Jurnal Hortikultura
Not a member yet
    543 research outputs found

    Keefektifan Entomopatogen Hirsutella citriformis (Deuteromycetes: Moniliales) pada Kutu Psyllid Diaphorina citri Kuw.

    Get PDF
    ABSTRAK. Diaphorina citri Kuw. (Homoptera:Psylidae) adalah salah satu hama penting pada tanaman jeruk dan merupakan vektor penyakit CVPD. Diaphorina citri dapat dikendalikan dengan insektisida, predator, parasitoid, dan patogen serangga. Pengendalian dengan patogen serangga, khususnya dengan entomopatogen sedang dikembangkan, salah satu yang ditemukan menginfeksi D. citri adalah Hirsutella citriformis. Di lapang H. citriformis ditemukan pada serangga dewasa dan tidak pernah menyerang stadia nimfa. Tujuan penelitian adalah mengetahui stadia D. citri yang dapat terinfeksi oleh konidia jamur H. citriformis. Rancangan percobaan yang digunakan adalah acak lengkap faktorial 2 faktor, dengan 20 perlakuan kombinasi, masing-masing diulang 3 kali. Faktor pertama stadia D. citri, yaitu imago, nimfa instar 3, 4, dan 5. Faktor kedua, yaitu konsentrasi konidia jamur, yaitu kontrol, 105 konidia/ml, 106 konidia/ml, 107 konidia/ml, dan 108 konidia/ml. Hasil penelitian menunjukkan bahwa H. citriformis lebih patogenik terhadap stadia imago daripada nimfa (instar 3, 4, dan 5) dengan konsentrasi 108 konidia/ml dengan median lethal time 11,72 hari. Patogenisitas H. citriformis pada D. citri dipengaruhi oleh konsentrasi dan stadia D. citri.ABSTRACT. Dwiastuti, M.E. and M. Y. Kurniawati. 2007. The Efectivity of Entomopathogen of Hirsutella citriformis (Deuteromycetes: Moniliales) on Psyllid Diaphorina citri Kuw. Diaphorina citri Kuw. (Homoptera Psyllidae) is one of the important pest in citrus, and the vector of CVPD disease. D. citri is normally controlled by using insectiside, parasitoid, predator, and insectpathogen. The control measured using insectpathogen, especially entomophatogen fungi has still being developed. The entomopathogen which was found attacking D. citri was H. citriformis. The research was intended to know which stadium of D. citri can be infected by H. citriformis. The study was designed in a complete randomize factorial with 2 factors. The first factor was D. citri stadium, i.e. adults, nymphs instar 3, instar 4, and instar 5. While the second factor was concentration of H. citriformis conidium, consisted of control (untreated), 105 conidia/ml, 106 conidia/ml, 107 conidia/ml, and 108 conidia/ml. The results showed that H. citriformis was more pathogenic on the adults of D. citri than the nymphs, and at 108 conidia/ml was the most effective concentration to kill D. citri with 11.72 days of median lethal time. The pathogenicity of H. citriformis on D. citri was affected by concentration of conidia rather than D. citri stadia

    Pengaruh Bahan Organik dan Interval serta Volume Pemberian Air terhadap Pertumbuhan dan Hasil Kentang di Rumah Kaca

