Jurnal Hortikultura
Not a member yet
    543 research outputs found

    Sistem Tanam Tumpang Sari Cabai Merah dengan Kentang, Bawang Merah, dan Buncis Tegak (Technical Assessment of Hot Pepper Intercropping System with Potato, Shallot, and Beans)

    Full text link
    Pola tanam tumpang sari merupakan salah satu cara untuk meningkatkan efisiensi penggunaan lahan sekaligus meningkatkan pendapatan, melalui usaha penanaman beberapa jenis tanaman pada lahan dan waktu yang sama. Cabai merah merupakan komoditas sayuran yang memiliki nilai permintaan yang tinggi di masyarakat Indonesia, demikian juga dengan tanaman kentang, bawang merah, dan buncis. Penelitian bertujuan untuk mengkaji efisiensi penggunaan lahan sistem tanam monokultur dan tumpang sari dengan kentang, bawang merah, dan buncis tegak. Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan Berastagi dengan ketinggian tempat 1.340 m dpl dan jenis tanah Andisol. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juni hingga Desember 2015. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok (RAK) yang terdiri atas enam perlakuan dengan empat ulangan. Perlakuan yang diuji adalah : (a) sistem tanam tumpang sari cabai merah + (kentang + bawang merah); (b) sistem tanam tumpang sari cabai merah + buncis tegak; (c) sistem tanam tumpang sari cabai merah + kentang; (d) sistem tanam tumpang sari cabai merah + bawang merah, (e) sistem tanam tumpang sari cabai merah + (buncis tegak + bawang merah); dan (f) sistem tanam cabai monokultur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan vegetatif tanaman tumpang sari cabai merah tidak berbeda nyata dengan monokultur. Sistem tanam monokultur lebih tinggi dari tumpang sari, yaitu 21,53 kg/20 m2. Nilai kesetaraan lahan pola tanam tumpang sari cabai merah lebih besar dari 1 dan yang tertinggi adalah tumpang sari cabai merah dengan buncis tegak, yaitu 1,48. Tumpang sari cabai merah dengan bawang merah dan buncis menghasilkan keuntungan bersih yang lebih tinggi dari pola tanam monokultur dan tumpang sari lainnya, yaitu Rp191.408,00/20m2. Usahatani tumpang sari cabai dengan kentang dan bawang merah merupakan usahatani yang paling menguntungkan terutama apabila dibandingkan dengan monokultur.KeywordsCapsicum annum L; Tumpang sari; Solanum tuberosum L.; Allium cepa L; Phaseolus vulgaris LAbstractIntercropping system is one way to improve the efficiency of land use through the efforts of the planting of crops on the land and the same time. Hot pepper is a vegetable commodity that has value in high demand in Indonesian society, so we need to research that aims to assess the efficiency of land use with monoculture and intercropping system hot pepper with beans, potatoes and shallot. The study was conducted in Berastagi Experimental Garden with less altitude of 1,340 m above sea level and type of soil Andisol. The research was conducted from June to December 2015. The design used was a randomized block design (RAK) nonfactorial with four replications. The treatments tested were: (a) intercropping system hot pepper + (potato + shallot); (b) intercropping system hot pepper + beans; (c) intercropping system hot pepper + potato; (d) intercropping system hot pepper + shallot; (e) intercropping system hot pepper + (beans + shallot);( f) monoculture. The results showed that: Hot pepper intercropping plant vegetative growth was not significantly different with monoculture. Generative growth of hot pepper intercropping is significant different than monocultures, where the monoculture of hot pepper produce higher yields 21.53 kg / 20 m2. Land equivalent ratio of hot pepper intercropping system is greater than one and the highest intercropping hot pepper with beans, 1.48. Hot pepper intercropping with shallot produce a higher net profit than monoculture and another intercropping, Rp191 408,00 / 20m2. Intercropping hot pepper with potato and shallot is the most profitable farming, especially when compared to monoculture

