Jurnal Hortikultura
Not a member yet
543 research outputs found
Sort by
Regenerasi Tanaman Sedap Malam Melalui Organogenesis dan Embriogenesis Somatik
Secara konvensional perbanyakan tanaman sedap malam dilakukan melalui umbi. Semakin kecil ukuran umbi semakin lama tanaman berbunga. Penerapan teknik kultur in vitro diharapkan dapat membantu perbanyakan tanaman secara masal. Hingga saat ini, teknik kultur in vitro tanaman sedap malam belum pernah dilaporkan di Indonesia. Penelitian ini bertujuan memperoleh formulasi media yang efektif menginduksi organogenesis dan embriogenesis kultur in vitro tanaman sedap malam serta memacu regenerasinya. Percobaan dibagi menjadi 4 tahap, yaitu (1) induksi tunas, (2) multiplikasi tunas, (3) induksi kalus embriogenik, dan (4) regenerasi kalus embriogenik. Media induksi tunas yang diuji adalah MS+BA 0 ppm, MS+BA 3 ppm, MS+BA 5 ppm, dan MS+BA 7 ppm. Pemacuan multiplikasi tunas lanjut dilakukan pada media subkultur MS+BA 7 ppm+glutamin 100 ppm, MS+BA 7 ppm, DKW+TDZ 7 ppm, dan DKW+TDZ 7 ppm+glutamin 100 ppm. Untuk induksi kalus embriogenik, media induksi kalus yang diujikan adalah MS+2,4-D 2,5 ppm, MS +2,4-D 5 ppm, dan MS+2,4-D 10 ppm. Untuk meregenerasikan kalus embriogenik, media yang diujikan MS+BA 2 ppm+TDZ 0,2 ppm, MS+BA 3 ppm+TDZ 0,4 ppm, MS+zeatin 1ppm+kinetin 1ppm, dan MS+zeatin 0,5 ppm+kinetin 2 ppm. Hasil percobaan menunjukkan bahwa pembentukan tunas terbanyak diperoleh dari media BA 3 ppm (80%) namun inisiasi tunas tercepat dihasilkan pada media BA 0 ppm. Formula media MS+BA 7 ppm+glutamin 100 ppm menghasilkan jumlah tunas dan akar terbanyak. Penggunaan MS+2,4-D 5 ppm dapat menginduksi kalus embriogenik dengan persentase pembentukan nodul sebesar 18,75% dan jumlah nodul yang terbentuk sebanyak 3,6 dengan visual kalus yang paling baik. Setelah disubkultur, calon tunas terbanyak (17) dihasilkan dari perlakuan MS+BA 2 ppm+TDZ 0,4 ppm. Kalus embriogenik pada media MS+zeatin 0,5 ppm+kinetin 2 ppm dapat berkembang membentuk benih somatik.Regeneration of tuberose through organogenesis and embryogenesis. Tuberose is normally propagated by the tuber. The smaller size of tuber the longer time plant to flower. The application of in vitro culture technique might be used for mass propagation. Up to know, the research of in vitro culture of tuberose in Indonesia has not been reported. The objective of the study was to find out media formulation for organogenesis and embryogenesis. The experiments consisted of 4 steps of (1) shoot induction, (2) shoot multiplication, (3) induction of embryogenic callus, and (4) regeneration of embryogenic callus. The treatments for shoot induction were MS+BA 0 ppm, MS+BA 3 ppm, MS+BA 5 ppm, and MS+BA 7 ppm. The shoots were multiplied on media MS+BA 7ppm+glutamine 100ppm, MS+BA 7 ppm, DKW+TDZ 7 ppm, and DKW+TDZ 7 ppm+glutamin 100 ppm. For induction of embryogenic callus, the treatments were MS+2.4-D 2.5 ppm, MS+2,4-D 5 ppm, and MS+2.4-D 10 ppm. For regeneration of embryogenic callus, the treatments were MS+BA 2 ppm+TDZ 0.2 ppm, MS+BA 3 ppm +TDZ 0.4 ppm, MS+zeatin 1ppm+kinetin 1ppm, and MS+zeatin 0.5 ppm+kinetin 2 ppm. The results showed that the highest shoot formation was obtained from media MS+BA 3 ppm but the earliest shoot initiation was obtained from media MS+BA 0 ppm. The media formulation of MS+BA 7 ppm+glutamine 100 ppm gave the highest number of shoot and root. The application of media MS+2.4-D 5 ppm could induce embryogenic callus with high percentage of nodul formation (18.75%) and high number of nodul (3.6) with the best visual calli. After subculturing, the highest number of nodul (17) was obtained from media MS+BA 2 ppm+TDZ 0.4 ppm. The embryogenic callus from media MS+zeatin 0.5 ppm+kinetin 2 ppm could develop to form somatic seed
