Jurnal Hortikultura
Not a member yet
543 research outputs found
Sort by
Optimalisasi Cara, Suhu, dan Lama Blansing sebelum Pengeringan pada Wortel
ABSTRAK. Penelitian bertujuan mengetahui cara, suhu, dan lama blansing yang optimum sebelum pengeringan wortel. Penelitian dilakukan dari Oktober sampai dengan November 2004. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimen di laboratorium menggunakan rancangan kelompok pola petak terpisah. Petak utama yaitu cara blansing menggunakan air dan uap. Anak petak yaitu kombinasi suhu dan lama blansing yang terdiri dari (1) suhu 65°C selama 15 menit, (2) 65°C selama 30 menit, (3) 75°C selama 10 menit, (4) 75°C selama 20 menit, (5) 85°C selama 5 menit, dan (6) 85°C selama 10 menit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa produk wortel kering yang terbaik yaitu hasil blansing menggunakan air dengan suhu 85°C selama 10 menit (1,533 = sangat disukai) dan berbeda nyata dengan perlakuan lainnya. Perlakuan tersebut mempunyai kadar air 7,53%, rendemen 9,27%, rasio rehidrasi 340,83%, vitamin C 68,55 mg/100 g, dan β-karoten 0,197%.ABSTRACT. Asgar, A. and D. Musaddad, 2006. Optimizing of method, temperature, and time of blanching for processing of dried carrot. The purpose of this research was to find out the method, temperature, and time of blanching on the characteristics of dehydrated carrot. The research was conducted from October to November 2004. The research was arranged in a split plot design with 2 x 6 factorial and, 3 replications. Main plot consisted of steam blanching and water blanching. Subplot consisted of temperature and time of blanching (1) 65°C for 15 minutes, (2) 65°C for 30 minutes, (3) 75°C for 10 minutes, (4) 75°C for 20 minutes, (5) 85°C for 5 minutes, and (6) 85°C for 10 minutes. The results of this research showed that dried carrot processed using water blanching at 85°C for 10 minutes was the best, with the properties of dried carrot were 7.53% moisture, 9.27% dry matter, 340.83% rehydration ratio, 68.55 mg/100 g ascorbic acid, and 0.197% β-caroten
Pengaruh Kultivar dan Ukuran Umbi Bibit Bawang Bombay Introduksi terhadap Pertumbuhan, Pembungaan, dan Produksi Benih
Pembungaan bawang Bombay memerlukan suhu rendah, 5-12°C. Di daerah tropika, untuk terjadi pembungaan, umbi benih divernalisasi pada suhu 10°C selama 2 bulan. Untuk terjadi inisiasi pembungaan suhu rendah berinteraksi dengan faktor lain di antaranya faktor genetik, umur fisiologi, dan ukuran umbi benih. Penelitian pembungaan bawang Bombay pada kondisi agroekosistem tropika Indonesia, dilakukan di dataran tinggi Lembang, Jawa Barat, 1.250 m dpl. Penelitian bertujuan (1) mendapatkan ukuran umbi bibit yang sesuai untuk memperoleh hasil umbi, bunga, dan biji bawang Bombay introduksi yang tertinggi dan (2) mengkaji jenis serta konsentrasi giberelin alami untuk menstimulasi inisiasi pembungaan bawang Bombay introduksi. Percobaan dilaksanakan menggunakan rancangan petak terpisah dengan 3 ulangan. Petak utama kultivar bawang Bombay introduksi yaitu kultivar No. E-537, dan No. Z-512. Anak petak ukuran umbi bibit, yaitu >40 g per umbi, 25-40 g per umbi, dan <25 g per umbi. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa produksi biji total tertinggi berasal dari bawang Bombay introduksi kultivar No. Z-512 ukuran >25 g. Inisiasi pembungaan distimulasi oleh sintesis de novo giberelin alami dengan jenis dan konsentrasi bergantung pada kultivar dan ukuran umbi bibit yang digunakan. Semakin besar ukuran umbi bibit (>25 g per umbi) semakin tinggi konsentrasi giberelin alami yang dihasilkan dan semakin tinggi pula pembungaan dan hasil biji. Jenis giberelin alami yang disintesis oleh bawang Bombay kultivar No. E-537 yaitu GA3, GA7, dan GA45, dan dari kultivar