    Pengujian Mutu Benih Cabai (Capsicum annuum) Dengan Metode Uji Pemunculan Radikula [Seed Quality Test in Pepper (Capsicum annuum) Seeds Using Radicle Emergence]

    Full text link
    Kecepatan berkecambah yang rendah merupakan indikator kemunduran benih. Pengujian vigor dengan metode uji pemunculan akar pada benih cabai dilakukan untuk menduga pertumbuhan tanaman di lapangan. Makin tinggi nilai uji pemunculan akar maka vigor benih makin tinggi. Jika laju pemunculan radikula pada benih berjalan lambat, vigor benih tersebut dinyatakan rendah. Tujuan penelitian ini adalah membandingkan jumlah kemunculan radikula pada empat lot benih cabai pada suhu berganti 2030°C selama 168 jam. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan satu faktor, yaitu lot benih berupa empat varietas cabai (Sret, Laskar, Serambi, dan Madun) dengan delapan ulangan. Perhitungan koefisien korelasi dilakukan untuk mengetahui keeratan hubungan antara nilai uji pemunculan radikula dengan tolok ukur pengujian yang lain. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemunculan radikula tertinggi terjadi pada 120 jam. Jumlah pemunculan radikula berkorelasi positif dengan daya berkecambah (r=0,907), indeks vigor (r=0,864), kecepatan tumbuh (r=0,727), dan daya tumbuh (r=0,935). Dari penelitian ini diperoleh kesimpulan bahwa uji vigor pemunculan radikula benih cabai yang dilakukan pada suhu 2030°C selama 120 jam (5 hari) dapat digunakan untuk menilai mutu benih cabai.KeywordsBenih cabai; Daya tumbuh; Mutu benih; Pemunculan radikulaAbstractLow germination is an indicator of seed deterioration. Vigour testing using radicle emergence on pepper  seeds was done to predict plant growth in field. The higher radicle emergence found, the higher the seed vigour occurred. If the rate of radicle was slow, the seed vigour was also low. The objective of this study was to compare the number of radicles emergence on four pepper seed lots at 2030°C for 168 hours. This study used a completely randomized design with one factor, seed lot four variety of pepper (Sret, Laskar, Serambi, and Madun) with eight replication. Calculation of coefficients correlation was done to calculate the relationship between radicle emergence and on other testing. The highest of radicles emergence occurred at 120 hours. The number of radicle emergence had positive correlation with germination (r = 0.907), vigour index (r = 0.864), speed of growth (r = 0.727), and field emergence (r = 0.935). From this research, it can be concluded that the vigour test in pepper seeds using radicle emergence was performed at 2030°C for 120 hours (5 days)

    Elastisitas Penawaran Output dan Permintaan Input Usahatani Bawang Merah di Kabupaten Demak, Jawa Tengah (Elasticity of Output Supply and Input Demand of Shallot Farming in Demak District, Central Java)

