Jurnal Hortikultura
Not a member yet
543 research outputs found
Sort by
Studi Pembuatan Antiserum Poliklonal untuk Deteksi Cepat Virus Mosaik Mentimun pada Krisan
Virus mosaik mentimun merupakan salah satu patogen penting pada berbagai tanaman hortikultura, termasuk tanaman krisan. Untuk mengetahui secara dini infeksi virus pada tanaman, maka perlu dikembangkan metode deteksi cepat. Penelitian ini bertujuan mendapatkan antiserum poliklonal untuk deteksi cepat virus mosaik mentimun pada krisan. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Virologi Balai Penelitian Tanaman Hias, Segunung dari bulan April sampai Desember 2000. Antiserum terhadap CMV pada tanaman krisan telah dihasilkan dengan cara penyuntikan virus murni CMV pada kelinci dengan konsentrasi setiap penyuntikan sebesar 1 mg/ml. Antiserum yang diuji terdiri dari enam periode pengambilan darah. Pengujian menggunakan metode ELISA tidak langsung. Hasil pengujian menunjukkan bahwa dari enam kali pengambilan darah ternyata bereaksi positif, yaitu dengan adanya konsentrasi antibodi dalam darah meningkat. Antiserum juga dapat digunakan untuk mendeteksi langsung terhadap ekstrak daun krisan yang terinfeksi CMV. Kepekaan antiserum tertinggi pada pengambilan darah ke empat dan ke enam dengan konsentrasi 1/100 dan 1/500 terhadap pengenceran sampel 1/10 dan 1/100. Study on developing of polyclonal antiserum for rapid detection of cucumber mosaic virus on chrysanthemum. Cucumber mosaic virus is one the major pathogens on some horticulture crops, including chrysanthemum. A rapid detection method should be developed to support the evaluation of initial infection of the virus in plants. The objective of this experiment was to obtain polyclonal antiserum to CMV on chrysanthemum for rapid detection. The experiment was conducted in Virology Laboratory of Indonesian Ornamental Plants Institute in Segunung from April to December 2000. A polyclonal CMV antiserum had been produced by injections of purified CMV into rabbits with concentration 1 mg/ml each injections. The antiserum from six bleeding periods were tested. An indirect ELISA method was used to determine the sensitivity of the antiserum. Results indicated that six bleeding periods had positive reaction, with concentration of the virus antibodies increased gradually from the first to the sixth bleedings. The antiserum can also be directly used to detect CMV from infected chrysanthemum plants. The highest antiserum sensitivity were the fourth and sixth bleedings with concentration 1/100 and 1/500 to sample dilution 1/10 and 1/100
Analisis Daya Hasil, Mutu, dan Respons Pengguna terhadap Klon 380584.3, TS-2, FBA-4, I-1085, dan MF-II Sebagai Bahan Baku Keripik Kentang
Penelitian bertujuan mendapatkan klon kentang olahan yang cocok sebagai bahan baku keripik yang dapat diterima oleh industri sekaligus disukai petani dan konsumen. Rancangan percobaan yang digunakan adalah RAK dengan empat ulangan 30 tanaman per plot. Waktu penelitian tahun 2001-2003. Penelitian partisipatif dilakukan bersama petani, pemasok, agroindustri, dan industri rumah tangga serta dilakukan juga penelitian partisipatif preferensi konsumen. Jumlah klon yang diuji pada penelitian partisipatif sebanyak 12 klon kentang olahan baru ditambah tiga varietas pembanding. Penelitian partisipatif dilakukan di Pangalengan (Jawa Barat), Banjarnegara (Jawa Tengah), dan Tosari Bromo (Jawa Timur). Hasil penelitian menunjukkan bahwa klon 380584.3, TS-2, FBA-4, I-1085, dan MF-II dikategorikan tahan terhadap serangan penyakit busuk daun dan nematoda bengkak akar (Meloidogyne spp.). Hasil yang dicapai pada 10 lokasi penelitian adalah klon 380584.3 (33,5 t/ha), TS-2 (22,4 t/ha), FBA-4 (28,1 t/ha), I-1085 (25,3 t/ha), dan MF-II (30,1 t/ha). Berdasarkan penerimaan pengguna, klon FBA-4, TS-2, dan MF-II cocok sebagai bahan baku industri besar keripik, sedang klon 380584.3 dan I-1085 cocok untuk industri kecil dan menengah.Analysis