No. Z-512 yaitu GA3, GA21, dan GA45. Hasil produksi umbi bawang Bombay tertinggi berasal dari kultivar No. E-537. Ukuran umbi bibit >25->40 g per umbi tidak berpengaruh terhadap produksi umbi kedua kultivar.Low air temperature of 5-12°C is needed to stimulate flower initiation of onion, while in tropical regions it can be done by vernalizing the onion mother bulbs at 10°C for 2 months. Flower initiation was stimulated by low temperature interacts with several factors, such as genetic, physiological age, and size of mother bulbs. The experiment was conducted at high altitude Lembang, Bandung 1,250 asl. The aims of this study were (1) to find out the proper size of the onion mother bulbs in order to get the highest yield of flowers, seed, and bulb, (2) to study kind of natural gibberellins and their concentrations which stimulate flower initiation of introduced onion cultivars. A split plot design with 3 replications was set up in the field. The main plot was two introduced onion cultivars i.e. cultivar No. E-537, and No. Z-512. The subplot was size of onion mother bulbs i.e. >40 g, 25-40 g, and <25 g per bulb. Research results revealed that the highest total seed yield was gained from cultivar No. Z-512 with the size of mother bulb of more than 25 g. Flower initiation was stimulated by de novo natural gibberellin with kind and concentration depend on cultivars and the size of mother bulb. The bigger mother bulb size (>25 g) the higher the concentration of natural gibberellin and the higher the flowers/umbels and seed yield produced. Kind of natural gibberellins sintesized by onion cultivar No. E-537 were GA3, GA7, and GA45, while from cultivar No. Z-512 were GA3, GA21, and GA45. The highest onion bulb yield was gained from cultivar No. E-537. The mother bulb size >25->40 g did not affect the total onion bulb yield for both cultivars
Uji Resistensi beberapa Kultivar Markisa Asam terhadap Penyakit Layu Fusarium
ABSTRAK. Penelitian ini bertujuan mendapatkan kultivar markisa yang toleran terhadap penyakit layu fusarium. Pelaksanaan penelitian dilakukan di Kebun Percobaan Tanaman Buah Berastagi mulai bulan Januari sampai Desember 2004. Rancangan yang digunakan adalah acak kelompok dengan 3 ulangan. Perlakuan terdiri dari 2 faktor yaitu (1) kultivar markisa (markisa sambung, markisa asam asal Deli Serdang, markisa asam asal Simalungun, dan markisa asam asal hutan), (2) Trichoderma koningii (tanpa T. koningii/kontrol dan dengan T. koningii). Hasil yang telah diperoleh menunjukkan bahwa kultivar markisa asam asal Deli Serdang merupakan kultivar yang tahan terhadap layu fusarium dengan persentase dan intensitas penyakit layu sebesar 0%. Trichoderma koningii mampu menekan persentase layu fusarium sebesar 15% dan menekan intensitas penyakit layu sebesar 8,4% dari kontrol.ABSTRACT. Saragih, Y. S., F. H. Silalahi, and A. E. Marpaung. 2006. Resistance test of some passionfruit cultivars to fusarium wilt. The aim of this experiment was to find out tolerant passion fruit cultivar to fusarium wilt. The experiment was conducted at Fruit Plantation Experiment Garden Berastagi, since January-December 2004. The experiment was set up in a randomized block design with 3 replications. The treatments were 2 factors (1) cultivars of passionfruit (grafting, Deli Serdang cultivar, Simalungun cultivar, cultivar from the forest), (2) Trichoderma koningii (without T. koningii/control and with T. koningii). The results indicated that cultivar from Deli Serdang was resistant to fusarium wilt disease with 0% of with intensity and percentage of disease incident. Trichoderma koningii was able to suppress fusarium wilt disease incident up to 15% and disease intensity up to 8.4% compare to control