    Full text link
    Bawang merah merupakan salah satu komoditas sayuran yang mempunyai peran strategis bagi perekonomian Indonesia. Untuk meningkatkan produksi bawang merah, petani menggunakan beberapa input produksi. Perubahan harga bawang merah akan berdampak pada penawaran output dan permintaan input. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh perubahan harga output dan harga input terhadap penawaran output dan permintaan input usahatani bawang merah di Kabupaten Demak, Jawa Tengah. Penelitian dilaksanakan di Desa Raji, Kecamatan Demak, Kabupaten Demak pada bulan September – Desember 2016. Penelitian menggunakan data primer yang dikumpulkan melalui metode survey terhadap 30 responden. Data dianalisis dalam bentuk pangsa permintaan input dengan metode Seemingly Unrelated Regression (SUR). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penawaran bawang merah elastis terhadap perubahan harga bawang merah dan harga umbi benih, namun kurang elastis terhadap perubahan upah tenaga kerja, serta tidak elastis terhadap perubahan harga pupuk. Permintaan input (umbi benih, pupuk, dan tenaga kerja) bersifat elastis terhadap harga masing-masing input tersebut, dan sebagian besar bersifat inelastis terhadap harga input lainnya. Oleh karena itu untuk meningkatkan penawaran bawang merah, pemerintah seyogyanya mampu menjaga stabilisasi harga bawang merah dan mendorong menggunakan biji bawang merah (true seed shallot) sebagai alternatif untuk mengurangi pemakaian benih umbi bawang merah.KeywordsBawang merah; Perubahan harga; Penawaran output; Permintaan inputAbstractShallot is one of the vegetable crops that have a strategic role for the Indonesian economy. To increase the production of shallot, the farmers using several of input production. Changes of shallot would have an impact to output supply and input demand. This study aimed to determine the effect of changes in input and output prices to output supply and input demand of shallot farming. The study was conducted in Raji Village, Demak Subdistrict, Demak District in September - December 2016.  Primary data was collected through survey method by interviewing 30 respondents. The data was analyzed in the form of input demand share by Seemingly Unrelated Regression (SUR) method.  The results showed that supply of shallot is elastic to the price changes of shallot and price of seed bulbs, but less elastic to changes in labor wages and inelastic to changes in fertilizer prices. Demand for production input is elastic to the price of each input, and are largely inelastic with respect to other input prices. Therefore, to increase the shallot supply, the Government should be able to maintain the stabilization of shallot prices and encourage the use of true seed shallot as an alternative to reduce the use of shallot seeds

    Dampak Program Gerakan Tanam Cabai Terhadap Pemenuhan Kebutuhan Cabai Tingkat Rumah Tangga di Bogor dan Jakarta (Impact of Chilli Planting Program n Chilli Self Sufficiency at Household Level in Bogor and Jakarta)

    Full text link
    Program Gerakan Tanam Cabai (Gertam Cabai) dilatarbelakangi oleh fluktuasi harga cabai yang berlangsung tiap tahun. Program ini bertujuan membantu penyediaan cabai secara berkelanjutan pada tingkat rumah tangga. Penelitian bertujuan untuk mengkaji sejauh mana pengaruh Gertam Cabai terhadap kemandirian pemenuhan kebutuhan cabai tingkat rumah tangga di Kota Bogor dan Jakarta. Metode analisis yang digunakan adalah statistik deskriptif dan impact analysis. Pada metode impact analysis dilakukan pengukuran nilai indikator sebelum dan setelah intervensi program pada dua kelompok, yaitu kelompok yang mendapat intervensi program (Kelompok Aksi) dan kelompok yang tidak mendapat intervensi program (Kelompok Kontrol). Pada masing-masing kelompok dilakukan penghitungan selisih nilai indikator pada saat impact dan baseline. Hasil penelitian menunjukkan bahwa program Gertam Cabai belum memberikan pengaruh terhadap pemenuhan kebutuhan cabai tingkat rumah tangga. Hal ini terlihat dari: (1) tidak adanya perbedaan volume pembelian cabai antara sebelum dan sesudah Gertam Cabai pada kelompok penerima, dan (2) tidak adanya perbedaan volume pembelian cabai sesudah periode program tersebut antara kelompok penerima dan non penerima. Hal ini disebabkan karena banyak tanaman cabai yang mati, cabai yang dibagikan tidak sesuai dengan preferensi konsumen, dan cabai merupakan komoditas yang bersifat inelastis. Terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan apabila program itu masih akan dilaksanakan, yaitu: (1) jenis cabai dalam program itu agar disesuaikan dengan preferensi konsumen, dan (2) pembangunan sistem dan tatanan kelembagaan untuk memastikan keberlanjutan program meliputi sistem pembagian benih, penentuan kelompok penerima, pendampingan pra dan pasca pembagian benih, serta pembekalan teknis budidaya kepada kelompok penerima.KeywordsGerakan tanam cabai; Rumah tangga; Impact analysisAbstract Chilli planting program was motivated by the fluctuation of chili price every year. The objective of this program was to assist the household level for having sustainable supply of chilli. The purpose of this study was to analyze the influence of chilli Planting Program on the self sufficiency of household chilli needs in Bogor and Jakarta. The method of analysis used is descriptive statistics and impact analysis. In the impact analysis method, the indicator measurement before and after the program intervention was done in two groups: the group receiving the program (Action Group) and the group that did not participate in the program (Control Group). The next step is to calculate the difference between the indicators value at impact and baseline on each group. The results showed that chilli planting program has not affected chilli self sufficiency at household level. This can be seen from: (1) there is no difference in the volume of chilli purchasing before and after chilli planting program in the action group, and (2) there is no difference in the volume of chilli purchasing after chilli planting program period between action and control group. This is because a lot of chilli plants were dead, the chili was distributed not in accordance with consumer preferences, and chilli is an inelastic commodity. Some suggestions that should be considered if there is a continuation of the chilli planting program are (1) distributed chilli type has to satisfy household preferences, and (2) the program should be equipped by simultaneous development of system and institutional arrangement to ensure its sustainability, includes a system for distributing seeds, determining beneficiary groups, providing pre and post seed distribution, and providing technical training to the recipient groups.