Pengaruh Jenis dan Konsentrasi Bahan Penstabil terhadap Mutu Produk Velva Labu Jepang
Penelitian dilakukan di BPTP, Lembang, Jawa Barat, mulai bulan Maret sampai Agustus 2003. Tujuan penelitian adalah mengetahui jenis dan konsentrasi bahan penstabil terhadap mutu produk velva labu jepang, baik mutu organoleptik maupun fisikokimia. Percobaan dilakukan menggunakan rancangan acak lengkap dengan dua ulangan. Rasio puree dengan air yang digunakan adalah 2:1, 1;1 dan 1:2, sedangkan untuk konsentrasi gula adalah 25, 30, dan 35% dari berat. Pada penelitian utama, bahan penstabil yang digunakan adalah CMC dan gum arabic, dengan rentangan konsentrasi 0, 0,25, 0,5, 0,75%, dan 1% dari berat puree. Berdasarkan hasil uji pembobotan yang dirangkum dari penerimaan panelis terhadap keseluruhan parameter organoleptik diperoleh velva labu jepang dengan rasio puree dengan air 1:2, konsentrasi gula 35%, dan penambahan CMC 0,75% dengan nilai kesukaan 5,11 yang berarti paling disukai. Sedangkan berdasarkan analisis terhadap produk terpilih diperoleh bahwa: kadar air 70,23%, overrun 27,76%, padatan terlarut total 26%, total asam 1,71%, total karoten 36,20 ppm, pH 4,39, kecepatan pelelehan 18,56, kadar vitamin C 93,79 mg/100g, kadar gula 27,5%, kadar lemak 0,05%, kadar serat kasar 0,72%, dan total kalori 69,36 per 100 g.Effect of kind and concentration of stabilizers on kabocha velva. The experiment was conducted at AIAT (Assesment Institute of Agriculture Technology) Lembang West Jawa, from March to August 2003. The aim of this study was to find out the kind and concentration of stabilizers, through organoleptic and physicochemical test. The experiment used was completely randomized design with two replications. Puree and water ratio used were 2:1, 1;1 and 1:2, with sugar concentration of 25, 30, and 35% based on puree weight. In the main research, modified velva by CMC and gum arabic with concentration of 0, 0.25, 0.5, 0.75, and 1% from puree weight were used. Based on rating test of the sensory evaluation of parameter, it was found out that best kabocha velva was at puree and water ratio 1:2, 35% sugar content, 0.75% CMC content with preferrence value 5.11 that the most preferred than others. Physicochemical analysis on selected product showed the content of 70.23% water, 27.76% overrun, 26% of total soluble solid, 1.71% total acid, 36.20 ppm of total carotene, 4.39 pH, 18.56 minutes melting point, 93.79 mg/100 g vitamin C, 27.5% sugar, 0.05% fat, 0.72% fiber, 69.36 total calorie/100 g product
Respons Kentang Olahan Klon 095 terhadap Pemupukan Nitrogen dan Kalium
Dosis pupuk nitrogen dan kalium sangat berpengaruh terhadap hasil dan mutu umbi kentang. Oleh karena itu dosis pupuk nitrogen dan kalium yang selama ini direkomendasikan untuk kentang sayur perlu ditinjau kembali. Untuk maksud tersebut percobaan pemupukan telah dilaksanakan di Kebun Percobaan Balai Penelitian Tanaman Sayuran menggunakan rancangan acak kelompok dengan tiga ulangan. Perlakuan adalah kombinasi dosis pupuk nitrogen, yaitu 225 kg N/ha, 180 kg N/ha (standar RIV 1995) dan 135 kg N/ha dengan dosis dan sumber pupuk kalium, yaitu 150 kg K2O/ha dan 200 kg K2O/ha dari KCl, 150 kg K2O/ha, dan 200 kg K2O/ha dari K2SO4. Hasil percobaan menunjukkan bahwa