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kepedulian Konsumen terhadap Sayuran Aman Residu Pestisida
Permasalahan adanya kandungan pestisida pada sayuran merupakan masalah yang cukup serius dan harus segera ditangani oleh semua pihak yang berkepentingan, karena sudah menjadi isu global. Untuk tujuan tersebut telah dilakukan suatu penelitian yang bersifat studi pendasaran dengan tujuan untuk mengkaji tingkat kepedulian konsumen terhadap residu pestisida serta faktor-faktor yang mempengaruhinya, khususnya pada buah tomat. Penelitian dilaksanakan pada bulan Mei-Juni 2003 di Kota Bandung, menggunakan metode survei. Pengambilan data dilakukan dengan mewawancarai 162 orang responden yang dipilih dengan menggunakan metode pengambilan contoh berklaster. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepedulian konsumen terhadap adanya residu pestisida pada buah tomat dipengaruhi oleh faktor-faktor motivasi konsumen, pengetahuan konsumen, serta persepsi konsumen terhadap risiko. Sementara itu, pengetahuan konsumen dipengaruhi oleh informasi yang diterima konsumen serta tingkat pendidikan formal konsumen. Tingkat kepedulian konsumen di Kota Bandung masih dapat ditingkatkan, dengan cara memberikan informasi yang lebih intensif mengenai residu pestisida serta bahayanya terhadap kesehatan.Since it is global issue, the problem of pesticide residue on vegetables has become more serious and needs immediate attention from all related parties. With regards to this concern, a baseline study was carried out to assess consumers awareness of pesticide residue and factors that may influence this awareness, especially on tomato. A consumer survey was conducted in May-June 2003 in Bandung. Data were collected from interviewed with 162 respondents who were selected by using cluster sampling method. The results showed that consumers’ awareness of pesticide residue on tomatoes was influenced by motivation, knowledge, and consumers’ perception on risks. Knowledge was influenced by information received and the level of formal education attended. The level of consumers’ awareness in Bandung could still be increased by providing information on pesticide residue and its danger on health more intensively
Evaluasi Bahan Carrier dalam Pemanfaatan Jamur Entomopatogen, Beauveria bassiana (BALSAMO) Vuillemin untuk Mengendalikan Hama Penggerek Bonggol Pisang, Cosmopolites sordidus GERMAR
ABSTRAK. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Hama Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika, Solok, dari Juli sampai Desember 2002. Penelitian bertujuan mengetahui bahan carrier terbaik dalam pemanfaatan Beauveria bassiana untuk mengendalikan hama penggerek bonggol pisang, Cosmopolites sordidus GERMAR. Penelitian ditata dalam rancangan acak lengkap, dengan 7 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan terdiri dari 6 bahan carrier, yaitu tepung jagung, tepung beras, talk, tepung maizena, minyak Sania, air, dan kontrol (konidia kering). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tepung beras merupakan carrier yang paling baik dalam pemanfaatan B. bassiana dan menyebabkan mortalitas hama penggerek bonggol paling tinggi dibandingkan dengan carrier minyak Sania yang menyebabkan mortalitas paling rendah. Mortalitas hama penggerek bonggol C. sordidus yang paling tinggi yakni 90% diperoleh jika menggunakan B. bassiana dengan tepung beras sebagai carrier pada batang semu pisang. Sedangkan B. bassiana yang diaplikasikan pada batang pisang semu dengan menggunakan minyak atau air hanya dapat menyebabkan mortalitas hama penggerek bonggol paling rendah, yaitu berkisar antara 61-65%. Nilai LT50 dan LT95 dari bahan carrier tepung beras adalah 12,93 hari dan bahan carrier minyak adalah 23,34 hari. Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa bahan carrier berbentuk tepung dapat mempertinggi kemampuan jamur entomopatogen, B. bassiana dalam mengendalikan hama penggerek bonggol pisang, C. sordidus.ABSTRACT. Hasyim, A. 2006. Evaluation of carrier materials for Beauveria bassiana (Balsamo) Vuillemin to control banana corm borer, Cosmopolites sordidus GERMAR. The experiment was conducted at Entomological Laboratory, Indonesian Tropical Fruit Research Institute from July to Desember 2002. The objective of the study was to determine the best carrier for B. bassiana to control banana weevil borer, C. sordidus GERMAR. A randomized completely design with 7 treatments and 3 replications were used. Treatments consisted of 6 carriers, such as corn powder, talc, rice powder, maizena powder, Sania oil, water, and control (dry conidia). The results showed that rice powder was the best carrier for B. bassiana and caused highest mortality of banana corm borer. Whereas Sania oil carrier gave the lowest mortality of banana corm borer. The highest mortality of adult banana weevil borer, C. sordidus obtained when B. bassiana was exposed using rice powder carrier on pseudostem, which was 90%. While the B. bassiana exposed at liquid carrier of oil or water carrier on pseudostem, caused the lowest mortality of C. sordidus by 61 and 65%, respectively. The value of LT50 and LT95 from rice powder was lowest (12.93 days) and oil carrier was highest (23.34 days). The results demonstrated that powder as a carrier can enhance the efficacy of the insect pathogenic fungus B. bassiana against banana weevil borer, C. sordidus
Optimalisasi Cara, Suhu, dan Lama Blansing sebelum Pengeringan Kubis
ABSTRAK. Penelitian bertujuan mengetahui media, kombinasi suhu, dan lama blansing yang optimum untuk pembuatan kubis kering. Penelitian dilakukan dari Oktober sampai dengan November 2004. Penelitian menggunakan metode eksperimen di laboratorium menggunakan rancangan acak kelompok pola petak terpisah. Petak utama yaitu media blansing yang terdiri dari (1) media air dan (2) media uap. Anak petak yaitu kombinasi suhu dan lama blansing yang terdiri dari (1) suhu 65°C selama 15 menit, (2) 65°C selama 30 menit, (3) 75°C selama 10 menit, (4) 75°C selama 20 menit, (5) 85°C selama 5 menit, dan (6) 85°C selama 10 menit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi antara media dan kombinasi suhu dan lama blansing berpengaruh terhadap rendemen, rasio rehidrasi, kadar air, dan kandungan vitamin C. Berdasarkan hasil uji organoleptik, kubis kering terbaik adalah hasil perlakuan blansing yang menggunakan media air pada suhu 75°C dengan lama blansing 10 menit. Kubis kering hasil perlakuan ini mempunyai kadar air 7,71%, rendemen 4,32%, rasio rehidrasi 747,24%, dan vitamin C 83,128 mg/100 g.ABSTRACT. Asgar, A. and D. Musaddad, 2006. Optimizing of method, temperature, and time of blanching for processing of dried cabbage. The purpose of this research was to study the effect of method, temperature, and time of blanching on the characteristics of dried cabbage. The research was conducted from October to November 2004. The research was arranged in a split plot design with 2 x 6 factorial, 3 replications and followed by Duncan’s test. Main plot consisted of (1) steam blanching and (2) water blanching. Subplot consisted of temperature and time of blanching (1) 65°C 15 minutes, (2) 65°C 30 minutes, (3) 75°C 10 minutes, (4) 75°C 20 minutes, (5) 85°C 5 minutes, and (6) 85°C 10 minutes. The results showed that interaction between the method, temperature, and time blanching of significantly affect on dry matter, rehydration ratio, moisture, and ascorbic acid content. The organoleptic test of dried cabbage processed with water medium at 75°C for 10 minutes was the best. On this treatment dried cabbage were 7.71% of water content, 4.32% of dry matter, 747.24% of rehydration ratio, and 83.128 mg/100 g of vitamin C
