Jurnal Hortikultura
Not a member yet
    543 research outputs found

    Uji Efektivitas Biopestisida sebagai Pengendali Biologi terhadap Penyakit Antraknos pada Cabai Merah

    Get PDF
    Tujuan penelitian adalah untuk menguji efektivitas PfM BO 001 50 WP biopestisida dan BsBE 001 50 WP terhadap penyakit antraknos pada cabai merah. Penelitian dilakukan di rumahkaca Balai Penelitian Tanaman Sayuran, Lembang pada bulan September sampai Desember 2003, menggunakan benih cabai merah varietas Jetset. Inokulasi cendawan patogen Colletrotrichum gloeosporioides dilakukan pada 70 hari setelah tanam dengan (4-5)x106 konidia. Percobaan menggunakan rancangan acak kelompok yang terdiri dari 8 perlakuan dengan 4 ulangan. Jenis perlakuan yang diuji yaitu PfMBO 001 50 WP 0,7 g/l, PfMBO 001 50 WP 0,35 g/l, PfMBO 001 50 WP 0,175 g/l, BsBE 001 50 WP 0,7g/l, BsBE 001 50 WP 0,35 g/l, BsBE 001 50 WP 0,175 g/l, fungisida Bion 1/48 WP 2 g/l, dan kontrol. Interval waktu aplikasi 7 hari setelah muncul buah. Hasil percobaan menunjukkan bahwa formulasi biopestisida PfMBO 001 50 WP dan BsBE 001 50 WP masing-masing konsentrasi 0,7 g/l, mempunyai potensi yang baik menekan intensitas serangan penyakit antraknos sebesar 2,60% dan 2,76% yang tidak berbeda nyata dengan perlakuan fungisida standar Bion 1/48 WP 2g/l sebesar 2,07% dan berbeda nyata dengan perlakuan lainnya.Effectivity of biopesticides as biological control to anthracnose disease on red pepper. Objectives of the experiment was to determine the effect of various concentration formulation of Pseudomonas fluorescens PfM BO 001 50 WP and Bacillus subtilis BsBE 001 50 WP to anthracnose disease on red pepper. The experiment was conducted at the greenhouse of Indonesian Vegetable Research Institute Lembang from September to December 2003. Jetset variety of pepper was used. The experiment was arranged in a randomized block design, consisted of 8 treatments, i.e., PfMBO 001 50 WP (concentration: 0.7 g/l, 0.35 g/l, 0.175 g/l), BsBE 001 50 WP (concentration: 0.7g/l, 0.35 g/l, 0.175 g/l), fungicide Bion 1/48 WP 2 g/l, and control using water, with 4 replications. Results of this study showed that application of biopesticide formulation of PfMBO 001 50 WP and BsBE 001 50 WP 0.7 g/l, gave the best result to suppresed the intensity of anthracnose disease at 2.60% and 2.76% and was not significantly different with standard fungicide Bion 1/48 WP 2 g/l (2.07 %), and significantly different with the other treatments

    Penekanan Penyakit Akar Gada pada Tanaman Kubis melalui Perlakuan Tanah Pembibitan