    Get PDF
    ABSTRAK. Kentang merupakan sumber kalori dan mineral penting bagi pemenuhan gizi masyarakat dan permintaannya setiap tahun terus meningkat, sehingga produksi dan produktivitasnya harus ditingkatkan. Lembang merupakan salah satu sentra produksi kentang di Jawa Barat, petaninya sudah menggunakan bibit bermutu baik dan menerapkan teknologi pemupukan sesuai dengan rekomendasi setempat, namun produktivitasnya hingga saat ini masih tergolong rendah, yaitu 16,12 t/ha. Rendahnya produktivitas kentang di Lembang antara lain disebabkan oleh menurunnya kandungan bahan organik tanah dan sistem pengairan masih tradisional terutama pada musim kemarau, yaitu dengan sistem leb dan tidak disesuaikan dengan kebutuhan air tanaman kentang. Oleh karena itu pengelolaan lahan dan air dalam usahatani kentang di Lembang sangat penting, di antaranya dengan pemberian bahan organik dan interval serta volume pemberian air pada periode tumbuh tanaman. Penelitian dilaksanakan di Rumah Kaca Balai Penelitian Tanaman Sayuran, Lembang, Kabupaten Bandung pada bulan Juni sampai September 2004. Penelitian bertujuan mengetahui pengaruh takaran bahan organik dan interval serta volume pemberian air terhadap pertumbuhan dan hasil kentang. Percobaan menggunakan rancangan petak-petak terpisah dan kombinasi perlakuannya disusun dalam rancangan acak lengkap dengan 3 ulangan. Petak utama adalah bahan organik terdiri dari 3 taraf, yaitu (B0) tanpa bahan organik, (B1) 0,125 kg/tanaman, dan (B2) 0,250 kg/tanaman. Anak petak adalah interval pemberian air yang terdiri dari 3 taraf, yaitu (I1) 3 hari, (I2) 6 hari, dan (I3) 9 hari. Anak-anak petak adalah volume pemberian air yang terdiri dari 4 taraf, yaitu (P1) 211,01 ml/hari pada periode pertumbuhan awal + 581,53 ml/hari pada periode vegetatif + 787,51 ml/hari pada periode pembentukan umbi + 265,02 ml/hari pada periode menjelang panen, (P2) 422,02 ml/hari pada periode pertumbuhan awal + 290,76 ml/hari pada periode vegetatif + 787,51 ml/hari pada periode pembentukan umbi + 265,02 ml/hari pada periode menjelang panen, (P3) 422,02 ml/hari pada periode pertumbuhan awal + 581,53 ml/hari pada periode vegetatif + 393,75 ml/hari pada periode pembentukan umbi + 265,02 ml/hari pada periode menjelang panen, dan (P4) 422,02 ml/hari pada periode pertumbuhan awal + 581,53 ml/hari pada periode vegetatif + 787,51 ml/hari pada periode pembentukan umbi + 265,02 ml/hari pada periode menjelang panen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) takaran bahan organik dan interval, serta volume pemberian air masing-masing memberikan pengaruh yang berbeda terhadap tinggi tanaman kentang, bobot kering tanaman, nisbah bobot kering akar, jumlah umbi per tanaman, persentase kelas umbi, bobot umbi per tanaman, dan hasil kentang per hektar dan (2) takaran bahan organik 0,250 kg/tanaman, interval pemberian air 6 hari, dan volume pemberian air 211,01 ml/hari pada periode pertumbuhan awal + 581,53 ml/hari pada periode vegetatif + 787,51 ml/hari pada periode pembentukan umbi + 265,02 ml/hari pada periode menjelang panen memberikan pengaruh yang lebih baik dibandingkan dengan perlakuan yang diuji lainnya terhadap tinggi tanaman pada umur 50 dan 60 hari setelah tanam, hasil kentang pertanaman dan per hektar di lahan dataran tinggi Lembang.ABSTRACT. Sutrisna, N. and Y. Surdianto. 2007. Effect of Organic Manuring and Interval and Water Supply on Growth and Yield of Potato in the Greenhouse. Potato is an important source of calorie and minerals for human diet and the demand of potato increase every year, so that its production and productivity should be improved. Lembang is a center of potato production in West Java and the potato farmers have implemented good quality potato seeds and recommended fertilization, but until now the productivity was still low. This were caused by degradation of organic matters in the soil and unsufficient irrigation system in dry season, namely ‘leb’ system and did not in accordance with the need of potato plant. Therefore, the soil and water management in the potato farming system is important, such as the application of organic matters, interval and water supply at the growth period. Study on the effect of organic matters, interval and water supply was carried out at the greenhouse of Indonesian Vegetable Research Institute, Lembang, Bandung from June until September 2004. The objectives of the research were to observe the effect of organic matters, the interval and water supply on the growth and yield of potato in the highland. The design was split-split plot and the treatment was completely randomized design with 3 replications. The main plot was the organic matters, consisted of 3 levels (B0) without organic matters, (B1) 0,125 kg/plant, and (B2) 0,250 kg/plant. The subplot was the water supply interval, conssisted of 3 levels (I1) 3 days interval, (I2) 6 days interval, and (I3) 9 days interval. Sub-subplot was the water supply volume in accordance with the plant growth period, consisted of 4 levels: (P1) 211,01 ml/day at the beginning of growth period + 581,53 ml/day at the vegetative period + 787,51 ml/day at the tuber formation + 265,02 ml/day at just before harvested, (P2) 422,02 ml/day at the beginning of growth period + 290,76 ml/day at the vegetative period + 787,51 ml/day at the tuber formation + 265,02 ml/day at just before harvested, (P3) 422,02 ml/day at the beginning of growth period + 581,53 ml/day at the vegetative period + 393,75 ml/day at the tuber formation