Efektivitas Model dan Ketinggian Perangkap dalam Menangkap Hama Lalat Buah Jantan, Bactrocera spp
ABSTRAK. Penelitian ini bertujuan mengetahui model dan ketinggian perangkap yang efektif dalam menangkap lalat buah, Bactrocera spp. Penelitian ini dilakukan di kebun petani di Kenagarian Kacang pada pertanaman polikultur dan Alahan Panjang pada pertanaman monokultur, Solok mulai Maret 2003-Desember 2004. Model alat perangkap yang digunakan dalam penelitian ini yaitu perangkap bekas botol air mineral, modifikasi gipsy moth, modifikasi perangkap steiner, perangkap delta, dan perangkap McPhail. Masing-masing perangkap diberi umpan dengan 0,5 ml metil eugenol atau cue lure yang diteteskan pada sepotong kapas dan digantungkan di dalam perangkap. Untuk mengetahui ketinggian perangkap yang efektif untuk menangkap lalat buah, penelitian dilakukan dengan memasang perangkap dari botol air mineral pada ketinggian 0,5, 1, 1,5, 2, dan 2,5 m dari permukaan tanah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah lalat buah yang tertangkap per perangkap/hari pada masing-masing jenis perangkap yang digunakan berbeda nyata. Lalat buah yang paling banyak tertangkap per perangkap/hari adalah pada perangkap McPhail yaitu 52 ekor dan yang paling sedikit diperoleh pada perangkap gipsy moth yaitu 6 ekor/perangkap/hari. Ketinggian perangkap terlihat berbeda nyata, di mana lalat buah yang paling banyak tertangkap adalah pada perangkap dengan ketinggian 1,5 m dari permukaan tanah. Penggabungan antara model perangkap dengan atraktan sintetis, seperti metil eugenol atau cue lure meningkatkan kemampuan tidak hanya sebagai perangkap lalat buah yang potentsial tetapi juga sebagai alat monitoring hama lalat buah.ABSTRACT. Hasyim, A., Muryati, and W. J. de Kogel. 2006. Trap type and trap height effectiveness on catching male fruit flies, Bactrocera spp. The objective of the research was to understand trap types and trap position that most effective on catching male fruit flies, Bactrocera spp. The research was conducted at Kenagarian Kacang of polyculture plantation and Alahan Panjang of monoculture plantation, Solok from March 2003 to December 2004. The types of trap used in this experiment were the trap made from used bottle of mineral water, the modified of gipsy moth trap, the steiner trap, delta trap, and McPhail trap. One piece of cotton, soaked in 0.5 ml methyl eugenol were hung in each trap. To determine the trap height effectiveness, the trap made from used bottle of mineral water were set at several height of 0.5, 1, 1.5, 2, and 2.5 m above the ground level, respectively. The results showed that the number of flies cought/trap/day was significantly different in respect to trap types. The highest number of flies cought/day/trap was found in McPhail trap (52 flies), and the lowest number of flies cought/day/trap was found in modified gypsy moth traps (6 flies), the trap positions was significantly affect the number of fruit flies cought and the higest number of flies cought/trap/day was obtained by 1.5 m trapped height. The combination types of trap and syntetic attractant such as methyl eugenol or cue lure could increase the capacity, not only as a potential trapped but also as a monitoring tool for fruit flies
Efek Mulsa terhadap Penampilan Fenotipik dan Parameter Genetik pada 13 Genotip Kentang di Lahan Sawah Dataran Medium Jatinangor