    Get PDF
    Penelitian dilaksanakan di Kebun Instalasi Penelitian Tanaman Hias Cipanas (ketinggian 1.100 m dpl)dan di Laboratorium Mikologi, Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogordari bulan Sep tem ber 2001 hingga Maret 2002. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh perlakuan tanahpembibitan terhadap penekanan penyakit akar gada pada tanaman kubis. Rancangan percobaan yang digunakanadalah acak kelompok yang diulang tiga kali dan uji jarak berganda duncan taraf 5% digunakan untuk mengetahuiperbedaan pengaruh perlakuan. Perlakuan terdiri atas tanah pembibitan tanpa perlakuan solarisasi dan pupukkandang, tanah pembibitan dengan solarisasi, tanah pembibitan dengan pupuk kandang ayam, tanah pembibitandengan solarisasi dan pupuk kandang ayam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan tanah pembibitan hanyadengan pupuk kandang ayam dan perlakuan tanah pembibitan dengan solarisai dan pupuk kandang ayam dapatmengurangi keparahan penyakit akar gada di lapangan sebesar 12,4-20,5% dan meningkatkan produksi kubis sebesar58,6-85,8%.Sup pres sion of clubroot dis ease on cab bage by seed bed treat ments. The experimentwas con ducted at Cipanas Or na men tal Plants Re search Sta tion (at el e va tion 1,100 m asl) and Lab o ra tory of My col ogy,De part ment of Plant and Dis eases, Fakulty of Ag ri cul ture, Bogor Ag ri cul tural Uni ver sity from Sep tem ber 2001 toMarch 2002. The ob jec tive was to eval u ate the ef fect of seed bed treat ments on clubroot dis ease of cab bage caused byPlasmodiophora brassicae Wor. This ex per i ments was laid in a ran dom ized block de sign with three rep li ca tions andDMR test at level 5%. The treat ments were: seed bed with out chicken ma nure and solarization, seed bed withsolarization, seed bed with chicken ma nure, and seed bed with solarization and chicken ma nure. The re sults showedthat seed bed treat ments with chicken ma nure only and seed bed treat ment with chicken ma nure and solarization couldde creased the infestation of clubroot disease about 12,4-20,5% and in creased cab bage pro duc tion about 58.6-85.8%re lated to the changes of soil microflora pop u la tions on cab bage seed ling rhizosphere due to or ganic amend ment(chicken ma nure) and soil solarization

    Parasitoid E. argenteopilosus sebagai Agens Pengendali Hayati Hama H. armigera, S. litura, dan C. pavonana pada Tumpangsari Tomat dan Brokoli

    Get PDF
    Kehilangan hasil tomat akibat serangan H. armigera dapat mencapai 52%. Usaha pengendalian hingga saat ini masih mengandalkan pada penggunaan insektisida, namun masih belum mampu menekan serangan hama tersebut. Penggunaan parasitoid E. argenteopilosus dikombinasikan dengan insektisida diharapkan dapat menekan populasi H. armigera. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui kemampuan/efikasi parasitoid E. argenteopilosus dalam menekan perkembangan populasi dan serangan hama H. armigera, S. litura, dan C. pavonana pada sistem tumpangsari tomat dan brokoli. Penelitian dilakukan di kebun percobaan Balai Penelitian Tanaman Sayuran, Lembang sejak bulan Juni sampai dengan November 2002. Rancangan percobaan yang digunakan adalah petak terpisah dengan 4 ulangan. Sebagai petak utama adalah pelepasan parasitoid yang terdiri atas tanpa pelepasan dan dengan pelepasan. Sebagai anak petak adalah penggunaan insektisida terdiri atas tanpa insektisida, Spinosad, dan Deltametrin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelepasan parasitoid E. argenteopilosus mampu menekan serangan C. pavonana dan S. litura pada tanaman brokoli masing–masing sebesar 24,71 dan 97,24% serta H. armigera pada tanaman tomat sebesar 18,45%. Penggunaan insektisida Spinosad 120 SC efektif untuk mengendalikan C. pavonana dan S. litura pada tanaman brokoli masing-masing sebesar 95,41 dan 100% serta H. armigera pada tanaman tomat sebesar 94,83%. Tingkat parasitasi E. argenteopilosus tertinggi terjadi pada H. armigera sebesar 38,96%, C. pavonana 25,83%, dan S. litura sebesar 24,44%. Pelepasan parasitoid E. argenteopilosus dan penggunaan insektisida mampu mempertahankan hasil panen brokoli dan tomat dengan hasil panen cukup tinggi. Penggunaan insektisida dapat mengurangi populasi E. argenteopilosus sebesar 3,27% untuk insektisida Spinosad dan 50,42% untuk insektisida Deltamethrin 25 EC. Perpaduan antara penggunaan parasitoid dan insektisida selektif diharapkan dapat menghasilkan teknologi ramah lingkungan dan hasil panennya aman dikonsumsi.Eriborus argenteopilosus as a bio–control of H. armigera, S. litura, and C. pavonana on tomato and broccoli cropping system. Yield loss due to H. armigera up to 52%. Chemical pesticide has been intensively used in pest control, but did not totally control the pests. Integration of parasitoid with insecticide can reduce population of pests. The purpose of this experiment was to know the efficacy of E. argenteopilosus against H. armigera, S. litura, and C. pavonana on tomato and broccoli cropping system. The experiment was conducted in the field of Indonesian Vegetables Research Institute from June to November 2002. Split plot design was used in this experiment with 4 replications. Released of parasitoid was used as main plot, consisted of released and without released of parasitoid. Insecticide was used as subplot, without insecticide, Deltamethrin and Spinosad insecticide. The results of this experiment indicated that augmentation released of E. argenteopilosus parasitoid can reduce population of C. pavonana and S. litura on broccoli ca. 24.71 and 97.24% respectively and H. armigera on tomatoes up to 18.45%. The use of Spinosad can reduce population of C. pavonana and S. litura on broccoli ca. 95.41 and 100% respectively and H. armigera on tomatoes up to 94.83%. The highest parasitism was found on H. armigera ca. 38.96%, C. pavonana ca. 25.83% and S. litura ca. 24.44%. Augmentation released of parasitoid and the use of insecticide gave the highest yield compare to control. The use of insecticide can reduce population of parasitoid up to 3.27% for Spinosad and 50.42% for Deltamethrin. Pest control using integration of parasitoid with selective insecticide could promote environmental and food safety