penggunaan pupuk nitrogen yang dikombinasikan dengan kalium tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap pertumbuhan, hasil, dan kadar gula reduksi tanaman kentang olahan klon 095. Dengan demikian pemberian pupuk N pada tanaman kentang klon 095 dapat dikurangi dari 180 kg/ha menjadi 135 kg/ha dan dapat dikombinasikan dengan pupuk kalium 150 kg K2O/ha baik berasal dari KCl maupun K2SO4 kadar 150 kg K2O/ha.Response of processing potato clone 095 to nitrogen and potash fertilizers application. Dosage of nitrogen and potash fertilizers significantly affect yield and quality of potato tubers. Therefore, fertilizers dosages that was recommended for table potato need to be reconsidered for processing potato. For that purpose, an experiment of fertilizers application has been conducted at experimental farm of IVEGRI by using randomized complete block design with three replicates. The treatments were combination between nitrogen dosages, i.e. 225 kg/ha, 180 kg/ha, and 135 kg/ha with dosage and source of potash fertilizer of 150 kg K2O/ha and 200 kg K2O/ha from KCl, 150 kg K2O/ha, and 200 kg K2O/ha from K2SO4. The results showed that application of nitrogen combined with potash did not affect the growth, yield, and reducing sugar content of processing potato clone 095. Therefore, the dosage of nitrogen fertilizer for processing potato clone 095 can be reduced from 180 kg/ha to 135 kg N/ha and could be combined with potash fertlizer at 150 kg K2O/ha either from KCl or K2SO4 at 150 kg K2O/ha
Inokulasi Mikoriza Glomus sp. dan Penggunaan Limbah Cacing Tanah untuk Meningkatkan Kesuburan Tanah, Serapan Hara, dan Hasil Tanaman Mentimun
Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Wera, Subang mulai bulan Agustus sampai No vem ber2000. Tujuan penelitian adalah (i) mempelajari pengaruh inokulum mikoriza Glomus sp. dan limbah atau kotoranbekas cacing tanah (kascing) terhadap sifat-sifat kimia tanah, serapan N, P, dan K dan hasil buah mentimun, (ii)mengetahui efek inokulasi mikoriza dalam mengurangi pemakaian pupuk buatan NPK, dan (iii) mendapatkankombinasi pupuk hayati (mikoriza Glomus sp. dan kascing) dan pupuk NPK yang tepat dan efisien untuk mentimun.Rancangan penelitian menggunakan split-plot de sign dengan tiga ulangan. Perlakuan terdiri atas petak utama yaitupemberian mikoriza (tanpa dan dengan mikoriza), dan anak petak yaitu enam kombinasi penggunaan kascing + NPK.Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan kascing + NPK berpengaruh nyata terhadap serapan P vegetatiftanaman dan serapan N, P, dan K buah. Perlakuan mikoriza dan kascing dapat meningkatkan kesuburan (sifat kimiadan biologi) tanah. Dalam hal bobot buah, kascing dengan dosis 2,5 t/ha + ¾ x standar NPK merupakan aplikasi yangpal ing baik di antara perlakuan yang diuji.In oc u la tion of my cor rhi zal Glomus sp. and the use ofvermicompost to im prove soil fer til ity, nu tri ent up take, and cu cum ber yield. An experiment was conducted atWera ex per i men tal farm, Subang from Au gust to No vem ber 2000. The ob jec tives of the ex per i ment were: (i) to studymycorrhiza Glomus sp. in oc u la tion and vermicompost in im prov ing soil chem i cal prop er ties; NPK up take and yield ofcu cum ber, (ii) to find out the ef fect of my cor rhi za Glomus sp. in oc u la tion on the re duc tion of NPK fer til izer us age, and(iii) to screen the most ap pro pri ate and ef fi cient treat ment com bi na tion of biofertilizers (mycorrhyza) andvermicompost + NPK fer til izer on cu