of yield potency, quality, and user acceptance of potato clones 380584.3, TS-2, FBA-4, I-1085, and MF-II as raw material for chips. The aim of the research is to obtain potato clones as raw material for chips which preferred by agroindustry, farmers and consumers. Statistical used was RCBD with four replications. A plot consisted of 30 plants. The multy location trials started from 2001 until 2003. Participatory research done with farmers, supplier, agroindustry, homeindustry, and consumers preferences. Number clones tested in participatory plot were 15 clones including three varieties check. Participatory plot were carried out at Pangalengan (West Java), Banjarnegara (Central Java), and Tosari, Bromo (East Java). The results showed that clones 380584.3, TS-2, FBA-4, I-1085, and MF-II were tolerant to late blight and root knot nematodes (Meloidogyne spp.). Tuber yield obtained for clones 380584.3 (33.5 t/ha), TS-2 (22.4 t/ha), FBA-4 (28.1 t/ha), I-1085 (25.3 t/ha), and MF-II (30.1 t/ha). According to the user, clones TS-2, MF- II, and FBA-4 were suitable as raw material for chip industry, whereas clones 380584.3 and I-1085 were selected by small industry
Analisis Luas Minimum Usahatani Bunga Krisan Potong
Penelitian dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui luas minimum usahatani bunga krisan potong yang harus ditetapkan, apabila target pendapatan petani pertahun sebesar US 3500. Kegiatan penelitian ini merupakan survei lapangan usahatani bunga krisan potong di Kecamatan Parongpong, Bandung, Jawa Barat yang dilaksanakan pada bulan Juli sampai dengan Desember 2003. Hasil analisis biaya dan pendapatan usahatani krisan menunjukkan bahwa pada skala usaha rataan rumah tangga petani seluas 2.237,5 m2 diperoleh pendapatan bersih sebesar Rp.24.426.500,- dalam 4 bulan atau Rp.73.279.500,- dalam setahun. Jika pendapatan usahatani dalam setahun hanya diharapkan sebesar Rp.29.750.000,- (US 2000), diperlukan usahatani krisan minimum seluas 519,08 m2.Economic analysis of minimum land area for chrysanthemum farming system. The purpose of the research was to find out the minimum land area of chrysanthemum farm for targeted yearly revenue of US 3500. The research was conducted directly in the region of Parongpong Bandung, West Java, from July to December 2003. The results showed that based on cost benefit analysis with land area of 2,237.5 m2 could provide profit Rp.24,426,500,- within 4 months or Rp. 73,279,500,- a year. Based on minimum land area of chrysanthemum farm, if the expected net profit Rp.29,750,000,- (US 2000) a year, the minimum land area was 519.08 m2
Distribusi Penyakit Layu Fusarium dan Layu Bakteri Ralstonia pada Lokasi Sumber Bibit dan Sekolah Lapang Pengendalian Hama Terpadu Pisang di Sumatera Barat
Sumatera Barat merupakan provinsi paling parah yang diserang oleh dua patogen layu pisang, Fusarium oxysporum cubense dan Ralstonia solanacearum. Diperkirakan lebih dari 60% areal pertanaman pisang tradisional di Sumatera Barat sudah rusak oleh kedua patogen ini. Penelitian ini bertujuan mendapatkan lokasi tanaman pisang yang bebas dari serangan kedua patogen tersebut, digunakan sebagai sumber bibit pisang. Di samping itu, penelitian juga bertujuan menentukan lokasi Sekolah Lapang Pengendalian Hama Terpadu (SLPHT) sebagai lokasi pendidikan lapang bagi petani. Seleksi lokasi sumber bibit dilakukan secara survei selama bulan Juli 2002, sedangkan untuk lokasi SLPHT didasarkan pada pertimbangan endemis serangan kedua patogen ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari seleksi lahan, ditemukan hanya dua lokasi yang dapat direkomendasikan sebagai lahan sumber bibit pisang, yaitu Desa Surian Randah dan Baruah Gunung di Kabupaten Limapuluh Kota. Di kedua lokasi tersebut, serangan patogen penyakit layu kurang dari 10%. Sedangkan lokasi SLPHT dipersiapkan masing-masing di Baso, Kabupaten Agam dan Salimpaung, Kabupaten Tanah Datar.Distribution of