    Produksi Benih Kentang G0 Pada Berbagai Volume dan Frekuensi Fertigasi dengan Sistem Irigasi Tetes (Production of G0 Potato Seed on Many Fertigation Volumes and Frequencies on Drip Irrigation)

    Full text link
    Kentang merupakan sayuran yang memiliki prospek untuk mendukung program diversifikasi pangan. Akan tetapi saat ini produksi di dalam negeri masih rendah akibat penggunaan benih yang kurang bermutu. Sistem irigasi tetes berpeluang untuk diterapkan pada produksi benih kentang G0. Penelitian  bertujuan untuk mengetahui pengaruh frekuensi dan volume fertigasi terhadap produksi benih G0 kentang pada sistem irigasi tetes. Penelitian  dilaksanakan sejak bulan Mei sampai dengan September 2016 di Rumah Kassa Desa Cikahuripan, Lembang, Bandung Barat, Jawa Barat dengan ketinggian 1.200 m dpl. Percobaan menggunakan rancangan petak terpisah (split plot design) dengan rancangan acak kelompok lengkap dan tiga ulangan. Sebagai petak utama adalah frekuensi fertigasi sebanyak 3, 5, dan 7 kali. Sebagai anak petak adalah volume fertigasi (ml) setiap aplikasi, yaitu 100, 200, 300, dan 400. Hasil penelitian menunjukkan tidak terjadi interaksi antara perlakuan frekuensi dan volume fertigasi terhadap semua peubah pengamatan. Frekuensi fertigasi terbaik terhadap bobot ubi per tanaman umur 100 HST adalah lima kali, yaitu jam 7, 10, 12, 14, dan 16. Volume fertigasi terbaik terhadap jumlah ubi ukuran besar umur 100 HST adalah 300 ml per aplikasi per polibag. Volume dan frekuensi fertigasi terbaik ini diharapkan tidak saja meningkatkan produksi benih, tetapi juga keuntungan usahatani yang diperoleh. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk menginduksi pengumbian dengan mengalihkan ukuran ubi menjadi peningkatan jumlah ubi sebagai tujuan produksi benih G0.KeywordsSolanum tuberosum L.; Irigasi tetes; Fertigasi; Frekuensi; VolumeAbstractPotato is one of vegetables that can be used as an alternative to support food diversification programs. But the potato production domestically is still low because of low quality seed. One of the potato seed technologies that can be developed is arragement of fertigation volumes and frequencies on drip fertigation. The objective of this research was to determine the best fertigation volume and frequency in G0 potato seed production in drip irrigation. This research was conducted from May to September 2016 at Screen House Cikahuripan Village, Lembang, Bandung on 1,200 m asl. The treatments were arranged in split plot design with randomized complete block design and three replications. The main plot was fertigation frequency which was consisted of three levels; 3, 5, and 7 times per day. The subplot was fertigation volume which was consisted of four levels; 100, 200, 300, and 400 ml per aplication. The result showed there was no interaction between fertigation frequency and volume on all observation. The best fertigation frequency on tuber weight per plant at 100 day after planting was five  times, i.e. 7, 10, 12, 14, and 16 o’clock. The best fertigation volume on number of big tuber at 100 day after planting was 300 ml per application. The best fertigation volume and frequency will increase not only seed production, but also profit of bussiness. Next research will be done to induction tuberization by transfering measurement of tuber to increase the amount of tuber as goal of production of G0 potato seed.