    Pengaruh pH Me dia terhadap Pertumbuhan Plantlet Anggrek Dendrobium

    Get PDF
    Me dia sangat berperan dalam pertumbuhan dan perkembangan tanaman anggrek. Me dia dasar yangumum digunakan dalam kul tur in vi tro adalah yang mengandung unsur hara makro dan mikro, sukrosa, vi ta min, asamamino, zat pengatur tumbuh, dan persenyawaan organik lainnya. Penyerapan bahan-bahan yang terdapat dalam me diatersebut ke dalam sel tanaman dipengaruhi oleh konsentrasi dan pH me dia. Tujuan penelitian ini adalah untukmengetahui kisaran pH me dia pada pertumbuhan plantlet anggrek den dro bium. Metodologi yang digunakan adalahrancangan acak kelompok dengan delapan perlakuan pH dan empat ulangan. Tingkat pH yang diteliti adalah 4,6; 4,8;5,0; 5,2; 5,4; 5,6; 5,8; dan 6,0. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kisaran pH terbaik terdapat pada kisaran 4,8 – 5,2untuk pertumbuhan tinggi plantlet, luas daun, jumlah daun, jumlah tu nas anakan, panjang akar, dan jumlah akar.Aplikasi dari penelitian ini dapat meningkatkan pertumbuhan plantlet anggrek den dro bium.The ef fect of me dia pH on the growth ofdendrobium orchid plantlet. Me dia plays a crit i cal role on the growth and de vel op ment of or chid. Ba sic me dia com -monly used in in vi tro cul ture con tains macro and mi cro nu tri ents, su crose, vitamine, amino acid, growth reg u la tor andother or ganic com pound. Ab sorp tion of nu tri ents is af fected by con cen tra tion and me dia pH. The aim of this ex per i -ment was to find out the ef fect of me dia pH on the growth of den dro bium or chid plantlet. The treat ments were laid inran dom ized block de sign with eight treat ments and four rep li ca tions. The treat ments were me dia pH, i.e.: 4,6; 4,8;5,0; 5,2; 5,4; 5,6; 5,8; and 6,0. The re sults showed that me dia pH be tween 4,8-5,2 was the best for the per for mance ofplantlet in term of plant height, leaf size, leaf num ber, shoot num ber, root length, and root num ber. The re sults of thisex per i ment will im prove the mass pro duc tion of den dro bium or chid plant ing ma te rial

    Seleksi Substrat untuk Perbanyakan Beauveria bassiana (Balsamo) Vuillemin dan Infektivitasnya terhadap Hama Penggerek Bonggol Pisang, Cosmopolites sordidus Germar