    Uji Metode Inokulasi dan Kerapatan Populasi Blood Disease Bacterium pada Tanaman Pisang

    Get PDF
    ABSTRAK. Penelitian ini bertujuan menguji beberapa metode inokulasi dan kerapatan populasi blood disease bacterium (BDB) dalam menimbulkan penyakit darah pada tanaman pisang. Metode inokulasi yang diuji adalah pelukaan akar, tanpa pelukaan akar, injeksi bonggol, dan masing-masing dengan kontrol. Sementara itu, kerapatan populasi BDB yang diuji adalah 107, 106, 105, 104, 103 cfu/ml, dan kontrol. Hasil penelitian metode inokulasi BDB menunjukkan bahwa metode inokulasi injeksi dan metode inokulasi pelukaan akar mampu menimbulkan insidensi penyakit 100%. Metode inokulasi injeksi bonggol dapat menimbulkan gejala penyakit darah dengan masa inkubasi lebih cepat dibandingkan dengan metode inokulasi pelukaan akar. Hasil penelitian kerapatan populasi BDB menunjukkan bahwa kerapatan populasi BDB 104-107 mampu menimbulkan gejala penyakit darah dengan insidensi penyakit 20, 40, 60, dan 100% masing-masing untuk kerapatan populasi BDB 104, 105, 106, dan 107 cfu/ml.ABSTRACT. Rustam. 2007. Inoculation Methods and Inoculum Densities Tests of Blood Disease Bacterium on Banana. An experiment was conducted to test of inoculation methods and inoculum densities of blood disease bacterium (BDB) on banana under a glasshouse condition. Inoculation methods of BDB tested were root wounding, root without wounding, corm injection, and control. Inoculum densities of BDB tested were 107, 106, 105, 104, 103 cfu/ml and control. The results showed that corm injection and root wounding were gave similar disease incidence (100%). The incubation phase was faster for corm injection method than root wounding method. Inoculum densities of 104, 105, 106, 107 cfu/ml of BDB could develope disease incidence of 20, 40, 60, and 100% , respectively

    Penggunaan Pupuk Kalium Sulfat sebagai Alternatif Sumber Pupuk Kalium pada Tanaman Kentang