cum ber. A split plot de sign with three replications was used. Treat ments con -sisted of in oc u la tion of my cor rhi za (with and without in oc u la tion) as a main plot and six com bi na tions ofvermicompost + NPK fer til iz ers as subplot. Re sults of the ex per i ment in di cated that my cor rhi za and vermicompostap pli ca tion can im prove soil chem i cal and bi o log i cal fer til ity. Ap pli ca tion of vermicompost + NPK fer til izer sig nif i -cantly in flu enced P up take in plant veg e ta tive growth as well as N, P, and K up take in fruits. In terms of fruit weight,ap pli ca tion of vermicompost of 2.5 t/ha + ¾ x NPK stan dard was the best
Perbaikan Teknologi Produksi Jamur Tiram dengan Variasi Waktu Perendaman Media Tumbuh Serbuk Kayu Gergaji
Substrat serbuk kayu gergaji harus bebas polutan dan mempunyai kadar air 65-70% untuk mendukung pertumbuhan optimal miselium dan hasil maksimal jamur tiram. Penelitian bertujuan untuk mendapatkan lama perendaman bahan baku serbuk kayu gergaji (SKG) yang optimal untuk perbaikan produksi bobot jamur tiram. Percobaan menggunakan rancangan petak terpisah dengan tiga ulangan. Petak utama adalah spesies jamur tiram, yaitu Pleurotus sayor-caju, P. flabellatus, P. cystuidiosus, P. ostreatus strain florida, dan P. pulmonarius strain sylvan 301. Anak petak yaitu waktu perendaman substrat SKG, yaitu 0, 3, 6, 9, dan 12 jam. Penelitian dilakukan di Balai Penelitian Tanaman Sayuran, Lembang, Jawa Barat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa P. ostreatus strain florida dan P. sayor-caju masing-masing menghasilkan bobot jamur segar tertinggi (970,27 dan 942,26 g/kg substrat basah). Efisiensi biologis tertinggi berasal dari P. cystidiosus (48,84%) dan P. sayor-caju (43,74%) yang dibudidayakan pada substrat SKG yang direndam selama 12 jam. Improving oyster mushrooms production technology by dipping time variation of sawdust medium. Sawdust as main raw material of substrate must be free from pollutant with its water content of 65-70%, to obtain high yield of oyster mushrooms. The goal of this experiment was to gain the optimum dipping time of sawdust as growing media to improve oyster mushrooms yield. A split plot design was arranged with three replications. Main plot was oyster mushrooms species of Pleurotus sayor-caju, P. flabellatus, P. cystuidiosus, P. ostreatus strain florida, and P. pulmonarius strain sylvan 301. Subplot was dipping time of sawdust of 0, 3, 6, 9, and 12 hours, respectively. Research activities was carried out at Indonesian Vegetable Research Institute Lembang, West Jawa. Research results revealed that P. ostreatus strain florida and P. sayor-caju independently produced the highest yield, viz: 970.27 and 942.26 g/kg wet substrate. The highest values of biological efficiency were found from P. cystuidiosus (48.84%) and P. sayor-caju (43.74%) cultivated on the substrate with 12 hours dipping time. Sawdust must be dipped at least for 6 hours prior to set up substrate formula in order to catch sufficient water content (65-70%) for better growth of mycelium and finally produce high yield of oyster mushrooms
Keragaman Genetik Plasma Nutfah Anggrek Spathoglottis
