Jurnal Hortikultura
Not a member yet
    543 research outputs found

    Pengaruh Media Regenerasi terhadap Pembentukan Tunas Aksiler dan Adventif pada Philodendron c.v. Moon Light

    Get PDF
    ABSTRAK. Philodendron merupakan tanaman hias daun yang menarik dan banyak digemari oleh konsumen, tetapi pengembangan tanaman ini secara komersial masih dihadapkan pada masalah perbanyakan benih. Studi ini bertujuan mengetahui pengaruh beberapa media regenerasi terhadap induksi tunas aksiler dan adventif, penyiapan plantlet, dan aklimatisasinya. Penelitian dilakukan di Laboratorium Kultur Jaringan dan Rumah Kaca Balai Penelitian Tanaman Hias, Segunung dari bulan November 2004 hingga Mei 2005. Bahan tanaman adalah philodendron c.v. Moon Light. Sebagian percobaan disusun menggunakan rancangan acak lengkap dengan 4 ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media MR-2 yang mengandung 0,2 mg/l BAP + 0,01 mg/l NAA + 15 g/l sukrosa dan 15 g/l glukosa merupakan media regenerasi yang terbaik pada perbanyakan philodendron cv. Moon Light secara in vitro. Media ini mampu menginduksi penggandaan tunas aksiler dan tunas adventif terbaik dibanding media regenerasi yang lain dengan persentase regenerasi mencapai 90% untuk tunas aksiler dan 50% untuk tunas adventif. Produksi tunas mencapai 6,2 tunas per eksplan untuk tunas aksiler dan 3,1 tunas per eksplan untuk tunas adventif. Dengan mengganti agar Swallow dengan gelrite, media ini juga menjadi media terbaik untuk penyiapan plantlet untuk tujuan aklimatisasi, terutama pada tunas yang telah mengalami 4-5 subkultur. Plantlet yang dihasilkan juga mudah diaklimatisasi pada media arang sekam dengan keberhasilan mencapai 94%.ABSTRACT. Winarto, B., S. Rianawati, and D. Herlina. 2007. Effect of Regeneration Media on Axillary and Adventitious Shoot Formation of Philodendron c.v Moon Light. Philodendron is one of fascinating ornamental foliage plants which has high preference from user, but for commercial development of the plant is still faced by big problem on its propagation. The study aimed to find out the effect of regeneration media on axillary and adventitious shoot induction, plantlet preparation, and its acclimatization. The research was conducted at Tissue Culture Laboratory and Glass-house of Indonesian Ornamental Crop Research Institute from November 2004 till May 2005. Philodendron cv. Moon Light was used as a donor plant. A part of the experiment was arranged in completely randomized design with 4 replications. Results of this study indicated that MR-2 medium was the appropriate medium for in vitro propagation of the plant. The medium was able to induce the highest axillary and adventitious shoot multiplication compared to others with high percentage of shoot regeneration up to 90% for axillary shoots and 50% for adventitious shoots. Shoot production was up to 6.2 per explant for axillary shoot and 3.1 per explant for adventitious shoot. By changing Swallow agar with gelrite was the best medium for plantlet preparation, especially in 4-5 subcultured-shoots for acclimatization purposes. Plantlets resulted from this experiment were easily acclimatized on burn-rice husk with 94% survivability

    Pengaruh NAA dan BAP terhadap Pertumbuhan Jaringan Meristem Bawang Putih pada Media B5