    Get PDF
    ABSTRAK. Percobaan untuk mengetahui pengaruh penggunaan pupuk kalium sulfat sebagai alternatif sumber pupuk kalium pada tanaman kentang telah dilaksanakan di lahan petani di Desa Padaawas, Kecamatan Pangalengan (1.400 m dpl), Kabupaten Bandung, Jawa Barat dari bulan Maret sampai Juni 2002. Rancangan percobaan yang digunakan pada penelitian ini adalah acak kelompok dan setiap perlakuan diulang 3 kali. Perlakuan terdiri dari kombinasi 2 faktor yaitu dosis pupuk kalium dan sumber pupuk kalium, yaitu (1) 0 kg K2O, (2) 50 kg K2O (KCl), (3) 100 kg K2O (KCl), (4) 150 kg K2O (KCl), (5) 200 kg K2O (KCl), (6) 250 kg K2O (KCl), (7) 50 kg K2O (K2SO4), (8) 100 kg K2O (K2SO4), (9) 150 kg K2O (K2SO4), (10) 200 kg K2O (K2SO4) dan (11) 250 kg K2O (K2SO4). Hasil penelitian menunjukkan bahwa walaupun penggunaan pupuk kalium sulfat pada tanaman kentang dengan dosis 250 kg K2O per ha meningkatkan beberapa peubah pertumbuhan tanaman dan komponen hasil tanaman kentang, namun penggunaan pupuk kalium sulfat pada percobaan ini belum dapat menggantikan pupuk kalium klorida yang sudah umum digunakan petani. Penggunaan pupuk kalium sulfat pada penelitian ini hanya berpengaruh positif terhadap berat jenis, tetapi tidak terhadap kandungan gula tereduksi dan kandungan pati. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai acuan untuk pemilihan sumber pupuk kalium dalam penanaman kentang.ABSTRACT. Gunadi, N. 2007. The Use of Potassium Sulphate as an Alternative Source of Potassium Fertilizer in Potato. An experiment to determine the effect of potassium sulphate as an alternative source of potassium fertilizer in potato was conducted at a farmer’s field in Padaawas Village, Pangalengan Subdistrict (1,400 m asl), Bandung District, West Java, from March to June 2002. Randomized completely block design with 3 replications was used in the experiment. The treatments consisted of combination of rate and source of potassium fertilizer (potassium chloride and potassium sulphate) i.e. (1) 0 kg K2O, (2) 50 kg K2O (KCl), (3) 100 kg K2O (KCl), (4) 150 kg K2O (KCl), (5) 200 kg K2O (KCl), (6) 250 kg K2O (KCl), (7) 50 kg K2O (K2SO4), (8) 100 kg K2O (K2SO4), (9) 150 kg K2O (K2SO4), (10) 200 kg K2O (K2SO4) and (11) 250 kg K2O (K2SO4). The results indicated that although the use of potassium sulphate in potato with a rate of 250 kg K2O per ha increased some growth parameters and yield components of potato, but it could not be easily replaced by the use of potassium chloride, which is commonly used by the farmers. The use of potassium sulphate affect positively only on specific gravity, but not on sugar reduction and starch content. The results could be used as a recommendation to select the source of potassium in potato production

    Pengaruh Sistem Lanjaran dan Tingkat Kematangan Buah terhadap Mutu Markisa Asam

    Get PDF
    ABSTRAK. Markisa Siu merupakan buah yang banyak diusahakan di daerah dataran tinggi Sumatera Utara dan Sulawesi Selatan. Buah yang dihasilkan dapat dikonsumsi segar maupun sebagai bahan baku untuk pembuatan sirup. Penelitian bertujuan mengetahui pengaruh sistem lanjaran dan waktu panen terhadap kuantitas dan kualitas buah markisa asam ungu. Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan Tamanan Buah Berastagi mulai bulan Januari sampai Desember 2004. Rancangan yang digunakan adalah petak terpisah dengan 3 ulangan. Sebagai petak utama adalah sistem lanjaran yang terdiri dari para-para dan pucuk bambu. Sebagai anak petak adalah tingkat kematangan buah terdiri dari (50, 75, dan 100% ungu). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan sistem lanjaran dan interaksinya dengan tingkat kematangan buah tidak berpengaruh nyata terhadap bobot buah, bobot sari buah segar, padatan terlarut total, total asam, dan vitamin C. Tingkat kematangan buah berpengaruh nyata terhadap padatan terlarut total dan total asam, namun tidak berpengaruh nyata terhadap bobot buah, bobot sari buah, dan vitamin C pada buah petik segar. Buah markisa asam ungu sudah dapat dipanen pada tingkat kematangan 50% ungu untuk menghasilkan bobot buah, kandungan sari buah, padatan terlarut total, dan total asam yang tertinggi, masing-masing sebesar 54,73 g/buah, 29,87 g/buah, 12,12oBrix, dan 3,03%, namun kandungan vitamin C yang dihasilkan relatif rendah (71,28 mg/100 g bahan) dibandingkan dengan tingkat kematangan 75% (78,32 mg/100 g bahan) ungu dan 100% ungu (75,68 mg/100 g bahan).ABSTRACT. Silalahi, F.H., R.C. Hutabarat, A.E. Marpaung, and B. Napitupulu, 2007. The Effect of Trellis System and Fruit Maturity on Quality of Purple Passion Fruit. Purple passion fruit has been cultivated on highland in North Sumatera and South Sulawesi. The product is consumed as fresh fruit or syrup. The aim of this research was to find out the effect of trellis system and fruit maturity on quantity and quality of purple passion fruit. The research was conducted at Berastagi Experimental Garden on January to December 2004. Split plot design was used with 3 replications. The main plot was trellis system with 2 treatments para-para and bamboo shoot. The level of fruit maturity was used as subplot, purple 50, 75, and 100%. The results showed that the trellis system and it’s interaction with fruit maturity did not significantly affect fruit weight, juice content, total soluble solid, total acid, and vitamine C content of fresh fruit. The fruit maturity significantly affect total soluble solid, and total acid, but did not significantly affect fruit weight, juice, and vitamine C content of fresh fruit. Fruit maturity of purple 50% produced the highest fruit weight, fruit juice, total soluble solid, total acid content i.e. 54.73 g/fruit, 29.87 g/fruit, 12.12oBrix, and 3.03% respectively. Whereas the vitamine C content was lower (71.28 mg/100 g material) than fruit maturity of purple 75% (78.32 mg/100 g) and purple 100% (75.68 mg/100 g)

