Jurnal Hortikultura
Not a member yet
543 research outputs found
Sort by
Pengaruh Kemasan terhadap Daya Simpan Umbi Bibit, Pertumbuhan, dan Hasil Bawang Putih
ABSTRAK. Di Indonesia bawang putih sudah merupakan bumbu masakan yang merakyat. Untuk konsumsi saat ini sebagian besar umbi berasal dari impor, padahal banyak daerah dataran tinggi di Indonesia yang sangat baik untuk penanaman bawang putih. Penelitian ini bertujuan mengetahui jenis pengemas yang terbaik guna memperpanjang daya simpan umbi bibit bawang putih serta pertumbuhan dan hasil di lapangan. Percobaan telah dilakukan di Laboratorium Benih, Balai Penelitian Tanaman Sayuran, Lembang (1.250 m dpl), pada bulan Oktober 2004–Februari 2005. Penelitian dilanjutkan di lapangan untuk observasi terhadap penampilan umbi bibit. Rancangan yang digunakan adalah acak lengkap untuk penelitian di laboratorium benih dan acak kelompok untuk penelitian di lapangan, dengan model rancangan petak terpisah, terdiri atas 4 ulangan dan 7 perlakuan. Perlakuan terdiri dari (1) kantong plastik + batu kapur, (2) kantong plastik + batu kapur (CaCO3) + O2, (3) kantong plastik + Aquastore, (4) kantong plastik + Aquastore + O2, (5) rajut plastik, (6) kantong kertas semen + batu kapur, dan (7) kantong kertas semen + Aquastore. Hasil menunjukkan bahwa pengemasan umbi bibit bawang putih yang berdampak terhadap pertumbuhan dan hasil terbaik adalah penggunaan jaring plastik dengan daya simpan 57 hari dan kerusakan 9,6%. Di lapangan tinggi tanaman pada umur 14, 28, 42, 56, dan 70 HST masing-masing adalah 6,00; 12,23; 30,00; 40,75; dan 49,0 cm, dengan daya tumbuh 87,60%. Bobot hasil per lubang tanaman 80,80 g, dan siung per umbi 10,80 buah, dan diameter umbi lapis 32,10 cm. Pengemas dalam kondisi tertutup dapat menggunakan kertas semen, dengan penyerap batu kapur maupun Aquastore, dengan nilai kerusakan pada penyimpanan masing-masing adalah 12,5 dan 11,00%, dan daya simpan masing-masing 62,0 hari. Di lapangan mempunyai daya tumbuh 92,80, 97,90% dan tinggi tanaman pada umur 14, 28, 42, 56, dan 70 HST masing masing adalah 6,90; 12,60; 30,90; 41,15; dan 49,27cm (penyerap kapur), dan 8,43; 14,50; 32,25; 42,50; dan 51,80 cm (penyerap Aquastore). Bobot umbi per lubang tanaman 78,60 dan 77,70 g, jumlah siung per lubang tanaman 10,60 dan 10,70 siung, dan diameter umbi lapis anakan 31,90 dan 30,66 cm.ABSTRACT. Soedomo, R.P. 2006. Effect of packaging materials on the keeping quality of seedbulbs, the growth, and yield performance of garlic. Garlic as cooking spices was widely used in Indonesia. Most of the garlic consumed was imported in fact that some potential higlands suitable for planting garlics were ignored. The objectives of the study were to find out the best packaging materials for seed bulbs and its impact to growth and yield in the field. The trial was conducted at the seed laboratory of Indonesian Vegetable Research Institute at Lembang (1,250 m asl) in October 2004-February 2005. The subsequent planting was done in the research field of the institute to observe the performance of the seedbulbs. The experimental design was CRD for storage laboratory study and RCBD for field observation, with a split plot design. There were 7 treatments and 4 replications. The treatments were (1) polyethylene wrap + CaCO3, (2) polyethylene wrap + CaCO3 + O2, (3) polyethylene wrap + Aquastore, (4) polyethylene wrap + Aquastore + O2, (5) polyethylene plastic net, (6) cement paper bag + CaCO3, and (7) cement paper bag + Aquastore. The results showed that the best packaging material was plastic net with seed bulb damages of 9.6%, and storage life of 57 days. The plant height at 14, 28, 42, 56, and 70 days after planting (dap) were 6.00, 12.23, 30.00, 40.75, and 49.0 cm respectively. The yield per plant was 80.80 g. Number of bulblet per bulb was 10.80, and diameter of bulb was 32.10 cm. Cement paper, with absorber materials of limestone and Aquastore showed damages of 12.5 and 11.0% respectively. The keeping quality stood for 62.0 days. The plant height at 14, 28, 42, 56, and 70 dap were 6.90, 12.60, 30.90, 41.15, and 49.27 cm (limestone absorber), and 8.43, 14.50, 32.25, 42.50, and 51.80 cm (Aquastore absorber) respectively. The plant survival in the field were 92.80 and 97.90%. The number of bulblets were 78.60 (limestone) and 77.70 (Aquastore)