    Get PDF
    ABSTRAK. Penelitian telah dilaksanakan di Laboratorium Kultur Jaringan Balai Penelitian Tanaman Sayuran, Lembang dari bulan Juni-Oktober 2004. U��������������������������������������������������������������Untuk mengetahui interaksi antara NAA dan BAP dalam beberapa konsentrasi yang berbeda terhadap jumlah daun, tinggi plantlet, dan jumlah akar dari penumbuhan jaringan meristem bawang putih kultivar Lumbu Hijau. Rancangan yang dipergunakan acak lengkap faktorial, setiap perlakuan menggunakan tanaman dalam 20 tabung reaksi dengan volume media 3 ml. Perlakuan yang diuji adalah penanaman jaringan meristem varietas Lumbu Hijau pada media dasar B5, NAA (0, 2,5, 5,0, 7,5, dan 10 mg/l), BAP (0, 2,5, 5,0, 7,5, dan 10 mg/l). Setelah jaringan meristem tumbuh dan berkembang, plantlet ditransfer ke media B5 ditambah zat pengatur tumbuh IAA 8 mg/l dan Kinetin 2,5 mg/l. Hasil analisis statistik terdapat interaksi antara perlakuan zat pengatur tumbuh NAA dan BAP terhadap jumlah daun, tinggi plantlet, dan jumlah akar per plantlet. Hasil terbaik dari masing-masing peubah yaitu perlakuan tanpa NAA dengan BAP 2,5-7,5 mg/l untuk jumlah daun, tanpa NAA dengan BAP 2,5 mg/l untuk tinggi plantlet dan NAA 2,5 mg/l dengan BAP 2,5 mg/l untuk jumlah akar per plantlet.ABSTRACT. Karjadi, A.K. and Buchory A. 2007. The Effe ct of NAA and BAP on Me ristem Growt h of Garlic in B5 Me dium. The experiment was conducted in Tissue Culture Laboratory of Indonesian Vegetable Research Institute from June-October 2004. The experiment design was RCD factorial with 20 test tubes per treatment, each test tube consist of 3 ml medium. The treatments were garlic meristem of cv. Lumbu Hijau, planted in B5 medium with supplement NAA (0, 2.5, 5.0, 7.5, and 10 mg/l), BAP (0, 2.5, 5.0, 7.5, and 10 mg/l). After the meristem have been proliferated then transfered to B5 medium with hormone IAA 8 mg/l and Kinetin 2.5 mg/l. The results indicated that there were interaction between treatment NAA and BAP on leaf number, plantlet height, and root number per plantlet. The best results were NAA 0 mg/l with BAP 2.5-7.5 mg/l for leaf number, NAA 0 mg/l with BAP 2.5 mg/l for plant height; NAA 2.5 mg/l with BAP 2.5 mg/l for number of roots per plantlets, respectively

    Potensi Individu Amblyseius deleoni et Denmark sebagai Predator Hama Tungau Panonychus citri McGregor pada Tanaman Jeruk