Plasma nutfah diperlukan untuk menjaga agar suatu spesies atau kultivar tidak punah dan dapat digunakan sebagai sumber keragaman genetik dalam menciptakan atau merakit varietas unggul baru. Keragaman tanaman sangat penting dalam program pemuliaan tanaman, untuk memperbaiki kualitas genetik tanaman pada masa mendatang. Penelitian dilaksanakan di Balai Penelitian Tanaman Hias Segunung, pada bulan Juli 2004-Februari 2005. Penelitian bertujuan mengetahui heritabilitas dan keragaman genetik koleksi plasma nutfah anggrek Spathoglottis. Rancangan percobaan yang digunakan adalah acak lengkap, terdiri atas 15 genotip anggrek Spathoglottis, masing-masing spesies digunakan 5 klon sebagai ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keragaman genetik yang luas dimiliki oleh karakter panjang daun, lebar daun, pertambahan jumlah anakan, panjang bunga, lebar bunga, panjang bibir, dan lebar bibir. Karakter-karakter, seperti pertambahan jumlah anakan, panjang dan lebar daun, panjang tangkai bunga, diameter tangkai bunga, panjang dan lebar bibir, rasio panjang-lebar bibir, panjang dan lebar bunga mempunyai nilai duga heritabilitas tinggi.Genetic variability of the germplasm of Spathoglottis. Orchid need to be kept as a species or cultivar to avoid from totally extinct. They can be used as the source of genetic variability in developing new superior varieties. Variability of the crop is very importance in plant breeding program to improve plant genetic quality in the future. The research was conducted in Indonesian Ornamental Crops Research Institute (IOCRI) from July 2004–February 2005. The aim of the research was to study the genetic variability and heritability of germplasm collection of Spathoglottis orchid. Randomized completely design was used consisted of 15 orchid genotypes. Five clones from each genotype were used as replication. The result indicated that wide genetic variability was related to length and width of leaf, number of shoot increament, length and width of flower, length and width of lip. Characters, such as number of shoot increament, length and width of leaf, length and diameter of flower stalk, length and width of lip, ratio of lip length-width, length and width of flower showed high heritability value
Seleksi Ketahanan Klon-Klon Harapan Gladiol terhadap Fusarium oxysporum f. sp. gladi oli
Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan klon harapan gladiol yang tahan terhadap layu fusarium.Rancangan yang digunakan adalah acak kelompok pola faktorial. Faktor (1) klon-klon harapan gladiol, terdiri dari96212/168; 96210.2/20; 96215/49; 96203.2/14; 9607.2/129; 96215/202; 96215/122; 96204/69; 96213/109;96210.1/170; hol land merah; dan 621-1. Faktor (2) kerapatan inokulum F. oxysporum, terdiri dari 0 sel konidia/gtanah; 104 sel konidia/g tanah; 108 sel konidia/g tanah. Hasil percobaan menunjukkan bahwa gladiol dengan nomorklon 96215/49; 623-1 dan 96213/109 merupakan klon harapan gladiol yang pal ing tahan terhadap layu F. oxysporumf. sp. dan klon 9612/168 merupakan klon yang pal ing rentan. Re sponse of glad i o lus prom -is ing clones to Fusarium oxysporum f. sp. glad i oli. The aim of the ex per i ment was to ex am ine the re sis tance of glad i -o lus clones to fusarium wilt. Fac to rial randomized block de sign was used in the ex per i ment. The first fac tor wasglad i o lus prom is ing clones, con sist of 96212/168; 96210.2/20; 96215/49; 96203.2/14; 9607.2/129; 96215/202;96215/122; 96204/69; 96213/109; 96210.1/170; hol land merah; 621-1. The sec ond fac tor was den sity of inoculum F.oxysporum, con sist of nill conidia/g soil; 104 cells conidia/g soil; and 108 cells conidia/g soil. The re sults showed thatthe glad i o lus clone num ber 96215/49; 623-1 and 96213/109 were the most re sis tant to Fusarium oxysporum f. sp.glad i oli and clone num ber 9612/168 was the most susceptible
