The activity was carried out in Margahayu Research Garden (1,250 m asl.), Indonesian Vegetable Research Institute at Lembang. The experiment was arranged in a randomized block design with split plot pattern and each combination treatment was replicated four times. The main plot was planting system (A): (a1) hot pepper intercropped with celery, (a2) hot pepper intercropped with basil, and (a3) hot pepper monoculture. The sub plot was insecticide spraying (B): (b1) spray with insecticide 2x/week and (b2) without insecticide spraying. Results showed that: (1) in intercropping system with hot pepper, celery and basil were able to reduce thrips population by 35.84% and 34.76% respectively, and were able to reduce aphid population by 44% and 50,25% respectively; (2) use of celery and basil compared with insecticide showed a better suppression on thrips and aphid population, so that the use of these aromatic plants was able to reduce insecticide spraying by 100%; and (3) use of celery and basil was able to increase the hot pepper yield by 61.89% and 65.04% respectively

    Pengaruh Teknik Penyerbukan Terhadap Pembentukan Buah Naga (Hylocereus polyrizhus) [The Effect of Pollination Technique to Fruit Development of Dragon Fruit (Hylocereus polyrizhus)]

    Full text link
    Bunga tanaman buah naga berukuran besar dan merupakan bunga hermaprodit yang mekar pada malam hari. Penyerbukan silang pada buah naga dapat terjadi dengan bantuan angin, serangga polinator maupun manusia. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh teknik penyerbukan bunga betina terhadap pembuahan buah naga (Hylocereus polyrizhus). Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan Aripan, Balai Penelitian Tanaman Tropika pada bulan Agustus sampai September 2014. Perlakuan terdiri atas: (A) penyerbukan secara alami (kontrol), (B) penyerbukan sendiri melalui isolasi bunga dengan kantong kertas minyak, (C) penyerbukan dengan mengisolasi bunga menggunakan kantong kertas minyak saat mekar pada malam hari dibantu dengan memberikan serbuk sari dari bunganya sendiri dan diisolasi kembali, dan (D) penyerbukan bunga yang didahului dengan kastrasi dan isolasi menggunakan kantong kertas minyak serta polinasi pada malam hari dan selanjutnya bunga diisolasi kembali. Setiap perlakuan terdiri atas 37 bunga tanaman buah naga. Analisis data dilakukan menggunakan uji t berpasangan pada taraf 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teknik penyerbukan yang berbeda pada tanaman buah naga menghasilkan kelas buah yang berbeda. Persentase buah dengan kelas super tertinggi diperoleh pada penyerbukan secara alami (kontrol), meskipun persentase jadi buah paling kecil. Implikasi dari hasil penelitian ini adalah bahwa penyerbukan pada buah naga sebaiknya dilakukan secara alami tanpa menggunakan bantuan manusia.KeywordsBuah naga; Penyerbukan; Pembuahan; Self compatibleAbstractThe flower size of dragon fruit plants is large and a hermaphroditic nocturnal flowers. Cross pollination of the dragon fruit plants occurs because of the wind, pollinator, and humans. The aim of the research was to determine the effect of pollination technique on  fertilization of dragon fruit flowers (Hylocereus polyrizhus). This research was conducted at Aripan Experimental Field, Indonesian Tropical Fruit Research Institute (ITFRI) from August to September 2014. The treatments consisted of: (A) natural open pollination (control), (B) the flowers were isolated with paper bags and allowed to self pollination, (C) the flowers were isolated with paper bag and hand self pollinated when flowers were blooming in the evening. Furthermore all pollinated flowers were isolated with paper bag again (hand self pollination), and (D) the flowers were castrated and emasculated then they were isolated with paper bag. Cross pollination was done with pollen from the other plants. The all pollinated flowers were isolated with paper bag again (hand cross pollination). Each treatment consisted of 37 flowers of dragon fruit plants. Data were analyzed by using paired  t test 0.05. The results showed that different of pollination techniques on dragon fruit plants were produced of different fruit grade. Percentage of superior grade on natural open pollination  higher than the other treatment, even though the open pollination had smallest of percentage of  fruit set. The implication of this research is that the dragon fruit flower pollination may be done naturally without human assistance