Isolasi dan Identifikasi Spesies Fusarium Penyebab Penyakit Layu pada Tanaman Markisa Asam
ABSTRAK. Penyakit layu fusarium merupakan kendala yang amat besar dalam produktivitas tanaman markisa yang menyebar di seluruh Indonesia, khususnya beberapa daerah sentra produksi di Sumatera Utara dan Sulawesi Selatan. Serangan penyakit layu mengakibatkan tanaman lebih cepat mati. Penelitian ini bertujuan (1) mengetahui beberapa spesies fusarium penyebab layu pada tanaman markisa, dan (2) mengetahui sifat dan karakteristik spesies fusarium yang ditemukan. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Penyakit Kebun Percobaan Tongkoh Berastagi mulai Oktober 2004 sampai Februari 2005. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 20 isolat yang diambil dari 5 desa (Salit, Aji Nembah, Tongkoh, Suka Dame, dan Regaji) diperoleh 8 warna biakan yang berbeda pada media PDA setelah dikelompokkan menjadi 8 kelompok, yaitu Kelompok 1 (Ungu), Kelompok 2 (Coklat putih berbelang), Kelompok 3 (Oranye pucat), Kelompok 4 (Coklat), Kelompok 5 (Putih tipis), Kelompok 6 (Merah jambu), Kelompok 7 (Putih tebal), dan Kelompok 8 (Kuning pucat). Hasil identifikasi lanjutan pada media CLA pada 8 warna biakan dari media PDA ditemukan 4 spesies fusarium sebagai penyebab layu pada tanaman markisa asam, yaitu Fusarium oxysporum, F. solani, F. tricintum dan F. poae.ABSTRACT. Saragih, Y.S. and F.H. Silalahi. 2006. Isolation and identification fusarium species causing wilt disease on passionfruit plant. Fusarium wilt disease was the main constraint in passion fruit productivity that spread in Indonesia, especially in some main production areas such as North Sumatera and South Celebes. The objectives of this research were (1) to find out fusarium species that caused wilt disease on passion fruit, and (2) to find out the characteristic of fusarium species that have been obtained. The experiment was conducted in Berastagi Fruits Plant Research Farm, from October 2004 until February 2005. The results showed that from 20 isolates that have been taken from 5 villages (Salit, Aji Nembah, Tongkoh, Suka Dame, dan Regaji) there were 8 distinct colors of culture on PDA. There were Group 1 (Violet), Group 2 (Brown stripped white), Group 3 (Pale orange), Group 4 (Brown), Group 5 (Thin white), Group 6 (Pink), Group 7 (Thick white) and Group 8 (Pale yellow). Result of continuously identification on CLA (carnation leaf agar) culture for to 8 colors of culture from PDA, there were found 4 species of fusarium that caused wilt disease on passion fruit plant, i.e. Fusarium oxysporum, F. solani, F. tricintum and F. poae
Pengaruh Enzim Organik Campuran terhadap Kualitas Bibit Bawang Daun dalam Penyimpanan
ABSTRAK. Kebiasaan penanaman bawang daun oleh petani di Indonesia menggunakan anakan, induk, dan hampir tidak ada yang menggunakan biji. Pengiriman bibit ke luar daerah sering mengalami kerusakan sebelum sampai ke tempat tujuan. Percobaan ini bertujuan mengetahui pengaruh enzim organik campuran guna mengetahui pengaruhnya terhadap daya simpan bibit bawang daun. Percobaan dilakukan di Laboratorium Teknologi Benih Balai Penelitian Tanaman Sayuran di Lembang (1.250 m dpl), Jawa Barat, pada bulan Agustus sampai Desember 2005 untuk penyimpanan dan di lapangan untuk tes pertumbuhan. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap untuk di laboratorium dan acak kelompok untuk di lapangan, dengan model rancangan petak-petak terpisah dengan 3 ulangan. Kombinasi perlakuan ada 24, rincian perlakuan terdiri atas media simpan (petak utama): A (A1= pembanding/tanpa menggunakan media/kering, A2=kontrol/menggunakan air, A3=Dufic 0,1 ml/l air, A4=Dufic 0,2 ml/l air), ukuran bibit (anak petak): B (B1=super/ panjang batang palsu >15 cm dan diameternya >15 mm, B2=medium/panjang batang palsu 10-15 cm, dan diameter batang 10-15 mm dan B3=kecil atau pendek/panjang batang palsu <10cm, dan diameter batang <10 mm), lokasi penyimpanan (anak-anak petak): C (C1=tempat terbuka/greenhouse, C2=tempat tertutup/Laboratorium Benih). Hasil percobaan menunjukkan bahwa bibit bawang daun dapat disimpan maksimum 6 hari dengan syarat batangnya tidak terendam larutan Dufic 508 dosis 0,1 ml/l air dan bibit yang ukurannya besar mampu menstimulir aktivasi metabolisme sel dalam bentuk rendahnya kerusakan bibit dan berpengaruhnya terhadap partumbuhan tinggi tanaman. Interaksi perlakuan terbaik adalah penggunaan Dufic 508 dosis 0,1 ml/l air dan ukuran bibit super yang disimpan di dalam ruangan tertutup.ABSTRACT, Soedomo, R.P. 2006. The effect of organic enzyme mixture on bunching onions planting material quality in storage. Commonly Indonesian farmers use sucker of bunching onion as a planting material and never use seeds. Planting material transportation outside region encountered damages before reached the destination. The objective of this trial was to determine the effect of mixture of organic enzyme (Dufic 508) on bunching onions planting material storage quality. The experiment was carried out in the laboratory of Seed Technology and in the field of Indonesian Vegetable Research Institutes (1,250 m asl), West Java, from August to December 2005. The experimental design was a RBD for seed laboratory study and a RCBD for field test, a split split plot design with 3 replications. The treatment combinations were: keeping media (main plot) (A1=standard/without media/dry, A2=control/used water, A3=Dufic 0.1 ml/l of water, A4=Dufic 0.2 ml/1 of water), B. Planting material size (subplot) (B1=super/length of stem >15 cm and diameter > 15mm, B2 = Medium/length of stem 10-15 cm and diameter 10-15 mm, B3=small or short/stem <10 cm and diameter <10 mm), C. Storage (subsubplot) (C1=open storage/greenhouse, C2=close storage in the seed laboratory). The results showed that the planting material of bunching onion could be kept maximum for 6 days with unsoaked stem, Dufic 508 dosage 0.1 ml/1 liter of water in combination with super size of planting material could stimulate metabolism activation of plant cells described by decreasing of planting material damages and increasing of plant height. Interaction between Dufic 508 with dosage 0.1 ml/l of water, super size of planting material and keep in closed storage was the best
Seleksi Induk Tanaman Bawang Merah
ABSTRAK. Keterbatasan sumber genetik mengakibatkan program pemuliaan pada bawang merah tidak tercapai. Penggunaan induk sebagai bahan pemuliaan, perlu diseleksi dan dievaluasi terlebih dahulu. Percobaan ini bertujuan menyeleksi dan mengevaluasi penampilan fenotifik dan daya adaptasi untuk bahan induk tanaman. Percobaan dilakukan di Kebun Benih Induk Padi Kramat, daerah dataran rendah Kabupaten Tegal, Jawa Tengah pada bulan Oktober s/d Desember 2005 musim kemarau sampai dengan hujan, jenis tanah alluvial, pada ketinggian +5 m dpl. Menggunakan rancangan acak kelompok, jumlah ulangan 5 dan 13 perlakuan. Perlakuan tersebut adalah Ilokos, Bima Brebes, Bauji, Cokol Hijau, Singkil Gajah, Philipina, Timor, Bethok, Tiron, Kuning, Maja, Bangkok Warso, dan Bombay. Hasil menunjukkan bahwa kultivar yang mempunyai potensi sebagai bahan induk adalah kultivar Tiron, Bethok, dan Bima Brebes dengan kemampuan bertahan hidup cukup baik (92,92; 91,2; dan 81,54%), Jumlah anakan cukup banyak (9,90; 5,34; dan 7,24 anakan), jumlah daun tiap rumpun cukup lebat (35,50; 26,18; dan 21,62 helai), pertumbuhan tanaman tidak terlalu tinggi (8,42; 27,20; dan 23,62 