    Get PDF
    ABSTRAK. Panonychus citri merupakan salah satu hama penting pada tanaman jeruk. Pengendalian terhadap populasi hama tungau ini perlu dilakukan untuk menekan kehilangan hasil pada tanaman jeruk. Salah satu alternatif pengendalian yang perlu dikembangkan adalah pemanfaatan musuh alami. Penelitian ini bertujuan mengetahui potensi individu A. deleoni pemangsa hama P. citri. Penelitian dilaksanakan pada bulan Agustus 1999-Januari 2000 di Laboratorium Entomologi Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika, Tlekung. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap dengan 6 perlakuan dan 10 ulangan. Perlakuannya adalah A. deleoni diberi mangsa (1) telur, (2) larva, (3) nimfa, (4) imago, dan (5) campuran stadia P. citri, serta (6) tepungsari bunga pepaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa A. deleoni mampu memangsa P. citri. Individu A. deleoni mampu memangsa telur, larva, nimfa, imago, dan campuran stadia P. citri berturut-turut sebanyak 1,80-2,16 butir/hari, 1,08-2,22 ekor/hari, 0,70-1,52 ekor/hari, 0,47-1,08 ekor/hari, dan 1,15-2,93 ekor/hari. Lama stadia pertumbuhan A. deleoni pada stadia mangsa yang berbeda tidak menunjukkan perbedaan nyata terhadap tingkat pemangsaan. Jumlah telur yang diletakkan oleh A. deleoni dewasa terbanyak adalah pada perlakuan mangsa telur, yaitu 14,40 butir. Jumlah keturunan F1 terbanyak dari A. deleoni terjadi pada perlakuan mangsa telur, yaitu 11,52 ekor. Hasil ini menunjukkan adanya alternatif predator yang dapat digunakan untuk mengendalikan populasi P. citri pada tanaman jeruk.ABSTRACT. Setyobudi, L., M. Istianto, and O. Endarto. 2007. Individual Potency of Amblyseius deleoni et Denmark as Predator of Panonychus citri McGregor on Citrus. Panonychus citri is one of the most economically important citrus pests in Indonesia. Controlling to this pest population is needed to suppress the crop losses of citrus production. One of the technologies to control mite population is by applying natural enemies. The objective of this research was to evaluate the individual potency of A. deleoni to prey P. citri. The research was arranged in a completely randomized design with 6 treatments and 10 replications This research was conducted from August 1999 to January 2000 in Laboratory of Entomology of Indonesian Citrus and Subtropic Fruit Research Institute Tlekung. The treatments were A. deleoni put in the several stages of P. citri lifecycle i.e. (1) eggs, (2) larva, (3) nymph, (4) adult, (5) mixed stages of P. citri, and (6) pollens of papaya. The results showed that A. deleoni had a potency to prey P. citri. During the treatments, individual of A. deleoni was able to prey 1.80-2.16 eggs/day, 1.08-2.22 larvae/day, 0.70-1.52 nymphs/day, 0.47-1.08 adults/day, 1.15-2.93 mixed stages of P. citri/day. The treatments tended not to have significant influence to longevity of A. deleoni. The largest number of eggs and first generation of A. deleoni found in the treatment of eggs of P. citri as a prey i.e. 14.40 and 11.52 respectively. This results gives an alternative predator that can be used to control the population of P. citri on citrus

    Kebutuhan Pupuk Npk Optimum Bawang Bombay di Dataran Tinggi

    Get PDF
    Tanaman bawang Bombay membutuhkan ketersediaan unsur hara NPK di dalam tanah dalam jumlah yang cukup dan berimbang. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan dosis pupuk NPK yang optimum untuk 2 kultivar bawang Bombay introduksi di dataran tinggi. Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan Balai Penelitian Tanaman Sayuran Lembang, 1.250 m dpl dengan jenis tanah andisol. Rancangan percobaan menggunakan petak terpisah dengan 3 ulangan. Kultivar bawang bombay asal Australia yaitu E-515 dan Z-512 ditempatkan sebagai petak utama, sedangkan 14 kombinasi dosis N-P2O5-K2O ditempatkan sebagai anak petak. Kisaran dosis pupuk N, P, dan K adalah 75-375 kg/ha N, 75-375 kg/ha P2O5 dan 75-375 kg/ha K2O. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan tanaman dan hasil umbi bawang bombay kultivar E-515 dan Z-512 mempunyai respons yang tidak berbeda terhadap dosis pupuk N, P, dan K. Dosis pupuk N, P, dan K yang optimum untuk kedua kultivar bawang bombay introduksi adalah 137 kg/ha N, 160 kg/ha P2O5, dan 195 kg/ha K2O. Hasil penelitian ini dapat digunakan untuk meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk dan hasil tanaman bawang bombay.Onion plants need balance of NPK nutrient supply in soil. This experiment was conducted at Experimental Garden of Indonesian Vegetables Research Institute Lembang, 1,250 m asl with andisol soil type, to find out the optimum dosage of NPK fertilizer application for 2 introduced onion cultivars in highland. A split plot design with 3 replications was used. Two introduced onion cultivars from Australia (E-515 and Z-512) were assigned to main plot, and 14 combination of NPK dosages were assigned to subplot. The range of N, P, K dosages were 75-375 kg/ha N, 75-375 kg/ha P2O5 and 75-375 kg/ha K2O. The results revealed that both onion cultivars No. E-515 and No. Z-512 did not give different respons to NPK fertilization, expressed in the vegetative growth and bulb yield. The optimum dosage of NPK for both cultivars was 137 kg/ha N, 160 kg/ha P2O5 and 195 kg/ha K2O. The results can be applied to increase the efficiency of NPK fertilization on the introduced short-day onion