    Get PDF
    Seleksi substrat untuk perbanyakan Beauveria bassiana (Balsamo) Vuillemin dan infektivitasnya terhadap hama penggerek bonggol pisang, Cosmopolites sordidus Germar. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juni sampai Desember 2002 di Laboratorium Entomologi Balai Penelitian Tanaman Buah, Solok. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui media substrat yang terbaik untuk perbanyakan B. bassiana dan infektivitasnya dalam mengendalikan hama penggerek bonggol pisang. Penelitian disusun dalam rancangan acak lengkap dengan lima perlakuan dan tiga ulangan. Perlakuan terdiri dari lima jenis media substrat yaitu beras, jagung, pupuk kandang, dedak halus, dan kontrol (air). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat variabilitas daya kecambah isolat B. bassiana yang dibiakkan pada substrat jagung, beras, pupuk kandang, dan dedak. Daya kecambah isolat B. bassiana yang dibiakkan pada media substrat jagung dan beras lebih tinggi (86,47 dan 76,67%) dibandingkan media substrat dedak dan pupuk kandang yaitu 31,67 dan 24,00%. Produksi konidia pada jagung dan beras lebih tinggi dan berbeda sangat nyata (2,8 x 108 konidia ml/l dan 1,96 x 108 konidia ml/l) dibandingkan dengan dedak dan pupuk kandang dengan jumlah konidia paling rendah berturut-turut 1,26 x 106 konidia ml/l dan 4,57 x 106 konidia ml/l. Mortalitas hama penggerek bonggol pisang, C. sordidus paling tinggi diperoleh setelah diaplikasikan dengan jamur B. bassiana hasil biakan pada substrat jagung dan beras berturut-turut yaitu 86,67 dan 76,67%. Sedangkan jamur B. bassiana hasil biakan pada substrat pupuk kandang dapat menyebabkan kematian hama penggerek bonggol paling rendah yaitu 29,54% (LT50). Hasil penelitian ini memberikan informasi bahwa substrat jagung dan beras merupakan media perbanyakan B. bassiana yang baik untuk mengendalikan hama penggerek bonggol pisang. Selection of substrates for mass production of Beauveria bassiana (Balsamo) Vuillemin and their infectiveness to control banana weevil borer, Cosmopolites sordidus Germar. Experiment was conducted at Entomological Laboratory of Indonesian Fruit Research Institute from June to December 2002. The aim of this study was to find out the best substrates for mass production of B. bassiana and their infectivity to control banana weevil borer. The research used a randomized complete block design with five treatments and three replications. Treatments consisted of five substrates such as rice, maize, animal manure, rice siftings, and control (water). The results showed that there was variability in germination of fungal B. bassiana culture on solid media (maize, rice, animal manure, and rice siftings). Germination rate of B. bassiana cultured in maize and rice substrate were higher (86.47 and 76.67% respectively), than the germination rate of B. bassiana cultured in animal manure and rice siftings substrate (31.67 and 24.00% respectively). A total of conidia production on maize and rice substrate were significantly higher i.e. 2.8 x 108 conidia ml/l and 1.96 x 108 conidia ml/l respectively, than that of B. bassiana isolate on animal manure and rice siftings substrate (1.26 x 106 conidia ml/l and 4.57 x 106 conidia ml/l) respectively. The highest mortalities of adult banana weevil borer, Cosmopolites sordidus was obtained by application of B. bassiana produced form maize and rice substrates i.e. 86.67 and 76.67% respectively. While B. bassiana produced form animal manure caused lowest death of C. sordidus i.e. 29.54% (LT50). This study was undertaken to provide more information of maize and rice substrates as a media for mass production of B. bassiana to control banana weevil borer

    Aplikasi Teknologi Marka Molekuler untuk Verifikasi Identitas Genetik Varietas Sayuran Komersial