    Optimasi Sistem Penanaman dan Teknik Pemangkasan Tunas Pada Dua Varietas Paprika (Capsicum annuum var. Grossum) [Optimation of Planting System and Shoot Pruning in Two Sweet Pepper (Capsicum annuum var. Grossum) Varieties]

    Full text link
    Hasil paprika sangat tergantung pada pengaturan sistem penanaman dan teknik pemangkasan tunas. Penelitian dengan tujuan untuk mengoptimasi sistem penanaman dan teknik pemangkasan tunas pada dua varietas paprika telah dilakukan di Kebun Percobaan Balai Penelitian Tanaman Sayuran, Lembang, Jawa Barat dari bulan Mei 2011 sampai Februari 2012. Tiga faktor perlakuan yang dicoba terdiri atas sistem penanaman (satu dan dua tanaman per polibag) sebagai petak utama, sistem pemangkasan tunas (pemangkasan per buku sisa dua daun dan sisa tiga daun) sebagai anak petak dan varietas (Inspiration dan Spider) sebagai anak-anak petak dicoba dengan menggunakan rancangan petak terpisah (split plot design) dengan tiga ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan sistem penanaman berpengaruh nyata terhadap hasil paprika. Rata-rata hasil total dan hasil kelas buah >200 g yang ditanam dengan sistem penanaman satu tanaman per polibag berturut-turut lebih tinggi 14,1% dan 17,0% daripada tanaman yang ditanam dengan sistem penanaman dua tanaman per polibag. Perlakuan sistem pemangkasan tunas hanya berpengaruh nyata terhadap hasil kelas buah >200 g dan sistem pemangkasan sisa tiga daun memberikan hasil kelas buah >200 g lebih tinggi daripada sistem pemangkasan sisa dua daun. Hasil total, hasil kelas buah >200 g dan kelas buah 100–200 g varietas Spider lebih tinggi dan berbeda nyata dibandingkan dengan varietas Inspiration. Hasil penelitian merekomendasikan bahwa tanaman paprika sebaiknya ditanam dengan sistem satu tanaman per polibag dan sistem pemangkasan sisa tiga daun. Bila buah paprika yang diinginkan relatif besar maka varietas Inspiration yang ditanam, sedangkan bila buah dengan ukuran sedang maka varietas Spider yang ditanam.KeywordsCapsicum annuum var. Grossum; Hasil; Sistem penanaman; Sistem pemangkasan; Varietas AbstractYields of sweet peppers depend on planting system and shoot pruning system. A research with the aim to optimize planting system and shoot pruning system in two sweet pepper varieties has been carried out in the Experimental Field of the Indonesian Vegetable Research Institute in Lembang (1,250 m asl.), West Java from May 2011 until February 2012. Three treatment factors consisted of planting system (one plant and two plants planted per polybag), shoot pruning system (pruning with two leaves and three leaves remaining per node) and variety (Inspiration and Spider) were laid-out using split plot design with three replication. The results indicated that planting system treatment significantly affected the yields of sweet pepper. Average total yields and yields of fruit >200 g from plants using one plant per polybag were 14.1% and 17.0% higher than those of plants using two plants per polybag. The shoot pruning treatment significantly affected only on the yields of fruit >200 g and the shoot pruning system with three leaves remaining per node gave significantly higher yields of fruit >200 g compared to the shoot pruning system with two leaves remaining per node. The total yields, yields of fruit >200 g and yields of fruit 100–200 g of Spider were significantly higher than those of Inspiration with the average total yields of Spider 12.3% higher than Inspiration. The results suggest that sweet pepper should be planted using one plant per polybag and the shoot pruning with three leaves remaining per node. If desired the relatively big size fruit, Inspiration is recommended, however, if desired the medium-size fruit, Spider is recommended.