    Pengendalian Lalat Pengorok Daun pada Tanaman Kentang Menggunakan Pestisida Biorasional Dirotasi dengan Pestisida Sintetik secara Bergiliran

    Get PDF
    ABSTRAK. Percobaan lapang telah dikerjakan di kebun percobaan Margahayu (elevasi 1250 m dpl.), Lembang, Bandung, Jawa Barat dari bulan Agustus sampai November 2002, dengan tujuan mencari metode pengendalian alternatif terhadap lalat pengorok daun Liriomyza huidobrensis pada tanaman kentang. Percobaan digelar menggunakan rancangan acak kelompok dengan 7 perlakuan, ulangan 4 kali. Pestisida biorasional Phrogonal (866) diaplikasikan baik secara tunggal maupun diselang-seling (digilir) dengan pestisida sintetik Pyrethroid 2,5 EC 0,2% dengan skema rotasi yang bervariasi untuk mengendalikan L. huidobrensis pada kentang. Phrogonal (866) adalah campuran ekstrak kasar dari Tephrosia candida 8 bagian berat (bb) + Andropogon nardus 6 bb + Alpinia galanga 6 bb. Hasil percobaan memberi indikasi bahwa pestisida biorasional Phrogonal (866) diaplikasikan secara tunggal 8 kali berkesinambungan selama periode budidaya kentang terbukti paling efektif mengendalikan lalat pengorok daun L. huidobrensis. Meskipun begitu, apabila Phrogonal tersebut diaplikasikan berselang-seling dengan pestisida sintetik Pyrethroid 2.5 EC 0.2% dengan skema yang bervariasi, efikasi dari perlakuan tersebut sama efektifnya dengan aplikasi Pyrethroid 2.5 EC 0,2% tunggal 8 kali berkesinambungan. Hasil penelitian ini sangat mendukung penemuan sebelumnya bahwa pestisida biorasional Phrogonal (866) adalah pestisida yang sangat efektif dan dapat menggantikan pestisida sintetik dalam upaya mengurangi aplikasi berlebihan dari barang beracun tersebut.ABSTRACT. Suryaningsih, E. 2006. The control of leafminer fly on potato using biorational pesticide rotated with synthetic pesticide alternately. In order to determine an alternative control method of leafminer fly Liriomyza huidobrensis on potatoes, a field experiment was carried out at Margahayu research station (elevation 1,250 m), Lembang, Bandung, West Java from August to November 2002. The experiment was set up in a randomized block design with 7 treatments, and 4 replications. Biorational pesticide Phrogonal (866) was applied singly or alternated with synthetic pesticide Pyrethroid 2.5 EC 0.2%, with varied rotation to control L. huidobrensis on potato. Phrogonal (866) was simply crude extract mixture of Tephrosia candida 8 weight parts (wp) + Andropoghon nardus 6 wp + Alpinia galanga 6 wp respectively. Detail explanation of the treatments were presented elsewhere. The results of the experiment indicated that biorational pesticide Phrogonal (866) when applied singly eight times continuously during the periode of potato cultivation was found to be the most effective to control leafminer fly L. huidobrensis. However, when Phrogonal (866) was applied alternately with synthetic pesticide Pyrethroid 2.5 EC in varied schemes, the efficacy of those treatments were as effective as Pyrethroid 2.5 EC 0.2% applied singly eight times continuously as well. The results of this experiment strongly support previous findings that biorational Phrogonal (866) is a very effective pesticide and was able to replace synthetic pesticides in order to reduce the excessive application of this toxic material

    Karakteristik Buah Pisang Lahan Rawa Lebak Kalimantan Selatan serta Upaya Perbaikan Mutu Tepungnya