    Deteksi Penyakit Virus Pada Bawang Merah Asal Kabupaten Brebes dan Cirebon dan Daerah Pencarnya Menggunakan Teknik RT-PCR (Detection of Viral Diseases on Shallot from Brebes and Cirebon Districts and their Spread Using the RT-PCR Techniques)

    Full text link
    Bawang merah (Allium cepa var. ascalonicum) merupakan salah satu komoditas penting sayuran. Salah satu masalah yang dihadapi dalam budidaya bawang merah adalah adanya penyakit yang disebabkan oleh virus yang dapat menurunkan kualitas dan kuantitas hasil. Penelitian bertujuan mengetahui kelompok virus yang menginfeksi bawang merah dan daerah pencarnya di Kabupaten Brebes dan Cirebon. Kegiatan dilakukan dengan pengambilan sampel tanaman pada bulan September 2013 (musim kemarau) dan April 2014 (musim hujan). Identifikasi virus dilakukan di Laboratorium Virologi Balai Penelitian Tanaman Sayuran menggunakan teknik RT-PCR. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) tingginya insiden gejala virus bergantung pada pola tanam, penggunaan varietas, umur tanaman, dan kondisi lingkungan di sekitar tanaman, (2) umumnya petani di Kabupaten Brebes dan Cirebon menanam bawang merah varietas Bima Curut, (3) daerah pencar kelompok Potyvirus, Allexivirus, dan Carlavirus cukup luas di Kabupaten Brebes dan Cirebon, (4) terdeteksi dari kelompok sampel Kabupaten Brebes Potyvirus 92,30%, Allexivirus 92,50%, dan Carlavirus 99%, dan (5) terdeteksi dari kelompok sampel asal Kabupaten Cirebon Potyvirus 96,43%, Allexivirus 96,15%, dan Carlavirus 93%. Implikasi dari infeksi ketiga kelompok virus tersebut pada tanaman bawang merah dapat menurunkan produksi 21,57–54,90%.KeywordsAllium cepa var. ascalonicum; Deteksi; Potyvirus; Allexivirus; CarlavirusAbstractShallot (Allium cepa var. ascalonicum) is one of the important vegetable commodity. The problems encountered in the cultivation of shallot is the disease caused by a virus which can reduce the quality and yield quantity. This study aimed to determine the group of viruses that infect shallot and geographycal distribution in Brebes and Cirebon Districts. The activities carried out by plant sampling in September 2013 (dry season) and April 2014 (rainy season). Identification of virus carried in the Virology Laboratory of Indonesian Vegetables Research Institute to perform testing using RT-PCR. The results showed that: (1) the high incidence of viral symptoms depend on cropping patterns, use of improved varieties, plant age, environmental conditions around the plant, (2) generally famers in Brebes and Cirebon Districts planted Bima Curut varieties, (3) geographycal distribution Potyvirus group, Allexivirus, and Carlavirus quite extensive in Brebes and Cirebon regions, (4) detected viruses from samples of Brebes District : Potyvirus group 92.30%, Allexivirus 92.50%, and Carlavirus 99%, and (5) detected viruses from samples of Cirebon District : Potyvirus group 96.43%, Allexivirus 96.15%, and Carlavirus 93%. The implications of the infection of the above three groups of viruses on the plant can decrease the production of shallots 21.57–51.90%

    Persepsi Petani Sayuran Tentang Dampak Perubahan Iklim di Sulawesi Selatan (Perception of Vegetable Farmers on the Impact of Climate Change in South Sulawesi)