ABSTRAK. Percobaan bertujuan mengevaluasi pengaruh mulsa terhadap penampilan fenotipik dan para-meter genetik pada 13 genotip kentang di lahan sawah dataran medium Jatinangor telah dilaksanakan di kebun percobaan Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran, Jatinangor, Sumedang dari bulan Juli sampai Oktober 2001. Percobaan ditata berdasarkan rancangan acak kelompok dengan 2 ulangan dan digunakan 13 genotip kentang termasuk kultivar Granola sebagai perlakuan pada lingkungan bermulsa dan tanpa mulsa. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada lingkungan bermulsa variabilitas genetik luas terdapat pada karakter tinggi tanaman, lebar kanopi, umbi kelas A, umbi kelas B, dan umbi kelas C. Variabilitas genetik di lingkungan bermulsa lebih luas daripada variabilitas di lingkungan tanpa mulsa. Nilai duga heritabilitas tinggi terdapat pada karakter jumlah cabang, umbi kelas A, dan umbi kelas C. Nilai duga heritabilitas di lingkungan bermulsa lebih tinggi daripada di lingkungan tanpa mulsa. Pada lingkungan tanpa mulsa semua karakter yang diamati variabilitasnya luas kecuali bobot umbi per plot. Nilai duga heritabilitas tinggi terdapat pada karakter jumlah cabang, bobot umbi per plot, umbi kelas A, dan umbi kelas C. Seleksi dapat dilakukan di lingkungan tanpa mulsa pada karakter komponen hasil dan hasil. Lingkungan bermulsa berpengaruh lebih baik terhadap karakter-karakter yang diamati. Penampilan karakter jumlah umbi per tanaman, bobot umbi per tanaman, dan bobot umbi per plot tidak dipengaruhi oleh interaksi genotip x lingkungan. Genotip FBA, Klon 101, dan Klon 102 unggul dalam karakter jumlah umbi per tanaman, bobot umbi per tanaman, dan bobot umbi per plot pada lingkungan bermulsa dan tanpa mulsa.ABSTRACT. Ruchjaniningsih. 2006. The effect of mulch on phenotype and genetic parameter of 13 potato genotypes in paddy field at medium altitude Jatinangor. An experiment to evaluate the effect of mulch on performance and several genetic parameters of 13 genotypes of potato at medium wet land Jatinangor had been carried out at experiment station of Agriculture Faculty, Padjadjaran University, Jatinangor, Sumedang from July to October 2001. The experiment was arranged in a randomized block design with 2 replications and 13 genotypes of potato including Granola cultivar as treatments. Results of the experiment showed that mulching performed wide phenotypic variability on plant height, canopy width, number of A grade tuber, number of B grade tuber, and number of C grade tuber. Mulching condition performed wide genetic variability compared to nonmulching. High heritability estimates were obtained for number of branch, number of A grade tuber, and number of C grade tuber. Without mulching condition had a higher estimate of heritability compared to mulched. In without mulching condition all characters evaluated had wide variability, except for weight of tuber per plot. High heritability estimates were found for the number of branch, weight of tuber per plot, number of A grade tuber, and number of C grade tuber. Selection can be done at without mulching environment of yield and yield component characters. Mulching performed better on the observed characters. Number of tuber per plant, weight of tuber per plant and weight of tuber per plot were not influenced by genotype x environment interaction. FBA, clones 101, and clones 102 genotypes were superior in number of tuber per plant, weight of tuber per plant, and weight of tuber per plot in mulched and without mulching environment
Pengkajian Subsitusi Aquades dengan Sumber Air Lainnya pada Perbanyakan Mikro Pisang Barangan dan Stroberi