    Get PDF
    Penelitian bertujuan untuk mengetahui karakteristik buah pisang mentah dari pertanaman di lahan rawa lebak Kalimantan Selatan, serta teknologi perbaikan mutu dan daya simpan gaplek dan tepung pisang. Penelitian dilakukan di Laboratorium Fisiologi Hasil, Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa, Banjarbaru, pada bulan Juli-Desember 2002. Rancangan percobaan acak kelompok faktorial. Faktor I adalah dua varietas pisang (kepok dan awa). Faktor II adalah teknik pengirisan buah pisang, yaitu (1) sawut membujur, bagian tengah dibuang (cara petani), (2) iris tipis membujur, (3) sawut melintang, (4) iris tipis melintang, (5) iris tipis diagonal. Buah pisang dipilih pada tingkat kemasakan mature green (hijau tapi tua), buah masih keras dan kulit hijau. Setelah karakterisasi mutu buah pisang, dilakukan pembuatan gaplek dan tepung pisang serta penyimpanan dalam bentuk gaplek dan tepung menggunakan pengemas kantong plastik PE tebal 0,04 mm rangkap dua, selama 5 bulan penyimpanan pada kondisi kamar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pisang kepok dan awa dari pertanaman di lahan rawa lebak, mempunyai berat tandan antara 4,12-18,5 kg (pisang kepok), lebih besar daripada awa (2,1-8,8 kg). Namun, pisang kepok mempunyai kulit lebih tebal (44,35%) daripada pisang awa (33,28%), sehingga persentase daging buah (55,65%) lebih sedikit daripada awa (66,72%). Kadar air, pati, gula total buah pisang kepok masing-masing sebesar 59,83; 24,01 dan 4,16% bb (basis basah), pisang awa masing-masing sebesar 62,87; 20,07; dan 9,99% bb. Teknik iris tipis diagonal menghasilkan rendemen lebih tinggi dan meningkat sebesar 7,88% dari cara petani dengan teknik sawut bagian tengah dibuang. Selama 5 bulan penyimpanan, terjadi peningkatan kadar air sebesar 3,19% bb untuk gaplek dan 1,07% bb untuk tepung. Implikasinya, guna pengembangan industri tepung pisang khususnya di lahan rawa lebak Kalimantan Selatan, pengolahan tepung pisang disarankan pengirisan buah dengan teknik iris tipis, kemudian tepung pisangnya dapat disimpan cukup lama dalam kantong plastik.Characteristic of banana fruit origin from monotonous swampland in South Kalimantan and the efforts to improve the quality of banana flour. The objectives of the research were to find out the characteristics of mature green banana fruit origin from banana plantation in monotonous swampland in South Kalimantan, and technology to improve the quality and storage of dried banana chip (gaplek) and banana flour. This research conducted in Postharvest Laboratory, Research Institute for Swampland Agriculture, Banjarbaru, South Kalimantan, on July-December 2002. The treatment arranged in factorial randomized block design, with three replications. The first factor was two banana varieties (kepok and awa). The second factor was slicing techniques of banana fruit, they are (1) shredded in lengthwise, discard the fruit core (farmer technique); (2) sliced in lengthwise; (3) shredded in crosswise; (4) sliced in crosswise; and (5) sliced in diagonal shape. Mature green banana fruit was choosen for flour processing. After characterization, the fruit was processed to dried banana and flour. The dried banana and flour were stored using double PE plastic bag 0.04 mm thickness for 5 months at ambient conditions. The results showed that, fruit bunch weight of kepok was 4.12-18.5 kg, heavier than awa (2.1-8.8 kg). Kepok has thicker fruit skin (44.35%) compared to awa (33.28%). Therefore the flesh of kepok is 55.65% lower than awa (66.72%). The moisture, starch, and total sugar of kepok were 59.83; 24.01, and 4.16% wb (wet basis), respectively, and awa were 62.87; 20.07, and 9.99% wb, respectively. Diagonal shape of slicing technique produced higher yield recoveries of banana flour 7.88% higher compare to farmer technique. The quality of dried banana and flour on 5 months storage, still moderately good, and the moisture content increased as much as 3.19% wb for dried banana and 1.07% wb for banana flour. The implication is to develop banana flour industry espesialy at monotonous swampland area in South Kalimantan, it is suggested to use diagonal slices technique, and store the banana flour in plastic bag