    Uji Patogenisitas Jamur Entomopatogen Hirsutella citriformis, Beauveria bassiana, dan Metarhizium anisopliae secara Eka dan Dwiinfeksi untuk Mengendalikan Diaphorina Citri Kuw.

    Get PDF
    ABSTRAK. Pengendalian kimiawi terhadap hama D. citri, vektor penyakit CVPD sudah banyak dilakukan, namun ada beberapa kelemahan dan efek langsung yang terjadi, antara lain biaya besar, resistensi serangga, dan pencemaran lingkungan. Penggunaan agens hayati berupa patogen untuk mengendalikan D. citri merupakan salah satu pendekatan ekologi dalam mengatasi masalah ini. Entomopatogen H. citriformis merupakan salah satu pilihan, di samping entomopatogen M. anisopliae dan B. bassiana yang sudah dikenal lebih dulu. Beberapa pengamat hama di lapang menduga infeksi alami H. citriformis lebih cepat mematikan D. citri bila ada jamur entomopatogen lain yang sudah menginfeksi lebih dahulu. Tujuan penelitian adalah mengetahui patogenisitas H. citriformis terhadap imago D. citri dengan cara eka dan dwiinfeksi. Percobaan dilakukan di Laboratoium Mikologi Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika Tlekung dan kebun jeruk milik petani di Jombang. Perlakuan yang di uji adalah H. citriformis, B. bassiana, M. anisopliae, dan kombinasinya. Rancangan yang digunakan adalah acak lengkap dengan 3 ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada dwiinfeksi B. bassiana dan H. citriformis menunjukkan hubungan sinergisme dan menyebabkan persentase kematian D. citri lebih tinggi disusul dengan ekainfeksi H. citriformis.ABSTRACT. Dwiastuti, M.E., W. Nawir, and S. Wuryantini. 2007. Pathogenicity Test of Entomopathogens of Hirsutella citriformis, Beauveria bassiana, Metarhizium anisopliae with Single and Double Infection to Control Diaphorina citri Kuw. The chemical control of D. citri, CVPD disease vector’s was one of major method applied in the field, but it has several side effects, such as of insect resistance or environmental pollution. Control measures of D. citri by using biological agents have the potency to reduce insecticide application, especially the use of H. citriformis entomopathogen, besides M. anisopliae and B. bassiana, that were popular before. Several field pest observers indicated that natural infection of H. citriformis could accelerate the mortality of D. citri if combined with other entomopathogens. The objectives of this study was to measure entomopathogenicity of H. citriformis in controlling D. citri in combination with other entomopathogens. The research was conducted at the Micology Laboratory, Indonesian Citrus and Subtropic Fruit Research Institute and Jombang citrus farmer field. The treatments tested were H. citriformis, B. bassiana, M. anisopliae and their combination. The randomized block design with 3 replications was used in this experiment. The results showed that double infection of B. bassiana and H. citriformis was most sinergism than others treatments, which caused highest mortality of D. citri, followed by single infection of H. citriformis

    Identifikasi Status Hama pada Budidaya Paprika (Capsicum annuum var. grossum) di Kabupaten Bandung, Jawa Barat