    Kultur Embrio Pisang Liar Musa acuminata ssp. sumatrana yang Langka (Embryo Culture of Endangered Wild Banana Musa acuminata ssp. sumatrana)

    Full text link
    Musa acuminata ssp. sumatrana adalah pisang liar yang langka dan perlu dilestarikan. Teknik kultur in vitro dapat diterapkan untuk melestarikannya. Penerapan teknik konservasi secara in vitro memerlukan penguasaan metode regenerasi, termasuk formulasi media tumbuh. Penelitian bertujuan mengetahui pengaruh BA, TDZ, dan PVP terhadap daya hidup dan regenerasi embrio M. acuminata ssp. sumatrana. Rancangan percobaan disusun secara faktorial dalam lingkungan rancangan acak lengkap dengan empat ulangan. Faktor pertama adalah BA (0, 1, 3, dan 5 mg/L), faktor kedua adalah TDZ (0 dan 0,1 mg/L) dan faktor ketiga adalah PVP (100 dan 300 mg/L). Peubah yang diamati adalah persentase daya hidup, persentase daya tumbuh, persentase pembentukan akar, jumlah tunas, jumlah akar, dan jumlah daun yang terbentuk. Hasil penelitian menunjukkan terdapat interaksi yang nyata antara taraf BA, TDZ, dan PVP terhadap seluruh peubah yang diamati. Kombinasi perlakuan BA 5 mg/L dengan TDZ 0,1 mg/L dan PVP 300 mg/L menghasilkan persentase hidup, persentase tumbuh, jumlah tunas, dan jumlah daun yang paling tinggi, berturut-turut 100% daya hidup, 100% daya tumbuh, lima tunas/eksplan, dan 15 daun/tunas. Media tersebut dapat diterapkan untuk perbanyakan in vitro M. acuminata ssp. sumatrana dalam penyediaan materi untuk konservasi in vitro.KeywordsMusa acuminata ssp. sumatrana; Pisang liar langka; Regenerasi embrioAbstractMusa acuminata ssp. sumatrana is an endangered wild banana species that should be conserved. The in vitro culture can be applied for conserving wild banana accessions. The establishment of regeneration method, including the use of growth medium, is required in the application of in vitro conservation. The influence of BA, TDZ, and PVP to the survival and growth rate of embryos of M. acuminata ssp. sumatrana will be discussed in this study. The factorial in compeletely randomized design with four replications was used in this study. The first factor was BA (0, 1, 3, and 5 mg/L), the second factor was TDZ (0 and 0.1 mg/L), and the third factor was PVP (100 and 300 mg/L). Variables observed were the percentage of survival rate, the percentage of growth rate, the percentage of root formation, number of shoot, root, and leaf. The result a significant interaction between the concentration of BA, TDZ, and PVP to all observed variables. The combined treatment between 5 mg/L BA, 0.1 mg/L TDZ, and 300 mg/L PVP provided the highest survival rate (100%), growth rate (100%), shoot multiplication (five shoots/explant), and number of leaf (15 leaves/shoot). This medium can be applied for micropropagation of M. acuminata ssp. sumatrana in supplying plant materials for in vitro conservation

    Uji Adaptasi Klon-Klon Kentang Transgenik Tahan Hawar Daun Pada Agroekosistem Jawa Barat dan Jawa Tengah [Adaptation Test of Transgenic Potato Resistance to Late Blight Under Agro Ecosystem of West and Central Java]