    Full text link
    Walaupun masih terdapat ketidakpastian tentang kapan, bagaimana, dan di mana perubahan iklim akan berdampak negatif terhadap produksi pertanian dan ketahanan pangan, sebagian besar ilmuwan sepakat bahwa dampaknya terhadap sektor pertanian di daerah tropis akan semakin parah dibandingkan di daerah temperate. Tujuan penelitian adalah mempelajari persepsi petani tentang dampak perubahan iklim terhadap variabilitas cuaca yang terjadi dan dampak perubahan iklim terhadap usahatani. Penelitian survei dilaksanakan pada ekosistem sayuran di dataran tinggi dan rendah Sulawesi Selatan dari bulan Juni hingga Agustus 2012. Pada setiap ekosistem, 110 petani sayuran dipilih secara acak (total = 220 responden). Pengumpulan data dilakukan melalui metode wawancara menggunakan kuesioner terstruktur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden lintas ekosistem dan pola musim mempersepsi tiga jenis kejadian alam akibat perubahan iklim secara signifikan yang menempati tiga urutan tertinggi pada awal musim tanam, yaitu (a) pola curah hujan sangat tidak menentu, (b) suhu udara meningkat, dan (c) musim hujan datang lebih awal, diikuti oleh minggu-minggu kering. Mayoritas responden juga mempersepsi tiga jenis kejadian cuaca ekstrim akibat perubahan iklim signifikannya menempati tiga urutan tertinggi, yaitu (a) sinar matahari sangat terik, (b) gelombang dan temperatur udara panas dan (c) kekeringan. Kebakaran hutan, asap hasil pembakaran bahan bakar oleh industri, asap kendaraan bermotor, dan penggundulan hutan secara konsisten, dikemukakan sebagian besar petani lintas ekosistem dan pola musim sebagai faktor yang menyebabkan terjadinya perubahan iklim. Sementara itu, separuh lebih responden menyatakan ketidaksetujuan/keragu-raguannya bahwa usahatani sayuran yang dilakukan secara terus menerus, pembakaran limbah tanaman/rumah tangga, penggunaan pupuk/pestisida kimia berlebih, penggunaan kayu bakar, dan penggunaan air irigasi tinggi memberikan kontribusi cukup signifikan terhadap terjadinya perubahan iklim. Sebagian besar responden mempersepsi tiga dampak perubahan iklim terhadap usahatani yang signifikansinya menempati tiga urutan tertinggi, yaitu (a) risiko kegagalan panen yang semakin tinggi, (b) risiko kerugian usahatani yang semakin tinggi dan berpengaruh terhadap keberlanjutan usahatani, serta (c) suhu yang semakin tinggi menyebabkan peningkatan serangan hama dan munculnya hama baru. Kegiatan edukasi terpadu melalui penyuluhan pertanian maupun sekolah lapang iklim perlu terus dilakukan untuk mengoreksi beberapa perbedaan persepsi tentang penyebab perubahan iklim.KeywordsSayuran; Dataran rendah; Dataran tinggi; Variabilitas iklim; Dampak perubahan iklimAbstractVegetable farmers’ perception of climate change impacts in South Sulawesi. Even though there are still uncertainties regarding when, how, and where the climate change will have a negative impact on agricultural production and food security, most scientists agree that the impact of climate change on agricultural sector is more severe in the tropical regions as compared to the temperate regions. The objective of this study was to examine farmers’ perceptions regarding the impacts of climate change on weather/climate variability and on their vegetable farms. A survey was carried out in lowland and highland vegetable areas of South Sulawesi in June until August 2012. In total, there were 220 respondents randomly selected for interview by using a structured questionnaire. Results suggest that most respondents across different ecosystem and seasonal pattern perceive three climates variability as the most important impacts of climate change i.e. (a) high uncertainty of rainfall pattern, (b) increasing air temperature and (c) earlier start of rainy season followed by dry weeks. Those respondents also perceive three most important extreme weathers, such as (a) intense heat/sun, (b) hot air temperature and waves and (c) long dry season. Forest fire, smoke from industrial fuel burning, smoke from motor vehicles and deforestation are consistently identified as factors that significantly contribute to the existence of climate change. Meanwhile, more than half of respondents are disagree or in doubt that continuous vegetable cultivation, crop/household waste, excessive use of fertilizers, and pesticides, use of cooking woods, and excessive use of irrigation water as factors that contribute to climate change. Most respondents perceive three most important impacts of climate change to their vegetable farms i.e. (a) increasing crop failure risk, (b) increasing financial loss risk that directly affects farm sustainability, and (c) increasing air temperature that tends to increase more severe pest/disease incidence and bring out new pests and diseases. A concerted educative effort through agricultural extension or climate field school should be carried out, especially to correct some misperceptions regarding causes of climate change

    Teknik Enkapsulasi Sederhana untuk Konservasi In vitro Jangka Menengah Tanaman Nenas (Ananas comosus) [Simple Encapsulation Technique for Medium Term Pineapple (Ananas comosus) In vitro Conservation]