    Pertumbuhan, Hasil, dan Kelayakan Finansial Penggunaan Mulsa dan Pupuk Buatan pada Usahatani Cabai Merah di Luar Musim

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pertumbuhan, hasil, dan kelayakan finansial penggunaan mulsa dan pupuk buatan pada usahatani cabai merah di luar musim. Percobaan dilaksanakan di Kebun Percobaan Margahayu, Balai Penelitian Tanaman Sayuran Lembang, Bandung, Jawa Barat (±1.250 m dpl) pada musim hujan (Oktober 1999 – Juli 2000). Rancangan percobaan menggunakan petak terpisah. Mulsa sebagai petak utama dan sebagai anak petak adalah dosis pemupukan berimbang, serta ulangan 3 kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, tidak terjadi interaksi yang nyata antara mulsa plastik hitam perak dan dosis pupuk (NPK) terhadap pertumbuhan dan hasil cabai. Secara independen, penggunaan mulsa plastik hitam perak dapat meningkatkan jumlah buah sehat per tanaman, bobot buah sehat per tanaman, dan bobot buah sehat per petak secara nyata. Penggunaan mulsa plastik hitam perak juga dapat menekan serangan Thrips, namun tidak berpengaruh terhadap kerusakan akibat serangan ulat grayak, Spodoptera litura. Penggunaan ketiga dosis pupuk (NPK) yang diuji tidak memberikan perbedaan yang nyata terhadap jumlah buah sehat per tanaman, bobot buah sehat per tanaman, bobot buah sehat per petak, dan tidak berpengaruh terhadap kerusakan tanaman cabai oleh Thrips dan S. litura. Secara teknis penggunaan mulsa plastik hitam perak dan dosis pupuk (150 kg N/ha + 150 kg P2O5/ha + 150 kg K2O/ha) memberikan hasil produksi cabai yang tinggi (147,36 kg per 220 m2) dan efisien dari segi penggunaan pupuk. Secara ekonomis hasil analisis anggaran parsial juga menunjukkan bahwa perlakuan tersebut merupakan perlakuan yang paling menguntungkan, ditunjukkan oleh tingkat pengembalian marjinalnya paling tinggi (557,51%). Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai teknologi alternatif untuk usahatani cabai merah di luar musim.The objectives of this experiment were to assess the growth, yield, and financial feasibility of the use of mulch and inorganic fertilizer on hot pepper off-season cultivation. The experiment was conducted in Margahayu Experimental Garden, Indonesian Vegetable Research Institute, Lembang, Bandung, West Jawa (± 1,250 m asl) by using split plot design. Mulch was designed as main plot, while balanced-fertilization was arranged as subplot. Each combination was repeated 3 times. Results indicated that there was no significant interaction between the use of black-silver plastic mulch and (NPK) fertilizer dosages. Independently, the use of black-silver plastic mulch could significantly increase the number and weight of healthy fruits per plant, and the weight of healthy fruits per plot. The use of black-silver plastic mulch could also suppress the infestation by Thrips, but unable to prevent yield loss caused by Spodoptera litura. The three dosage levels of (NPK) fertilizer did not show any significant effects to the number and weight of healthy fruits per plant, and the weight of healthy fruits per plot. Furthermore, these treatments also did not show any relationships with yield loss caused by Thrips and S. litura. Technically, the use of plastic mulch and fertilizer (150 kg N/ha + 150 kg P2O5/ha + 150 kg K2O/ha) provided a relatively high yield (147.36 kg per 220 m2) and indicated high efficiency of fertilizer use. Meanwhile, partial budget analysis also showed that such treatment provided the highest profit as indicated by highest of marginal return (557.51%). It suggests that this technological component may be used as an alternative agronomic practices in hot pepper off-season cultivation