cm), ukuran umbi relatif cukup besar dengan diameter umbi (24,2/25,4; 23,6/27,6; dan 22,4/26,6 mm), produksinya cukup tinggi dengan bobot hasil umbi kering per plot 6 m2 (5970,4; 5107,0; dan 4915,20 g), per dapur (92,6; 76,6; dan 76,7 g), dan per ha (9,26; 8,51; dan 8,18 t). Susut bobot cukup sedikit (18,34; 19,03; dan 21,73%), serta ketahanan hama penyakit cukup baik. Dilihat dari penampilan fenotifik secara umum dapat dibagi ke dalam 6–10 kelompok penampilan yang berbeda yang dapat digunakan sebagai bahan induk pemuliaan.ABSTRACT. Soedomo, R.P. 2006. The parent selection of shallots. Limiting genetic sources hindered breeding program of shallot. The breeding materials, must be selected and evaluated. The objective of this trial was to select and evaluate the phenotype and adaptability of shallot for breeding materials. This experiment was conducted at District of Tegal, Central Java (+ 5 m asl), from October to December 2005 (dry to rainy season), at alluvial soil. The experiment was set up in a randomized block design with 5 replications. The varieties of shallot used in this experiment were Ilokos, Bima Brebes, Bauji, Cokol Hijau, Singkil Gajah, Philipina, Timor, Bethok, Tiron, Kuning, Maja, Bangkok Warso, and Bombay. The results of this experiment showed that the potential cultivar for breeding materials were Tiron, Bethok and Bima Brebes cultivars, with survival rate i.e. 92.92; 91,2; and 81,54% respectively, moderate number of bulblet i.e. 9.90; 5.34 and 7.24 bulblet, respectively moderate number of leaf i.e. 35.50; 26.18; and 21.62 respectively, plant height (18.42; 27.20; and 23.62 cm), relatively big bulb size, with diameter 24.2/25.4; 23.6/27.6; and 22.4/26.6 mm respectively), relatively high production was rather yield i.e. dry bulb per plot 5,970.4; 5,107.0; and 4,915.20 g/6 m2 respectively; per hole 92.6; 76.6; and 76.7 g respectively, and per ha: 9.26; 8.51; and 8.18 t respectively. Weight losses was moderate i.e. 18.34; 19.03; and 21.73% respectively, and resistance of pest and diseases were moderate to good. Base on general phenotype appearance there were 6 to 10 groups considered as breeding materials
Perbaikan Produksi Jamur Tiram dengan Modifikasi Bahan Baku Utama Media Bibit
Faktor budidaya jamur tiram yang terpenting adalah aplikasi media bibit induk yang berkualitas. Penelitian dilakukan di laboratorium Ekofisiologi Balai Penelitian Tanaman Sayuran, Lembang (1.250 m dpl.) dari bulan September 2003 sampai Maret 2004.Tujuan penelitian untuk mendapatkan jenis bahan baku media bibit jamur tiram dan lama waktu perebusan yang terbaik sebelum disusun sebagai formula media bibit. Kriteria kualitas media bibit dinyatakan dalam satuan waktu, yaitu kecepatan waktu awal dan waktu akhir miselium tumbuh memenuhi botol wadah media bibit. Rancangan percobaan menggunakan RAK pola faktorial dengan 2 ulangan. Faktor pertama lama waktu perebusan awal bahan baku. Faktor kedua jenis bahan baku utama media terdiri atas 21 jenis. Formula media bibit induk juga menggunakan standar formula petani. Bibit jamur tiram menggunakan spesies Pleurotus ostreatus strain Florida dari Applied Plant Research, Belanda. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa hampir semua jenis bahan baku yang dicoba dapat digunakan sebagai media bibit kecuali biji oat. Bahan baku utama media bibit induk jamur tiram yang terbaik adalah millet + SKG 1:1, yaitu menghasilkan koloni miselium yang kompak, berwarna putih bersih, dan pertumbuhannya konsisten. Bahan baku SKG, beras merah, dan millet tidak perlu direbus, sedangkan oat, wheat, jali lokal tidak dikupas, jali impor, kacang merah, dan kacang hijau perlu direbus selama 15-30 menit.The very important step in oyster mushrooms cultivation is application of high quality of spawn media. The study was conducted at Ecophysiology Lab. Indonesian Vegetables Research Institute in Lembang (1,250 m asl) from September 2003 to