    Full text link
    Konservasi in vitro tanaman nenas dilakukan untuk penyimpanan materi genetik sebelum dimanfaatkan. Penelitian ini dilaksanakan untuk mengembangkan teknik enkapsulasi yang dapat memperpanjang daya simpan benih sintetik nenas melalui perlakuan konsentrasi natrium alginat, suhu, dan media penyimpanan. Penelitian dilakukan di Laboratorium Kultur Jaringan, Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika, mulai Januari hingga Desember 2017. Bahan yang digunakan adalah plantlet nenas aksesi 5X18(10). Penelitian dibagi menjadi dua subkegiatan. Metode yang digunakan pada subkegiatan pertama yaitu tunas mikro nenas dienkapulasi dengan metode tetes menggunakan natrium alginat 3% dan 4% serta penyimpanan dalam akuades steril dan tanpa media selama 30, 60, 120, dan 240 hari pada suhu 25oC. Penggunaan 4% natrium alginat dan media akuades steril dapat memperpanjang masa simpan benih sintetik nenas hingga 240 hari dengan daya regenerasi benih 100%. Pada subkegiatan kedua, perlakuan terbaik pada subkegiatan pertama dilanjutkan dengan perlakuan suhu penyimpanan 4oC. Benih sintetik nenas pada suhu penyimpanan tersebut hanya mampu bertahan hingga 60 hari, selebihnya tunas dalam benih menghitam dan tidak dapat ditumbuhkan kembali. Metode enkapsulasi untuk penyimpanan materi genetik yang dikembangkan dalam penelitian ini lebih sederhana dan efisien serta dapat diaplikasikan pada kegiatan konservasi in vitro jangka menengah tanaman nenas.KeywordsEnkapsulasi; Konservasi; In vitro;  Tanaman nenasAbstractIn vitro conservation of pineapple was conducted as preservation of genetic material before it was further utilized. This research was conducted to obtain encapsulation technique which expanded synthetic seeds shelf life by modifying concentration of sodium alginate, incubation media, and temperature. The research was conducted on Tissue Culture Laboratory of Indonesian Tropical Fruit Research Institute on January to December 2017. The materials which were used included pineapple micro shoots accessions 5X18(10). The research was divided into subactivities. The method which was applied on the first subactivity included encapsulation of pineapple micro shoots using drop method with sodium alginate 3% and 4%,incubation media sterile aquades and without media for 30, 60, 120, and 240 days on 25oC temperature.The use of 4% sodium alginate and sterile aquades incubation media prolonged the pineapple shelf life up to 240 days with 100% regeneration capability. On the second subactivity, the best treatment on the first activity was combined with 4oC incubation temperature. The pineapple synthetic seeds on this incubation temperature only survive up to 60 days, became blackening, and could not be regrowth. Encapsulation method which was developed on this study was simpler, more efficient, and able to be applied for medium term pineapple in vitro conservation

    Analisis Isozim dan Patogenisitas Isolat Cladosporium spp. Terhadap Karat Putih Pada Krisan (Isozyme Analysis and Pathogenicity of Cladosporium spp. Isolate Against White Rust on Chrysanthemum)