fusarium and ralstonia wilt diseases at the source of planting material sites of banana and field integrated pest management course in West Sumatera. West Sumatera is the most severe province attacked by two wilt pathogens, Fusarium oxysporum cubense and Ralstonia solanacearum. It was assumed that more than 60% of traditional banana cultivation has been destroyed by both of the phatogens. This study was aimed to select the plantation free from both wilt diseases, to be used for source of planting material for banana. The study was also purposed to locate the Field Integrated Pest Management Course (FIPMC), as a field course for growers. Selection on the location for source of planting material site for banana was conducted through survey during the month of July 2002, while for FIPMC was based on the endemic of both of the pathogens. This study found that only two villages could be recommended for the source of planting material site for banana, those were Surian Randah and Baruah Gunung in Distric of Limapuluh Kota. At both of the villages, the attack of wilt diseases was less than 10%. While the area for FIPMC were decided in Baso Kabupaten Agam and Salimpaung Kabupaten Tanah Datar
Uji Stabilitas Hasil Umbi 7 Genotip Kentang di Dataran Tinggi Pulau Jawa
Untuk mengetahui stabilitas 7 genotip kentang pada berbagai kondisi lingkungan di Pulau Jawa, telah dilakukan uji multilokasi. Lokasi pengujan adalah 2 kali di Pangalengan dan Garut, masing-masing sekali di Lembang, Cipanas, Ciwidey, Magelang, Banjarnegara, dan Pasuruan. Rancangan percobaan yang digunakan acak kelompok dengan 4 ulangan setiap petak percobaan ditanami 30 tanaman. Hasil percobaan menunjukkan bahwa satu-satunya genotip yang stabil adalah I-1085 dengan nilai koefisien regresi b=1 dan simpangan regresi δij=0. Genotip Atlantik menghendaki lingkungan yang menguntungkan ditandai dengan nilai b>1, sebaliknya genotip Panda dapat beradaptasi pada lingkungan yang kurang menguntungkan dengan nilai b<1. Potensi hasil tinggi ditampilkan oleh genotip 380584.3 (33,5 t/ha) dan genotip FBA-4 (28,1 t/ha) dengan b=1 namun δij=0.Yield stability evaluation of 7 potato genotypes in highland of Jawa Island. The aim of the research was to observe tuber yield stability of 7 potato genotypes at different environment of Jawa Island. Multilocation trials were located at Pangalengan and Garut for 2 seasons, Lembang, Cipanas, Ciwidey, Magelang, Banjarnegara, and Pasuruan (1 season) respectively. Experimental was arranged in a randomized complete block design with 4 replications, consisted of 30 plants per plot. The results of the experiment indicated that genotypes of I-1085 were stable to all location, showed by b=1and δij =0. Whereas, Atlantic was adapted to favorable environments showed by b>1. Panda was adapted to unfavorable environment showed by b<1. The highest tuber yield were obtained from genotypes 380584.3 (33.5 t/ha) and FBA-4 (28.1 t/ha), with b=1 but δij=0
Kebergantungan Dua Kultivar Pepaya terhadap Cendawan Mikoriza Arbuskula
Dua kultivar pepaya telah diinokulasi dengan lima spesies cendawan mikoriza arbuskula (CMA) dalam sebuah percobaan di rumahkaca. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kebergantungan dua kultivar pepaya terhadap cendawan mikoriza. Penelitian dilaksanakan di Rumahkaca Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran, Bandung, dari bulan Agustus sampai November tahun 2001. Penelitian ini disusun menurut rancangan acak kelompok dalam pola faktorial dengan tiga ulangan. Faktor pertama adalah isolat CMA, terdiri dari lima jenis ditambah kontrol (kontrol, Glomus etunicatum, Glomus manihotis, Gigaspora margarita, Acaulospora tuberculata, dan Scutellospora heterogama). Faktor kedua adalah kultivar pepaya, yaitu dampit dan sarirona. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua kultivar pepaya dapat berasosiasi dengan lima spesies CMA. Isolat A. tuberculata dan G. etunicatum serta kultivar sarirona, secara mandiri memberikan nilai lebih tinggi terhadap serapan fosfor, bobot kering pupus, dan relative mycorrhizal dependency (RMD). Acaulospora tuberculata dan G. etunicatum meningkatkan bobot kering pupus berturut-turut 1.137 dan 1.768% lebih tinggi dibanding kontrol, dengan nilai RMD 89,18 dan 94,29%. Kultivar sarirona mempunyai serapan fosfor, bobot kering pupus, dan nilai RMD yang lebih tinggi dibandingkan dampit. Penggunaan CMA mempunyai prospek yang baik untuk meningkatkan produktivitas pepaya terutama pada lahan bereaksi masam dan rendah fosfor.Mycorrhizal dependency of two papaya cultivars. Two papaya cultivars were inoculated with five species of arbuscular mycorrhizal fungus (AMF) in a greenhouse experiment. The aim of this experiment was to study mycorrhizal dependency on two papaya cultivars. The experiment was conducted at the Screenhouse of Agriculture Faculty of Padjadjaran University, Bandung, from August until November 2001. This experiment was laid in a randomized blocks design in factorial pattern with three replications. The first factor was the AMF isolates i.e. five AMF isolates plus control (control, Glomus etunicatum, Glomus manihotis, Gigaspora margarita, Acaulospora tuberculata, and Scutellospora heterogama). The second factor was papaya cultivars, consisted of dampit and sarirona. The results showed that both papaya cultivars could associated with five species AMF isolates. Acaulospora tuberculata, and G. etunicatum isolates, and sarirona cultivar independently gave higher phosphorus uptake, shoot dry weight, and relative mycorrhizal dependency (RMD). Acaulospora tuberculata, and G. etunicatum isolates increased shoot dry weight 1,137 and 1,768% respectively higher than control, with RMD values were 89.18 and 94.29%. Sarirona cultivar showed higher phosphorus uptake, shoot dry weight, and RMD values than dampit cultivar. The utilization of AMF has good prospect to increase papaya productivity, especially on acid and low phosphorus soils
Perbedaan Botol Kul tur terhadap Pertumbuhan Eksplan Anyelir Hiperhidrisitas
Hiperhidrisitas merupakan masalah penting dalam kul tur jaringan anyelir. Kegagalan dalam mengatasimasalah ini akan mempengaruhi keberhasilan aklimatisasi. Plantlet yang dihasilkan sulit diaklimatisasi, plantletmudah layu, dan mati. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan botol kul tur yang berbedajenis dan ukurannya dalam mengatasi hiperhidrisitas. Percobaan dilakukan di Laboratorium Kul tur Jaringan, IPPT,Fakultas Pertanian, Universiti Putra Ma lay sia dari bulan Juni hingga No vem ber 2002. Enam jenis botol kul tur yangberbeda ukuran yang digunakan dalam percobaan ini adalah tabung, erlenmeyer 100, 150, 250, 500 ml, dan tabungGA7. Percobaan disusun menggunakan rancangan acak lengkap dengan empat ulangan. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa tabung kul tur merupakan botol kul tur yang pal ing sesuai untuk menumbuhkan eksplanhiperhidrisitas kembali ke pertumbuhan yang lebih nor mal. Pertumbuhan nor mal eksplan hiperhidrisitas yangdikultur dalam botol tersebut ditunjukkan melalui persentase hiperhidrisitas terendah (42%), kandungan klorofil yangtertinggi (0,1377 mg/mg), kandungan air terendah (89%), dan bobot kering biomasa tertinggi (11%) dengan kualitastu nas yang lebih baik dibandingkan perlakuan yang lain.Cul ture ves sels ef fect on growth of car na tion hyperhydritizy explant.Hyperhydricity is an im por tant prob lem in car na tion tis sue cul ture. Fail in over com ing the prob lem can in flu ence thesuccessful of plantlet acclimatization. Hyperhydritized-plantlets are normally difficult to be acclimatized and easy tobe come wilt ing and die. The aim of this study was to know the ef fect of dif fer ent types and sizes of cul ture ves sel in re -duc ing hyperhydricity. The ex per i ment was con ducted at Tis sue Cul ture Lab o ra tory, IPPT, Fac ulty of Ag ri cul ture,Universiti