    Full text link
    Uji adaptasi merupakan salah satu syarat utama untuk pendaftaran varietas tanaman hortikultura. Salah satu masalah utama pada produksi tanaman kentang adalah adanya serangan penyakit hawar daun yang disebabkan oleh cendawan Phytophthora infestans. Melalui usaha perakitan varietas tanaman telah dihasilkan beberapa calon varietas kentang tahan terhadap penyakit hawar daun. Tanaman kentang tahan hawar daun dihasilkan melalui persilangan antara varietas kentang Granola dengan kentang transgenik Katahdin SP951 serta varietas Atlantic dengan Katahdin SP951. Uji adaptasi dilakukan di Lapangan Uji Terbatas sentra produksi kentang di Jawa Barat (Kab. Bandung dan Kab. Garut) dan di Jawa Tengah (Kab. Banjarnegara). Waktu pengujian mulai bulan Oktober 2013 sampai dengan Februari 2014. Penelitian disusun dengan menggunakan rancangan kelompok lengkap teracak (RKLT) dengan tiga ulangan. Untuk menguji stabilitas hasil menggunakan perangkat software komputer MSTATC. Untuk uji resistensi menggunakan isolat P. infestans dari masing-masing lokasi uji. Inokulasi dilakukan di rumah kaca pada saat tanaman berumur 30 hari setelah tanam dilakukan sebanyak lima kali dengan interval waktu 4 hari, yaitu pada umur 30, 34, 38, 42, dan 46 hari. Hasil pengujian didapatkan genotipe yang stabil, yaitu Klon 20, 27, 62, dan 65, serta varietas pembanding Atlantic, Granola, Katahdin, dan Katahdin SP 951. Klon 66 dan 69 merupakan klon yang tidak stabil. Klon 27, 62, 65, 66, dan 69 merupakan klon yang resisten terhadap serangan hawar daun. Klon 20 memiliki ketahanan yang moderat resisten terhadap serangan hawar daun sementara Granola dan Atlantic merupakan genotipe yang peka terhadap hawar daun. Hasil penelitian dapat dijadikan sebagai rekomendasi untuk pengusulan pendaftaran calon varietas kentang yang memiliki adaptasi baik di Jawa Barat dan Jawa Tengah serta tahan terhadap penyakit hawar daun.KeywordsSolanum tuberosum L; Adaptasi; Resistensi; Hawar daunAbstractAdaptation test is one of the main requirements for variety registration. One of major problem of potato production is potato late blight disease caused by P. infestans. Through the breeding program has produced several candidates potato varieties resistance to late blight. Late blight resistant potato was obtained through crosses between Indonesian local potato variety of Granola and Atlantic with transgenic variety of Katahdin SP951. Adaptation test was conducted at confined field trials in potato production area in West Java (District of Bandung and Garut) and Central Java (Banjarnegara). The experiment was conducted from October 2013 to February 2014. The experimental design was Randomized Complete Block Design with three replications. The software of MSTATC was used for testing the stability of genotypes. To test of resistance to P.infestans, it was used P. infestans isolates that collected from each test site. Inoculation was conducted in a greenhouse at the plant was 30 days old after planting and performed five times inoculation with intervals of 4 days on the age (30, 34, 38, 42, and 46 days). The result showed that the stable genotypes were obtained from clone 20, 27, 62, and 65, as well as the varieties Atlantic, Granola, Katahdin, and Katahdin SP951. Whereas, clone 66 and 69, were unstable clone. Genotypes resistance to late blight were clone 27, 62, 65, 66, 69 and Katahdin SP951. Clone 20 has a moderate resistant to late blight, while Granola and Atlantic are genotypes that are susceptable to late blight. The results of the study can be used as a recommendation for the nomination of candidates potato varieties that have good adaptation in West Java and Central Java as well as resistant to late blight

    Evaluasi Resistensi dan Daya Hasil Enam Klon Harapan Kentang Transgenik Terhadap Serangan Penyakit Hawar Daun (Evaluation of Resistance to Late Blight and Tuber Yield of Six Potential Potato Transgenic Clones)