    Full text link
    Cladosporium spp. merupakan mikoparasit potensial untuk mengendalikan beberapa jenis cendawan karat. Penelitian bertujuan untuk mengetahui patogenisitas 10 isolat Cladosporium spp. yang ditemukan di daerah sentra krisan (Kabupaten Cianjur dan Bandung Barat) terhadap penyakit karat putih pada krisan dan hubungan kekerabatannya antara isolat Cladosporium spp. Percobaan dilakukan pada bulan April hingga Agustus 2014 di Laboratorium Mikologi Balai Penelitian Tanaman Hias (Balithi) dan Laboratorium Patologi dan Silvikultur, Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor. Pada percobaan ini dilakukan uji patogenisitas 10 isolat Cladosporium spp. asal Kabupaten Cianjur dan Bandung Barat terhadap pustul karat pada daun krisan di laboratorium. Untuk menelusuri hubungan genetik antarisolat dilakukan analisis isozim secara elektroforesis dengan menggunakan enzim esterase (EST), acid phospatase (ACP), dan peroksidase (PER). Hasil percobaan menunjukkan sembilan isolat Cladosporoium spp. efektif memparasit pustul karat dengan efektivitas lebih dari 50%. Hasil analisis isozim menunjukkan terdapat dua kelompok Cladosporium spp. yang memiliki koefisien kemiripan 67%.KeywordsCladosporium spp.; Isozim; Mikoparasit; PatogenisitasAbstractCladosporium spp. is a potential mycoparasite for controlling some rust fungi. The aim of the research was to obtain the effectiveness of 10 Cladosporium spp. isolates was found in chrysanthemum central area (Cianjur and West Bandung District) and genetic relationship among the isolats. The research carried on April to Agustus 2014  in Micology Laboratory Indonesian Ornamental Crop Institute and Pathology and Silviculture Laboratory, Faculty of Forestry, Bogor Agricultural University. Pathogenicity of the 10 fungus isolate was tested against rust pustules on chrysanthemum leaves and genetic relationship between isolates was analyzed by electrophoresis isozyme using EST, ACP, and PER enzyme. The results showed that nine of Cladosporoium spp. isolates were effective parasited rust pustule with more than 50% effectiveness. The cluster analysis based on isozyme analysis showed that Cladosporium spp. isolate have two  distinc groups with 67% similarity coefficient

    Uji Adaptasi dan Stabilitas Hasil Enam Genotipe Cabai Hibrida di Dataran Tinggi Jawa Barat (Adaptation and Yield Stability of Six Hybrid Chili Genotypes in Highland Area of West Java)

    Full text link
    Uji adaptasi dilakukan untuk mengestimasi interaksi antara Genotipe dengan Lingkungan, sehingga dapat ditentukan apakah genotipe yang diuji adaptif pada lingkungan yang spesifik atau stabil pada lingkungan yang luas. Tujuan pengujian ialah mendapatkan informasi tentang stabilitas hasil cabai hibrida yang ditanam pada tiga lokasi di Jawa Barat. Pengujian ditata dengan menggunakan Rancangan Kelompok Lengkap Teracak pada tiga lokasi pengujian yaitu di Kab. Bandung, Kab. Bandung Barat dan Kab. Garut. Populasi tanaman untuk tiap-tiap plot penelitian ialah 30 tanaman  dengan empat ulangan. Hasil analisis ragam gabungan terlihat bahwa nilai kuadrat tengah genotipe lebih tinggi dari nilai kwadrat tengah interaksi genotipe x lingkungan hal ini memberikan indikasi bahwa pengaruh genetik lebih dominan dibandingkan faktor lingkungan. Varietas (genotipe) yang diuji berbeda sangat nyata sehingga menunjukkan adanya perbedaan potensi hasil diantara varietas dan terjadi interaksi antara genotipe dengan lingkungan. Genotipe stabil berdasarkan perhitungan MSTATC ialah H-1 dan  Cosmos. Genotipe Batalion dan Merona tidak stabil karena nilai T hitung lebih besar dari T tabel sementara Genotipe H 2 dan Hot Beauty tidak stabil karena hasil dibawah rerata. Implikasi dari penelitian ialah didapatkan informasi genotipe cabai yang stabil pada agroekosistem dataran tinggi Jawa Barat.  KeywordsGenotipe cabai hibrida (Capsicum annuum); Adaptasi; Stabilitas; Jawa BaratAbstractAn adaptation test was carried out to estimate the interaction between genotypes and the environment, to be able to determine whether the genotypes tested were adaptable in a specific or stable in a wide range of environments. The objective of this study were to obtain the stability level of the hybrid chili tested at three highland West Java locations. The study was arranged using a randomized complete block design with four replications. The treatment consisted of six hybrid chili genotypes tested at three test locations, i.e. West Bandung District, Bandung District, and Garut District. The experimental unit was a plot containing 30 plants. Results showed that the combined analysis of variance (ANOVA) showed that the mean square of the genotype was higher than that of genotype x environment interaction, indicating that the genetic effect was more dominant than that of environmental factors. Genotypes tested were highly significant (p < 0.01) indicating difference yield potential among the genotypes tested. There was a significant interaction between the genotype with that of the environment. The stable genotypes determined based on MSTATC analysis obtained two stable genotypes, i.e. H-1 and Cosmos. Genotypes Batalion and Merona, on the other hand were not stable because the T value counted was greater than that of T table. The genotypes H-2 and Hot Beauty were also found not stable because of low yield performances. The implication of this research was that the stable hybrid chili genotypes obtained from this study can be recommended to be registered as candidates as chili paper new varieties