    Get PDF
    ABSTRAK. Salah satu kendala dalam pengembangan agribisnis paprika adalah adanya serangan organisme pengganggu tumbuhan. Untuk mengetahui status beberapa jenis hama yang menyerang tanaman paprika pada musim hujan dan kemarau telah dilaksanakan survai pada bulan Januari dan Agustus 2003 di Kabupaten Bandung, yang merupakan sentra produksi paprika di Jawa Barat. Pengambilan data menggunakan kuesioner dengan responden sebanyak 30 orang. Data yang dihimpun meliputi jenis hama, kehilangan hasil panen, dan cara pengendaliannya. Data hasil analisis secara deskriptif disimpulkan bahwa trips merupakan hama utama tanaman paprika, baik pada musim hujan maupun pada musim kemarau. Kehilangan hasil panen berkisar antara 10-25% pada musim hujan dan 40-55% pada musim kemarau. Cara pengendalian yang dilakukan petani hanya mengandalkan pada penggunaan insektisida.ABSTRACT. Prabaningrum, L. and T.K. Moekasan. 2007. Identification of Pests Status on Sweet Pepper (Capsicum annuum var. grossum) in Bandung District, West Java Province. One of constraints in cultivating sweet pepper is pests and diseases problem. Survey to determine pests status on sweet pepper was carried out in January (rainy season) and August (dry season) in 2003 at Bandung District, West Java. Data were collected using questioner with 30 farmers as respondents. The data consisted of kind of pest, crop loss, and pest control and the data was analyzed descriptively. The results indicated that thrips was a key pest on sweet pepper in either rainy or dry season. Yield loss due to thrips was 10-25% in rainy season and 40-55% in dry season. All farmers used insecticide intensively to control thrips

    Eksplorasi dan Karakterisasi Plasma Nutfah Tanaman Markisa

    Get PDF
    ABSTRAK. Ketersediaan varietas unggul yang sesuai dengan kebutuhan konsumen menjadi syarat yang harus dipenuhi dalam industrialisasi pertanian dan liberalisasi perdagangan. Varietas unggul dapat dirakit jika tersedia keragaman sumberdaya genetik. Keberadaan koleksi plasma nutfah harus terus dipertahankan dan ditingkatkan sejalan dengan tuntutan perakitan varietas untuk memperkaya cadangan gen, kemudian dikonservasi secara ex-situ agar mudah dalam perawatan, evaluasi, pengamanan, dan pemanfaatannya. Eksplorasi plasma nutfah tanaman markisa dilakukan di beberapa daerah sentra produksi markisa di Sumatera Utara dan Sumatera Barat. Koleksi plasma nutfah tanaman markisa dilakukan di Kebun Percobaan Tanaman Buah, Berastagi. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juni 2005 sampai Pebruari 2006. Penelitian bertujuan mengumpulkan dan mengkarakterisasi plasma nutfah, serta membentuk kebun koleksi plasma nutfah tanaman markisa. Hasil eksplorasi telah diperoleh 7 aksesi markisa yang terdiri dari 4 aksesi markisa asam (Passiflora edulis) dan 3 aksesi markisa manis (P. ligularis). Koleksi contoh tanaman dari 7 aksesi markisa tersebut telah ditanam di Kebun Percobaan Tanaman Buah, Berastagi dan masih dalam fase pertumbuhan vegetatif. Data diskripsi indigenous dari 7 aksesi markisa yang diperoleh telah disimpan dalam file elektronik.ABSTRACT. Karsinah, F. H. Silalahi, and A. Manshur. 2007. Exploration and Characterization of Passion Fruit Germplasm. The availability of superior varieties that suitable to consumer preference become very important on agriculture industrialization and free-trade liberalization. So that, the germplasm collection must be maintained and increased in accordance with demand for varieties improvement and enrichment of genes resources, afterwards those genes must be conserved by ex situ conservation to make easy in maintenance, evaluation, and utilization of those germplasm. The research was conducted from June 2005 to February 2006 in several areas of passion fruit production center in North Sumatera and West Sumatera. Collection of passion fruit germplasm were conducted in Berastagi Experimental Field. The aims of the study were to collect and characterize of passion fruit germplasm, as well as to establish passion fruit germplasm collection field. The results of the study showed that there were 7 accessions of passion fruit collected from exploration, consisted of 4 accessions of Passiflora edulis Sims and 3 accessions of Passiflora ligularis Juss. Collection of those 7 accessions of passion fruit have been planted in Berastagi Experimental Field and still in the vegetative growth stage. The data of indigenous description of 7 accessions have been stored in an electronic file disk