    Get PDF
    Salah satu syarat yang harus dipenuhi agar suatu varietas dapat disebut varietas baru dalam rangka perlindungan varietas tanaman adalah varietas tersebut harus berbeda dari varietas-varietas yang ada sebelumnya. Salah satu cara yang dapat digunakan untuk mendeteksi adanya perbedaan adalah teknik marka molekuler. Penelitian ini bertujuan untuk memverifikasi perbedaan genetik dari beberapa tanaman sayuran yang dikomersialkan, yaitu tiga set varietas tomat, dua set varietas cabai merah, dan satu set varietas terong yang diproduksi oleh dua produsen benih berbeda yang disinyalir mempunyai kesamaan genetik. Penelitian ini dilakukan di Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian di Bogor dari Juni s/d September 2004. Metode yang digunakan adalah PCR dengan menggunakan marka mikrosatelit yang dielektroforesis pada gel poliakrilamida. Hasil penelitian menunjukkan bahwa benih-benih tomat, cabai merah, dan terong yang diverifikasi tersebut adalah sama secara genetik dengan kesamaan genetik >90%.Application of molecular marker technique to verify genetic identity of some commercial vegetable varieties. One of requirements for a new variety in terms of plant variety protection is that the variety must be distinct from the previous varieties. One of the strategies to detect the distinctness is by using molecular marker technology. The objective of this experiment was to verify the distinctness of some commercial vegetable varieties e.g. three set tomatoes, two set peppers and one set eggplant varieties produced by two different seed producers which were suspected to be genetically similar. This experiment was conducted at Indonesian Agricultural Research and Development Center for Biotechnology and Genetic Resources, Bogor, from June to September 2004. The method employed was PCR-based micro-satellite markers run using polyacrylamide gel electrophoresis. The results of this experiment showed that the tested varieties of tomato, pepper, and egg plant were genetically identical at genetic similarity >90%

    Bunga Mawar Potong Varietas Mega Putih

    Get PDF
    Tujuan penelitian adalah mendapatkan klon harapan mawar potong yang siap dilepas menjadi varietas baru. Penelitian persilangan menggunakan tanaman induk terpilih dan seleksi klon F1 tahap pertama dan kedua dilakukan di negeri Belanda dari tahun 1997 s/d 1999. Dari seleksi kedua didapatkan 65 klon yang dikirim ke Indonesia untuk dilakukan uji adaptasi tahun 2000 s/d 2002 di Kebun Percobaan Cipanas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa klon Balithi NI.97.030-12 mempunyai bentuk tepi mahkota bunga (petal) keriting yang unik dan merupakan bentuk baru, yang berbeda dengan varietas tineke, megawati, dan akito. Jumlah petal bunga klon NI.97.030-12 berbeda nyata dengan tineke, megawati, dan akito. Bentuk tepi petal keriting ditambah dengan jumlah petal yang banyak dan tangkai leher bunga yang kokoh menjadikan penampilan visual bunga klon NI.97.030-12 bagus dan menarik. Klon tersebut berwarna kuning muda kehijauan yang berbeda dengan tineke (putih kehijauan), megawati (merah), dan akito (putih). Kesegaran bunga klon NI.97.030-12 cenderung lebih lama dibanding varietas tineke, megawati, dan akito. Klon NI.97.030-12 mempunyai panjang tangkai total, jumlah bunga/tanaman/bulan, diameter kuncup bunga, diameter mekar bunga yang tidak berbeda dengan pembanding varietas tineke dan megawati, tetapi memiliki panjang tangkai yang berbeda dengan akito. Klon NI.97.030-12 dilepas sebagai varietas bunga mawar potong baru dengan nama mega putih.Mega putih, a new cut rose variety. The objective of this experiment was to find out a promising clone of cut rose which was ready to be released as a new variety. Hybridization using selected mother plant roses and selection of F1 clones at first and second step were done in Plant Research International, Holland, since 1997 to 1999. At second selection of F1 clones were selected 65 promising clones that was transfered to Indonesia for adaptation testing at KP Cipanas from 2000 to 2002. The results indicated that clone Balithi NI.97.030-12 has a unique curly petal which is different from cv. tineke, megawati, and akito. Number of petals of clone NI.97.030-12 is much different from tineke, megawati, and akito. The curly petal edge with high petal number and sturdy flower neck made visual flower performance of clone NI.97.030-12 become good and attractive. The color of the clone is greenish light yellow which is different from tineke (greenish white), megawati (red), and akito (white). Vase life tends so be longer than tineke, megawati, and akito. The clone has total stem length, number of flower/plant/month, flower diameter not different from tineke and megawati, but has different stem length from akito. Clone NI.97.030-12 was released as a new variety of cut rose named mega putih