Pengaruh Kerapatan Tanaman dan Aplikasi Zat Pengatur Tumbuh terhadap Produksi Umbi Bibit Bawang Merah Asal Biji Kultivar Bima
Tujuan penelitian adalah menentukan kerapatan tanaman dan konsentrasi aplikasi ZPT mepiquat klorida 50 AS yang tepat untuk produksi umbi bibit bawang merah asal biji botani (TSS). Rancangan percobaan yang digunakan adalah petak terpisah dengan tiga ulangan. Tiga macam kerapatan tanaman 5 x 5 cm (400 tanaman/m2), 5 x 7,5 cm (266 tanaman/m2), dan 5 x 10 cm (200 tanaman/m2) ditempatkan sebagai petak utama dan empat konsentrasi ZPT mepiquat klorida 50 AS, 0, 2, 4 dan 6 ml/l ditempatkan sebagai anak petak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kerapatan tanaman paling tepat untuk produksi umbi bibit bawang merah asal TSS adalah 400/m2 (5 x 5 cm) dengan jumlah umbi berukuran kecil (2,5-5 g/umbi) paling banyak dan tidak menghasilkan umbi bibit mini (1-2 g/umbi). Kerapatan tanaman 200/m2 lebih cocok digunakan untuk produksi umbi konsumsi asal TSS dengan 50% umbi yang dihasilkan berukuran besar (>7,5 g/umbi). Aplikasi ZPT mepiquat klorida 50 AS tidak meningkatkan pertumbuhan dan hasil umbi bawang merah asal TSS, tetapi pada konsentrasi 6 ml/l dapat meningkatkan persentase jumlah umbi berukuran besar (>7,5 g/umbi). Hasil penelitian diharapkan berguna untuk meningkatkan produksi dan kualitas umbi bibit bawang merah.Effect of plant densities and application of plant growth regulator on seed bulb yield of shallot from true seed of cultivar bima. The objectives were to determine the proper plant density in combination with application of mepiquat chloride 50 AS for production of seed bulb of shallot from true seed. A split plot design with three replications was set up in this experiment. Three levels of plant densities of 5 x 5 cm (400 plants/m2), 5 x 7.5 cm (266 plants/m2), and 5 x 10 cm (200 plants/m2) were assigned to main plots and plant growth regulator mepiquat chloride 50 AS concentrations of 0, 2, 4, and 6 ml/l were assigned to subplots. The results revealed that proper plant density to produce seed bulb from true seed was 400 plants/m2 which produced the highest percentage of small size bulb (2.5-5 g/bulb) and did not produce mini shallot bulb (1-2 g/bulb). Plant density of 200 plants/m2 was proper to produce consumption bulb from true seed, this treatment produced big size bulb (>7.5 g/bulb) more than 50%. Application of PGR mepiquat chloride 50 AS did not increase growth and bulb yield of shallot, however at concentration of mepiquat chloride 50 AS 6 ml/l could increase number of big size bulb (>7.5 g/bulb). This results can improve quality and production of shallot seed
Proteksi Silang untuk Pengendalian Virus Mosaik Mentimun pada Krisan
Salah satu virus yang menyerang tanaman krisan adalah CMV. Alternatif pengendalian CMV pada krisan adalah menggunakan vaksin CARNA 5. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui teknik aplikasi vaksin yang paling efektif dalam memproteksi CMV pada krisan. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Virologi Balai Penelitian Tanaman Hias, Segunung dari bulan Januari sampai Desember 2001. Percobaan menggunakan rancangan acak kelompok tiga ulangan dengan delapan perlakuan, yaitu (1) penyambungan, (2) inokulasi mekanis vaksin CARNA 5 dengan konsentrasi 5 μg/ml, (3) inokulasi mekanis vaksin CARNA 5 dengan konsentrasi 15 μg/ml, (4) inokulasi mekanis vaksin CARNA 5 dengan konsentrasi 20 μg/ml, (5) inokulasi mekanis vaksin CARNA 5 dengan konsentrasi 25 μg/ml, (6) melalui serangga (kutu daun), dan (7) tanaman krisan sehat (kontrol). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanaman krisan yang diberi vaksin pada berbagai cara aplikasi tidak menunjukkan gejala mosaik. Warna bunga pada semua perlakuan tidak menampakkan gejala pecah warna.Cross protection for controling cucumber mosaic virus on chrysanthemum. One of the virus that attack chrysanthemum is CMV. The alternative of CMV control on plant is the use of vaccine CARNA 5. The objective of the experiment was to find out the application technique of vaccine for CMV protection on chrysanthemum. The experiment was conducted in Virology Laboratory of Indonesia Ornamental Plant Research Institute in Segunung from January to December 2001. RCBD with eight treatments and three replications were used. The treatments were grafting; mechanical inoculation of CARNA 5 with concentration 5 μg/ml, 10 μg/ml, 15 μg/ml, 20 μg/ml, and 25 μg/ml; through vector (aphid), and healthy chrysanthemum plant (control). The results of the experiment showed that chrysanthemum treated with various vaccine application techniques did not show mosaic symptoms. The quality of flower color showed that all treatments did not cause color breaking
Pengaruh Inokulasi Cendawan Mikoriza Arbuskula terhadap Pertumbuhan Bibit Jeruk Varietas Japanche Citroen
Telah dilakukan penelitian untuk mengetahui pengaruh inokulasi cendawan mikoriza arbuskula terhadap pertumbuhan bibit batang bawah jeruk, mulai Oktober 2002 sampai Februari 2003 yang bertempat di rumahkasa Balai Penelitian Tanaman Buah Solok. Rancangan yang digunakan adalah acak kelompok dengan tiga ulangan dan 10 perlakuan jenis CMA yang meliputi Glomus manihotis, Scutellospora heterogama, Gigaspora margarita, Gigaspora roseae (FL-105), Glomus etunicatum, Acaulospora tuberculata. Gigaspora roseae (Giro-EC), CMA dari perakaran manggis asal Padang, CMA dari perakaran manggis asal Sijunjung, dan kontrol tanpa CMA. Parameter yang diamati meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, diameter batang, jumlah spora, dan infeksi CMA pada akar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua perlakuan CMA pada umumnya dapat memacu pertumbuhan bibit jeruk JC, kecuali CMA G. roseae (Giro-EC) dan CMA dari perakaran manggis asal Sijunjung. Cendawan mikoriza arbuskula G. manihotis merupakan CMA yang terbaik karena dapat memacu pertumbuhan bibit batang bawah jeruk secara nyata dibandingkan dengan kontrol. The influence of arbuscular mycorrhizae fungi (AMF) on the seedling growth of JC citrus cultivar. The experiments was conducted at a screenhouse of Indonesian Fruits Research Institute, Solok from October 2002 to February 2003. The experiment was arranged in a randomized block design with three replications and 10 kinds of AMF, i.e. Glomus manihotis, Scutellospora heterogama, Gigaspora margarita, Gigaspora roseae (FL-105), Glomus etunicatum, Acaulospora tuberculata, Gigaspora roseae (Giro-EC), AMF of mangosteen root system derived from Padang, AMF of mangosteen root system derived from Sijunjung, and without AMF as control. The parameters observed were plant height, leaves number, stem diameter, number of spores, and root infection percentage of AMF. The results indicated that all of AMF application could stimulate the growth of JC citrus seedling, except G. roseae (Giro-EC) and AMF of mangosteen root system derived from Sijunjung, Glomus manihotis was the best AMF to speed up the growth of citrus rootstock