    Identifikasi dan Karakterisasi Manggis di Provinsi Bengkulu dan Bangka-Belitung

    Get PDF
    ABSTRAK. Penelitian dilaksanakan mulai bulan Agustus 2003 sampai Agustus 2004 pada sentra produksi manggis di Provinsi Bengkulu dan Bangka-Belitung. Tujuan dari penelitian ini mengetahui keragaman aksesi manggis di Provinsi Bengkulu dan Bangka-Belitung. Penelitian dilaksanakan dengan metode eksplorasi. Pengamatan dilakukan terhadap karakter morfologi dan genetik. Pengamatan morfologi dilakukan terhadap karakter kualitatif dan kuantitatif serta pengamatan secara genetik dilakukan menggunakan teknik RAPD pada 8 aksesi contoh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aksesi manggis di Provinsi Bengkulu dan Bangka-Belitung menunjukkan variasi morfologi dan genetik, yaitu dalam bentuk kanopi tanaman dan bentuk buah. Bentuk kanopi terdiri atas piramid, elips, dan semisirkuler, sedangkan bentuk buah terdiri atas bulat, agak gepeng, seperti jantung, dan tidak beraturan. Berdasarkan data analisis RAPD menggunakan primer OPH-13 (CACGCCACAC) dan OPN-16 (AAGCGACCTG) dari 8 aksesi diketahui bahwa manggis dari Provinsi Bengkulu dan Bangka-Belitung mempunyai koefisien kesamaan genetik antara 0,78-1,0 dan terbagi ke dalam 2 kelompok. Kelompok pertama terdiri dari 6 aksesi yang terpisah ke dalam 2 genotip yang berbeda dengan tingkat kesamaan genetik sekitar 0,90. Kelompok kedua terdiri dari 2 aksesi dengan tingkat kemiripan sebesar 0,87. Secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa kedelapan aksesi contoh tersebut terdiri dari 4 genotip berbeda yaitu (1) BLT-03, BKL-01, dan BKL-06, (2) BLT-08, BLT-12, dan BKL-09, (3) BLT-10, dan (4) BKL-07. Pengelompokan aksesi belum mencerminkan perbedaan secara morfologi. Hasil analisis ini masih perlu dilanjutkan untuk semua aksesi dengan primer yang berbeda. Informasi hasil penelitian ini memperkuat data tentang adanya keragaman pada manggis.ABSTRACT. Mansyah, E., M. Jawal A.S, I. Muas, Hendri, and F. Usman. 2007. Identification and Characterization of Mangosteen at Bengkulu and Bangka-Belitung Provinces. The research was conducted by exploration at mangosteen production center at Bengkulu and Bangka-Belitung Provinces from August 2003 to August 2004. The objective of this study was to find out the variability of mangosteen at Bengkulu and Bangka-Belitung Provinces. The parameters observed were morphology and genetic characters. Morphology characters observed were qualitative and quantitative while genetic observation was conducted by using RAPD technique. The results showed that mangosteen accessions at Bengkulu and Bangka-Belitung have morphology variations. The variations were on canopy and fruit shape. The canopy could be devided into 3 forms of pyramid, elliptical, and semicircular. Fruit shape described as round, flattened, ovoid, and irregular. RAPD analysis of 8 mangosteen accessions by using 2 primers OPH-13 (CACGCCACAC) and OPN-16 (AAGCGACCTG) showed that the accessions devided into 2 main groups with genetic similarity coefficient 0.78 to 1.0. First group consist of 8 genotypes which separated into 2 different genotypes with genetic similarity coefficient of 0.90. The second group consist of 2 genotypes with genetic similarity coefficient about 0.87. In general the 8 accessions could be separated into 4 different genotypes (1) BLT-03, BKL-01, and BKL-06, (2) BLT-08, BLT-12, and BKL-09, (3) BLT-10, and (4) BKL-07. Accessions grouping based on RAPD bands were not in accordance with morphology characters. Further evaluation by molecular marker was needed to clarify the genetic variability. This results strengthened the support about the presence of genetic variability on mangosteen