    Virulensi dan Ras Ralstonia solanacearum pada Pertanaman Kentang di Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat

    Get PDF
    ABSTRAK. Tujuan penelitian mengetahui virulensi dan ras bakteri patogen Ralstonia solanacearum, pada pertanaman kentang di Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Penelitian dilaksanakan pada bulan Januari-Desember 2001 di 83 lokasi dari 13 desa. Pengumpulan sampel tanah, tanaman, dan umbi kentang menggunakan metode Kiraly. Pengujian NCM Elisa dengan metode Sylvie Priouw. Kemampuan R.solanacearum mengoksidasi 6 karbohidrat dan uji patogenisitas menggunakan metode AVRDC. Hasil penelitian menunjukkan bahwa isolat R. solanacearum mempunyai sifat virulensi yang berbeda. Hasil uji patogenisitas bakteri ini sangat virulen pada famili solanaceae tomat dan kentang tetapi kurang virulen pada tanaman cabai, jahe, dan terung. Hasil uji kemampuan bakteri dalam mengoksidasi 6 jenis karbohidrat menunjukkan bahwa semua isolat yang dikoleksi dari 13 desa tergolong dalam 2 grup, yaitu bakteri ras 1 biovar III yang berasal dari sampel tanah dan ras 3 biovar II untuk bakteri yang dikoleksi dari sampel tanaman dan umbi kentang.ABSTRACT. Gunawan, O.S. 2006. Race and virulence of Ralstonia solanacearum in potato growing at Pangalengan,West Java. Research was conducted on January-December 2001. Samples of soil, infected plants, and tuber of potato were collected from 83 sites in 13 villages using the Kiraly method. Nitro cellular membrane Elisa test was done using Sylvie Priouw (1996) method. The ability of R. solanacearum to oxydize 6 kinds of carbohydrates and pathogenicity test were done by AVRDC method. The results shown that virulence of R. solanacearum isolates were different among locations. Pathogenicity test of those bacteria shown high virulence in solanaceae family such as tomatoes and potatoes but less virulence in pepper, eggplant, and ginger. Based on the ability of bacteria to oxydize 6 kinds of carbohydrates, all isolates collected from 13 villages were belong to 2 groups, i.e. ras 1 biovar III from soil samples, and race 3 biovar II from plants and potato tubers

    Pengaruh Jenis dan Perbandingan Pelarut terhadap Hasil Ekstraksi Minyak Atsiri Mawar

    Get PDF
    ABSTRAK. Penelitian bertujuan mendapatkan jenis dan perbandingan pelarut yang tepat dalam upaya mendapatkan rendemen concrete dan minyak mawar berkadar tinggi dengan mutu prima. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Fisiologi Tanaman Balai Penelitian Tanaman Hias, Pasarminggu, Jakarta. Mawar American Beauty, diekstraksi dengan jenis pelarut (heksan, petroleum eter, dan metil isobutil keton) dengan perbandingan bunga dan pelarut (1:1, 1:2, dan 1:3) selama 12 jam. Pengambilan filtrat melalui penyaringan dan pemerasan. Ekstrak dievaporasi vakum untuk mendapatkan concrete. Concrete yang diperoleh dilarutkan dengan etanol 96% dan diuapkan kembali untuk mendapatkan minyak mawar (absolut). Parameter yang diamati adalah rendemen concrete dan absolut, indeks bias, dan komponen penyusun minyak. Rancangan penelitian menggunakan acak lengkap pola faktorial dengan 3 ulangan. Hasil penelitian terbaik menunjukkan bahwa rendemen concrete dan rendemen absolut pada jenis pelarut metil isobutil keton dengan perbandingan bunga dan pelarut 1:3, masing-masing 1,35 dan 0,74%. Mutu minyak mawar yang dihasilkan mempunyai indeks bias 1,49 dan mengandung komponen penyusun minyak atsiri dengan 6 komponen sudah diidentifikasi, yaitu fenil etil alkohol, citronellol, geraniol, metil eugenol, α-pinena, dan β–pinena.ABSTRACT. Amiarsi, D., Yulianingsih, and Sabari S.D. 2006. The effect of kinds and composition of solvent on the yield of rose essential oil. The objective of the study was to find out the best kind and composition of solvent for extraction of rose essential oil with good quality and quantity of concrete and absolute. The treatments were extraction by dipping flower in 3 kinds of solvent (hexane, petroleum ether, andisobuthyl ketone) with composition of flower-solvent (1:1, 1:2, and 1:3) for 12 hours. Solution was separated by filtering and manual pressing. Extract was vacuum evaporated to produce concrete. Concrete was dissolved in ethanol 96% and vacuum evaporated to get absolute rose essential oil. Observations were done on the yield of concrete and absolute, refraction index of absolute, and the composition of essential oil. The experiment was arranged in a factorial completely randomized design with 3 replications. The results indicated that the highest concrete and absolute rendement was obtained by methyl isobuthyl ketone solvent with composition of 1:3 flower-solvent, i.e. 1.35% and 0.74% respectively. Rose essential oil showed good quality with refraction index of 1.49 and 6 component of essential oil were identified, i.e. fenyl ethyl alcohol, citronellol, geraniol, methyl eugenol, α-pinena, and β–pinena