March 2004. The goals of this experiment were to get proper kinds of raw materials for spawn media, and the duration of media sterilization. Criteria of good raw materials for spawn media is expressed in minimum total days needed for the growth of mycelium to cover the spawn media (full colonization). A randomized block design with a factorial pattern was set up. The first factor was duration of sterilization by boiling of main raw materials for 0, 15, 30, and 45 minutes, respectively. The second factor was 21kinds of raw materials including formula for spawn media used by farmers. All treatment combinations were replicated 2 times. Oyster mushroom species used in the experiment was white Pleurotus ostreatus strain Florida from Applied Plant Research, Netherlands. Research results revealed that in general almost all kinds of raw materials and their combinations were suitable for spawn media of oyster mushroom, except oat grains. The best raw material for spawn media was millet grains+sawdust 1:1. This combination gave the highest quality of mycelium performance with compact colonization, consistent growth, and very clean-white mycelium. Sawdust, red rice, and millet were the best spawn media and can be used directly, while oat, wheat, local jali, imported jali, red bean, and mungbean can be used through 15-30 minutes sterilization
Analisis Genotip Pohon Induk Jeruk Bebas Penyakit Hasil Perbanyakan Tunas Pucuk dengan Primer RAPD
Uji tepat varietas untuk pohon induk jeruk bebas penyakit diperlukan untuk memastikan kebenaran genotip tanaman yang diperbanyak secara vegetatif. Percobaan dilakukan untuk menganalisis kesamaan genotip pohon induk jeruk bebas penyakit (benih penjenis) hasil perbanyakan vegetatif melalui penyambungan tunas pucuk dari pohon induk tunggalnya menggunakan penanda DNA RAPD. Daun dari tunas muda berumur 20-25 hari diekstrak untuk mendapatkan bulk DNA. Setiap sampel DNA dari setiap varietas diamplifikasi menggunakan 2 primer RAPD dan diseparasi menurut metode elektroforesis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 2 primer RAPD OPN14 dan OPN16 mampu memperlihatkan keseragaman pita DNA benih-benih penjenis dengan induknya. Hasil penelitian ini menegaskan bahwa tidak ada perbedaan genotip antara tanaman yang diperoleh dari protokol pembuatan benih penjenis dengan pohon induk tunggalnya.True variety testing is needed to proof the genotype truth fulness of virus free mother plant that vegetatively multiplied. Study was done to analyze the genotype similarity of virus free mother plant that vegetatively multiplied through shoot tip grafting from the single mother plant using DNA RAPD marker. Leaves from young flush of 20-25 days were extracted in order to find out the bulk DNA. Each DNA sample from each variety was amplified by 2 RAPD primer and separated electrophoretically. The results indicated that 2 RAPD OPN14 and OPN16 primer revealed the uniformity of DNA band of the breeder seeds and the mother plant. The results strongly confirm that there was no genotype differences among the plant generated from standard protocol of producing virus free of citrus breeder seeds and the single mother plant
Pertumbuhan dan Hasil 20 Progeni Kentang Asal Biji Botani di Dataran Tinggi Pangalengan, Jawa Barat
Percobaan untuk mengetahui pertumbuhan dan hasil umbi dari 20 progeni TPS baru dari CIP-Lima, Peru telah dilaksanakan di Desa Padaawas (1.400 m dpl.), Pangalengan, Jawa Barat dari bulan Agustus sampai Desember 2004. Umbi semaian 20 progeni TPS baru, ditanam pada petak-petak percobaan yang diatur dalam rancangan acak kelompok dengan ulangan 4 kali. Kentang kultivar Granola digunakan sebagai kontrol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 4 progeni TPS, yaitu AL-624 x TPS-67, CFK-69-1 x TPS-67, MF-II x C95LB-13.2, dan MF-II x TPS-67 memberikan hasil umbi yang lebih tinggi dibandingkan dengan hasil umbi dari progeni-progeni lainnya. Hasil umbi per tanaman dari keempat progeni TPS tersebut sebanding dengan hasil umbi per tanaman dari kultivar Granola. Dua progeni yaitu AL-624 x TPS-67 dan CFK-69-1 x TPS-67 juga memberikan hasil umbi per ha sebanding dengan hasil umbi per ha kultivar Granola. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai acuan untuk pemilihan progeni TPS dalam menggunakan TPS sebagai alternatif bahan tanam dalam produksi kentang, selain umbi bibit tradisional.An onfarm experiment to determine the plant growth and tuber yields of 20 new TPS progenies from CIP-Lima, Peru was conducted in Padaawas, 1,400 m asl., Pangalengan, West Java from August to December 2004. Seedling tuber of 20 new TPS progenies were grown in the experimental plots, which were arranged in a randomized complete block design with 4 replications. The common cultivar of cv. Granola was used as control. The results indicated that 4 progenies of AL-624 x TPS-67, CFK-69-1 x TPS-67, MF-II x C95LB-13.2, and MF-II x TPS-67 had the higher tuber yields than those of other progenies. These 4 progenies had comparable tuber yields per plant to that of cv. Granola. Two progenies of AL-624 x TPS-67 and CFK-69-1 x TPS-67 had also comparable tuber yields per ha to that of cv. Granola. The results could be used as a recommendation in order to select TPS progenies as alternative planting material in potato production using TPS other than traditional seed tuber
Perbaikan Produksi Jamur Tiram Pleurotus ostreatus Strain Florida dengan Modifikasi Bahan Baku Utama Substrat
Daya hasil jamur tiram putih masih perlu diperbaiki. Penelitian bertujuan mendapatkan jenis bahan baku alternatif selain serbuk kayu gergaji albasia dengan penambahan bahan aditif berupa bekatul untuk budidaya jamur tiram putih. Percobaan menggunakan rancangan petak terpisah dengan 3 ulangan. Petak utama adalah bekatul konsentrasi 5, 10, 15, dan 20%. Anak petak 13 jenis bahan baku utama substrat. Bibit jamur tiram putih menggunakan spesies Pleurotus ostreatus strain Florida yang diintroduksi dari Applied Plant Research, Belanda. Penelitian dilakukan di Balai Penelitian Tanaman Sayuran , Lembang (1.250 m dpl.), Jawa Barat dari bulan November 2003 sampai Mei 2004. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa aplikasi substrat serbuk kayu gergaji albasia dikombinasikan dengan bekatul 5% menghasilkan bobot segar jamur tiram putih tertinggi, yaitu 2.317,36 g/kg bobot substrat basah dengan efisiensi biologis (EB) 81,03%. Hasil tersebut dicapai selama 65 hari masa berproduksi dengan jumlah panen 12 kali. Selain serbuk kayu gergaji (SKG) albasia, bahan baku substrat berupa SKG campuran, daun pisang kering, jerami padi, rumput alang-alang, dan bagas/ampas tebu dengan penambahan bekatul antara 5-15%, juga merupakan bahan baku alternatif yang dapat digunakan sebagai baku substrat untuk budidaya jamur tiram putih. Hasil bobot segar jamur tiram dari berbagai jenis bahan baku alternatif, yaitu antara 600 sampai 1.200 g/kg bobot basah substrat dengan nilai EB antara 10 sampai 35%The goal of this experiment was to find out alternatively suitable materials for substrates other than sawdust combined with the application of rice bran as additive materials. A split plot design with 3 replications was set up. Main plot was rice bran concentrations of 5, 10, 15, and 20%, respectively. Subplot was 13 kinds of substrate materials. The experiment was carried out at Indonesian Vegetable Research Institute in Lembang (1,250 m asl), West Java from November 2003 to May 2004. Oyster mushroom species used in the experiment was Pleurotus ostreatus strain Florida from Applied Plant Research, The Netherlands. The results of the experiment revealed that application of sawdust albizia in combination with 5% of rice bran produced the highest fresh yield of white oyster mushroom, viz. 2 317.36 g/kg wet substrate with biological efficiency (BE) of 81.03%. This yield was produced during 65 days with 12 times of total number of harvests. Other kinds of substrates, viz. mixed sawdust, dry banana leaves, rice straw, sedge grass leaves, and sugar cane bagasse in combination with rice bran of 5 to 15%, could be applied as alternative substrate materials other than sawdust of albizia for cultivating white oyster mushroom. The yield of fresh oyster mushroom using those kinds of alternative substrates mentioned, viz. 600 to 1,200 g/kg wet substrate with BE of 10 to 35%