    Perbedaan Primer RAPD dan ISSR dalam Identifikasi Hubungan Kekerabatan Genetik Jeruk Siam (Citrus suhuniensis L. Tan) Indonesia

    Get PDF
    ABSTRAK. Jeruk siam Indonesia tersebar di berbagai sentra produksi dengan nama yang berbeda menurut lokasi adaptasi. Morfologi jeruk-jeruk tersebut terlihat sama, dengan beberapa karakter spesifik yang berbeda. Penelitian bertujuan membandingkan kemampuan primer RAPD dan ISSR dalam mendeteksi kekerabatan di antara jeruk siam. Sampel DNA dari 19 jenis jeruk siam telah diisolasi dari daun dan diamplifikasi dengan 5 buah primer tunggal RAPD dan ISSR. Produk amplifikasi RAPD dipisahkan dalam gel agarose, sedangkan produk ISSR dalam gel poliakrilamid. Statistik pita DNA dan data matriks setiap tipe primer dihitung dan dendogram terbangun berdasarkan analisis kluster menurut UPGMA menggunakan metode SHAN pada program NTSys-PC versi 2,10. Sebanyak 2.605 buah pita DNA dan 240 lokus telah dieksplorasi oleh primer ISSR, sedangkan dengan primer RAPD hanya 515 dan 38 buah. Dari jumlah pita tersebut lokus polimorfisme primer ISSR 90,08% lebih tinggi dibanding primer RAPD. Sebanyak 16 pita spesifik dijumpai pada jeruk siam Banyuwangi 1, siam Purworejo 1, siam Madu, dan siam Banjar 2 oleh primer ISSR, dan 6 pita pada siam Lumajang 1 dan siam Banjar 3 oleh primer RAPD. Perbedaan statistik pita DNA yang dieksplorasi tersebut berhubungan dengan akurasi kemiripan dan jarak genetik jeruk-jeruk siam pada dendogram yang terbangun. Dendogram yang terbangun oleh primer ISSR memperlihatkan keragaman jeruk siam yang lebih tinggi dengan jarak genetik yang lebih tinggi. Kedekatan hubungan di antara jeruk-jeruk siam ini terbanyak pada kisaran 84-100% (RAPD) atau 74-92% (ISSR). Fokus lebih jauh harus ditujukan kepada identifikasi keragaman siam berdasarkan primer dengan sekuen mikrosatelit yang sudah terpaut kepada sifat tertentu untuk lebih memastikan keragaman siam komersial tersebut.ABSTRACT. Agisimanto, D., C. Martasari, and A. Supriyanto. 2007. Differentiation Between RAPD and ISSR Primer on Genetic Diversity Identification of Siam (Citrus suhuniensis L. Tan) from Indonesia. siam was widely cultivated in several citrus growing areas with some local names. Their high adaptability to difference areas, create difficulties in deciding their original varieties. The objective of the research was to compare RAPD and ISSR primer on the genetics similarities identification among siam cultivars. DNA samples from 19 varieties were isolated and amplified by 5 RAPD and ISSR primers. Amplification products of RAPD were separated in agarose gel, while ISSR in PAGE. The DNA fragments from both primers were scored and dendogram were built based on UPGMA of NTSYS-PC version 2.10. About 2605 DNA fragments and 240 loci were scored from ISSR primers, while RAPD were 515 and 38 respectively. A total number of polymorphism loci of ISSRs were 90.08% higher than RAPDs. About 16 specific loci were identified from siam Banyuwangi 1, siam Purworejo 1, siam Madu, and siam Banjar 2 by ISSR primers, and 6 specific loci from siam Lumajang 1 and siam Banjar 3 by RAPD primers. Two dendogram were established from the primers. Coeficient similarity of siam cultivars revealed by ISSR was lower, ranging from 74 to 92%, than RAPD (84-100%). Future activities should be focused on diversity studies of siam by using primer based on microsatellite sequences which are link to specific characters

    509

    full texts

    543

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Hortikultura
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