    Perbaikan Teknologi Produksi Umbi Benih Bawang Merah dengan Ukuran Umbi Benih, Aplikasi Zat Pengatur Tumbuh, dan Unsur Hara Mikroelemen

    Get PDF
    Bawang merah untuk benih umumnya diperbanyak dengan menggunakan umbi. Penelitian bertujuan untukmemperbaiki cara perbanyakan umbi untuk benih yang berkualitas. Penelitian dilakukan di Desa Tambakan, Cagak,Subang ± 600 m dpl. Rancangan percobaan menggunakan petak terpisah dengan tiga ulangan. Petak utama ada tiga,yaitu ukuran umbi benih <3 g, 3-5 g, dan >5 g per umbi. Anak petak ada lima buah yaitu zat pengatur tumbuh enzimkarbonil 0,2 ml/l+ppc mikroelemen metalik 1,0 ml/l, enzim karbonil 0,2 ml/l + metalik 1,5 ml/l, triakontanol 0,2 ml/l +metalik 1,0 ml/l, triakontanol 0,2 ml/l + metalik 1,5 ml/l, dan kontrol. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa aplikasiukuran umbi benih >5 g per umbi yang diberi zat pengatur tumbuh triakontanol 0,2 ml/l + ppc mikroelemen metalik 1,5ml/l nyata meningkatkan pertumbuhan dan hasil produksi bobot to tal umbi bawang merah untuk benih.Ame lio ra tion of seed production technology ofshal lot by ap pli ca tion of proper size of mother bulb, plant growth regulators, and microelement nutrient.Shal lot for seed generally are propagated by using the mother bulb. The aim of this experiment was to improve seedproduction technology to find out high quality and quantity of shallot mother bulbs. Research was conducted atTambakan, Cagak, Subang ± 600 m asl. A split plot design with three replication was set up in the field. Main plot wassize of mother bulbs, viz. : <3 g, 3-5 g, and >5 g per bulb, respectively. Subplot was plant growth regulators treatmentin combination with microelement nutrient, viz. : plant growth regulaor en zyme carbonyl 0.2 ml/l + microelementmetalic 1.0 ml/l, en zyme car bonyl 0.2 ml/l + metalic 1.5 ml/l, triakontanol 0.2 ml/l + metalic 1.0 ml/l, triakontanol 0.2ml/l + metalic 1.5 ml/l, and check. Research results revealed that application of size of mother bulb >5 g per bulb incombination with pgr triacontanol 0.2 ml/l + metalic 1.5 ml/l significantly increased growth and total production ofshallot bulbs for seed

    Pengaruh Berbagai Sumber Arang dalam Me dia Kul tur In Vi tro terhadap Pertumbuhan Plantlet Oncidium

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh berbagai macam sumber arang terhadap pertumbuhan plantlet anggrekOncidium. Anggrek Oncidium merupakan salah satu jenis anggrek yang disukai konsumen. Budidaya anggrekumumnya menggunakan bibit yang berasal dari kul tur in vi tro. Optimasi me dia dalam kul tur in vi tro sangatdiperlukan untuk meningkatkan kemampuan multiplikasi dan kualitas bibit. Salah satu cara untuk mengoptimasi me -dia in vi tro yaitu dengan pemberian sumber arang aktif. Bahan penelitian yang digunakan adalah plantlet anggrekOncidium Goldiana yang ditumbuhkan dalam me dia Vacin dan Went padat dengan penambahan air kelapa 150 ml/l,sukrosa 20 g/l, dan bubur pisang 50 g/l. Perlakuan disusun dalam rancangan acak kelompok dengan lima perlakuandan lima ulangan. Perlakuan terdiri atas pemberian sumber arang ke dalam me dia kul tur, yaitu: tanpa arang (kontrol),arang aktif proanalisis 2 g/l, arang aktif teknis 2 g/l, norit 2 g/l, dan arang kayu 2 g/l. Hasil penelitian menunjukkanbahwa pemberian arang aktif proanalisis 2 g/l atau norit 2 g/l ke dalam me dia kul tur dapat meningkatkanpertumbuhan tinggi plantlet, luas daun, jumlah tu nas anakan, dan jumlah akar.The ef fect of var i ous char coal sources in in vi tro cul tureme dia on the growth of Oncidium plantlet. The aim of this ex per i ment was to de ter mine ef fect of var i ous char coalsources on the growth of Oncidium plantlet. Oncidium in one of the fa vour ite or chid gen era. The or chid plan ta tiongen er ally used or chid seed lings from in vi tro cul ture. Me dia op ti mi za tion is a crit i cal to im prove the ca pac ity of seed -ling mul ti pli ca tion and qual ity. One of the meth ods to en rich the me dium was by the use of a char coal. The ma te ri alsused in this re search were Oncidium or chid plantlet that were cul ti vated in VW me dium with the ad di tion of 150 ml/l ofco co nut wa ter, 20 g/l su crose and 50 g/l ba nana pulp. The treat ments were laid in a ran dom ized block de sign with fivetreat ments and five rep li ca tions. The treat ments were the ad di tion of char coal sources into the cul ture me dium, i.e.with out char coal (con trol), 2 g/l proanalisa char coal, 2 g/l tech nic char coal, 2 g/l norit, and 2 g/l wood char coal. The re -sult showed that the use of 2 g/l proanalisa char coal or 2 g/l norit in the cul ture me dia sig nif i cantly in creased growth ofplant height, leaf size, num ber of shoot, and num ber of roots