Putra Ma lay sia from June to No vem ber 2002. Six types dif fer ent in sizes used in the study are tube ves sel,erlenmeyer 100, 150, 250, 500 ml, and GA7 ves sel. Com pletely ran dom ized de sign with four rep li ca tions was ap pliedin this re search. Re sults of this study showed that tube ves sel was the most ap pro pri ate cul ture ves sel to growhyperhydritized-explants re vert ing to nor mal growth. The nor mal growth of them was in di cated by the low est per cent -age of hyperhydricity (42%), the high est leaf chlo ro phyll con tent (0.1377 mg/mg), the low est wa ter con tent (89%),and the high est dry weight of bio mass (11%) with good qual ity of shoots com pared to oth ers
Evaluasi Daya Hasil 7 Genotip Kentang pada Lahan Kering Bekas Sawah Dataran Tinggi Ciwidey
Waktu penelitian mulai bulan April sampai dengan Agustus 2002. Rancangan percobaan yang digunakan adalah RAK dengan ulangan 4 kali, jumlah genotip yang diuji sebanyak 7 genotip kentang hasil introduksi dari CIP termasuk varietas pembanding. Setiap plot percobaan ditanami 30 tanaman. Tujuan penelitian adalah untuk menghasilkan 1 atau lebih genotip kentang yang bisa ditanam pada lahan sawah dataran tinggi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa genotip yang mempunyai potensi hasil tinggi pada lahan sawah Ciwidey adalah 380584.3 (43,3 t/ha), Atlantik (37,6 t/ha), dan Panda (36,5 t/ha) yang nyata lebih tinggi dari varietas pembanding Granola (27,6 t/ha).Tuber yield evaluation of 7 potato genotypes on dry land after irrigated rice field of highland Ciwidey. The experiment was conducted in April until August 2002. The experimental design was RCBD with 4 replications. An experimental unit consisted of a 30 hills plot. The objective of the research was to select one or more potato genotypes adapted to rice field of highland. The results indicated that the highest yield were obtained from clones 380584.3 (43.3 t/ha), Atlantic (37.6 t/ha), and Panda (36.5 t/ha) which were significantly higher than Granola (27.6 t/ha) as control
Pengaruh Tumpangsari Tomat dan Kubis terhadap Perkembangan Hama dan Hasil
Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui hasil to tal tomat, kubis, serangan OPT, dan nilai kesetaraanlahan (NKL) dalam sistem tumpangsari tomat dan kubis. Tumpangsari yang dicoba adalah tomat monokultur, kubismonokultur, tumpangsari tomat + kubis, tumpangsari tomat + kubis + kubis + tomat, dan tumpangsari tomat + tomat +kubis + tomat + tomat. Rancangan percobaan yang digunakan adalah acak kelompok dan ulangan lima kali. Hasilpenelitian menunjukkan bahwa tumpangsari antara tomat + tomat + kubis + tomat + tomat merupakan kombinasiterbaik dan dapat menekan populasi hama Plutella xylostella sebesar 97% dan Crocilodomia binotalis sebesar 76,2%.Secara kuantitatif produksi tomat maupun kubis yang ditanam sistem ganda (intercropping) lebih tinggi daripadaditanam secara tunggal. Sistem penanaman tomat dan kubis secara tumpangsari memberikan keuntungan karena nilaidari NKL > 1, keuntungan tertinggi diperoleh dari sistem tumpangsari tomat + kubis + kubis + tomat sebesar Rp44.420.000,-/ha.Ef fect of intercropping be tween to mato and cab -bage to pests de vel op ment and yield. The ob jec tives were to eval u ate the to tal yield of to mato, cab bage, and landequiv a lent ra tio in to mato and cab bage intercropping sys tem. Treat ments con sisted of mono cul ture of to mato and cab -bage; intercropping of to mato + cab bage; to mato + cab bage + cab bage + to mato; and to mato + to mato + cab bage + to -mato + to mato. Ran dom ized block de sign with five rep li ca tions was used. The re sult in di cated that intercroppingsys tem of to mato + to mato + cab bage + to mato + to mato was the best com bi na tion to re duce pop u la tion of Plutellaxylostella (97%) and Crocilodomia binotalis (76.2%). Quan ti ta tively, the pro duc tion of to mato and cab bageintercropping sys tem was higher than mono cul ture sys tem. Intercropping sys tem of to mato + cab bage + cab bage +to mato gave the high est profit about Rp. 44.420.000,- per hect are