ABSTRAK. Pengkajian ini bertujuan mencari alternatif sumber air lain pengganti air destilasi dalam pembuatan media perbanyakan mikro pisang Barangan dan stroberi. Waktu pelaksanaan pengkajian untuk pisang Barangan dilakukan Maret sampai Juni 2004 dan pada stroberi dilakukan pada Juli sampai September 2004. Sumber air untuk media yang dikaji ialah aquades, Air PDAM, air sumur jernih, air sumur kuning, air hulu sungai Sembahe, air hilir sungai di Medan, air hujan, air minum isi ulang, dan air kolam ikan. Masing-masing penelitian menggunakan rancangan acak lengkap. Pengkajian dilaksanakan di Laboratorium Kultur Jaringan Dinas Pertanian Provinsi Sumatera Utara, Medan. Media dasar yang digunakan ialah media MS. Eksperimen menggunakan rancangan RBD. Hasil penelitian menunjukkan bahwa subsitusi aquades dengan air hujan, air sumur jernih, dan air minum isi ulang dapat digunakan untuk perbanyakan mikro plantlet pisang Barangan, dan stroberi secara in vitro.ABSTRACT. Simatupang, S. 2006. Study on substitution of distilled water by other water sources on micro multiplication of Barangan banana and strawberry. The objective of this assessment was to determine the alternative of water resources in order to substitute distilled water in media preparation for micro multiplication of Barangan banana and strawberry. The assessment conducted for Barangan banana was on March thru June 2004 and for strawberry was on July thru September 2004 in tissue culture laboratory of North Sumatera Agriculture Service. The sources of water for media preparation to be assessed were distilled water, water from PDAM, clean water from well, brown to yellow color of water from well, upstream water in Sembahe, downstream water in Medan, rain water, mineral water, and fish pond water. Basal media used was MS media. The experimental design used was a complete randomized design. The result showed that rain water, clean water from well, and mineral water can substitute distilled water for micropropagation of plantlet Barangan banana and strawberry
Formula Larutan Pulsing untuk Bunga Potong Alpinia
ABSTRAK. Larutan pulsing merupakan perlakuan yang diberikan pada bunga sebelum pengiriman untuk memberi tambahan sumber energi, dan melindungi tangkai bunga dari masuk dan berkembangnya mikroorganisme penyebab penyumbatan pada batang dan menunda senesensi. Tujuan penelitian adalah memperoleh komposisi larutan pulsing yang tepat dalam upaya memperpanjang masa kesegaran bunga potong Alpinia. Penelitian menggunakan 3 jenis bahan pengawet masing-masing terdiri dari 3 taraf konsentrasi, yaitu gula (10, 20, 30%), AgNO3 (25, 50, 75 ppm), dan thiabendazol (25, 50, 75 ppm). Penelitian dilaksanakan menggunakan rancangan acak lengkap faktorial dengan 3 ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perendaman dalam larutan 20% gula + 50 ppm AgNO3 + 50 ppm thiabendazol (pH 3-4) selama 2 jam memberikan hasil terbaik, dengan masa kesegaran bunga potong mencapai 12,78 hari (6,39 hari lebih lama dibanding tanpa perendaman) dengan persentase pembukaan bractea 42,13%.ABSTRACT. Yulianingsih, D. Amiarsi, and Sabari S. 2006. The effect of pulsing solution on the freshness of alpine cut flower. Pulsing solution is commonly used to prolong vaselife by dipping the flower stems in a solution containing sugars and germicides before delivery in order to serve source of energy and to prevent the plugging of stems by microbial growth. An experiment was conducted to determine the appropriate composition of pulsing solution to prolong vaselife of alpine cut flower. In this experiment, 3 kinds of preservatives at 3 concentrations of pulsing solutions were tested, consisted of 10, 20, 30% sugar, 25, 50, 75 ppm AgNO3, and 25, 50, 75 ppm thiabendazole. The experiment was arranged in a factorial completely randomised design with 3 replications. The results indicated that pulsing solution of 20% sugar + 50 ppm AgNO3 + 50 ppm thiabendazole and dipping periode of 2 hours was the best treatment with vaselife of 12.78 days (6.39 days longer than the control) with bud opening of 42.13%