    Full text link
    Penyakit hawar daun (Phytophthora infestans) merupakan salah satu penyakit utama pada tanaman kentang. Kerusakan yang berat akibat penyakit hawar daun dapat menyebabkan kehilangan hasil panen sampai 80%. Gen pembawa ketahanan terhadap penyakit hawar daun dikenal dengan nama gen RB dan telah berhasil dimasukkan ke dalam genom kentang dan menghasilkan kentang transgenik. Tujuan penelitian untuk menguji ketahanan enam klon kentang transgenik terhadap serangan penyakit hawar daun (P. infestans) dan daya hasil. Penelitian dilakukan di Lapangan Uji Terbatas Desa Citere, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung, 1.400 m di atas permukaan laut. Rancangan percobaan menggunakan rancangan petak terpisah, dengan petak utama perlakuan tidak disemprot fungisida dan disemprot fungisida dua kali seminggu dan anak petak 10 genotipe kentang yang terdiri atas enam hibrida kentang transgenik, satu genotipe kentang transgenik Katahdin SP951 sebagai pembanding resisten dan tiga varietas pembanding rentan kentang nontransgenik Granola, Atlantic, dan Katahdin. Jumlah ulangan tiga kali dengan populasi tanaman terdiri atas 50 tanaman/plot. Pengamatan dilakukan terhadap vigor tanaman, insiden serangan hawar daun, dan komponen hasil. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa untuk vigor tanaman tidak terjadi interaksi serta antarperlakuan tidak berbeda nyata. Genotipe yang resisten terhadap hawar daun adalah klon 20, 27, 65, dan 66 setara dengan kontrol positif Katahdin SP951 dan nyata lebih resisten dari varietas pembanding Granola, Atlantic, dan Katahdin. Klon yang resisten terhadap hawar daun menampilkan hasil yang tinggi pada plot tidak disemprot fungisida, sementara pada plot disemprot fungisida 20 kali semua genotipe menampilkan hasil optimalnya. Tingkat kehilangan hasil mencapai 18,8–84,4%. Genotipe dengan intensitas serangan hawar daun tinggi memiliki tingkat kehilangan hasil yang juga tinggi. Klon 20 dan 27 menampilkan daya hasil yang relatif tinggi dengan penundaan penggunaan fungisida 7 minggu setelah tanam.KeywordsGenotipe; P. infestans; Solanum tuberosum LAbstractLate blight (Phytophthora infestans) is one of main potato diseases. Due to severe damage to late blight potato, crop will be cause lost of harvest up to 80%. Gene carriers of resistance to late blight known as the RB gene and have been incorporate into the genom of potato and produce transgenic potato. The objective of the research was to test six advanced transgenic potato clones for resistance to late blight (Phytophthora infestans). The research was conducted at Confined Field Trial at Citere Village, Pangalengan District Bandung (1,400 m above sea level). The experimental design was split plot. The main plot was spray with fungicides twice/week and was replicated three times. Subplot were 10 potato genotypes, consists of six transgenic potato hybrids, transgenic Katahdin SP951 as resistant check and three varieties of nontransgenic as susceptible check, i.e. Granola, Atlantic, and Katahdin.  An experimental unit consists of 50 plants/plot, every treatment with three replicates. Plant observed were plant vigor, intensity of late blight damage, tuber yield component, and lost of yield. The result showed that there were no interaction of plant vigor and also all the treatmens were not significantly different. Transgenic potato clones of 20, 27, 65, 66, and Katahdin SP951 were resistant to late blight compare to check varieties of Granola, Atlantic, and Katahdin. The highest yielding at none spraying of fungicides were obtained from the resistance clones. Whereas,  on the 20 sprayed fungicides all of  the clones were high yielding. Tuber yield lossed ranged from 18,8–84,4%, the susceptible genotypes were also showed high losses. Clones 20 and 27 showed reletive high yielding and can be delayed application fungicides for period of 7 weeks after planting.

    Front Matter

    No full text

    509

    full texts

    543

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Hortikultura
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