    Penentuan Pilihan Model Kelembagaan untuk Pengembangan Perbenihan Bawang Merah Melalui True Shallot Seed di Jawa Timur (Choice Determination of Institutional model for Seed Development of Shallot through True Shallot Seed System in East Java)

    Full text link
    Penggunaan biji true shallot seed (TSS) telah diperkenalkan sebagai salah satu alternatif penyediaan benih bawang merah yang sehat dan berkualitas tinggi yang tersedia dalam jumlah yang cukup bagi petani sepanjang tahun. Penggunaan TSS diharapkan dapat mengatasi persoalan kuantitas dan kualitas bawang merah konsumsi serta perbenihan bawang merah di Indonesia. Pembentukan kelembagaan yang tepat perlu dibangun sejalan dengan pengembangan TSS. Pembentukan kelembagaan yang baik dan kuat dapat menghasilkan teknologi inovatif yang tepat dan menjamin ketersediaan benih TSS dalam jangka panjang. Tujuan penelitian yaitu mengetahui model pilihan kelembagaan stakeholder (pemangku kepentingan) untuk mendukung pengembangan sistem perbenihan TSS bawang merah di Jawa Timur. Survei dilaksanakan pada bulan Maret hingga Agustus 2016 di Jawa Timur melalui interview kepada 35 responden. Analisis data dilakukan menggunakan konsep Analytical Hierarchy Process (AHP) dengan program statistik Super Decisions. Hasil penelitian menunjukkan bahwa opsi kelembagaan yang dipilih oleh responden untuk pengembangan perbenihan bawang merah TSS di Jawa Timur adalah opsi 1. Di opsi 1, Balitsa dan BPTP berperan memproduksi TSS kelas jenis Benih Penjenis (BS) dari umbi varietas bawang merah unggul dan memberikan delegasi legalitas/lisensi kepada BBI/BBU/BBH/SWASTA untuk memproduksi/memperbanyak Benih Umbi kelas benih BS. Berikutnya, Perguruan Tinggi (PT)/BPTP/SWASTA menghasilkan TSS dan umbi benih untuk kelas Benih Dasar (BD). Selanjutnya penangkar terpilih memproduksi TSS dan umbi benih kelas Benih Pokok (BP) dan Benih Sebar (BR). Benih Sebar ditanam oleh petani untuk memproduksi umbi bawang merah konsumsi. Produksi TSS-BP, benih umbi BP, TSS-BR, dan benih umbi BR diawasi dan didampingi oleh BPTP.KeywordsAnalisis hirarkhi proses (AHP); Benih botani bawang merah; Model kelembagaan; Perbenihan bawang merahAbstractThe use of true shallot seed (TSS) has been promoted as an alternative method to obtain healthy and high quality shallot seed that supposed to be adequately available for farmers along the year. The use of TSS is expected to be able of solving quantity and quality problems of shallot table consumption and shallot seed in Indonesia. A functioning institutional setting should be established in line with the development of TSS. The establisment of good and strong institutional could generate innovative appropriate technologies and ensure the availability of TSS in a long term. The objective of this study was to investigate the stakeholders’ choice of some institutional models to support the development of TSS shallot seed system in East Java. A survey was conducted from March to August 2016 to collect data by interviewing 35 respondents. Data were analysed by employing the Analytical Hierarchy Process (AHP) concept and using Super Decisions statistical program. Results indicates that an institutional setting selected by respondents to support the development of TSS shallot seed system in East Java is described in the first option. The first option suggests that Indonesian Vegetables Research Institute (IVEGRI) and Assessment Institute for Agricultural Technology (AIAT) have the role of producing TSS for Breeder Seed class (BS) from high quality shallot bulbs and providing legality delegation or license to BBI/BBU/BBH (Indonesian government seed institutions)/Private in producing/multiplying seed bulbs of BS class. Afterward, the University/AIAT/Private will produce TSS and seed bulbs for Foundation Seed class (FS). Furthermore, selected shallot seed growers will produce TSS and seed bulbs for Stock Seed class (SS) and Extension Seed class (ES). The ES will be used by farmers to produce shallot bulbs for table consumption. Production of FS-TSS, FS-seed bulbs, ES-TSS, and ES-seed bulbs will be monitored and supervised by AIAT