    Kemampuan Pemangsaan Pred a tor Kumbang Buas terhadap Hama Penggerek Bonggol Pisang

    Get PDF
    Kumbang pred a tor Plaesius javanus dikoleksi dari pertanaman pisang di Bukittinggi dan Sitiung. Percobaandilakukan di Laboratorium Proteksi, Balai Penelitian Tanaman Buah Solok dari bulan April sampai Desember 2001,menggunakan rancangan acak kelompok. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui kemampuan individupemangsaan pred a tor kumbang buas dalam mengendalikan hama penggerek bonggol pisang. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa P. javanus dewasa dan larva dapat memangsa semua sta dia hama penggerek bonggol pisangsecara efektif. Setiap individu P. javanus dewasa dapat memangsa telur, larva instar 2, 3, 4, 5, serta pupa dan dewasaberturut-turut 7 butir, 4,9; 3,9; 2,9; 2,9; 2,0; 2,0; dan 1,9 ekor/hari. Kemampuan memangsa individu larva P. javanusrelatif lebih tinggi dibandingkan dengan kemampuan memangsa individu dewasa P. javanus. Sedangkan kemampuanmemangsa individu P. javanus betina relatif lebih tinggi dibandingkan dengan P. javanus jantan. Pred a tor inimempunyai potensi untuk dikembangkan sebagai agens pengendali hayati di masa mendatang.Kata kunci: Musa sp.; Plaesius javanus; Cosmopolites sordidus; Sta dia hama penggerek bonggol; PemangsaanAB STRACT. Hasyim, A., Harlion, and H. Yasir. 2004. Pred a tory rate of histerid bee tles on ba nana wee vilborer. Pred a tory of histerid bee tles were col lected from ba nana field at Bukittinggi and Sitiung. This ex per i ment wascar ried out at lab o ra tory of In do ne sian Fruit Re search In sti tute from April to De cem ber 2001, used a ran dom ized blockde sign. The pur pose of this ex per i ment was to know the in di vid ual po ten tial of pred a tory bee tles, P. javanus to preyba nana wee vil borer. The re sults showed that adult and lar vae of P. javanus ef fec tively preyed ba nana wee vil borer,Cosmopolites sordidus. Each in di vid ual of P. javanus adult was able to prey 7 pieces 4.9, 3.9, 2.9, 2.9, 2.0, 2.0, and 1.9in di vid ual/day, re spec tively for egg, sec ond, third, fourth, fifth instar lar vae, pupa and adult. Pre da tion rate of individualP. javanus lar vae was higher com pare to adult in con trolling ba nana wee vil borer. Pred a tory rate of in di vid ual fe -male P. javanus was higher than the male. The pred a tor has a prom is ing po ten tial us age as bi o log i cal con trol agent innear fu ture

    509

    full texts

    543

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Hortikultura
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