    Peningkatan Pertumbuhan dan Mutu Alpinia purpurata melalui Pupuk P dan K

    Get PDF
    ABSTRAK. Alpinia purpurata merupakan salah satu komoditas tanaman hias tropis yang termasuk baru dari famili Zingiberaceae. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh pupuk P dan K dalam memacu pertumbuhan vegetatif dan generatif A. purpurata. Penelitian dilaksanakan di rumah sere KP. Segunung, Balai Penelitian Tanaman Hias mulai bulan September 2004 sampai dengan Agustus 2005. Rancangan percobaan menggunakan acak kelompok pola faktorial dengan 2 faktor dan 3 ulangan. Pemupukan P (0, 36, 72) kg P2O5/ha) sebagai faktor pertama dan pemupukan K (0, 60, 120, 180) kg K2O/ha sebagai faktor kedua. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada interaksi antara pemberian pupuk P dan K terhadap pertumbuhan tanaman A. purpurata. Namun pemberian pupuk K (60 kg K2O/ha) meningkatkan produksi bunga/plot tertinggi (27,33 tangkai) pada bulan Februari 2005 demikian pula K 120 kg K2O/ha) nyata meningkatkan diameter bunga mekar tertinggi (3,97 cm). Sedangkan pemberian K nyata meningkatkan panjang daun (25,30 cm) dan diameter bunga mekar (3,97 cm).ABSTRACT. Utami, P.K., R. Tedjasarwana, and D. Herlina. 2006. Growth and flower quality improvement of A. purpurata through fertilization application of phosphate and potassium. Alpinia purpurata is one of the new tropical ornamental plants from Zingiberaceae family. The objective of the experiment was to determine the effect phosphate and potassium fertilizer application on promoting vegetative and generative growth of Alpinia. The experiment was conducted in the screenhouse at Segunung field station (1,100 m asl) at Indonesian Ornamental Crops Research Institute, Cianjur, from September 2004 to August 2005. The plots were arranged in a factorial completely randomized design with 3 replications and 2 factors. The first factor comprised of 3 level phosphate dosage i.e. 0, 36, 72 kg P2O5/ha. The second factor consisted of 4 level potassium dosage i.e. 0, 60, 120, and 180 kg K2O/ha. The results showed that there was no significant interaction between phosphate and potassium fertilizer application, but the use 60 kg K2O/ha increased of flower production on February 2005. K120 kg K2O/ha significantly increased of opened flower diameter (3.97 cm), and flower bud diameter (1.17 cm). Mean while, K application at 120 kg K2O and 60 kg K2O significantly increased the leaf length and mature flower (3.97 cm)

    509

    full texts

    543

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Hortikultura
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