    Analisis Korespondensi untuk Mengetahui Atribut Unggulan Jeruk Pamelo: Studi Kasus Pada Empat Aksesi Jeruk Pamelo di Magetan (Correspondence Analysis to Identified the Superior Attribute of Pummelo: Case Study on Four Pummelo Accession in Magetan)

    Full text link
    Pamelo (Citrus maxima) memiliki potensi untuk dikembangkan di Indonesia merujuk karakteristiknya yang unik, baik dari sisi ukuran, rasa, dan lama penyimpanan. Beberapa aksesi yang dibudidayakan di Magetan meliputi Nambangan, Magetan, Sri Nyonya, dan terdapat juga klon Adas yang belum dilepas. Analisis korespondensi dilakukan mengetahui atribut unggulan pada keempat aksesi jeruk pamelo tersebut, dengan menggunakan data primer dari panel terbatas atas 132 sampel buah, yang dilakukan pada tahun 2014. Beberapa tahapan yang dilakukan: (1) cleaning data yang bersumber dari penilaian panelis mengelompokkan data berdasarkan kesukaan, (2) melakukan uji asosiasi tabel kontingensi antara varietas pamelo dan kriteria unggul, dan (3) analisis korespondensi terhadap aksesi pamelo. Hasil yang diperoleh menunjukkan varietas Nambangan melekat dengan atribut unggul kebersihan, bentuk buah, warna, dan tebal kulit ; varietas Magetan terikat dengan jumlah biji, varietas Sri Nyonya dengan tebal, tekstur, dan rasa daging buah; serta klon Adas dengan warna daging buah. Berdasarkan hasil dari penilaian panelis atribut unggul utama dari penampilan dalam adalah rasa daging buah (18,98%) dan untuk penampilan luar adalah bentuk buah (18,32%). Hal ini menjadikan varietas Sri Nyonya menjadi pilihan pertama panelis (27,37%). Hasil tersebut diharapkan dapat memberikan gambaran kepada petani terkait kesesuaian aksesi yang dipilih dengan pasar yang dibidik (terkait atribut unggulan yang disukai), serta menjadi acuan bagi pembuat kebijakan, terutama Pemerintah Kabupaten Magetan, terkait aksesi yang diprioritaskan untuk dikembangkan, mengingat pasar dalam negeri dan ekspor masih terbuka.KeywordsPamelo; Analisis korespondensi; Atribut unggul AbstractPummelo (Citrus maxima) has the potential to be developed in Indonesia, referring to its unique characteristics, both in terms of size, taste, and length of storage. Some accessions that common cultivated in Magetan are Nambangan, Magetan, Sri Nyonya, and there are also Adas clone that have not been released. Correspondence analysis was conducted to determine the superior attributes of the four pummelo citrus accessions, using primary data from limited panels for 132 fruit samples, which was carried out in 2014. Several steps were done: (1) cleaning data sourced from panel appraisal to group data based on their preference, (2) test the association of contingency tables between pummelo accessions and superior criteria, and (3) conduct correspondence analysis of pummelo accessions. The results show that the Nambangan variety is inherent with superior attributes of cleanliness, fruit shape, color, and thickness of the skin; the Magetan variety is tied to the number of seeds, while Sri Nyonya variety with thick flesh, flesh texture, and fruit flavor; while Adas clone with fruit flesh color. Based on the results, the panelist’s assessed the main superior attribute for internal appearance was fruit flesh flavor (18.98%) while the outer appearance was fruit shape (18.32%), where Sri Nyonya variety was the panelist’s first choice (27.37%). This result are expected to provide an overview to farmers regarding the suitability of the selected accessions, which will be developed, with targeted markets, as well as being reference for policy makers, especially Magetan district government, regarding the accessions that become priority to be developed, given that the domestic and export markets for this product are still widely open.

    Back Matter

    No full text

    509

    full texts

    543

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Hortikultura
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