Perbanyakan Anyelir Secara In Vi tro Melalui Induksi Pembentukan Tu nas Adventif
Perbanyakan anyelir secara in vi tro melalui induksi pembentukan tu nas adventif sangat potensial untukproduksi masal bahan tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan teknik perbanyakan secara in vi tro yangsesuai untuk D. caryophyllus L. cv. Mal dives melalui pembentukan tu nas adventif, penggandaan tu nas, pengakaran,dan aklimatisasinya. Penelitian dilakukan di Laboratorium Kul tur Jaringan, dan rumahkaca IPPT, UPM, Ma lay siadari bulan Mei 2000 hingga No vem ber 2001. Tiga jenis eksplan (daun muda pertama, kedua, dan internodus muda)dan me dia MS dengan lima konsentrasi BA dan NAA yang berbeda (2,0 mg/l + 0,9 mg/l, 0,9 mg/l + 0,3 mg/l, 3,0 mg/l +0,9 mg/l, 0,1 mg/l BA + 0,1 mg/l, dan 0,1 mg/l + 0,01 mg/l) diseleksi, diikuti dengan perbanyakan tu nas pada me diaterseleksi, pengakaran dan diaklimatisasi pada me dia yang berbeda. Percobaan menggunakan rancangan acakkelompok pola faktorial dengan empat ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa daun muda pertama yangberkembang penuh dan me dia MS yang mengandung 0,1 mg/l BA dan 0,01 mg/l NAA merupakan eksplan dankonsentrasi hormon yang sesuai untuk induksi pembentukan tu nas adventif. Konsentrasi tersebut juga sesuai untukmempersiapkan tu nas yang diakarkan. Tu nas mudah diakarkan pada me dia setengah MS. Plantlet mudahdiaklimatisasikan pada me dia campuran antara hu mus dan arang sekam (1:1 v/v) dengan ketahanan hidup hingga100%. Me dia tersebut juga menghasilkan plantlet yang vigor dan tumbuh cepat. Abnormalitas tanaman adalah 6%dari to tal plantlet yang diaklimatisasikan. Tanaman berbunga pada 4,5 hingga 5 bulan setelah aklimatisasi. Hasil studiini diharapkan dapat digunakan sebagai salah satu acuan dalam perbanyakan masal anyelir melalui induksi tu nasadventif. In vi tro prop a ga tion of car na tionthrough in duc tion of ad ven ti tious shoot for ma tion. The tech nique has an im por tant role in mass pro duc tion ofplant ing ma te rial. The ob jec tive of this study was to ob tain suit able in vi tro prop a ga tion of D. caryophyllus L. cv. Mal -dives through in duc tion of ad ven ti tious shoot for ma tion, fol lowed by mul ti pli ca tion of shoots, root ing and ac cli ma ti -za tion. The study was con ducted at Tis sue Cul ture Lab o ra tory and Glass house of IPPT, UPM, Ma lay sia from Mei2000 to No vem ber 2001. Three dif fer ent types of explant (first and sec ond young fully de vel oped leaves and younginternodus) and MS me dium at five dif fer ent con cen tra tions of BA and NAA (2.0 mg/l + 0.9 mg/l, 0.9 mg/l + 0.3 mg/l,3.0 mg/l + 0.9 mg/l, 0.1 mg/l + 0.1 mg/l dan 0.1 mg/l + 0.01 mg/l were se lected, shoots ob tained from the sys tem weremultiplied, rooted and acclimatized in different media. Factorial experiment was arranged in randomized com pleteblock de sign with four rep li ca tions. Re sults of the ex per i ment ex hib ited that the first young fully de vel oped leaves andMS me dium con tain ing 0.1 mg/l BA and 0.01 mg/l NAA was the ap pro pri ate explant and con cen tra tion of BA andNAA to pro duce high est num bers of ad ven ti tious shoot. The con cen tra tion of BA and NAA was also suit able for pre -par ing rooted shoots. Shoots were eas ily rooted on half-strength of MS me dia. Plantlets were sim ply ac cli ma tized in amix ture me dium of kossas peat and paddy char coal (1:1 v/v) with 100% of sur viv abil ity. Vig or ous and healthyplantlets were also re sulted in the me dium. Ab nor mal ity of plants was 6% from to tal ac cli ma tized-plantlets. Theplantlets flow ered at 4.5 to 5 months af ter ac cli ma ti za tion. The re sults ex pected can be used as a stan dard pro to col inmass-pro duc tion of car na tion through ad ven ti tious shoot for ma tion