Karakterisasi Patogen CVPD pada Tanaman Jeruk dan Vektor CVPD Menggunakan Teknik Polymerase Chain Reaction
ABSTRAK. Penyakit CVPD yang disebabkan oleh bakteri Liberobacter asiaticum merupakan penyakit yang paling merusak pada tanaman jeruk di banyak negara penghasil jeruk di Asia dan Afrika. Fragmen 16S rDNA patogen CVPD dideteksi pada daun-daun jeruk yang terinfeksi CVPD dengan berbagai tipe gejala menggunakan teknik PCR. Penelitian bertujuan mendeteksi keberadaan patogen CVPD pada tanaman jeruk dan vektor di Malaysia dan Indonesia menggunakan teknik PCR. Penelitian di lakukan di laboratorium Penyakit Tanaman dan Biologi Molekular, Universitas Putra Malaysia dari bulan Januari - September 2001. Sampel daun dari pohon jeruk terinfeksi CVPD dikumpulkan dari beberapa sentra jeruk yaitu Bertam Valley, Serdang, dan Marang (Malaysia), serta Jeneponto, Sidrap, dan Selayar (Sulawesi Selatan, Indonesia). Hasil penelitian menunjukkan bahwa 4 tipe gejala khas penyakit CVPD yang ditemukan adalah belang-belang (tipe I), klorosis sedang dengan tulang daun hijau (tipe II), klorosis keras dengan tulang daun hijau (tipe III), dan klorosis dengan tulang daun menguning (tipe IV). Tipe gejala II dan III paling banyak ditemukan pada pohon jeruk terinfeksi, kemudian diikuti tipe I. Fragmen 16S rDNA patogen CVPD pada ukuran yang diharapkan, yaitu 1160 pb, dideteksi pada setiap tipe gejala yang dikumpulkan dari semua daerah sentra. Fragmen ini juga dideteksi pada vektor CVPD (Diaphorina citri) yang dikumpulkan dari pohon jeruk yang terinfeksi CVPD. Analisis enzim restriksi DNA yang teramplifikasi menunjukkan bahwa patogen CVPD di Malaysia dan Indonesia adalah spesies L. asiaticumABSTRACT. Asaad, M. 2006. Detection of greening organisms in citrus plants and vector by polymerase chain reaction technique. Greening disease caused by greening organism (GO: L. asiaticum) is one of the most destructive disease of citrus in many parts of Asia and Africa. The 16S rDNA fragments of the GO were detected by PCR technique in leaves of infected mandarin trees showing one of the various typical symptoms. The objective of the experiment was to detect the presence of GO on citrus plants and vectors in Malaysia and Indonesia by PCR. The experiment was conducted in Phytopathology and Molecular Biology Laboratory, University of Putra Malaysia from January to September 2001. Leaves were collected from GO-infected mandarin trees at Bertam Valley, Serdang, Marang (Malaysia), and Jeneponto, Sidrap, and Selayar (South Sulawesi, Indonesia). Results of experiment indicated that 4 kinds of symptoms, namely mottling (type I), mild chlorosis with green vein (type II), severe chlorosis with green vein (type III), and vein yellowing (type IV) on leaves were observed in GO-infected mandarin trees. Symptoms of types II and III were the most common found in mandarin trees, followed by type I. The 16S rDNA fragments of the GO in expected size of 1160 bp were detected in each of the typical symptoms (type I, II, III) collected from each citrus area. These fragments were also detected in an insect vector (D. citri) collected from GO-infected mandarin trees. Restriction enzyme analysis of amplified DNA revealed that GO in Malaysia and Indonesia was L. asiaticum
Komposisi dan Konsentrasi Senyawa dalam Minyak Atsiri Jeruk Manis dan Jeruk Besar terhadap Perkembangan Tungau Panonychus citri McGregor
Tungau Panonychus citri (Acarina: Tetranychidae) adalah salah satu hama penting yang menyerang tanaman jeruk di Indonesia. Salah satu kunci sukses untuk mengendalikan populasi P. citri adalah memahami interaksi hama ini dengan inangnya. Namun demikian, informasi dalam bidang ini masih sangat terbatas. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan pengaruh minyak atsiri dari kulit buah jeruk manis dan jeruk besar terhadap perkembangan dan kemampuan reproduksi tungau P. citri serta mengidentifikasi faktor penyebabnya. Penelitian dilakukan di Laboratorium Loka Penelitian Jeruk, Tlekung-Batu, Malang dan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta mulai bulan Februari sampai Juli 2003. Perlakuannya adalah beberapa konsentrasi minyak atsiri, yaitu 10, 20, 40, 80 ppm, serta parafin dan kontrol. Tiap perlakuan diulang 15 kali menggunakan rancangan acak lengkap. Hasil penelitian menunjukkan bahwa minyak atsiri jeruk manis Pacitan dan jeruk besar Nambangan mampu menghambat perkembangan dan menurunkan kemampuan reproduksi tungau P. citri pada kondisi laboratorium. Perkembangan yang terhambat terlihat pada umur pradewasa yang menjadi lebih lama dan umur dewasa lebih pendek dibanding perlakuan parafin dan kontrol. Penurunan kemampuan reproduksi terlihat pada lebih sedikitnya telur yang diletakkan dan menetas dibanding perlakuan parafin dan kontrol. Pengaruh negatif ini disebabkan oleh adanya senyawa limonen yang merupakan senyawa dominan dalam minyak atsiri jeruk. Minyak atsiri jeruk besar Nambangan mempunyai pengaruh negatif yang lebih kuat terhadap perkembangan dan kemampuan reproduksi P. citri dibanding minyak atsiri dari jeruk manis Pacitan. Perbedaan pengaruh tersebut karena perbedaan kandungan senyawa linalool, di mana pada minyak atsiri jeruk besar kandungannya lebih sedikit dibanding pada minyak atsiri jeruk manis. Linalool berperan mengurangi pengaruh negatif yang disebabkan oleh senyawa limonen. Hasil ini mengungkapkan ada peluang lain dalam mengendalikan tungau P. citri, yaitu memanfaatkan senyawa atsiri yang dihasilkan oleh tanaman itu sendiri dengan komposisi tertentu. Panonychus citri is one of the most economically important citrus pests in Indonesia. One of the key success for controlling the population of the pest is understanding the relationship between this mite and its host. However, information in this area is not well understood. The objectives of this research were to evaluate the influences of essential oil extracted from sweet orange and pummelo fruit peels on the development and reproductive capacity of P. citri and to understand the mechanism responsible for the different effects that will be useful to develop management program. The research was conducted in the laboratory from February to July 2003 in Tlekung-Batu, Malang and Gadjah Mada University Yogyakarta. The treatments were 10, 20, 40, 80 ppm of essential oil, parafin and control. Each treatment was replicated 15 times and arranged in a completely randomized design. The results showed that the essential oil extracted from Pacitan sweet orange and Nambangan pummello fruit peels could inhibit the development and reduced the reproductive capacity of P. citri. The essential oils prolonged the life cycle and reduced the fecundity of P. citri. These negative effects were caused by limonene, a dominant compound in the citrus essential oil. The negative effects of essential oil extracted from Nambangan pummelo were found to be more pronounced than that from Pacitan sweet orange. Concentration of linalool was found to be responsible for the differences, and it worked oppositely with limonene by reducing the negative effects of limonene on P. citri. Essential oil of Pacitan sweet orange contained more linalool than pummelo. This result gives an alternative technology to control P. citri by using volatile compounds produced by the plant itself with certain composition